Jenis Tanah Kecepatan Daya Resap Liter/m2/hari
Kecepatan Daya resap Rata-rata Liter/m2/hari
Pasir 22 – 35 28,75
Lempung 16 – 19 17,5
Tanah liat 13 – 14 13,5
5. Tata letak MCK
- Disesuaikan dengan lahan - Dekat sumber air
- Relative dekat pemakai
6. Pemeliharaan MCK
Tabel 2.9. Daya Resap Tanah
- Dibentuk penanggungjawab antar pemakai
- Kerusakan yang sering terjadi pada pintu dan kran - Pengurasan Septick tank
d. Prasarana Dasar : AIR BERSIH
1. Tujuan Pembangunan Sarana Air Bersih - Meningkatkan kesehatan masyarakat
- Memberdayakan masyarakat dalam pembangunan sarana air bersih dan kesehatan lingkungan
- Meningkatkan efisiensi waktu dan pemanfaatan air bersih yang efektif
2. Jenis-Jenis Sumber Air Bersih
- Air permukaan: Sungai, saluran irigasi, dan waduk - Mata air : Artesis
- Air Tanah: Air tanah dangkal (kurang dari 20 m); Air tanah dalam (lebih dari 20 m)
- Air Hujan, khusus bagi daerah yang sulit mendapatkan air
Evaluasi Kualitas Air
Param eter
Masalah Kualitas
Pengelolaan Kesimpulan
BAU Bau Tanah Kemungkinan dengan saringan karbon aktiv
Mungkin bisa dipakai, perlu pengolahan & percobaan Bau Besi Airasi + saringan pasir
lambat
Bisa dipakai dengan pengolahan
Bau Sulvur Kemungkinan Airasi Kalau sangat bau tidak bisa dipakai, kalau baunya sedikit bisa dengan pengolahan Bau yang
lain
Tergantung jenis bau Tidak bisa dipakai kecuali dengan percobaan yang
berhasil
RASA Asin /
Payau
Tidak mungkin Tergantung kadar CI dan pendapat masyarakat Rasa Besi Airasi + saringan pasir
lambat
Bisa dipakai dengan pengolahan
Rasa Tanah tanpa kekeruhan
Kemungkinan dengan saringan karbon aktiv
Mungkin bisa dipakai, perlu pengolahan, & percobaan
Rasa lainnya
Tergantung jenis rasa Tidak bisa dipakai kecuali dengan percobaan yang berhasil KEKER UHAN Kekeruhan Sedang, coklat dari lumpur
Saringan pasir lambat Bisa dipakai dengan pengolahan Kekeruhan Tinggi, coklat dari lumpur Dengan pembubuhan PAC
Bisa dipakai dengan pengolahan
Putih Dengan pembubuhan PAC
Bisa dipakai dengan
pengolahan terlebih dahulu Agak kuning sesudah air sebentar di ember Airasi + Sistem saringan pasir
Mungkin bisa dipakai perlu pengolahan percobaan WARN A Coklat tanpa kekeruhan Mungkin dengan saringan karbon aktiv
Bisa dipakai dengan pengolahan
Putih Mungkin dengan pembubuhan PAC
Bisa dipakai dengan
pengolahan terlebih dahulu Lainnya Tergantung jenis
warna
Mungkin bisa dipakai perlu pengolahan percobaan
3. Tahap Perencanaan Air Bersih - Data Umum Desa + peta desa
- Kondisi sarana air bersih yang ada saat ini - Jarak umber air yang ada dengan pemakai
Tabel 2.10. Evaluasi Kualitas Air
- Pemilihan eknologi - Kesiapan masyarakat
- Gambar sketsa jarak, perkiraan ketinggian rencana lokasi prasarana dan daerah pelayanan
4. Kriteria Perencanaan Air Bersih
- Prasarana dengan sistem yang sederhana - Memenuhi persyaratan teknis
- memanfaatkan bahan setempat 5. Bagian Dari Sarana Air Bersih
- Bak Penampung: Sebagai penampung/penyimpan air; Mengatasi naik turunnya kebutuhan air; Memperbaiki mutu air melalui pengendapan.
- Bak Penangkap Air.
- Mata Air: Mengumpulkan air dari mata air dan sebagai pelindung air - Air Permukaan Sungai.
- Pipa Distribusi, Suatu jaringan perpipaan yang berfungsi mengalirkan air bersih menuju daerah pelayanan.
6. Pompa Untuk Air Bersih Pembagian pompa :
- Menurut dalamnya air yang diambil: Pompa sumur dalam dan Pompa sumur dangkal
- Menurut jenis air yang diambil: Pompa air bersih dan Pompa sumur dangkal
SURVEY
- Jumlah penduduk yang dilayani untuk menghitung Debit air - Mengukur beda tinggi
- Panjang pipa yang akan digunakan - Menghitung jumlah belokan DESAIN
- Menghitung debit air, untuk pedesaan 30 – 60 liter/orang/hari. Kebutuhan air harus diperkirakan dengan kenaikan jumlah penduduk - Untuk mengukur beda tinggi bisa dengan selang, untuk menentukan
kapasitas pompa
- Menghitung panjang pipa dan jumlah belokan - Pemilihan Jenis Pompa, didasarkan pada - Pengambilan air
Untuk air dalam tanah
- Sumur Dalam : sebaiknya diserahkan pada ahli pengeboran. Debit sumur harus lebih besar dari kapasitas pompa
- Sumur dangkal : dapat berupa sumur gali atau bor dengan peralatan manual
Untuk air ditempat terbuka
- Mata Air : dibuatkan perlindungan mata air - Sungai : Untuk irigasi
e.
Prasarana Dasar : RUMAH TINGGAL1. Pengertian Rumah Tinggal (Yang Sehat)
- Mempunyai tata ruang yang terorganisasi, yaitu mempunyai susunan tata ruang menurut area kebutuhan ruang untuk penghuni. Kebutuhan tersebut bisa dibedakan dengan adanya kebutuhan ruang untuk pribadi (private), ruang untuk keluarga (semi private) dan ruang untuk Umum (Publik) :
• Ruang pribadi, bisa diartikan dalam bentuk ruang untuk istirahat pribadi yaitu kamar tidur.
• Ruang keluarga, bisa di artikan ruang yang umumnya sering di gunakan untuk keluarga, bisa berupa ruang untuk santai / istirahat, ruang untuk makan, ruang untuk ibadah (mushollah), kamar mandi & WC, dapur, ruang cuci, dsb).
• Ruang untuk umum, yaitu ruang yang dibuat khusus untuk menerima orang dari luar keluarga atau biasa disebut sebagai ruang tamu
- Sinar Matahari bisa masuk secara langsung ke tiap-tiap ruangan agar ruangan bisa memperoleh udara panas dan menghilangkan kelembaban - Ruangan di dalam rumah tidak lembab karena kelembaban cenderung
menimbulkan jamur secara cepat
- Bahan yang digunakan aman bagi penghuni/tidak mudah rusak dan keropos, tidak mengandung racun atau mudah berjamur. Bahan bangunan yang berbahaya atau mudah patah berisiko mencelakan atau
bisa mencederai penghuni rumah, dan bahan yang mengandung racun serta mudah berjamur menimbulkan penyakit bagi penghuni, meskipun gejalanya timbul setelah bertahun-tahun kemudian (kanker, jamur kulit).
- Adanya pepohonan/tanaman di sekitar rumah (sebagai buffer) berfungsi sebagai sumber oksigen, penahan angin, dan terik sinar matahari.
2. Jenis Model Rumah - Rumah Tradisional
Dalam perencanaan dan pembangunan rumah tradisional sudah ada aturan-aturan adat yang pakem yaitu aturan-aturan tidak tertulis yang tetap dipatuhi dan dijalankan. Rumah tradisional terwujud melalui proses kebudayaan daerah setempat, yang mengutamakan kepentingan bermasyarakat.
Pada rumah tradisional bisa dipastikan akan dengan mudah ditemui ruang tamu yang lebih luas bila dibandingkan dengan ruang-ruang lainnya yang ada di alam rumah tersebut. Hal tersebut dikarenakan pada masyarakat dahulu (masyarkat adat) sering adanya hari-hari untuk memperingati hari peristiwa keluarga misalnya hari kelahiran, pernikahan, kematian, musim tanam padi, musim panen dan sebagainya. Dan untuk bisa menampung tamu yang banyak diperlukan suatu ruangan yang lebih luas.
Untuk kebutuhan susunan dan ukuran (panjang, lebar, tinggi) ruang rumah tradisional sudah ada ketentuan yang mengikat dan biasanya dipakai ukuran badan penghuni rumah (depa, kilan, siku). - Rumah Modern / Masa kini
Pada model rumah modern atau rumah masa kini aturan yang fleksibel atau aturan-aturan yang bisa tidak mengikat atau bisa berubah.
Kebutuhan ruang-ruang di dalam rumah-rumah modern bisa disesuaikan dengan kebutuhan menurut selera penghuni dan ukuran besar dan luas ruang juga tidak ada ketentuan ukuran yang mengikat. Sistim ukuran biasa dipakai meter dan sentimeter. Ketentuan kebutuhan ruang dan tata letak ruang dalam rumah modern dipakai aktifitas penghuni (aktifitas keluarga).
3. Perletakan Bangunan Rumah
Perletakan bangunan yang ideal dan menunjang kesehatan bagi penghuni rumah bisa ketahui dengan letak bangunan terhadap areal tanah sekitarnya, dimana rumah:
- Rumah terletak didaerah tanah datar dan tidak didaerah yang rawan longsor, erosi, genangan air dan dekat listrik tegangan tinggi.
Daerah yang berbahaya bisa mengancam keselamatan penghuni rumah. Perasaan khawatir dan tidak tenang sangat mempengaruhi bagi pertumbuhan jiwa penghuni rumah.
- Ada akses jalan menuju lokasi bangunan rumah. Pencapaian yang mudah bisa menghemat tenaga dan biaya.
- Bangunan rumah bisa menerima sinar matahari langsung atau bangunan tidak terhalang bangunan lain.
- Bangunan rumah tidak berada sangat dekat dengan jalan raya. Keramaian suara kendaraan yang bising terus-menerus mempengaruhi ketenangan dan bisa mengurangi waktu kebutuhan untuk istirahat. - Bangunan rumah tidak berada di daerah industri atau pabrik. 4. Struktur Bangunan
Struktur bangunan adalah bagian-bagian bangunan secara keseluruhan, mulai dari alas, penyanggah, dan penutup. Bagian-bagian tersebut bisa dibedakan dengan :
- Pondasi dan lantai (alas)
• Pondasi dan lantai bangunan mempunyai ketinggian terhadap tanah disekitarnya
• Lantai rumah harus selalu kering dan diusahakan lantai tidak dari tanah (tanah mengandung banyak bakteri dan bibit penyakit)
- Dinding (Penahan)
Dinding mampu menahan beban atap dan tekanan angin. Beban atap yang besar bila tidak diimbangi dengan konstruksi dan bahan yang kuat bisa menimbulkan kemiringan bentuk rumah di kemudian hari. - Atap (Penutup)
• Atap harus bisa mengalirkan air hujan secara langsung. Air hujan yang cepat mengalir dan terbuang menjadikan atap cepat kering dan memperpanjang keawetan atap.
• Atap mempunyai kemiringan sudut antara 45” s/d 50 derajat. Sudut 45” s/d 50” merupakan sudut kemiringan atap yang ideal untuk daerah-daerah tropis lembab, karena daerah ini mempunyai curah hujan yang paling lama dibandingkan daerah-daerah lain.
5. Kenyamanan Bangunan
Kenyamanan bangunan sangat diperlukan dan perlu untuk direncanakan secara menyeluruh pada tiap-tiap ruangan, untuk itu perlu diperhatikan hal-hal seperti:
- Pada tiap sisi bangunan terdapat bukaan. Bisa berupa pintu, jendela, atau angin-angin untuk aliran penghawaan udara alami dan tata letak bukaan diusahakan bersilangan agar udara bisa masuk secara optimal. Udara yang mengalir secara bersilangan menggantikan udara didalam ruangan dan selalu menjadi udara bersih.
- Ruangan bisa memperoleh cahaya alami pada siang hari, dengan mengadakan bukaan di dinding atau atap.
Bila bukaan dimasing-masing sisi bangunan tidak dimungkinkan, maka bisa dengan membuat bukaan diatap bangunan (bukaan dengan kaca yang diteruskan lewat plafon) agar sinar matahari yang masuk
bisa menggantikan kebutuhan sinar lampu yang diperlukan pada siang hari.
- Ruangan mempunyai ukuran luas dan ketinggian yang signifikan dengan kebutuhan dengan kondisi daerah setempat (pegunungan/pantai). Untuk rumah-rumah di Indonesia ketinggian yang ideal adalah 3,5 meter s/d 4 meter. Ketinggian ruang yang cukup bisa menghadirkan suasana yang nyaman, karena kepengapan udara didalam ruangan rumah bisa dihindarkan.
6. Kebutuhan Ruang dan Luas Ruang
- Kebutuhan luas ruang untuk hunian atau permukiman tiap negara diseluruh dunia tidak sama. Kondisi fisik manusia dan keberadaan tanah yang tersedia tiap negara sangat mempengaruhi hal tersebut. Pada pertemuan Habitat II di Kanada / 1996 (perkumpulan pemerhati lingkungan & permukiman Internasional), untuk kebutuhan minimum ruang tiap orang diperkirakan 9 meter persegi per orang. Untuk Indonesia diperkirakan 1 orang masih bisa memperoleh minimum 10 meter persegi. Jadi bila dalam 1 (satu) keluarga terdapat 4 anggota, maka kebutuhan minimum adalah 4 x 10 meter persegi = 40 meter persegi.
- Kebutuhan Ruang Rumah Tinggal : • Ruang Tamu
• Kamar Tidur • Ruang Keluarga
• Kamar Mandi & WC • Dapur
• Gudang
• Ruang Cuci & Tempat Jemuran
- Luas Bangunan adalah jumlah luas kebutuhan ruang
• Luas bangunan adalah luasan daerah yang terbangun didalam area rumah
• Luas bangunan yang ideal adalah 40% dari luas area yang tersedia dan 60% untuk area terbuka, termasuk untuk taman rumah. Misalkan, bila tersedia area/lahan untuk rumah seluas 200 meter persegi, maka untuk area terbangun yang ideal adalah 40% dari 200 meter adalah 80 meter persegi dan sisanya untuk area terbuka.
Secara umum lulusan JPTA yang bekerja dalam bidang Infrastruktur pada
PNPM Mandiri Perkotaan sesuai dengan lingkup pekerjaan diatas
mempunyai kompetensi sebagi berikut:
- Mampu membimbing masyarakat dalam merencanakan kegiatan
- Mampu melatih dan membimbing masyarakat dalam membuat proposal kegiatan yang baik dan mampu direalisasikan.
- Mampu melatih dan membimbing masyarakat dalam menyusun rencana anggaran biaya (RAB).
- Mampu melatih dan membimbing masyarakat dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi yang dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan unit pekerjaan sesuai yang dibutuhkan masyarakat pada saat itu.
- Mampu melatih dan membimbing masyarakat dalam merancang (membuat gambar kerja) jalan, jembatan, MCK, air bersih, dan rumah tinggal yang memenuhi standar keamanan, keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan. - Mampu melatih dan membimbing masyarakat untuk melaksanakan
pemantauan dan monitoring dalam tahap pelaksanaan kegiatan.
- Mampu melatih dan membimbing masyarakat dalam membuat laporan kegiatan secara transparan dan dapat dipertanggung jawabkan.
4. LULUSAN JPTA YANG BEKERJA DI PNPM MANDIRI
Lulusan Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur yang bekerja di PNPM Mandiri dalam bidang konstruksi dan lingkungan.
NO NAMA JABATAN CABANG JENJANG LEMBAGA
1 Abdul Rivai Tahir Faliba Fasilitator Kota Bandung S1 UPI 2 Andri Hendradi Fasilitator Kab. Tasikmalya S1 UPI
3 Ari Supriyono Fasilitator Kab. Majalengka S1 UPI
4 Arif Binatika Fasilitator Kab. Bandung S1 UPI
5 Asep Suprihatin Fasilitator Kab. Bandung S1 UPI
6 Cindy Permatasari Fasilitator Kab. Tasikmalya S1 UPI
7 Citra Nuraida Fasilitator Kab. Bandung S1 UPI
8 Dian septiani Fasilitator Kab. Bogor S1 UPI
9 Hendi Sopandi Fasilitator Kab. Tasikmalya S1 UPI
10 Hendri Gunawan Fasilitator Kota Bandung S1 UPI
11 Hendri Mulyani Fasilitator Sukabumi S1 UPI
12 Ida Sundayani Fasilitator Kab. Bandung S1 UPI
13 K. Savitri Sardjono Fasilitator S1 UPI
14 Mira Rahayu Fasilitator Kab. Bogor S1 UPI
15 Nitih Indra Komala Dewi Fasilitator Kota Bandung S1 UPI
16 Riki Hadi Fasilitator Garut S1 UPI
17 Soleh Fasilitator Kab. Purwakarta S1 UPI
18 Wahyudin Ramdani Senior
Fasilitator Kab. Bogor S1 UPI
19 Yan Nurcahya Fasilitator Kab. Bogor S1 UPI
20 Yayah Darsiyah Fasilitator Sukabumi S1 UPI
21 Yedi Hudaya Fasilitator Garut S1 UPI
22 Yulianti Sandra Fasilitator Kab. Bandung S1 UPI
Tabel 2.11. Data Entry SPK Maret-Jun 09 Sumber: PNPM Mandiri Jawa Barat
5. KOMPETENSI JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR