DATA DAN ANALISIS
3.1 Data dan Analisis Objek
3.1.1 Data Objek Penelitian
Kampung Adat Pasir adalah sebuah kampung adat yang memiliki ciri khas pada kehidupan sosial, kepercayaan, kebudayaan, juga beberapa kesenian yang menjadikan kampung tersebut bertahan, dan tradisi yang masih bertahan turun-temurun hingga saat ini. Kampung Pasir berada di wilayah Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Perjalanan dari Garut Kota menuju Kampung Pasir kurang lebih 30 menit, dikarenakan jalan yang ditempuh cukup jauh dan berada di kaki gunung. Data objek yang sudah penulis peroleh yang berasal dari buku ataupun data didadapat dari tempat yang bersangkutan. Di Kampung Pasir terdapat kasenian yang bernama Angklung Buncis yaitu salah satu Kaulinan yang menjadi ciri khas disetiap acara yang digelar oleh masyarakat Kampung Pasir. Angklung Buncis mempunyai makna dan simbol tersendiri terlihat dari gerakan yang dimainkan, kostum yang mereka kenakan, dan properti dari alat musik yang mereka pakai.
Dari uraian diatas, penulis mendapat hasil observasi di Rumah Adat Kampung Pasir Garut yang terdapat beberapa objek
33 Gambar 3.1 Penyambutan Tamu Agung
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Masyarakat Kampung Pasir mempunyai Kesenian yaitu Angklung Buncis, yang artinya Budaya Urang Nurutken Cara-ciri Insan Sanusantara. Angklung Buncis ini mendampingi Sesepuh di Kampung Adat untuk menyambut Tamu Agung yang ditunggu-tunggu oleh mereka, sekaligus pemecahan kendi sebagai tanda pembukaan dalam acara tersebut telah dimulai secara resmi. Tamu yang dianggap agung oleh mereka melainkan tamu yang berasal dari Kepala Kebudayaan, Bupati atau Wakil Bupati, Gubernur, dan sebagainya. Sesepuh melakukan penyambutan didampingi oleh beberapa Pemain Angklung Buncis yang dimainkan oleh orang-orang dewasa perempuan atau laki-laki, tergantung ketentuan dari acara tersebut karena Kaulinan Angklung Buncis ini tidak dijadikan patokan atau syarat pada pemain.
34
Gambar 3.2 Alat dari Kaulinan Angklung Buncis Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Dalam melaksanakan Kaulinan Angklung Buncis perlu menggunakan alat musik yaitu Angklung dan Dog-dog. alat ini mempunyai arti tersendiri seperti Angklung yang terbuat dari Awi yang mempunyai arti Asal Wiwitan agar mmengingat asal mula jati diri manusia dari rupa, bahasa, adat, aksara, dan kebudayaan. Diambil dari Awi supaya berirama, dan ingat sedapur-dapuranana. Dalam Angklung juga mempunyai urutan nada yang bernama Daminatilada. Sedangkan dog-dog juga mempunyai urutan nada tersendiri seperti pemandu yang dinamakan Talingtit yang menandakan sebagai ajakan dan dimainkannya mengguakan alat pemukul, alat ke 2 yaitu Tong yang mengartikan tong salempang, tong hariwang, dan dimainkannya menggunakan pemukul, alat ke 3 dinamakan Brung mengartikan sebagai ajakan untuk bersama-sama, Sarigeg, Saigel, Sabobot Sapinahean. Alat ke 4 dinamakan Padubablag diartikan sebagai melaksanakan semua ajakan, dan harus ditekuni.
35 Gambar 3.3 Pemain Angklung Buncis Yang Memakai Warna Kostum
Berbeda
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Kostum yang digunakan oleh pemain Angklung Buncis ini memiliki makna tertentu, seperti baju kebaya dari warna yang akan mereka pakai pada saat pementasan itu ditentukan sesuai dengan tema dari acara atau hajatan tersebut. Berikut ada beberapa warna kostum yang mereka pakai, yaitu: Kebaya warna merah yang diartikan sebagai api, Kebaya warna hitam sebagai tanah, Kebaya warna putih sebagai air, dan Kebaya yang berwarna kuning diartikan sebagai angin. Warna baju tersebut mempunyai tujuan sebagai pengingat bahwa kita harus mensyukuri dan melewati rintangan yang ada dari 4 kalimat Pancer tersebut.
Gambar 3.4 Pemain Angklung Buncis Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
36 Pemain Angklung Buncis diatas terlihat sedang mengantarkan Tamu Agung setelah melakukan penyambutan sekaligus pembukaan acara tersebut. Pemain Angklung Buncis ini berjumlah 24 orang atau 2 set pemain, yakni 16 pemain Angklung dan 8 orang pemain Dog-dog. Iket kepala yang mereka pakai adalah pola iket yang bernama barangbang semplak, yang mempunyai arti satu ikatan, satu tujuan dalam kekompakan.
Gambar 3.5 Pemain Angklung Buncis Anak Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Pemain Angklung Buncis yang dimainkan anak kecil ini berjumlah 12 orang, mereka menggunakan warna kostum yang berbeda dengan pemain Angklung Buncis dewasa di acara penyambutan Tamu Agung. Mereka memainkan Angklung Buncis dari awal pementasan Kaulinan Murangkalih diselenggarakan hingga selesai, karena Angklung Buncis yang dimainkan pada acara inti setelah ia melakukan gerakan yang menirukan tarian anak kecil mereka juga akan melingkar dan berpindah posisi berhadapan sebagai penggiring Kaulinan Murangkalih lainnya.
37 Gambar 3.6 Lengser
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 201z
Lengser dalam Kaulinan Angklung Buncis ini sangat penting sebagai pengarah jalan yang mengajak beberapa pemain Kesenian lain dan ngahiyap (mengajak) penonton lainnya untuk mengumpul dan menyaksikan pentas dalam acara tersebut.
Lengser dalam Kaulinan Angklung Buncis mempunyai arti, yakni harus Lungsur Langsar dalam acara Angklung Buncis ini dan dijauhkan dari segala huru-hara yang menyebabkan adanya kendala tak terduga.
Gambar 3.7 Padepokan Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Padepokan ini adalah tempat yang paling penting di Kampung Pasir, disebut penting padepokan ini karena digunakan untuk peribadatan, digunakan melatih anak kecil belajar berbagai kasenian seperti: Menari, belajar Akssara Sunda, dan Ajaran
38 tambahan terhadap kepercayaan mereka. Selain itu padepokan ini juga digunakan sebagai tempat penyimpanan alat musik, dan tempatnya para ibu-ibu membatik untuk membuat kain samping, dan iket kepala.
Gambar 3.8 Latihan Tari
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Terlihat ibu-ibu sedang mengajarkan kesenian Tari tradisional yang termasuk salah satu kebudayaan mereka, anak kecil dilatih mulai dari umur 4 tahun hingga dewasa. Mereka berlatih di dalam padepokan dengan membuka alas (tikar) yang biasa dipakai untuk peribadatan.
39 Gambar 3.9 Kecapi
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Kecapi adalah alat musik yang digunakan masyarakat Kampung Pasir, untuk peribadatan, untuk mengiringi mereka ketika memulai peribadatan dan setelah selesai dan menjadikannya sebagai simbol instrumen untuk menambah penghayatan dalam kerohanian.
Gambar 3.10 Membatik
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2019
Di depan padepokan biasanya digunakan untuk para ibu-ibu membuat batik di sore hari, mereka membuat pola batik yang disesuaikan dengan kebutuhan barang yang akan mereka buat. Seperti pola pada iket kepala, dan pola pada kain samping.
40 3.1.2 Data dan Analisis Khalayak Sasaran
a. Informan 1
Nama : Endan (L)
Status : Selaku Perwakilan Pupuhu Waktu : Agustus, 2019
Pak Endan berusia sekitar 40-50 tahun, merupakan salah satu tokoh perwakilan pupuhu dari Kampung Pasir. Ia menjelaskan sebagai masyarakat kampung adat sunda wiwitan, memiliki banyak ragam kebudayaan, mulai dari kaulinan murangkali, pernikahan, kematian, dan kepercayaan yang mereka jaga.
Pak Endan menjelaskan bahwa hanya ada 90 kk di kampung Pasir di daerah Cintakarya, untuk kalangan anak laki-laki mereka tidak boleh disunat karena harus mensyukuri apa yang telah di berikan oleh yang maha kuasa. Masyarakat kampung Pasir mereka berlatih kaulian murangkalih di hari senin, kamis dan jumat pada sore hari, dan anak yang berlatih mulai dari umur 4 tahun hingga dewasa. Mereka juga diajarkan soal kepercayaan masyarakat kampung adat Pasir, budi pekerti dan aksara sunda.
Masyrakat sunda wiwitan melakukan peribadatan 2 hari dalam 1 hari, yaitu pada jam 5 pagi dan jam 6 sore, mereka melakukan peribadatan secara bersama-sama di bale atikan, untuk melakukan meditasi, olah sukma, dan olah rasa yang di iringi oleh suara petikan kecapi. Hal yang menguatkan masyarakat
41 kampung adat untuk menjaga kebudayaan lama dari leluhurnya melainkan mereka memperkuat silaturahmi, dan adat budi pekerti antar manusia juga alam.
b. Informan 2
Nama : Elis (P)
Status : Sebagai pemain Angklung Buncis Waktu : September 2019
Elis seorang ibu-ibu yang mempunyai anak satu, ia adalah anak dari salah satu pupuhu disana. Elis memakai baju kebaya putih dan kain samping, dengan rambut di gelung seperti layaknya orang jawa pada jaman dahulu. Elis sibuk menguruskan acara 1 Muharram dengan meyambut dan mengantarkan tamu, Elis juga menjelaskan bahwa puncak hari besar mereka itu di tanggal 7-9 september dan banyak sekali acara kasundaan yang di tampilkan mulai dari ritual hingga kaulinan murangkalih, semua daerah masyarakat kampung adat yang ada di garut mereka ikut merayakan acara Milangkala 1 Sulah yang di pusatkan di kampung pasir. Cara berpakaian mereka laki-laki mengenakan baju Pangsi dan memakai iket di kepala nya, bagi mereka perempuan memakai samping, baju kebaya berwarna putih, dan rambut di gelung
42 Pak Entis adalah salah satu pupuhu di masyarakat kampung adat Pasir, ia termasuk orang yang mengatur kebudayaan. Pak Entis mengatakan bahwa sebagian masyarakat Sunda Wiwitan berprofesi sebagai petani makanan, dan pengrajin. Semua ibu-ibu membatik setiap harinya di bale atikan untuk membuat iket, dan selendang. Kebudayaan yang paling menonjol dan dijadikan ciri khas kuat bagi masyarakat kampung adat Pasir yaitu Angklung Buncis, karena permainan tersebut hanya ada di kebudayaan mereka, dan berfungsi sebagai penyambutan acara, menarik perhatian penonton lebih banyak, juga bermanfaat sebagai nilai tambah membangun mood penonton.
Buncis diartikan sebagai kebudayaan ciri khas sunda, Buncis juga mempunyai 12 pemain, diantaranya ada pemain angklung, dan dog-dog. Pada acara Milangkala Sulah Buncis dari 4 penjuru (Madhab) daerah dan bekolaborasi bermain secara bersama-sama. Pak entis menjelaskan cara bermain Buncis itu menceritakan perilaku anak kecil pada zaman dahulu, pemain Buncis juga tidak mempunyai syarat pemain harus perempuan atau laki-laki, tidak harus anak kecil atau orag dewasa. Gerakan Kaulinan Buncis melingkar menandakan bahwa setiap manusia harus gotong royong dan saling mennghargai perbedaan manusia. Peribadatan mereka yang dilakukan 2 kali dalam sehari, mereka melakukan olah sukma dan olah rasa secara bersama-sama. Pemain angfklung Buncis juga dimainkan pada acara Seren Taun atau disebut juga 1 Syura, 17 Agustusan dan acara-acara perngatan negara lainnya.
Pak Entis mengatakan bahwa ada hari tertentu untuk melatih anak kecil yaitu pada hari kamis dan hari sabtu, namun tidak tentu untuk anak kecil atau dewasa, kalaupun berlatih anak kecil mereka mengajarkan layaknya permainan kampung
43 hampir semua masyarakat Kampung Pasir yang termasuk Sunda Wiwitan itu semua ikut berlatih yang jumlahnya 90 kk.
Tidak hanya berlatih Kaulinan saja di masyarakat mereka pun melakukan peribadatan yang dilakukan sehari 2 kali, yaitu pada dini hari dan sore hari menjelasng malam. Cara peribadatan mereka terlebih seperti evaluasi diri ujarnya, dan mereka melakukan peribadatan secara bersama-sama di Bale.
Masyarakat mereka juga melakukan puasa namun bedanya pada 10 hari pertama pada saat sahur dan buka puasa mereka memakan Beubetian, 10 hari kedua memakan buah-buahan, dan 10 harinya lagi memakan campur asalkan hasil pertanian mereka. Menurut Pak Entis masyarakat luar menyebutkan masyarakat mereka sebagai Kampung Adat karena mereka masih menerapkan Adat leluhur, sebagian masyarakat Kampung Adat juga berprofesi sebagai Buruh Tani juga Kuli Bangunan. Masyarakat mereka tidak mempunyai aturan adanya tambahan warga baru atau pendatang, di masyarakat mereka juga sangat jarang untuk membeli keluar seperti memberi pangsi atau iket, karena mereka masi bisa membuatnya sendiri secara bersama-sama. Di masyarakat mereka dilarang untuk disunat bagi kaum lelaki, namun jika adanya penyakit atau mengalami kecelakaan maka diperbolehkan. Dan sebaiknya tetap dijaga agar tidak sengaja disunat., namun untuk perbedaan antara masyarakat khusus mereka dan masyarakat islam agak sulit membedakan, karena dari segi pakaian dan bahasa mereka sama saja. Ternyata di
44 Waktu : Agustus 2019
Dian adalah seorang remaja perempuan di masyarakat kamung adat, ia selalu membatik pada sore hari di setiap harinya, jumlah orang pembuat batik ada 5 orang dan dia salah satu wanita termuda, kain yang di batik oleh mereka berbeda motif nya karena hasil kain batik itu akan di jadikan iket, selendang dan lain-lain. masyarakat sunda wiwitan kebanyakan mereka membuat apa yag mereka makan dan mereka pakai itu membuat nya sendiri, hingga mengukir pintu dan meja. Dian juga mengajak peneliti masuk ke bale atikan uutk memperlihatkansatu set barang apa saja yang digunakan mereka ketika bermain Buncis, alat-alat degung, hingga kecapi yang digunakan pada saat mereka peribadatan.
e. Informan 5 Nama : Lili
Status : Ketua Bidang Kesenian di Kampung Pasir Waktu : 28 Oktober 2019
Pak lili sebagai penanggung jawab di Bidang Kesenian di Masyarakat Kampung Pasir, ia mengatakan bahwa begitu banyak kebudayaan di Kampung Pasir, namun dia lebih fokus kepada Kesenian Ukir, seperti membuat Kecapi, patung dan ukiran lainnya.
f. Informan 6 Nama : Siska
Status : Masyarakat Kampung Sebelah Waktu : Agustus 2019
Masyrakat kampung sebelah, contohnya Ibu Siska ini berpendapat bahwa adat dan ruang lingkup masyarakat Kampung Pasir sangat aneh, dan jarang berbaur dengan
45 masyarakat sekitar. Meskipun mereka tidak mengganggu peradaban lain, namun mereka tetap menganggap sebelah mata. Masyarakat kampung sebelah tidak mengetahui mereka mempunyai kebudayaan yang sangat banyak, dan mereka hanya mengetahui dari cara pemakaman masyrakat Kampung Pasir. Masyarakat luar menganggap bahwa masyarakat Kampung Pasir itu lebih ke adat kristen dan tidak sejalan.
3.1.3 Permainan Anak (Kaulinan Murangkalih)
Permainan murangkalih di Garut khususnya di daerah Kampung Pasir, Desa Cintarayat digunakan dalam acara hari raya besar mereka pada tanggal 1 Muharram dan pada tanggal 17 Agustus sebagai perayaan kemerdekaan Berikut adalah beberapa kebudayaan permainan anak yang ada di masyarakat Sunda Wiwitan:
1. Seni Tari
Kebudayaan yang termasuk permainan, memiliki gerakan gemulai, di hiasi selendang, berbentuk tari- tarian.
2. Batik
Kebudayaan yang dilakukan dengan mengukir membuta motif batik, memakai tinta, canting, dan kain.
3. Ukir
Kebudayaan yang dilakukan dengan mengukir atau memahat kayu menjadi sebuah bentuk hiasan. Contoh mengukir pintu, meja, kursi dan lain-lain.
4. Degung
Kebudayan yang dimainkan oleh beberapa alat jaman dahulu beserta gong.
5. Buncis
46 Kebudayaan yang dimainkan oleh beberapa pemain dan diiringi beberapa alat musik Angklung dan Dog-dog secara bersamaan.