PROFIL DESA PERKEBUNAN BUKIT LAWANG KECAMATAN BOHOROK KAUPATEN LANGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA
TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Kilasan Sejarah Lahirnya PP RI 40 dan PP RI 41 Tahun 1996 Tentang HGU, HGB, Hak Pakai Atas Tanah dan Pemilikan Rumah Tempat
Tinggal atau Hunian Bagi Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia
Dalam tatanan hukum pertanahan Nasional, hubungan hukum antar orang baik yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Warga Negara Asing (WNA), serta perbuatan hukumnya yang terkait dengan tanah telah diatur dalam Undang-undang RI No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria Nasional Indonesia/ UUPA (Lembaran Negara Tahun 1960 No. 104, Tambahan Lembaran Negara No. 2943).
Salah satu prinsif/ asas yang dianut oleh UUPA khususnya pada Pasal 9, adalah Prinsif Nasionalitas, yaitu hanya Warga Negara Indonesia sajalah yang dapat mempunyai hubungan sepenuhnya dengan tanah sebagai salah satu bagian dari bumi dalam frasa (kata/ kalimat) yang termuat di dalam Pasal 33 Ayat (3) Undang-undang Dasar RI Tahun 1945.
Hubungan yang dimaksud adalah dalam wujud Hak Milik. Sedangkan bagi Warga Negara Asing dan Badan Hukum Asing yang mempunyai Perwakilan di Indonesia dapat diberikan pula hak, yaitu hanya sebatas Hak Pakai Atas Tanah saja. Pelanggaran terhadap hak tersebut, disertai akibat hukumnya diatur di dalam Pasal 26 Ayat (2) UUPA.
Hubungan hukum antara WNA dan Badan Hukum Asing dengan tanah dalam bentuk Hak Pakai sebagaimana dimuat dalam Pasal 42 UUPA telah dijabarkan lebih lanjut dalam PP RI No. 40 Tahun 1996 tentang HGU, HGB, dan Hak Pakai Atas Tanah.
Pada kurun waktu yang bersamaan ketika industri dan property
(perumahan) mengalami kemajuan yang sangat pesat pada dekade tahun 1990-an, Timbul gagasan untuk memasarkan Properti kepada Orang Asing, oleh sebab itu hal yang cukup mengejutkan pada masa itu bahwa PP RI No. 40 Tahun 1996 diterbitkan secara bersamaan waktunya dengan PP RI No. 41 Tahun 1996, yakni pada Tanggal 17 Juni 1996.
Oleh karena setelah diterbitkannya PP RI No. 41 Tahun 1996 itu meperoleh banyak tanggapan baik yang pro maupun kontra, dengan sigap
Pemerintah Indonesia menerbitkan dua Peraturan Menteri Agraria/ Ka. BPN Pusat RI No. 7 Tahun 1996 dan Permeneg. Agraria/ Ka. BPN RI No. 8 Tahun 1996 yang keduannya terbit dalam hanya selang waktu seminggu saja, yakni 7 Oktober 1996 dan 15 Oktober 1996.
Di dalam kenyataannya kesigapan Pemerintah menyiapkan aturan hukum sebagai pelaksana PP 40 dan PP 41 Masing-masing Tahun 1996 tersebut, ternyata tidak diimbangi oleh pihak-pihak terkait untuk menerapkannya dengan baik dan konsisten sesuai dengan amanat Peraturan Perundang-undanganan yang telah dibuat tersebut.
Dimana terjadi sesuatu apa yang disebut dengan Penyelundupan
Hukum oleh Warga Negara Asing, yang tujuannya adalah untuk dapat
menguasai hak tertinggi dan terpenuh sifat dan karakteristiknya yaitu Hak Milik, sehingga melalui berbagai macam cara dan teknik mereka terus berusaha, namun pada umumnya cara mereka adalah dengan menggunakan/
membuat sebuah paket perjanjian antara WNA sebagai penerima kuasa dan WNI sebagai pemberi kuasa yang pada intinya memberikan wewenang sepenuhnya kepada WNA selaku penerima kuasa tersebut, untuk menguasai hak atas tanah dan segala hak-hak lain yang menyertainya. Yaitu dapat melakukan suatu perbuatan hukum apapun kepada tanah tersebut baik berupa pengelolaan maupun pengambilan manfaatnya atas dasar perjanjian dimaksud.
Salah satu upaya yang telah Pemerintah lakukan untuk dapat mencegah upaya-upaya penyelundupan hukum dimaksud, yaitu dengan menerbitkan PP RI 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah/ Tempat Tinggal oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia, dengan segala pengaturan dan pencegahan serta meminimalisir segala bentuk pelanggaran dan kerugian Negara akibat ditimbulkan oleh pelanggaran tersebut.
Seiring dengan berjalannya waktu, dapat dinilai semenjak diberlakukanya PP RI No. 40 Tahun 1996 Tentang HGU, HGB, dan Hak Pakai Atas Tanah dan PP RI No. 41 Tahun 1996 tersebut sampai saat ini belumlah berjalan sesuai seperti apa yang diamanatkan, maupun yang diharapkan oleh umumnya masyarakat Indonesia.
2.3.1 Penyebab Lemahnya Industri Property yang Diperuntukkan Bagi Orang Asing di Indonesia
Penyebabnya lemahnya industri properti yang diperuntukkan bagi Orang Asing di Indonesia sesungguhnya banyak hal, beberapa diantaranya adalah aturan hukum tentang industri Properti masih sangat lemah, belum adanya grand desain Nasional Indonesia untuk properti
bagi Orang Asing yang telah disepakati bersama dari semua unsur, sosialisasi terhadap Peraturan Perundangan-undangan yang ada juga dinilai tidak maksimal, kepastian hukum, iklim investasi yang tidak stabil, prospek keutungan yang tidak pasti, stabilitas Nasional, faktor ancaman kejahatan, dan lain-lain.
2.3.2 Pesatnya Pertumbuhan dan Kemajuan Industri Property di Singapura Sebagai Perbandingan
Pesatnya Pertumbuhan dan Kemajuan Industri properti di Singapura dalam pasar investasi properti oleh Warga Negara Asing menunjukkan angka yang sangat signfikan, dalam sebuah Penelitian yang dilakukan oleh Wan Wei Lin pada tahun 1994-1995. 17
17
Wan Wei Lin, Peneliti dan Pemerhati Properti Asal Singapura, Tahun 2006-2007.
Terungkaplah bahwa beberapa faktor yang paling berpengaruh tehadap minat Orang Asing untuk memiliki properti di Singapura, diantaranya adalah disebabkan karena disamping Warga Negara Asing memang benar-benar berminat untuk tinggal di Singapura ada, beberapa faktor lain yang mendukung yaitu : Stabilitas Politik, Iklim ekonomi yang kondusif, penghasilan dan penyewaan properti yang kompetitif, mata uang Singapura yang tergolong kuat dan relatif stabil, tidak adanya
capital agains tax dan tingkat suku bunga properti yang rendah. (Lin, 1995 : 29-38).
Informasi yang diperoleh pada awal tahun 2007 menyebutkan bahwa sampai akhir tahun 2006, pembelian properti oleh Orang Asing di Singapura mencapai 25 % (dua puluh lima persen) dari seluruh total penjualan Negara Properti tersebut.
Sekitar awal tahun 2000-an, jumlah Penjualan Properti untuk Orang Asing di Singapura hanya mencapai 15 % saja dari total seluruh penjualan Negara tersebut, maka dalam kurun waktu sekitar 6-7 tahun telah mengalami peningkatan sekitar 10 %, jumlah itu dapat digolongkan sangat tinggi untuk pasaran properti Asia.
Proyeksi pertambahan jumlah penduduk Singapura dari 4,5 (empat koma lima) juta menjadi 7 (tujuh) juta orang, pada tahun 2030 yang akan menarik lebih banyak Orang Asing lagi, tentu disertai dengan asumsi bahwa kebutuhan akan properti juga pasti akan semakin meningkat (Angloinfo, 2007).
2.4 Definisi Hak Atas Tanah, Hak Mempergunakan Tanah dan Milik Serta