BAB III METODE PENELITIAN
H. Validasi Desain
3. Data Validasi Pakar Pembelajaran PKn dan Revisi Produk
Pakar pembelajaran PKn yang menjadi validator dalam produk
penelitian ini adalah Yohanes Sanaha Purba, M. Hum. Validasi dilakukan
pada bulan Maret 2014. Validasi pakar pembelajaran PKn dilakukan untuk
meningkatkan kualitas desain produk modul yang meliputi (1) aspek tujuan
dan pendekatan, (2) aspek desain dan pengorganisasian, (3) aspek isi, (4)
Validasi pembelajaran PKn diperoleh penilaian kualitas desain produk
dengan nilai rata-rata 5. Komentar yang dituliskan oleh pakar bersifat
masukan tanpa revisi. Berikut tabel penjabaran komentar dan saran pakar
pembelajaran PKn.
Tabel 6. Komentar pakar pembelajaran PKn
No. Komentar Pakar
Tujuan dan pendekatan
1 Variasi bentuk teks, teknik penyajian, aktivitas pembelajaran dan evaluasinya telah tersusun sedemikian sistematis menyediakan ruang bagi pluralitas pengalaman belajar peserta didik. Sejauh yang saya amati, bilamana setiap aktivitas pembelajaran dijalankan dengan optimal (tentu juga dengan membuka ruang spontanitas di luar yang direncanakan), tujuan pembelajaran akan dapat tercapai dengan baik (minimal tercapainya indikator yang telah suster susun dengan prinsip 3C). Saya melihat modul ini sudah sangat lengkap dan sistematik.
2 Modul suster bergerak dalam cakupan pengembangan wawasan kebangsaan yang di dalamnya tidak saja mengenal atau berbangga pada pluralitas yang ada di Indonesia namun juga mampu menerima berbagai perbedaan sebagai konsekuensi pluralitas. Secara mikro, “kerjasama belajar” yang hendak suster bangun sebaiknya tidak perlu menghindari dari kata “ribut.” Bagi saya keributan adalah keindahan dalam pluralitas, justru yang dihindari adalah ketidakrukunannya atau kegaduhannya. Mungkin terma “tanpa membuat keributan” dapat dikaji kembali.
3 Pola penyajian teks dalam modul menggunakan bahasa yang sederhana dan panduan kegiatan yang tidak berliku sehingga anak-anak rasanya tidak akan kesulitan memahami kekhasan setiap daerah yang suster ingin sajikan.
4 Selain pada variasi bentuk teks literer yang suster sajikan, saya tertarik pada teknik „kerjasama‟ belajar yang digunakan suster untuk menajamkan kecerdasan linguistic, khususnya dalam aktivitas „wawancara.‟ Kecerdasan verbal, kemampuan memahami teks dan mengekspresikan dalam berbagai pemikiran akan tercapai dalam kombinasi kegiatan membaca, mengidentifikasi dan wawancara antar siswa yang suster bangun. Maka sekali lagi mohon dikaji kembali mengenai terma „keributan‟ yang suster gunakan sebagai gambaran negatif yang ingin dihindari. Bagi saya keributan adalah penanda (signifier) dari kreativitas verbal siswa (signified).
5 Modul yang suster buat sudah cukup ideal untuk mulai diujicobakan sebagai salah satu sumber belajar, meski tetap dibutuhkan sumber lain sebagai pembanding sekaligus pelengkap.
Desain dan pengorganisasian
1 Komponen dalam modul telah lengkap tersusun dan terelaborasi dalam berbagai teks dan kegiatan pembelajaran.
2 Kegiatan yang suster susun dalam modul telah memasuki proses linguistic yang sistematik, dimulai dengan keterampilan pasif yaitu mendengarkan, membaca dan dilanjutkan dengan penggunaan bahasa secara aktif yaitu menulis dan berbicara. 3 Ruang lingkup pembelajaran bahasa (mendengar, berbicara, membaca dan menulis)
telah melandasi cara suster menyajikan materi dan membangun berbagai kegiatan belajar PKn yang direncanakan. Bagi saya disinilah titik integratif yang menarik. 4 Modul ini telah cukup memberi kesempatan siswa membangun pengetahuan dari
makna-makna yang dibangunnya sendiri dalam proses pembelajaran. Sebagai catatan, guru yang modul ini harus seirit mungkin bernapsu mengatur atau memandu siswa secara kaku dan hanya plan-oriented. Modul ini sudah dapat berfungsi dengan sendirinya.
5 Modul ini menggunakan bahasa yang sederhana dan hal itu tampak dalam gaya penyusunan kalimat yang tidak majemuk. Sebagian besar disusun dengan kalimat tunggal sehingga anak cukup mudah menangkap maksud dari kalimat tersebut, utamanya karena modul ini menyasar pada penajaman kecerdasan linguistik pada wilayah pemahaman teks (comprehension).
6 Saya tertarik dengan cara suster mengkombinasikan gambar dan teks. Bagi saya, pemaknaan akhir dari gambar yang digunakan dapat ditekstualisasikan dan suster sudah melakukannya. Itu artinya, suster tidak saja menajamkan kecerdasan linguistik namun juga kecerdasan visual.
7 Bahasa tulis yang digunakan, sejauh yang saya amati telah baik dan benar. Hanya ada beberapa preposisi yang disambung dengan kata yang menunjuk tempat. Kata-kata itu sudah saya tandai.
Isi modul
1 Kecerdasan bukan sesuatu yang pasif dan bukan pula merupakan esensi karakteristik siswa yang begitu saja menentukan caranya belajar. Menurut Gardner kecerdasan itu telah ada sebagai ciri khas namun mungkin pula tidak tampak karena tertutup oleh kecerdasan yang lain. Sehingga pertanyaannya bukan apakah modul ini sesuai dengan kecerdasan linguistik yang dimiliki siswa, namun pertanyaannya adalah apakah kegiatan modul ini dimungkinkan untuk mengembangkan kecerdasan linguistik siswa. Pertanyaan kedua telah memuat pertanyaan pertama. Jawaban saya, modul ini telah membuka ruang bagi perkembangan kecerdasan linguistik siswa. 2 Bagi saya, lebih dari sekedar memfasilitasi, modul ini dapat diberdayakan sebagai
bagian dari kemampuan siswa membangun maknanya sendiri secara hermeneutik. Itu artinya paradigma berjalannya modul ini sebaiknya bukan sekedar menghargai kecerdasan linguistik siswa namun dapat pula menjadi bagian yang menajamkan kemampuan linguistiknya. Dalam bahasa Jawa, modul sebaik ini sangat „eman‟ kalau sekedar untuk melayani kecerdasan yang mungkin siswa sendiri belum sungguh memiliki ruang beraktualisasi secara linguistik.
3 Modul ini, sepanjang tidak digunakan secara kaku, mampu memberi ruang bagi kecerdasan linguistik siswa untuk teraktualisasikan. Dengan catatan, suster tidak perlu menjalankan modul ini terlalu strict. Spontanitas dan subyektivitas menjadi prasyarat kondisional berkembangnya kecerdasan.
4 Titik pentingnya bukan sekedar pada aktivitas membaca namun suster dapat memberi penekanan lebih pada proses belajar kooperatif yang siswa lakukan. Mungkin waktu lebih dapat diberikan dalam proses „wawancara‟ antar siswa yang sudah suster susun.
5 Kegiatan dalam modul ini telah memediasi materi untuk diolah siswa dengan alur kecerdasan linguistiknya.
6 Suster dimungkinkan pula untuk mengevaluasi perkembangan kecerdasan linguistik dalam instrumen tes uraian yang ada di modul ini.
Topik
1 Pengalaman siswa belajar di dalam kelas akan lebih menyenangkan bilamana suster memberikan penekanan pada refleksi atas pengalaman keseharian mereka berjumpa dengan pluralitas di rumah, kampung halaman, lingkungan bermain, warung, jalan raya hingga dunia hiburan yang mereka amati dari televisi. Bilamana gagasan di atas diakomodasi, suster tidak saja membangun wawasan kebangsaan secara konvensional namun juga telah membangun modul yang aktual dengan jaman dan kontekstual dengan persoalan sosial di masyarakat. Suster sudah membangunnya di kegiatan 3 pertemuan kedua, tinggal dikembangkan dengan lebih refleksif (tak perlu mengubah apapun).
2 Saya belum dapat memutuskan secara pasti karena perkembangan siswa bersifat kasuistik dan subyektif. Mungkin sebelumnya suster sudah melakukan pre-research untuk mengidentifikasinya. Bilamana saya menggunakan standar perkembangan kognitif siswa dalam arti universal (meskipun tidak mungkin), dimana kelas 3 SD atau anak usia 9/10 tahun sudah mulai memasuki tahap operasional konkrit, modul ini cukup ideal menyediakan ruang bagi karakter kognitif siswa untuk mengurutkan, mengelompokkan, mendesentralisasi tema, memodifikasi susunan laten,
mengkonservasi faktualitas, dan mengurangi potensi egosentrisme. Metodologi
1 Melalui kegiatan yang memusatkan siswa bergaul dengan teks tertulis dan visual secara mandiri dan berkelompok, siswa telah diberi kesempatan membangun pemaknaannya sendiri. Sebagai catatan penting, suster harus meminimalisir peran sensor guru dalam setiap aktivitas. Semakin guru mengatur dan mengendalikan suasana, modul ini akan sia-sia.
2 Modul ini dibangun pada kegiatan mandiri siswa.
3 Modul ini membuka ruang untuk gaya belajar auditory, visual dan verbal. Untuk gaya belajar kinaesthetic mungkin dapat lebih dikembangkan meskipun tidak lalu harus mengubah modul ini. Aktivitas seperti merangkai kata dan gambar dengan permainan yang berolah fisik dapat dibangun bilamana suster masih ada waktu.
Berdasarkan komentar yang diberikan pakar pembelajaran PKn,
peneliti tidak melakukan revisi pada modul kecuali ejaan-ejaan yang
menjadi koreksi dan coretan oleh pakar diperbaiki. Kesimpulan yang
diperoleh dari validasi yang dilakukan oleh pakar pembelajaran PKn
dinyatakan layak untuk digunakan atau uji coba lapangan tanpa revisi.