• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

B. Implementasi Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Dalam

Dalam pengembangan tata ruang hijau di setiap daerah perkotaan, impelementasi kebijakan rencana tata ruang wilayah merupakan payung regulasi yang dapat menunjang pengadaan Ruang Terbuka Hijau . Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Luas Wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut:

Ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari Ruang Terbuka Hijau Publik dan Ruang Terbuka Hijau privat; proporsi Ruang Terbuka Hijau pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat; apabila luas Ruang Terbuka Hijau baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah

memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku, maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan.

Disetiap kota ruang terbuka hijau memiliki tiga fungsi penting yaitu ekologis,sosial-ekonomi dan evakuasi. Dalam Pasal 29 UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang disebutkan, jumlah Ruang Terbuka Hijau di setiap kota harus sebesar 30 persen dari luas kota tersebut. Ruang Terbuka Hijau perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi.

Fungsi ekologis Ruang Terbuka Hijau yaitu dapat meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara dan pengatur iklim mikro.

Fungsi lainnya yaitu sosial-ekonomi untuk memberikan fungsi sebagai ruang interaksi sosial, sarana rekreasi dan sekaaligus sebagai filterisasi polusi udara perkotaan. Sementara evakuasi berfungsi antara lain untuk tempat pengungsian saat terjadi bencana alam. Dengan keberadaan Ruang Terbuka Hijau yang ideal, maka tingkat kesehatan warga kota yang bersangkutan juga menjadi baik.

Ruang Terbuka Hijau dapat mengurangi kadar polutan seperti timah hitam dan timbal yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Saat ini, banyak anak di perkotaan yang menderita autis yang disebabkan antara lain karena tingginya kadar polutan di daerah perkotaan. Sifat polutan berbahaya tersebut melayang-layang diudara dengan ketinggian kurang dari satu meter dari tanah maka tidak aneh jika banyak berdampak terhadap kesehatan anak-anak menuturkan, ketentuan luasan 30 persen Ruang Terbuka Hijau di setiap perkotaan merupakan

hasil kesepakatan dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil (1992) dan dipertegas lagi pada KTT Johannesberg, Afrika Selatan 10 tahun. Namun tampaknya bagi kota-kota di Indonesia, hal ini akan sulit terealisir akibat terus adanya tekanan pertumbuhan dan kebutuhan sarana dan prasarana kota, seperti pembangunan bangunan gedung, pengembangan dan penambahan jalur jalan yang terus meningkat serta peningkatan jumlah penduduk.

Untuk merealisasikan keberadaan Ruang Terbuka Hijau yang mumpuni di perkotaan Indonesia diperlukan komitmen kuat dari semua pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Upaya tersebut antara lain mendorong permukiman melalui bangunan vertikal. Dengan tinggal di permukiman yang vertikal, maka akan menggunakan lahan yang lebih sedikit, sehingga lahan lainnya dapat dimanfaatkan untuk Ruang Terbuka Hijau Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal.

Melalui Pasal 29 UU No.26 Tahun 2007 tentang proporsi penyediaan ruang terbuka hijau, pemerintah Kota Bima telah berusaha memenuhi criteria tersebut dengan menerapkan Perda nomor 4 tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang wilayah Kota Bima untuk penataan ruang terbuka hijau, yang ditegaskan

dalam pasal 26 ayat (1) menyatakan bahwa pengembangan kawasan ruang terbuka hijau direncanakan kurang lebih 3.896,44 hektar mencakup:

a. Pengalokasian ruang terbuka hijau minimal 30 persen dari luas wilayah kawasan perkotaan yang terdiri dari 20,20 persen ruang terbuka hijau public dan 10 persen ruang terbuka hijau privat dengan tutupan vegetasi.

b. Pemilihan jenis vegetasi sesuai dengan fungsi dan jenis ruang terbuka hijau yang dikembangkan.

Dalam pelaksanaan penataan ruang, selanjutnya Pemerintah kota sendiri telah mengacu kepada petunjuk pelaksanaan yang baru, yaitu PP No.26 Tahun 2008. Berkaitan dengan penyediaan Ruang Terbuka Hasil melalui kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk sikap dan tindakan serta disesuaikan dalam Undang-Undang Penataan Ruang maka dalam pelaksanaannya meliputi perencanaan, pengendalian dan pemanfaatan ruang kota sebagai upaya untuk mendapatkan Ruang Terbuka Hijau minimal 30% dari luas Kota bima dengan standar minimal 20% untuk publik dan 10% dipenuhi dari privat. Berdasarakan hasil wawancara dengan informan terkait mangatakan:

“ Berdasarkan perencanaan dalam aturan jumlah titik ruang terbuka hijau dikota Bima sebanyak 45 titik, dan yang masuk kategori baik secara fisik berjumlah 11 titik antara lain, taman Ria, Taman Dara II, Taman Malake , Talud Lawata, Taman Belakang Kantor Walikota Bima, Taman Doro Parapimpi, Taman Depan Kantor Walikota Bima, Taman Patung Petani, Taman Cab. SMP 1, Taman Cab.

SDN 2 Kobi, Taman Depan Kuburan Cina”(Wawancara dengan, M. SM, 23 November 2014)

Selain persoalan jumlah titik, penjelasan oleh informan lain mengenai kesesuaian titik ruang terbuka hijau dengan keadaan lingkungan disekitar di ungkapkan bahwa:

“Dari seluruh titik ruang terbuka hijau terdapat beberapa titik yang tidak sesuai dengan keadaan lingkungan setempat,hal ini dikarenakan oleh proses pembebasan lahan masyarakat yang susah dilakukan mengingat secara psikologis watak masyarakat bima masuk kategori keras apalagi masalah pembebasan lahan atau hak milik, hal ini sangat mempengaruhi penempatan ruang terbuka hijau kota, sehingga ruang terbuka hijau yang ada sekarang tempatnya di alihkan secara alternatif saja”(Wawancara dengan, AM. 23 November 2014).

Berangkat dari beberapa pernyataan informan diatas terkait implementasi kebijakan tentang ruang terbuka hijau di kota Bima sepenuhnya belum maksimal, kondisi ini dilihat dari jumlah ruang terbuka hijau di kota bima sangat jauh berbeda dengan sisi perencanaan pemerintah daerah. Kondisi ini dapat di amati dari jumlah total ruang terbuka hijau. Selain dari sisi perencanaan, hasil pengamatan penulis dari segi pemeliharaan ruang terbuka hijau masih belum terpenuhi, hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya hewan ternak yang berkeliaran di kawasan ruang terbuka hijau kota. Sedangkan dari sisi pemanfaatan ruang terbuka hijau kota dapat dikatakan kurang, kenyataan ini dilihat dari aktifitas masyarakat dalam pemanfaatan ruang terbuka hijau.

C. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Kebijakan Rencana Tata

Dokumen terkait