Berdasarkan teori-teori yang ada terkait dengan penelitian ini, maka definisi konsep dan operasional dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Derajat Partisipasi Perempuan Dalam Perencanaan dan Penganggaran Daerah
Derajat partisipasi perempuan dalam perencanaan dan penganggaran daerah adalah ukuran yang digunakan untuk mengetahui tingkat partisipasi perempuan dari proses pemberdayaan yang sudah dilakukan.
Pelembagaan Partisipasi Perempuan Dalam Perencanaan dan Penganggaran Daerah
Pelembagaan partisipasi perempuan dalam perencanaan dan penganggaran daerah adalah upaya inisiasi pelembagaan partisipasi dimana tersedianya aturan, regulasi
dan instrumen (value, organisasi, mekanisme, prosedur, dan rutinitas) yang dapat melindungi hak-hak warga dalam mengakses informasi publik, membentuk dan bergabung dengan organisasi yang sesuai dengan kepentingannya, menyampaikan pendapat di muka umum, dan melakukan kontrol atas kebijakan dan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah terutama dalam proses perencanaan dan penganggaran daerah.
Definisi Operasional
Sesuai dengan konsep yang ada, dalam penelitian ini digunakan beberapa definisi operasional demi memudahkan jalannya penelitian. Definisi operasional ini tertuang dalam beberapa indikator yang digunakan peneliti untuk membantu mengetahui derajat partisipasi perempuan dan inisiasi pelembagaan partisipasi perempuan Desa Wonolelo dalam perencanaan dan penganggaran daerah.
Derajat Partisipasi perempuan dalam Perencanaan dan Penganggaran daerah
1. Derajat partisipasi non partisipasi warga. Derajat ini ditandai dengan adanya manipulasi informasi yang terjadi dalam kehidupan publik. Empat anak tangga dalam derajat ini adalah civic hype (penipuan warga), cynical consultation (konsultasi sinis), poor information (informasi yang buruk) dan customer care (pemeliharaan pelanggan).
2. Derajat citizen participation (partisipasi warga), terdiri enam anak tangga yaitu:
- High quality information (informasi berkualitas), Informasi berkualitas menekankan adanya pemberian hak warga untuk memperoleh informasi yang jelas dan tegas. Indikatornya menyebarluaskan informasi melalui semua kemungkinan yang bisa dilakukan, misalnya tanggal dan tempat pertemuan dan aturan main yang telah ditetapkan. Adanya mekanisme yang jelas tentang tahapan dan periode waktu, aturan untuk pengambilan keputusan, metode mendistribusikan tanggungjawab, pembagian peran dan wewenang dari masing-masing aktor serta komposisi dewan anggaran partisipatif.
Aturan tersebut tidak diputuskan secara sepihak namun harus ditentukan dengan partisipasi penuh dari suatu populasi tertentu.
- Genuine information (konsultasi sejati), Konsultasi sejati berarti melibatkan warga dalam mempengaruhi pengambilan keputusan.
Indikatornya Adanya kepentingan dari warga untuk terlibat, dimana dalam partisipasi perempuan dibutuhkan gerakan membangun kesadaran, membuka akses, mengetahui arena dan ruang partisipasi dan melakukan kontrol.
- Effective advisory board (badan penasehat yang efektif), Badan penasehat yang efektif adalah ada lembaga yang berfungsi sebagai katalis mendorong warga agar menyampaikan aspirasinya. Pemerintah dapat berkomitmen untuk memperhatikan aspirasi warga sebelum keputusan diambil, namun tidak perlu berkomitmen untuk menjalankannya. Indikatornya adanya kemauan untuk membangun kapasitas masyarakat dan pejabat tentang penganggaran partisipatif, ada kesepahaman untuk membangun kesepakatan tentang alokasi.
- Limited decentralized decision making (desentralisasi terbatas pada pembuatan keputusan), Konsep desentralisasi terbatas pada pembuatan keputusan pemerintah dapat melimpahkan kekuasaan tertentu sehingga warga memiliki daya tawar yang nyata. Indikatornya adanya prioritas tuntutan, yang ditetapkan bersama dengan masyarakat yang disesuaikan dengan alokasi yang tersedia untuk memastikan distribusi sumberdaya yang lebih adil. Penentuan prioritas tuntutan ini dilakukan dengan partisipasi penuh dari masyarakat suatu populasi tertentu dan kemudian disesuaikan kebutuhannya setiap tahun, berdasarkan hasil dan fungsi dari proses tersebut.
- Partnership (kemitraan) Kemitraan berarti pemerintah memberikan kekuasaan yang lebih berarti pada tingkatan masyarakat, pemerintah dapat menjalin kemitraan dengan organisasi masyarakat lokal untuk menjalankan suatu urusan tertentu.
- Delegated control (kendali yang terdelagasi), adalah organisasi lokal dapat menjalankan suatu urusan atau wilayah tertentu setelah
didelegasikan oleh pemerintah, ruang lingkup urusan lebih luas di suatu daerah.
Pelembagaan partisipasi perempuan dalam Perencanaan dan Penganggaran Daerah
Pelembagaan partisipasi perempuan dalam perencanaan dan penganggaran daerah dilihat dari model pelembagaan partisipasi yang dikemukakan Cornwall (2004) yaitu:
1. Popular Spaces
Popular Spaces adalah arena di mana orang-orang datang bersama-sama atas dorongan mereka sendiri,apakah untuk memprotes terhadap kebijakan pemerintah atau intervensi dari kekuatan asing, untuk menghasilkan layanan mereka sendiri atau solidaritas dan saling membantu. Popular Spaces mungkin bisa diatur, dilembagakan dalam format asosiasi atau kelompok, mereka juga bisa bersifat sementara, ekspresi dari perbedaan pendapat public. Popular Spaces adalah perlawanan terhadap reaksi terhadap dimensi relasi kuasa dari berbagai level mulai dari personal hingga ke domain publik.
2. Invited Spaces
Invited Spaces adalah sebuah ruang yang disediakan oleh pemerintah baik dalam menanggapi permintaan populer, tekanan donor atau pergeseran dalam kebijakan (Brock et al,2001 dalam Cornwall:2004). Suatu momen kebijakan dimana ruang publik dibuka untuk musyawarah atau komunikasi, sebelum ditutup lagi oleh pihak berwenang. Invited Spaces akan lebih tahan lama, sering mengambil bentuk pelembagaan dalam aturan yaitu adanya komite manajemen dan kelompok pengguna yang telah tumbuh dan berkembang di bangun dari sektor reformasi.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa invited spaces adalah keterlibatan masyarakat dalam proses kebijakan karena ruang yang disediakan oleh pemerintah daerah. Inisiatif berasal dari pemerintah daerah dan muncul karena kuatnya aksi-aksi kolektif untuk mendesakkan agenda-agenda pelembagaan ruang pelibatan publik dalam proses politik di tingkat lokal. Namun tidak menutup kemungkinan
inisiatif tersebut berasal dari faktor eksternal seperti dukungan dari donor maupun kebijakan nasional.
3. Conquered Spaces
Conquered Spaces adalah penyediaan ruang bagi keterlibatan warga sudah mulai dilembagakan dalam proses kebijakan. Proses pelibatan ini bisa dalam bentuk legalisasi pelibatan publik. Proses legalisasi ini bisa dalam bentuk Perda partisipasi publik maupun formalisasi mekanisme partisipasi.
Kerangka Pikir
Derajat partisipasi perempuan dalam Perencanaan dan Penganggaran Daerah
Kesimpulan Refleksi Teoritis
Rekomendasi
Pelembagaan Partisipasi Perempuan dalam Proses Perencanaan dan Penganggaran Daerah
dengan pendekatan new institutionalism Non partisipasi warga
Partisipasi warga