• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dedikasi untuk Daniel Pearl’s dan Para Jurnalis yang Terbunuh (2002- (2002-2007)

Dalam dokumen Analisis semiotik Film a mighty heart (Halaman 89-95)

TEMUAN DATA DAN ANALISA DATA LAPANGAN

III. Dedikasi untuk Daniel Pearl’s dan Para Jurnalis yang Terbunuh (2002- (2002-2007)

23 Januari 2002 merupakan angka kematian bagi Mariane Pearl’s, seorang istri jurnalis Wall Street Journal yang tengah hamil 6 bulan. Sebab, ia mesti menerima kabar buruk yang menimpa suaminya, Daniel Pearl’s. Kabar yang diterimanya melalui sebuah handycam. Daniel menghilang di Pakistan, saat menyelesaikan tugas terakhirnya untuk mewawancarai seorang syeikh. Dan, ia ditemukan di sebuah layar LCD Handycam.

Dalam layar itu ia sedang diwawancarai mengenai identitasnya sebagai seorang Yahudi dan mengungkapkan sebuah pernyataan bahwa Amerika harus menghapuskan, salah satunya kekejian di penjara Guantanamo. Kemudian, setelah beberapa menit kepala Daniel disembelih oleh salah satu oknum militan, yang tidak diketahui sampai kisah mendiang Daniel menjadi sebuah novel dan motion pictures (difilmkan).

Setelah 5 tahun sejak kematian Daniel Pearl’s, sudah 230 jurnalis yang terbunuh dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dan tulisan ini merupakan dedikasi dan penghargaan bagi keberanian mereka. Berikut nama dan tugas jurnalis yang terbunuh dari seluruh belahan dunia, di antaranya6:

a) Issam Hamza Tillawi ( Voice of Palestine/ Rammalah, Palestina/ Sep 22, 2002). Seorang reporter yang sering meliput aksi unjuk rasa masyarakat Palestina kepada Presiden Yasser Arafat atas isolasi Israel.

6

b) Domingos Savio Brandao Lima Junior ( Folha Do Estado/ Brazil/ Sep 30, 2002). Seorang reporter yang bertugas di bidang kriminal, perdagangan obat-obatan dan korupsi pemerintah.

c) Satoru Someya ( Freelance/ Tokyo, Jepang/ Sep 6, 2003). Someya ahli dalam bidang obat-obatan, senjata, operasi perdagangan, terutama mengenai Kabukicho, sebuah area terlarang di Tokyo.

d) Ersa Siregar ( RCTI/ Indonesia/ Des 29, 2003). Ersa, reporter yang diculik saat meliput konflik antara tentara pemerintahan dan GAM ( Gerakan Aceh Merdeka).

e) Simon Cumber (BBC (freelance)/ Al-Suwadi, Saudi Arabia/ June 6, 2004). Pada waktu itu Cumber sedang bertugas membuat film dokumenter “ The House of an al-Queda Militant”, namun ia terbunuh oleh polisi Saudi pada tahun 2004, saat para kru film menyerang. f) Francisco Sovier Ortiz Franco ( Zeta/ Tijuana, Mexico/ June 22,

2004). Ortiz Franco sebagai co-editor di Zeta, kemudian, ia juga aktif dalam investigasi dan panel pemerintahan.

g) Lanka Jayasundara ( Wijaya Publication’s/ Colombo, Srilanka/ Dec 11, 2004). Sebelum terbunuh, Jayasundara sedang meliput kontroversi jadwal konser musik yang dipindahkan berkenaan dengan peringatan hari kematian para pendeta budha.

h) Christian Struwe ( Freelance/ Baghdad, Irak/ Oct 7, 2006). Struwe reporter Deutsche Welle yang sedang melakukan riset perancangan UNICEF di Afghanistan utara untuk film dokumenternya. Struwe terbunuh ketika ada penyerangan di tempat itu.

i) Maksim Maksimon ( Gorod/ St. Petersburg, Rusia/ Nov 30, 2006). Maksimon ialah seorang reporter yang bergerak di bidang investigasi, seringkali ia menulis tentang kriminal dan pemerintahan yang korupsi . Ia hilang di pertengahan 2004 dan baru ditemukan tewas pada tahun 2006 di lapangan St. Petersburg.

j) Hrant Dink ( Agos/ Istanbul, Turki/ Januari 19, 2007). Dink ialah seorang Managing Editor of Bilingual Turkish Armenian di koran Agos. Posisi itu sudah 11 tahun dipegang olehnya. Ia sering membicarakan masalah diskriminasi orang-orang Turki terhadap orang-orang Armenia, dan fokus terhadap pembunuhan orang-orang Armenia sejak abad-20.

Dilihat dari catatan di atas, berdasarkan daftar para jurnalis yang terbunuh pada tahun 2002-2007, kebanyakan dari mereka hilang dan dibunuh karena membela kebenaran dan ingin ditegakkannya kebenaran. Selebihnya, dampak dari faktor ketidaksengajaan. Seperti tertembak peluru nyasar, tenggelam di kapal laut, terkena pukul atau lemparan batu di antara para demonstran.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah mengamati dan menganalisis bab sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan bahwa:

Makna denotasi dari sebuah film yang diangkat berdasarkan kisah nyata ini berawal dari kehidupan Daniel dan Mariane Pearl’s yang dramatis di Pakistan. Kemudian, penculikan dan pembunuhan tragis Daniel yang membuat Mariane berjiwa besar ( A Mighty Heart).

Sedangkan, makna konotasi dari film yang diproduksi Revolution Studio ini Sutradara sengaja mengangkat kinerja jurnalis yang rumit dan perasaan orang-orang yang ditinggal pergi (mati) oleh mereka. Selain itu juga merupakan dedikasi dan penghargaan bagi para jurnalis yang tewas dalam mengemban tugas mereka.

Dan, mitos dari film ini memang diformulasikan dari kisah mendiang Daniel Pearl’s, jurnalis Wall Streer Journal yang hilang diculik di akhir bulan Januari 2002. Daniel, salah seorang jurnalis yang diculik dan dibunuh saat ingin mewawancarai salah satu syeikh yang memiliki hubungan kuat dengan al-Qaeda di Karachi. Menurut CPJ (Committe to Protect Journalist) penculikan dan pembunuhan tragis bukan hanya menimpa Daniel Pearls, tapi ada 7 Daniel lainnya yang tewas mengenaskan seperti itu di Pakistan.

Kemudian, pesan yang paling ingin disampaikan Michael Winterbottom dalam filmnya ini ialah kesabaran, ketabahan dan siap berjiwa besar ketika suatu hari nanti kita ditinggal pergi oleh orang-orang yang kita cintai.

Dan film yang mendapatkan penghargaan ini memang didedikasikan untuk para jurnalis yang berani dan tewas dalam mengungkap kebenaran. CPJ mencatat setelah 5 tahun kematian Daniel Pearl’s dari tahun 2002 - 2007 sudah 230 jurnalis yang diculik dan dibunuh dari seluruh belahan dunia. Untuk itu, film A Mighty Heart hadir sebagai simbol ketabahan orang-orang yang ditinggal pergi oleh mereka ( journalist ).

B. Saran

Saran yang ingin disampaikan penulis untuk film A Mighty Heart ialah: 1. Ada yang penulis sayangkan dalam ini, di beberapa scene saat intelejen

Pakistan meringkus salah seorang penghubung al-Qaeda di sebuah rumah bertingkat sutradara seperti sengaja tidak memberi background sound. Padahal dalam adegan itu menurut penulis sangat relevan untuk diberi background sound, apalagi ada kejar-mengejar dan baku tembaknya. Jadi, walaupun sutradara sudah membuat adegan itu se-dramatis mungkin tetap saja terlihat sepi dan menjadikan adegan itu biasa.

2. Film ini sudah baik berusaha mengikuti alur cerita aslinya, Daniel dan Mariane Pearl’s, namun sayang adegan dramatis penculikan, peng-eksekusian, dan pembunuhan Daniel tidak dibuat dalam film ini. Entah kenapa sang sutradara hanya melihat porsi besar Mariane sebagai seorang istri yang sabar dan tabah (a mighty heart), kemudian sebagian kecilnya penggambaran kenangan bersama Daniel, detik-detik ditangkapnya dan kerja sama antar agensi untuk mendapatkan Daniel kembali. Alangkah lebih baiknya jika sutradara membuat porsi besar juga untuk Daniel, sehingga sempurnalah film itu diberi judul A Mighty Heart.

3. Jika memang film ini penggambaran seorang istri yang berjiwa besar, mengapa sutradara membuat Mariane dalam film berteriak histeris saat mengetahui Daniel terbunuh mengenaskan. Penulis kira adegan histeris itu menjadikan citra Mariane yang sabar, tabah dan berjiwa besar kandas. Penulis rasa Mariane cukup meneteskan air mata untuk menggambarkan kesedihannya, sehingga tidak berlebihan dan citra A Mighty Heart tetap ada.

Dalam dokumen Analisis semiotik Film a mighty heart (Halaman 89-95)

Dokumen terkait