• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

D. Kepuasan Pernikahan pada Perempuan yang Bekerja

1. Definisi Kepuasan Pernikahan

Gundersen et all (1996) menyatakan bahwa definisi kepuasan merupakan suatu perasaan atau penilaian emosional dari individu atas kejadian atau kondisi tertentu. Senada dengan itu, Kottler (2000) menyebutkan kepuasan sebagai sikap positif individu terhadap sesuatu, yang timbul berdasarkan penilaiannya terhadap hal tersebut. Jika individu mengalami kepuasan, maka ia akan lebih menyukai hal yang dinilainya daripada jika ia tidak mengalami kepuasan.

Menurut Locke (dalam Gundersen et all., 1996), penilaian seorang individu sehingga pada akhirnya ia akan merasa puas atau tidak puas terhadap suatu hal, merupakan sesuatu yang bersifat pribadi, yaitu tergantung bagaimana ia mempersepsikan adanya kesesuaian atau pertentangan antara keinginannya dengan hasil yang didapatkannya secara nyata. Jadi, apabila individu merasakan adanya kesesuaian

antara keinginan dengan hasil nyata, ia akan menilai hal tersebut menyenangkan dan dianggap sebagai kepuasan. Begitu pula sebaliknya, jika individu merasakan tidak adanya kesesuaian, maka ia akan menilai hal tersebut mengecewakan dan dianggap sebagai ketidakpuasan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kepuasan merupakan suatu perasaan atau penilaian emosional individu terhadap sesuatu, yang berkaitan dengan adanya kesesuaian antara keinginan dengan hasil nyata yang diperolehnya.

2. Indikator Kepuasan

Berdasarkan definisi di atas, Gundersen et all (1996) menyatakan indikator kepuasan sebagai berikut:

a. Adanya penilaian emosional

yaitu penilaian yang bersifat pribadi, yang berkaitan dengan kesesuaian antara keinginan yang dimiliki oleh individu dengan hasil nyata yang didapatkannya. Ada dua macam hasil penilaian emosional, yaitu:

(1). penilaian emosional positif, yaitu hasil penilaian yang didasarkan pada kesesuaian antara keinginan dengan hasil nyata. Hasil penilaian ini biasanya muncul dalam bentuk emosi positif, seperti rasa senang, terharu dan bahagia. Apabila individu menghasilkan penilaian yang

positif, maka dapat dikatakan bahwa individu mendapatkan kepuasan.

(2). penilaian emosional negatif, yaitu hasil penilaian yang didasarkan pada ketidaksesuaian antara keinginan dengan hasil nyata. Hasil penilaian ini biasanya tampak dalam bentuk emosi negatif, seperti rasa marah, kecewa, dan sedih. Bila individu menghasilkan penilaian yang negatif, maka individu mengalami ketidakpuasan.

b. Adanya sikap tertentu yang muncul berdasarkan hasil penilaian emosional

artinya setelah diperolehnya hasil penilaian emosional, individu akan membentuk suatu sikap tertentu berkaitan dengan hasil yang didapatkan. Ada dua sikap yang yang muncul, yaitu:

(1). sikap positif, yaitu sikap yang muncul apabila individu memiliki penilaian emosional positif atau mengalami kepuasan. Sikap positif ini contohnya adanya perhatian yang lebih, adanya antusiasme, adanya perasaan bahagia, dan lain sebagainya.

(2). sikap negatif, yaitu sikap yang muncul apabila individu memiliki penilaian emosional yang negatif atau mengalami ketidakpuasan. Misalnya, berkurangnya

perhatian, munculnya perasaan tertekan dan tidak bahagia, depresi, dan lain-lain.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua indikator kepuasan. Pertama, adanya penilaian emosional yang terbagi dalam penilaian emosional positif dan penilaian emosional negatif; dan kedua, adanya sikap yang muncul berdasarkan hasil penilaian, yang terdiri dari sikap positif dan sikap negatif.

C. PERNIKAHAN

1. Definisi Pernikahan

Menurut Santrock (2004), pernikahan adalah salah satu fase dalam siklus kehidupan keluarga, dimana dua individu dari dua keluarga yang berbeda bersatu untuk membentuk suatu sistem keluarga yang baru. Pernikahan itu sendiri merupakan sebuah hubungan yang dinamis, intim dan bertahan lama, serta mencakup banyak hal. Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (2005), definisi perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Senada dengan itu, Ainsworth dalam Lemme (1995) menyatakan bahwa pernikahan adalah sebuah hubungan timbal balik yang didasarkan pada faktor emosional, seksual dan saling ketergantungan satu sama lain.

Faktor seksual sendiri terdiri dari tiga sistem dasar, yaitu kelekatan (attachment), reproduktif (reproductive) dan pemberian kasih sayang (care-giving system). Seluruh faktor tersebut saling berhubungan dan memiliki peran masing-masing dalam sebuah pernikahan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pernikahan adalah sebuah fase dalam hidup manusia yang mengikat laki-laki dan perempuan dalam suatu hubungan yang dinamis, bersifat timbal balik intim dan bertahan lama guna membentuk suatu sistem keluarga baru.

2. Model Pernikahan

Selain berdasarkan jenis cinta yang ada, pernikahan juga dapat dibagi berdasarkan peran suami istri dalam pernikahan (marital roles). Cancian (dalam Brannon, 1995) mengemukakan tiga jenis pernikahan yang terdiri dari Companionship, Independence, dan Interdependence. Tiga jenis pernikahan ini mewakili perkembangan hubungan antara suami-istri dari waktu ke waktu dengan ciri khasnya masing-masing, yaitu:

a. Companionship style, adalah model atau jenis pernikahan yang berkembang dari tahun 1920 hingga tahun 1960an. Dalam jenis pernikahan ini, peran suami dan istri sangat dibedakan berdasarkan maskulinitas dan feminitas. Perempuan adalah orang yang bertanggung jawab untuk menjaga kelangsungan hubungan pernikahan dan juga menyelesaikan semua urusan

rumah tangga. Tipe pernikahan ini dianggap sangat menekan pengembangan diri perempuan dan pada masa sekarang, jenis pernikahan ini disebut sebagai tipe tradisional.

b. Independence style, merupakan model pernikahan yang muncul setelah tahun 1960an ketika terjadi banyak perubahan dan kebebasan pribadi. Perubahan dalam pernikahan yang terjadi adalah adanya kesamaan atau kesetaraan antara suami dan istri dalam pernikahan. Model ini menyatakan bahwa pengembangan diri harus ditempatkan di atas komitmen dan tanggungjawab. Akibatnya, tidak ada yang bertanggungjawab untuk menjaga kelangsungan hubungan pernikahan. Pernikahan dianggap sebagai sebuah pertemuan atara dua orang yang bebas tanpa adanya komitmen.

c. Interdependence style, merupakan bentuk model pernikahan yang mencoba untuk menyempurnakan model independence. Dalam model pernikahan ini, peran gender bersifat fleksibel tetapi didasarkan pada komitmen dan hubungan saling ketergantungan. Suami dan istri memiliki hak untuk mengembangkan dirinya, namun juga bersama-sama bertanggungjawab untuk menjaga kelangsungan hubungan pernikahan tersebut. Model ini juga sekarang dikenal sebagai model egalitarian, dimana suami dan istri secara bersama-sama mengerjakan dan menyelesaikan urusan rumah tangga.

Pekerjaan rumah bukan lagi tanggung jawab istri semata, tapi menjadi tanggungjawab bersama.

Dapat disimpulkan bahwa hingga sekarang terdapat tiga model pernikahan, yaitu Companionship, Independence, dan

Interdependence. Dan pada masa sekarang, model Interdependence

merupakan model pernikahan yang paling banyak digunakan. Hal ini dapat dilihat dengan adanya kebebasan bagi suami dan istri untuk bekerja dan mengembangkan dirinya, tapi juga sekaligus bekerja sama mengurus rumah tangga.

3. Peran Perempuan Dalam Pernikahan

Dalam sebuah pernikahan, Kartono (1992) menyebutkan bahwa perempuan memiliki beberapa peran, yaitu:

a. Sebagai istri dan partner hidup suami,

artinya perempuan menjadi teman hidup dan partner bagi suami, dimana perempuan dapat menjadi teman bicara dan diskusi, juga dapat membantu suami dalam mengatasi masalah-masalah yang mungkin muncul dalam kehidupan pernikahan. b. Sebagai partner seksual pasangan,

artinya perempuan memiliki peran sebagai partner seksual pasangannya, dimana suami dan istri dapat saling memenuhi kebutuhan seksual satu sama lain.

c. Sebagai pengatur kehidupan rumah tangga,

artinya perempuan merupakan orang yang bertanggung jawab penuh terhadap urusan rumah tangga. Seperti yang dikatakan oleh Kasiyan (2008) dan Prabasmoro (2006), perempuan memiliki pekerjaan rumah tangga yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan mengerjakan hal-hal yang menuntut ritunitas, seperti menyuci, memasak, menyeterika, membersihkan rumah, dan masih banyak hal lainnya. Sedangkan pria hanya bertanggungjawab terhadap hal-hal kecil seperti membetulkan genteng bocor, memperbaiki pagar, atau memotong rumput. Dan hal-hal yang harus dilakukan oleh laki-laki ini bersifat situasional dan tidak menuntut adanya rutinitas per hari. Hal ini tentu saja membuat perempuan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengatur rumah dan segala isinya, sehingga wanita dapat dikatakan sebagai pengatur rumah tangga.

d. Sebagai ibu yang merawat dan mendidik anak-anaknya,

artinya perempuan memiliki peran sebagai ibu yang bertugas untuk merawat dan mendidik anak-anaknya. Menurut Brannon (1996), hal ini tidak terlepas dari pembagian pekerjaan yang mengacu pada perbedaan gender. Pembagian pekerjaan berdasarkan gender role menempatkan perempuan dalam konteks lingkungan keluarga, dimana perempuanlah yang

mengurus rumah, suami dan anak-anak. Hal ini yang kemudian dijadikan sebagai suatu dasar yang menyatakan bahwa perempuan bertugas sebagai ibu yang membesarkan dan mendidik anak-anak.

e. Sebagai makhluk sosial yang aktif dalam lingkungan sosial, artinya perempuan sebagai bagian dari keluarga memiliki peran aktif untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial keluarganya, misalnya dengan menjalin relasi bersama tetangga sekitar rumah, ikut berperan aktif dalam kegiatan lingkungan, dan lain sebagainya. Selain itu, perempuan juga dapat berperan aktif dalam lingkungan sosial sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarga. Dengan bekerja, perempuan akan memiliki relasi sosial yang lebih luas apabila dibandingkan dengan perempuan yang tidak bekerja (Prabasmoro, 2006).

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perempuan yang menikah akan memiliki peran baru dalam kehidupannya yang mencakup peran sebagai istri, sebagai partner seksual suami, sebagai pengatur rumah tangga, sebagai ibu bagi anak-anaknya, dan sebagai makhluk sosial sekaligus pencari nafkah tambahan bagi keluarga.

D. KEPUASAN PERNIKAHAN PADA PEREMPUAN BEKERJA 1. Definisi Kepuasan Pernikahan

Kepuasan pernikahan merupakan kualitas hubungan suatu pasangan suami istri yang banyak dipengaruhi oleh bagaimana cara mereka merasakan, menginterpretasi dan mengevaluasi satu sama lain, serta dipengaruhi pula oleh kejadian-kejadian yang berlangsung dalam hubungan tersebut (Epstein & Baucom, 2002). Hasil dari evaluasi terhadap hubungan tersebut yang kemudian mendasari pasangan suami isteri untuk merasakan adanya kepuasan atau ketidakpuasan terhadap hubungan perkawinan yang mereka jalani.

Davidson Sr. & Moore (1996) mengungkapkan pernikahan yang mempunyai kualitas tinggi memiliki deskripsi sebagai pernikahan yang sehat, dekat namun tidak menyakiti dimana hubungan yang terjalin diperlakukan sebagai prioritas oleh masing-masing pasangan dalam keseluruhan gambaran hidup mereka.

Berdasarkan definisi kepuasan Gundersen et all (1996), maka kepuasan pernikahan dapat didefinisikan sebagai suatu penilaian emosional dari suami atau istri atas kejadian atau kondisi dalam pernikahan. Penilaian emosional tersebut kemudian akan menghasilkan emosi positif atau negatif terhadap pernikahan yang dijalani.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kepuasan pernikahan merupakan suatu penilaian emosional, baik positif maupun negatif, terhadap pernikahan yang dipengaruhi oleh cara pasangan merasakan

dan mengevaluasi satu sama lain berdasarkan kejadian atau kondisi dalam pernikahan tersebut.

Dokumen terkait