• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

B. Etika Bisnis Islam

1. Definisi Etika Bisnis Islam

Istilah etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu ethos. Kata ethos

merupakan kata berbentuk tunggal mempunyai arti: tempat tinggal yang biasa; padang rumput; kandang; kebiasaan; adat; akhlak; watak; perasaan; sikap; cara berpikir.7

Bentuk jamak kata ethos adalah ta etha. Kata inilah yang menjadi latar belakang

bagi terbentuknya istilah etika. Jadi, secara etimologis etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.8

Namun pengertian etimologis itu saja belum cukup untuk memahami istilah etika. Karena itu, kita perlu mencari pengertian etika yang sesungguhnya. Dalam bahasa Indonesia ada yang membedakan antara etik dan etika. Etik berarti kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak atau nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh

7

Sudirman Tebba, Berbisnis dengan Hati Nurani, Bisnis & Tasawuf. Yogyakarta: Penerit Scripta Perennia, 2005. Hal. 7.

8

suatu golongan atau masyarakat. Sedangkan etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).9

Adapun dalam kaitan dengan penggunaan istilah, di Indonesia studi tentang

masalah etis dalam bidang ekonomi dan bisnis sudah akrab dengan nama “etika bisnis”,

sejalan dengan kebiasaan umum dalam istilah bahasa inggris yaitu “Business Ethics”.

Namun dalam kawasan lain seringkali digunakan istilah yang lain, misalnya dalam bahasa belanda pada umumnya dipakai nama bedrijfsethiek (etika perusahaan) dan dalam bahasa Jerman unterbehmensethik (etika usaha). Dalam bahasa Inggris kadang-kadang

dipakai istilah corporate ethics (etikaa korporasi). Variasi lain adalah “etika ekonomis” atau “etika ekonomi”. Selain itu ditemukan juga nama management ethics atau

managerial ethics (etika manajemen), disamping nama organization ethics (etika organisasi). Namun demikian, pada dasarnya semua nama ini menunjuk kepada studi tentang aspek-aspek moral dari kegiatan ekonomi dan bisnis.10

Bisnis berasal dari kata inggris, business (biznes), artinya: perusahaan atau usaha,

seperti dalam ungkapan: “the grocery business” = perusahaan sayur-sayuran, dan

ungkapan: “this store is going out of business” = toko ini akan menghentikan usahanya.11 Dalam bahasa Indonesia, bisnis diartikan dengan: “Usaha komersil dalam dunia perdagangan; bidang usaha; usaha dagang.”12

9

Departmen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hal. 271.

10

Muhammad Djakfar, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam. Malang: UIN-Malang press, 2007. Hal 9-10.

11

Jhon M. Echols and Hasan Shadily, Kamus Inggris – Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia, 1984), hlm. 90.

12

Departmen Pendidikan dan Kebudayaan, (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm 157.

Selanjutnya kita dapat mendefinisikan etika bisnis sebagai seperangkat nilai tentang baik, buruk, benar, dan salah dalam dunia bisnis berdasarkan pada prinsip-prinsip moralitas. Dalam arti lain etika bisnis berarti seperangkat prinsip dan norma di mana para pelaku bisnis harus komit padanya dalam bertransaksi, berperilaku, dan berelasi guna mencapai tujuan-tujuan bisnisnya dengan selamat.

Sedangkan titik sentral dari etika bisnis Islam adalah menentukan kebebasan manusia untuk bertindak dan bertanggung jawab sesuai dengan prinsip-prinsip dalam

Al-Qur’an, antara ekonomi dan akhlak yang islami tidak akan pernah terpisah sama sekali seperti halnya tidak pernah terpisah antara ilmu dan akhlak, antara politik dan akhlak, dan antara perang dan akhlak. Akhlak adalah daging dan urat nadi kehidupan Islami.13 Hubungan tasawuf, akhlak dan bisnis melahirkan etika bisnis dalam Islam. Hal ini terlihat pada penerapan ajaran akhlak dalam kegiatan-kegiatan bisnis, seperti investasi, produksi, distribusi, promosi, konsumsi dan juga hubungan karyawan dengan perusahaan tempat mereka bekerja harus berpegang kepada etika, yaitu mengamalkan akhlak yang terpuji dan menjauhi akhlak yang tercela.14

2. Dasar-dasar Hukum Etika Bisnis Islam

Islam memiliki pedoman yang harus dipatuhi oleh pengikutnya, Pedoman inilah yang dijadikan petunjuk dan arahan untuk umatnya dalam melaksanakan setiap aktifitas/amalan. Pedoman tersebut adalah Al-Qur’an dan Hadits. Sebagai sumber ajaran islam, setidaknya dapat menawarkan nilai-nilai dasar atau prinsip-prinsip umum yang penerapannya dalam bisnis disesuaikan dengan perkembangan

13

Yusuf Qardhawi, Peran Nilai Moral dalam Perekonomian Islam, 2001 (Jakarta: Robbani Press), hlm. 56.

14

zaman dan mempertimbangkan dimensi ruang dalam waktu. Islam seringkali dijadikan sebagai model tatanan kehidupan. Hal ini tentunya dapat dipakai untuk pengembangan lebih lanjut atas suatu tatanan kehidupan tersebut, termasuk tatanan kehidupan bisnis.

Al-Qur’an dalam mengajak manusia untuk mempercayai dan

mengamalkan tuntutan-tuntutannya dalam segala aspek kehidupan seringkali menggunakan istilah-istilah yang dikenal dalam dunia bisnis, seperti jual-beli, untung-rugi, dan sebagainya. Dalam konteks ini al-Qur’an menjanjikan dalam surat At Taubah ayat 111 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin harta dan jiwa mereka dan sebagai imbalannya mereka memperoleh surga. Siapakah yang lebih menepati

janjinya (selain) Allah maka bergembiralah dengan Jual-Beli yang kamu lakukan itu.

Itulah kemenangan yang besar”.(QS At-Taubah :111)

Dan teradapat juga dalam surat Al Jumu’ah : 9 – 10 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang

pada hari jum’at. Maka bergegaslah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual -beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah

ditunaikan sembahyang maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah

dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al-Jumu’ah:9-10)

Ayat tersebut memberi pengertian agar berbisnis dilakukan setelah melakukan shalat dan dalam pengertian tidak mengesampingkan tujuan keuntungan yang hakiki yaitu keuntungan yang dijanjikan Allah. Oleh karena itu, walaupun mendorong

melakukan kerja keras termasuk dalam berbisnis, Al-Qur’an menggaris bawahi bahwa

dorongan yang seharusnya lebih besar bagi dorongan bisnis adalah memperoleh apa yang berada di sisi Allah.

Bisnis merupakan kegiatan muamalah. Bisnis yang sehat adalah bisnis yang berlandaskan pada etika. Oleh karena itu, pelaku bisnis muslim hendaknya memiliki kerangka etika bisnis yang kuat, sehingga dapat mengantarkan aktivitas bisnis yang nyaman dan berkah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berbisnis, yaitu penerapan-penerapan ajaran akhlak dalam kegiatan yang berkaitan dengan bisnis, seperti investasi, produksi, distribusi, promosi, dan konsumsi.

a. Investasi

Investasi berarti pemupukan dan pendayagunaan dana dan sumber daya hari ini demi keuntungan hari esok15 Menurut Islam pada prinsipnya investasi dalam bisnis apa saja boleh, kecuali tidak untuk beberapa hal, yaitu bisnis daging babi dan barang konsumsi yang mengandung daging babi, bisnis minuman keras, perjudian dan seks.

Berinvestasi itu bagi orang yang memiliki modal. Sedang orang yang hanya memiliki tenaga tentu bekerja dengan tenaganya, seperti menjadi pegawai. Namun baik bagi orang yang melakukan investasi atau menjadi pegawai sama-sama bekerja, dan bekerja itu hukumnya wajib.16 Allah berfirman:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”.(al-Balad:4)

15

Panitia Istilah Manajemen Lembaga PPM, Kamus Istilah Manajemen (Jakarta: Taka Binaman Pressindo, 1994), hlm. 72.

16

Ayat tersebut menyiratkan bahwa manusia memiliki konsekuensi sebagai makhluk Allah yang ditakdirkan sebagai makhluk yang mulia. Kemuliaan ini hanya dapat dicapai dengan ketekunan dan kerja keras.

b. Produksi

Produksi dapat dilihat dari dua segi, yaitu aspek teknis ekonomis dan normatif, yakni mengenai dorongan dan tujuan produksi.17

Pandangan Islam tentang produksi adalah menyangkut aspek normative. Dalam Islam, sebagaimana terlihat dalam Al-Qur’an, terdapat ajaran tentang

dorongan dan tujuan produksi, yaitu:

“Dan karena rahmat-Nya Dia jadikan untukmu malam dan siang supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari

karunia-Nya (pada siang hari)”. (al-Qashash:73).

Ayat tersebut mendorong umat manusia, khususnya umat Islam, untuk bekerja dan memproduksi segala hal keperluan hidup mereka agar bisa hidup makmur, bukannya miskin dan melarat. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa rezeki adalah karunia Allah yang harus diusahakan dengan cara produksi.

c. Distribusi

Distribusi meliputi distribusi barang dan kekayaan. Distribusi barang ialah proses penyebaran barang dari tempat produsen ke pemakai terakhir, yang mencakup semua pemasaran dan penjualan.18 Barang yang telah diproduksi harus segera didistribusikan agar keperluan masyarakat tetap tersedia di pasar.

17Monzer Kahf, “The Thoery Of Production" dalam Rahman, sayyid Tahir, Aidit Ghazali, dan Syed Omar syed Agil, ed., Reading in Microeconomicus: An Islamic Perspective (Kuala Lumpur: Longman Malaysia, 1992), hlm. 113.

18

Menimbun barang dengan tujuan agar barang itu langka di pasar hukumnya haram, sebab hal ini merugikan konsumen. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang menimbun barang adalah orang yang bersalah

(berdosa)”. (HR. Muslim). d. Promosi

Promosi dapat berarti naik pangkat atau jabatan. Sedang dalam kehidupan bisnis promosi berarti pemasaran melalui periklanan dan penjualan berupa pemotongan harga, hadiah dan pajangan toko.

Promosi yang dimaksudkan disini adalah periklanan. Periklanan merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam bisnis atau pasar. Ekonomi pasar bebas ditandai dengan kompetisi yang kuat dalam persaingan pasar. Setiap perusahaan bersaing dalam menawarkan produknya kepada konsumen.

Menurut Sudirman Tebba, dalam bukunya yang berjudul Berbisnis dengan Hati Nurani (Bisnis dan Tasawuf), seringkali periklanan itu memamerkan pola hidup yang konsumeristis, hedonistis dan materialistis, sehingga dianggap tidak mendidik. Di lihat dari segi Islam pola hidup seperti ini dapat dikategorikan sebagai israf atau berlebih-lebihan dan tabzir, dan hal ini dilarang.

Dalam Islam, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam hal promosi, diantaranya:

1. Promosi atau periklanan tidak boleh mengumbar aurat, teruma aurat wanita.

2. Promosi atau periklanan tidak boleh mengiklankan barang dan jasa yang diharamkan, seperti makanan yang mengandung unsur babi, minuman keras, perjudian dan prostitusi.

3. Promosi atau periklanan tidak berlebih-lebihan. e. Konsumsi

Konsumsi adalah jumlah pembelanjaan dan perekonomian atas barang dan jasa yang digunakan pada periode tertentu, biasanya dalam jangka pendek. Pembelanjaan konsumsi ini tidak hanya meliputi barang-barang konsumsi saja, tetapi juga bahan baku yang dipergunakan dalam proses produksi. Konsumsi juga berarti proses fisik factual pemakaian barang dan jasa.19

Mengenai hal konsumsi ini Islam menentukan bahwa dalam melakukan kegiatan konsumsi hendaknya dilakukan untuk sesuatu yang halal dan baik, serta dilakukan secara wajar, tidak berlebihan dan tidak bakhil atau kikir, sebagaimana dengan firman Allah dalam surat Al-Furqan: 67 yang artinya:

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di

tengah-tengah antara yang demikian”.

Ketentuan-ketentuan dalam melakukan kegiatan konsumsi ini juga terdapat pada Surat Al-Araaf: 31 yang artinya:

“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

19

f. Hubungan Antara Pedagang

Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri, dalam menjalankan kehidupan manusia menjalin hubungan baik dengan pencipta-Nya maupun dengan sesamanya. Hubungan manusia dalam berbisnis tidak hanya terhadap konsumen tetapi juga terhadap sesama pengusaha mereka menjalin hubungan. Hubungan yang harmonis antar sesama pedagang dalam berkompetisi perlu ditumbuhkan, dijaga dan dipelihara.

Dokumen terkait