• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL DESA PERKEBUNAN BUKIT LAWANG KECAMATAN BOHOROK KAUPATEN LANGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA

TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Definisi dan Pengaturan Hak Pakai

Hak Pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut dari hasil tanah yang langsung di kuasai oleh Negara atau tanah milik orang lain yang memberi wewenang dan kewajiban yang telah ditentukan dalam keputusan pemberiannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah.

2.6.1 Pihak-pihak yang Dimungkinkan Memperoleh Hak Pakai Atas Tanah di Indonesia

Subjek Hukum yang dimungkinkan memperoleh Hak Pakai atas tanah menurut ketentuan Pasal 42 UUPA, AdalahSebagai berikut; a) Warga Negara Indonesia (WNI).

b)Warga Negara Asing yang berkedudukan/ datang secara berkala ke Indonesia.

c) Badan-badan hukum yang didirikan menurut ketentuan hukum Indonesia dan berkedudukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d)Badan-badan hukum asing/ organisasi asing yang memiliki kantor perwakilan di Indonesia (Pasal 42 UUPA).

Sedangkan menurut ketentuan Pasal 39, PP RI No. 40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah, adalah diatur sedikit lebih luas dari ketentuan yang sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 42 UUPA di atas.

Yang dapat Mempunyai Hak Pakai atas tanah adalah, sebagai berikut ; (a) Warga Negara Indonesia (WNI).

(b) Orang asing yang berkedudukan di Indonesia.

(c) Badan hukum yang didirikan menurut ketentuan hukum Indonesia dan berkedudukan serta mempunyai usaha di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia.

(d) Suatu Departemen, Lembaga Pemerintah non Departemen, dan Pemerintah di daerah, Badan-badan Keagamaan dan Sosial, Badan hukum asing yang mempunyai Perwakilan di Indonesia, Perwakilan Negara Asing (Duta besar Konsul), dan Perwakilan Badan-badan Internasional.26

2.6.2 Pemberian, Perpanjangan Jangka Waktu atau Pembaharuan dan Pelepasan Hak Pakai atas Tanah

Menurut AP. Parlidungan,27

a) Lahan dan Gedung-gedung Pemerintah.

Hak Pakai Pada Prinsifnya terbagi atas 2 bagian, yaitu ;

1. Hak Pakai Publik

Hak Pakai Publik Adalah hak yang diberikan oleh Negara kepada suatu Institusi/ Departemen/ Lembaga/ Badan Hukum tertentu baik Indonesia maupun Asing, yang biasanya diperuntukkan dalam kepentingan umum, yang bercirikan tidak ada pembatasan waktu mutlak untuk jenis Hak Pakai ini, selama lahan dan/ atau bangunan tersebut masih dipergunakan dengan baik dan efektif serta dipergunakan sebagaimana peruntukkannya maka Hak Pakai itu akan tetap berlaku, walaupun masih di mugkinkan terjadinya ruislag (tukar guling).

Contoh :

b)Lahan dan Gedung Sekolah. c) Sarana dan Prasarana Umum.

d)Gedung dan Lahan/ halaman Areal Kedutaan Negara Asing/ Konsulat;

e) Kantor-kantor Perwakilan Organisasi-organisasi Dunia yang bersifat permanen. dan lain-lain.

27

AP. Parlindungan, Hak Pakai Atas Tanah Menurut Sistem UUPA, Mandar Maju Bandung, 1989.

2. Hak Pakai Privat (Khusus)

Hak Pakai Privat adalah hak yang bersifat terbatas, baik waktu maupun luas lahannya, biasanya diperuntukkan untuk kepentingan pribadi atau badan hukum tertentu dalam upaya kepentingan ekonomis/ bisnis, maupun pembangunan dan lainnya.28

1. Menggunakan tanahnya untuk usaha pertanian.

2.6.3 Kewenangan Pemegang Hak Pakai

Kewengan-kewenangan yang diberikan /Negara kepada sipemegang Hak Pakai atas tanah di Indonesia, adalah sebagai berikut :

2. Menggunakan tanahnya untuk mendirikan bangunan.

3. Menggunakan tanahnya untuk membangun rumah tempat tinggal. 4. Dapat menjadikan tanah Hak Pakai ini sebagai jaminan kredit

dengan terlebih dahulu dibebani Hak Tanggungan.

Terkhusus Hak Pakai yang dikuasai oleh Departemen, Lembaga Pemerintah non Departemen, dan Pemerintah di daerah, Badan-badan Keagamaan dan Sosial, Badan Hukum Asing yang mempunyai Perwakilan di Indonesia, Perwakilan Negara Asing, dan Perwakilan Badan/ Organisasi Internasional, tidak dapat dibebani Hak Tanggungan (jaminan pelunasan hutang).

5. Dapat memindah tangankan Hak Pakai ini kepada pihak lain, yaitu berlaku bagi jenis Hak Pakai yang digolongkan sebagai Hak Pakai yang bersifat Privat/ khusus/ primer, sedangkan apabila Hak Pakai itu

diberikan di atas Tanah Hak Pengelolaan/ Hak Milik orang lain, maka wajib ada persetujuan terlebih dahulu dari sipemegang Hak milik/ Hak Pengelolaan tersebut, Hak Pakai jenis ini disebut juga

Hak Pakai Publik/ umum/ Sekunder.29

2.6.4Kewajiban Pemegang Hak Pakai

Kewajiban dan Syarat-syarat pemegang Hak Pakai atas Tanah di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Membayar uang pemasukkan kepada Negara, yang jumlah dan cara pembayarannya ditetapkan dalam keputusan awal pemberian Hak Pakai tersebut. Sedangkan untuk tanah Hak Milik dan Pengelolaan yang dibebani Hak Pakai wajib disertai dengan Perjanjian.

2. Menggunakan sendiri tanah Hak Pakai tersebut sesuai dengan peruntukkan dan memanfaatkannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memenuhi segala persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam keputusan pemberiannya di awal, atau sesuai dengan perjanjian penggunaan tanah Hak Pengelolaan atau perjanjian pemberian Hak Pakai di atas tanah Hak Milik dengan pemegang hak atas tanah.

3. Memelihara dengan baik tanah dan bangunan serta segala benda yang ada di atasnya sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hidup bagi

kesesuaian prinsif pembangunan yang berkelanjutan (suistinable development).

4. Menyerahkan kembali tanah yang diberikan atasnya dengan Hak Pakai ataupun Hak Pengelolaan tersebut kepada Negara apabila telah berakhir. Baik berakhirnya karena jangka waktu, maupun karena dipergunakan tidak sesuai dengan peruntukkan dan adanya suatu penelantaran maupun dipergunakan tidak sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi sebagaimana yang telah disepakati dan ditetapkan di awal pemberian hak tersebut, dan lain-lain.

5. Menyerahkan sendiri/ dikuasakan sertipikat Hak Pakai yang telah hapus haknya, kepada Kantor Pertanahan tempat dikeluarkannya Hak Pakai tersebut.

2.6.5 Pembebanan dan Peralihan Hak Pakai

Hak-hak atas tanah yang dimungkinkan dibebankan Hak Pakai di atasnya, adalah sebagai berikut :

1)Hak Pakai atas tanah Negara dan atas tanah Hak Pengelolaan dapat dijadikan jaminan hutang dengan pembebenan Hak Tanggungan terlebih dahulu.

2)Hak Pakai atas tanah Hak Milik hanya dapat dialihkan apabila hak tersebut telah dibuat secara tegas untuk dimungkinkan dilakukannya pengalihannya di dalam perjanjian pemberian Hak Pakai atas tanah Hak Milik yang bersangkutan di awal, bersama pemegang Hak Milik kepada sipemegang Hak Pakai.

3)Peralihan Hak Pakai terjadi karena akibat transaksi jual-beli, tukar-menukar, penyertaan modal, hibah dan pewarisan.

4)Peralihan Hak Pakai, wajib didaftarkan pada Kantor Pertanahan tempat beradanya tanah (objek) Hak Pakai tersebut.

5)Peralihan Hak Pakai karena jual beli, kecuali jual beli melalui lembaga lelang, tukar-menukar, penyertaan modal, dan hibah harus dilakukan dengan akta yang dibuat oleh PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) di wilayah tempat beradannya objek (tanah).

6)Jual beli yang dilakukan melalui pelelangan harus dibuktikan dengan berita acara lelang.

7)Peralihan Hak Pakai karena pewarisan harus dibuktikan dengan surat wasiat atau surat keterangan waris yang dibuat oleh instansi/ pejabat yang berwenang untuk itu.

8)Peralihan Hak Pakai atas tanah Negara, harus dilakukan dengan izin dari Pejabat yang berwenang.

9)Pengalihan Hak Pakai atas Tanah Hak Pengelolaan harus dilakukan dengan persetujuan tertulis dari pemegang Hak Pengelolaan.

10)Pengaliahan Hak Pakai atas tanah Hak Milik harus dilakukan dengan persetujuan tertulis dari pemegang Hak Milik yang bersangkutan.30

11)Hak Pakai atas tanah Hak Pengelolaan hanya dapat dialihkan apabila hak tersebut telah dibuat secara tegas untuk dimungkinkan dilakukannya pengalihan di dalam perjanjian pemberian Hak Pakai atas tanah Hak Pengelolaan tersebut, yang disetujui bersama dengan pemegang Hak Pengelolaan dimaksud.

Dokumen terkait