BAB II KAJIAN TEORI
1. Definisi Kompetensi Pedagogik
Sebagaimana telah disebutkan bahwa salah satu kompetensi yang dituntut dari seorang guru adalah kompetensi pedagogik. Lukmanul Hakim menyatakan kompetensi pedagogik bahwa “Kemampuan guru untuk mengelola proses belajar mengajar, termasuk di dalamnya perencanaan dan pelaksanaan, evaluasi hasil belajar mengajar dan pengembangan siswa sebagai
individu-individu. 4 Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa
kompetensi pedagogik merupakan salah satu kemampuan guru dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari kegiatan manajemen, yakni mulai dari perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan juga pengembangan. Guru harus mampu membuat perencanaan terlebih dahulu terkait dengan materi dan kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan;
3 Ibid., Pasal 10 ayat 1.
4 Lukmanul Hakim, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima, 2009), Cet. I, h. 243.
melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menyesuaikan pada perencanaan yang telah dibuat; penilaian, yakni menilai hasil belajar mengajar setelah dilaksanakan; dan juga pengembangan, yakni mengembangkan kemampuan siswa berdasarkan bakat dan minat melalui kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Sudarwan Danim dan Yunan Danim menyatakan bahwa kompetensi pedagogik meliputi:
(a) Memahami peserta didik secara mendalam; (b) merancang
pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran; (c) melaksanakan pembelajaran; (d)
merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran; (e)
mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensinya.5
Sesuai dengan pernyataan tersebut kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang mengacu kepada lima aspek,
yaitu: pertama, memahami peserta didik secara mendalam adalah kemampuan
guru dalam memahami siswa secara keseluruhan, yakni tidak hanya dari aspek fisik, moral, atau sosial saja, tetapi juga mencakup kultural, emosional, dan
juga intelektual. Kedua, merancang pembelajaran, termasuk memahami
landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran, yaitu kemampuan guru dalam merancang rencana pembelajaran dengan mengutamakan sesuai
pedoman kegiatan pembelajaran dan materi pembelajaran. Ketiga,
melaksanakan pembelajaran, yaitu guru harus mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode dan bahan ajar sesuai dengan materi pembelajaran agar kegiatan yang dilaksanakan tidak
membosankan. Keempat, merancang dan melaksanakan evaluasi
pembelajaran, yakni kemampuan guru dalam melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik dengan tujuan untuk mengetahui
5 Sudarwan Danim dan Yunan Danim, Administrasi Sekolah dan Manajemen Kelas: Strategi Membangun Disiplin Kelas dan Suasana Edukatif di Sekolah, (Bandung: CV Pustaka Setia, Februari 2011), Cet. I, h. 69.
kemampuan peserta didik dalam memahami dan menangkap materi yang telah
dipelajari. Kelima, mengembangkan peserta didik dalam mengaktualisasikan
berbagai potensinya, yakni kemampuan guru dalam memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi peserta didik melalui kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Syaiful Sagala menyatakan kompetensi pedagogik meliputi:
(a) Menguasai landasan-landasan pendidikan; (b) menguasai
bahan pelajaran; (c) kemampuan mengelola program belajar
mengajar; (d) kemampuan mengelola kelas; (e) kemampuan
mengelola interaksi belajar mengajar; (f) menilai hasil belajar siswa; (g) kemampuan mengenal dan menterjemahkan kurikulum; (h) mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan; (i) memahami prinsip-prinsip dan hasil pengajaran; dan (j) mengenal dan
menyelenggarakan administrasi pendidikan.6
Dari rumusan tersebut, kompetensi pedagogik adalah kemampun guru mengelola peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi
pedagogik ini meliputi sepuluh aspek, yakni: pertama, memahami dan
menguasai landasan kependidikan merupakan kemampuan seorang guru tidak hanya dalam memahami pengetahuan mengenai materi yang akan diajarkan, tetapi juga memahami pengetahuan terkait cara mendidik dan membelajarkan.
Kedua, guru harus memiliki pengetahuan serta memahami terkait materi yang
akan diajarkan kepada peserta didik. Ketiga, guru diharuskan mampu dalam
merencanakan program belajar mengajar yang akan berlangsung. Hal ini bertujuan agar kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Keempat, guru harus mampu mengelola kelas pada saat pembelajaran, hal ini dimaksudkan agar peserta didik dalam belajar di kelas tidak cepat
merasa jenuh ataupun bosan. Kelima, kegiatan belajar mengajar tidak akan
membosankan apabila terjadinya interaksi yang aktif dari peserta didik, tidak
6 Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, (Bandung: Alfabeta, Mei 2012), Cet. 6, h. 210.
hanya oleh guru saja. Maka dari itu, guru perlu memahami dan mampu dalam
mengelola interaksi belajar mengajar. Keenam, guru perlu untuk menilai hasil
belajar siswa untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terkait materi yang
dipelajari, serta untuk menilai tingkat perkembangan siswa. Ketujuh, guru
diharuskan mengenal dan memahami kurikulum yang ada, serta menterjemahkannya dalam bentuk rencana pembelajaran yang disesuaikan
berdasarkan materi dan peserta didik serta terkait dengan tujuan pembelajaran.
Kedelapan, guru perlu memahami fungsi bimbingan dan penyuluhan serta tindakan yang harus diberikan. Hal ini berguna untuk membimbing serta memberikan bantuan bagi peserta didik, baik dalam masalah akademik, sosial,
ataupun pribadi. Kesembilan, guru perlu memahami terkait hasil pengajaran
yang telah dilakukan dengan melihat dan menilai dari hasil belajar peserta didik. Dari kegiatan tersebut, maka guru bisa menilai apakah pengajaran yang
telah dilakukan berjalan dengan efektif ataukah tidak. Kesepuluh, guru
diharuskan mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan terkait dengan kegiatan merencanakan, mencatat, mengimplementasikan, serta melaporkan kegiatan pembelajaran.
Buchory menyatakan kompetensi pedagogik meliputi: “(a) memahami
peserta didik; (b) merancang dan melaksanakan pembelajaran; (c) mengevaluasi hasil belajar; dan (d) mengembangkan diri secara profesional”.7
Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta
didik yang meliputi empat aspek, yaitu: pertama, kemampuan dalam
memahami peserta didik adalah kemampuan guru mengenal dan mengidentifikasi berbagai hal tentang peserta didik, baik kemampuan dan
kelemahan yang dimiliki oleh tiap peserta didik. Kedua, perancangan dan
pelaksanaan pembelajaran adalah kemampuan guru untuk merancang proses
7 Buchory, Guru: Kunci Pendidikan Nasional, ( Yogyakarta: Leutikaprio, September 2012), Cet. 1, h. 94.
pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan mengacu kepada materi, peserta didik, sarana prasarana, serta strategi pembelajaran, sekaligus kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran secara efektif, mendidik, dan dialogis sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah ditentukan.
Ketiga, evaluasi hasil belajar adalah proses dalam menilai kemampuan belajar peserta didik, serta guru harus mampu dalam melakukan penilaian
secara objektif. Keempat, berusaha untuk mengembangkan diri secara
profesional melalui pendidikan dan pelatihan agar semakin terasah dan lebih meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan kegiatan positif bagi peserta didik.
Jamil Suprihatiningrum menyatakan bahwa “Kompetensi pedagogik
merupakan kemampuan yang berkaitan dengan pemahaman siswa dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis”.8
Guru adalah seorang tokoh yang berperan dalam mengelola proses pembelajaran dan berkaitan erat dengan siswa. Keterkaitan siswa dalam pembelajaran mengharuskan guru mampu memahami tentang karakter siswa. Dua kemampuan ini membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.
Kompetensi pedagogik merupakan salah satu kompetensi yang wajib dimiliki oleh individu yang berprofesi sebagai guru. Kompetensi pedagogik tidak hanya mengacu pada kemampuan guru dalam kegiatan belajar mengajar, tetapi kemampuan guru dalam mengelola peserta didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Sebenarnya sebelum mengelola kegiatan pembelajaran ada baiknya bagi guru untuk menentukan dan mengelola peserta didik, baik dalam faktor perkembangan, kemampuan, dan kebutuhan. Hal ini bertujuan agar peserta didik mampu untuk mengikuti dan menerima kegiatan serta materi yang dipelajari.
8 Jamil Suprihatiningrum, Guru Profesional: Pedoman Kinerja, Kualifikasi, dan Kompetensi Guru, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), Cet. I, h. 101.
2. Ruang Lingkup Kompetensi Pedagogik
Agar proses pembelajaran terlaksana dengan baik dan efektif, maka guru diharuskan merencanakan dan membuat rancangan mengenai kegiatan pembelajaran yang akan berlangsung. Namun, untuk dapat melaksanakan hal tersebut, guru harus terlebih dahulu memahami mengenai potensi dan karakteristik peserta didik sehingga guru dapat menentukan kegiatan dan metode pembelajaran yang akan digunakan dengan menyesuaikan pada peserta didik. Hal ini bertujuan agar setiap peserta didik dapat mengikuti dan melakukan pembelajaran yang dilaksanakan.
Sebenarnya dalam kompetensi pedagogik terdapat banyak lingkup yang harus dipelajari dan dikuasai oleh guru. Tidak hanya dalam merencanakan dan membuat rancangan pembelajaran serta pemahaman terhadap peserta didik, tetapi juga kemampuan dalam memahami akan landasan kependidikan, kemampuan mengevaluasi hasil belajar peserta didik, serta kemampuan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai ruang lingkup kompetensi pedagogik, berikut ini adalah penjelasan mengenai hal tersebut.
a. Memahami Wawasan atau Landasan Kependidikan
Uhar Suharsaputra menyatakan mengenai pemahaman
wawasan/landasan kependidikan bahwa:
Guru harus memiliki kemampuan dalam memahami wawasan kependidikan yang meliputi: (1) memahami visi dan misi pendidikan nasional; (2) memahami hubungan pendidikan dan pengajaran; (3) memahami konsep pendidikan dasar dan menengah; (4) memahami fungsi sekolah; (5) identifikasi permasalahan umum pendidikan dalam proses dan hasil pendidikan; (6) membangun sistem yang menunjukan keterkaitan
pendidikan sekolah dan luar sekolah.9
9 Uhar Suharsaputra, Administrasi Pendidikan, (Bandung: PT Refika Aditama, Juni 2010), Cet. I, h. 213.
Dari pernyataan tersebut, maka dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa guru harus memiliki kemampuan dalam memahami akan wawasan kependidikan agar guru dapat melaksanakan kegiatan pendidikan sesuai dengan dasar dan kebijaksanaan pendidikan nasional. Dalam pemahaman
ini, terdapat enam indikator yang perlu diperhatikan, yaitu pertama, guru
memiliki pemahaman akan visi dan misi pendidikan nasional; kedua,
guru harus mampu memahami kegiatan pendidikan dan pengajaran agar
tidak mengalami kesalahan dalam pelaksanaannya; ketiga, memahami
konsep pendidikan dasar dan menengah; keempat, guru memiliki
pemahaman akan fungsi sekolah sehingga guru mengetahui kegiatan apa
saja yang harus dilaksanakan dalam ruang lingkup sekolah; kelima, guru
mampu mengidentifikasi dan menganalisa permasalahan yang terjadi dalam pendidikan, baik mengacu pada proses maupun hasil pendidikan;
keenam, guru diharapkan mampu untuk bekerja sama dengan
membangun hubungan antara pihak sekolah dengan masyarakat atau luar sekolah.
Fachrudddin Ali menyatakan bahwa “Kemampuan menguasai
landasan-landasan kependidikan berkaitan dengan kegiatan sebagai berikut: (1) mempelajari konsep, landasan, dan asas kependidikan; (2) mengenal fungsi sekolah sebagai lembaga sosial; (3) mengenali kemampuan dan karakteristik fisik dan psikologis peserta didik”.10
Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa kemampuan dalam menguasai landasan kependidikan tidak hanya berfokus pada aspek dasar atau asas kependidikan saja, akan tetapi terdapat tiga aspek yang
diperlukan, yaitu; pertama, mempelajari dan menguasai konsep, landasan,
dan asas kependidikan merupakan landasan pokok bagi guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai seorang pendidik. Pada aspek
10 Fachruddin Saudagar dan Ali Idrus, Pengembangan Profesionalitas Guru, (Jakarta: Persada, 2011), h. 58.
ini, guru harus memahami dengan benar tentang tujuan dan hakikat pendidikan dan pembelajaran.
Kedua, mengenal fungsi sekolah sebagai lembaga sosial merupakan kemampuan guru dalam memahami lembaga pendidikan yang menyangkut pada visi dan misi lembaga pendidikan sehingga guru mampu menjalankan profesinya sesuai dengan visi dan misi lembaga
pendidikan yang menjadi naungannya. Ketiga, mengenali kemampuan
dan karakteristik fisik dan psikologis peserta didik merupakan kemampuan guru untuk dapat mengenal dan memahami potensi peserta didik dalam rangka memudahkan guru maupun peserta didik untuk melaksanakan pembelajaran.
Menurut pendapat Sardiman “Guru sebagai salah satu unsur
manusiawi dalam kegiatan pendidikan harus memahami hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan nasional baik dasar, arah/tujuan, dan
kebijaksanaan-kebijaksanaan pelaksanaannya”.11
Guru merupakan salah satu pendukung penting dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan sehingga guru tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan dalam bidangnya, namun juga memiliki pengetahuan dalam pelaksanaan pendidikan. Guru harus memiliki pemahaman akan dasar dari kegiatan pendidikan, tujuan pelaksanaan pendidikan, dan juga kebijaksanaan dalam kegiatan pendidikan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kesalahan guru dalam mendidik dan membimbing peserta didik.
Barnawi dan Mohammad Arifin menyatakan bahwa:
Guru harus memiliki wawasan kependidikan yang luas dan dalam. Wawasan yang luas dan mendalam akan memudahkan guru untuk mengambil keputusan yang tepat dalam menentukan tindakan
11 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), Ed. 1, Cet. 19, h. 171.
pendidikan. Keputusan yang tepat akan meminimalisasi kesalahan
guru (malpraktik) dalam menangani peserta didiknya.12
Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa guru sebagai tiang penyangga dalam pendidikan peserta didik di sekolah, maka diharuskan bagi guru untuk memiliki wawasan yang luas dan mendalam, yakni tidak hanya dalam bidang materi yang diajarkan, tetapi juga dalam kegiatan kependidikan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi terjadinya kesalahan yang fatal dalam menentukan dan mengambil keputusan ketika menangani peserta didik. Jika guru tidak memiliki dasar pengetahuan tentang kependidikan, maka guru akan sulit menentukan tindakan yang harus dilakukan dalam mendidik sesuai dengan nilai dan norma.
Seorang guru wajib memahami landasan kependidikan agar mampu melaksanakan kegiatan pendidikan secara benar sesuai dengan standar nasional pendidikan. Namun, Fachruddin dan Ali juga menegaskan bahwa selain memahami akan landasan kependidikan, guru juga perlu untuk memahami dan mengenal tentang visi dan misi serta tujuan dari sebuah institusi atau lembaga pendidikan sebagai sebuah lembaga sosial. Dan yang lebih penting lagi bahwa guru harus memahami dan mengenal terhadap karakteristik dan psikologis peserta didik. Hal ini bertujuan agar guru lebih mudah dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik.
b. Memahami Tentang Peserta Didik
Menurut Fachruddin dan Ali, “Guru dituntut memiliki pemahaman
yang lebih mendalam tentang ciri-ciri dan perkembangan peserta didik, lalu menyesuaikan bahan yang akan diajarkan sesuai dengan karakteristik
12 Barnawi dan Mohammad Arifin, Etika dan Profesi Kependidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), Cet. I, h. 122.
peserta didik”.13
Definisi tersebut memberi makna bahwa setiap peserta didik memiliki keunikan berbeda-beda. Untuk itu, guru diharuskan memiliki pemahaman secara lebih mendalam terkait dengan ciri-ciri dan perkembangan peserta didik. Berkaitan dengan ciri-ciri, setiap peserta didik memiliki fisik yang berbeda, ada peserta didik dengan memiliki fisik normal, namun ada pula yang memiliki kekurangan. Selain itu, dari segi perkembangan, ada siswa dengan kemampuan dalam hal belajar dan berkembang secara cepat, namun ada juga yang memiliki keterlambatan. Perbedaan ini bukanlah suatu penghalang atau hambatan bagi guru dalam melakukan pembelajaran. Melainkan dengan kemampuan akan pemahaman ini, membuat guru menjadi lebih kreatif dan inovatif karena guru dituntut untuk merancang bahan, metode, dan juga strategi dalam pembelajaran dengan disesuaikan pada peserta didik sehingga bertujuan agar setiap peserta didik mampu mengikuti dan menerima materi dalam kegiatan pembelajaran dengan baik.
Menurut Marselus, “Pemahaman terhadap karakteristik peserta didik
dan berbagai aspek perkembangannya dan faktor-faktor yang memengaruhinya merupakan syarat mutlak bagi guru agar guru dapat
berhasil dalam pembelajarannya.”14
Sesuai dengan pendapat tersebut, maka kemampuan guru untuk memahami peserta didik merupakan suatu syarat bagi guru dalam keberhasilan melakukan pembelajaran. Karena dengan memahami karakteristik peserta didik, guru mampu membuat rancangan pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan memperhatikan kemampuan dari setiap peserta didik. Hal ini bertujuan untuk memudahkan peserta didik dalam mengikuti dan melakukan kegiatan
13 Fachruddin, op. cit., h. 61.
14 Marselus R. Payong, Sertifikasi Profesi Guru: Konsep Dasar, Problematika, dan Implementasinya, (Jakarta: Indeks, 2011), Cet. I, h. 30.
pembelajaran yang telah dirancang, serta mampu untuk menerima materi dengan baik.
Barnawi dan Mohammad Arifin mengemukakan bahwa guru diharuskan memiliki kompetensi pedagogik salah satunya adalah memahami peserta didik. Dalam memahami peserta didik terdapat dua hal yang perlu ditekankan, yakni kecakapan dan kepribadian. Berkaitan dengan kecakapan, ada peserta didik yang cepat menerima pelajaran dan ada juga yang lambat dalam belajar. Sedangkan, dari segi kepribadian
bahwa peserta didik memiliki pribadi yang unik dan khas.15
Kemampuan akan memahami peserta didik menjadi salah satu bagian terpenting dalam kompetensi pedagogis. Pada dasarnya setiap peserta didik berbeda, baik dalam kecakapan atau kemampuan dan juga kepribadian. Berkaitan dengan kecakapan atau kemampuan, terdapat peserta didik yang memang memiliki kelebihan, yakni mampu menerima dan menangkap pelajaran dengan cepat dan mudah, namun ada juga peserta didik yang memiliki kekurangan dalam menerima pelajaran dengan cepat. Selain itu, jika dilihat dari aspek kepribadian, akan banyak ditemui peserta didik yang memiliki kepribadian secara khas dan unik, seperti ada peserta didik dengan pribadi humoris, pendiam, pemalu, periang, serta mudah bersosialisasi. Oleh karena itu, guru penting untuk memiliki pemahaman terhadap peserta didik dalam membantu pelaksanaan kegiatan pembelajaran maupun pendidikan.
Suyanto dan Asep Jihad menyatakan bahwa “Memahami siswa secara
mendalam, dengan indikator esensial: memahami siswa dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif; memahami siswa dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian; dan mengidentifikasi
bekal-ajar awal siswa”.16
Kemampuan dalam memahami peserta didik merupakan faktor penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Pada
kemampuan ini terdapat tiga indikator utama, yaitu pertama, memahami
siswa dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif merupakan kemampuan guru untuk dapat mengidentifikasi tingkat perkembangan pengetahuan dan berpikir peserta didik, karena setiap peserta didik memiliki perbedaan, yakni ada yang dengan mudah dan cepat menerima pelajaran, namun ada juga yang memiliki keterlambatan. Dengan kemampuan akan pemahaman ini, guru dapat menggunakan berbagai strategi dan metode secara kreatif sehingga pembelajaran menjadi tidak monoton, serta memudahkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, guru akan lebih mampu dalam mengidentifikasi peserta didik yang membutuhkan pengayaan dan remedial.
Kedua, memahami siswa dengan memanfaatkan prinsip-prinsip
kepribadian merupakan kemampuan guru dalam memahami karakteristik dan kepribadian peserta didik. Pada dasarnya, peserta didik memiliki kepribadian yang unik. Oleh sebab itu, guru perlu mengenali dan memahami secara mendalam. Hal ini bertujuan untuk membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan mengaitkan terhadap karakteristik dan kepribadian peserta didik. Agar peserta didik lebih mudah dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan mudah menerima
materi yang dipelajari. Ketiga, mengidentifikasi bekal-ajar awal siswa
merupakan kemampuan guru memahami pengalaman belajar siswa, dalam artian guru mengetahui materi telah dipelajari dan dipahami oleh siswa. Hal ini bertujuan sebelum guru memulai pembelajaran, maka guru harus mengetahui terlebih dahulu, apakah siswa telah mengetahui materi atau sesuatu hal yang memiliki keterkaitan dengan materi tersebut
16 Suyanto dan Asep Jihad, Menjadi Guru Profesional: Strategi Meningkatkan Kualifikasi dan Kualitas Guru di Era Global, (Jakarta: Erlangga, 2013), h. 41.
ataukah belum. Agar guru menjadi lebih mudah dalam memberikan, menjelaskan, dan melaksanakan pembelajaran dari pengetahuan atau pemahaman yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya.
Guru dituntut untuk memahami peserta didik, baik terhadap kemampuan, perkembangan kognitif, kepribadian, serta pengalaman belajar peserta didik secara mendalam. Peserta didik merupakan individu dengan kemampuan dan kepribadian yang berbeda-beda, baik secara fisik, mental, dan juga emosional. Begitu pun juga dengan cara penanganannya, yakni dibutuhkan kemampuan yang berbeda dalam mengatasinya. Dan hal ini sangat diperlukan oleh guru agar memudahkan dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga setiap peserta didik mampu mengikuti dan menerima dengan baik. Sebelum pelaksanaan pembelajaran, guru diharuskan merancang dan membuat rencana terhadap kegiatan pembelajaran. Rencana pembelajaran digunakan untuk membantu guru dalam menemukan kegiatan apa saja yang harus dilakukan, agar pembelajaran dapat berjalan terarah dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Selain itu kemampuan yang dimiliki oleh guru, yakni mengenal dan memahami peserta didik secara mendalam membantu guru untuk membuat rancangan kegiatan pembelajaran dengan disesuaikan pada peserta didik, baik bahan atau alat ajar, kegiatan pembelajaran, dan metode pembelajaran. Lebih lanjut Fachruddin dan Ali berpandangan bahwa memiliki ketepatan dalam memahami peserta didik terdapat kesinambungan terhadap pembuatan rancangan pembelajaran dengan disesuaikan pada pemahaman kemampuan peserta didik.
c. Mengembangkan Kurikulum/Silabus
Nana Syaodih Sukmadinata menyatakan bahwa “Menjadi tugas gurulah menyusun dan merumuskan tujuan yang tepat, memilih dan
menyusun bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, minat dan tahap perkembangan anak, memiliki metode dan media mengajar yang
bervariasi, serta menyusun program dan alat evaluasi yang tepat”.17
Pernyataan tersebut memberi makna bahwa guru dituntut untuk memiliki kemampuan dan keahlian dalam merumuskan, menyusun, dan merancang kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Rencana pembelajaran yang dirancang harus memenuhi berbagai indikator, yakni terdapat adanya tujuan yang hendak dicapai dari materi yang diajarkan; bahan, sumber, dan alat apa saja yang diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan disesuaikan pada tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan; memilih dan menggunakan berbagai metode dan strategi yang beragam agar peserta didik tidak mudah bosan; serta menyusun penilaian yang akan digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan peserta didik akan materi yang dipelajari.
Lukmanul Hakim menyatakan bahwa:
Guru harus mampu dalam mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu, meliputi: (1)
memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum; (2)
menentukan tujuan pembelajaran yang diampu; (3) menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan; (4) memilih materi pembelajaran yang diampu yang terkait dengan pengalaman belajar dan tujuan pembelajaran; (5) menata materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik siswa; (6) mengembangkan indikator dan
instrument penilaian.18
Dari pernyataan tersebut, bahwa guru sebelum melakukan pembelajaran diharapkan bagi guru dalam membuat dan merancang, serta mengembangkan materi yang akan diajarkan. Pengembangan materi memiliki keterkaitan terhadap kurikulum/silabus. Kurikulum/silabus
17 Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Januari 2009), Cet. XI, h. 200.
merupakan sebuah pegangan bagi guru dalam melaksanakan kegiatan