• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

ii

RINGKASAN

SYTI SARAH MAESAROH. Uji Daya Hasil Galur-Galur Dihaploid Padi Sawah (Oryza Sativa L.). (Dibimbing oleh BAMBANG S. PURWOKO).

Pertumbuhan penduduk mendorong meningkatnya laju permintaan beras. Peningkatan permintaan beras ini belum dapat diimbangi dengan peningkatan produksi padi nasional. Bioteknologi dengan teknik kultur antera diharapkan dapat menghasilkan tanaman dihaploid yang menghasilkan galur berdaya hasil tinggi secara efisien. Pengujian terhadap galur-galur yang dihasilkan diperlukan sebelum varietas unggul dapat dilepas. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji daya hasil sepuluh galur dihaploid hasil kultur antera terhadap dua varietas pembanding, Ciherang dan Inpari 13.

Penelitian ini dilaksanakan di University Farm IPB, Babakan, Darmaga dan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor pada bulan November 2011-Maret 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan genotipe. Perlakuan terdiri atas 12 genotipe yang diulang sebanyak tiga kali sehingga seluruhnya terdiri atas 36 satuan percobaan. Satuan percobaan adalah satu petakan berukuran 3 m x 3 m. Jarak tanam yang digunakan adalah 25 cm x 25 cm dan dua bibit ditanam per lubang tanam.

Galur-galur yang diuji memiliki tinggi tanaman pada fase vegetatif antara 74.4-90.7 cm, sedangkan pada fase generatif tinggi tanaman antara 85.2-118.5 cm. Jumlah anakan total per rumpun galur-galur yang diuji antara 17.6-25.2. Pada umumnya galur yang diuji termasuk genotipe dengan jumlah anakan sangat banyak. Rata-rata jumlah anakan produktif galur yang diuji sekitar 11.3-16.1. Galur KP-4-42-2-2, KP-4-43-1-2, dan I5-10-1-1 memiliki persentase jumlah anakan produktif di atas 75 % (kriteria varietas unggul). Kisaran rata-rata umur berbunga yaitu antara 79.3-94.7 hari setelah semai dan umur panen antara 105.0-124.0 hari. Umur panen yang paling genjah ditunjukkan oleh galur KP-3-18-1-3, sedangkan umur panen paling lama ditunjukkan oleh galur KP-4-43-1-4.

Kisaran rata-rata panjang malai yaitu 21.4-25.5 cm. Malai terpendek ditunjukkan oleh galur KP-3-18-1-3, sedangkan malai terpanjang ditunjukkan

iii oleh galur IW67. Inpari 13 memberikan jumlah gabah total yang paling tinggi (161.8), sedangkan jumlah gabah total paling rendah ditunjukkan oleh galur IW67 (120.2). Persentase gabah isi semua genotipe yang diuji antara 56.0-77.5 %, sedangkan persentase gabah hampa genotipe yang diuji antara 22.5-44.0 %.

Rata-rata bobot 1,000 butir beberapa genotipe yang diuji pada kadar air ± 14% antara 23.6-30.5 g. Bobot 1,000 butir paling rendah ditunjukkan oleh galur I5-10-1-1, sedangkan bobot 1,000 butir paling tinggi ditunjukkan oleh galur KP-4-43-1-2. Galur I5-10-1-1 memiliki ukuran gabah yang paling kecil dibandingkan dengan ukuran gabah galur dihaploid lainnya, sedangkan galur KP-4-43-1-2 memiliki ukuran gabah yang besar.

Nilai rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) antara 2.98-6.68 ton/ha. Bobot GKP paling rendah ditunjukkan oleh galur FG1R 36-1-1, sedangkan bobot GKP paling tinggi ditunjukkan oleh varietas Ciherang. Nilai rata-rata bobot Gabah Kering Giling (GKG) pada kadar air ± 14% antara 2.54-4.98 ton/ha. Bobot GKG paling tinggi ditunjukkan oleh varietas Inpari 13, sedangkan bobot GKG paling rendah ditunjukkan oleh galur FG1R 36-1-1. Galur KP-4-42-2-2, KP-4-42-2-3, KP-4-43-1-2, KP-4-43-2-4, dan galur IW67 menunjukkan bobot GKG (4.47-4.94 ton/ha) yang setara dengan Ciherang (4.66 ton/ha) dan Inpari 13 (4.98 ton/ha). Galur KP-4-42-2-2 dan KP-4-43-2-4 memiliki potensi hasil berdasarkan hitungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Ciherang dan Inpari 13. Galur KP-4-42-2-2, KP-4-42-2-3, KP-4-43-1-KP-4-42-2-2, KP-4-43-2-4, FG1R 36-1-1, I5-10-1-1, dan galur IW67 memiliki potensi hasil berdasarkan hitungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Ciherang.

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Proyeksi perkembangan penduduk menunjukkan bahwa Indonesia akan menjadi negara yang berpenduduk sangat besar pada beberapa dekade mendatang. Imbangan permintaan dan penawaran komoditas pangan menjadi indikator penting dalam perencanaan pencapaian ketahanan pangan masyarakat. Ketergantungan pangan pokok masyarakat pada beras mengharuskan pemerintah tetap memprioritaskan penanganan peningkatan produksi dengan berbagai upaya. Kenaikan permintaan beras sebesar 15.12 juta ton dalam waktu 40 tahun (2010- 2050) merupakan beban berat yang harus ditanggung (Mulyani et al., 2010).

Upaya pemenuhan kebutuhan beras nasional hingga tahun 2025 akan ditempuh melalui dua cara: (1) peningkatan produktivitas padi dengan laju pertumbuhan 1.0-1.5 % per tahun; dan (2) peningkatan areal panen padi melalui peningkatan intensitas pertanaman (IP), pengembangan di areal baru, termasuk sebagai tanaman sela di lahan perkebunan dan lahan bukaan baru (Departemen Pertanian, 2005 ).

Produktivitas padi masih dapat dinaikkan, namun dalam beberapa tahun terakhir peningkatan produktivitas mengalami pelandaian. Penyebabnya antara lain adalah telah tercapainya potensi hasil optimum dari varietas unggul baru (VUB) padi dan menurunnya kesuburan lahan sawah karena eksploitasi yang terus menerus tanpa memperhatikan kelestarian kesuburan tanah, baik fisik maupun kimawi (Abdullah et al., 2008). Karena itu, perakitan varietas unggul padi sawah dengan potensi hasil lebih tinggi harus dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Perakitan varietas dapat dilakukan secara konvensional dan dengan bioteknologi. Perakitan varietas unggul dengan cara konvensional memerlukan waktu yang lama karena memerlukan periode penggaluran dan seleksi selama beberapa generasi. Oleh karena itu, pengembangan bioteknologi menjadi penting untuk dilakukan. Salah satu teknik bioteknologi dalam menciptakan varietas unggul padi yaitu dengan perakitan galur dihaploid. Dewi dan Purwoko (2011) menyatakan bahwa dengan menggunakan sistem dihaploid, proses pemuliaan

2 untuk mendapatkan galur murni dapat lebih singkat melalui satu sampai dua generasi saja. Kultur antera merupakan salah satu cara untuk mempercepat perakitan varietas. Kultur antera dapat menghasilkan tanaman dihaploid atau galur murni yang meningkatkan efisiensi perakitan varietas unggul. Teknik ini menghasilkan tanaman haploid melalui induksi embriogenesis dari pembelahan berulang mikrospora atau polen tanaman donor antera yang berasal dari persilangan tetua yang diinginkan.

Kultur antera diperlukan dalam menghasilkan varietas unggul baru. Pengujian daya hasil galur-galur dihaploid hasil kuntur antera merupakan salah satu tahap yang harus dilalui sebelum varietas unggul dilepas. Potensi hasil dan daya adaptasi galur tersebut diuji di beberapa lokasi. Galur-galur yang berdaya hasil tinggi pada berbagai lokasi dapat diusulkan sebagai varietas unggul baru dengan daya adaptasi luas (Sudarna, 2010). Sjafii et al. (2011) pada penelitian sebelumnya telah melaporkan galur-galur padi sawah dengan potensi hasil tinggi. Galur-galur tersebut perlu diuji untuk mengetahui penampilan hasilnya.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi hasil galur-galur dihaploid hasil kultur antera padi sawah yang dibandingkan dengan varietas padi berproduktivitas tinggi.

Hipotesis

Terdapat galur-galur dihaploid hasil kultur antera padi sawah yang dapat memberikan hasil lebih tinggi atau sama dengan varietas yang sudah dilepas.

Dokumen terkait