Operasi moneter syariah (OMS) yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia merupakan pengejawatan pengendalian moneter yang menggunakan prinsip syariah untuk mendukung pemerintah melaksanakan dan menetapkan kebijakan moneter. Target operasional dapat dicapai dengan mempengaruhi likuiditas dari bank-bank syariah melalui kontraksi moneter (pengurangan likuiditas bank melalui kegiatan OMS) dan ekspansi moneter (penambahan likuiditas bank melaui kegiatan OMS). Jika ekspansi moneter akan memberikan dampak yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi, maka kebijakan kontraksi moneter akan memberikan dampak negatif dengan pertumbuhan ekonomi.
OMS di rancang untuk membantu bank sentral dalam mencapai target operasional dalam mengendalikan moneter Syariah, sebagai berikut:
1) Likuiditas perbankan Syariah dapat tercukupi, dapat terdiri dari uang primer ataupun komponen yang lainnya yang terdiri dari uang kartal yang ada di masyarakat dan juga bank, serta saldo giro bank di Bank Indonesia dalam bentuk mata uang rupiah.
46
2) Imbalan pasar merupakan variabel lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia berupa imbalan pasar uang antar bank berdasarkaan prinsip syariah guna mencapai tujuan akhir dari kebijakan moneter Bank Indonesia berupa tingkat imbalan pasar uang antar bank yang sesuai dengan prinsip syariah.
Gambar 2. 1 Operasi Moneter
Sumber: Bank Indonesia
Operasi Moneter Syariah dilaksanakan dalam dua bentuk yakni: Operasi Pasar Terbuka Syariah (OPT Syariah) dan standing facilities (FASBIS). Hal tersebut tertuang dalam UU Perbankan Syariah No. 21 Pasal 4 Tahun 2008 dan PBI Pasal 4 No. 10/36/PBI/2008 tentang OMS bahwa dalam kegiatan-kegiatan tersebut harus memenuhi prinsip-prinsip Syariah yang
47
dinyatakan dalam bentuk opini Syariah dan juga fatwa oleh DSN-MUI yang memiliki wewenang atasnya (Latumaerissa, 2017).
OMS yang dilakuan oleh Bank Indonesia dalam mengendalikan moneter melalui kegiatan penyediaan standing facilities dan juga operasi pasar terbuka sesuai dengan prinsip syariah.
1) Operasi Pasar Terbuka Syariah
Operasi pasar terbuka syariah (OPTS) merupakan kegiatan transaksi di pasar uang dengan menerapkan prinsip syariah pada transaksi ini dalam rangka operasi moneter Syariah yang dilakukan dengan bank dan pihak lain oleh Bank Indonesia.OPTS dilaksanakan secara berkala, tetapi dalam hal-hal yang dibutuhkan kemudian, OPTS dapat dilaksanakan sewaktu-waktu yakni dalam bentuk Fine True
Operation (FTO). OPTS dilaksanakan dengan cara lelang atau
melelang.
Kegiatan operasi pasar terbuka Syariah (OPTS) dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
a) Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia Syariah atau SBIS merupakan surat berharga yang diterbitkan dalam mata uang rupiah dimana surat berharga ini berjangka pendek berdasarkan prinsip syariah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.
48
b) Kegiatan transaksi jual beli surat berharga yang diterbitkan dalam mata uang rupiah yang berprinsip syariah antara lain SBIS, SBSN, dan surat berharga lainnya yang tidak hanya memiliki kualitas yang tinggi namun juga sangat mudah untuk di likuidkan. Yang dimaksud dengan surat berharga lainnya yang memiliki kualitas tinggi ialah surat berharga yang diterbitkaan dalam mata uang rupiah berdasarkan hasil penilaian Lembaga pemeringkat oleh badan hukum lain memiliki peringkat yang tinggi yang diakui oleh Bank Indonesia mengenai lembaga pemeringkat ini dan dapat dengan mudah dijual ke pasar untuk dicairkan dalam bentuk uang tunai. Sedangkan SBSN atau Surat Berharga Syariah Negara adalah surat berharga yang diterbitkan dalam mata uang rupiah oleh negara sebagai bukti dari penyertaan atas suatu aset SBSN berdasarkan prinsip syariah.
c) Dana yang terserap tanpa penerbitan surat berharga.
Kegiatan jual beli surat berharga dalam mata uang rupiah dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, antara lain:
a. Outright buying atau pembelian lepas adalah kegiatan transaksi pembelian surat berharga tanpa adanya
49
kewajiban untuk menjualnya kembali yang dilakukan oleh Bank Indonesia.
b. Outright selling atau penjualan lepas adalah kegiatan transaksi penjualan surat berharga tanpa adanya kewajiban kembali untuk dapat membeli kembali surat berharga tersebut yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Jual beli SBSN yang dilakukan secara outright di pasar sekunder dari Bank Indonesia dilakukan dalam rangka ekspansi moneter atau kontraksi moneter dan untuk menjaga ketersediaan SBSN yang dibutuhkan sebagai OMS untuk mencapai tujuan atau sasaran dari operasional kebijakan moneter Bank Indonesia.
c. Repurchase agreement (repo) atau penjualan bersyarat, merupakan kegiatan penjualan surat berharga yang bersyarat yang dilaksanakan oleh bank umum pada Bank Indonesia dengan disertai dengan kewajiban untuk pembelian kembali surat berharga tersebut yang sesuai dengan jangka waktu serta harga telah disepakati antar kedua belah pihak berdasarkan akad jual beli serta dengan perjanjian yang dilakukan oleh bank umum kepada Bank Indonesia, untuk pembeian kembali dalam
50
dokumen yang terpisah. Repo SBSN OPTS merupakan instrumen yang diterbitkan untuk menambah likuiditas bank dalam rangka operasi moneter Syariah atau ekspansi moneter yang digunakan oleh Bank Indonesia. d. Reserve agreement atau pembelian bersyarat adalah kegiatan pembelian bersyarat dari Bank Indonesia oleh bank komersial disertai dengan kewajiban untuk menjual kembali surat berharga tersebut dengan jangka waktu serta harga yang telah disepakati antara kedua pihak menggunakan akad perjanjian oleh bank komersial kepada Bank Indonesia dengan akad jual beli, untuk pembelian kembali dalam dokumen yang terpisah. Repo SBSN OPTS merupakan instrumen untuk mengurangi likuiditas bank dalam rangka kontraksi moneter atau operasi moneter Syariah yang digunakan oleh Bank Indonesia.
a. Sertifikat Bank Indonesia Syariah atau SBIS
SBIS atau Sertifikat Bank Indonesia Syariah adalah surat berharga berupa sertifikat yang diterbitkan dalam oleh Bank Indonesia yang berjangka waktu pendek dalam mata uang rupiah yang berprinsip syariah.
51
Berikut ini merupakan fitur dan mekanisme SBIS antara lain: 1. SBIS bertujuan untuk mengendalikan moneter yang
operasionalnya berjalan sesuai dengan prinsip syariah sebagai salah satu instrumen operasi pasar terbuka Syariah (OPTS) yang kegiatan transaksinya menggunakan akad ju’alah.
2. Sertifikat Bank Indonesia Syariah atau SBIS diterbitkan dengan menggunakan mekanisme lelang. Mekanisme lelang ini dapat diikuti dengan syarat para peserta lelang telah memenuhi persyaratan financing to deposit ratio yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Dalam mekanisme lelang ini dapat diikuti oleh beberapa pihak, antara lain: Unit Usaha Syariah (UUS), Bank Umum Syariah (BUS), dan pialang yang bertindak atas nama UUS dan BUS.
3. BUS dan UUS dapat memiliki SBIS dengan cara mengajukan pembelian SBIS baik secara langsung atau dapat pula dilakukan melalui perusahaan pialang valuta asing dan juga pasar uang rupiah.
4. Sertifikat Bank Indonesia Syariah atau SBIS mempunyai karakteristik sebagai berikut:
52
b) Memiliki jangka waktu sekurang-kurangnya satu bulan atau paling lama dua belas bulan atau satu tahun
c) Dalam penerbitannya tanpa menggunakan warkat (scripless)
d) Dapat dijadikan jaminan kepada Bank Indonesia e) Tidak dapat diperjualbelikan di pasar sekunder
5. Pada dasarnya Bank Indonesia telah menetapkan imbalan atas SBIS yang diterbitkan pada saat jatuh tempo. Dalam menyelesaikan transaksi SBIS Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk:
a) Rekening giro atas pembelian SBIS oleh UUS dan BUS didebetkan
b) Rekening giro dan saldo rekening surat berharga atas repo SBIS didebetkan termasuk juga memindahkan pencatatan SBIS dengan tujuan untuk mengagunkan.
6. BUS dan UUS akan dikenakan sanksi jika dalam transaksi SBIS batal karena:
a) Saldo dalam rekening giro yang dimilikinya tidak cukup untuk dapat memenuhi kewajiban dalam menyelesaikan transaksi pembelian SBIS.
53
b) Saldo rekening surat berharga dan saldo rekening giro yang dinyatakan cukup untuk dapat memenuhi kewajiban dengan cara menyelesaikan transaksi pembelian SBIS. 7. Hukuman atau sanksi yang dikenakan tersebut dapat berupa
teguran tertulis ataupun dengan cara membayar denda sebesar satu per seribu (1/1000) dari nilai transaksi SBIS yang dinyatakan batal atau denda yang paling besar untuk dikenakan yakni mencapai Rp. 1.000.000.000,00 untuk seiap transaksi SBIS yang transaksinya dinyatakan batal.
8. Apabila dalam transaksi SBIS yang dilakukan oleh UUS dan BUS dikatakan batal hingga ketiga kalinya dalam kurun waktu 6 bulan, selain dikenakan sanksi tersebut, UUS dan BUS juga akan terkena sanksi berupa:
a) Diberhentikan sementara dari keikutsertaan lelang SBIS yang digelar pada minggu berikutnya.
b) Dilarang mengajukan melakukan pengajuan repo SBIS selama lima hari kerja secara berturut-turut terhitung sejak UUS dan BUS dikenakan teguran tertulis untuk ketiga kalinya.
Di lain sisi, Sertifikat Wadiah Bank Indonesia atau SWBI yang telah ada dan berlaku sebelum adanya peraturan Bank Indonesia
54
diberlakukan, maka akan tetap berlaku dengan ketentuan dalam peraturan Bank Indonesia Nomor 6/7/PBI/2004 Tanggal 16 Februari tentang SWBI sampai dengan waktu jatuh tempo.
Berikut ini merupakan kegiatan yang ada pada Operasi Pasar Terbuka (OPT) antara lain:
a) Absorpsi Likuiditas, antara lain penerbitan term deposit, SBIS, SBI dan reserve repo..
b) Injeksi likuiditas yang meliputi transaksi repo. Tabel 2. 1
Instrumen Operasi Pasar Terbuka Instrumen
dan
Keterangan
Absorpsi Likuiditas Injeksi Likuiditas
Penerbitan SBI
Term Deposit Reverse Repo
SBN
Penerbitan SBIS Repo SBN Dampak likuiditas Mengurangi likuiditas Mengurangi likuiditas Mengurangi likuiditas Mengurangi likuiditas Mengurangi likuiditas Frekuensi transaksi
Berkala Sewaktu-waktu Sewaktu-waktu Berkala Sewaktu-waktu Jangka waktu 1 bln s/d 12 bln dinyatakan dalam hari 1 bln s/d 12 bln dinyatakan dalam hari 1 bln s/d 12 bln dinyatakan dalam hari 1 bln s/d 12 bln dinyatakan dalam hari 1 bln s/d 12 bln dinyatakan dalam hari Nominal pengajuan minimal Rp. 1000 jt Rp. 1000 jt Rp. 1000 jt Rp. 1000 jt Rp. 1000 jt Nominal kelipatan Rp. 100 jt Rp. 100 jt Rp. 100 jt Rp. 100 jt Rp. 100 jt Mekanisme transaksi
Lelang VRT Lelang VRT dan /atau FRT
Lelang VRT Lelang (non kompetitif)
Lelang VRT dan /atau FRT
55
Setelmen s. D. T + 1 s. D. T + 1 s. D. T + 1 T + 0 s. D. T + 1
Peserta Bank konvensional, kecuali untuk penerbitan SBIS, bank Syariah/UUS, Lembaga perantara melakukan transaksi OPT untuk kepentingan bank.
Surat berharga yang digunakan dalam OPT
SBI - SBN SBIS SBI,SBN, dan
SBIS
Sumber: Bank Indonesia
a. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)
Definisi Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau yang biasa dikenal sebagai sukuk negara yakni surat berharga yang diterbitkan sebagai bukti penyertaan atas suatu aset SBSN berdasarkan prinsip Syariah, dalam bentuk rupiah ataupun valuta asing.
Surat Berharga Syariah Negara adalah bentuk derivative dari Surat Berharga Negara (SBN) disamping Surat Utang Negara (SUN). SUN atau Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dengan adanya jaminan pembayaran bunga dan pokoknya oleh Bank Indonesia dalam mata uang rupiah ataupun valuta asing.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), SBSN adalah salah satu instrument pembiayaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang penerbitannya dilandaskan pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah
56
Negara (SBSN) yang berbentuk Surat Berharga Negara (SBN). Penerbitan SBSN ini memerlukan adanya underlying asset yang terdiri dari Barang Milik Negara (BMN) baik berbentuk tanah atau baangunan, proyek pemerintah pusat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan jasa haji. SBSN telah diterbitkan di pasar domestic 2008 dan internasional sejak tahun 2009.
Dasar Hukum Surat Berharga Syariah Negara
Dasar hukum SBSN telah diatur oleh Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) sebanyak 5 fatwa yang dapat digunakan sebagai pedoman Syariah dalam menerbitkan SBSN.
a) Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.
b) Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 70/DSN-MUI/VI/2008 tentang metode penerbitan Surat Berharga Syariah Negara. c) Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 71/DSN-MUI/VI/2008
tentang Sale and Lease Back.
d) Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 72/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara Ijarah Sale and Lease
57
e) Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 76/DSN-MUI/VI/2010 tentang Surat Berharga Syariah Negara Ijarah Asset to be
Leassed.
2) Standing Facilities Syariah
Standing facilities syariah adalah fasilitas yang disediakan
dalam rangka operasi moneter Syariah oleh Bank Indonesia kepada bank komersial. Standing facilities meliputi: penyediaan dana rupiah (lending facilities) dapat dilakukan dengan mekanisme repurchase
agreement (Repo) surat berharga serta penempatan dana dalam mata
uang rupiah yang dilakukan oleh bank komersial pada Bank Indonesia, dan (deposit facility) yang dilakukan dengan menempatkan dana rupiah oleh bank komersial di Bank Indonesia secara berjangka (Latumaerissa, 2017).
Instrumen ini dapat dijalankan melalui beberapa cara sebagai berikut:
a) Penyediaan fasilitas simpanan deposit atau deposit facility diterapkan dengan menggunakan akad wadiah dalam bentuk fasilitas simpanan Bank Indonesia Syariah atau lebih dikenal dengan FASBIS.
b) Financing facility atau penyediaan fasilitas pembiayaan dilakukan oleh Bank Indonesia dalam mata uang rupiah dengan bentuk repo
58
surat berharga. Yang dimaksud dengan repo surat berharga syaariah adalah kegiatan penjualan dengan bersyarat yang dilakukan antara bank komersial dan Bank Indonesia dengan disertai kewajiban untuk pembelian kembali surat berharga tersebut sesuai dengan waktu dan harga yang telah disetujui Bersama dan pemberian pinjaman oleh Bank Indonesia pada bank komersial dengan menjadikan surat berharga sebagai jaminan. Repo dilakukan oleh bank pada Bank Indonesia dengan akad jual beli yang disertai dengan perjanjian, di dalam dokumen yang terpisah, untuk dapat dibeli kembali.
Tabel 2. 2
Instrumen Standing Facilities Instrumen
dan
Keterangan
Penempatan Dana Penyediaan Dana
Deposit Facility Deposit Facility – FASBIS
Lending Facility Financing Facility
Dampak likuiditas Mengurangi likuiditas Mengurangi likuiditas Mengurangi likuiditas Mengurangi likuiditas Frekuensi transaksi
Setiap hari kerja Setiap hari kerja Setiap hari kerja Setiap hari kerja
Jangka waktu Overnight Overnight s/d 14 hari kalender Overnight Overnight Nominal pengajuan minimal Rp. 1000 jt Rp. 1000 jt Rp. 1000 jt Rp. 1000 jt Nominal kelipatan
59
berharga Mekanisme
transaksi
Non lelang Akad Wadi’ah Repo surat berharga : metode non lelang
Repo SBIS: akad qardh diikuti dengan Rahn Repo SBSN: akad bai’ma’al wa’ad (jual beli dengan janji membeli kembali) Setelmen T +0 T +0 T +0 T +0 Suku Bunga Tingkat diskonto sebesar BI-Rate dikurangi dengan marjin tertentu Tingkat imbalan FASBIS Tingkat diskonto sebesar BI-Rate ditambah dengan marjin tertentu
Tingkat biaya Repo SBIS/SBSN
Peserta Bank Konvensional Bank Syariah Bank Konvensional Bank Syariah Surat
Berharga yang digunakan dalam OPT
- - SBI, SDBI dan SBN SBIS dan SBSN
Sumber: Bank Indonesia
a) FASBIS atau Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/12/PBI/2014 tentang Operasi Moneter Syariah, fasilitas simpanan Bank Indonesia syariah atau biasa dikenal dengan FASBIS dalam mata uang rupiah merupakan fasilitas yang disediakan oleh Bank Indonesia untuk bank komersial untuk menyimpan dana di Bank Indonesia.
60
Berikut ini merupakan karakteristik yang dimiliki oleh FASBIS, antara lain:
1. FASBIS adalah instrumen OMS yang digunakan untuk Bank Indonesia dalam melakukan absorpsi likuiditas bank-bank umum syariah.
2. Akad yang digunakan dalam FASBIS adalah akad wadiah (titipan).
3. Bank Indonesia menyediakan FASBIS pada hari kerja Bank Indonesia termasuk pada hari kerja terbatas Bank Indonesia.
4. FASBIS dilaksanakan dengan cara lelang melelang.
5. Untuk mengajukan transaksi FASBIS dapat dilakukan dengan menggunakan system BI-ETP.
6. FASBIS tidak dapat dijadikan jaminan ataupun diperdagangkan, serta tidak dapat pula dicairkan sebelum waktu jatuh tempo.
7. Dalam kegiatan FASBIS jangka waktu yang paling lama adalah 14 hari dan kalender dihitung sejak tanggal penyelesaian transaksi sampai pada waktu jatuh tempo. 8. Total hari dalam perhitungan imbalan FASBIS dihitung
61
9. Window time transaksi FASBIS ditetapkan dari mulai pukul 16.00 WIB sampai dengan pukul 17.30 WIB atau sesuai dengan waktu lain yang telah ditetapkan oleh bank sentral (Bank Indonesia).
10. Bank Indonesia menggunakan sistem BI-ETP untuk mengumumkan transaksi FASBIS dan dapat pula dijadikan sebagai sarana lainnya yag ditetapkan oleh bank sentral sebelum window time FASBIS.
11. Bank Indonesia dapat memberikan imbalan atas penempatan dana pada FASBIS.