• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPEMIMPINAN KOLEKTIF KOLEGIAL DALAM FORUM KOMUNIKASI UMAT BERAGAMA (FKUB)

C. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Masalah yang Dihadapinya

4. Data FKUB Jawa Timur

Sesuai dengan Forum Group Discussion (FGD) pada hari Rabu, 8 September 2021 yang dilakukan secara luar jaringan (luring), maka terdapat sejumlah hal yang menarik untuk diperhatikan. Di antaranya adalah bagaimana kerukunan umat beragama dapat ditingkatkan, dan jika terjadi masalah-masalah keagamaan dapat segera diselesaikan.

Sesuai dengan pernyataan A. Hamid Syarif (Ketua FKUB Jawa Timur) mengenai “Kerukunan Umat Beragama dan Solusi Penyelesaian Masalah Melalui FKUB” dinyatakan bahwa pengurus FKUB terdiri dari 21 orang sebagai wakil berbagai agama, sesuai dengan proporsinya.

Indonesia merupakan negara bangsa (nation state), bukan negara teokratis dan sekular, tetapi negara dengan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa.

Negara bangsa dibentuk berdasarkan paham nasionalisme yakni paham yang merupakan tekad seluruh rakyat untuk membangun masa depan bersama dalam suatu negara. Indonesia adalah negara bangsa dibentuk

berdasarkan nasionalisme. Ciri negara bangsa yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, persatuan dan kesatuan bangsa, kerakyatan atau demokrasi dan keadilan sosial. Oleh sebab itu, negara mengakui eksistensi agama, mengakui dan melindungi HAM bagi warganya, Agama dapat memberikan legitimasi bagi negara, pemerintah dan kebijakan nasional yang penting bagi seluruh rakyat.

Dalam membangun kerukunan umat beragama, ditetapkan Peraturan Bersama Menteri (PBM) antara Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Agama RI, No. 9 dan No.8 Tahun 2006. Secara definitif Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesejahteraan dalam pengamalan ajaran agamanya. Alhasil, kerukunan terkait dengan interaksi dengan diri sendiri, individu maupun kelompok yang terkait dengan etika kerukunan beragama yang menghasilkan acuan moral (benar dan salah) dalam berpikir, bersikap dan bertindak yang disesuaikan pada nilai agama dan kearifan lokal serta nilai universal dalam menjalankan hubungan sesama umat beragama.

Di dalam hal ini, maka terdapat 6 (enam) pemahaman dasar untuk merawat kerukunan, yaitu: Manusia diciptakan Tuhan tidak dalam satu format sosio-kultural tetapi dalam lingkungan beragam umat dengan ciri khasnya masing-masing. Manusia lahir dan hidup di Indonesia adalah warga bangsa dan negara Indonesia yang memiliki kedudukan yang sama dalam hukum. Masyarakat dan bangsa Indonesia bersifat plural secara alami sehingga penerimaan terhadap perbedaan melahirkan toleransi dan

menolak perbedaan yang mengarah pada intoleransi. Memadukan nalar keagamaan teosentris (berorientasi pada melayani Tuhan) dengan antroposentris humanis (keagamaan yang bertumpu pada nilai kemanusiaan dan permainan menuju misi rahmatan lil alamin). Doktrin agama tidak dijadikan ideologi politik untuk melahirkan identitas keagamaan.

Di dalam menjelaskan tentang fondasi kerukunan, Hamid Syarif menyatakan, bahwa:

“Ada beberapa aspek di dalam kerukunan umat beragama, yaitu penerimaan, penghargaan, kebebasan, kesabaran, moderasi dan kerja sama. Agar terjadi kerukunan, maka setiap individu beragama harus menerima agama lain yang berbeda dengan agamanya.

Jangan sampai kita menganggap bahwa penganut agama lain harus dihilangkan, dan yang harus ada adalah agamanya sendiri. Selain itu juga harus saling memberikan penghargaan antara satu dengan lainnya. Jangan merasakan bahwa orang lain dengan agama tertentu tidak dihormati. Jangan yang besar merasa sombong dengan mengerdilkan lainnya. Sebagai umat beragama, kita harus berprinsip kebebasan bertanggung jawab. Bukan kebebasan mutlak, sebebas-bebasnya. Ketika kita melakukan sesuatu harus ingat bahwa di sekeliling kita juga ada orang lain sehingga ada yang membatasi kebebasan yang kita miliki. Sebagai umat beragama kita juga harus sabar tidak boleh grusa grusu. Tidak boleh setiap ada masalah langsung akan dihakimi sendiri. Sikap seperti ini bisa merusak kerukunan umat beragama. Kita juga harus moderat, artinya berada di dalam tengah, tidak ekstrem baik ke kanan maupun ke kiri. Hidup akan menjadi damai kalau kita hidup dengan moderat. Dan yang paling penting adalah menjaga kerja sama antara satu dengan lainnya. Jangan karena berbeda agama lalu kita tidak mau bekerja sama dengan penganut agama lain dalam urusan kebaikan dan kemanusiaan.”

Lebih lanjut Pak Hamid menyatakan:

“Pengurus FKUB harus independen pada diri sendiri dan moderat bagi orang lain. Semua harus berpartisipasi, bukan hanya ketuanya saja. Dalam pengambilan keputusan semua harus dilibatkan. All man show agar tercipta kedekatan. Kita sesama manusia yang beda

hanya agamanya saja. Faktor non keagamaan seperti kerja sama ekonomi, sosial dan budaya tentu bisa dikerjasamakan.”

Kemudian terkait dengan solusi terhadap permasalahan kerukunan umat beragama, Hamid Syarif menyatakan:

“Pertama dilakukan dengan Dialog, sebuah dialog yang berkesetaraan, bukan terdapat dominasi mayoritas dan tirani minoritas. Selama ini jika terdapat problem umat beragama maka dilakukan yang pertama-tama adalah melakukan dialog antar tokoh agama. Dialog selalu menjadi awal atas penyelesaian masalah keagamaan. Kedua, di dalam Pemecahan problem internal, maka yang dilakukan adalah dengan menyerahkan problem tersebut kepada tokoh-tokoh agama yang bersangkutan. Penyerahan tanggung jawab penyelesaian ini dilakukan melalui dialog terlebih dahulu dengan mengemukakan alternatif solutif dan kemudian ditindaklanjuti dengan pemecahan internal agama. Ketiga, melakukan mediasi, yaitu eksponen FKUB melakukan mediasi kepada pihak-pihak yang bersengketa atau bermasalah. Yang Islam misalnya menyelesaikan dengan pendekatan keislaman dan yang Kristen, Katolik, Hindu dan Budha juga menyelesaikannya dengan pendekatan keagamaan. Keempat, yang tidak kalah penting juga mensosialisasikan peraturan perundang-undangan kehidupan beragama. Di Jawa Timur dalam waktu-waktu ini melakukan sosialisasi FKUB di daerah-daerah untuk memberikan gambaran tentang bagaimana FKUB harus semakin berperan untuk menjaga kerukunan umat beragama. Sudah beberapa daerah yang disosialisasikan seperti Tuban, Mojokerto dan sebagainya.

Rencananya seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur akan dilakukan kegiatan yang sama. Kelima, melakukan kunjungan dan silaturahmi pada majelis agama.”

Problem yang paling banyak terkait dengan relasi antar umat beragama adalah mengenai pendirian tempat ibadah. Hamid Syarif menjelaskan:

“Sesuai dengan regulasi bahwa Pendirian umat ibadah secara administratif harus memenuhi ketentuan, yaitu umat beragama yang akan mendirikan tempat ibadah sebanyak 90 orang dan juga harus memperoleh persetujuan 60 orang dari masyarakat di sekitarnya. Untuk menyelesaikan masalah pendirian rumah ibadah sering kali diselesaikan dengan pendekatan kultural. Sedangkan untuk Perbaikan dan pembongkaran rumah ibadah harus hati-hati

karena dapat memunculkan konflik baru, misalnya IMB yang dipertanyakan dan sebagainya. Di dalam penyelesaian masalah ini, maka pemerintah kabupaten kota bisa jadi mediasi, karena mereka punya properti. Tidak boleh memihak.”

H. Tamhidz Masyhudi menambahkan bahwa:

“FKUB didirikan pada bulan Agustus 2006 di Jakarta, tokoh agama berkumpul dan membentuk FKUB. FKUB di Jatim berdiri saat Gubernur Imam Utomo, 2007. FKUB JATIM memiliki penasehat, dan Wakil Gubernur Pak Naryo, Kemenag dan Bakesbang. Secara organisatoris, jumlah anggota 21 orang, setiap tokoh mewakili majelis agama. awalnya 5 dan diubah menjadi 6. Dari 21 ada ketua, 2 wakil, sekretaris, wakil, bendahara, anggota yang membidangi bidang. Bidangnya pemeliharaan, pemberdayaan, pendirian agama. Awal berdirinya FKUB bidang pemeliharaan dan pemberdayaan melakukan gerakan sosial. Pada level kabupaten, FKUB jumlah anggotanya 17 orang dan mewakili secara proporsional seluruh majelis agama. Tugas pokoknya adalah dialog dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat; menampung aspirasi ormas keagamaan dan masyarakat; menyalurkan aspirasi dalam bentuk kebijakan dari kepala daerah baik pada tingkat desa, kabupaten, kota; sosialisasi perundang-undangan terkait kerukunan umat beragama; rekomendasi tertulis permohonan pendirian rumah ibadah; kajian dan penelitian terkait peningkatan pemberdayaan masyarakat jatim. Hubungannya bersifat koordinatif.”

Drs. K.H Syafrudin Syarif, yang membicarakan tentang Pola kepemimpinan kolektif kolegial dalam menangani permasalahan umat beragama di Jawa Timur.

“Lingkungan moderat itu harus diusahakan. FKUB selalu dilibatkan dalam segala permasalahan oleh Gubernur. Tokoh agama harus bekerja sama. Selain harus semakin dekat dengan Tuhan, dan semakin memiliki sikap ketuhanan. Juga harus semakin baik dalam membangun hubungan dengan sesama manusia. Hubungan baik dengan sesama manusia menjadi ukuran apakah kita sudah mengamalkan ajaran agama dengan benar atau tidak. Islam mengajarkan agar kita berbuat baik kepada semua agar Tuhan juga berbuat baik kepada manusia dimaksud. FKUB sebagai organisasi yang memiliki fungsi untuk menjaga kerukunan umat beragama dan di dalamnya terdapat banyak pemimpin agama yang menjadi representasi agamanya, maka kepemimpinan kolektif tentu sangat baik. Pada era sekarang, FKUB bisa menjadi tempat

untuk mengekspresikan kerukunan agama dalam bingkai kehidupan sosial dan kemasyarakatan”.

KH. Syafrudin juga memberikan penjelasan tentang kepemimpinan kolektif sebagai berikut:

Di dalam menjalankan sebuah lembaga atau organisasi baik yang bersifat sosial, politik maupun keagamaan dibutuhkan kepemimpinan seseorang yang mampu menjembatani dan menjalankan roda organisasi dengan baik sesuai dengan program-program yang telah direncanakan.

Kepemimpinan adalah bagian yang terpenting dalam sebuah organisasi, karena membutuhkan seseorang yang mampu untuk mengambil sebuah keputusan dan kebijakan sehingga dapat diterima oleh semua pihak.

Ada macam-macam tipe kepemimpinan yang bisa diterapkan dalam sebuah lembaga/organisasi seperti kepemimpinan demokratis, otoriter, militeristik, kharismatik dan paternalistik. Berdasarkan tipe tersebut bisa dipakai sesuai situasi dan kondisi yang diinginkan. Pada perkembangan saat ini sebuah lembaga /organisasi juga menerapkan kepemimpinan kolektif kolegial sebagaimana yang terapkan dalam forum kerukunan umat beragama (FKUB) di Jawa Timur. Pelaksanaan kepemimpinan kolektif kolegial melibatkan semua pengurus dalam mengeluarkan sebuah keputusan atau kebijakan dengan mekanisme tertentu, yang ditempuh melalui musyawarah untuk mencapai mufakat dengan mengedepankan semangat kebersamaan sehingga memunculkan sebuah keputusan.

Lebih lanjut Kiai Syarifuddin menggambarkan bahwa:

“Dengan demikian pola kepemimpinan kolektif kolegial yang sudah dilaksanakan oleh forum kerukunan umat beragama (FKUB) provinsi Jawa Timur akan memberikan keleluasaan bagi pengurus sehingga: Semua pengurus merasa dihargai kerja kerasnya. Semua pengurus bisa meluapkan gagasan atau ide yang di milikinya.

Menumbuhkan kembangkan semangat kerja keras dan kebersamaan antar sesama pengurus, Mudah menciptakan situasi untuk menuju kerukunan baik tingkat pengurus maupun di masyarakat pada umumnya.”

Agustinus Pratista di dalam paparannya menyatakan bahwa :

“Permasalahan kerukunan di tingkat apa sementara itu apakah kerukunan itu konsep atau konkret. Keragaman Indonesia menjadi contoh kerukunan. Indonesia merupakan contoh negara dengan tingkat pluralitas dan multikulturalitas yang luar biasa tetapi bisa rukun dan damai. Namun demikian tetap diperlukan sinergitas agar peluang untuk rukun dan harmoni dapat lebih terbuka. Kerukunan harus menjadi visi utama pada stakeholder. Kerukunan merupakan tujuan akhir bukan sarana. Kerukunan adalah prioritas utama dalam kehidupan multireligius sebagaimana di Indonesia ini.

Untuk menjaga kerukunan maka Kerukunan agar programnya mengarah pada upaya untuk mencapai hal-hal mendasar dan bukan pada kerja sama bidang usaha. Kerukunan adalah hubungan dialogis timbal balik, saling percaya, menghargai dan memaknai kebersamaan. Di dalam konteks membangun kerukunan di Jatim, pemerintah, ormas, secara konkrit saling mengandaikan. Sudah selama 76 tahun tidak pernah membahas kerukunan Indonesia secara hakiki. Makanya dibutuhkan upaya Internalisasi individu namun tidak akan menjadi hiper-realitas. Misalnya saya pakai maskara seperti Syahrini padahal saya bukan artis. Peran penting FKUB adalah mediator dan fasilitator dalam mewujudkan kerukunan. Oleh karena itu FKUB harus mulai membangun desa kerukunan”.

Lebih lanjut dinyatakan oleh Agus Pratista bahwa sebagai animator kerukunan, FKUB Jawa Timur sejak awal tahun 2021, telah mengupayakan implementasi moderasi beragama bagi masyarakat Jawa Timur. Proses penggalian bersama atas moderasi beragama dan perumusan bersama tentang moderasi beragama ala Jawa Timur di tingkat regional selanjutnya disosialisasikan bagi para pengurus FKUB dan Tokoh

agama di tingkat daerah. Upaya FKUB tersebut hendak mendorong para tokoh agama dan pemimpin masyarakat semakin sadar tentang gerakan moderasi beragama dan ikut terlibat dalam menyadarkan masyarakat hingga ke akar rumput dengan harapan sosialisasi tersebut akan memiliki dampak peningkatan kerukunan umat beragama di masyarakat.

Menyadari keterbatasannya, FKUB Jawa Timur membuat terobosan dengan mengumpulkan kaum muda lintas agama dan memfasilitasi berbagai pertemuan lintas agama bagi kaum muda, dengan harapan kaum muda lintas agama nantinya akan menjadi kader-kader yang dapat diandalkan untuk membangun kerukunan lintas agama.

Implementasi lainnya dari FKUB adalah meningkatkan kerukunan umat beragama dengan cara mencoba menciptakan komunitas-komunitas dan kelompok masyarakat sadar kerukunan, dengan membentuk desa sadar kerukunan, kampung sadar kerukunan dan sejenisnya. Saat ini sedang dijajaki oleh FKUB Jawa Timur untuk membentuk usaha bersama lintas agama secara mikro dalam bidang ekonomi, agar dapat dihasilkan kelompok-kelompok ekonomi sadar kerukunan. Dalam upaya-upaya meningkatkan kerukunan di masyarakat, FKUB Jawa Timur membutuhkan sinergitas dengan agen-agen perubahan lainnya seperti organisasi keagamaan, Pemerintah dan dunia usaha. Bantuan, dukungan dan kerja sama yang sinergis dengan agen- agen perubahan dalam upaya-upaya FKUB niscaya akan membantu dalam meningkatkan kerukunan umat beragama.

Terdapat beberapa pertanyaan yang penting dan mendalam terkait dengan kerukunan umat beragama dan bagaimana peran FKUB selama ini, sebagaimana diungkapkan oleh Mevy Eka Nurhalizah, misalnya:

“Jika banyak perusakan moral/ kerukunan di media sosial, apakah FKUB juga telah memanfaatkan media sebagai bentuk perlawanan/ mungkin pemanfaatan media sosial sebagai “aduan”

terkait permasalahan. Misalnya ada laman pengaduan, atau memang satu gerbong dan media sosial, lalu apakah FKUB mencakup aliran kepercayaan?”

Kemudian juga terdapat tanggapan lain, seperti:

“Penyikapan terkait pendirian rumah ibadah, jamaah maupun jumlahnya serta rekomendasi dan fungsi FKUB/Kemenag terkait pemberian rekomendasi terdapat pada Pasal 13, pengertiannya global. Jamaah 90, rekomendasi tetangga 60, tapi tidak dijelaskan secara konkret apakah 90 harus ada di desa A sehingga di daerah banyak yang berkamuflase bahwa jamaahnya dari luar?

Selanjutnya Sering kali bahwa yang 60 bukan dari kanan kiri karena disertai dengan KTP yang kemudian mendapat legitimasi dari kelurahan, kadang-kadang kanan kiri tidak dilibatkan, ini menyebabkan konflik? Menurut saya, penafsiran semacam itu lebih diperjelas entah dari FKUB atau siapa. Diberikan peraturan turunan misalnya yang dikeluarkan pemerintah daerah terkait dengan persyaratan a dan b tadi. Tentang Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan Konghucu tidak ada problem. Tapi ada pada tingkat internal agama, ada aliran yang tidak diakui oleh agama tertentu.

Misalnya, Syiah, sehingga ketika akan mendirikan rumah ibadah terjadi di internal. FKUB tidak bisa memberikan rekomendasi dan keputusan jika di tingkat internal belum ada penyelesaian.”

Terdapat juga tanggapan tentang FKUB, sebagaimana diungkapkan oleh Mujib Adnan bahwa:

“Ummatan wasathan itu memang diciptakan oleh Allah, tetapi masih perlu ikhtiar manusia. Indonesia bisa hidup rukun melalui upaya yang sudah dilakukan dengan kerja sama. Seluruhnya harus mampu mempraktikkan moderasi beragama. Saya ini berhadapan dengan guru saya yang memiliki wewenang agar moderasi agama terwujud dengan baik. Sejauh mana upaya ikhtiar menciptakan ummatan wasathan, kehidupan moderasi beragama di Jatim?

Misalnya ikhtiar pada sektor pendidikan bagaimana?”

A. Hamid Syarief mengungkapkan responnya terkait dengan beberapa pertanyaan tersebut yakni:

“Secara normatif tidak bisa ditempuh pakai pendekatan budaya.

Jika sudah menjadi norma, maka penyelesaiannya tentu harus sesuai dengan norma yang menjadi regulasi. Masalah-masalah internal memang bisa diselesaikan dengan upaya dialog, mediasi dan sebagainya, tetapi juga terkadang masalah tidak harus dipecahkan, bisa pecah sendiri. Terkait dengan media memang tidak direspon secara ketat, tetapi terkadang akan dibiarkan, tanpa respon yang memadai. Di lain pihak Toleransi terletak pada tataran elit, banyak kepentingan. Hal ini memang belum sampai di level bawah. Masih berkutat pada elit-elit agama. Untuk membangun moderasi beragama, maka FKUB akan Melakukan gerakan moderasi beragama tanggal 11 di 38 kabupaten/kota, internal majelis agama, narasumbernya bergantian. Secara psikologis moderasi beragama terkait intelektualitas individu. Ada yang bisa memahami secara utuh dan ada juga yang memahaminya setengah-setengah. Di dalam menyikapi terhadap aspek politik, maka FKUB tidak akan larut di dalamnya. Ketika FKUB terlibat secara massif ikut masyarakat akan ikut ranah politik, maka netralitas FKUB akan bisa dipertanyakan.”

H. Tamhidz Masyhudi menambahkan beberapa argument terkait dengan pertanyaan di atas yakni:

“FKUB belum memiliki portal khusus untuk mengembangkan dan menangkal berbagai masalah yang terkait dengan kerukunan umat beragama. Hal ini dikarenakan SDM mitra terbatas. Kita tidak memiliki tim ahli yang bekerja untuk mengembangkan konten-konten yang positif untuk kerukunan umat beragama. Sejauh ini hanya diimbangi dengan meme, film pendek tapi tetap dengan nilai yang harus dijaga”.

Sementara itu Agustinus Pratista juga menyatakan:

“Dibutuhkan klarifikasi terkait aliran-aliran agama dan hukum terkait kerukunan adalah kebijaksanaan bukan kebenaran. Aliran kepercayaan diselesaikan secara internal bukan di FKUB.

Sinergitas itu membangun konsep kerukunan bersama, diterapkan di setiap lini. Sinergitas butuh kontrol bukan pernyataan moral.”

KH. Syafrudin Syarif memberikan argumentasinya bahwa:

“Saya usul agar 90 orang untuk penganut dan 60 orang untuk yang berdekatan dengan tempat ibadah yang akan dibangun itu perlu direvisi atau diganti, sebab jika tidak, maka perlu ada penafsiran.

Hendaknya dibuat Aturan jangan mempersulit tapi hidup teratur tanpa masalah. soal aliran harus persetujuan pemerintah, misalnya MUI Islam, IPGI Kristen. Dibutuhkan sertifikasi penyebar agama.

FKUB sedang akan melakukan pendidikan dengan buku moderasi beragama, untuk turun ke daerah dan kerja sama dengan pemerintah. Politik identitas akan menciptakan situasi buruk, clash civilization. Ada platform media yang dapat digunakan sebagai komunikator kepada FKUB”

D. Relevansi FKUB dalam Menyelesaikan Masalah Keagamaan Informasi yang diungkapkan oleh Agustinus Pratista kiranya memperjelas tentang gambaran FKUB sebagai instrumen untuk memelihara kerukunan umat beragama. Ia menyatakan bahwa:

“FKUB merupakan salah satu agen perubahan yang diharapkan dapat membangun kerukunan antar umat beragama dalam hidup masyarakat sehari-hari. Keterbatasan FKUB dalam membangun kerukunan terletak pada kapasitas FKUB sebagai organisasi yang sifatnya hanya sebatas sebagai animator bagi para tokoh agama dan organisasi keagamaan. FKUB menjadi agen yang memberi wadah perjumpaan para pemimpin lintas agama, mendorong kesadaran untuk hidup rukun, memfasilitasi dialog lintas agama, membantu penyelesaian konflik antar agama, dan sejenisnya”.

Menurut Kiai Syarifuddin, keberadaan FKUB bagi masyarakat tentu sudah jelas dengan job deskripsi yang jelas, sebagaimana terdapat di dalam SKB:

“Di Indonesia dalam upaya membangun kehidupan harmonis antar umat beragama, telah dinyatakan secara jelas dan tegas dalam konstitusi negara. Dalam konstitusi seperti yang tertera pada pasal 29 tentang kebebasan beragama dan menjalankan aktivitas keagamaannya tanpa perlu adanya kekhawatiran terhadap gangguan dalam menjalankan ibadahnya. Selain itu untuk membangun ketulusan pluralitas pemerintah telah membentuk Forum Kerukunan Umat Beragama. Pembentukan FKUB tertuang dalam peraturan Bersama Menteri agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9 dan No. 8 Tahun 2006 yang mengatur tugas

pemerintah di tingkat daerah dalam membina kerukunan antar umat beragama. Di forum kerukunan umat beragama (FKUB) sudah di bentuk struktur kepengurusan yang jelas job deskripsinya.”

Di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Timur sistem/pola kepemimpinan kolektif kolegial sudah dilaksanakan dengan baik dalam memutuskan suatu keputusan maupun kebijakan, semua pengurus (pimpinan) mempunyai peran dalam memutuskan dan menjalankan roda organisasi. Begitu juga dalam mensosialisasikan pentingnya kerukunan umat beragama, semua pengurus diberi ruang dan waktu untuk memberikan pengarahan ataupun masukan-masukan kepada masyarakat.

Menurut penuturan Kiai Syarifuddin, bahwa FKUB telah memiliki sejumlah peran dalam menyelesaikan masalah yang sesuai dengan fungsinya. Peran itu dapat dilakukan karena di dalam FKUB terdapat corak kepemimpinan kolektif kolegial. Kasus atau masalah yang sudah diselesaikan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Timur antara lain :

1. FKUB Jawa Timur menyelesaikan dualisme kepengurusan rumah ibadah (klenteng) yang terjadi di kabupaten Tuban

2. FKUB Jawa Timur menyelesaikan pendirian tempat ibadah agama Hindu di Trenggalek yang tidak mencapai tanda tangan sesuai aturan yang ditetapkan

Di samping kasus dan masalah yang telah diselesaikan seperti atas, forum kerukunan umat beragama (FKUB) provinsi Jawa Timur membuat media informasi kepada masyarakat Jawa Timur antara lain :

1. Menerbitkan buku yang berjudul moderasi umat beragama, di mana dalam buku ini semua pengurus FKUB Jawa Timur di beri peran dan ruang untuk menuangkan ide serta gagasan yang ada dalam pemikirannya yang berkenaan masalah moderasi umat beragama 2. Majalah tentang kerukunan umat beragama, sama halnya dengan

buku yang telah dibuat. Majalah yang diterbitkan oleh FKUB Jawa Timur memuat informasi yang berkenaan tentang kerukunan, toleransi antar umat beragama, di mana semua pengurus juga diberi kesempatan untuk menyalurkan karya ilmiahnya

Dr. Irwansyah menyatakan bahwa ada banyak masalah yang bisa diselesaikan oleh FKUB dalam kerja samanya dengan LPKUB dan juga pemerintah daerah, di antaranya adalah:

“FKUB sebagai Lembaga “semi pemerintah” tentu berbeda dengan LPKUB yang walaupun awalnya didukung oleh Keputusan Menteri Agama, tapi kemudian diperlakukan seperti LSM biasa.

“FKUB sebagai Lembaga “semi pemerintah” tentu berbeda dengan LPKUB yang walaupun awalnya didukung oleh Keputusan Menteri Agama, tapi kemudian diperlakukan seperti LSM biasa.