BAB II
LANDASAN TEORI
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. PENGERTIAN KOMPETENSI
Menurut Balai Latihan Nasional Australia, 1992 Kompetensi adalah: “Spesifikasi dari pengetahuan dan keterampilan serta aplikasi dari pengetahuan dan keterampilan berdasarkan pada standar penilaian yang dibutuhkan dalam pekerjaan”.
Kompetensi kerja secara teoritis dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pelatihan, pengembangan karir, imbalan berdasarkan kompetensi, seleksi, petunjuk strategik, yang dapat dilihat dari gambar di bawah ini.
JOB COMPETENCIES Pengukuran Kinerja Pengembangan Karier Pembayaran Kompetensi Evaluasi Pekerjaan/Uraian Pelatihan Seleksi Penilaian Modal Manusia Evaluasi
a. Sistem Kompetensi di Inggris
Menurut Shirley Fletcher (Terbitan bahasa Indonesia, 2005) pada awal tahun 1970-an, program New Training Initiative (MSC 1981) untuk pertama kali diluncurkan sebagai landasan standar baru (standards of new kinds). Pada tahun 1986, White Paper dan peninjauan kembali kualifikasi keterampilan kejuruan (vocational qualifications) mengarahkan lahirnya Standards Development Programme (Program Pengembangan Standar). Kemudian, Manpower Service Commission diberi tanggung jawab untuk mengembangkan standar kinerja pekerjaan untuk semua sektor industri.
Tinjauan terhadap kualifikasi keterampilan kejuruan juga mengarah pada pembentukan NCVQ, dan sekarang menjadi Qualification and Curriculum Authority (QCA), yang bertanggung jawab untuk mengembangkan kriteria
kerangka kualifikasi baru berdasarkan standar kompetensi baru.
Masing-masing industri diminta mengembangkan standar untuk sektornya sendiri. Badan asosiasi masing-masing industri diberi tanggung jawab mengelola proyek pengembangan standar kompetensi untuk sektornya sendiri. Mereka juga mengembangkan standar yang berlaku untuk semua peran pekerjaan pada semua sektor industri dan perdagangan. Di Inggris, standar berbasiskan-kompetensi mencerminkan harapan kinerja di tempat kerja. Pengembangan standar kompetensi pribadi yang melengkapi standar kompetensi kerja juga terus dilanjutkan.
b. Amerika Serikat – Model Awal dalam Pendidikan
Umumnya, orang sepakat bahwa pendidikan berbasis kompetensi berakar dari pendidikan guru, yang biasanya disebut sebagai CBET: Competency-Based Eductation And Training. Pengembangn dipercepat oleh
pendanaan dari US Office of Education untuk mengembangkan model program pelatihan bagi guru-guru sekolah dasar.
Model ini mencakup ’spesifikasi tepat mengenai kompetensi atau perilaku yang harus dipelajari, instruksi yang berdasarkan modul, pengalaman pribadi dan di lapangan’. Model ini dikenal sebagai pendidikan guru berbasis kompetensi atau Performance-Based Teacher Education (PBTE). Tetapi model ini mendapat reaksi dari lembaga pendidikan tinggi, yang memandang tren baru tersebut sebagai ancaman otonomi dan status akademis. Sistem berbasis model ini juga menuntut reorganisasi sumber daya yang besar isu yang berdampak pada bidang pendidikan dan pelatihan pada semua level (Shirley Fletcher, 2005).
2. JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR
Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur (JPTA) sebagai salah satu jurusan yang berada di Fakultas Pendidikan dan Teknologi Kejuruan yang membawahi dua program studi yaitu Program Studi Pendidikan Teknik Arsitektur S1 dan Program Studi Teknik Arsitektur Perumahan D3. Namun dalam penelitian ini hanya dibatasi pada Program Studi Pendidikan Teknik Arsitektur S1 yang memiliki kompetensi dalam bidang kependidikan dan keteknikan.
Program Studi Pendidikan Teknik Arsitektur S1 a. Visi:
Menjadi program studi pendidikan teknik arsitektur unggulan (center of excellence) dalam menyiapkan tenaga kerja profesional dibidang pendidikan
dan non kependidikan teknik arsitektur yang berkualitas, produktif, profesional, dan marketable.
b. Misi:
- Menyelenggarakan pendidikan untuk menyiapkan tenaga profesional bidang pendidikan teknik arsitektur, bidang perencanaan dan perancangan serta rekayasa teknik arsitektur yang berdaya saing global.
- Mengembangkan teori-teori, ilmu, teknologi, seni, dan desain arsitektur yang inovatif serta penerapannya baik dalam bidang pendidikan teknik arsitektur di persekolahan atau di diklat-diklat industri terkait.
- Menyelenggarakan layanan pengabdian kepada masyarakat secara profesional dalam rangka ikut serta memecahkan masalah nasional, baik dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
- Menyelenggarakan internasionalisasi pendidikan teknik arsitektur melalui pengembangan jaringan dan kemitraan pada tingkat nasional, regional, dan internasioanal.
- Menyelenggarakan program pendidikan teknik arsitektur untuk menghasilkan lulusan sarjana pendidikan teknik arsitektur yang siap mengembangkan keilmuan, melaksanakan penelitian dan pengembangan sumber daya pembangunan secara berkesinambungan.
c. Tujuan:
Berfokus pada konsep wider mandate Universitas Pendidikan Indonesia, yaitu berbasis utama pada pendidikan tetapi mengembangkan mandat lain sesuai dengan spesifikasi bidang studi:
- Menghasilkan tenaga pengajar/guru/instruktur dan tenaga kependidikan lainnya dalam bidang Teknik Arsitektur.
- Menghasilkan tenaga ahli dalam bidang teknik arsitektur yang dapat bekerja pada industri dan kewirausahaan secara luas, sesuai dengan konsentrasi keahlian program studi arsitektur.
d. Sasaran kompetensi lulusan:
- Memiliki kemampuan akademik program keahlian yang sesuai dengan kurikulum SMK
- Memiliki kemampuan profesi keahlian program studi arsitektur sesuai dengan tuntutan kompetensi yang disyaratkan oleh Asosiasi Lembaga Pendidikan Tinggi Arsitektur.
e. Kurikulum :
Kurikulum 2006 Program Studi Pendidikan Teknik Arsitektur S1.
NO MATA KULIAH SKS
KODE NAMA
MATA KULIAH UMUM
1 KU 10 Pendidikan Agama 2
2 KU 105 Pendidikan Kewarganegaraan 2
3 KU 106 Bahasa Indonesia 2
4 KU 107 Pend. Lingk. Sos Bud & Teknologi 2
5 KU 30 Seminar Pendidikan Agama 2
6 KU 108 Pendidikan Jasmani dan Olahraga 2
7 KU 400 KKN 2
MATA KULIAH KEAHLIAN
MKK FAKULTAS TEKNIK
1 TK 300 Bahasa Inggris 2
2 TK 301 Matematika 2
3 TK 302 Kajian Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan 2 MKK PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR
1 TA 105 Fisika Dasar 2
2 TA 108 Mekanika Teknik 2
3 TA 110 Pengantar Arsitektur 2
4 TA 111 Sejarah Arsitektur 2
5 TA 150 Material dan Konstruksi 2
6 TA 220 Gambar Teknik 4
7 TA 221 Gambar Arsitektur 4
8 TA 222 Presentasi Cad 3
9 TA 226 Nirmana 4
10 TA 230 Studio Perancangan Arsitektur I 4
11 TA 231 Studio Perancangan Arsitektur II 4
12 TA 251 Konstruksi Bangunan I 3
13 TA 303 Kewirausahaan 2
14 TA 306 Fisika Bangunan 2
15 TA 307 Statistika Terapan 2
16 TA 312 Teori Arsitektur 2
17 TA 358 Rencana Anggaran Biaya 2
18 TA 360 Arsitektur dan Lingkungan 2
20 TA 432 Studio Perancangan Arsitektur III 4 21 TA 435 Perancangan Interior 4 22 TA 453 Struktur Bangunan I 3 23 TA 481 Seminar Arsitektur 3 24 TA 482 Praktek Industri 3 25 TA 598 Skripsi 6 26 TA 599 Ujian Sidang 0
MKPP (PERLUASAN DAN PENDALAMAN)
1 TA 119 Metoda Perancangan Arsitektur 3
2 TA 442 Perencanaan Tapak 4
MATA KULIAH PROFESI
MKK DASAR PROFESI
1 KD 100 Landasan Pendidikan 2
2 KD 101 Perkembangan Peserta Didik 2
3 KD 102 Bimbingan dan Konseling 3
4 KD 103 Kurikulum dan Pembelajaran 3
5 KD 104 Pengelolaan Pendidikan 2
MKK KEAHLIAN PROFESI
1 TA 500 Belajar dan Pembelajaran 2
2 TA 501 Evaluasi Pengajaran 2
3 TA 502 Perencanaan Pembelajaran 2
4 TA 503 Media Pembalajaran 3
5 TA 504 Metode Penelitian Pendidikan 3
MKK LATIHAN PROFESI
1 TA 590 Program Latihan Profesi 4
MK PILIHAN BEBAS
1 TA 361 Arsitektur Wisata 4
2 TA 362 Arsitektur dan Prilaku 4
3 TA 427 Arsitektur Tropis 4
4 TA 428 Arsitektur Venacular 4
5 TA 429 Arsitektur Bentang Lebar 4
6 TA 437 Arsitektur Bentang Alam 4
7 TA 445 Perancangan Perumahan 4
8 TA 455 Struktur Banguanan II 4
9 TA 517 Permasalahan Arsitektur 4
10 TA 556 Mekanikal dan Alektrikal 4
11 TA 572 Ekonomi Pembangunan 4
12 TA 574 Rekayasa Penilaian 4
TOTAL SKS 144
Tabel 2.1. Struktur Kurikulum Program Studi Pendidikan Teknik Arsitektur (S1) Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur
Mata kuliah yang berhubungan dengan kompetensi kependidikan: - Belajar dan Pembelajaran
- Bimbingan dan Konseling - Evaluasi Pengajaran
- Kurikulum dan Pembelajaran - Landasan Pendidikan
- Media Pembalajaran
- Metode Penelitian Pendidikan - Pend. Lingk. Sos Bud & Teknologi - Pengelolaan Pendidikan
- Perencanaan Pembelajaran - Perkembangan Peserta Didik - Program Latihan Profesi - Skripsi
Mata kuliah yang berhubungan dengan kompetensi keteknikan: - Arsitektur Bentang Alam
- Arsitektur Bentang Lebar - Arsitektur dan Lingkungan - Arsitektur dan Prilaku - Arsitektur Tropis - Arsitektur Venakular - Arsitektur Wisata - Ekonomi Pembangunan - Fisika Bangunan - Fisika Dasar - Gambar Arsitektur - Gambar Teknik - Konstruksi Bangunan - Material dan Konstruksi - Mekanika Teknik
- Mekanikal dan Elektrikal - Nirmana - Pengantar Arsitektur - Perancangan Interior - Perancangan Perumahan - Permasalahan Arsitektur - Praktik Industri - Rekayasa Penilaian - Rencana Anggaran Biaya - Sejarah Arsitektur
- Seminar Arsitektur - Statistika Terapan - Struktur Banguanan I - Struktur Banguanan II
- Studio Perancangan Arsitektur I - Studio Perancangan Arsitektur II - Studio Perancangan Arsitektur III - Teori Arsitektur
B. TINJAUAN KASUS
1. PNPM MANDIRI PERKOTAAN
PNPM Mandiri merupakan program nasional yang mengadopsi dari P2KP (Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan) yang sudah berjalan mulai tahun 1999 yang bertujuan untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan. Melihat perkembangangan positif dari P2KP tersebut, pada 30 April 2007 P2KP menjadi bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri.
Pada tahun 2008 secara penuh P2KP menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan), sebagai bagian dari PNPM Mandiri maka tujuan, prinsip, dan pendekatan yang ditetapkan dalam PNPM Mandiri Perkotaan.
a. Pengertian
PNPM Mandiri adalah program nasional dalam wujud kerangka kebijakan sebagai dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. PNPM Mandiri dilaksanakan melalui harmonisasi dan pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program, penyediaan pendampingan, dan pendanaan stimulan untuk mendorong prakarsa dan inovasi masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan yang berkelanjutan.
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menciptakan/meningkatkan kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun berkelompok, dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian, dan kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan yang lebih besar dari perangkat pemerintah daerah serta berbagai pihak untuk memberikan kesempatan dan menjamin keberlanjutan berbagai hasil yang dicapai.
b. Tujuan
Tujuan Umum
Meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri.
Tujuan Khusus
- Meningkatnya partisipasi seluruh masyarakat, termasuk masyarakat miskin, kelompok perempuan, komunitas adat terpencil, dan kelompok masyarakat lainnya yang rentan dan sering terpinggirkan ke dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan.
- Meningkatnya kapasitas kelembagaan masyarakat yang mengakar, representatif, dan akuntabel.
- Meningkatnya kapasitas pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat terutama masyarakat miskin melalui kebijakan, program, dan penganggaran yang berpihak pada masyarakat miskin (pro-poor).
- Meningkatnya sinergi masyarakat, pemerintah daerah, swasta, asosiasi, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat, dan
kelompok peduli lainnya, untuk mengefektifkan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan.
- Meningkatnya keberdayaan dan kemandirian masyarakat, serta kapasitas pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat dalam menanggulangi kemiskinan di wilayahnya.
- Meningkatnya modal sosial masyarakat yang berkembang sesuai dengan potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal.
- Meningkatnya inovasi dan pemanfaatan teknologi tepat guna, informasi dan komunikasi dalam pemberdayaan masyarakat.
c. Prinsip Dasar
PNPM-Mandiri menekankan prinsip-prinsip dasar berikut ini:
• Bertumpu pada pembangunan manusia. Pelaksanaan PNPM Mandiri senantiasa bertumpu pada peningkatan harkat dan martabat manusia seutuhnya.
• Otonomi. Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri, masyarakat memiliki kewenangan secara mandiri untuk berpartisipasi dalam menentukan dan mengelola kegiatan pembangunan secara swakelola.
• Disentralisasi. Kewenangan pengelolaan kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan dilimpahkan kepada pemerintah daerah atau masyarakat sesuai dengan kapasitasnya.
• Berorientasi pada masyarakat miskin. Semua kegiatan yang dilaksanakan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok masyarakat yang kurang beruntung.
• Partisipasi. Masyarakat terlibat secara aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan pembangunan dengan secara gotong royong menjalankan pembangunan.
• Kesetaraan dan keadialan gender. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya disetiap tahap pembangunan dan dalam menikmati secara adil manfaat kegiatan pembangunan.
• Demokraltis. Setiap pengambilan keputusan pembangunan dilakukan secara musyawarah dan mufakat dengan tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat miskin.
• Transparasi dan akuntabel. Masyarakat harus memiliki akses yang memadai terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dipertanggungjawabkan baik secara moral, teknis, legal, maupun administratif. • Prioritas. Pemerintah dan masyarakat harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk penanggulangan kemiskinan dengan mendayagunakan secara optimal berbagai sumber daya yang terbatas.
• Kolaborasi. Semua pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan kemiskinan didorong untuk mewujudkan kerjasama dan sinergi antar pemangku kepentingan dalam penanggulangan kemiskinan.
• Keberlanjutan. Setiap pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak hanya saat ini tapi juga dimasa depan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
• Sederhana. Semua aturan dan mekanisme prosedur dalam pelaksanaan PNPM Mandiri harus sederhana, fleksibel, mudah dipahami, dan mudah dikelola, serta dapat dipertanggungjawabkan oleh masyarakat.
d. Dasar Hukum
Dasar hukum pelaksanaan PNPM Mandiri mengacu pada landasan konstitusional UUD 1945 beserta amandemennya, landasan idiil Pancasila, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta landasan khusus pelaksanaan PNPM Mandiri yang akan disusun kemudian. Peraturan perundang-undangan khususnya terkait sistem pemerintahan, perencanaan, keuangan negara, dan kebijakan penanggulangan kemiskinan adalah sebagai berikut:
Dasar peraturan perundangan sistem pemerintahan yang digunakan adalah:
a. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Pemerintah Desa. c. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan.
d. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2005 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan.
e. Kelembagaan
a. Pusat
Dalam rangka pengendalian dan koordinasi pelaksanaan PNPM Mandiri, dibentuk Tim Pengendali PNPM Mandiri. Tim Pengendali berikut keanggotaannya ditetapkan oleh dan bertanggungjawab kepada Menteri
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat selaku Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK). Tim Pengendali PNPM Mandiri terdiri atas Tim Pengarah dan Tim Pelaksana, dengan penjelasan sebagai berikut: b. Daerah
Struktur organisasi PNPM Mandiri di daerah terdiri dari: - Tim Koordinasi PNPM Mandiri Provinsi
- Tim Koordinasi PNPM Mandiri Kabupaten/Kota - Satuan Kerja PNPM Mandiri di Kabupaten/Kota - Masyarakat/Komunitas
f. Sumber dan Peruntukan Dana
Sumber dana pelaksanaan PNPM Mandiri berasal dari:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), baik yang bersumber dari Rupiah Murni maupun dari pinjaman/hibah
b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi, terutama untuk mendukung penyediaan dana pendamping bagi kabupaten dengan kapasitas fiskal rendah
c. APBD Kabupaten/Kota sebagai dana pendamping, dengan ketentuan minimal 20 (dua puluh) persen bagi kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal rendah dan minimal 50 (lima puluh) persen bagi kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal menengah ke atas dari total BLM di kabupaten/kota
d. Kontribusi swasta sebagai perwujudan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Sosial Responsibility)
e. Swadaya masyarakat (asosiasi profesi, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan individu/kelompok peduli lainnya).
Sumber-sumber dana bagi pelaksanaan PNPM Mandiri tersebut di atas digunakan untuk keperluan komponen-komponen program yaitu:
a. Pengembangan Masyarakat
b. Bantuan Langsung Masyarakat (BLM)
c. Peningkatan Kapasitas Pemerintahan dan Pelaku Lokal d. Bantuan Pengelolaan dan Pengembangan Program.
g. Kategori Program
Program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. PNPM-Inti: terdiri dari program/kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis kewilayahan, yang mencakup PPK, P2KP, PISEW, dan P2DTK. b. PNPM-Penguatan: terdiri dari program-program pemberdayaan
masyarakat berbasis sektoral, kewilayahan, serta khusus untuk mendukung penanggulangann kemiskinan yang pelaksanaannya terkait pencapaian target tertentu. Pelaksanaan program-program ini di tingkat komunitas mengacu pada kerangka kebijakan PNPM Mandiri.
h. Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan PNPM-Mandiri pada dasarnya terbuka bagi semua kegiatan penanggulangan kemiskinan yang diusulkan dan disepakati masyarakat meliputi:
- Penyediaan dan perbaikan prasarana/sarana lingkungan permukiman, sosial, dan ekonomi secara padat karya;
- Penyediaan sumber daya keuangan melalui dana bergulir dan kredit mikro untuk mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat miskin. Perhatian yang lebih besar perlu diberikan bagi kaum perempuan dalam memanfaatkan dana bergulir ini; Kegiatan terkait peningkatan kualitas sumberdaya manusia, terutama yang bertujuan mempercepat pencapaian target MDGs;
- Peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintahan lokal melalui penyadaran kritis, pelatihan keterampilan usaha, manajemen organisasi dan keuangan, serta penerapan tata kepemerintahan yang baik.
Ruang lingkup kegiatan PNPM Mandiri ini didasari pada P2KP yang menggunakan prinsip pembangunan berkelanjutan (Tridaya) yang mencangkup daya lingkungan, daya sosial, dan daya ekonomi.
i. Prinsip Prinsip Universal Pembangunan Berkelanjutan (Tridaya)
Pada dasarnya pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang tidak menimbulkan persoalan baru, bersifat adil intra generasi dan inter generasi. Oleh sebab itu prinsip-prinsip universal pembangunan berkelanjutan harus
merupakan prinsip keseimbangan pembangunan, yang dalam kasus P2KP diterjemahkan sebagai sosial, ekonomi dan lingkungan yang mencangkup dalam konsep tridaya. Jadi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang harus di junjung tinggi, ditumbuh kembangkan dan di dilestarikan oleh semua pelaku P2KP (baik masyarakat, konsultan maupun pemerintah), dalam pelaksanaannya P2KP adalah melalui penerapan konsep Tridaya sebagai berikut.
1. Perlindungan lingkungan (Environmental Protection) 2. Pengembangan masyarakat (Sosial Development) 3. Pengembangan ekonomi (Economic Development)
Membangkitkan daya sosial agar tercipta masyarakat
effektif
Membangkitkan daya ekonomi agar tercipta masyarakat produktif Membangkitkan daya
lingkungan agar tercipta masyarakat pembangunan MANUSIA P E M B E R D A Y A A N S E JA T I
Gambar 2.2. Konsep Tridaya
2.
KOMPONEN KEGIATAN LINGKUNGAN (INFRASTRUKTUR) PNPM MANDIRI PERKOTAANJenis kegiatan lingkungan atau infrastruktur atau sarana & prasarana yang dibangun oleh KSM/PANITIA dalam PNPM Mandiri Perkotaan pada dasarnya bersifat sangat luwes (flexible) sesuai usulan/kebutuhan masyarakat, terutama kegiatan perbaikan dan pembangunan sarana/prasarana perumahan dan permukiman baik untuk kepentingan umum (kolektif) maupun kepentingan individu masyarakat miskin (Individual). Semua jenis kegiatan yang akan dilaksanakan tersebut haruslah memenuhi persyaratan kelayakan teknis kegiatan sebagaimana telah diuraikan pada kriteria kelayakan teknis kegiatan yang diusulkan oleh KSM/PANITIA.
Secara umum jenis – jenis sarana/prasarana yang dibangun dalam PNPM Mandiri Perkotaan, antara lain, meliputi :
a. Jalan dan Bangunan Pelengkapnya
Jalan disini adalah jalan yang dapat berfungsi sebagai penghubung antar desa/kelurahan atau ke lokasi pemasaran, atau berfungsi sebagai penghubung hunian/perumahan, serta juga berfungsi sebagai penghubung desa/kelurahan ke pusat kegiatan yang lebih tinggi tingkatannya (kecamatan)/kab/kota.
Jalan dibangun atau ditingkatkan untuk membangkitkan manfaat-manfaat bagi masyarakat, seperti:
- Membuka isolasi
- Mempermudah pengiriman hasil produksi ke pasar, baik yang di desa maupun yang diluar
- Meningkatkan jasa pelayanan sosial, termasuk kesehatan, pendidikan dan penyuluhan.
Jenis-jenis konsrtuksi jalan dibedakan atas 3, yaitu Jalan Tanah, Jalan Diperkeras dan Jalan Beraspal. Jalan Tanah, merupakan badan jalan tanah yang tidak diberikan lapis perkerasan sebagai penutup dan dipadatkan. Jalan ini dapat merupakan jalan tanah didaerah galian atau didaerah timbunan.
Untuk dapat melindungi badan jalan dari pengaruh lalu lintas atau perubahan alam, maka diatas badan jalan diberi lapisan perkerasan (Jalan Diperkeras dan Jalan Beraspal). Jenis lapis perkerasan yang umum dipergunakan dalam pembangunan jalan desa adalah :
- Jalan Beraspal :
• Lapis Permukaan Buras (Pelaburan Aspal), merupakan hasil penyiraman/penyomprotan aspal diatas permukaan jalan, kemudian ditabur dengan pasir dan dipadatkan sebagai lapis penutup.
• Lapis PenetrasiMakadam (Lapen), dimana bahan perkerasan terdiri dari susunan batu pokok (3-5cm), batu pengunci (1-2cm) dan batu penutup (pasir) dan campuran aspal panas sebagai pengikat diantara tiap lapisan dan dipadatkan sebagai lapis penutup.
• Lapis Asbuton Agregat (Lasbutag), dimana bahan perkerasan terdiri dari campuran agregat kasar (batu 3-5cm), agregat halus (batu 2-3cm), bahan pelunak/peremaja dan aspal buton yang dicampur secara dingin sebagai pengikat dan dipadatkan sebagai lapis penutup.
Lingkup pekerjaan Pembangunan Jalan Beraspal dibatasi dengan prioritas • Perbaikan/rehabilitasi jalan beraspal yang telah ada dan
• Peningkatan jalan diperkeras yang telah ada. - Jalan Diperkeras :
• Perkerasan sirtu/kerikil (pasir campur batu), dimana bahan perkerasan Sirtu terdiri dari campuran pasir batu yang langsung diambil dari alam (sungai) atau campuran antara kerikil ukuran 2 – 5 cm dengan pasir urug. Ketebalan minimum perkerasan Sirtu ini adalah 10 cm.
• Perkerasan batu belah (Telford), terdiri atas pasir urug, batu belah, batu pengisi dan batu tepi. Batu belah disusun sesuai dengan spesifikasi diatas alas pasir urug dengan ketebalan 20 cm. Badan jalan harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu sebelum pasir dihamparkan. Perkerasan Telford harus bebas dari akar, rumput atau sampah dan kotoran lain. Untuk ketebalan pasir urug minimal 3 cm. • Perkerasan Makadam Ikat Basah (Waterbound Macadam), bahan
perkerasan Makadam terdiri atas agregat pokok ukuran 3 - 5 cm, agregat pengunci dengan ukuran 1 – 2 cm dan pasir penutup.
• Perkerasan Beton Tumbuk (Rabat Beton), dibuat dari bahan semen pasir dan kerikil dengan perbandingan campuran 1 semen : 3 pasir : 5 kerilil/batu pecah. Perkerasan ini dipergunakan untuk jalan lingkungan/permukiman atau di daerah yang tanah dasarnya labil, mudah pecah, lembek, pada turunan/tanjakan dan diatas singkapan batu. Tebal perkerasan rabat beton ini minimal 7 cm.
Bangunan Pelengkap Jalan
Infrastruktur Bangunan Pelengkap Jalan dapat berupa:
- Gorong-gorong yang berfungsi untuk mengalirkan air yang melewati badan jalan dan
- Penahan Lereng/Tebing Jalan yang berfungsi untuk menahan terjadinya kelongsoran tanah ke badan jalan atau kelongsoran badan jalan
- Saluran samping jalan
Penjelasan lebih detail sistem dan spesifikasi Jalan mengacu pada
Pedoman Sederhana Pembangunan Jalan dan Jembatan Perdesaan yang
diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan, Puslitbang Jalan-Dep. PU
Tahun 1996.
b. Drainase
Kegiatan drainase disini dapat meliputi saluran pembuangan air hujan di permukiman, termasuk sumur resapan.
c. Jembatan
Jembatan adalah suatu bangunan konstruksi di atas sungai atau jurang yang digunakan sebagai prasarana lalu lintas darat.
Tujuan dari pembangunan jembatan di perdesaan adalah untuk sarana penghubung pejalan kaki atau lalu-lintas kendaraan ringan di perdesaan. Konstruksinya sederhana dengan mempertimbangkan sumberdaya setempat
(tenaga kerja, material, peralatan, teknologi) sehingga mampu dilaksanakan oleh masyarakat setempat.
Jenis jembatan dikembangkan antara lain terdiri dari : Jembatan Beton, Pelimpas/Bronjong/Batu; Jembatan Gantung; Jembatan Gelagar Besi; Jembatan Kayu, dll.
Penjelasan lebih detail sistem dan spesifikasi Jembatan mengacu pada
Pedoman Sederhana Pembangunan Jalan dan Jembatan Perdesaan yang
diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan, Puslitbang Jalan- Dep.
PU Tahun 1996 .
d. PrasaranaIrigasi (Bangunan Air)
Irigasi yang dimaksud disini adalah irigasi yang dikelola oleh masyarakat. Tujuan pembangunan jaringan irigasi perdesaan, yaitu;
- Meningkatkan produksi pangan terutama beras.
- Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan air irigasi. - Meningkatkan intensitas tanam.
- Meningkatkan dan memberdayakan masyarakat dalam pembangunan jaringan irigasi perdesaan.
Lingkup pekerjaan Pembangunan Jaringan Irigasi sederhana dibatasi dengan prioritas sebagai berikut :
- Perbaikan/ rehabilitasi jaringan irigasi yang telah ada. - Peningkatan irigasi perdesaan yang telah ada.
- Pembangunan baru irigasi perdesaan.
Jenis infrastruktur Bangunan Pengairan/Irigasi yang dapat dibangun antara lain : Embung, Bendung Cerucuk, Bendung Bronjong, Saluran Pembawa & Boks
Bagi, Bangunan Pelindung Pantai Sederhana dengan Turap, Bangunan Penahan Longsoran Tanah, dll.
Standar Irigasi mengacu pada Pedoman Teknis Sederhana Pembangunan
Bangunan Pengairan untuk Perdesaan yang diterbitkan oleh Badan Penelitian
dan Pengembangan, Puslitbang Pengairan - Dep. PU Tahun 1995.
e. Prasarana Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Pembangunan prasarana Air Bersih ini bersifat mendekatkan akses air bersih dan atau memberikan pelayanan penuh kepada masyarakat desa, khususnya warga miskin.
Prasarana air bersih dikelompokkan dalam dua sistem yaitu ;
- Sistem Komunal, Efisien diterapkan untuk pelayanan lebih dari 20 KK. Jenis prasarana pendukung antara lain : Pelindung Mata Air (PMA); Instalasi Pengolahan Air Sederhana (IPAS), seperti SPL/SKNT; Sumur Bor (SBR); Hidran Umum (HU); Perpipaan, dll
- Sistem Individual, Dapat melayani 1-4 KK, jaraknya kurang dari 100 m. Jenis prasarana pendukungnya antara lain : Sumur Gali (SGL); Sumur Pompa Tangan (SPT); Penampung Air Hujan (PAH)
Sistem air bersih sangat ditentukan oleh sumber airnya, karena itu survey sumber air harus dilakukan secara hati-hati dan teliti.
Yang dimaksud dengan PMA adalah bangunan yang dibangun untuk melindungi mata air terhadap pencemaran yang dilengkapi dengan bak penampung.
Bak Penampung adalah bangunan bak kedap air yang berfungsi sebagai penampung air dari mata air sebelum di distribusikan ke masyarakat. Bak penampung dilengkapi dengan penguras, pipa masuk, pipa keluar, pipa peluap, dan meter air.
PMA dapat dilengkapi dengan bangunan penangkap yaitu bangunan yang berfungsi sebagai penangkap dan pengumpul dari mata air.
2. Instalasi Pengolahan Air Sederhana (IPAS)
Yang dimaksud dengan IPAS adalah bangunan pengolah air baku yang mampu mengolah air dengan tingkat kekeruhan kurang dari 150 NTU menjadi bersih secara sederhana untuk pelayanan secara komunal. Kata sederhana diartikan sebagai :
- Mudah dalam pelaksanaan pembuatan IPAS - Murah dalam pembiayaan pembuatan IPAS
- Murah dan mudah dalam operasi dan pemeliharaan IPAS.
3. Sumur Bor (SBR)
SBR adalah sarana penyediaan air bersih berupa sumur dalam yang dibuat dengan membor tanah pada kedalaman tertentu sehingga diperoleh air sesuai dengan yang diinginkan. Sumur bor direncanakan apabila penggunaan sumur pompa tangan tidak bisa dilakukan. Untuk pembangunan sumur bor ini harus ada data potensi air tanah dari dalam dan yang direkomendasikan dari instansi berwenang (seperti P2AT, Dinas
Pertambangan, Dinas Sumber Daya Air setempat). Selama proses pelaksanaan pengoboran, harus dikoordinasikan dengan instansi terkait untuk mendapatkan bimbingan dan pengawasan.
4. Hidran Umum (HU)
Hidran umum adalah sarana penyediaan air bersih yang sumbernya berasal dari air permukaan yang dialirkan melalui perpipaan ke tempat atau distribusi yang bersifat komunal.
Jenis bak penampung terdiri dari : Fibre glass, Pasangan bata, dan Ferrocement. Bangunan Hidran umum terdiri dari : pondasi, bak
penampungan air , lantai, dan saluran drainase;
Bentuk hidran umum merupakan pemasangan keran dengan diameter tertentu didalam satu areal pemukiman yang dilengkapi dengan lantai yang dapat dipergunakan sebagai sumber air minum dan untuk kegiatan mencuci.
Perencanaannya direncanakan untuk memenuhi kebutuhan beberapa kekeluarga (komunal).
5. Sistem Perpipaan
Sistem penyediaan Air Bersih Perpipaan merupakan jaringan pengaliran (transmisi) air bersih melalui pipa dari bangunan pengambil (sumber air baku) sampai ke pelanggan (SR dan HU) secara gravitasi maupun pompa.
- Bangunan dan perlengkapan sistem perpipaan ini terdiri atas : - Bangunan pengambil air baku (intake, sumur bor, bronkaptering); - Jaringan pipa transmisi dan pipa distribusi;
- Bangunan penunjang seperti reservoir, bak pelepas tekan, instalasi pengolah air minum, rumah jaga, dll.
- Perlengkapan pipa seperti : katup (valve), meter air, katup udara, katup penguras, dll;
- Bangunan Pelayanan, seperti Sambungan Rumah (SR), HU; - Jembatan pipa (siphon).
f. Sumur Gali (SGL)
Sumur gali adalah sarana untuk menyadap dan menampung air tanah dari akifer yang digunakan sebagai sumber air baku untuk air bersih dan mampu menghasilkan air sebanyak minimal 400 liter setiap hari per keluarga atau harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekitarnya.
g. SumurPompa Tangan (SPT)
SPT adalah sarana penyediaan air bersih berupa sumur yang dibuat dengan membor tanah pada kedalaman tertentu sehingga diperoleh air sesuai dengan yang diinginkan.
Pengambilan air baku dilakukan dengan menghisap atau menekan air kepermukaan tanah dengan menggunakan pompa yang digerakkan dengan tangan dan biasa disebut dengan pompa tangan.
h. Penampungan Air Hujan (PAH)
Yang dimaksud dengan PAH adalah tangki untuk menampung dan menyimpan air hujan yang akan dipergunakan selama musim kemarau dengan sistem individual.
Fungsi utama tangki ini adalah untuk menampung air hujan yang ditangkap oleh atap rumah dan disalurkan melalui talang pada musim hujan dan akan digunakan pada musim kemarau. Disamping itu tangki ini juga digunakan untuk menampung air bersih lain seperti dari PDAM yang didistribusikan melalui mobil-mobil tangki. Mengingat kuantitas air yang ditampung terbatas, air ini hanya akan digunakan untuk keperluan air minum saja.
Direncakan untuk memenuhi kebutuhan 1 keluarga (bukan fasilitas umum) dan direncanakan untuk memenuhi kebutuhan air + 30 liter/orang/hari.
i. Prasarana Mandi, Cuci, dan Kakus
Dapat berupa MCK Umum (Komunal) dan Jamban/WC Keluarga (Individual). MCK dapat dibedakan atas 2, yaitu;
- MCK umum permukiman, adalah suatu sarana atau fasilitas umum pada lingkungan pemukiman yang digunakan bersama oleh beberapa keluarga (10 – 25 jiwa), untuk mandi, cuci, dan buang air dilokasi tertentu yang terdiri dari bangunan bawah yang berupa cubluk atau tangki resapan. - MCK pelayanan umum, adalah suatu sarana atau fasilitas umum didaerah
komersial (pasar, pertokoan atau stasiun) yang digunakan bersama oleh beberapa jiwa (10-25 jiwa) untuk mandi, cuci, dan buang air dilokasi tertentu yang terdiri dari bangunan bawah berupa cubluk atau tangki resapan.
j. Prasarana Persampahan
Prasarana persampahan yang dimaksudkan disini adalah prasarana persampahan dilingkungan permukiman yang mencakup rumah sampah (termasuk TPS) dan Gerobak sampah.
k. Prasarana Kesehatan
Kegiatan yang berkaitan dengan upaya kesehatan yang berbasis masyarakat (UKBM) yang dikembangkan dalam PNPM Perkotaan antara lain: Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pos Bersalin Desa (Polindes), dalam cakupan layanan wilayah kelurahan/desa.
Seluruh kegiatan yang berkaitan dengan perbaikan atau renovasi atau pembangunan baru prasarana pelayanan kesehatan disini harus dikoordinasikan (termasuk desain dan penataan ruang) dan tidak bertentangan dengan kebijakan/perencanaan umum dari dinas Kesehatan/sektor terkait di daerah.
l. Prasarana Pendidikan
Kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan sarana/prasarana pendidikan disini diprioritaskan pada perbaikan atau renovasi pembangunan baru prasarana pendidikan yang ada ditingkat kelurahan/desa, mencakup renovasi/pembangunan baru bangunan Taman Kanak-kanan (TK), Renovasi Sekolah Dasar/Madrasah, dan Sekolah Menengah Pertama/MTs. Seluruh kegiatan yang berkaitan dengan perbaikan atau renovasi prasarana pendidikan disini harus
dikoordinasikan dan tidak bertentangan dengan kebijakan/perencanaan umum dari dinas/sektor terkait di daerah
m. Prasarana Perumahan/Permukiman
Prasarana/kegiatan lingkungan permukiman yang dibangun dalam PNPM merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat individu bagi masyarakat miskin, misalnya perbaikan dan pembangunan prasarana rumah tangga (renovasi rumah warmis, dll).
n. Prasarana Penerangan Umum
Prasarana/kegiatan lingkungan penerangan umum yang dibangun dalam PNPM merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat umum/kepentingan umum bagi masyarakat miskin yang pengelolaannya dilakukan sendiri oleh masyarakat, bentuk kegiatannya dibatasi pada penerangan jalan/tempat umum (Tiang + Lampu) dan Pembangkit Listrik (Genset/PLTM + Jaringan + Rumah Genset).
o. Prasarana Perdagangan
Prasarana/kegiatan Perdagangan yang dibangun dalam PNPM Mandiri Perkotaan merupakan jenis prasarana/kegiatan yang bersifat umum/kepentingan umum bagi masyarakat miskin, misalnya Pasar Desa (termasuk Kios didalamnya) dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
p. Tambatan Perahu
Yang dimaksud dengan tambatan perahu adalah tempat untuk mengikat/ menambat perahu-perahu saat berlabuh.
Fungsi tambatan perahu sebagai tempat untuk mengikat perahu saat berlabuh dan tempat penghubung antar 2 tempat yang dipisahkan oleh laut, sungai maupun danau.
- Terdapat 2 tipe tambatan perahu; terdiri dari :
- Tambatan tepi, digunakan apabila dasar tepi sungai atau pantai cukup dalam, dibangun searah tepi sungai atau pantai.
- Tambatan dermaga, digunakan apabila dasar sungai atau pantai cukup landai, dibangun menjalar ketengah.
Secara lebih rinci pengelompokan prasarana dan jenis komponen kegiatan lingkungan beserta satuan pengukurannya sebagaimana diuraikan pada diagram berikut :
3. PRASARANA DASAR INFRASTRUKTUR
a. Prasarana Dasar : JALAN
1. Fungsi Jalan
- Meningkatkan hubungan kegiatan ekonomi - Mempercepat akses
2. Kriteria Jalan
- Bermanfaat bagi masyarakat banyak
- Kualitas Jalan : Bahan memenuhi syarat dan pengawasan pekerjaan - Dilaksanakan dengan partisipasif masyarakat
- Tidak mengganggu lingkungan 3. Jenis-Jenis Jalan Yang Umum
- Jalan konstruksi Telford dengan lebar min > 2,5 m s/d 3,0 m - Jalan konstruksi Telasah dengan lebar min > 2,5 m s/d 3,0 m - Jalan konstruksi Sirtu dengan lebar min > 2,5 m s/d 3,0 m - Jalan konstruksi Rabat Beton dengan lebar minimal > 2,0 m
Jalan konstruksi aspal hanya diijinkan pada daerah yang mantap dan tanjakan jalan baru > 12%, maksimum 150 m.
4. Perkerasan Jalan Konstruksi Perkerasan
Penggunaan Keuntungan Kerugian
Telford - Pada daerah datar & pegunungan
- Tanah lunak & keras
- Konstruksi Kuat - Mudah
perbaikannya
Tidak semua desa mudah
mendapatkan batu belah Telasah Pada tanjakan tajam Permukaan lebih Baik
dari pada Konstruksi telford
- Sulit diaspal - Perlu tenaga
Sirtu - Pada tanah datar - Daerah pantai
Mudah pelaksanaanya - Harus digilas - Mudah tererosi Rabat Beton - Tanah Labil - Mudah pecah - Lembek - Pada tanjakan - Singkapan batu - Awet - Mudah perbaikannya - Mahal Aspal Tanjakan > 12% Maks. 150 m tiap tanjakan Permukaan lebih halus/baik - Mahal - Perawatan susah
5. Tahapan Pembuatan Jalan (pada jalan yang sudah ada) Contoh : Perkerasan Telford.
• Pembuatan / Pembukaan badan jalan - Penentuan As jalan
- Pengukuran lebar perkerasan
- Pemasangan patok untuk batu pinggir - Pembersihan lapangan
- Pekerjaan galian dan timbunan - Pembuatan punggung sapi - Pemadatan badan jalan • Pemasangan lapisan bawah/pasir • Pembuatan perkerasan jalan • Pemadatan lapisan perkerasan • Pemasangan lapisan penutup
Tabel 2.2. Perkerasan jalan
6. Survey Pengukuran Lapangan
a. Survey Orientasi : Ketajaman tanjakan dan turunan, Drainase, Jenis Tanah, Alternatif trase jalan, Material yang bisa didapat disekitar jalan, Informasi sumber-sumber bahan
b. Survey Detail : Mempersiapkan catatan, Membuat catatan perbaikan badan jalan, Membuat sket bangunan pelengkap disertai dengan ukurannya, Memasang patok ukur
c. Surey Geometrik : Pengukuran memanjang dan melintang, Denah situasi/peta jalan, Pada daerah yang tidak standar agar dibuatkan gambar potongan melintang sendiri
7. Penyusutan Material
- Berubah dan kondisi asli ke padat - Terbuang, hilang atau tidak terpakai
Kebutuhan = (Volume) x (Faktor Penyusutan)
No. Jenis Material Faktor Penyusutan
1. Pasir 1,34
2. Tanah biasa 1,25
3. Lempung 1,25
4. Batu Belah 1,3
5. Batu koral/batu kapur 1,3
6. Bata 1,02 – 1,05
7. Besi 1,10
Tabel 2.3. Penyusutan Material
Contoh:
Kebutuhan batu Telford sepanjang 100 m, lebar 3 m dan tebal 20 cm
Batu belah yang dibutuhkan untuk perkerasan adalah : 100 m x 3 m x 0,2 m x 1,3 = 78 m3.
8. Bangunan Pelengkap Jalan - Saluran Samping - Gorong-gorong - Perlindungan tebing
9. Pemeliharaan Jalan - Inventarisasi masalah
- Waktu inventarisasi masalah waktu sehabis hujan atau pada saat hujan - Waktu pemeliharaan tergantung masalah
10. Jenis Pemeliharaan - Pemeliharan Berkala - Pemeliharaan Rutin
11. Bagian Jalan Yang Perlu Dipelihara - Pemeliharaan Drainase (saluran pinggir) - Pemeliharaan kebersihan gorong-gorong - Pemeliharaan tebing yang longsong - Pemeliharaan permukaan perkerasan jalan - Pemeliharaan bahu jalan
b. Prasarana Dasar : JEMBATAN
1. Jenis-jenis Jembatan yang Umum
- Jembatan beton (gelagar beton lantai beton) - Jembatan gelagar besi lantai kayu
- Jembatan gelagar kayu lantai kayu
2. Langkah-Langkah Survey
- Mengumpulkan informasi mengenai jembatan yang akan dibangun, lebar dan kedalaman sungai, material yang ada disekitar lokasi, situasi dan kondisi disekitar calon dan jembatan.
- Peralatan yang diperlukan, meteran 5 m & 50 m, tali, patok/kayu/bambu, cangkul, dan kertas tulis.
- Tenaga kerja yang diperlukan, satu orang yang dapat berenang, dan satu orang untuk menggali tanah calon pangkal jembatan
- Memilih lokasi jembatan, pada bentang terpendek, pada sungai yang lurus, pada tanah keras, pada tebing sungai yang tidak terlalu tinggi, pada jalan yang ada
- Survey harga bahan dan alat, prinsipnya dicari harga yang murah dengan kualitas yang sama dan harga sewa alat berat perlu diteliti biayanya
- Mengukur tinggi muka air normal dan tinggi muka air banjir didapat dari penduduk sekitarnya
- Memindahkan tinggi ukur MAB, MAN dan dasar sungai pada titik ukur
•
Buat paku pada pohon atau tempat yang kokoh•
Ukur ketinggian Muka Air Survey terhadap paku•
Hitung ketinggian jarak dasar sungai dari paku = MAS + Dalam sungai•
Ukur MAN & MAB terhadap paku•
Tentukan tinggi bebas jembatan- Menentukan letak kedalaman pondasi, harus diletakan pada tanah keras, dan minimal 1 m dibawah dasar sungai.
3. Langkah-Langkah Desain
- Batasan-batasan pokok jembatan
No. Kriteria/Kondisi Sifat Aliran
Tinggi bebas dari MA Banjir
J. Kayu (M) J. Gjg Besi (M) J. Beton (M) J. Pelengkung (M) Gambar 2.4. Survey titik ukur jembatan
1. Saluran Irigasi Tenang 0,5 0,5 0,5 p + 0,5 2. Sungai di daerah dataran Tenang Deras 0,6 1 0,6 1 0,6 1 p + 0,5 p + 1 3. Sungai didaerah pegunungan Tenang Deras 1 1,5 1 1,5 1 1,5 p + 1 p + 1,5
- Prinsip pemilihan konstruksi jembatan: Dipilih konstruksi yang murah; Mudah dilaksanakan dan dirawat oleh masyarakat; Banyak menyerap bahan dan tenaga lokal; sesuai dengan kebutuhan dan bukan keinginan. - Memilih konstruksi jembatan
Keterangan J. Kayu Glg. Kayu Lt. Kayu J. Besi Glg. Besi Lt. Kayu J.Beton Glg. Beton Lt. Beton J. Pelengkung Plk. Beton Tabel 2.4. Batasan-batasan pokok jembatan
Sumber: Pembekalan Teknis Prasarana Dasar Lingkungan
Gambar 2.5. Batasan-batasan pokok jembatan
Lalu lintas Sedang Berat Berat Berat Berat Bentang Untuk roda 4
max 6 m Untuk roda 4 max 16 m Untuk roda 4 max 6 m Untuk roda 4 max 12 m
Kenyamanan Cukup Cukup Nyaman Nyaman
Harga Murah bila
banyak kayu
Sedang Mahal Sedang
Pengawasan pelaksanaan
Sedang Sedang Teliti Sedang
Pelaksanaan Sedang Mudah Sedang Mudah
Keawetan Sedang Awet bila dirawat
Awet bila stabil
Awet bila stabil
- Bangunan Atas Jembatan: Petunjuk Teknis DPU; Petunjuk lain yang bisa dipertanggung jawabkan; Pada jemb. Kayu dan lantai jemb.kayu minimal menggunakan kayu :
• Mutu A
• Klas Kuat II, Klas awet II
Ukuran papan lantai Jemb. Kendaraan
roda 2
Jemb. Kendaraan roda 4
a. Papan jalur roda 1. Lebar
2. Tebal
Tidak diperlukan 3 x 20 cm
5 cm b. Papan lantai jemb.
1. Lebar 2. Tebal Minimum 20 cm Minimum 5 cm Minimum 20 cm Minimum 8 cm Tabel 2.5. Prinsip pemilihan konstruksi jembatan
Sumber: Pembekalan Teknis Prasarana Dasar Lingkungan
Tabel 2.6. Bangunan Atas Jembatan
- Bangunan Bawah Jembatan Perkiraan daya dukung tanah
Jenis Tanah Daya Dukung (ton/m2)
1. Lempung lunak keras 2. Pasir halus kurang padat 3. Pasir kasar kurang padat 4. Cadang pasir 5. Batu pasir 6. Batu beku 5 – 30 7,5 – 12,5 10 – 40 +/- 40 +/- 80 +/- 100
Tabel 2.7. Perkiraan daya dukung tanah
Sumber: Pembekalan Teknis Prasarana Dasar Lingkungan
Gambar 2.6. Perkiraan dimensi jembatan
T = 1,5 + MAB + Tinggi Bebas + Tinggi Gelagar + Tebal Lantai
Perkiraan dimensi pangkal jembatan A = 0,2 – 0,3 T
B = 0,4 – 0,7 T D = 0,17 – 0,25 T K = 0,1 T
4. Pembuatan RAB
RAB dibuat berdasarkan :
- Perhitungan volume hasil desain - Perhitungan material/Analisa
- Harga bahan dan alat didasarkan dari survey 5. Langkah-langkah Pelaksanaan
- Pasang patok ukur
- Gali tanah mencapai tanah keras/minimal 1 m dibawah dasar sungai - Buat pasangan pangkal jemb. Dan hentikan pekerjaan bila berada
diatas air
- Pembuatan pasangan harus memanfaatkan musim kering/saat air sungai surut
- Pasang angkur untuk tumpuan beton 6. Pengawasan Pelaksanaan
- Galian pondasi apa sudah mencapai kedalaman - Periksa apa pangkal jemb. Sudah rata
- Sebelum pengecoran apa pembesian sudah benar - Tenaga kerja dari desa sendiri kecuali tenaga ahli
7. Pemeliharaan
- Perbaikan pasangan yang rusak - Pergantian kayu yang lapuk - Pengecatan besi
c. Prasarana Dasar : MANDI CUCI KAKUS (MCK)
1. Prinsip Pemilihan Prasarana MCK - Sumber air terjamin
- Lokasinya dekat dengan pemakai - Limbah tidak mengganggu lingkungan - Konstruksi sederhana
- Kuat dan tahan lama - Perawatan mudah
- Satu unit MCK untuk +/- KK terdiri dari 2 KM, 2 WC, 1 bak cuci, 1 TCU
2. Bagian-Bagian MCK
- Sumber Air: Tidak berasa, berbau, berwarna dan jernih; Debit cukup, 10 KK minimal 0,5 lt/dt; Dapat tersalur ke KM, WC dan TCU. - KM dan WC: KM dan WC boleh tanpa atap; Terang, sinar masuk;
Ventilasi udara; Ukuran minimal KK 2 m2, bak 0,5 m3; Ukuran minimal WC 1,5 m2, bak 0,1 m3; Lantai tidak licin; KM/WC laki perempuan terpisah
- Tempat Cuci Umum (TCU): TCU boleh beratap atau terbuka; Terdiri dari bak air dan lantai cuci; Luas lantai cuci minimal 1 m2/KK; Ukuran bak air minimal 0,2 m3/KK; Lantai tidak boleh licin.
3. Satuan pembuang air limbah
- Saluran mengalir dengan lancar
- Jarak 8 m dari sumur dibuat saluran pasangan - Limbah dibuang keluar pemukiman
4. Septick tank dan peresapan
- Septick Tank, Gunanya untuk mematikan bakteri, terbuat dari : • pasangan batu atau bata, plesteran 1 PC : 3 pasir
• Beton campuran 1 semen 2 pasir 3 kerikil • Ukuran tergantung jumlah pemakai :
Perhitungan Volume Septick Tank
Jumlah Pemakai (U)
KK
Volume septick Tank (V) meter kubik Umur Septick Tank (waktu pengurasan) (P)
tahun 3 5 7 10 2,1 3,1 4,1 15 3,15 4,65 6,15 20 4,2 6,2 8,2 25 5,25 7,75 10,25 30 6,3 9,3 12,3 40 8,4 12,4 16,4 50 10,5 15,5 20,25 Catatan :
Tabel 2.8. Perhitungan Volume Septick Tank
Air Gelontor : 30 liter/KK/hari Endapan Lumpur kotoran : 50 liter/KK/tahun Waktu pelumpuran : 2 hari
Rumus : V = QxUxT = UxLxP
- Peresapan, gunanya untuk membuang air limbah dari septick tank, terbuat dari : Dibuat dari pasangan batu/bata tanpa plesteran; Jarak minimal resapan dengan sumur :
a. Tanah lembung : 6 m b. Tanah normal : 8 m c. Tanah berpasir : 25 m - Posisi resapan harus dibawah sumur - Ukuran tergantung jumlah pemakai:
DAYA RESAP TANAH
Jenis Tanah Kecepatan Daya Resap Liter/m2/hari
Kecepatan Daya resap Rata-rata Liter/m2/hari
Pasir 22 – 35 28,75
Lempung 16 – 19 17,5
Tanah liat 13 – 14 13,5
5. Tata letak MCK
- Disesuaikan dengan lahan - Dekat sumber air
- Relative dekat pemakai
6. Pemeliharaan MCK
Tabel 2.9. Daya Resap Tanah
- Dibentuk penanggungjawab antar pemakai
- Kerusakan yang sering terjadi pada pintu dan kran - Pengurasan Septick tank
d. Prasarana Dasar : AIR BERSIH
1. Tujuan Pembangunan Sarana Air Bersih - Meningkatkan kesehatan masyarakat
- Memberdayakan masyarakat dalam pembangunan sarana air bersih dan kesehatan lingkungan
- Meningkatkan efisiensi waktu dan pemanfaatan air bersih yang efektif
2. Jenis-Jenis Sumber Air Bersih
- Air permukaan: Sungai, saluran irigasi, dan waduk - Mata air : Artesis
- Air Tanah: Air tanah dangkal (kurang dari 20 m); Air tanah dalam (lebih dari 20 m)
- Air Hujan, khusus bagi daerah yang sulit mendapatkan air
Evaluasi Kualitas Air
Param eter
Masalah Kualitas
Pengelolaan Kesimpulan
BAU Bau Tanah Kemungkinan dengan saringan karbon aktiv
Mungkin bisa dipakai, perlu pengolahan & percobaan Bau Besi Airasi + saringan pasir
lambat
Bisa dipakai dengan pengolahan
Bau Sulvur Kemungkinan Airasi Kalau sangat bau tidak bisa dipakai, kalau baunya sedikit bisa dengan pengolahan Bau yang
lain
Tergantung jenis bau Tidak bisa dipakai kecuali dengan percobaan yang
berhasil
RASA Asin /
Payau
Tidak mungkin Tergantung kadar CI dan pendapat masyarakat Rasa Besi Airasi + saringan pasir
lambat
Bisa dipakai dengan pengolahan
Rasa Tanah tanpa kekeruhan
Kemungkinan dengan saringan karbon aktiv
Mungkin bisa dipakai, perlu pengolahan, & percobaan
Rasa lainnya
Tergantung jenis rasa Tidak bisa dipakai kecuali dengan percobaan yang berhasil KEKER UHAN Kekeruhan Sedang, coklat dari lumpur
Saringan pasir lambat Bisa dipakai dengan pengolahan Kekeruhan Tinggi, coklat dari lumpur Dengan pembubuhan PAC
Bisa dipakai dengan pengolahan
Putih Dengan pembubuhan PAC
Bisa dipakai dengan
pengolahan terlebih dahulu Agak kuning sesudah air sebentar di ember Airasi + Sistem saringan pasir
Mungkin bisa dipakai perlu pengolahan percobaan WARN A Coklat tanpa kekeruhan Mungkin dengan saringan karbon aktiv
Bisa dipakai dengan pengolahan
Putih Mungkin dengan pembubuhan PAC
Bisa dipakai dengan
pengolahan terlebih dahulu Lainnya Tergantung jenis
warna
Mungkin bisa dipakai perlu pengolahan percobaan
3. Tahap Perencanaan Air Bersih - Data Umum Desa + peta desa
- Kondisi sarana air bersih yang ada saat ini - Jarak umber air yang ada dengan pemakai
Tabel 2.10. Evaluasi Kualitas Air
- Pemilihan eknologi - Kesiapan masyarakat
- Gambar sketsa jarak, perkiraan ketinggian rencana lokasi prasarana dan daerah pelayanan
4. Kriteria Perencanaan Air Bersih
- Prasarana dengan sistem yang sederhana - Memenuhi persyaratan teknis
- memanfaatkan bahan setempat 5. Bagian Dari Sarana Air Bersih
- Bak Penampung: Sebagai penampung/penyimpan air; Mengatasi naik turunnya kebutuhan air; Memperbaiki mutu air melalui pengendapan.
- Bak Penangkap Air.
- Mata Air: Mengumpulkan air dari mata air dan sebagai pelindung air - Air Permukaan Sungai.
- Pipa Distribusi, Suatu jaringan perpipaan yang berfungsi mengalirkan air bersih menuju daerah pelayanan.
6. Pompa Untuk Air Bersih Pembagian pompa :
- Menurut dalamnya air yang diambil: Pompa sumur dalam dan Pompa sumur dangkal
- Menurut jenis air yang diambil: Pompa air bersih dan Pompa sumur dangkal
SURVEY
- Jumlah penduduk yang dilayani untuk menghitung Debit air - Mengukur beda tinggi
- Panjang pipa yang akan digunakan - Menghitung jumlah belokan DESAIN
- Menghitung debit air, untuk pedesaan 30 – 60 liter/orang/hari. Kebutuhan air harus diperkirakan dengan kenaikan jumlah penduduk - Untuk mengukur beda tinggi bisa dengan selang, untuk menentukan
kapasitas pompa
- Menghitung panjang pipa dan jumlah belokan - Pemilihan Jenis Pompa, didasarkan pada - Pengambilan air
Untuk air dalam tanah
- Sumur Dalam : sebaiknya diserahkan pada ahli pengeboran. Debit sumur harus lebih besar dari kapasitas pompa
- Sumur dangkal : dapat berupa sumur gali atau bor dengan peralatan manual
Untuk air ditempat terbuka
- Mata Air : dibuatkan perlindungan mata air - Sungai : Untuk irigasi
e.
Prasarana Dasar : RUMAH TINGGAL1. Pengertian Rumah Tinggal (Yang Sehat)
- Mempunyai tata ruang yang terorganisasi, yaitu mempunyai susunan tata ruang menurut area kebutuhan ruang untuk penghuni. Kebutuhan tersebut bisa dibedakan dengan adanya kebutuhan ruang untuk pribadi (private), ruang untuk keluarga (semi private) dan ruang untuk Umum (Publik) :
• Ruang pribadi, bisa diartikan dalam bentuk ruang untuk istirahat pribadi yaitu kamar tidur.
• Ruang keluarga, bisa di artikan ruang yang umumnya sering di gunakan untuk keluarga, bisa berupa ruang untuk santai / istirahat, ruang untuk makan, ruang untuk ibadah (mushollah), kamar mandi & WC, dapur, ruang cuci, dsb).
• Ruang untuk umum, yaitu ruang yang dibuat khusus untuk menerima orang dari luar keluarga atau biasa disebut sebagai ruang tamu
- Sinar Matahari bisa masuk secara langsung ke tiap-tiap ruangan agar ruangan bisa memperoleh udara panas dan menghilangkan kelembaban - Ruangan di dalam rumah tidak lembab karena kelembaban cenderung
menimbulkan jamur secara cepat
- Bahan yang digunakan aman bagi penghuni/tidak mudah rusak dan keropos, tidak mengandung racun atau mudah berjamur. Bahan bangunan yang berbahaya atau mudah patah berisiko mencelakan atau
bisa mencederai penghuni rumah, dan bahan yang mengandung racun serta mudah berjamur menimbulkan penyakit bagi penghuni, meskipun gejalanya timbul setelah bertahun-tahun kemudian (kanker, jamur kulit).
- Adanya pepohonan/tanaman di sekitar rumah (sebagai buffer) berfungsi sebagai sumber oksigen, penahan angin, dan terik sinar matahari.
2. Jenis Model Rumah - Rumah Tradisional
Dalam perencanaan dan pembangunan rumah tradisional sudah ada aturan-aturan adat yang pakem yaitu aturan-aturan tidak tertulis yang tetap dipatuhi dan dijalankan. Rumah tradisional terwujud melalui proses kebudayaan daerah setempat, yang mengutamakan kepentingan bermasyarakat.
Pada rumah tradisional bisa dipastikan akan dengan mudah ditemui ruang tamu yang lebih luas bila dibandingkan dengan ruang-ruang lainnya yang ada di alam rumah tersebut. Hal tersebut dikarenakan pada masyarakat dahulu (masyarkat adat) sering adanya hari-hari untuk memperingati hari peristiwa keluarga misalnya hari kelahiran, pernikahan, kematian, musim tanam padi, musim panen dan sebagainya. Dan untuk bisa menampung tamu yang banyak diperlukan suatu ruangan yang lebih luas.
Untuk kebutuhan susunan dan ukuran (panjang, lebar, tinggi) ruang rumah tradisional sudah ada ketentuan yang mengikat dan biasanya dipakai ukuran badan penghuni rumah (depa, kilan, siku). - Rumah Modern / Masa kini
Pada model rumah modern atau rumah masa kini aturan yang fleksibel atau aturan-aturan yang bisa tidak mengikat atau bisa berubah.
Kebutuhan ruang-ruang di dalam rumah-rumah modern bisa disesuaikan dengan kebutuhan menurut selera penghuni dan ukuran besar dan luas ruang juga tidak ada ketentuan ukuran yang mengikat. Sistim ukuran biasa dipakai meter dan sentimeter. Ketentuan kebutuhan ruang dan tata letak ruang dalam rumah modern dipakai aktifitas penghuni (aktifitas keluarga).
3. Perletakan Bangunan Rumah
Perletakan bangunan yang ideal dan menunjang kesehatan bagi penghuni rumah bisa ketahui dengan letak bangunan terhadap areal tanah sekitarnya, dimana rumah:
- Rumah terletak didaerah tanah datar dan tidak didaerah yang rawan longsor, erosi, genangan air dan dekat listrik tegangan tinggi.
Daerah yang berbahaya bisa mengancam keselamatan penghuni rumah. Perasaan khawatir dan tidak tenang sangat mempengaruhi bagi pertumbuhan jiwa penghuni rumah.
- Ada akses jalan menuju lokasi bangunan rumah. Pencapaian yang mudah bisa menghemat tenaga dan biaya.
- Bangunan rumah bisa menerima sinar matahari langsung atau bangunan tidak terhalang bangunan lain.
- Bangunan rumah tidak berada sangat dekat dengan jalan raya. Keramaian suara kendaraan yang bising terus-menerus mempengaruhi ketenangan dan bisa mengurangi waktu kebutuhan untuk istirahat. - Bangunan rumah tidak berada di daerah industri atau pabrik. 4. Struktur Bangunan
Struktur bangunan adalah bagian-bagian bangunan secara keseluruhan, mulai dari alas, penyanggah, dan penutup. Bagian-bagian tersebut bisa dibedakan dengan :
- Pondasi dan lantai (alas)
• Pondasi dan lantai bangunan mempunyai ketinggian terhadap tanah disekitarnya
• Lantai rumah harus selalu kering dan diusahakan lantai tidak dari tanah (tanah mengandung banyak bakteri dan bibit penyakit)
- Dinding (Penahan)
Dinding mampu menahan beban atap dan tekanan angin. Beban atap yang besar bila tidak diimbangi dengan konstruksi dan bahan yang kuat bisa menimbulkan kemiringan bentuk rumah di kemudian hari. - Atap (Penutup)
• Atap harus bisa mengalirkan air hujan secara langsung. Air hujan yang cepat mengalir dan terbuang menjadikan atap cepat kering dan memperpanjang keawetan atap.
• Atap mempunyai kemiringan sudut antara 45” s/d 50 derajat. Sudut 45” s/d 50” merupakan sudut kemiringan atap yang ideal untuk daerah-daerah tropis lembab, karena daerah ini mempunyai curah hujan yang paling lama dibandingkan daerah-daerah lain.
5. Kenyamanan Bangunan
Kenyamanan bangunan sangat diperlukan dan perlu untuk direncanakan secara menyeluruh pada tiap-tiap ruangan, untuk itu perlu diperhatikan hal-hal seperti:
- Pada tiap sisi bangunan terdapat bukaan. Bisa berupa pintu, jendela, atau angin-angin untuk aliran penghawaan udara alami dan tata letak bukaan diusahakan bersilangan agar udara bisa masuk secara optimal. Udara yang mengalir secara bersilangan menggantikan udara didalam ruangan dan selalu menjadi udara bersih.
- Ruangan bisa memperoleh cahaya alami pada siang hari, dengan mengadakan bukaan di dinding atau atap.
Bila bukaan dimasing-masing sisi bangunan tidak dimungkinkan, maka bisa dengan membuat bukaan diatap bangunan (bukaan dengan kaca yang diteruskan lewat plafon) agar sinar matahari yang masuk
bisa menggantikan kebutuhan sinar lampu yang diperlukan pada siang hari.
- Ruangan mempunyai ukuran luas dan ketinggian yang signifikan dengan kebutuhan dengan kondisi daerah setempat (pegunungan/pantai). Untuk rumah-rumah di Indonesia ketinggian yang ideal adalah 3,5 meter s/d 4 meter. Ketinggian ruang yang cukup bisa menghadirkan suasana yang nyaman, karena kepengapan udara didalam ruangan rumah bisa dihindarkan.
6. Kebutuhan Ruang dan Luas Ruang
- Kebutuhan luas ruang untuk hunian atau permukiman tiap negara diseluruh dunia tidak sama. Kondisi fisik manusia dan keberadaan tanah yang tersedia tiap negara sangat mempengaruhi hal tersebut. Pada pertemuan Habitat II di Kanada / 1996 (perkumpulan pemerhati lingkungan & permukiman Internasional), untuk kebutuhan minimum ruang tiap orang diperkirakan 9 meter persegi per orang. Untuk Indonesia diperkirakan 1 orang masih bisa memperoleh minimum 10 meter persegi. Jadi bila dalam 1 (satu) keluarga terdapat 4 anggota, maka kebutuhan minimum adalah 4 x 10 meter persegi = 40 meter persegi.
- Kebutuhan Ruang Rumah Tinggal : • Ruang Tamu
• Kamar Tidur • Ruang Keluarga
• Kamar Mandi & WC • Dapur
• Gudang
• Ruang Cuci & Tempat Jemuran
- Luas Bangunan adalah jumlah luas kebutuhan ruang
• Luas bangunan adalah luasan daerah yang terbangun didalam area rumah
• Luas bangunan yang ideal adalah 40% dari luas area yang tersedia dan 60% untuk area terbuka, termasuk untuk taman rumah. Misalkan, bila tersedia area/lahan untuk rumah seluas 200 meter persegi, maka untuk area terbangun yang ideal adalah 40% dari 200 meter adalah 80 meter persegi dan sisanya untuk area terbuka.
Secara umum lulusan JPTA yang bekerja dalam bidang Infrastruktur pada
PNPM Mandiri Perkotaan sesuai dengan lingkup pekerjaan diatas
mempunyai kompetensi sebagi berikut:
- Mampu membimbing masyarakat dalam merencanakan kegiatan
- Mampu melatih dan membimbing masyarakat dalam membuat proposal kegiatan yang baik dan mampu direalisasikan.
- Mampu melatih dan membimbing masyarakat dalam menyusun rencana anggaran biaya (RAB).
- Mampu melatih dan membimbing masyarakat dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi yang dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan unit pekerjaan sesuai yang dibutuhkan masyarakat pada saat itu.
- Mampu melatih dan membimbing masyarakat dalam merancang (membuat gambar kerja) jalan, jembatan, MCK, air bersih, dan rumah tinggal yang memenuhi standar keamanan, keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan. - Mampu melatih dan membimbing masyarakat untuk melaksanakan
pemantauan dan monitoring dalam tahap pelaksanaan kegiatan.
- Mampu melatih dan membimbing masyarakat dalam membuat laporan kegiatan secara transparan dan dapat dipertanggung jawabkan.
4. LULUSAN JPTA YANG BEKERJA DI PNPM MANDIRI
Lulusan Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur yang bekerja di PNPM Mandiri dalam bidang konstruksi dan lingkungan.
NO NAMA JABATAN CABANG JENJANG LEMBAGA
1 Abdul Rivai Tahir Faliba Fasilitator Kota Bandung S1 UPI 2 Andri Hendradi Fasilitator Kab. Tasikmalya S1 UPI
3 Ari Supriyono Fasilitator Kab. Majalengka S1 UPI
4 Arif Binatika Fasilitator Kab. Bandung S1 UPI
5 Asep Suprihatin Fasilitator Kab. Bandung S1 UPI
6 Cindy Permatasari Fasilitator Kab. Tasikmalya S1 UPI
7 Citra Nuraida Fasilitator Kab. Bandung S1 UPI
8 Dian septiani Fasilitator Kab. Bogor S1 UPI
9 Hendi Sopandi Fasilitator Kab. Tasikmalya S1 UPI
10 Hendri Gunawan Fasilitator Kota Bandung S1 UPI
11 Hendri Mulyani Fasilitator Sukabumi S1 UPI
12 Ida Sundayani Fasilitator Kab. Bandung S1 UPI
13 K. Savitri Sardjono Fasilitator S1 UPI
14 Mira Rahayu Fasilitator Kab. Bogor S1 UPI
15 Nitih Indra Komala Dewi Fasilitator Kota Bandung S1 UPI
16 Riki Hadi Fasilitator Garut S1 UPI
17 Soleh Fasilitator Kab. Purwakarta S1 UPI
18 Wahyudin Ramdani Senior
Fasilitator Kab. Bogor S1 UPI
19 Yan Nurcahya Fasilitator Kab. Bogor S1 UPI
20 Yayah Darsiyah Fasilitator Sukabumi S1 UPI
21 Yedi Hudaya Fasilitator Garut S1 UPI
22 Yulianti Sandra Fasilitator Kab. Bandung S1 UPI
Tabel 2.11. Data Entry SPK Maret-Jun 09 Sumber: PNPM Mandiri Jawa Barat