• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH DALAM PENGADAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BIMA. A R I Y A N T O Nomor Stambuk :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI KEBIJAKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH DALAM PENGADAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BIMA. A R I Y A N T O Nomor Stambuk :"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

DI KOTA BIMA

A R I Y A N T O

Nomor Stambuk : 105 64 0101210

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2015

(2)

DI KOTA BIMA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diajukan Oleh A R I Y A N T O

Nomor Stambuk : 105 64 0101210

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2015

(3)
(4)
(5)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama mahasiswa : A R I Y A N T O Nomor Stambuk : 105640101210 Program studi : Ilmu Pemerintahan

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tampa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis / publikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari peryataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.

Makassar , , 2014 Yang Menyatakan

A R I Y A N T O

(6)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Halaman Persetujuan ... ii

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iii

Daftar Isi ... iv

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...5

C. Tujuan Penelitian ...6

D. Manfaat Penelitian ...7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...8

A. Konsep Kebijakan Publik...8

B. Implementasi Kebijakan Publik ...10

C. Konsep Penataan Ruang Wilayah... 22

D. Konsep dan Regulasi Ruang Terbuka Hijau ...31

E. Kerangka Pikir ...39

F. Fokus Penelitian ...42

G. Definisi Fokus Penelitian ...43

BAB III METODE PENELITIAN ...44

A. Waktu dan Tempat Penelitian ...44

B. Jenis dan Tipe Penelitian...44

C. Sumber Data...45

(7)

E. Fokus dan Deskripsi Penelitian...46

F. Teknik Pengumpulan Data...47

G. Teknis Analisis Data ...47

H. Pengabsahan Data ...48

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN ...49

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...49

B. Implementasi Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Dalam Pengadaan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Bima ...51

C. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Dalam Pengadaan Ruang Terbuka Hijau di Kota Bima ...55

DAFTAR PUSTAKA ...56

(8)

1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kota sebagai pusat pertumbuhan, perkembangan dan perubahan serta pusat berbagai kegiatan ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum dan pertahanan keamanan menempati kedudukan yang sangat strategik dalam tatanan nasional kita (Tim Evaluasi Hukum, 2007:10). Sehingga penataan dan pemanfaatan ruang kawasan perkotaan perlu mendapat perhatian yang khusus, terutama yang terkait dengan penyediaan kawasan hunian, fasilitas umum dan sosial serta ruang-ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan. Dalam hal ini perlu keselarasan pemanfaatan ruang dalam bentuk kajian berupa aturan- aturan yang bersifat mengikat dari pemerintah.

Hal ini akan menjadi permasalahan yang mendasar mengingat Pasal 33 ayat 3 UUD 1945, yang menghendaki kita untuk menggunakan dan memanfaatkan bumi, air dan kekayaan alam yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Kemakmuran rakyat tersebut harus dapat dinikmati, baik oleh generasi sekarang maupun yang akan datang. Ini berarti, dalam pembangunan diterapkan asas kelestarian bagi sumberdaya alam dan selanjutnya memanfaatkan sumberdaya alam tersebut dengan tidak merusak tata lingkungan hidup manusia (Daud Silalahi, 2001 :18). Untuk menjamin

(9)

tercapainya tujuan tersebut terkait dengan paradigma bahwa ruang sebagai salah satu sumber daya alam yang tidak mengenal batas wilayah. Akan tetapi kalau ruang dikaitkan dengan pengaturannya, haruslah jelas terbatas fungsi dan sistemnya dalam pengelolaan suatu kawasan. Undang – undang No. 24 Tahun 1992 tentang penataan ruang yang kemudian mengalami perubahan menjadi Undang – undang No. 26 Tahun 2007 merupakan undang- undang pokok yang mengatur mengenai pelaksanaan penataan ruang (UUPR).

Keberadaan Undang-Undang tersebut diharapkan selain sebagai konsep dasar hukum dalam melaksanakan perencanaan tata ruang, juga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan pemerintah dalam penataan dan pelestarian lingkungan hidup. Tetapi hingga saat ini kondisi yang tercipta masih belum sesuai dengan harapan. Erwani, 2007:124).

Untuk mengurangi masalah lingkungan hidup, perlunya membuat ruang terbuka hijau disetiap kota di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Penegasan Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 pasal 28 dijelaskan tentang penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di daerah. Besaran proporsi ruang terbuka hijau di daerah di jelaskan pada pasal 29, dimana ruang terbuka hijau terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat.

Proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota. Sedangkan proporsi ruang terbuka hijau publik pada wilayah kota paling sedikit 20 persen dari luas wilayah kota.

(10)

Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian penting dari struktur pembentuk kota, dimana kota memiliki fungsi utama sebagai penunjang ekologis yang juga diperuntukkan sebagai ruang terbuka penambah dan pendukung nilai kualitas lingkungan dan nilai budaya suatu kawasan.

Keberadaan ruang terbuka hijau kota sangatlah diperlukan dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Ruang terbuka hijau (Green Open spaces) merupakan kawasan permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina kemudian selanjutnya dapat difungsikan untuk perlindungan habitat tertentu, atau dapat dijadikan sarana lingkungan/kota, serta dapat diperuntukan untuk pengamanan jaringan prasarana, maupun untuk budidaya pertanian. Selain untuk meningkatkan kualitas atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah, ruang terbuka hijau (Green Open spaces) di tengah-tengah ekosistem perkotaan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas lansekap kota.

Hakim (2004:16) menyebutkan bahwa proporsi 30% luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, ruang terbuka bagi aktivitas publik serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Ruang terbuka hijau memiliki manfaat yang sangat penting di dalam kawasan perkotaan, manfaatnya pada kehidupan masyarakat perkotaan dapat dirasakan secara langsung dan tak langsung. Manfaat yang dapat kita rasakan

(11)

secara langsung adalah tentu saja kenyamanan fisik (sebagai contoh keteduhan dan udara yang segar), sedangkan manfaat ruang terbuka hijau yang tidak dapat kita rasakan secara langsung namun berjangka panjang adalah perlindungan tata air dan konservasi hayati atau keanekaragaman hayati. Ruang terbuka hijau perkotaan pada dasarnya memiliki fungsi pokok sebagai pendukung utama keberlanjutan kehidupan masyarakat kota, sehingga keberadaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan merupakan suatu persyaratan yang wajib dipenuhi untuk kehidupan masyarakat yang sehat. Untuk lebih mengoptimalisasikan konsep penataan ruang pemerintah daerah Kota Bima sebagai salah satu kota administarasi yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang terbentuk pada tanggal 10 april tahun 2002 melalui Undang-undang Nomor 13 Tahun 2002 tentang pembentukan wilayah Kota Bima, telah memiliki penjabaran secara otomi daerah terkait penataan ruang terbuka hijau sebagaimana dijelaskan dalam peraturan daerah Kota Bima No. 4 tahun 2012 tentang rencana tata ruang dan wilayah Kota Bima tahun 2011-2031, yang menjelaskan bahwa perlunya penataan ruang dalam pengadaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.

Akan tetapi, hasil observasi penulis terkait pelaksanaan tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau di Kota Bima, penulis menemukan beberapa masalah antara lain: Pertama, secara kuantitas jumlah ruang terbuka hijau di kota bima berjumlah tiga titik yaitu taman ria yang berlokasi di kecamatan mpunda, taman pahlawan yang berlokasi di kecamatan raba ngodu, dan taman danatraha yang berlokasi di kecamatan rasana,e barat

(12)

sekarang di jadikan sebagai hutan kota, Kedua arus pembangunan Kota yang semerawut sehingga ruang yang semestinnya dijadikan ruang terbuka hijau telah dialih fungsikan. Ketiga, penerapan dan pengawasan serta sosialisasi aturan tentang pentingnya ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan yang kurang efektif sehingga muatan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah terkaiat ruang terbuka hijau seakan tidak memiliki asas manfaat.

Keempat, kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan, dan itu dilihat dari banyaknya bangunan-bangunan liar yang ada ditengah-tengah taman kota. Kelima, miningkatnya bencana banjir diwilyah perkotan ketika memasuki musim hujan, itu menunjukan daerah rasapan air yang kurang memadai sebagai akibat dari pengelolaan tata ruang yang kurang kondusif.

Berangakat dari uraian secara teoritis dan fakta di atas, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul : “Implementasi Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Dalam Pengadaan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Bima.”

Besar harapan penulis dari proses penelitian ini dapat memberikan gambaran secara obyektif terkait pengadaan ruang terbuka hijau di Kota Bima.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan dengan uraian latar belakang diatas maka pokok permasalahan yang dibahas dan dicari jawaban dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(13)

a. Bagaimanakah implementasi kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau di Kota Bima?

b. Apa factor pendukung dan penghambat implementasi kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau di Kota Bima?

C. TUJUAN PENELITIAN

Setiap kegiatan penelitian terlebih lagi penelitian ilmiah tentunya memiliki tujuan-tujuan khusus. Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, penulis membagi kedalam dua kelompok yakni sebagai berikut :

1. Tujuan obyektif

a. penerapan kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau di kota bima

b. hambatan penerapan kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau di kota bima

2. Tujuan subyektif

a. Untuk memperluas dan memperdalam wawasan, pengetahuan dan kemampuan analisis penulis mengenai penerapan Kebijakan Publik dalam ketentuan penyediaan dan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau yang dilaksanakan oleh Dinas Tata Ruang Kota.

b. Memberikan sumbangan dan masukan guna referensi tentang penilaian kualitas pelayanan publik khususnya Kebijakan Publik dalam ketentuan penyediaan dan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau oleh Pemerintah Kota Bima.

(14)

D. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat yang akan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini memberikan wacana dalam rangka upaya penyediaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau yang dilakukan oleh Dinas Tata Ruang Kota.

b. Hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan atau masukan bagi pemerintah kota maupun lembaga yang terkait lain dalam merumuskan strategi dalam rangka penyediaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau di kota bima.

2. Manfaat Akademis

Sebagai bahan masukan serta saran bagi institusi pendidikan atau universitas dalam mengeluarkan kebijakan terkait dengan penambahan atau peningkatan jumlah pemberian mata kuliah yang berkaitan dengan penerapan kebijakan publik khususnya di Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Pemerintahan.

(15)

8

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Kebijakan Publik

Teori yang akan dipergunakan dalam rangka penelitian kebijakan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau sebagai landasan pemikiran adalah teori kebijakan dari Thomas R. DYE. Berbicara tentang perspektif kebijakan publik mengarahkan perhatian kita untuk mengkaji proses pembuatan kebijakan (policy making process) oleh pemerintah (government) atau pemegang kekuasaan dan dampaknya terhadap masyarakat luas. (Esmi Warasih, 2004:

131).

Secara sederhana pengertian kebijakan public dirumuskan dalam kalimat sebagai berikut:

1. Apa yang dilakukan oleh pemerintah (What government do?) 2. Mengapa dilakukan tindakan itu (Why government do?)

3. Dan apa terjadi kesenjangan antara apa yang ingin diperbuat dengan kenyatan (what defference it makes?)

Menurut Richard Rose (2008;41) mendefinisikan kebijakan publik (public policies) sebagai rangkaian pilihan yang kurang lebih satu unsur dengan unsur lainnya saling berhubungan termasuk keputusan- keputusan untuk tidak bertindak yang dibuat oleh badan badan pejabat pemerintah yang

(16)

diformulasikan ke dalam isu-isu public dari masalah pertanahan, energi, kesehatan sampai kepada permasalahan pendidikan, kesejahteraan dan kejahatan. Sistem kebijakan publik adalah produk manusia yang subjektif yang diciptakan melalui pilihan-pilihan yang sadar oleh para pelaku kebijakan sekaligus realitas objektif yang diwujudkan dalam tindakantindakan yang dapat diamati akibat-akibat yang ditimbulkannya, setidak tidaknya menyangkut 3 (tiga) unsur penting yaitu :

1. Pelaku kebijakan 2. Kebijakan public 3. Lingkungan kebijakan

Ketertiban antara hukum dan kebijakan publik akan semakin relevan pada saat hukum diimplementasikan. Proses implementasi selalu melibatkan lingkungan dan kondisi yang berbeda di tiap tempat, karena memiliki ciri-ciri struktur sosial yang tidak sama. Demikian pula keterlibatan lembaga di dalam proses implementasi selalu akan bekerja di dalam konteks sosial tertentu sehingga terjadi hubungan timbal balik yang dapat saling mempengaruhi.

proses implementasi kebanyakan diserahkan kepada lembaga pemerintah dalam berbagai jenjang /tingkat, baik propinsi maupun tingkat kabupaten.

Setiap jenjang pelaksanaan pun masih membutuhkan pembentukan kebijaksanaan lebih lanjut dalam berbagai bentuk peraturan perundang- undangan untuk memberikan penjabaran lebih lanjut..

Untuk mengantisipasi hal ini diperlukan langkah-langkah kebijaksanaan meliputi:

(17)

1. menggabungkan rencana tindakan dari suatu program dengan menetapkan tujuan, standard pelaksana, biaya dan waktu yang jelas;

2. melaksanakan program dengan memobilisasi struktur, staf, biaya, resources, prosedur, dan metode, dan

3. membuat jadual pelaksanaan (time schedule) dan monitoring untuk menjamin bahwa program tersebut berjalan terus sesuai rencana.

B. Implementasi Kebijakan Publik

Kebijakan tumbuh hidup dan berkembang di dalam masyarakat.

kebijakan merupakan sarana menciptakan ketertiban dan ketentraman bagi kedamaian dalam hidup sesama warga masyarakat. Oleh karena itu kebijakan melindungi kepentingan manusia, misalnya kemerdekaan, transaksi manusia satu dengan yang lain dalam masyarakat pasar dan sebagainya. Di samping itu juga untuk mencegah selanjutnya menyelesaikan pertentangan yang dapat menumbuhkan perpecahan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan lembaga. Berdasarkan fungsinya kebijakan, baik sebagai sarana rekayasa social mampu sebagai sarana kontrol sosial, maka setiap peraturan yang mengatur retribusi diciptakan untuk dijalankan sesuai dengan tujuan dan makna yang dikandungnya warga masyarakat (individu ) sebagai pihak yang dituju oleh suatu peraturan wajib dengan lapang hati dan penuh pengertian patuh kepada hukum tersebut. Adanya peraturan - peraturan hukum dan lembaga-lembaga serta aparat penegak hukum yang dilengkapi dengan sarana dan fasilitas yang diperlukan tanpa didukung oleh kesadaran warga masyarakat sebagai individu atau anggota masyarakat, maka kemungkinan kebijakan itu

(18)

mengalami banyak hambatan dalam penerapannya, karena perilaku individu yang bermacam macam. Dalam suatu masyarakat yang pluralistik, penyimpangan yang dilakukan seseorang menjadi kebiasaan bagi lainnya.

dalam keadaan demikian diperlukan kontrol sosial, dalam arti mengendalikan tingkah laku pekerti warga masyarakat agar selalu tetap konform dengan keharusan-keharusan norma, hampir selalu dijalankan dengan berdasarkan kekuatan sanksi (Wignjosoebroto, 1986:19).

Seringkali kontrol sosial tidak terlaksana secara penuh dan konsekuen, bukan karena kondisi-kondisi objektif yang tidak memungkinkan, tetapi karena sikap toleran agen-agen kontrol sosial terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. mengambil sikap toleran yaitu sementara pelanggar norma lepas dari sanksi yang seharusnya dijatuhkan (Soetandyo Wignjosoebroto, 1986:58). Di samping itu, kadar ketaatannya juga dipengaruhi oleh sanksi dari peraturannya atau dari hukum dan para aparat penegak hukumnya. Sehingga tidak jarang pula terlihat kesenjangan antara perilaku yang diharapkan dengan maksud dan tujuan peraturan dengan perilaku yang diwujudkan.

Keefektifan hukum bila dikaitkan dengan badan-badan penegak hukumnya, maka faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah undang-undang yang mengaturnya harus dirancang dengan baik (perancangan undang-undang) dan mereka yang bekerja sebagai pelaksana kebijakan harus memusatkan tugasnya dengan baik pula. Kebijakan agar bisa berfungsi sebagai sarana rekayasa sosial bagi masyarakat biasa dan masyarakat pejabat (pegawai), maka dapat dipakai pula pendekatan dengan mengambil teori

(19)

Robert Saidman (1976;16) yang menyatakan bahwa bekerjanya hukum dalam masyarakat itu melibatkan tiga komponen dasar, yaitu pembuat hukum (undang-undang), birokrat pelaksana dan pemegang peranan. Dengan mencoba untuk menerapkan pandangan tersebut di dalam analisanya mengenai bekerjanya hukum di dalam masyarakat.

Implementasi kebijakan kebijakan merupakan aspek penting dari keseluruhan proses kebijakan. Udoji (1981;32) dengan tegas mengatakan bahwa pelaksanaan kebijakan adalah sesuatu yang penting, bahkan jauh lebih penting dari pada pembuatan kebijakan. Kebijakan-kebijakan akan sekedar berupa impian atau rencana bagus yang tersimpan rapi dalam arsip kalau tidak tidak di implementasikan. Dunn menyatakan (1981;56) menyatakan bahwa akan halnya implementasi kebijakan, lebih bersifat kegiatan praktis, termasuk di dalamnya mengeksekuasi dan mengarahkan.

Sehubungan dengan sifat praktis yang ada dalam proses implementasi kebijakan di atas, maka hal yang wajar bahwa implementasi ini berkaitan dengan proses administrasi. Konteks implementasi yang demikian baru akan terlihat pengaruhnya setelah kebijakan tersebut dilaksanakan. Hal itu yang menunjukan bahwa proses pelaksanaan kebijakan merupakan salah satu tahapan penting atau momentum dalam proses perumusan atau pembuatan kebijakan selanjutnya. Oleh karena itu menurut jones (1996;293-294) ‘’tidak berlebihan jika dikatakan implementasi adalah merupakan aspek yang penting dari keseluruhan proses lahirnya kebijakan’’. Namun hal senada kebanyakan dari kita sering beranggapan bahwa setelah kebijakan disahkan oleh pihak yang

(20)

berwewenang dengan sendirinya kebijakan itu akan dapat dilaksanakan, dan hasilnya pun akan mendekati seperti yang diharapkan oleh pihak pembuatan kebijakan tersebut.

Hal senada juga dikemukakan oleh Salusu (2002:17) bahwa dalam kasus tertentu, proses implementasi kebijakan dapat terjadi seketika, tetapi kebanyakan harus menunggu karena memerlukan persiapan yang cukup matang. Implementasi dari suatu kebijakan adalah sesuatu yang sangat peka, menuntut kehati-hatian, dan bahkan pada saat penyusunan alternatif kebijakan dilakukan sudah harus dipertanyakan bagaimana melaksanakan setiap alternatif tersebut. Jadi dapat dikatakan bahwa implementasi adalah operasionalisasi dari berbagai aktivitas guna mencapai sasaran tertentu.

Pemahaman lebih lanjut tentang konsep implementasi kebijakan dapat pula di lihat dari apa yang di kemukakan oleh Lineberry dalam Putra (2003;

81), Dengan mengutip pendapat Van Meter dan Van Horn (1975) yang menyatakan bahwa, pernyataan ini memberikan makna bahwa implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh individu-individu dan kelompok pemerintah dan swasta yang di arahkan pada pencapaian tujuan dan sasaran yang menjadi prioritas dalam keputusan kebijakan. Dengan kata lain pelaksanaan kebijakan didalam praktek sering menjadi suatu proses yang berbelit yang menjurus kepada permulaan baru dari pada seluruh proses kebijakan atau menjadi buyar sama sekali.

Dengan adanya kebijakan implementasi, yang merupakan bentuk kongkrit dari konseptualisasi dalam kebijakan formulasi, tidak secara otomatis

(21)

meruapakan garansi berjalannya suatu program dengan baik. Oleh karena itu suatu kebijakan implementasi pada umumnya satu paket dengan kebijakan pemantauan atau monitoring. Mengingat kebijakan implemntasi adalah sama peliknya dengan kebijakan formulasi, maka perlu diperhatikan berbagai faktor yang akan mempengaruhinya.

1. Faktor – faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan.

Kebijakan apa pun bentuknya sebenarnya mengandung resiko gagal.

Hoogwood dan Gunn (1984) membagi pengertian kegagalan kebijakan kedalam dua kategori yaitu non implementation dan unsuccesful implementation. Tidak terimplementasi dengan baik mengandung arti bahwa suatu kebijakan tidak dilaksanakan sesuai dengan rencana, mungkin karena pihak-pihak yang terlibat di dalam pelaksanaannya tidak mau bekerja sama, atau mereka telah bekerja secara tidak efisien, bekerja setengah hati atau tidak sepenuhnya menguasai permasalahan atau permasalahan yang di buat di luar jangkauan kekuasaan, sehingga betapapun gigih dan usaha mereka, hambatan- hambatan yang ada tidak sanggup mereka tanggulangi. Akibatnya implementasi yang efektif sukar di penuhi.

2. Model implentasi kebijakan publik

Dengan memperhatikan beberapa pengertian implementasi kebijakan publik yang telah di jelaskan di atas maka kajian implementasi kebijakan merupakan suatu proses mengubah gagasan atau program menjadi tindakan dan bagaimana kemungkinan menjalankan perubahan tersebut. Edawar III menawarkan dan mempertimbangkan empat faktor dalam

(22)

mengimplementasikan kebijakan publik, yakni; communication, resourches, and bureauracitic structure.

Dalam proses implementasi kebijakan publik, komunikasi memegang peranan penting karena pelaksana harus mengetahui apa yang akan mereka lakukan. Perintah untuk melaksanakan kebijakan harus di teruskan kepada aparat, tepat dan konsisten. Jika penerapan kebijakan akan dilaksanakan secara efektif, pelaksanaan bukan hanya mengetahui apa yang harus mereka kerjakan dan memiliki kemampuan untuk menerapkannya, tetapi mereka juga harus mempunyai keinginan untuk menerapkan kebijakan-kebijakan tersebut.

Beberapa variabel yang dimasukkan sebagai variabel yang mempengaruhi dan menyangkut dalam proses kebijakan publik adalah;

1. Komunikasi 2. Sumber daya 3. Disposisi

4. Struktur birokrasi

Model implementasi yang dikembangkan oleh George C. Edward III (1980;10 ) disebut dengan Direct and Indirect Impact of Implementation.

Dalam penekatan yang diteorikan oleh George C. Edward III, terdapat empat variabel yang sangat menentukan keberhasilan suatu kebijakan, yaitu: Proses ini merupakan sebuah abstraksi atau performansi dari suatu kebijakan yang pada dasarnya dilakukan untuk meraih kinerja implentasi kebijakan publik yang tinggi, yang berlangsung dala hubungan berbagai variabel. Model ini mengumpamakan implementasi kebijakan berjalan secara linier dari

(23)

komunikasi, sumber daya politik yang tersedia dan pelaksanaan implementasi kebijakan.

Pertama, yang mempengaruhi keberhasilan implementasi dari suatu kebijakan, adalah komunikasi. Menurut Edward III komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik. Implementasi yang akan terjadi apabila para pembuat keputusan (decision maker) sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.

Pengetahuan atas apa yang akan mereka kerjakan baru dapat berjalan manakala komunikasi berjalan dengan baik, sehingga setiap keputusan kebijakan dan peraturan implementasi harus ditransmisikan (atau dikomunikasikan) kepada bagian personalia yang tepat. Selain itu, kebijakan yang dikomunikasikan pun harus tepat, akurat dan konsisten. Komunikasi (atau pentransmisian informasi) diperlukan agar para pembuat keputusan dan para implementor semakin konsisten dalam melaksanakan setiap kebijakan yang akan diterapkan dalam masyarakat.

Kedua, menurut Edward III yang mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan adalah sumber daya. Sumber daya merupakan hal penting lainnya dalam mengimplementasikan kebijakan dengan baik.

Indikator- indikator yang digunakan untuk melihat sejauhmana sumberdaya dapat berjalan dengan baik dan rapi, yaitu staf, informasi, wewenang dan fasilitas.

Ketiga, variabel yang mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu kebijakan adalah disposisi. Disposisi atau sikap dari pelaksana kebijakan adalah faktor

(24)

penting ketiga dalam pendekatan mengenai implementasi suatu kebijakan. Jika implementasi suatu kebijakan ingin efektif, maka para pelaksana kebijakan tidak hanya harus mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk mekaksanakannya, sehingga dalam praktiknya tidak menjadi bias. Hal-hal penting yang perlu dicermati pada variabel disposisi adalah pengangkatan birokrat dan insentif.

Keempat, menurut Edward III yang mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan adalah struktur birokrasi. Walaupun sumber- sumber untuk melaksanakan suatu kebijakan tersedia, atau para pelaksana kebijakan mengetahui apa yang harusnya dilakukan dan mempunyai keinginan untuk melaksanakan suatu kebijakan, tetapi kemungkinan kebijakan tersebut tidak dapat terlaksana atau terealisasi masih tetap ada karena terdapatnya kelemahan dalam struktur birokrasi. Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya kerjasama banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada kebijakan yang tersedia, maka hal ini akan menyebabkan sumber-sumbernya.

Berdasarkan pengertian implementasi di atas Van Meter dan Vanhorn mengemukakan beberapa hal yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi yang disebut dengan A Model of The Policy Implementation, yaitu:

1. Ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan 2. Sumber-sumber kebijakan

3. Karakteristik badan-badan pelaksana

(25)

4. Kondisi-kondisi ekonomi, sosial dan politik 5. Sikap para pelaksana

6. Komunikasi antar organisasi terkait dengan kegiatan-kegiatan pelaksanaan Proses ini merupakan sebuah abstraksi atau performansi dari suatu kebijakan yang pada dasarnya dilakukan untuk meraih kinerja implentasi kebijakan publik yang tinggi, yang berlangsung dalam hubungan berbagai variabel.

1. Kebijakan Publik 2. Standar Dan Tujuan 3. Sumber-sumber kebijakan

4. Karakteristik badan-badan pelaksana 5. Sikap para pelaksana

6. Kondisi ekonomi, sosial dan politik 7. Kinerja Kebijakan Publik

Model ini mengumpamakan implementasi kebijakan berjalan secara linier dari keputusan politik yang tersedia, pelaksana, dan kinerja kebijakan publik. Pertama, ukuran dan tujuan kebijakan diperlukan untuk mengarahkan dalam melaksanakan kebijakan, hal tersebut dilakukan agar sesuai dengan program yang sudah direncanakan. Ukuran kebijakan SISMS Gateway yang menjadi sasaran adanya kepuasan pelayanan yang dirasakan oleh masyarakat dan adanya kemudahan dalam pembuatan laporan masyarakat dalam keadaan darurat dengan menggunakan teknologi yang tepat guna. Kedua, menurut Van Meter dan Vanhorn, sumber daya kebijakan merupakan keberhasilan proses

(26)

implementasi kebijakan yang dipengaruhi dengan pemanfaatan sumber daya manusia, biaya, dan waktu (Meter dan Vanhorn, 1975:465). Sumber-sumber kebijakan tersebut sangat diperlukan untuk keberhasilan suatu kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Sumber daya manusia sangat penting karena sebagai sumber penggerak dan pelaksana kebijakan, modal diperlukan untuk kelancaran pembiayaan kebijakan agar tidak menghambat proses kebijakan.

Ketiga, keberhasilan kebijakan bisa dilihat dari sifat atau ciri-ciri badan/instansi pelaksana kebijakan. Hal ini sangat penting karena kinerja implementasi kebijakan publik akan sangat banyak dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat serta cocok dengan para badan atau instansi pelaksananya.

Subarsono mengungkapkan kualitas dari suatu kebijakan dipengaruhi oleh kualitas atau ciri-ciri dari para aktor, kualitas tersebut adalah tingkat pendidikan, kompetensi dalam bidangnya, pengalaman kerja, dan integritas moralnya (Subarsono, 2006:7). Komponen dari model ini terdiri dari stuktur- struktur formal dari organisasi-organisasi dan atribut-atribut yang tidak formal dari personil mereka, disamping itu perhatian juga perlu ditujukan kepada ikatan-ikatan badan pelaksana dengan pameran-pameran serta dalam penyampaian kebijakan. Keempat, dampak kondisi-kondisi ekonomi, sosial dan politik pada kebijakan publik merupakan pusat perhatian yang besar selama dasawarsa yang lalu. Van Meter dan Vanhorn mengungkapkan:

“Sejauh mana lingkungan eksternal ikut mendukung keberhasilan kebijakan publik yang telah ditetapkan, lingkungan eksternal tersebut adalah ekonomi, sosial, dan politik dukungan sumber daya ekonomi dapat mendukung

(27)

keberhasilan implementasi kebijakan dan dalam lingkungan politik dukungan elite politik sangat diperlukan dalam mendukung keberhasilan implementasi kebijakan” (Meter dan Vanhorn, 1975:471).

Perubahan kondisi ekonomi, sosial dan politik dapat mempengaruhi interpretasi terhadap masalah dan dengan demikian akan mempengaruhi cara pelaksanaan program, variasi-variasi dalam situasi politik berpengaruh terhadap pelaksanaan kerja. Peralihan pemerintahan dapat mengakibatkan perubahan-perubahan dalam cara pelaksanaan kebijakan-kebijakan tanpa mengubah kebijakan itu sendiri.

Kelima, Van Meter dan Vanhorn mengungkapkan bahwa karakteristik agen pelaksana adalah mencakup struktur birokrasi, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi (Meter dan Vanhorn, 1975:472). Sikap para pelaksana dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai pelaksana kebijakan harus dilandasi dengan sikap disiplin. Hal tersebut dilakukan karena dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan, setiap badan/instansi pelaksana kebijakan harus merasa memiliki terhadap tugasnya masing-masing berdasarkan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

Keenam, Van Meter dan Vanhorn mengungkapkan bahwa komunikasi memegang peranan penting bagi berlangsungnya koordinasi implementasi kebijakan. Standar dan tujuan kebijakan memiliki efek tidak langsung pada kinerja, apa pengaruh ini terhadap variabel dependen ditengahi oleh variable independen lain. Jelas yang memberikan pelayanan publik akan dipengaruhi oleh cara yang standar dan tujuan komunikasi untuk pelaksana dan sejauh

(28)

mana standars dan tujuan memfasilitasi pengawasan dan penegakan hukum (Meter dan Vanhorn, 1975:473).

Standar dan tujuan tidak langsung berdampak pada disposisi pelaksana melalui kegiatan komunikasi interorganisasi. Hubungan antara sumber daya dan lingkungan ekonomi, sosial, dan politik dari yurisdiksi menerapkan (atau organisasi) menunjukkan bahwa ketersediaan sumber daya fiskal dan lainnya dapat menciptakan permintaan oleh warga negara swasta dan terorganisir kelompok-kelompok kepentingan-untuk partisipasi dalam dan implementasi berhasil dari program (Meter dan Vanhorn, 1975:476). Prospek manfaat dari program ini dapat menyebabkan kelompok dinyatakan diam untuk menekan partisipasi maksimum. Berdasarkan sumber daya terbatas yang tersedia, warga negara kepentingan pribadi dan terorganisir dapat memilih untuk menentang kebijakan atas dasar bahwa manfaat dari partisipasi sedikit dibandingkan dengan biaya potensial (1975:480).

Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier dalam bukunya Implementation and Public Policy mengemukakan implementasi sebagai:

“Pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang- undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan- keoutusan eksekutif yang penting atau atau keputusan badan peradilan.

Lazimnya, keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan atau sasaran yang ingin dicapai, dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses implementasinya”

(Mazmanian dan Paul Sabatier, 1983:61).

(29)

Berdasarkan pengertian tersebut, implementasi adalah sebuah program atau sebuah kebijakan yang kelihatannya bagus diatas kertas namun lebih sulit merumuskannya dalam kata-kata dan slogan-slogan yang terdengar menyejukkan bagi telinga para pemimpin dan pemilih yang mendengarkannya.

Implementasi kebijakan lebih sulit lagi untuk melaksanakannya dalam bentuk yang memuaskan semua orang.

C. Konsep Penataan Ruang Wilayah

Berikut ini merupakan pengertian dan konsep dasar dari tata ruang, baik menurut peraturan perundang-undangan yang baru yaitu Undang – Undang No.

26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang maupun menurut beberapa ahli.

a. Ruang

Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang dimaksud dengan ruang adalah: "Wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya."

Yang dimaksud dengan pengertian ruang adalah "wujud fisik wilayah dalam dimensi geografis dan geometris yang merupakan wadah bagi manusia dalam melaksanakan kegiatan kehidupannya dalam suatu kualitas hidup yang layak"(D.A Tisnaamidjaja, 1997:6). Ruang sebagai salah satu tempat untuk melangsungkan kehidupan manusia, juga sebagai sumber daya alam merupakan salah satu karunia Tuhan kepada bangsa Indonesia. Dengan demikian ruang wilayah Indonesia merupakan suatu aset yang harus dapat

(30)

dimanfaatkan oleh masyarakat dan bangsa Indonesia secara terkoordinasi, terpadu dan seefektif mungkin dengan memperhatikan faktor-faktor lain seperti, ekonomi, sosial, budaya, hankam, serta kelestarian lingkungan untuk mendorong terciptanya pembangunan nasional yang serasi dan seimbang.

Selanjutnya, dalam Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah No. 327/KPTS/2002 tentang Penetapan Enam Pedoman Bidang Penataan Ruang, yang dimaksud dengan ruang adalah:

"Wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, ruang udara sebagai suatu kesatuan wilayah tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup clan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya." Seperti yang telah diuraikan dalam Pasal 1 Undangundang No. 26 Tahun 2007, yang menyatakan bahwa ruang terbagi ke dalam beberapa kategori, yang di antaranya adalah:

1. Ruang Daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan, termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah.

2. Ruang Lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut dari sisi garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya, di mana negara Indonesia memiliki hak yuridiksinya.

3. Ruang Udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah negara dan melekat pada bumi, di mana negara Indonesia memiliki hak yuridiksinya.

(31)

b. Tata Ruang

Pasal 1 angka 2 Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, menjelaskan yang dimaksud dengan tata ruang adalah "wujud struktural ruang dan pola ruang". Adapun yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan buatan yang secara hirarkis berhubungan satu dengan yang lainnya. Sedang yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang meliputi pola lokasi, sebaran permukiman, tempat kerja, industri, pertanian, serta pola penggunaan tanah perkotaan dan pedesaan, di mana tata ruang tersebut adalah tata ruang yang direncanakan, sedangkan tata ruang yang tidak direncanakan adalah tata ruang yang terbentuk secara alami, seperti aliran sungai, gua, gunung dan lain-lain. Selanjutnya masih dalam peraturan tersebut, yaitu Pasal 1 angka 5 yang dimaksud dengan penataan ruang adalah "suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang".

c. Rencana Tata Ruang

Perencanaan atau planning merupakan suatu proses sedangkan hasilnya berupa "rencana" (plan), dapat dipandangm sebagai suatu bagian dari setiap kegiatan yang lebih sekedar refleks yang berdasarkan perasaan semata. Tetapi yang penting, perencanaan merupakan suatu komponen yang penting dalam setiap keputusan sosial, setiap unit keluarga, kelompok, masyarakat, maupun pemerintah terlibat dalam perencanaan pada saat membuat keputusan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan untuk mengubah sesuatu dalam dirinya atau

(32)

lingkungannya. Pada negara hukum dewasa ini, suatu rencana tidak dapat dihilangkan dari hukum administrasi. Rencana dapat dijumpai pada berbagai bidang kegiatan pemerintahan, misalnya dalam pengaturan tata ruang. Rencana merupakan keseluruhan tindakan yang saling berkaitan dari tata usaha negara yang mengupayakan terlaksananya keadaan tertentu yang tertib (teratur).

Rencana yang demikian itu dapat dihubungkan dengan stelsel perizinan (misalkan suatu perizinan pembangunan akan ditolak oleh karena tidak sesuai dengan rencana peruntukan).

Perencanaan adalah suatu bentuk kebijaksanaan, sehingga dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah sebuah species dari genus kebijaksanaan.

Masalah perencanaan berkaitan erat dengan perihal pengambilan keputusan serta pelaksanaannya. Perencanaan dapat dikatakan pula sebagai pemecahan masalah secara saling terkait serta berpedoman kepada masa depan. Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah No. 327/KPTS/2002 tentang Penetapan Enam Pedoman Bidang Penataan Ruang yang dimaksud dengan Rencana Tata Ruang adalah "hasil perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang, Maksud diadakannya perencanaan tata ruang adalah untuk menyerasikan berbagai kegiatan sektor pembangunan sehingga dalam memanfaatkan lahan dan ruang dapat dilakukan secara optimal, efisien, dan serasi. Sedangkan tujuan diadakan adanya suatu perencanaan tata ruang adalah untuk mengarahkan struktur dan lokasi beserta hubungan fungsionalnya yang serasi dan seimbang dalam rangka pemanfaatan sumber daya manusia, sehingga tercapainya hasil pembangunan yang optimal dan efisien bagi

(33)

peningkatan kualitas manusia dan kualitas lingkungan hidup secara berkelanjutan Penataan ruang sebagai suatu proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan suatu kesatuan sistem yang tidak dapat terpisahkan satu sama lainnya. Untuk menciptakan suatu penataan ruang yang serasi harus memerlukan suatu peraturan perundang-undangan yang serasi pula di antara peraturan pada tingkat tinggi sampai pada peraturan pada tingkat bawah, sehingga terjadinya suatu koordinasi dalam penataan ruang (1986:98).

Mochtar Koesoemaatmadja mengonstatir bahwa tujuan pokok penerapan hukum apabila hendak direduksi pada satu hal saja adalah ketertiban (order). Ketertiban adalah tujuan pokok dan pertama dari segala hukum, kebutuhan akan ketertiban ini, merupakan syarat pokok (fundamental) bagi adanya masyarakat yang teratur, di samping itu tujuan lainnya adalah tercapainya keadilan yang berbeda-beda isi dan ukurannya, menurut masyarakat pada zamannya (Mochtar Koesoemaatmadja, 1986;108). Konsep dasar hukum penataan ruang, tertuang di dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang berbunyi: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia.

Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 amandemen ke empat, berbunyi: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” Ketentuan tersebut memberikan “hak penguasaan kepada negara atas seluruh sumber daya

(34)

alam Indonesia, dan memberikan kewajiban kepada negara untuk menggunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat”. Kalimat tersebut mengandung makna, negara mempunyai kewenangan untuk melakukan pengelolaan, mengambil dan memanfaatkan sumber daya alam guna terlaksananya kesejahteraan yang dikehendaki.

Untuk dapat mewujudkan tujuan negara tersebut, khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa berarti negara harus dapat melaksanakan pembangunan sebagai penunjang dalam tercapainya tujuan tadi dengan suatu perencanaan yang cermat dan terarah. Apabila kita cermati dengan seksama, kekayaan alam yang ada dan dimiliki oleh negara, yang kesemuanya itu memiliki suatu nilai ekonomis, maka dalam pemanfaatannya pun harus diatur dan dikembangkan dalam pola tata ruang yang terkoordinasi, sehingga tidak akan adanya perusakan terhadap lingkungan hidup. Upaya pelaksanaan perencanaan penataan ruang yang bijaksana adalah kunci dalam pelaksanaan tata ruang agar tidak merusak lingkungan hidup, dalam konteks penguasaan negara atas dasar sumber daya alam, menurut hemat penulis melekat di dalam kewajiban negara untuk melindungi, melestarikan dan memulihkan lingkungan hidup secara utuh.

Artinya, aktivitas pembangunan yang dihasilkan dari perencanaan tata ruang pada umumnya bernuansa pemanfaatan sumber daya alam tanpa merusak lingkungan.

Selanjutnya, dalam mengomentari konsep Roscoe Pound, Mochtar Koesoematmadja mengemukakan bahwa hukum haruslah menjadi sarana

(35)

pembangunan. Di sini berarti hukum haruslah mendorong proses modernisasi (Mochtar Koesoemaatmadja, 2002: 104). Artinya hukum yang dibuat haruslah sesuai dengan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejalan dengan fungsi tersebut maka pembentuk undang-undang meletakkan berbagai dasar yuridis dalam melakukan berbagai kegiatan pembangunan, sebagai salah satunya yaitu dalam pembuatan undang-undang mengenai penataan ruang.

Untuk lebih mengoptimalisasikan konsep penataan ruang, maka peraturan- peraturan perundang-undangan telah banyak diterbitkan oleh pihak pemerintah, di mana salah satu peraturan perundang- undangan yang mengatur penataan ruang adalah Undangundang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Undang-undang No. 26 Tahun 2007 merupakan undangundang pokok yang mengatur tentang pelaksanaan penataan ruang. Keberadaan undang-undang tersebut diharapkan selain sebagai konsep dasar hukum dalam melaksanakan perencanaan tata ruang, juga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan pemerintah dalam penataan dan pelestarian lingkungan hidup.

Berdasarkan pengertian dalam Undang-undang 24/1992 Tentang Penataan Ruang, perencanaan tata ruang merupakan proses untuk menghasilkan rencana tata ruang yang mencakup proses penyusunan rencana tata ruang dan proses penetapan rencana tata ruang. Rencana tata ruang berisi rencana struktur ruang dan rencana pola pemanfaatan ruang. Rencana struktur ruang adalah arahan pengembangan elemen-elemen pembentuk struktur ruang yang terdiri dari sistem pusat-pusat permukiman, sistem jaringan transportasi (darat, laut, udara), sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan

(36)

telekomunikasi, dan sistem jaringan prasarana sumber daya air yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Adapun rencana pola pemanfaatan ruang berisi arahan distribusi peruntukan ruang untuk berbagai kegiatan baik peruntukan ruang untuk fungsi lindung maupun fungsi budidaya.

Menurut tingkat administrasi pemerintahan, perencanaan tata ruang dilaksanakan secara hirarki mulai dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK). Dikaitkan dengan substansinya, Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional berisi arahan struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang yang memiliki nilai strategis nasional.

Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi berisi arahan struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang yang merupakan sistem provinsi dengan memperhatikan sistem nasional yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.

Sementara Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/kota berisi arahan struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang di wilayahnya dengan memperhatikan hal- hal yang telah diatur dalam rencana tata ruang pada hirarki di atasnya. Rencana tata ruang yang berhirarki ini harus dilaksanakan dengan memperhatikan kewenangan yang dimiliki oleh masing-masing tingkat pemerintahan, untuk menghindari tumpang tindih pengaturan pada obyek yang sama. Dengan kata lain, perencanaan yang berhirarki harus memenuhi prinsip saling melengkapi.

Untuk keperluan operasionalisasi, rencana tata ruang wilayah pada setiap tingkat administrasi perlu dijabarkan dalam rencana detail yang disusun dengan kedalaman pengaturan dan skala peta yang disesuaikan dengan

(37)

kebutuhan. Dengan berpedoman pada prinsip saling melengkapi, rencana detail tata ruang yang disusun hanya menjabarkan hal-hal yang telah diatur dalam rencana tata ruang wilayah. Artinya, rencana detail dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional hanya menjabarkan operasionalisasi dari pengembangan sistem nasional yang telah diatur dan tidak memuat substansi pengaturan yang menurut sifatnya adalah muatan dari rencana tata ruang wilayah pada hirarki yang lebih rendah.

Rencana tata ruang wilayah dan rencana detail tata ruang yang telah disusun selanjutnya ditetapkan sebagai produk yang mengikat pemangku kepentingan sesuai dengan peraturan perundang-undangan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah).

Sebagai sebuah ketentuan yang mengikat, rencana tata ruang selanjutnya menjadi pedoman dalam proses pembangunan yang terkait dengan pengembangan struktur ruang dan pembentukan pola pemanfaatan ruang di wilayah perencanaan. Mengingat penataan ruang menyangkut kepentingan banyak pihak yang tidak terbatas pada lingkungan pemerintahan saja, proses penyusunan rencana tata ruang pun harus dilaksanakan dengan pendekatan patisipatif melalui pelibatan aktif seluruh pemangku kepentingan. Hal ini dimaksudkan agar rencana tata ruang yang dihasilkan dapat berfungsi sebagai produk kesepakatan antar-pemangku kepentingan sehingga dapat diimplementasikan secara efektif. Dalam proses ini, peran masyarakat tidak dapat diabaikan, mengingat masyarakat merupakan obyek dan subyek utama

(38)

dalam penyelenggaraan penataan ruang. Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan tata ruang telah diatur secara tegas dalam UU 26/2007 Tentang Penataan Ruang dan PP 69/1996 Tentang Pelaksanaan Hal dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang.

Selanjutnya perlu digaris bawahi bahwa pembangunan di suatu wilayah tidak dapat dilepaskan dari wilayah lainnya, mengingat adanya hubungan saling mempengaruhi antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Oleh karenanya perencanaan tata ruang tidak dapat dilaksanakan hanya dengan memperhatikan kepentingan internal (inward looking), tetapi juga harus memperhatikan pengaruh wilayah lain serta dampak terhadap wilayah lain D. Konsep Dan Regulasi Ruang Terbuka Hijau

3.1.Konsep Ruang Terbuka Hijau

Sebagai salah satu unsur kota yang penting khususnya dilihat dari fungsi ekologis, maka betapa sempit atau kecilnya ukuran Ruang Terbuka Hijau Kota (Urban Green Open Space) yang ada, termasuk halaman rumah/bangunan pribadi, seyogyanya dapat dimanfaatkan sebagai ruang hijau yang ditanami tetumbuhan. Dari berbagai referensi dan pengertian tentang eksistensi nyata sehari-hari, maka RTH dapat dijabarkan dalam pengertian, sebagai: Pengertian RTH, (1) adalah suatu lapang yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan, pada berbagai strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon (tanaman tinggi berkayu); (2) “Sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang mempunyai ukuran, bentuk dan batas geografis tertentu dengan status penguasaan apapun, yang di dalamnya terdapat tetumbuhan hijau berkayu dan

(39)

tahunan (perennial woody plants), dengan pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan tumbuhan lainnya (perdu, semak, rerumputan, dan tumbuhan penutup tanah lainnya), sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain yang juga sebagai pelengkap dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan”

(Purnomohadi, 1995;124).

Ruang Terbuka (RT) tidak harus ditanami tumbuhan, atau hanya sedikit terdapat tumbuhan, namun mampu berfungsi sebagai unsur ventilasi kota, seperti plaza dan alun-alun. Tanpa Ruang Terbuka, apalagi Ruang Terbuka Hijau, maka lingkungan kota akan menjadi ‘Hutan Beton’ yang gersang, kota menjadi sebuah pulau panas (heat island) yang tidak sehat, tidak nyaman, tidak manusiawi, sebab tak layak huni. Secara hukum (hak atas tanah), RTH bisa berstatus sebagai hak milik pribadi (halaman rumah), atau badan usaha (lingkungan skala permukiman/neighborhood), seperti: sekolah, rumah sakit, perkantoran, bangunan peribadatan, tempat rekreasi, lahan pertanian kota, dan sebagainya), maupun milik umum, seperti: Taman-taman Kota, Kebun Raja, Kebun Botani, Kebun Binatang, Taman Hutan Kota/Urban Forest Park, Lapangan Olahraga (umum), Jalur-jalur Hijau (green belts dan/atau koridor hijau): lalu-lintas, kereta api, tepian laut/pesisir pantai/sungai, jaringan tenaga listrik: saluran utama tegangan ekstra tinggi, Taman Pemakaman Umum (TPU), dan daerah cadangan perkembangan kota (bila ada). Menurut Pasal 1 butir 31 Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang , ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang

(40)

penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Menurut Gunadi (1995:89) dalam perencanaan ruang kota (townscapes) dikenal istilah Ruang Terbuka (open space), yakni daerah atau tempat terbuka di lingkungan perkotaan. Ruang Terbuka berbeda dengan istilah ruang luar (exterior space), yang ada di sekitar bangunan dan merupakan kebalikan ruang dalam (interior space) di dalam bangunan. Definisi ruang luar, adalah ruang terbuka yang sengaja dirancang secara khusus untuk kegiatan tertentu, dan digunakan secara intensif, seperti halaman sekolah, lapangan olahraga, termasuk plaza (piazza) atau square. zona hijau bisa berbentuk jalur (path), seperti jalur hijau jalan, tepian air waduk atau danau dan bantaran sungai, bantaran rel kereta api, saluran/ jaringan listrik tegangan tinggi, dan simpul kota (nodes), berupa ruang taman rumah, taman lingkungan, taman kota, taman pemakaman, taman pertanian kota, dan seterusnya, sebagai Ruang Terbuka (Hijau).

Ruang terbuka yang disebut Taman Kota (park), yang berada di luar atau di antara beberapa bangunan di lingkungan perkotaan, semula dimaksudkan pula sebagai halaman atau ruang luar, yang kemudian berkembang menjadi istilah Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota, karena umumnya berupa ruang terbuka yang sengaja ditanami pepohonan maupun tanaman, sebagai penutup permukaan tanah. Tanaman produktif berupa pohon bebuahan dan tanaman sayuran pun kini hadir sebagai bagian dari RTH berupa

(41)

lahan pertanian kota atau lahan perhutanan kota yang amat penting bagi pemeliharaan fungsi keseimbangan ekologis kota.

3.2. Regulasi Ruang Terbuka Hijau

Berdasarkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil (1992;198) dan dipertegas lagi pada Konferensi Tingkat Tinggi Afrika Selatan tahun 2002, disepakati bersama bahwa sebuah kota idealnya memiliki luas Ruang Terbuka Hijau minimal 30 persen dari total luas kota. Tentu saja

‘angka’ ini bukan merupakan patokan mati. Penetapan luas Ruang Terbuka Hijau kota harus berdasar pula pada studi eksistensi sumber daya alam dan manusia penghuninya. Penetapan besaran luas Ruang Terbuka Hijau ini bisa juga disebut sebagai bagian dari pengembangan Ruang Terbuka Hijau kota.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang pengaturan tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH) ditegaskan dalam Pasal 29 berikut ini :

1. Ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf a terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat.

2. Proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota.

3. Proporsi ruang terbuka hijau publik pada wilayah kota paling sedikit 20 (dua puluh) persen dari luas wilayah kota.

Proporsi 30 (tiga puluh) persen merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain, yang selanjutnya akan

(42)

meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Untuk lebih meningkatkan fungsi dan proporsi ruang terbuka hijau di kota, pemerintah, masyarakat, dan swasta didorong untuk menanam tumbuhan di atas bangunan gedung miliknya.

Ketentuan tentang Ruang Terbuka Hijau Publik dan distribusinya ditegaskan dalam Pasal 30 berikut ini. “Distribusi ruang terbuka hijau publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dan ayat (3) disesuaikan dengan sebaran penduduk dan hierarki pelayanan dengan memperhatikan rencana struktur dan pola ruang”. Sementara itu, ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan RTH ditegaskan dalam Pasal 31 berikut ini.”Ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau dan ruang terbuka nonhijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf a dan huruf b diatur dengan peraturan Menteri”.

Berdasar batasan umum, maupun kewenangan pengelolaan, meskipun sudah ada beberapa peraturan daerah khusus Ruang Terbuka Hijau kota dan peraturan lain terkait, namun tetap masih diperlukan pengaturan lebih lanjut, yang dikaitkan dengan terbitnya beberapa undang-undang lain, seperti:

Undang-Undang No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah yang telah disempurnakan dengan Undang-Undang No. 32/2004, Undang-Undang No.

4/1982 yang telah disempurnakan menjadi Undang-Undang No. 23/1997 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-Undang No.

5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Undang-Undang No. 4/1992 tentang Perumahan dan Permukiman, Undang-

(43)

Undang No. 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, dan Undang-Undang No.

18/1999 tentang Jasa Konstruksi.

Perkembangan dan pertumbuhan kota yang disertai dengan alih fungsi lahan yang pesat telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang dapat menurunkan daya dukung lahan dalam menopang kehidupan masyarakat di kawasan perkotaan, sehingga perlu dilakukan upaya untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan melalui penyediaan ruang terbuka hijau yang memadai. Bersarkan pertimbangan sebagaimana yang dimaksud di atas, perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan.

Dalam peraturan menteri dalam negeri ini yang dimaksud dengan:

1. Ruang terbuka adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang /jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tampa bangunan.

2. Ruang terbuka hijau kawasan perkotaan (RTKHP) adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang di isi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika.

3. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

(44)

Tujuan ruang terbuka hujau perkotaan menurut pasal 2 adalah sebagai berikut:

1. Menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan.

2. Mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan perkotaan.

3. Meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih dan nyaman.

Fungsi ruang terbuka hijau perkotaan di tegaskan dalam pasal 3 adalah sebagai berikut:

1. Pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan.

2. Pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara.

3. Pengendali tata air dan sarana estetika kota

Manfaat ruang terbuka hijau perkotaan di tegaskan dalam pasal 4 adalah sebagai berikut:

1. Sarana untuk mencerminkan identitas daerah.

2. Sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan.

3. Sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial.

4. Meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan.

5. Menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestasi daerah.

6. Sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat.

7. Memperbaiki iklim mikro dan meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan.

(45)

Pembentukan ruang terbuka hijau perkotaan menurut pasal 5 adalah sebagai berikut:

1. Pembentukan ruang terbuka hijau perkotaan disesuaikan dengan bentang alam berdasarkan pada aspek biogeografis dan struktur ruang kota serta estetika.

2. Pembentukan ruang terbuka hijau perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 mencerminkan karakter alam atau budaya setempat yang bernilai ekologis, historik, panorama yang khas dengan tingkat penerapan teknologi.

Jenis ruang terbuka hijau perkotaan di tetapkan dalam pasal 6 adalah sebagai berikut:

1. Taman kota

2. Taman wisata alam 3. Taman rekreasi

4. Taman lingkungan perumahan dan pemukiman 5. Taman hutan raya

6. Hutan kota 7. Cagar alam 8. Kebun raya

9. Pemakaman umum 10. Lapangan upacara

Luas ruang terbuka hijau perkotaan menurut pasal 9 adalah sebagai berikut:

(46)

1. Luas ideal ruang terbuka hijau perkotaan minimal 20% dari luas kawasan perkotaan

2. Luas ruang terbuka hijau perkotaan sebagaimana di maksud pada ayat 1 mencakup ruang terbuka hijau perkotaan privat.

3. Luas ruang terbuka hijau perkotaan publik sebagaimana dimaksud pada ayat 2 penyediaanya menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota yang dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing daerah

4. Ruang terbuka hijau perkotaan privat sebagaimana dimaksud pada ayat 2 penyediaanya menjadi tanggung jawab pihak/lembaga swasta, perseorangan dan masyarakat yang dikendalikan melalui izin pemanfaatan ruang oleh pemerintah kabupaten/kota.

E. Kerangka Pikir

Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang serta adanya kebijakan-kebijakan Pemerintah Daerah Kota Bima mengenai rencana tata ruang wilayah yaitu Perda Nomor 4 Tahun 2012 maka kesadaran hukum masyarakat mengenai masalah penataan ruang diharapkan mulai tumbuh. Berdasarkan perda nomor 4 tahun 2012 proporsi ruang terbuka hijau kota harus mencapai 30% dari wiyah kota dengan rincian 20% luas ruang terbuka hijau public dan 10% ruang terbuka hijau privat, Hal ini dimaksudkan agar kesadaran hukum masyarakat mengenai arti penting kelestarian lingkungan dan penataan ruang yang baik mampu mempengaruhi perilaku mereka menjadi motivasi kuat yang dapat melahirkan tindakan yang

(47)

nyata dalam usaha pemanfaatan ruang yang baik dan meningkatkan kualitas penataan ruang.

Dengan demikian implementasi kebijakan pemerintah ini di harapkan untuk mengatur segala kegiatan yang terjadi di masyarakat dengan selalu memperhatikan aspek lingkungan hidup atau kehidupan yang berwawasan lingkungan. Sehingga semua kegiatan yang berdampak pada berkurangnya kualitas lingkungan pada umumnya harus dikendalikan. Dalam hal ini Pemerintah Kota Bima tentunya telah menyusun berbagai kebijakan lain yang berhubungan dengan rencana tata ruang wilayah khususnya pengadaan ruang terbuka hijau yang diakibatkan oleh kegiatan kegiatan pembangunan sektor perdagangan, jasa, pemukiman dan lain-lain yang sedang digalakkan di Kota Bima, dapat berdampak pada menurunnya kualitas ruang terbuka hijau.

Meskipun Pemerintah Daerah Kota Bima telah mengeluarkan kebijakan tentang rencana tata ruang wilayah, akan tetapi berkurangnya fungsi ruang terbuka hijau yang terus berlangsung dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup. Adanya faktor-faktor dan kendala-kendala yang mempengaruhi berkurangnya ruang terbuka walaupun sudah ada kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota dari pemerintah daerah dalam hal pengadaan jumlah ruang terbuka yang sesuai. Sehingga efektifitas dari implementasi Kebijakan Pemerintah Kota Bima serta kendala – kendala inilah yang layak untuk diteliti.

(48)

Untuk lebih jelasnya alur pikir penelitian ini maka kerangka Pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :

Perda No 4 Tahun 2012 Tentang RTRW

Kota Bima

Faktor Penghambat Faktor Pendukung

Proporsi Ruang Terbuka Hijau - Jumlah RTH - Alokasi anggaran - Kesesuain RTH dengan

bangunan dan lingkungan sekitar

Keadaan Kota Bima

(49)

F. Fokus Penelitian

Berdasarkan uraian kerangka berpikir di atas maka perlu di uraikan fokus penelitian untuk menghindari adanya penafsiran yang berbeda dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau di kota bima

b. Model implementasi kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau di kota bima.

G. Definisi Fokus Penelitian

Untuk menghindari pembahasan yang lebih luas, maka dalam penelitian ini perlu di uraikan definisi fokus penelitian sebagai berikut:

a. Faktor yang mempengaruhi adalah hal-hal yang dapat mempengaruhi efektif dan tidaknya dalam proses implementasi kebijakan.

b. Model implementasi adalah gagasan yang akan dilakukan dalam pelaksanaan kebijakan publik.

(50)

44

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama satu bulan yaitu di mulai pada tanggal 20 November s/d 20 Desember 2014 dan berlokasi di Kantor Dinas Tata Ruang Dan Perumahan Kota Bima, karena melihat keadaan pelaksanaan rencana tata ruang Wilayah Kota Bima masih terlihat amburaduk serta jauh dari apa yang di tegaskan oleh peraturan daerah Kota Bima nomor 4 Tahun 2012 tentang tata ruang wilayah Kota Bima Tahun 2001-2031 yaitu proposisi ruang terbuka hijau kota adalah 30% dari luas wilayah kota serta penentuan penggunaannya tidak boleh di sertakan dengan bangunan lain seperti ruko, warung makan maupun pedagang kaki lima.

B. Jenis dan Tipe Penelitian a. Jenis penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif (desciptive research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai fenomena atau kenyataan sosial.

(51)

b. Tipe penelitian

Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif fenomenologis yaitu penelitian yang melukiskan dengan maksud menguraikan, menjelaskan, dan menggambarkan secara tepat tentang, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu atau untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala yang lain dalam masyarakat (Amirudin dan Z. Asikin. 2004 : 25). Dalam hal ini penulis berusaha menggambarkan secara tepat tentang Implementasi Ketentuan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan pasal 26 Peraturan Daerah Kota Bima Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bima Tahun 2011-2031.

C. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu :

a. Data primer

Data yang diperoleh secara langsung dari sumber data di lapangan atau dari lokasi penelitian, dalam hal ini adalah perangkat dari Pemerintah Kota Bima, yaitu dari Dinas Tata Ruang Kota dan Satuan tugas yang terkait.

b. Data skunder

Data yang mendukung dan melengkapi data primer yang berhubungan dengan masalah penelitian. Data mencakup dokumen-dokumen resmi, buku- buku, hasil-hasil penelitian yang dapat berwujud laporan dan lainlainnya

(52)

D. Informan Penelitian

Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah pegawai dinas tata ruang dan bangunan kota Bima serta satuan kerja perangkat daerah lainnya (SKPD) yang meliputi:

1. Kepala Dinas tata ruang dan bangunan 1 orang 2. Sekretaris dinas tata ruang dan bangunan 1 orang

3. Ketua bidang tata ruang 1 orang

4. Ketua bidang perumahan dan pemukiman 1 orang

5. Ketua bidang bangunan 1 orang

6. Ketua bidang teknik 1 orang

Jumlah informan = 6 orang

E. Fokus dan Deskripsi Fokus

Dalam penelitian ini akan di uraikan fokus dan deskripsi fokus penelitian sebagai berikut.

a. Penerapan kebijakan adalah aktifitas pelaksanaan atau perealisasian aturan pemerintah agar mencapai tujuan. dalam hal ini kebijakan rencana tata ruang wilayah kota Bima.

b. Hambatan adalah segenap masalah dilapangan yg menggangu jalannya akfitas penerapan kebijakan.

(53)

F. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, tekhnik untuk mengumpulkan data yang digunakan adalah :

a. Studi kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan serta menggunakan literatur yang berhubungan dengan permasalahn yang di teliti.

b. Metode wawancara teknik ini dilakukan dalam rangka memperoleh data primer serta pendapat-pendapat dari pegawai dinas tata ruang dan bangunan dan para pihak yang berkoordinasi memeriksa dan menangani penataan ruang terbuka hijau kota di tubuh Pemerintah Kota Bima seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Biro Lingkungan Hidup.

c. Observasi merupakan metode pengumpulan data dengan mengamati langsung. Proses ini berlangsung dengan pengamatan yang meliputi melihat, merekam atau foto, dan mencatat kejadian-kejadian, obyek-obyek yang dilihat dan hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung penelitian sehingga peneliti dapat menemukan pola-pola prilaku dan hubungan yang terus menerus terjadi.

G. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis data secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh, (Miles dan Hubermen (1984). Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru. Aktivitas dalam analisis meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) serta Penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing / verification).

(54)

H. Pengabsahan Data

Dalam penelitian ini peneliti menguji keabsahan data dengan cara triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik trianggulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainya. Denzim(1978;171) membedakan tiga macam trianggulasi sebagi teknik pemeriksaaan yaitu:

a. Triangulasi sumber yaitu untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

b. Triangulasi teknik yaitu teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda

c. Triangulasi waktu, yaitu menguji kredibilitas data pada waktu yang berbeda, karena waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data.

(55)
(56)

BAB IV

PAMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

Pada pembahasan bab ini akan menguraikan pokok persoalan yang merupakan subtansi dasar penelitian mulai dari pendeskripsian gambaran umum lokasi penelitian dan selanjutnya penjabaran tentang temuan penelitian perihal implementasi kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau di kota Bima. Pembahsan hasil penelitian yang dimaksud penulis, yakni mengacu pada batasan rumusan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya sebagai parameter penelitian. Adapun rincian uraian sebagai berikut:

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

a. Profil Dinas Tata Kota Dan Perumahan Kota Bima

Dinas Tata kota dan perumahan dibentuk berdasarkan Undang-Undang nomor 13 tahun 2002 tentang pembentukan daerah kota Bima, kemudian di tindak lanjuti dengan perda kota bima nomor 3 tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Bima, dinas tata kota dan perumahan kota bima merupakan salah satu devisi atau pelengkap dalam struktur organisasi darah kota bima yang mempunyai tugas dan fungsi: pertama, merumuskan kebijakan teknis bidang tata ruang kota, kedua, melaksanakan tugas operaasional bidang tata kota yang meliputi survey dan pemetaan, perencanaan tata ruang kota dan perizinan pemanfaatan ruang kota, dan ketiga, melaksanakan

49

(57)

pelayanan teknis administratif meliputi administrasi umum dan keuangan serta administrasi kepegawaian dinas.

b. Susunan Organisasi Dinas Tata Kota Dan Perumahan Kota Bima

Susunan organisasi dinas tata kota dan perumahan kota Bima terdiri dari:

1. Unsur pimpinan adalah kepala dinas tata kota dan perumahan 2. Unsur pembantu pimpinan adalah secretariat, terdiri dari:

- sub bagian umum dan kepegawaian - sub bagian program dan pelaporan - sub bagian keuangan

3. Unsur pelaksana adalah bidang terdiri dari:

- Bidang tata ruang terdiri dari: seksi perencanaan tata ruang, seksi pemanfaatan dan pengendalian tata ruang.

- Bidang pengawasan dan perijinan terdiri dari: seksi pengawasan dan keselamatan bagunan, seksi ijin bangunan dan reklame.

- Bidang perumahan terdiri dari: seksi perencanaan perumahan, seksi perumahan formal dan swadaya.

4. Unit pelaksana teknis dinas 5. Kelompok jabatan fungsional

c. Rincian tugas pokok dan fungsi Dinas Tata Kota Dan Perumahan Kota Bima 1. Dinas tata kota dan perumahan adalah unsur pelaksana pemerintah daerah

kota mempunyai tugas membantu walikota dalam menyelenggarakan

(58)

sebagian tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang tata kota dan perumahan, tugas pembantuan dan dekosentrasi.

2. Dalam melaksanakan tugas dinas tata kota dan perumahan mempunyai fungsi:

- Perumusan dan penetapan visi, misi dan rencana strategis serta program kerja dinas

- Perumusan kebijakan teknis di bidang tata kota dan perumahan

- Perumusan perizinan, rekomendasi dan pelaksanaan pelayanan umum sesuai dengan ruang lingkup tugasnya.

- Pembinaan dan penyelenggaraan kepegawaian dan jabatan fungsional - Melaksanakan tugas lain yang di berikan oleh walikota sesuai dengan

bidang tugasnya.

B. Implementasi Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Dalam Pengadaan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Bima

Dalam pengembangan tata ruang hijau di setiap daerah perkotaan, impelementasi kebijakan rencana tata ruang wilayah merupakan payung regulasi yang dapat menunjang pengadaan Ruang Terbuka Hijau . Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Luas Wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut:

Ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari Ruang Terbuka Hijau Publik dan Ruang Terbuka Hijau privat; proporsi Ruang Terbuka Hijau pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat; apabila luas Ruang Terbuka Hijau baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah

Referensi

Dokumen terkait

Alfian Aven Nuary, D0108029, Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar Tentang Ruang Terbuka Hijau (Studi Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Karanganyar Nomor

Ruang Terbuka Hijau pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bekasi kemudian dioverlay dengan hasil klasifikasi tutupan lahan tahun 2003, 2009, dan 2013. Hasil overlay

Ruang terbuka berfungsi sebagai ventilasi kota, dapat berupa jalan, trotoar, ruang terbuka hijau,

Untuk pelaksanaan kebijakan pengembangan ruang terbuka hijau ini, Pemprov DKI Jakarta telah melakukan proses koordinasi ketika mengahadapi masalah dalam

Tulisan ini dibuat untuk mengetahui bagaimana Pentingnya fungsi dari Ruang Terbuka Hijau dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Metro yang ditetapkan bahwa setiap kota

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pentingnya fungsi dari Ruang Terbuka Hijau dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta yang ditetapkan bahwa

Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba No. 21 Tahun 2012 tentang penataan Ruang Terbuka Hijau diimplementasikan dengan harapan dapat memberikan solusi dari pertambahan

Masyarakat kota, berkepentingan terhadap tersedianya ruang terbuka hijau dengan berbagai fungsi ekologisnyai. Masyarakat pendatang, yang cenderung memanfaatkan ruang terbuka