• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

C. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Kebijakan Rencana

Selain persoalan jumlah titik, penjelasan oleh informan lain mengenai kesesuaian titik ruang terbuka hijau dengan keadaan lingkungan disekitar di ungkapkan bahwa:

“Dari seluruh titik ruang terbuka hijau terdapat beberapa titik yang tidak sesuai dengan keadaan lingkungan setempat,hal ini dikarenakan oleh proses pembebasan lahan masyarakat yang susah dilakukan mengingat secara psikologis watak masyarakat bima masuk kategori keras apalagi masalah pembebasan lahan atau hak milik, hal ini sangat mempengaruhi penempatan ruang terbuka hijau kota, sehingga ruang terbuka hijau yang ada sekarang tempatnya di alihkan secara alternatif saja”(Wawancara dengan, AM. 23 November 2014).

Berangkat dari beberapa pernyataan informan diatas terkait implementasi kebijakan tentang ruang terbuka hijau di kota Bima sepenuhnya belum maksimal, kondisi ini dilihat dari jumlah ruang terbuka hijau di kota bima sangat jauh berbeda dengan sisi perencanaan pemerintah daerah. Kondisi ini dapat di amati dari jumlah total ruang terbuka hijau. Selain dari sisi perencanaan, hasil pengamatan penulis dari segi pemeliharaan ruang terbuka hijau masih belum terpenuhi, hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya hewan ternak yang berkeliaran di kawasan ruang terbuka hijau kota. Sedangkan dari sisi pemanfaatan ruang terbuka hijau kota dapat dikatakan kurang, kenyataan ini dilihat dari aktifitas masyarakat dalam pemanfaatan ruang terbuka hijau.

C. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Kebijakan Rencana Tata

faktor pendukung dan faktor penghambat. Bila dicermati tentang implementasi kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau di kota bima, terdapat factor pendukung dan penghambatnya, sebagai berikut:

a. Faktor pendukung 1. Penetapan kebijakan

Pengadaan ruang terbuka hijau daerah perkotaan, sangat dipengaruhi oleh regulasai ata penetapan kebijakan daerah yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan daerah setempat.

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan kepala dinas tata kota Bima mengatakan:

“Memang dalam penetapan kebijakan tata ruang, secara regualsi sudah terpenuhi dan mengacu pada undang-undang yang berlaku terkait dengan pengadaan ruang terbuka hijau perkotaan, di samping itu penyususan kebijakan tata ruang telah diarahkan berdasarkan tingakat kebutuhan daerah kota bima, akan tetapi pada tahap pelaksanaannya belum maksimal disebabakan oleh proses alih fungsi lahan yang akan dijadikan ruang tebuka hijau perkotaan”.(Wawancara dengan UM. 17 November 2014).

Pendapat senada juga diungkap olek kabid tata ruang yaitu:

“Betul dek, kalau persoalan penetapan kebijakan pengadaan ruang terbuka hijau sudah di tetapkan tinggal untuk menindak lanjuti itu yang ingin kami maksimalkan, mengingat kesadaran masyarakat juga yang kurang” (Wawancara dengan St. F.17 November 2014).

Pandangan di atas sejalan dengan pernyataan Jones (1996;293-294) yang mengatakan ‘’tidak berlebihan jika dikatakan implementasi adalah merupakan aspek yang penting dari keseluruhan proses lahirnya kebijakan’’. Namun hal senada kebanyakan dari kita sering beranggapan bahwa setelah kebijakan disahkan oleh pihak yang berwewenang dengan sendirinya kebijakan itu akan dapat

dilaksanakan, dan hasilnya pun akan mendekati seperti yang diharapkan oleh pihak pembuatan kebijakan tersebut. Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, menurut hemat penulis bahwa penetapan kebijakan secara subtantif itu sudah ada, akan tetapi yang perlu di upayakan adalah penekanan dalam pelaksanaan oleh pihak terkait demi menunjang terrealisasinya kebijakan pengadaan ruang terbuka hijau di kota Bima.

2. Pola komunikasi pemerintaham

Pemerintah selaku lolomotif yang memiliki kewenagan dalam menetapkan setiap kebijakan, bertanggung jawab penuh dalam penetapan kebijakan terkait pengadaan raung terbuka hijau daerah perkotaan. Salah satu aspek penunjang untuk merealisasikan tuntutan tersebut yakni mengupayakan pola komunikasi antar lembaga pemerintahan. Pola komunikasi merupakan langkan efektif secara prinsipil yang dijadikan sebagai sarana pemberitahuan dalam rangka mensosialisasikan setiap kebijakan yang akan dilaksankan, termasuk kaitannya dengan pelaksanaan pengadaan ruang terbuka hijau.

Berikut hasil wawancara dengan informan mengenai pola komunikasi pemerintah adalah sebagai berikut:

“Kalau dalam pelaksanaan kebijakan pengadaan ruang terbuka hijau itu dek, kami melakukan kerja sama antar lembaga pemerintah seperti bappeda ,dinas pertamanan, biro lingkungan hidup dan dinas pekerjaan umum yang diawali dengan pola komunikasi yang terkoordinasi”(wawancara dengan M.If, 19 November 2014).

Penjelasan yang sama juga di ungkapkan oleh informan terkait pola komunikasi pemerintahan dalam implementasi kebijakan pengadaan ruang hijau yakni sebagai berikut:

“ iya dek, biasanya setelah adanya penetapan kebijakan ruang terbuka hijau, kami selaku dinas tata kota mengupayakan langakah komunikasi dengan berbagai elemen untuk menunjang terlaksananya kebijakan tersebut.(wawancara dengan, M.RF 19 November 2014).

Lebih lanjut, bila merujuk pada pendapat Edward III (1980;10 ) komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik. Implementasi yang akan terjadi apabila para pembuat keputusan (decision maker) sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan. Pengetahuan atas apa yang akan mereka kerjakan baru dapat berjalan manakala komunikasi berjalan dengan baik, sehingga setiap keputusan kebijakan dan peraturan implementasi harus ditransmisikan (atau dikomunikasikan) kepada bagian personalia yang tepat.

Selain itu, kebijakan yang dikomunikasikan pun harus tepat, akurat dan konsisten.

Komunikasi (atau pentransmisian informasi) diperlukan agar para pembuat keputusan dan para implementor semakin konsisten dalam melaksanakan setiap kebijakan yang akan diterapkan dalam masyarakat. Dengan demikian menurut hemat penulis bahwa, komunikasai merupakan factor yang turut mempengaruhi keberhasilan dalam setiap implementasi kebijakan pemerintah, termasuk dalam hal pengadaan ruang terbuka hijau di daerah kota Bima.

b. Faktor Penghambat 1. Pengawasan Pemerintah

Pemerintah bukan hanya sebagai suksesi fungsional yang menentukan setiap kebijakan yang akan dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat, tatapi yang paling penting adalah kedudukan pemerintah dalam memberikan pengawasan setiap pelaksanaan kebijakan yang ada, termasuk kaitannya dengan impelemetsai kebijakan pangadaan ruang terbuka hijau di daerah kota Bima. Berikut hasil wawancara dengan informan terkait, pengawasan pemerintahan, yakni:

“Dalam hal pengawasan pemerintah sering diupayakan oleh pemerintah akan tetapi upaya pengawasan tersebut masih terkendala oleh berbagai persoalan seperti kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya ruang terbuka hijau disamping itu masih adanya rasa apatisme jajaran pemerintah kecamatan dan kelurahan dalam mengotrol aktifitas masyarakat yang tinggal di sekitar titik ruang terbuka hijau.(Wawancara dengan, IM, 24 November 2014).

Lebih lanjut, informan lain mengungkapkan bahwa:

“Dalam melakukan pengawasan pemerintah juga membentuk tim teknis dan nonteknis untuk nonteknis bertugas untuk pendekatan terhadap masyarakat dan maupun swasta, yaitu ada Dinas Tata Ruang Kota sebagai penanggung jawab, Kepala Satpol PP sebagai Ketua pelaksana, untuk pelindungnya dapat dari Walikota sendiri ataupun Wakil Walikota, lalu untuk Setda dan Asisten pemerintahan bertugas untuk mengkoordinasikan ke bawahnya. Maka semua terlibat, sebagai pihak yang mengantisipasi kemungkinan kemungkinan apabila terjadi hambatan dalam pelaksanaan penyediaan ruang hijau bagi publik di wilayah kota Bima”(wawancara dengan AH,24 November 2014)

Pelaksanaan pengawasn paling tidak harus terpenuhi beberapa unsur penting yang turut mempengaruhi seperti adanya peraturan-peraturan hukum dan lembaga-lembaga serta aparat penegak hukum yang dilengkapi dengan sarana dan fasilitas yang diperlukan tanpa didukung oleh kesadaran warga masyarakat sebagai individu atau anggota masyarakat, maka kemungkinan kebijakan itu mengalami banyak hambatan dalam penerapannya, karena perilaku individu yang bermacam

macam. Dalam suatu masyarakat yang pluralistik, penyimpangan yang dilakukan seseorang menjadi kebiasaan bagi lainnya. dalam keadaan demikian diperlukan kontrol sosial, dalam arti mengendalikan tingkah laku pekerti warga masyarakat agar selalu tetap konform dengan keharusan-keharusan norma, hampir selalu dijalankan dengan berdasarkan kekuatan sanksi (Wignjosoebroto, 1986:19).

2. Kurangnya perhatian masyarakat

Masyarakat merupakan komponen kependudukan yang mempunyai akses utama dalam pemanfaatan ruang terbuka hijau terurtama di daerah perkotaan.

Namun kenyataannya, terkadang sebagian masyarakat kurang memiliki sikap rasa untuk memiliki dalam menjaga keberlangsungan pelestarian ruang terbuka hijau, khususnya di lingkup wilayah kota Bima. Kondisi ini terlihat dari hasil observasi penulis di lapangan menunjukan beberapa masalah seperti: Pertama, masih banyaknya hewan ternak yang berkeliaran di taman-taman kota. Kedua, masih adanya kebiasaan sebagian kecil mas

yarakat yang mejadikan taman-taman kota tempat pembuangan sampah.

Ketiga, tingkat pengetahuan masyarakat tentang pentingnya fungsi ruang terbuka hijau sebagai penunjang ekologis dan hidrologis di daerah perkotaan sangatlah minim, hal ini dilihat inisiatif masyarakat dalam melakukan reboisasi untuk penghijauan taman kota masih sangat kurang.

3. Alokasi anggaran

Betapapun bagusnya perencanaan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, terutama yang berkenaan dengan pengadaan ruang terbuka hijau di

daerah perkotaan tarmasuk di kota Bima, tidak akan berarti sama sekali, bailamana tidak ditunjang oleh alokasi anggaran yang cukup memadai. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan terkait dengan alokasi anggaran yakni:

“Kalau masalah alokasi anggaran dalam proses implementasi kebijakan ruang terbuka hijau, terkadang tersendat-sendat dek, sehingga mempengaruhi tingkat kinerja dari para pelaksana terlebih lagi dalam proses implementasi kebijakan ini sifatnya kerja sama antar satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait”(Wawancara dengan, M S, 26 November 2014).

Sejalan dengan penyataan di atas hasil wawancara dengan informan lain mengungkapkan:

“Kandala yang kami rasakan dalam implementasi raung terbuka hijau di kota bima terutama alokasi anggaran yang digunakan untuk pembebasan lahan masyarakat yang akan dijadikan titik ruang terbuka hijau sangat kurang sekali. Di samping itu, minimnya anggaran membuat kami tidak dapat mengupayakan pemeliharaan dan pengawasan secara maksimal dan merata terhadap sejumlah titik ruang terbuka hijau di kota Bima”(wawancara dengan, RM,26 November 2014).

Pada hal bila merujuk penjelasan Raperda yaitu, pemerintah memiliki cara insentif dan disinsentif dalam menetapkan anggaran. Misalkan apabila ada pihak yang mau menggunakan sebagian lahannya atau ruang miliknya untuk digunakan menjadi ruang terbuka hijau sesuai dengan RTRW maka pemerintah akan memberikan insentif yaitu misalkan keringanan pajak, namun bila mereka memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan rencananya maka pemerintah akan membebankan disinfektif yaitu pembebanan pajak. Sehingga pemerintah tidak serta merta melarang pembangunan tanpa pemanfaatan ruang terbuka karena masyarakat juga memiliki hak atas ruang. apabila misalkan dalam penerapan kebijaksanaan, misalkan ada suatu lahan dimana lahan tersebut merupakan tanah

warisan turun menurun dan memiliki legitimasi hukum yang kuat serta mempunyai sertifikasi hak milik tanah, dan dalam perencanaan kebijakan pemerintah pemanfaatannya lain. Sebagaimana tertera dalam Pasal 91 Perda Kota Bima no 4 tahun 2012 mengenai arahan insentif dan disinsentif, yaitu

1. Arahan insentif berupa:

- Keringanan pajak, Pemberian kompensasi, Subsidi silang, Imbalan, Sewa ruang, Urun saham;

- Pembangunan serta pengadaan infrastruktur;

- Kemudahan prosedur perizinan;

- Pemberian penghargaan kepada masyarakat, swasta dan/atau pemerintah daerah.

2. Arahan disinsentif berupa :

- Pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan ruang;

- Pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan kompensasi.

Dengan demikian dalam persepsi penulis, pengalokasian atau penetapan anggaran merupakan faktor yang sangat urgen dalam hal implementasi kebijakan pengadaan ruang terbuka hijau khususnya daerah perkotaan. Alokasi anggaran yang memadai dapat menunjang proses pemeliharaan, pelaksanaan dan pengadaan ruang terbuka hijau

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas maka dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Implementasi kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau merupakan suatu tindakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah kota Bima dalam menindak lanjuti kebijakan tertinggi yaitu Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang rencana tata ruang wilayah, meskipun hal ini sudah dilakukan oleh pemerintah kota Bima melalui Peraturan Daerah No 4 Tahun 2012 tentang rencana tata ruang wilayah kota Bima, akan tetapi hasilnya belum maksimal, ini dilihat dari hasil wawancara dengan para informan yang mengatakan masih jauhnya apa yang direncanakan dalam Perda dengan hasil yang di capai dalam pengadaan ruang terbuka hijau di kota Bima.

2. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan mengenai Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pengadaan ruang terbuka hijau adalah:

a. Faktor pendukungnya adalah, penetapan kebijakan dan pola komunikasi pemerintah,

63

b. Faktor penghambatnya adalah pengawasan pemerintah yang kurang, perhatian masyarakat yang kurang dan alokasi anggaran yang tidak memadai.

B. SARAN

Dengan memperhatikan kesimpulan di atas dan menganalisa hasil pembahasan pada bab sebelumnya maka penulis merasa perlu memberikan masukan sebagai berikut:

1. Pemerintah kota Bima di harapkan sepenuhnya mampu menjadi aktor dalam dalam mengimplementasi kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau, Pemerintah kota Bima juga di harapkan konsisten dalam merealisasikan jumlah titik ruang terbuka hijau di kota bima seperti yang direncanakan atau di tetapkan dalam peraturan daerah nomor 4 tahun 2012 tentang rencana tata ruang wilayah kota Bima yang berjumlah 45 titik.

2. Untuk mencapai tujuan yang meksimal dalam mengimplementasikan kebijakan rencana tata ruang wilayah dalam pengadaan ruang terbuka hijau pemerintah kota Bima di harapakan memperhatikan faktor pendukung dan faktor penghambatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arjana, Bagus.2002.Geografi Lingkungan.PT.Raja grafindo persada.Jakarta Budi. 1996. Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan dalam Proses

pembangunan Nasional Indonesia. Surabaya: Universitas Airlangga.

Dwi susilo, Rahmat.2008.Sosiologi Lingkungan.PT.Raja Grafindo Persada.

Jakarta

Daud Silalahi. 2001. Hukum Lingkungan dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonsia. Bandung: Alumni.

D.A Tisnaamidja.1997. Hukum Tata Lingkungan. Jogjakarta: Gadjahmada University Press.

Emil Salim. 1993. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Jakarta: LP3ES.

Esmi Warassih, 2005, Pranata Hukum sebuah Telaah Sosiologis, Semarang:

Suryandaru Utama

Gunadi, Sugeng. 1995. Arti RTH Bagi Sebuah Kota. Makalah pada Buku:

Pemanfaatan RTH di Surabaya”, bahan bacaan bagi masyarakat serta para pengambil keputusan Pemerintahan Kota.

Harsono, Boedi.2008.Hukum Agrarian Indonesia. Djambatan.Jakarta

Hakim.2004. Ruang Terbuka Hijau dan Pengelolaan Kualitas Udara di Metropolitan Jakarta. Disertasi Program Pasca Sarjana IPB, Jurusan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL). Bogor.

Hasni. 2008. Hukum Penataan Ruang dan Penatagunaan Tanah. Jakarta.

Persada

Imam.S Arwani.2007 Mendamba Ruang Hijau Terbuka. Sabtu, 16 Februari Mochtar Kusumatmadja. 1976. Masyarakat dan Pembinaan Hukum

Nasional.Bandung: Bina Cipta,s

Nurmadi, Ahmad. 2006.Ekonomi Perkotaan. Sinergi Publishing.Yogyakarta 65

Dokumen terkait