• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

3. Data Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Dalam penelitian ini diperoleh data hasil belajar yang berupa data hasil tes dan data hasil observasi, dimana data tersebut digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi sistem pengapian konvensional kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang. data hasil belajar pada penelitian ini akan di uraikan sebagai berikut.

a. Hasil tes siklus I

Rata-rata hasil tes siklus I pada materi sistem pengapian konvensional kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang dengan

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD secara umum dapat digambarkan seperti tabel 4.

Tabel 4. Hasil tes kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang pada siklus I Siklus I Hasil Rata-rata 69,97 Nilai tertinggi 90 Nilai terendah 46 Ketuntasan belajar 30,55%

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata hasil tes pada materi sistem pengapian konvensional kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang pada siklus I dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diperoleh rata-rata 69,97 dari 36 siswa, dan nilai tertinggi 90 serta nilai terendah 46. Untuk ketuntasan belajar disini diperoleh 30,55% dari seluruh siswa yaitu 11 siswa yang tuntas dari 36 siswa. Dari hasil tes dengan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar yang diperoleh diatas dapat diketahui bahwa ketuntasan belajar belum memenuhi batas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu 75.

b. Hasil observasi siklus I

Observasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilakukan pada materi sistem pengapian konvensional kelas X TKR 1 SMK

54

Negeri 4 Semarang berdasarkan beberapa indikator yang dapat mengambarkan setiap proses pembelajaran kooperatif tipe STAD pada setiap siklus yang di ikuti oleh siswa. Hal ini juga dapat dilihat dari tabel 5 hasil observasi pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Tabel 5. Hasil observasi kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang pada siklus I

Hasil dari tabel observasi siklus I dapat dilihat aktifitas siswa juga mempengaruhi dari kurangnya nilai hasil siklus I, yang terinci sebagai berikut: 1) siswa mengikuti pembelajaran STAD 51,9%, 2) keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran 24,1%, 3) perhatian siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran 25%, 4) kedisiplinan siswa 100%, 5) penugasan yang didapat oleh siswa 88%, 6) Tolak ukur keberhasilan pembelajaran yang telah diikuti oleh siswa 25,9%.Sedangkan untuk rata-rata keseluruhan

No Hal yang diamati Siklus I

Jumlah Rata-rata 1. Proses STAD

a. Memperhatikan guru 28%

51,9%

b. Belajar dalam tim 36%

c. Mengerjakan tes 92%

2. Keaktifan siswa

a. Siswa aktif mencatat materi 56%

24,1% b. Siswa aktif bertanya 11%

c. Siswa aktif mengajukan ide 5,6% 3. Perhatian

siswa

a. Diam dan tenang 31%

25% b. Terfokus pada materi 5,6%

c. Antusias 39%

4. Kedisiplinan

a. Kehadiran /absensi 100%

100%

b. Datang tepat waktu 100%

c. Pulang tepat waktu 100%

a. Mengerjakan semua tugas 92% s

observasi pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu 52,5%. Kurang maksimalnya nilai tes pada materi sistem pengapian konvensional kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang pada siklus I ini kemungkinan disebabkan faktor keaktifan siswa yang dapat dilihat pada tabel observasi siklus I, menjadikan siswa memperoleh nilai yang kurang. Selain itu siswa belum sepenuhnya bisa menerima model pembelajaran yang diterapkan yaitu dengan model pembelajaran tipe STAD.

a. Hasil tes siklus II

Hasil tes siklus II pada materi sistem pengapian konvensional kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berdasarkan apa yang telah dilakukan perbaikan mengenai apa saja kekurangan yang terdapat pada siklus I telah mengalami peningkatan. Adapun hasil tes pembelajaran kooperatif tipe STAD diuraikan pada tabel 6 sebagai berikut.

Tabel 6. Hasil tes kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang pada siklus II Siklus II Hasil Rata-rata 81,05 Nilai tertinggi 96 Nilai terendah 70 Ketuntasan belajar 86,11%

56

Dari tabel 6 hasil tes siklus II diatas menunjukkan bahwa rata-rata hasil tes pada materi sistem sistem pengapian konvensional kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang pada siklus II dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD diperoleh rata-rata yang cukup meningkat dari siklus I yaitu sebesar 81,05 dari 36 siswa, dan nilai tertinggi mencapai 96 serta nilai terendah 70. Untuk ketuntasan belajar disini juga meningkat yaitu 86,11% dari seluruh siswa yaitu 31 siswa yang tuntas dari 36 siswa. Dari hasil tes dengan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar yang diperoleh diatas dapat diketahui bahwa ketuntasan belajar sudah memenuhi batas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu 75. Hal ini disebabkan karena dilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus I sehingga kelemahan yang ada pada siklus II dapat diminimalisir dengan baik.

b. Hasil observasi siklus II

Pada siklus II ini diperoleh hasil observasi yang sudah cukup meningkat dari pada siklus sebelumnya. Hal ini juga dapat dilihat dari tabel 7 hasil observasi pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Tabel 7. Hasil observasi kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang pada siklus II

Dari hasil tabel diatas dapat dilihat aktifitas siswa sudah cukup baik dari pada siklus I, yang terinci sebagai berikut: 1) siswa mengikuti pembelajaran STAD 86,1%, 2) keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran 75,9%, 3) perhatian siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran 79,6%, 4) kedisiplinan siswa 100%, 5) penugasan yang didapat oleh siswa 100%, 6) Tolak ukur keberhasilan pembelajaran yang telah diikuti oleh siswa 86,1%.Sedangkan untuk rata-rata keseluruhan observasi pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu 88%. Dalam siklus II ini para siswa sudah dapat mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah diterapkan dan cukup antusias untuk mengikuti pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah

No Hal yang diamati Siklus II

Jumlah Rata-rata 1. Proses STAD

a. Memperhatikan guru 81%

86,1%

b. Belajar dalam tim 78%

c. Mengerjakan tes 100%

2. Keaktifan siswa

a. Siswa aktif mencatat materi 97%

75,9% b. Siswa aktif bertanya 78%

c. Siswa aktif mengajukan ide 53% 3. Perhatian

siswa

a. Diam dan tenang 75%

79,6% b. Terfokus pada materi 89%

c. Antusias 75%

4. Kedisiplinan

a. Kehadiran /absensi 100%

100%

b. Datang tepat waktu 100%

c. Pulang tepat waktu 100%

5. Penugasan

a. Mengerjakan semua tugas 100%

100% b. Ketepatan mengumpulkan tugas 100%

c. Mengerjakan sesuai perintah 100% 6.

Tolak ukur keberhasilan pembelajaran

a. Pemahaman terhadap materi 92%

86,1% b. Bertanya kepada guru 86%

58

diterapkan. Hal ini dapat dibuktikan sesuai dengah hasil peningkatan rata-rata hasil observasi dari pada siklus yang sebelumnya.

C. Pembahasan

Berdasarkan deskripsi hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diketahui bahwa untuk desain penelitian pembelajaran kooperatif tipe STAD yang di terapkan pada siswa kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang telah berjalan baik sesuai dengan hasil penelitian, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Karimah (2013:85), dalam jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika FKIP Universitas Pekalongan yang menyatakan bahwa:

Skenario pembelajaran model kooperatif tipe STAD materi Trigonometri yang operasional adalah skenario pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik kelas XI IPA yang disusun dalam bentuk RPP yang memuat langkah-langkah proses pembelajaran yang mencirikan pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Dengan demikian desain model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran yang sederhana dan mudah diterapkan. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi sistem pengapian konvensional kelas X SMK Negeri 4 Semarang terdiri dari 2 siklus yang masing-masing siklus telah dijabarkan dalam hasil penelitian sebelumnya. Dalam perencanaan siklus I dilakukan

beberapa persiapan diantaranya 1) berkoordinasi dengan guru kelas X SMK Negeri 4 Semarang tentang penelitian yang akan dilakukan, 2) membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sistem pengapian konvensional dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD 3) membuat instrumen penilaian, yang terdiri dari instrumen tes yang berupa soal pilihan ganda yang berjumlah 30 soal dan instrumen non tes yang berupa lembar observasi yang terdiri dari beberapa indikator diantaranya proses STAD, keaktifan siswa, perhatian siswa, kedisiplinan, penugasan dan tolak ukur keberhasilan pembelajaran 4) pembagian kelompok belajar secara heterogen yang terdiri dari 9 kelompok yang terdiri dari 4 siswa pada masing-masing kelompok. Kemudian untuk siklus II kegiatan perencanaan prinsipnya sama dengan perencanaan siklus I hanya saja ditambahkan dengan perbaikan yang didapat pada refleksi siklus I dimana sebelumnya pada siklus I terdapat beberapa persoalan yang sedikit mengganggu kegiatan pembelajaran kooperatif tipe STAD, oleh karena itu dilakukan perbaikan pada perencanaan siklus II diantaranya adalah : 1) sebelum guru memberikan materi tentang sistem pengapian konvensional guru memberikan gambaran lagi mengenai pembelajaran kooperatif tipe STAD ini dan guru berupaya memberikan pertanyaan yang lebih menarik sehingga nantinya siswa lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran kooperatif tipe STAD ini, 2) guru selalu memberikan motifasi kepada siswa agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran ini secara lebih maksimal lagi dan siswa menjadi lebih tertarik lagi dengan

60

model pembelajran kooperatif tipe STAD yang diterapkan. Dalam siklus ini guru berusaha memberikan pertanyaan secara acak kepada siswa agar dari masing-masing siswa siap untuk menjawab apabila diberikan pertanyaan oleh guru. Selain itu pula guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang dijelaskan mana yang siswa masih kurang paham. Hal ini merupakan upaya agar perhatian siswa bisa lebih terfokus pada materi yang sedang diajarkan, 3) kemudian guru harus lebih terbuka, tidak membatasi diri atau akrab dengan siswa serta pemberian reward atau hadiah kepada siswa yang mau bertanya yang hadiah tersebut berupa penambahan nilai. Selain itu saat pembelajaran kooperatif tipe STAD pada proses diskusi siswa di tiap-tiap kelompok guru selalu berkeliling pada setiap kelompok dan memberikan arahan kepada masing-masing kelompok sehingga setiap siswa dapat melakukan kegiatan diskusi dengan baik. Dengan demikian kegiatan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi sistem pengapian konvensional kelas X TKR 1 SMK Negeri 4 Semarang dapat meningkatkan siswa untuk melakukan kegiatan diskusi sehingga siswa lebih mengerti tentang materi yang di sampaikan guru dan siswa cenderung lebih aktif untuk melakukan kegiatan diskusi. Seperti pada penelitian Siregar (2013:52), dalam Jurnal Penelitian Tindakan Kelas menyatakan bahwa, penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang digunakan dalam pembelajaran kimia dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.

Berdasarkan analisa hasil tes siklus I dan siklus II hasil belajar siswa mengalami peningkatan hasil belajar. Pada pembelajaran siklus I diperoleh nilai rata-rata 69,97 yang belum memenuhi KKM. Hasil tersebut mengalami peningkatan setelah dilakukan pembelajaran siklus II yang mana diperoleh nilai rata-rata 81,05 dan telah memenuhi KKM yaitu 75,00. Sedangkan untuk ketuntasan hasil belajar siswa yang dalam siklus I mencapai 30,55% dari jumlah keseluruhan siswa yang berarti 11 siswa berkategori tuntas dan 25 siswa berkategori belum tuntas pada siklus II menjadi 86,11% dari jumlah keseluruhan siswa yang berarti 31 siswa berkategori tuntas dan 5 siswa berkategori belum tuntas. Perolehan peningkatan ini juga bisa dilihat dari hasil observasi pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus I dan siklus II yang terinci sebagai berikut: 1) siswa mengikuti pembelajaran STAD 51,9% menjadi sebesar 86,1%, 2) keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran 24,1% menjadi sebesar 75,9%, 3) perhatian siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran 25% menjadi sebesar 79,6%, 4) kedisiplinan siswa 100% tetap bertahan pada 100%, 5) penugasan yang didapat oleh siswa 88% menjadi sebesar 100%, 6) Tolak ukur keberhasilan pembelajaran yang telah diikuti oleh siswa 25,9% menjadi sebesar 86,1%. Sedangkan untuk rata-rata keseluruhan observasi pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu 52,5% meningkat sebesar 88%.

Peningkatan hasil belajar dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi sistem pengapian konvensional kelas X TKR 1

62

SMK Negeri 4 Semarang dari siklus I ke siklus II dapat dilihat dalam gambar 14 dibawah ini.

Gambar 14. Peningkatan rata-rata hasil tes siklus I dan siklus II Gambar diatas menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa. Dari diagram tersebut dapat dilihat bahwa dalam pembelajaran siklus I siswa memperoleh nilai rata-rata 69,97 dan setelah dilakukan perbaikan dalam pembelajaran, pada siklus II diperoleh nilai rata-rata yang meningkat yaitu 81,05 dengan besar peningkatan 11,08. Hal ini diperkuat berdasarkan hasil penelitian Scott dalam Wahyudi dkk, (2012:62) menyatakan bahwa:

Penerapan model STAD dapat membuat siswa yang bekerja dalam kelompok (masyarakat belajar) lebih mudah belajar dan bekerja dengan siswa lain sehingga dapat lebih mudah mempelajari dan mengingat materi yang disampaikan oleh guru. Perkembangan learning community siswa yang baik ini membawa dampak positif pada nilai kognitif, afektif, dan psikomotorik dimana tiap-tiap siklus mengalami peningkatan

Kemudian untuk ketuntasan siswa pada pembelajaran siklus I dan siklus II dapat dilihat pada gambar 15 dibawah ini.

60 65 70 75 80 85 Siklus I Siklus II

Dokumen terkait