• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data Kemiskinan Mikro

POLA KONSUMSI DAN PENDAPATAN PENDUDUK 6.1. Pola Konsumsi

7.4. Data Kemiskinan Mikro

0,81 0,60 0,50 0,45

*)

Sumber : Kemiskinan Makro Susenas *) Data belum tersedia

7.4. Data Kemiskinan Mikro

Data kemiskinan yang diperoleh dari Susenas adalah data kemiskinan yang bersifat makro. Untuk kepentingan yang lebih spesifik yaitu untuk penajaman program pengurangan angka kemiskinan oleh berbagai Kementerian / Lembaga, BPS mendapat tugas untuk mengumpulkan data kemiskinan yang bersifat mikro melalui Pendataan

72 Sosial Ekonomi Penduduk (PSE-05), Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS-08), PPLS 2011 dan yang terbaru adalah PBDT (Pemutakhiran Basis Data Terpadu) 2015.

Dari kegiatan PSE-05 diperoleh data Rumah Tangga Miskin (RTM) yaitu rumah tangga yang memenuhi 9 – 14 kriteria kemiskinan. Adapun kriteria variabel kemiskinan rumah tangga yang digunakan adalah sebagai berikut :

No. Variabel Kemiskinan Kriteria Kemiskinan

1. Luas lantai bangunan tempat tinggal < 8 m2 per kapita

2. Jenis lantai bangunan tempat tinggal Tanah/bambu/kayu murahan 3. Jenis dinding bangunan tempat tinggal Bambu/rumbia/kayu berkualitas

rendah/tembok tanpa plester

4. Fasilitas tempat buang air besar Tidak punya/bersama rumah tangga lain 5. Sumber penerangan rumah tangga Bukan listrik

6. Sumber air minum Sumur/mata air tidak

terlindung/sungai/air hujan 7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari Kayu bakar/arang/minyak tanah 8. Konsumsi daging/ayam per minggu Tidak pernah/satu kali seminggu 9. Pembelian pakaian baru setiap anggota rumah

tangga dalam setahun

Tidak pernah membeli/ satu stel

10. Frekuensi makan dalam sehari untuk setiap anggota rumah tangga

Satu kali/dua kali makan sehari

11. Kemampuan membayar untuk berobat ke Puskesmas/Poliklinik

Tidak mampu berobat

12. Lapangan pekerjaan utama kepala rumah tangga

Petani dengan luas lahan < 0,5 ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerja lain dengan pendapatan rumah tangga < 600.000,- rupiah per bulan

13. Pendidikan kepala rumah tangga Tidak sekolah/tidak tamat SD/tamat SD 14. Pemilikan asset/harta bergerak/harta tidak

bergerak

Tidak mempunyai tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai > 500.000,- rupiah, seperti sepeda motor, emas perhiasan, ternak, kapal/perahu motor, atau barangmodal lainnya

73 Klasifikasi Status Kemiskinan Rumah Tangga :

Kriteria Status Kemiskinan

Karakteristik miskin = 13 – 14 Karakteristik miskin = 11 – 12 Karakteristik miskin = 9 - 10

Sangat miskin Miskin Hampir miskin

Berdasarkan hasil PSE-05, jumlah rumah tangga miskin di Kabupaten Cilacap tahun 2005 sebanyak 170.432 rumah tangga atau menempati urutan ketiga terbesar di Jawa Tengah setelah Kabupaten Brebes (228.574 rumah tangga) dan Kabupaten Banyumas (173.486 rumah tangga).

74 Tabel 7.5

Jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) menurut Status Kemiskinan dan Kecamatan di Kabupaten Cilacap Hasil PSE Tahun 2005

No. Kecamatan Sangat Miskin Miskin Hampir Miskin Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Pada tahun 2008 pemerintah telah membuat kebijakan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebagai akibat dari kenaikan harga minyak mentah di

75 pasar internasional. Dampak kenaikan harga BBM ini adalah kenaikan harga kebutuhan pokok sehari-hari yang berpengaruh besar kepada daya beli masyarakat, khususnya penduduk miskin. Untuk menjaga daya beli rumah tangga miskin pada tingkat yang sama sebelum kenaikan harga BBM, pemerintah memutuskan untuk memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada Rumah Tangga Sasaran (RTS) pada tahun 2008 melalui Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2008. Program BLT tahun 2008, pada dasarnya merupakan program jaring pengaman sosial, yang sifatnya hanya sementara dan bertujuan :

a. Membantu masyarakat miskin agar tetap dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, b. Mencegah penurunan taraf kesejahteraan masyarakat miskin akibat kesulitan

ekonomi, dan

c. Meningkatkan tanggung jawab sosial bersama.

Program BLT, adalah program pemberian bantuan langsung berupa uang tunai sejumlah tertentu kepada RTS yang mencakup rumah tangga sangat miskin, miskin, dan hampir miskin. Dengan menggunakan database RTS-BLT tahun 2005 / 2006 yang telah diverifikasi secara terbatas pada tahun 2007 di wilayah cakupan Program Keluarga Harapan, BPS menyerahkan database tersebut kepada PT. Pos Indonesia untuk selanjutnya dibuatkan kartu dan kupon BLT tahun 2008. Penyerahan kartu dan kupon BLT oleh PT. Posindo pada RTS didahului dengan verifikasi terbatas untuk meneliti tentang: (i) kelayakan RTS, (ii) nama dan alamat penerima, (iii) RTS pemilik Kartu BLT ganda.

Kebijakan pengentasan kemiskinan yang dibuat pemerintah Indonesia terbagi dalam 3 klaster, yaitu: Klaster-1 Program Bantuan dan Perlindungan Sosial dengan sasaran rumah tangga miskin, Klaster-2 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dengan sasaran pemberdayaan kelompok masyarakat, dan Klaster-3 Program Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil berupa program bantuan permodalan dan bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). Program BLT termasuk dalam Klaster-1 bersama dengan program bantuan beras untuk orang miskin (Raskin), Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) atau yang sebelumnya dikenal sebagai Askeskin untuk gratis perawatan kesehatan gratis,

76 Program Beasiswa untuk siswa miskin, serta Program bantuan untuk kelompok rentan sosial lainnya.

Pelaksanaan program Bantuan dan Perlindungan Sosial mensyaratkan tersedianya database rumah tangga sasaran yang berisi informasi tentang rumah tangga beserta informasi pokok tentang anggota rumahtangga. Pada tahun 2008 BPS melakukan pemutakhiran (updating) data basis RTS BLT. Pemutakhiran data tersebut dilaksanakan melalui kegiatan Pendataan Program Perlindungan Sosial Tahun 2008 yang disingkat PPLS08.

Tujuan kegiatan PPLS08 adalah :

a. Memperbarui database RTS, yaitu untuk mendapatkan daftar nama dan alamat RTS :

 Membuang data rumah-rumah tangga penerima BLT 2005 yang sudah meninggal dunia tanpa ahli waris yang berada pada rumah tangga yang sama.

 Membuang data rumah-rumah tangga penerima BLT 2008 yang tidak layak sebagai sasaran program karena status ekonominya sudah tidak miskin lagi.

 Memasukkan data rumah-rumah tangga sasaran baru, baik mereka adalah rumah tangga yang sebelumnya telah tercatat tetapi pindah tempat tinggal atau mereka yang belum pernah tercatat sama sekali.

b. Memperbarui informasi tentang kehidupan sosial ekonomi RTS khususnya tentang kualitas tempat tinggal, pendidikan dan pekerjaan kepala rumah tangga.

c. Menambah data anggota rumah tangga sasaran dengan informasi nama, umur, jenis kelamin, status sekolah dan pekerjaan anggota rumah tangga dan informasi tambahan tentang kondisi perumahan.

Data yang dikumpulkan dalam kegiatan PPLS 2008 adalah :

a. Keterangan rumah tangga: luas lantai, jenis lantai, jenis dinding, fasilitas tempat buang air besar, sumber air minum, sumber penerangan, jenis bahan bakar untuk memasak, frekuensi membeli daging/ayam/susu, frekuensi makan, jumlah pakaian

77 yang biasa dibeli, kemampuan berobat, lapangan pekerjaan utama, pendidikan Kepala Rumah Tangga (KRT), dan kepemilikan aset.

b. Keterangan sosial ekonomi Anggota Rumah Tangga (ART) yaitu nama, hubungan dengan kepala rumah tangga, jenis kelamin, tanggal lahir, umur, status perkawinan, kepemilikan tanda pengenal, kecacatan, pendidikan, dan kegiatan ekonomi ART yang berumur 5 tahun dan lebih.

Hasil pendataan PPLS08 adalah hasil pendataan lapangan yang sudah diolah lebih lanjut dengan metode Proxy Mean Test (PMT). PMT digunakan untuk memprediksi pengeluaran rumah tangga yang merupakan satu-satunya variabel yang sejauh ini digunakan untuk mendefinisikan kemiskinan absolut secara langsung (berdasarkan variabel non-moneter), untuk membangun mekanisme yang seragam dalam pengukuran statistik. Langkah selanjutnya setelah PMT adalah validasi lapangan untuk memastikan kelayakan akhir sebagai RTS PPLS08.

Rumah Tangga Sasaran (RTS) hasil pendataan PPLS08 yang setelah dilakukan penghitungan dengan metode PMT (Proxy Mean Test) skornya kurang dari atau sama dengan 1,2 Garis Kemiskinan (GK). RTS hasil PPLS 2008 terdiri dari RTS sangat miskin, miskin, dan hampir miskin.

78 Tabel 7.6

Jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) Hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2008 menurut Status Kemiskinan

dan Kecamatan di Kabupaten Cilacap

No. Kecamatan Sangat Miskin Miskin Hampir Miskin Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Sumber : PPLS08

Perlindungan sosial merupakan bagian dari strategi tiga jalur (triple track strategy) pembangunan pemerintah Indonesia saat ini. Berbagai program bantuan dan perlindungan sosial pemerintah seperti Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin), Program Keluarga Harapan (PKH) dan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) ditujukan

79 untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah. Untuk memenuhi kebutuhan basis data terpadu yang dapat digunakan untuk program-program tersebut pada tahun 2012-2014, pemerintah melalui Badan Pusat Statistik mengumpulkan data rumah tangga/keluarga sasaran melalui Pendataan Program Perlindungan Sosial 2011 (PPLS 2011). PPLS 2011 merupakan kegiatan pendataan rumah tangga untuk program bantuan dan perlindungan sosial yang keempat setelah Pendataan Sosial Ekonomi 2005 (PSE05), Survei Pelayanan Dasar Kesehatan dan Pendidikan 2007 (SPDKP07) dan PPLS08.

Berbeda dengan pendataan program perlindungan sosial sebelumnya, tujuan utama PPLS 2011 akan menghasilkan rumah tangga dan keluarga sasaran yang jauh lebih besar, yaitu 40 persen rumah tangga sasaran kelompok menengah ke bawah (secara nasional). Data yang dihasilkan akan menjadi Basis Data Terpadu untuk Program Bantuan dan Perlindungan Sosial, seperti Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Program Keluarga Harapan (PKH), Program Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin), Program Beasiswa, dan lain-lain.

Untuk mendapatkan 40 persen rumah tangga dan keluarga sasaran, Kegiatan PPLS 2011 akan mendata sebanyak 45 persen rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan terbawah. Daftar nama rumah tangga yang akan didata terdiri dari:

a. 40 persen data rumah tangga yang diperkirakan memiliki pengeluaran perkapita terendah berdasarkan perkiraan pengeluaran rumah tangga dari data hasil Sensus Penduduk (SP) 2010.

b. 5 persen sisanya akan diperoleh dari implementasi metode konsultasi dengan penduduk menengah ke bawah, hasil penyisiran, data dari PPLS 2008 serta daftar tunggu (waiting list) PKH dari Kementrian Sosial Republik Indonesia.

Untuk mempermudah pengguna memahami data dan menentukan sasaran program, dikembangkanlah kategorisasi dalam mengklasifikasikan Rumah Tangga Sasaran (RTS) oleh BPS, yaitu :

1) Sangat Miskin, adalah mereka yang konsumsi per kapita per bulan berada di bawah 0,8 x Garis Kemiskinan (GK);

80 2) Miskin, adalah mereka yang konsumsi per kapita per bulan berada di antara 0,8 GK

dan 1 GK;

3) Hampir Miskin, adalah mereka yang konsumsi per kapita per bulan berada di antara 1 GK dan 1,2 GK;

4) Rentan Miskin, adalah mereka yang konsumsi per kapita per bulan berada di antara 1,2 GK dan 1,6 GK.

81 Tabel 7.7

Jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) Hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011 menurut Status Kemiskinan

dan Kecamatan di Kabupaten Cilacap No. Kecamatan Sangat

Miskin

Miskin Hampir Miskin

Sumber : PPLS11

82 Untuk mengurangi sebagian beban pengeluaran rumah tangga Pemerintah Pusat menyelenggarakan Program Raskin yaitu berupa bantuan beras bersubsidi kepada rumah tangga berpendapatan rendah. Rumah tangga yang menerima beras Raskin selanjutnya disebut Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM). Tahun 2012, Program Raskin menyediakan beras bersubsidi kepada RTS-PM dengan kondisi sosial ekonomi terendah (kelompok miskin dan rentan miskin).

Untuk tujuan yang lebih praktis, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) memperkenalkan pendekatan relatif dalam mengkategori kelompok kemiskinan agar lebih fokus pada segmen populasi terbawah. Penetapan RTS-PM Program Raskin 2013 didasarkan pada Basis Data Terpadu untuk Program Perlindungan Sosial. Semua rumah tangga yang masuk dalam Basis Data Terpadu diperingkat berdasarkan status kesejahteraannya dengan menggunakan indeks kesejahteraan yang obyektif dan spesifik untuk setiap kabupaten/kota. Sesuai dengan pagu nasional Raskin, TNP2K mengidentifikasi sekitar 15,5 juta rumah tangga yang paling rendah tingkat kesejahteraannya dari Basis Data Terpadu. Dengan demikian mereka yang didata pada PPLS 2011 tidak serta merta menjadi RTS-PM. Pagu raskin untuk kabupaten Cilacap mengacu pada sebaran jumlah RTS-PM yang paling rendah tingkat kesejahteraannya dari Basis Data Terpadu sebagaimana dijelaskan di atas. RTS-PM di Kabupaten Cilacap untuk tahun 2015 seperti tersebut pada tabel di bawah (kolom 11) :

83 Tabel 7.8

Rumah Tangga Sasaran (RTS) Penerima Program Raskin di Kabupaten Cilacap Tahun 2011 – 2015

No. Kecamatan

Kab. Cilacap 150.707 150.707 168.907 140.943 140.943 140.943 Sumber : PPLS08 dan PPLS 2011

Keterangan : *) Januari s.d Juni 2012 menggunakan data PPLS 2008 **) Juli s.d Desember 2012 menggunakan data PPLS 2011

Pemutakhiran data rumah tangga calon penerima manfaat program-program pengentasan kemiskinan kembali dilakukan di tahun 2015, melalui kegiatan PBDT (Pemutakhiran Basis Data Terpadu) 2015. Metode pelaksanaan PBDT 2015 melibatkan partisipasi aktif masyarakat melalu Forum Konsultasi Publik (FKP), dimana pada pelaksanaan FKP ini masyarakat yang diwakili oleh pengurus wilayah (Kadus, Ketua RW,

84 Ketua RT) melakukan identifikasi keberadaan rumah tangga sasaran pada basis data PPLS2011 dan basis data program pengentasan kemiskinan lainnya (seperti BSM, Jamkesmas dsb), serta mengusulkan tambahan rumah tangga sasaran baru jika masih ada warganya yang belum terdaftar di basis data tersebut. Hasil sementara pelaksanaan PBDT 2015 adalah seperti pada tabel di bawah ini:

Tabel 7.9. Jumlah Rumah Tangga Hasil Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT 2015) Kabupaten Cilacap ( Angka Sementara)

Kecamatan Jumlah RTS hasil PPLS 2011

Jumlah RTS hasil PBDT 2015

(1) (2) (3)

[010] DAYEUHLUHUR 7.698 8.166

[020] WANAREJA 11.839 13.531

[030] MAJENANG 17.637 19.737

[040] CIMANGGU 12.033 12.802

[050] KARANGPUCUNG 10.150 11.257

[060] CIPARI 8.201 8.692

[070] SIDAREJA 9.008 9.338

[080] KEDUNGREJA 9.764 11.143

[090] PATIMUAN 7.183 7.816

[100] GANDRUNGMANGU 14.276 14.563

[110] BANTARSARI 7.953 9.277

[120] KAWUNGANTEN 10.766 11.267

[121] KAMPUNG LAUT 2.367 2.581

[130] JERUKLEGI 9.158 11.184

[140] KESUGIHAN 13.754 15.215

[150] ADIPALA 8.982 10.994

[160] MAOS 4.929 5.605

[170] SAMPANG 5.476 5.918

[180] KROYA 14.697 16.706

[190] BINANGUN 9.467 10.463

[200] NUSAWUNGU 13.782 14.973

[710] CILACAP SELATAN 7.306 8.028

[720] CILACAP TENGAH 4.690 5.827

[730] CILACAP UTARA 5.495 5.580

JUMLAH 226.611 250.663

Sumber : PBDT 2015

Jumlah rumah tangga pada BDT (Basis Data Terpadu) 2015 hasil pemutakhiran tercatat 250.663, meningkat dari basis data PPLS 2011 yang tercatat 226.611 rumah tangga. Perlu dipahami bahwa peningkatan jumlah rumah tangga pada BDT 2015 bukanlah

85 berarti peningkatan rumah tangga miskin, tetapi BDT 2015 ini mencakup juga rumah tangga rumah tangga non miskin tetapi rentan miskin, sekitar 55-60 persen rumah tangga dengan kemampuan ekonomi terbawah dicakup oleh kegiatan PBDT ini.