Dalam sejarah peradaban manusia, penggunaan uang sebagai alat transaksi telah memberikan manfaat yang besar. Apabila dilihat dari fungsi penggunaan uang itu sendiri sebagai alat transaksi, satuan hitung, serta
25
penyimpanan nilai, uang hadir sebagai solusi dalam mengatasi berbagai kesulitan dalam melakukan berbagai kegiatan ekonomi seperti halnya berdagang, investasi, konsumsi, dan menabung. Berdasarkan manfaat uang tersebut tentunya hal ini melatarbelakangi motif masyarakat untuk memegang uang yang berbeda-beda, antara lain: untuk keperluan trnsaksi, berjaga-jaga dan spekulasi. Berdasarkan latar belakang tersebut suatu negara perlu untuk melakukan berbagai upaya untuk dapat mengendalikan jumlah uang yang beredar di masyarakat (Pohan, 2008).
Kebijakan moneter di definisikan sebagai proses dimana negara memiliki otoritas penuh untuk dapat mengendalikan pasokan uang, serta mengendalikan suku bunga dengan tujuan untuk dapat mencegah inflasi negara yang terlalu tinggi, kestabilan ekonomi negara akan terjaga serta dapat mendorong pertumbuhan ekonomi (Sudiro, 2017).
Berbagai definisi tentang kebijakan moneter antara lain bahwa kebijakan moneter juga berperan sebagai upaya pemerintah melalui bank sentral negaranya untuk mengendalikan serta mengarahkan perekonomian makro negara ke kondisi yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar di pasar. Kondisi perekonomian negara yang lebih baik yang dapat dicapai adalah keadaan dimana output keseimbangan mengalami peningkatan serta stabilitas negara dapat terjaga dengan baik. Pemerintah dapat mempertahankan, mengurangi atau menambah jumlah uang yang
26
beredar di pasar melalui kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral. Jika pemerintah mengambil kebijakan moneter kontraktif atau yang dikenal dengan kebijakan uang ketat (tight money policy) hal ini pemerintah ingin mengurangi peredaran jumlah uang di masyarakat namun, apabila pemerintah mengambil kebijakan moneter ekspansif maka pemerintah ingin menambah peredaran jumlah uang di masyarakat. (Naf’an, 2014).
Tujuan utama yang ingin diraih pemerintah adalah terpeliharanya stabilitas nilai uang dengan baik serta tahan terhadap goncangan baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Hal ini dikarenakan kestabilan nilai uang akan sangat berpengaruh pada stabiltas harga di pasar yang pada akhirnya akan berdampak pada tercapainya pembangunan ekonomi negara seperti kebutuhan dasar yang terpenuhi, pemerataan distribusi, kesempatan kerja yang lebih luas, stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi riil yang optimum (Soemitra, 2017).
Pelaksanaan kebijakan moneter yang dilaksanakan oleh oleh otoritas moneter negara sebagai pemegang kendali penawaran uang (money supply) guna mencapai tujuan dari kebijakan moneter dilakukan dengan cara menetapkan target yang ingin diraih dengan cara menentukan instrumen kebijakan monter apa yang akan diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi suatu negara.
27
Konsep uang dalam ekonomi syariah bukanlah modal, akan tetapi uang adalah barang umum bagi masyarakat luas. Uang juga bukanlah barang monopoli seseorang. Oleh sebab itu, masyarakat suatu negara berhak memiliki uang yang berlaku di negara tersebut. Di lain sisi modal merupakan barang milik pribadi atau milik perorangan. Apabila konsep modal stock
concept maka konsep uang adalah flow concept (Suprayatino, 2005).
Bank Indonesia menciptakan instrumen kebijakan moneter yang berprinsip Syariah dalam rangka mendukung tujuan Bank Indonesia untuk meraih tujuan dan kestabilan mata uang rupiah yang terpelihara. Berkaitan dengan hal tersebut telah diamanatkan dalam pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Tahun 2008.
Pemeliharaan berputarnya sumber daya ekonomi merupakan fokus utama bagi kebijakan moneter Syariah, dimana ketentuan-ketentuan yang diperkenankan syariah menjadi tujuan utama bagi ekonomi Syariah pada semua bentuk kebijakan. Oleh karena itu, dalam islam para regulator bertugas untuk memastikan tersedianya produk keuangan Syariah dan usaha-usaha ekonomi yang dapat menyerap potensi investasi dari masyarakat ataupun ketentuan-ketentuan yang dapat mendorong referensi penggunaan potensi investasi untuk usaha produktif. Dengan begitu diharapkan akan menghambat
28
seminimal mungkin. Oleh sebab itu, tersedianya regulasi berupa produk-produk keuangan yariah, peluang usaha, dan regulasi lain yang berkaitan dengan arus uang yang beredar di masyarakat akan semakin meningkatkan
velocity dalam perekonomian negara. Hal ini semata-mata agar perhatian
regulasi tertuju pada velocity perekonomian tidak hanya tertuju pada konsep
money supply seperti halnya yang dianut oleh konvensional.
Tujuan dari kebijakan moneter syariah pada dasarnya tidak ada perbedaan dengan kebijakan moneter pada umumnya, yaitu stabilitas mata uang terjaga, penciptaan instrumen yang terdiversivikasi, likuiditas, transparansi system keuanagan, dan mekanisme pasar yang efektif hingga dapat tercapainya pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Stabilitas mata uang dapat terjaga dengan baik tentunya tidak terlepas dari tujuan yang tulus dan terbuka dalam menjalin hubungan yang baik antar individu.
Bank sentral setiap negara tidak mempunyai wewenang untuk dapat memaksa sector swasta untuk melakukan investasi ketika kondisi proyek bisnis lesu oleh karena itu, bank sentral hanya mempunyai kewenangan untuk menyalurkan kredit pada bank-bank komersial. Dalam kondisi ini, diperlukan adanya peninjauan kembali oleh pemerintah dalam program pengeluaran serta menggantikan defisiensi sector swasta dalam permintaan agregatnya dengan mempersiapkan salah satu prporsi untuk meningkatkan uang berdaya tinggi yang lebih besar menggunakan defisit fiskal negaranya.
29
Walaupun secara rinci tidaklah memiliki tujuan akhir yang berbeda antara kebijakan moneter konvensional dan kebijakan moneter syariah, akan tetapi perbedaan ini terletak pada mekanisme pelaksanaan keduanya yang jelas sangatlah berbeda terutama dalam menentukan target dan instrumennya. Perbedaan yang paling mencolok antar keduanya adalah dalam kebijakan moneter terdapat penerapan prinsip-prinsip Syariah dimana tidak memperbolehkan adanya nilai jaminan terhadap suku bunga maupun nilai nominal. Sehingga secara otomatis kebijakan moneter syariah tidak mungkin menggunakan suku bunga sebagai sasaran dalam pelaksanaan operasionalnya jika dihubungkan dengan target pelaksanaan kebijakan moneter.
Pelaksanaan kebijakan moneter yang menggunakan prinsip Syariah sebagai pedoman dalam operasionalnya memformulasikannya tidak menggunakan suku bunga melainkan menggunakan cadangan uang. Bank Indonesia untuk dapat membiayai pertumbuhan potensial dalam output dalam jangka waktu menengah atau jangka panjang dalam kerangka harga yang stabil serta sasaran sosio ekonomi lainnya menggunakan kebijakan moneter
Dalam pemikiran ekonomi klasik yang dipelopori oleh David Ricardo, John Stuart Mill, Jean Baptise Say dan Adam Smith, beranggapan bahwa kebijakan moneter tidak dapat mempengaruhi suku bunga riil melainkan hanya dapat dipengaruhi tabungan riil dan investasi riil(Metwally, 1995). Sedangkan Keynes menyatakan bahwa kebijakan moneter menurunkan suku
30
bunga yang rendah hingga mencapai 0% elastisitas terhadap permintaan uang menjadi tak terhingga. Hal ini dapat mengakibatkan tidak akan ada yang ingin membeli surat berharga, karena semua orang akan lebih memilih untuk memegang uang dalam bentuk tunai sehingga permintaan uang pun akan menjadi elastis sempurna.