BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Daun Sawo
Sawo yang disebut neesbery atau sapodilas adalah tanaman buah yang berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Meksiko dan Hindia Barat. Di Indonesia, tanaman sawo telah lama dikenal dan banyak ditanam mulai dari dataran rendah sampai tempat dengan ketinggian 1200 mdpl, seperti di Jawa dan Madura. Sawo manila termasuk sawo budidaya. Daun sawo manila mengandung flavonoida dan tanin. Beberapa bagian pohon sawo juga digunakan sebagai bahan obat tradisional untuk mengatasi diare (tanin), demam, dan bunga dari tanaman sawo dapat dijadikan sebagai bahan bedak untuk memulihkan tubuh setelah bersalin. Daun tunggal, terletak berseling, sering mengumpul pada ujung ranting. Helai daun bertepi rata, sedikit berbulu, hijau tua mengkilap, bentuk bulat telur jorong sampai sedikit lanset, 1,5-7 x 3,5-15 cm, pangkal dan ujungnya bentuk baji, bertangkai 1-3,5 cm, tulang daun utama menonjol di sisi sebelah bawah
(Gambar 2.4) (Setyo, 2015).
Taksonomi tanaman sawo menurut ITIS (2015) addalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Subkingdom : Viridiplantae Infrakingdom : Streptophyta Superdivision : Embryophyta Division : Tracheophyta Subdivision : Spermatophytina Class : Magnoliopsida Superorder : Asteranae
Order : Ericales
Family : Sapotaceae
Genus : Manilkara
Species : Manilkara zapota L.
Keterangan :(A) Buah,(B) Daun, (C) Cabang/Ranting
2.3.1 Flavonoid
Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari 15 atom karbon yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan. Lebih dari 2000 flavonoid yang berasal dari tumbuhan telah diidentifikasi, namun ada tiga kelompok yang umum dipelajari, yaitu antosianin, flavonol, dan flavon. Antosianin (dari bahasa Yunani anthos, bunga dan kyanos, biru-tua) adalah pigmen berwarna yang umumnya terdapat di bunga berwarna merah, ungu, dan biru. Pigmen ini juga terdapat di berbagai bagian tumbuhan lain misalnya, buah tertentu, batang, daun dan bahkan
akar. Flavnoid sering terdapat di sel epidermis. Sebagian besar flavonoid A
B C
Gambar 2.4Tanaman Sawo Manila ( Manilkara zapota L. Van Royen) (Nurhalisah, 2013).
terhimpun di vakuola sel tumbuhan walaupun tempat sintesisnya ada di luar vakuola (Robinson, 2005).
Mekanisme kerja flavonoid sebagai antimikroba dapat dibagi menjadi tiga, yaitu menghambat sintesis asam nukleat, menghambat fungsi membran sel dan menghambat metabolisme energi. Mekanisme antibakteri flavonoid menghambat sintesis asam nukleat adalah cincin A dan B yang memegang peran penting dalam proses interkelasi atau ikatan hydrogen dengan menumpuk basa asam nukleat
yang menghambat pembentukanDNA dan RNA. Letak gugus hidroksil di posisi 2’,4’ atau 2’,6’ dihidroksilasi pada cincin B dan 5,7 dihidroksilasi pada cincin A berperan pentingterhadap aktivitas antibakteri flavonoid. Flavonoid menyebabkan terjadinya kerusakan permeabilitas dinding sel bakteri, mikrosom dan lisosomsebagai hasil interaksi antara flavonoid dengan DNA bakteri.Mekanisme kerja flavonoid menghambat fungsi membran sel adalah membentuk senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan terlarut sehingga dapat merusak membran sel bakteri dan diikuti dengan keluarnya senyawa intraseluler. Penelitian lain menyatakan mekanisme flavonoid menghambat fungsi membran sel dengan cara mengganggu permeabilitas membran sel dan menghambat ikatan enzim seperti ATPase dan phospholipase. Flavonoid dapat menghambat metabolisme energi dengan cara menghambat penggunaan oksigen oleh bakteri. Flavonoid menghambat pada sitokrom C reduktase sehingga pembentukan metabolisme terhambat. Energi dibutuhkan bakteri untuk biosintesis makromolekul (Geishman, 2002).
Leinmuler
Leinmuler et al.,et al., (1991) dalam Savitri (2014) menyebutkan bahwa tanin(1991) dalam Savitri (2014) menyebutkan bahwa tanin ditemukan dalam hampir semua genus tanaman dikotil misalnya leguminosa. ditemukan dalam hampir semua genus tanaman dikotil misalnya leguminosa. Penyebaran tanin dalam tanaman beragam. Perbedaan kadar tanin dipengaruhi Penyebaran tanin dalam tanaman beragam. Perbedaan kadar tanin dipengaruhi oleh tingkat kematangan, umur daun dan musim. Tanin terdapat dalam berbagai oleh tingkat kematangan, umur daun dan musim. Tanin terdapat dalam berbagai tanaman baik digunakan sebagai bahan makanan oleh manusia ataupun hewan. tanaman baik digunakan sebagai bahan makanan oleh manusia ataupun hewan.
Tanin tidak selalu berwarna kuning atau coklat. Savitri (2014) Tanin tidak selalu berwarna kuning atau coklat. Savitri (2014) menyebutkan bahwa oksidasi tanin akan menghasilkan senyawa berwarna coklat menyebutkan bahwa oksidasi tanin akan menghasilkan senyawa berwarna coklat yang tidak mampu mengendapkan protein. Fenol sangat peka terhadap oksidasi yang tidak mampu mengendapkan protein. Fenol sangat peka terhadap oksidasi enzim dan mungkin hilang pada proses isolasi akibat kerja enzim fenolase yang enzim dan mungkin hilang pada proses isolasi akibat kerja enzim fenolase yang terdapat pada tumbuhan.
terdapat pada tumbuhan.
Secara kimia tanin tumbuhan dibagi menjadi dua golongan, yaitu tanin Secara kimia tanin tumbuhan dibagi menjadi dua golongan, yaitu tanin terhidrolisis dan tanin terkondensasi.Tanin terhidrolisis mengandung ikatan ester terhidrolisis dan tanin terkondensasi.Tanin terhidrolisis mengandung ikatan ester yang dapat terhidrolisis jika dididihkan dalam asam klorida encer. Tanin yang dapat terhidrolisis jika dididihkan dalam asam klorida encer. Tanin terkondensasi merupakan senyawa tidak berwarna yang terdapat pada seluruh terkondensasi merupakan senyawa tidak berwarna yang terdapat pada seluruh dunia tumbuhan tetapi terutama pada tumbuhan berkayu. Tanin terkondensasi dunia tumbuhan tetapi terutama pada tumbuhan berkayu. Tanin terkondensasi telah banyak ditemukan dalam tumbuhan
paku-telah banyak ditemukan dalam tumbuhan paku- pakuan (Sa’adah, 2010 pakuan (Sa’adah, 2010).).
Tanin termasuk dalam senyawa aktif metabolit sekunder yang diketahui Tanin termasuk dalam senyawa aktif metabolit sekunder yang diketahui mempunyai beberapa khasiat yaitu sebagai astringen, anti diare, anti bakteri dan mempunyai beberapa khasiat yaitu sebagai astringen, anti diare, anti bakteri dan antioksidan. Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan satu elektronnya antioksidan. Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan tersebut dapat dihambat. Tanin akan berperan dalam menstabilkan radikal bebas tersebut dapat dihambat. Tanin akan berperan dalam menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas dan dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas dan
menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas (
menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas (Sa’adahSa’adah,, 2010).
2010).