V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Daya Dukung Habitat
Nilai daya dukung habitat merupakan perbandingan antara produktivitas hijauan dengan tingkat konsumsi, sehingga daya dukung dihitung dengan menggunakan persamaan:
Keterangan:
K = daya dukung habitat (individu/ha) P = ketersediaan hijauan pakan (kg/ha)
C = rata-rata komsumsi pakan setiap individu(kg/individu)
Berdasarkan pendekatan tiga sistem penangkaran rusa, yaitu sistem ekstensif, semi intensif dan intensif, maka daya dukung diduga berdasarkan ketersediaan pakan pada ketiga sistem penangkaran tersebut. Perbedaan ketersediaan pakan pada ketiga sistem tersebut terletak pada cara memperoleh tumbuhan pakan yaitu: tumbuhan pakan yang dapat langsung dikonsumsi dari alam (terletak di dalam areal penangkaran), dan tumbuhan pakan yang disediakan oleh manusia melalui pemotongan/cut and carry (terletak di luar areal penangkaran). Untuk sistem intensif, pakan berasal dari luar areal penangkaran.
Untuk sistem semi intensif, pakan berasal dari dalam dan luar areal penangkaran, sedangkan untuk sistem ekstensif pakan hanya berasal dari dalam areal penangkaran saja. Dengan demikian daya dukung untuk ketiga sistem penangkaran dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
Keterangan:
K1 = daya dukung habitat pada sistem penangkaran ekstensif (individu) K2 = daya dukung habitat pada sistem penangkaran semi intensif (individu) K3 = daya dukung habitat pada sistem penangkaran intensif (individu) PA = ketersediaan hijauan pakan yang terdapat di dalam areal penangkaran
(kg/th)
PB = ketersediaan hijauan pakan yang terdapat di luar areal penangkaran (kg/th)
C = rata-rata konsumsi pakan setiap individu (kg/th) 4.5.5 Kuota Panenan
Kuota panenan ditetapkan berdasarkan perhitungan nilai Break Event Point (BEP) yaitu jumlah panenan minimal yang masih layak pada suatu penangkaran rusa. Pendekatan BEP menggambarkan jumlah produksi minimal yang masih memungkinkan kegiatan penangkaran dapat terus diselenggarakan. Penentuan kuota panenan mempertimbangkan beberapa hal, yaitu:
a) Sistem penangkaran yang digunakan, meliputi: sistem ekstensif, sistem semi intensif, dan sistem intensif,
b) Jenis produk yang dihasilkan adalah satu jenis produk (single product) yaitu bibit rusa.
Dasar yang digunakan dalam penghitungan BEP adalah nilai biaya tetap dan biaya variabel yang ditetapkan berdasarkan biaya investasi masing-masing penangkaran. Selanjutnya, kuota panenan rusa timor yang dinyatakan sebagai Qt, dihitung dengan menggunakan persamaan (Homeet al. 1995):
Keterangan:
Qt = BEP/kuota panenan (individu/th) F = total biaya tetap (Rp./th)
P = harga jual per unit produk (Rp./individu)
4.5.6 Ukuran Populasi Pada Saat Pemanenan
Kuota panenan (Qt) yang telah ditetapkan merupakan jumlah rusa yang dapat dipanen setiap tahun sehingga populasi tetap lestari dan kegiatan penangkaran dapat terus terselenggara. Kuota panenan dapat tercapai apabila ukuran populasi pada saat pemanenan mencukupi. Apabila Qt dinyatakan sebagai panenan lestari (SY), maka ukuran populasi yang harus tersedia pada saat pemanenan (Nt) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
Keterangan:
Nt = ukuran populasi pada saat pemanenan (individu) Qt = kuota panenan (individu/th)
h = laju pemanenan
r = laju pertumbuhan eksponensial
4.5.7 Ukuran Populasi Awal
Untuk mencapai kuota panenan dan ukuran populasi pada saat pemanenan, maka dilakukan perhitungan besarnya ukuran populasi awal yang harus tersedia pada saat kegiatan penangkaran dimulai. Ukuran populasi awal (N0) ditentukan berdasarkan model pertumbuhan populasi terpaut kerapatan atau disebut juga model logistik (Caughley 1977). Persamaan dasar model logistik adalah:
Berdasarkan persamaan tersebut, maka ukuran populasi awal (N0) dapat ditentukan menurut persamaan:
Keterangan:
Nt = ukuran populasi pada waktu pemanenan (individu) N0 = ukuran populasi awal (individu)
K = daya dukung habitat (individu/th) r = laju pertumbuhan
t = waktu pemanenan (th)
Ukuran populasi awal dihitung berdasarkan peubah parameter demografi terutama laju pertumbuhan populasi dengan mempertimbangkan komposisi kelamin. Nilai laju pertumbuhan diperoleh dengan merata-ratakan atau menganalogikan dengan nilai natalitas dan mortalitas yang diperoleh dari penangkaran lain di Jawa Barat yang memiliki kondisi hampir sama dengan lokasi penelitian. Ukuran populasi awal juga ditentukan berdasarkan waktu pemanenan.
Untuk mengetahui pengaruh parameter pengamatan terhadap ukuran populasi awal, dilakukan analisis untuk mengetahui sensitivitas secara ekologi dan ekonomi. Sensitivitas secara ekologi bertujuan untuk melihat pengaruh parameter laju pertumbuhan terhadap kuota panenan dan ukuran populasi awal, sedangkan sensitivitas secara ekonomi bertujuan untuk melihat pengaruh parameter biaya operasional terhadap ukuran populasi awal. Pada penelitian ini digunakan kenaikan dan penurunan nilai sebesar 5% dari nilai awal masing-masing parameter.
4.5.8 Pendugaan Kebutuhan Areal Penangkaran
Pendugaan kebutuhan luas areal penangkaran rusa timor pada tiga sistem penangkaran dilakukan dengan menggunakan persamaan matematis yang dimodifikasi dari Priyono (2007). Pendekatan yang digunakan untuk sistem ekstensif dan intensif adalah kebutuhan areal penangkaran berdasarkan ketersediaan pakan, sedangkan untuk sistem intensif digunakan pendekatan kebutuhan areal penangkaran berdasarkan kebutuhan terhadap ruang.
Keterangan:
Ax = kebutuhan areal penangkaran sistem ekstensif (ha) Ay = kebutuhan areal penangkaran sistem semi intensif (ha) Az = kebutuhan areal penangkaran sistem intensif (ha) N = populasi rusa (individu)
C = kebutuhan konsumsi setiap individu (kg/individu/th)
PA = produktivitas hijauan pakan di dalam areal penagkaran (kg/ha/th) PB = produktivitas hijauan pakan di luar areal penangkaran (kg/ha/th) R = kebutuhan ruang setiap individu (m2/individu)
fc = faktor koreksi bagi konsumsi setiap individu rusa (25%)
fr = faktor pengaman kebutuhan ruang setiap individu (2 kali kebutuhan ruang setiap individu)
4.5.9 Analisis Pemilihan Sistem Penangkaran
Sistem penangkaran yang sesuai untuk penangkaran Hutan Penelitian Dramaga ditentukan berdasarkan kuota panenan yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan ukuran populasi yang harus tersedia pada saat pemanenan. Selain itu pemilihan juga mempertimbangkan produktivitas pakan, ketersediaan areal penaangkaran, dan sensitivitas secara ekologi dan ekonomi. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, ditetapkan sistem penangkaran yang sesuai untuk penangkaran Hutan Penelitian Dramaga.
4.5.10 Analisis populasi pada sistem penangkaran terpilih
Pada sistem penangkaran terpilih dilakukan penyusunan spesifikasi rusa yang mencakup ukuran populasi berdasarkan kelas umur, dan nisbah kelamin. Perkembangan populasi awal selanjutnya dianalisis dengan menggunakan tabel yang menggambarkan perkembangan populasi pada tahun berikutnya. Dalam perhitungan ini digunakan data parameter demografi dan reproduksi seperti peluang hidup, kematian, persentase kebuntingan, persentase keberhasilan melahirkan, dan nisbah kelamin anak yang dilahirkan. Data tersebut diperoleh dari jurnal dan hasil penelitian yang relevan.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Jumlah dan Jenis Tumbuhan Sumber PakanHutan Penelitian Dramaga selain merupakan sarana koleksi jenis tumbuhan, juga merupakan habitat bagi rusa timor yang terdapat di penangkaran Pusat Penelitian Teknologi Penangkaran Rusa. Salah satu fungsi habitat adalah sebagai sumber pakan bagi rusa yang terdapat di dalamnya. Selain berupa tegakan pohon, pada Hutan Penelitian Dramaga juga terdapat vegetasi tumbuhan bawah yang berpotensi sebagai tumbuhan sumber pakan rusa timor. Tumbuhan bawah tersebut tersebar di beberapa lokasi dengan kondisi yang berbeda-beda sebagaimana disajikan pada Gambar 5.
Gambar 5 Kondisi beberapa lokasi tumbuhan bawah; (a) di bawah tegakan di dalam areal penangkaran, (b) di luar areal penangkaran, (c) pada padang rumput, (d) pada areal kebun murbei.
Tumbuhan bawah di Hutan Penelitian Dramaga sebagian terdapat di dalam areal penangkaran, dan sebagian lainnya terletak di luar areal penangkaran. Pada beberapa lokasi, tumbuhan bawah terdapat di bawah tegakan pohon, dalam kondisi ternaungi, dan sangat kurang penetrasi cahaya matahari. Namun demikian terdapat juga areal yang tidak ternaungi berupa celah (gap), sehingga penetrasi cahaya matahari dapat mencapai lantai hutan. Selain itu, vegetasi tumbuhan bawah juga terdapat pada areal terbuka yang tersinari cahaya matahari sepanjang hari yaitu padang rumput, areal kebun murbei, dan areal penyangga. Kondisi lokasi dan vegetasi tumbuhan bawah pada setiap lokasi disajikan pada Tabel 1.
a b
Tabel 1 Kondisi lokasi, vegetasi tumbuhan bawah dan hijauan pakan di Hutan Penelitian Dramaga Kondisi Lokasi Karakteristik Rata cahaya harian (lux) Jumlah jenis tumbuhan bawah Jumlah jenis hijauan pakan Di dalam areal penangkaran:
I Terletak di dalam areal penangkaran di bawah tegakan pohon, telah dilakukan pemangkasan
4.638 11 7
II Terletak di dalam areal penangkaran, terdapat celah (gap) diantara tegakan pohon
2.567 10 5
III Terletak di dalam areal penangkaran di bawah tegakan pohon, ternaungi
5.718 6 3
IX Terletak di dalam penangkaran pada lahan terbuka berupa padang rumput
43.742 15 11
Di luar areal penangkaran:
IV Terletak di luar penangkaran di sekitar areal murbei
11.332 13 9
V Terletak di luar penangkaran pada areal kebun murbei
12.806 14 8
VI Terletak di luar penangkaran ternaungi
5.970 13 10
VII Terletak di luar penangkaran di areal penyangga, tidak ternaungi
15.116 13 9
VIII Terletak di luar penangkaran pada lahan terbuka, terdapat rumput
36.327 12 11
Sebagian besar lokasi di dalam areal penangkaran memiliki tingkat cahaya harian yang lebih rendah dibandingkan lokasi lain di luar areal penangkaran. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi lokasi yang terletak di bawah tegakan hutan sehingga mengurangi sinar matahari yang sampai ke lantai hutan. Satu-satunya lokasi yang memiliki tingkat cahaya tinggi di dalam areal penangkaran adalah lokasi IX (43.742 lux) yang merupakan areal terbuka dan tidak terdapat tegakan pohon. Tingkat cahaya harian pada masing-masing lokasi disajikan pada Lampiran 1.
Jumlah jenis tumbuhan bawah dan hijauan pakan yang ditemukan pada areal yang tidak ternaungi lebih banyak dibandingkan pada areal yang ternaungi. Jumlah jenis paling sedikit terdapat pada lokasi III yang terdapat di bawah tegakan pohon, yaitu 6 jenis tumbuhan bawah dan 3 jenis hijauan pakan. Jumlah jenis paling banyak terdapat pada plot VII dan IX yang merupakan areal terbuka, yaitu 15 jenis tumbuhan bawah dan 10 jenis hijauan pakan. Jumlah jenis hijauan sumber pakan pada masing-masing lokasi disajikan pada Gambar 6.
Gambar 6 Jumlah jenis hijauan sumber pakan berdasarkan lokasi
Rusa timor merupakan satwa herbivora yang memakan hijauan dan rumput (grazer) disamping juga memakan ranting dan dedaunan (concentrate selector ataubrowser). Oleh sebab itu, ketersediaan tumbuhan bawah di Hutan Penelitian Dramaga sangat penting artinya bagi penyediaan sumber pakan karena sebagian besar tumbuhan sumber pakan rusa timor tersedia pada tingkat vegetasi tumbuhan bawah. Pada sembilan lokasi di dalam dan di luar areal penangkaran pada Hutan Penelitian Dramaga ditemukan 38 jenis tumbuhan bawah yang termasuk dalam 20 famili, dan 23 jenis diantaranya merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai hijauan pakan rusa timor. Sebagian besar jenis tumbuhan bawah dan hijauan pakan yang mendominasi termasuk dalam famili Poaceae. Jenis dan dominasi jenis tumbuhan bawah yang ditemukan pada lokasi pengamatan disajikan secara lengkap pada Lampiran 2 dan 3. Jenis-jenis tumbuhan/hijauan sumber pakan yang temukan pada masing-masing lokasi disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Penyebaran jenis-jenis hijauan pakan pada setiap lokasi
Lokasi Jenis hijauan pakan
I II III IV V VI VII VIII IX Total Ageratum conyzoides L.
Kyllingia monocephala Rottb. Calliandra callothyrsus Benth. Melastoma polyanthum L. Clidemia hirta L. Mimosa pudica L. Oxalis corniculata L. Piper aduncum L. Polygala paniculata L. Lycopodium cernuum L. Panicum montanum L. Setaria barbata Lam. Konth. Axonopus compressus P.B. Heirochloe horsfieldii Kunth.Maxim.
Imperata cylindrica L. Beauv. Leersia hexandra Swartz. Isachne globosa Thunb. Carex baccans Noes. Phyllanthus niruri L. Centela asiatica L. (Urb.) Mikania micrantha H.B.K. Commelina nudiflora L. Rottboellia grandulosa Trin.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 5 3 1 2 1 4 3 1 2 3 5 2 5 2 4 7 3 1 4 2 3 4 1 Total 7 5 3 8 8 9 8 10 10 68
Tabel 2 menunjukkan bahwa jenis-jenis hijauan pakan yang dijumpai tersebar pada lokasi yang berbeda-beda. Beberapa jenis hanya ditemukan di bawah tegakan di dalam areal penangkaran saja seperti Calliandra callothyrsus, Melastoma polyanthum, Clidemia hirta,dan Lycopodium cernuum. Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan IPB & Dephut (1999), yang juga menemukan Melastoma polyanthum danLycopodium cernuum di bawah tegakan pohon di HP Dramaga. Diduga jenis-jenis tersebut merupakan jenis yang dapat beradaptasi pada lingkungan dengan tingkat cahaya rendah. Sebaliknya, beberapa jenis lain seperti Kyllingia monocephala, Imperata cylindrica, Mimosa pudica, dan Commelina nudiflora hanya dijumpai pada lokasi yang tidak ternaungi atau areal terbuka. Jenis-jenis tersebut umum dijumpai pada tempat terbuka dengan tingkat cahaya tinggi (Steenis 2006).
Jenis hijauan yang ditemukan pada lokasi pengamatan termasuk dalam daftar 60 jenis hijauan yang dikonsumsi rusa timor sebagaimana yang dikelompokkan oleh Semiadi (2006). Beberapa diantaranya adalah Ageratum conyzoides, Axonopus compressus, Imperata cylindrica, Panicum spp, Setaria
spp,Caliandra callothyrsus,Mimosa pudica,Oxalis corniculata, Piper aduncum, Lycopodium cernuum, danPolygala paniculata. Hasil ini diperkuat dengan hasil penelitian Witchatitsky et al. (2005), yang menemukan beberapa jenis hijauan seperti Imperata cylindrica, Ageratum conyzoides, dan beberapa jenis dari jenis Carex sp.,Kyllingia sp., danLycopodium sp. pada rumen rusa timor.
Keberadaan jenis-jenis hijauan pakan tersebut sangat penting dalam memenuhi kebutuhan pakan bagi rusa timor. Berdasarkan kondisi areal yang sebagian berupa tegakan pohon, maka perlu adanya pengelolaan jenis hijauan pakan. Moser et al. (2006) menyatakan bahwa pengelolaan tumbuhan sumber pakan bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan kualitas hijauan yang dapat diperoleh dengan memperbesar ruang masuknya cahaya matahari pada areal berhutan dengan cara membuka sebagian kanopi pohon.
5.2 Produktivitas dan Ketersediaan Hijauan Pakan
Produktivitas hijauan pakan potensial diketahui melalui pemanenan hijauan pakan sebanyak 3 kali dengan interval waktu pemotongan 20 hari pada 45 plot pengamatan berukuran 1 m x 1m yang tersebar pada sembilan lokasi. Hampir seluruh areal penangkaran dapat diakses oleh rusa untuk mendapatkan hijauan pakan. Namun demikian, hijauan yang ada tidak seluruhnya tersedia bagi rusa. Menurut Brown (1954) sebagian hijauan yang dapat dikonsumsi rusa disebut sebagaiproper use. Ada beberapa faktor yang menentukan besarnya nilai proper use, diantaranya topografi, kondisi tanah, jenis tanaman, jenis satwa, tingkat kesuburan suatu jenis pakan, dan keadaan musim. Berdasarkan perilaku rusa timor dalam memakan hijauan di alam, yang teramati saat kunjungan ke beberapa penangkaran, tidak semua bagian hijauan dikonsumsi oleh rusa. Hanya sekitar 70% dari keseluruhan bagian hijauan yang dikonsumsi oleh rusa. Bagian tanaman yang dapat dimakan tersebut merupakan proser use, yang dalam penelitian ini disebut sebagai faktor konsumsi. Dengan demikian dalam pendugaan produktivitas hijauan yang langsung diperoleh rusa, berlaku asumsi bahwa proporsi bagian rumput dan hijauan yang efektif dikonsumsi oleh rusa adalah sebesar 70%. Sedangkan untuk produktivitas hijauan yang disediakan oleh manusia, asumsi faktor konsumsi tidak berlaku.
Selain mempertimbangkan faktor konsumsi, produktivitas dihitung dengan mempertimbangkan musim hujan dan musim kemarau. Penentuan musim ini berdasarkan pada rata-rata bulan basah dan bulan kering selama tiga tahun, yaitu tahun 2005-2007 yang diperoleh dari Badan Meterologi dan Geofisika Dramaga Bogor. Rincian data curah hujan di sekitar kawasan Hutan Penelitian Dramaga disajikan pada Lampiran 3. Berdasarkan asumsi dan pertimbangan tersebut, diperoleh produktivitas hijauan dan ketersediaan pakan pada sembilan lokasi sebagaimana disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Produktivitas dan ketersediaan hijauan pakan rusa timor di Hutan Penelitian Dramaga
Produktivitas hijauan pakan (kg/ha/th) Luas areal (ha) Ketersediaan biomassa hijauan pakan (kg/th) Lokasi Tingkat cahaya harian
(lux) Berat segar Berat kering Berat segar Berat kering Di dalam areal penangkaran:
I 4.638 1.513,48 141,07 0,3 317,83 29,62
II 2.567 1.257,62 116,16 0,25 220,08 20,33
III 5.718 502,22 36,51 3,45 1.212,87 88,16
IX 43.742 17.362,09 4.079,08 2,5 30.383,67 7.138,39 Di luar areal penangkaran:
IV 11.332 7.413,68 652,17 2 14.827,36 1.304,33
V 12.806 5.413,97 762,52 1,1 5.955,36 838,77 VI 5.970 3.071,05 431,82 1,5 4.606,57 647,73 VII 15.116 4.256,71 878,14 0,5 2.128,35 439,07 VIII 36.327 12.390,98 1.941,43 5 61.954,92 9.707,17
Tabel 3 menunjukkan bahwa produktivitas hijauan pakan tertinggi terdapat pada lokasi IX yaitu sebanyak 17.362,09 kg/ha/th berat segar atau setara dengan 4.079,08 kg/ha/th berat kering, sedangkan yang terendah pada lokasi III sebanyak 502,22 kg/ha/th berat segar atau setara dengan 36,51 kg/ha/th berat kering. Rendahnya produktivitas pada lokasi III diduga disebabkan oleh kondisi tumbuhan hijauan yang ternaungi oleh tegakan pohon sehingga kurang mendapat cahaya matahari untuk pertumbuhannya. Dugaan ini diperkuat dengan hasil pengukuran rata-rata tingkat cahaya yang sangat rendah pada lokasi III yaitu sebesar 5.718 lux.
Kondisi yang berbeda terdapat pada lokasi VIII dan IX dimana nilai produktivitas hijauan relatif tinggi dibandingkan lokasi-lokasi lainnya. Kondisi lokasi yang berupa areal terbuka dengan rata-rata tingkat cahaya yang tinggi yaitu
masing-masing sebesar 36.327 lux dan 43.742 lux, diduga sangat mendukung pertumbuhan hijauan pakan. Sebaliknya, lokasi yang ternaungi kurang mendukung pertumbuhan hijauan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Deptan (2005) yang melaporkan bahwa semakin tinggi tingkat naungan maka produktivitas biomassa legum dan rumput semakin rendah. Perbandingan produktivitas pakan dengan tingkat cahaya harian pada setiap lokasi, disajikan pada Gambar 7.
Gambar 7. Perbandingan produktivitas hijauan pakan dengan tingkat cahaya harian
Nilai produktivitas hijauan pakan tertinggi pada lokasi IX sebanyak 17.362,09 kg/ha/th, lebih rendah dibandingkan nilai produktivitas hijauan pada beberapa tempat lain di Jawa Barat. Sebagai pembanding, produktivitas hijauan di penangkaran Rusa Perum Perhutani Jonggol di dalam kandang dengan pemagaran adalah sebanyak 4,95 g/m2/hari atau 18.067,5 kg/ha/th (Teddy 1998). Sedangkan produktivitas hijauan pakan di penangkaran Ranca Upas Bandung sebanyak 59,25 kg/ha/hari atau 21.626,25 kg/ha/th (Feriyanto 2002). Namun demikian, apabila dibanding dengan daerah Indonesia Timur dengan kondisi klimatologi yang berbeda, produktivitas hijauan di Hutan Penelitian Dramaga lebih tinggi. Hasil penelitian Kayat & Takandjandji (2003) di Bu’at, Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa produktivitas hijauan pakan rusa timor yang disukai adalah 969,5 kg/ha/bl atau sama dengan 11.634 kg/ha/th.
Produktivitas hijauan dan luas areal sangat menentukan ketersediaan pakan pada suatu areal. Apabila produktivitas hijauan pada dua lokasi relatif sama, namun luas areal berbeda, maka ketersediaan hijauan pakan akan lebih tinggi pada lokasi yang memiliki areal yang lebih luas. Tabel 3 menunjukkan bahwa walaupun produktivitas hijauan pakan pada lokasi IX paling tinggi, ketersediaan biomassa hijauan pakan tertinggi justru terdapat pada lokasi VIII yaitu sebanyak 61.954,92 kg/th. Hal ini disebabkan luas areal pada Lokasi VIII paling tinggi yaitu sekitar 5 hektar. Ketersediaan hijauan pakan terendah terdapat pada lokasi II yaitu sebanyak 220,08 kg/th.
Berdasarkan rata-rata kadar biomassa hijauan di Hutan Penelitian Dramaga sebanyak 17,23%, maka ketersediaan hijauan pakan tertinggi dalam berat kering adalah 9.707,17 kg/th, dan terendah sebanyak 20,33 kg/th. Jumlah ketersediaan hijauan pakan di dalam areal penangkaran sebanyak 32.134,45 kg/th, dan di luar areal penangkaran sebanyak 89.472,56 kg/th. Sehingga total ketersediaan hijauan pakan areal pada Hutan Penelitian Dramaga adalah 121.607,01 kg/th atau setara dengan berat kering sebesar 20.213,57 kg/th.
5.3 Tingkat Konsumsi
Tingkat konsumsi pakan yang dihitung dalam penelitian ini adalah tingkat konsumsi pakan harian yang menunjukkan banyaknya hijauan pakan yang dimakan oleh satu individu rusa untuk dapat beraktivitas. Rusa yang digunakan dalam pengamatan tingkat konsumsi mewakili jenis kelamin dan usia anak (< 2 tahun) dan dewasa (> 2 tahun). Rincian konsumsi pakan harian rusa timor disajikan pada Lampiran 4. Rata-rata tingkat konsumsi pakan harian rusa timor selama tujuh hari pengamatan di penangkaran Hutan Penelitian Dramaga disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Rata-rata tingkat konsumsi pakan harian empat individu rusa timor Proporsi rata-rata konsumsi (kgBB) per berat badan (%) Rusa Berat badan rusa (kg) Rata-rata konsumsi (kgBB) Kadar biomassa hijauan pakan (%) Rata-rata konsumsi (kgBK) Per individu Per jenis kelamin Dewasa 37,11 6,39 17,23 1,10 17,22 Anak 29,52 5,28 17,23 0,91 17,89 17,55 Dewasa 59,46 8,16 17,23 1,41 13,72 Anak 35,78 5,76 17,23 0,99 16,10 14,86 Rata-rata (kg) 40,47 6,40 17,23 1,10 16,15 16,15 Keterangan: BB = berat basah, BK = berat kering
Rata-rata tingkat konsumsi pakan harian rusa timor di penangkaran Hutan Penelitian Dramaga sebesar 6,4 kgBB/individu/hari. Tingkat konsumsi tersebut lebih tinggi dari hasil yang diperoleh Teddy (1998) yang memperoleh rata-rata tingkat konsumsi harian sebanyak 5,88 kgBB/individu/hari. Tingginya tingkat konsumsi dalam penelitian ini diduga dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, perbedaan jumlah dan spesifikasi rusa yang digunakan. Teddy (1998) menggunakan dua ekor rusa dewasa yang jenis kelaminnya tidak diketahui, sedangkan pada penelitian ini menggunakan empat ekor rusa yang mewakili kelas umur anak dan dewasa serta jenis kelamin jantan dan betina. Kedua, perbedaan dugaan kandungan air pada hijauan di kedua tempat. Kandungan air hijauan di Hutan Penelitian Dramaga cukup tinggi yaitu 82,77%, sedangkan kadar biomassa hanya 17,23%. Untuk mendapatkan gambaran kadar biomassa yang dikonsumsi, maka tingkat konsumsi dapat dinyatakan dalam berat kering. Berdasarkan kadar biomassa hijauan pakan di HP Dramaga sebesar 17,23%, maka tingkat konsumsi rusa timor setara dengan 1,1 kgBK/individu/hari. Nilai yang diperoleh ini hampir sama dengan hasil yang diperoleh Garsetiasih et al. (2003) yaitu sebesar 1,08 kgBK/hari untuk tingkat konsumsi rumput dan daun nampong. Namun demikian jika dibandingkan hasil yang diperoleh Kii & Dryden (2005), nilai yang diperoleh lebih rendah yaitu masing-masing 1,19 kgBK/individu/hari dan 1,17 kgBK/individu/hari untuk tingkat konsumsi dua jenis rumput pakan.
Gambar 8 Kandang rusa dan tempat pakan pada pengamatan tingkat konsumsi di HP Dramaga
Proporsi rata-rata tingkat konsumsi terhadap berat badan rusa timor adalah sebesar 16,15%. Nilai ini lebih rendah dari proporsi konsumsi rusa timor di alam sebagaimana diperoleh Hasiholan (1995), yaitu sebesar 19% dari berat badannya. Hal ini diduga disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berbeda antara lingkungan penangkaran dan lingkungan alam. Pada lingkungan alam, rusa memiliki ruang yang lebih luas untuk beraktivitas, sehingga kebutuhan energi lebih besar dan tingkat konsumsi lebih tinggi. Sebaliknya, di lingkungan penangkaran pergerakan rusa tidak sebebas di lingkungan alam sehingga kebutuhan energi dan tingkat konsumsi lebih rendah. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Lelono (2003) yang menunjukkan bahwa aktivitas utama pada rusa timor di penangkaran adalah aktivitas makan, kemudian disusul aktivitas istirahat, dan aktivitas lainnya. Selain itu, lebih rendahnya aktivitas rusa di penangkaran juga dapat mengakibatkan berat badan yang lebih besar dibandingkan berat badan