• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan moneter adalah media yang digunakan dalam pengendalian operasi moneter yang dapat dijadikan pilihan oleh Bank sentral yang terdapat pada negara tersebut untuk dapat mencapai tujuan operasional dan tujuan akhir yang telah ditetapkan sebelumnya baik oleh bank sentral maupun pemerintah (Natsir,2014).

Berikut ini merupakan macam-macam instrumen dalam pengendalian moneter, antara lain:

32

1) Berdasarkan cara instrumen dalam memengaruhi sasaran operasional, yang terdiri dari dua jenis yakni instrumen langsung dan tidak langsung.

2) Berdasarkan orientasi di pasar keuangan, yang terdiri dari dua jenis yakni instrumen yang memiliki orientasi pasar dan yang tidak memiliki orientasi pasar.

3) Berdasarkan ada macam-macam direksinya, yang terdiri dari dua jenis yakni instrumen yang direksinya berada di bank sentral atauun di peserta pasar keuangan.

Berikut ini merupakan instrumen-instrumen pokok dari kebijakan moneter konvensional, sebagai berikut:

1) Kebijakan Pasar Terbuka (Open Market Operation). Yakni kebijakan yang dilaksanakan dengan menjual atau membeli surat berharga atau obligasi di pasar terbuka. Jika bank sentral ingin menambah jumlah uang beredar maka bank sentral akan mengeluarkan kebijakan untuk membeli obligasi, begitupula sebaliknya jika bank sentral ingin menurunkan peredaran uang maka bank sentral akan melaksanakan kebijakan menjual obligasi .

2) Penentuan Cadangan Wajib Minimum (Reserve Requirement). Bank sentral pada umumnya akan menentukan berapa jumlah angka rasio minimum antara uang tunai (reserve) dengan kewajiban giral bank

33

(demand deposits) yang secara umum dikenal dengan minimum legal

reserve ratio. Kemudian apabila bank sentral berkeinginan untuk

menurunkan angka rasio, maka dapat dilakukan dengan menambah kuantitas uang yang beredar

3) Penentuan Discount Rate. Banka sentral berperan sebagai penentu

Discount Rate untuk bank komersial sebagai pinjaman. Bank sentral

merupakan acuan sumber dana untuk bank umum atau komersial serta sebagai sumber dana akhir. Bank sentral dapat meminjamkan dana kepada bank umum dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah dari suku bunga kredit pada jangka pendek yang ada di pasar bebas.

Discount Rate yang ditetapkan oleh bank sentral kepada bank

komersial sebagai pinjaman akan sangat mempengaruhi profit yang didapatkan oleh bank umum serta akan mempengaruhi keinginan untuk meminjam dana dari bank sentral. Ketika bank sentral menetapkan Discount Rate yang rendah terhadap tingkat suku bunga pinjaman, maka bank umum akan lebih memilih untuk meminjam dana kepada bank sentral, begitupun sebaliknya.

4) Moral Suasion ialah kebijakan yang bersifat persuasif yang dilaksanakan oleh bank sentral berupa himbauan moral kepada bank. Bank sentral memiliki otoritas untuk dapat menyelenggarakan pertemuan dengan pimpinan komersial secara langsung guna meminta

34

mereka untuk dapat membantu kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah. Bank sentral dapat meminta pada bank umum untuk mengurangi atau menambah kredit atau pinjaman pada semua sektor atau hanya pada sektor tertentu saja melalui kebijakan bujukan moral ini. Atau bahkan dapat membuat perubahan-perubahan pada tingkat bunga yang mereka tetapkan.

Di lain sisi instrumen kebijakan moneter yang berprinsip syariah memiliki definisi yang sama akan tetapi perbedaan antarkeduanya hanya terletak pada penggunaan prinsip-prinsip syariah didalamnya. Instrumen moneter syariah ialah hukum syariah. Instrumen kebijakan moneter konvensional pada umumnya menggunakan suku bunga sebagai acuan mereka. Oleh sebab itu, instrumen-instrumen yang mengandung unsur bunga didalamnya tidak dapat dipergunakan pada instrumen kebijakan yang berbasis syariah. Akan tetapi, masih ada beberapa macam dari instrument kebijakan moneter konvensional yang masih dapat dipergunakan pada kebijakan moneter syariah mengontrol kredit dan juga jumlah uang yang beredar, antara lain seperti overall and selection credit ceiling, moral suasion and change in

monetary base, Reserve Requirment. Pada dasarnya operasi pasar terbuka

akan dapat dikontrol melalui bentuk sekuritas berdasarkan ekuitas.

Selain instrumen operasi pasar terbuka dan suku bunga yang pada umumya digunakan oleh perbankan konvensional, bank sentral memiliki tiga

35

instrumen yang dapat dipergunakan untuk menciptakan dampak secara langsung pada cadangan yang dimiliki oleh bank-bank komersial, yaitu: persetujuan tukar menukar mata uang asing oleh bank sentral dengan bank komersial, uang giral pemerintah yang terdapat pada bank-bank komersial, serta pengumpulan umum. Bank sentral memiliki wewenang untuk dapat menggeser uang giral ke pemerintah atau dari bank komersial jika cadangan pada bank-bank umum ingin dikurangi atau ditingkatkan (Edwin,2007).

Hal yang serupa juga dapat dicapai dengan menggunakan perjanjian pada mata uang asing. Bank sentral dapat menukar mata uang domestik dengan mata uang asing apabila sedang dalam keadaan yang tertekan, dengan upaya bahwa bank umum tersebut akan membeli kembali mata uang asing tersebut dari bank sentral setelah melewati suatu periode tertentu sesuai dengan laju pertukaran yang berlaku. Selisih antara pembelian kembali dan laju pembelian oleh bank sentral dapat diatur oleh bank sentral untuk menjustifikasikan kemampuan cadangan pada bank-bank umum yang diperbolehkan. Tetapi hal ini bertentangan dengan prinsip Syariah yang berlaku.

Instrumen selanjutnya yang dapat digunakan secara efektif oleh bank sentral dengan tujuan tercapainya kebijakan moneter yang dijaankan bank sentral adalah dengan penghimpunan umum. Penghimpunan umum adalah

36

perjanjian kooperatif antar bank ang berada dalam naungan bank sentral untuk meringankan bank-bank komersial saat menghadapi masalah likuidasi.

Selain ketiga instrumen yang telah diuraikan di atas, Umer Chapra menyarankan tiga instrumen lain yang dapat digunakan serta banyak disarankan oleh literatur perbankan islam, sebagai berikut:

1) Menjual dan membeli saham serta sertifikat bagi hasil sebagai pengganti obligasi pemerintah dalam operasi pasar.

2) Rasio dalam pembelian kembali dalam pembiayaan. 3) Rasio dalam pemberian pinjaman.

Beberapa instrumen dari kebijakan moneter dalam ekonomi Syariah menurut Muhammad (2002), sebagai berikut:

1) Regulation of the high-powered money

Pertumbuhan yang terjadi di sektor riil perekonomian harus diiringi dengan pasokan uang yang banyak untuk dapat mendorong proses pertumbuhan ekonomi dan juga menghindari inflasi tinggi yang disebabkan oleh pasokan uang yang berlebihan. Sebagai penggerak moneter negara bank sentral akan menentukan ukuran pertumbuhan yang optimum pada pasokan uang yang banyak serta menentukan pemerintah terbebas dari biaya dan Lembaga keuangan lainnya dengan penggunaan prinsip mudharabah.

37

Hal ini adalah persyaratan dari bank-bank umum untuk dapat menjaga proporsional pada deposito sebagai cadangan wajib dengan bank sentral. Kebijakan moneter dapat merubah rasio cadangan sewaktu-waktu baik mengalami peningkatan ataupun penurunan. 3) Moral suasion

Instrumen kebijakan moneter yang memberi himbauan moral kepada bank-bank umum adalah kebijakan moral suasion. Kegunaan dari kebijakan ini diharapkan akan mampu membuat sistem pada perbankan islam menjadi lebih ekfektif, sehingga perbankan syariah yang baru berkembang di Indonesia diharapkan bisa mengejar bank konvensional yang sudah melesat jauh pertumbuhannya. Konsultasi, persuasi moral serta saran diharapkan akan dapat berperan penting dalam kebijakan pembuatan keputusan dari bank-bank umum yang berhubungan dengan alam, arah, ukuran, murabahah, pinjaman dan pembiayaan ekuitas.

4) Lending ratio

Instrumen lending ratio merupakan instrumen moneter yang menggunakan presentase permintaan deposito sebagai acuannya, bank komersial akan dibutuhkan untuk dapat memberi pinjaman secara gratis tanpa adanya imbalan (qard hasan) yang terdapat di perbankan syariah. Kredit penciptaan dasar bank-bank umum akan sangat

38

mempengaruhi tinggi atau rendahnya pinjaman. Semakin rendah rasio pinjaman, maka kredit penciptaan dasar bank-bank Syariah akan bertambah dan begitupula sebaliknya.

5) Refinance ratio

Instrumen moneter Refinance ratio merupakan proporsi pinjaman yang tidak ada unsur bunga didalamnya. Rasio ini diharapkan dapat terlaksana sebagai dasar dari sumber daya dari bank islam. Rasio ini akan melibatkan kesediaan likuiditas yang disediakan oleh bank sentral bagi bank-bank umum ketika sedang dibutuhkan oleh bank tersebut secara gratis tanpa imbalan. Persyaratan dari permintaan deposito rasio merupakan asal mula dari refinance yang termasuk ke dalam jumlah yang dialihkan kepada pemerintah. Jika rasio deposito meningkat, maka yang diberikan Refinance pun akan meningkat, dan ketika Refinance mengalami penurunan, maka bank-bank komersial harus waspada terhadap pemaksaan pembuatan pinjaman oleh bank sentral.

6) Rasio bagi hasil (Profit Sharing Ratio)

Rasio bagi hasil ini adalah rasio yang digunakan oleh bank dan pengusaha dalam mendistribusikan keuntungan yang didapat. Jika keuntungan yang dibagikan tinggi, maka akan mendorong lebih banyak investasi dan sebaliknya. Bank sentral pada umumnya

39

menggunakan rasio ini sebagai instrumen moneter untuk mengatur berapa rasio keuntungan yang diperoleh bank. Apabila bank sentral menurunkan jumlah uang beredar, maka rasio profit yang dibagikan kepada nasabah akan mengalami penurunan.

7) Rasio permintaan deposit (Demand deposit ratio)

Rasio ini merupakan rasio presentase permintaan deposito yang digunakan untuk mendanai proyek sosial yang bermanfaat yang dialihkan pada pemerintah. Keragaman dari rasio ini diharapkan agar dapat berpengaruh pada putaran fluktuasi dalam suatu perekonomian dengan merubah dasar dari kredit bank umum serta pengeluaran kemampuan pemerintah.

8) Rasio kredit (Credit rationing)

Rasio kredit ini merupakan rasio yang digunakan oleh bank sentral dalam kewenangannya untuk dapat mengatur ukuran dan arah pinjaman dengan melihat laju ekuitas ke sektor-sektor tertentu ekonomi yang melayani fungsi ganda dari pengendalian terhadap kredit selektif dan juga umum.

9) Sertifikat investasi pemerintah (Goevernment investment certificate) Operasi pasar terbuka dapat melakukan jual beli beberapa ekuitas saham sebagai catatan dari kebijakan moneter dengan tanpa adanya sekuritas serta bunga. Dalam ekonomi Syariah instrumen

40

moneter treasury bills tidak dapat diterima, akan tetapi digantikan dengan pemerintah menerbitkan system yang bebas bunga, atau yang biasa dikenal dengan sertifikat investasi pemerintah.

Laju inflasi tahunan yang terkendali dengan baik yang dijadikan sebagai tujuan akhir dari terlaksananya tugas bank sentral di bidang moneter merupakan salah satu hal yang dijadikan sebagai tolok ukur dari tercapainya pelaksanaan kebijakan operasi moneter. Operasi kebijakan moneter syariah ini dapat dijadikan alat bantu dalam operasi moneter guna memberi pengaruh yang baik terhadap kecukupan likuiditas dalam perbankan islam.

Dokumen terkait