• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

F. Sifat Fisik Emulsi Tonik rambut

1. Daya sebar

Gambar 17. Grafik hubungan antara VCO (kanan) dan sorbitol (kiri) terhadap daya sebar emulsi tonik rambut

Berdasarkan gambar 17, semakin banyak sorbitol yang digunakan dalam formula dengan penggunaan VCO level rendah maupun tinggi akan menurunkan daya sebar emulsi tonik rambut tetapi kurang signifikan berpengaruh dibanding VCO. Faktor VCO akan menurunkan daya sebar emulsi secara signifikan. Semakin banyak VCO yang digunakan dalam formula dengan penggunaan sorbitol level rendah maupun tinggi akan menurunkan daya sebar emulsi tonik rambut. Hal ini dikarenakan komponen

4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00 0 10 20 30 D a y a S eb a r (c m ) Sorbitol (g) Grafik Hubungan antara Sorbitol dan

Daya Sebar Emulsi Tonik Rambut

VCO Level Rendah VCO Level Tinggi

4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00 0 10 20 30 40 D a y a S eb a r (c m ) VCO (g)

Grafik Hubungan antara VCO dan Daya Sebar Emulsi Tonik Rambut

Sorbitol Level Rendah Sorbitol Level Tinggi

penyususun VCO yang terdiri dari asam lemak rantai sedang/MCFA dapat meningkatkan viskositas emulsi. Efek interaksi bernilai positif yaitu interaksi VCO dan sorbitol dapat meningkatkan daya sebar emulsi. Hasil perhitungan dengan software Ubuntu-10.04_DesFaktor-0.9 dengan ANOVA taraf kepercayaan 95% adalah sebagai berikut :

a. Hasil uji statistik model persamaan

multiple R-squared= 0,4271;p-value= 0,1944

Model persamaan : y = 12,794733 – 0,21067 (a) – 0,216837 (b) + 0,006953 (a) (b)

Hasil uji statistik tersebut menunjukkan bahwa multiple R-squared = 0,4271 dimana r < r8(.05) = 0,632 (De Muth, 1999) sehingga korelasi tidak signifikan dan persamaan menjadi tidak valid. Menurut Roundtree (1981), syarat linearitas yang baik yaitu 0,70-0,90 (strong, high, marked) dan >0,90 (very strong, very high) (De Muth, 1999). Nilai p dari hasil uji statistik = 0,1944 > 0,05 sehingga persamaan tidak signifikan/tidak valid. Oleh karena itu, contour plot yang dihasilkan dari persamaan tersebut tidak dapat digunakan untuk membuat contour plot superimposed.

b. Hasil uji statistik ANOVA

Tabel IX. Tabel ANOVA Daya Sebar

Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr (>F)

a 1 3,3919 3,3919 4,6951 0,06213

b 1 0,5550 0,5550 0,7682 0,40631

a:b 1 0,3626 0,3626 0,5019 0,49879

Residuals 8 5,7795 0,7224

Tabel IX menunjukkan hasil bahwa tidak ada faktor yang dominan untuk respon daya sebar nilai Pr(>F) semua faktor pada tabel ANOVA > 0,05 yang berarti tidak ada faktor yang berpengaruh signifikan. 2. Viskositas

Gambar 18. Grafik hubungan antara sorbitol (kiri) dan VCO (kanan) terhadap viskositas emulsi tonik rambut

Berdasarkan gambar 18, semakin banyak jumlah sorbitol yang digunakan dalam formula dengan penggunaan VCO level rendah maupun tinggi akan menurunkan viskositas emulsi tonik rambut. Hal ini disebabkan oleh higroskopisitas sorbitol yaitu dapat meningkatkan kandungan air di dalam sistem emulsi sehingga akan menurunkan viskositas sistem emulsi. Semakin banyak VCO yang digunakan dalam formula dengan sorbitol level rendah dan tinggi akan meningkatkan viskositas emulsi. Peningkatan jumlah VCO pada formula dengan sorbitol level rendah tidak berpengaruh signifikan terhadap viskositas dibanding formula dengan penggunaan sorbitol level tinggi. Berdasarkan perhitungan nilai efek, VCO merupakan faktor yang berpengaruh

0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0 10 20 30 V isk o si ta s (d PA s) Sorbitol (g)

Grafik Hubungan antara Sorbitol dan Viskositas Emulsi Tonik Rambut

VCO Level Rendah VCO Level Tinggi

0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0 10 20 30 40 V isk o si ta s (d Pa s) VCO (g) Grafik Hubungan antara VCO dan

Viskositas Emulsi Tonik Rambut

Sorbitol Level Rendah Sorbitol Level Tinggi

signifikan terhadap peningkatan viskositas. Hasil perhitungan dengan software

Ubuntu-10.04_DesFaktor-0.9 dengan ANOVA taraf kepercayaan 95% adalah sebagai berikut :

a. Hasil uji statistik model persamaan

multiple R-squared= 0,7219 danp-value= 0,01297

Model persamaan : y = -0,2933333 + 0,0196667 (a) + 0,0113333 (b) – 0,0005667 (a) (b)

Hasil uji statistik tersebut menunjukkan bahwa multiple R-squared = 0,7219 dimana r > r8(.05) = 0,632 (De Muth, 1999) sehingga korelasi signifikan dan persamaan valid. Menurut Roundtree (1981), syarat linearitas yang baik yaitu 0,70-0,90 (strong, high, marked) dan >0,90 (very strong, very high) (De Muth, 1999). Nilai linearitas yang diperoleh dalam penelitian memenuhi syarat linearitas yang baik dengan kekuatan strong, high, marked. Nilai p dari hasil uji statistik = 0,01297 < 0,05 sehingga persamaan signifikan/ valid. Oleh karena itu, contour plot yang dihasilkan dari persamaan tersebut dapat digunakan untuk membuat contour plot superimposed.

b. Hasil uji statistik ANOVA viskositas

Tabel X. Tabel ANOVA Viskositas Df Sum Sq Mean Sq F Value Pr (>F) a 1 0,037408 0,037408 18,3975 0,002654 **

b 1 0,002408 0,002408 1,1844 0,308153

a:b 1 0,002408 0,002408 1,1844 0,308153 Residuals 8 0,016267 0,002033

Nilai p-value pada respon viskositas signifikan yaitu < 0,05 sehingga data valid tetapi apakah data berpengaruh terhadap respon atau tidak perlu melihat nilai Pr(>F) pada tabel ANOVA. Faktor yang signifikan berpengaruh terhadap respon viskositas adalah VCO yang ditunjukkan oleh nilai Pr(>F) kurang dari 0,05 (faktor tersebut berpengaruh signifikan).

VCO merupakan faktor yang signifikan berpengaruh dalam menentukan viskositas emulsi. Seiring meningkatnya jumlah VCO maka viskositas emulsi yang dihasilkan akan semakin tinggi. VCO dapat meningkatkan viskositas karena kandungan asam lemak rantai sedang terutama asam laurat mengakibatkan terjadinya ikatan van der waalsantara hidrokarbon span 80 dengan rantai hidrokarbon asam lemak dan membuat sistem lebih bulky (Sinko, 2006). Hal ini didukung oleh data viskositas formula (1) dan formula b dimana kedua formula memiliki jumlah sorbitol yang sama yaitu dihasilkan emulsi dengan viskositas yang sama dan daya sebar formula (1) lebih besar daripada formula b. Hal ini dikarenakan penggunaan VCO pada formula b lebih banyak dibandingkan formula (1) sehingga daya sebar formula b lebih kecil dibanding formula (1). Viskositas formula b seharusnya lebih kecil daripada formula (1) karena jumlah sorbitol pada formula b lebih besar daripada formula (1) sehingga peningkatan kandungan air dalam formula b lebih besar daripada formula (1). Akibatnya, viskositas formula b akan lebih kecil daripada formula (1). Namun, hasil yang didapat tidak sesuai dengan teori. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya kontaminasi sediaan selama pengujian dan

penyimpanan yang menyebabkan kenaikan viskositas. Pada formula a dan formula ab dengan jumlah sorbitol yang sama dihasilkan viskositas formula a lebih tinggi dibanding formula ab dan daya sebat formula a lebih besar dibanding formula ab. Formula a seharusnya memiliki viskositas yang lebih kecil dan daya sebar yang lebih besar daripada formula ab karena jumlah VCO yang digunakan lebih sedikit dibanding formula ab. Namun, hasil respon viskositas yang diperoleh tidak sesuai dengan teori. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya kontaminasi sediaan selama pengujian dan penyimpanan yang menyebabkan kenaikan viskositas.

Dokumen terkait