HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. DATA INSTRUMEN
Gambaran hasil penelitian berdasarkan bahaya merokok terhadap kesehatan dikecamatan Doloksanggul baik sebanyak 90 orang (30%), Cukup sebanyak 57 orang (19%), dan sebanyak kurang 153 orang (51%).
Tabel 5.2 Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh di Kecamatan Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan.
Gambaran Perokok Frekuensi Persentase
Kurang 153 51
Cukup 57 19
Baik 90 30
Total 300 100
Gambaran hasil penelitian berdasarkan bahaya merokok terhadap kanker paru dan mulut di Kecamatan Doloksanggul dengan pengetahuan baik sebanyak 98 orang (32,7%), pengetahuan cukukp sebanyak 39 orang (13%), dan kurang sebanyak 163 orang (54,3%).
Tabel 5.3 Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang bahaya merokok terhadap kanker paru dan mulut di Kecamatan Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan.
Gambaran Perokok Frekuensi Persentase
Kurang 163 54.3
Cukup 39 13
Baik 98 32.7
Total 300 100
Gambaran hasil penelitian berdasarkan bahaya merokok terhadap penyakit jantung di Kecamatan Doloksanggul dengan pengetahuan baik sebanyak 104 orang (34,7%), pengetahuan cukukp sebanyak 57 orang (19%), dan kurang sebanyak 138 orang (46%).
Tabel 5.4 Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang bahaya merokok terhadap penyakit jantung di Kecamatan Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan.
Gambaran Perokok Frekuensi Persentase
Kurang 138 46
Cukup 57 19
Baik 105 35
Total 300 100
Gambaran hasil penelitian berdasarkan bahaya merokok terhadap gangguan kehamilan di Kecamatan Doloksanggul dengan pengetahuan baik sebanyak 93 orang (31%), pengetahuan cukukp sebanyak 99 orang (33%), dan kurang sebanyak 108 orang (36%).
Tabel 5.5 Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang bahaya merokok terhadap gangguan kehamilan di Kecamatan Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan.
Gambaran Perokok Frekuensi Persentase
Kurang 93 31
Cukup 99 33
Baik 108 36
Total 300 100
Gambaran hasil penelitian berdasarkan bahaya merokok terhadap gangguan kehamilan di Kecamatan Doloksanggul dengan pengetahuan baik sebanyak 108 orang (36%), pengetahuan cukukp sebanyak 77 orang (25,7%), dan kurang sebanyak 115 orang (38,3%).
Tabel 5.6 Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang bahaya merokok terhadap penyakit paru di Kecamatan Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan.
Gambaran Perokok Frekuensi Persentase
Kurang 115 38.3
Cukup 77 25.7
Baik 108 36
Total 300 100
Gambaran hasil penelitian berdasarkan keseluruhan perokok tentang bahaya merokok terhadap kesehatan di Kecamatan Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan bahwa pengetahuan baik sebanyak 108 orang (36%), pengetahuan cukukp sebanyak 46 orang (15,3%), dan kurang sebanyak 146 orang (48,7%).
Tabel 5.7 Distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang bahaya merokok terhadap kesehatan di Kecamatan Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan.
Gambaran Perokok Frekuensi Persentase
Kurang 146 48.7
Cukup 46 15.3
Baik 108 36
Total 300 100
4. Pembahasan
Merokok dari segi kesehatan, tidak ada satu titik yang menyetujui atau melihat manfaat yang dikandungnya, namun tidak mudah untuk menurunkan terlebih menghilangkannya. Karena itu gaya hidup ini menarik sebagai suatu masalah kesehatan, minimal dianggap sebagai faktor resiko dari berbagai macam penyakit. Penelitian yang dilakukan para ahli WHO memberikan bukti nyata adaya bahaya merokok bagi kesehatan siperokok bahkan pada orang disekitarnya (Aditama, 2011). Berdasarkan hasil analisa data yang diperoleh peneliti menguraikan gambaran pengetahuan perokok tentang bahaya merokok terhadap kesehatan di Kecamatan Doloksanggul Kabupaten humbang Hasundutan masih kurang dilihat pada tabel 5.3 dimana dari 300 responden, gambaran pengetahuan yang baik sebanyak 98 orang (32.7%) , pengetahuan cukup sebanyak 39 orang (13%), sedangkan pengetahuan kurang jumlah respondennya lebih banyak yaitu 163 orang (54.3%). Hasil penelitian Bustan (2007) yang menjelaskan pengetahuan masyarakat masih kurang tentang bahaya merokok sehingga masyarakat tidak dianggap suatu masalah kesehatan. Namun, hasil penelitian ini tidak sama dengan hasil penelitian Ratri Setianingrum tahun (2009) tingkat pengetahuan tentang
bahaya merokok pada kategori cukup sebesar 46.48% dibandingkan dengan kategori baik sebesar 26.76%, dan kurang baik sebesar 26.76% di Desa Boro Wetan Kecamatan Banyu Urip Kabupaten Purwerejo. Ini disebabkan adanya perbedaan kepedulian masyarakat tentang bahaya merokok terhadap kesehatan.
Kanker paru dan kanker mulut meningkat akibat merokok, banyak orang yang tidak tahu bahwa efek negatif rokok tidak hanya dari nikotin, mulai dari asap bisa membuat iritasi paru sampai 45 bahan yang bersifat karsinogen. Berdasarkan hasil penelitian ini gambaran pengetahuan perokok di Kecamatan Doloksanggul ditemukan kurang (46%) tentang bahaya merokok terhadap kanker paru dan kanker mulut. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi dan ditambah masyarakat didaerah pedesaan sangat sedikit terkena penyakit tersebut bahkan banyak yang belum tahu bahaya merokok terhadap kanker paru. Hal sama juga dikemukakan penelitian oleh Jaya tahun 2011 pengetahuan perokok aktif tentang penyakit kanker paru di Dusun III pengetahuan kurang (75 %). Menurut pendapat Dr. Richard Doll dan Dr. A.B.Hill (2008) menunjukan pengaruh rokok terhadap kanker paru banyak terjadi di daerah maju seperti industri dan pertambangan. Penderita kanker mulut 90% perokok dan tingkat kematian penderita kanker mulut pada perokok lebih besar 20 sampai dengan 30 kali dibandingkan dengan penderita kanker mulut yang bukan perokok (Suryo.S. 2007).
Dua bahan terpenting dalam asap rokok yang berkaitan dengan penyakit jantung adalah nikotin dan gas CO. Nikotin dapat mengganggu jantung, membuat irama jantung menjadi tidak teratur, mempercepat aliran darah, menimbulkan kerusakan lapisan dalam dari pembuluh darah dan menimbulkan penggumpalan
darah. Gas CO (karbon monooksida) akan mengganggu kemampuan darah kita untuk berikatan dengan oksigen. Gas CO mempunyai kemampuan mengikat zat hemoglobin di dalam darah 200 kali lebih kuat dari pada oksigen. Akibatnya, hemoglobin tidak akan mengikat oksigen dan tubuh kita pun jadi kekurangan oksigen yang merupakan suatu bahan utama bagi kehidupan manusia. Setiap batang rokok mengandung 3% sampai 6% gas CO. Kadar CO dalam darah perokok berat sekitar 5% (Ronald. H, 2008). Berdasarkan hasil penelitian gambaran pengetahuan perokok tentang bahaya merokok terhadap penyakit jantung di kecamatan Doloksanggul kabupaten Humbang Hasundutan mayoritas pengetahuan kurang yaitu 46% dibandingkan pengetahuan baik 34% dan pengetahuan cukup 19%. Ini disebabkan karena kebanyakan masyarakat Doloksanggul beranggapan bahwa penyakit jantung disebabkan oleh makanam berlemak sehingga makanan berlemak dikurangi tetapi merokok tetap seperti biasa. Penelitian ini sangat bertolak belakang dengan para penelitian yang telah membuktikan adanya hubungan merokok terhadap penyakit jantung. Dari 11 juta kematian per tahun di negara (Poltekkes Depkes Jakarta, 2010).
Bahaya merokok terhadap kehamilan dan janin meningkatkan kemungkinan terjadinya cacat janin bahkan tomur otak pada janinmya, dan kematian bayi minggu pertama kelahiran sampai sepertiganya pada Ibu perokok. Hasil penelitian yang didapat oleh peneliti tentang bahaya merokok terhadap kehamilan dan janin di Kecamatan doloksanggul mayoritas baik dengan 38% dibandingkan pengetahuan cukup 33% dan pengetahuan kurang 31 %. Sedangkan hasil penelitian Rahayu Y.p tahun 2012 gambaran pengetahuan tentang bahaya
merokok bagi kesehatan gangguan kehamilan sebanyak 12 responden (7,59 %) mempunyai pengetahuan yang baik tentang merokok, sebanyak 36 responden (22,78 %) berpengetahuan cukup dan sebanyak 110 responden (69,62 %) berpengetahuan kurang. Berdasarkan analisa data terlihat bahwa pengetahuan responden sebagian besar termasuk dalam kategori kurang. Ini disebabkan oleh kurangnya responden menerima informasi tentang bahaya merokok. Menurut Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek-objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Bahaya merokok terhadap kehamilan dikecamatan Doloksanggul baik itu karena budaya Doloksanggul seorang anak itu sangat berharga sehingga banyak masyarakat suka mencari informasi tentang kehamilan yang sehat.
Pertama sekali rokok menyerang paru-paru yang dapat menimbulkan keluhan batuk serta dahak yang banyak. Asap rokok dapat mengakibatkan terjadinya perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mucus bertambah banyak (hiperplasia). Pada saluran napas kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Akibat perubahan anatomi saluran napas, pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya (Aditama, 2011). Dari hasil penelitian bahaya merokok terhadap penyakit paru di Kecamatan
Doloksangul, pengetahuan baik 36%, cukup 25,7 % dan mayoritas pengetahuan kurang sebanyak 38,3% . Hasil ini didukung oleh penelitian astuti (2007) yang menjelaskan bahwa pegetahuan perokok tehadap penyakit paru di pedesaan kurang dikarenakan hambatan informasi, media.
Gambaran hasil penelitian dari keseluruhan bahaya merokok terhadap kesehatan di kecamatan Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan bahwa pengetahuan baik sebanyak 36%, pengetahuan cukup sebanyak 15,3% dan pengetahuan kurang sebanyak 48,7%. Berdasarkan hasil penelitian ini maka mayoritas pengetahuan perokok di Kecamatan Doloksanggul Kabupaten Humbang Hasundutan kurang. Berdeda hasil penelitian Nurul Hidayat tahun 2011 pengetahuan tentang bahaya merokok dapat menimbulkan berbagai penyakit tidak menular seperti jantung dan gangguan pembuluh darah, stroke, kanker paru, dan kanker mulut ganguan kehamilan di RT 04 RW 02 Kelurahan Wonokromo. Hasil penelitian didapatkan persentase terbesar responden mempunyai pengetahuan cukup yaitu (46,2 %). Penelitian Hidayat ini disebabkan pengetahuan cukup karena perokok di Kelurahan Wonokromo kurang memperhatikan kesehatan, kurang meningkatkan kualitas hidup, dengan cara merubah sikap terhadap merokok. Sedangkan gambaran pengetahuan perokok dikecamatan Doloksangul pengetahuan kurang dikarenakan kebanyakan renponden mendapatkan pengetahuan berdasarkan pengalaman hidupnya. Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan bukan hanya didapat dari pengalaman bisa juga dari media massa, pendidikan dan lingkungan melalui pengindraan yaitu pengelihatan, pendengaran, penciuman rasa dan raba.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN