• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUBUH Rincian lead, latar belakang

METODE PENELITIAN

3.1 Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan suatu konsep pengukuran variabel-variabel penelitian dapat dijelaskan dengan indikator-indikator variabel penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode analisis isi kuantitatif. Analisis tersebut digunakan hanya untuk mengkaji isi pesan, pemberitaan tentang Tingkat Kelulusan Ujian Nasional (UNAS) 2010 tanpa harus memihak pada pihak manapun. Dengan menggunakan tipe penelitian deskriptif peneliti berusaha untuk menjelaskan dan memberi gambaran pesan-pesan yang disajikan pemberitaan tersebut. Dalam penelitian pokok difokuskan pada objektivitas berita tentang tingkat kelulusan ujian nasional (UNAS) 2010.

Dalam isi berita tentang tingkat kelulusan ujian nasional (UNAS) yang dapat memberikan pendapatnya secara langsung kepada isi pemberitaan tersebut sehingga masyarakat dapat menilai dengan pandangannya sendiri

Pemberitaan pada Koran harian Jawa Pos Edisi 28 April tentang Nilai Unas Surabaya Jeblok dapat mewakili keingintahuan masyarakat serta menjadi bahan pembicaraan yang hangat di masyarakat serta penerimaan kritik dan saran atau hujatan sekalipun dari masyarakat luas. Sehingga dapat menimbulkan topik pembicaraan dalam kalangan masyarakat dengan memberikan argumentasi secara objective journalism yang berbobot.

Untuk lebih jelasnya pengukuran variabel penelitian adalah sebagai berikut : 1. Tema berita

Tema berita merupakan suatu pokok bahasan yang menjadi acuan dalam suatu pemberitaan tertentu. Dalam penelitian ini, tema berita dalam tingkat kelulusan ujian nasional (UNAS) menjadi 3 tema utama yaitu:

a. Tema Hak Asasi Manusia (HAM)

Tema HAM merupakan pokok bahasan tentang tingkat kelulusan ujian nasional secara sepihak.

b. Tema Human Interset

Tema human interest atau suatu pokok bahasan mengenai keadaan kondisi masyarakat didalam menilai pemberitaan yang ada dengan tingkat kelulusan ujian nasional (UNAS) 2010 yang jeblok dari tahun lalu.

3.1.1. UNAS ( Ujian Nasional )

Ujian Nasional (UN) yang memimbulkan sikap pro kontra di kalangan masyarakat sebenarnya telah dilaksanakan sejak tahun 1965, namanya mengalami Evolusi sampai akhirnya bernama Ujian Nasional. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, sistem ujian nasional telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan, perkembangan ujian nasional tersebut dapat kita lihat di bawah ini :

1. Periode 1965 - 1971, pada periode ini, sistem ujian akhir disebut dengan Ujian Negara, berlaku untuk hampir semua mata pelajaran. Bahkan ujian dan

pelaksanaannya ditetapkan oleh pemerintah pusat dan seragam untuk seluruh wilayah di Indonesia.

2. Periode1972 - 1979, pada tahun 1972 ditetapkan sistem ujian sekolah dimana setiap atau sekelompok sekolah menyelenggarakan ujian akhir sekolah masing-masing. Soal dan pemrosesan hasil ujian semuanya ditentukan oleh masing-masing sekolah / kelompok sekolah. Pemerintah pusat hanya menyusun dan mengeluarkan pedoman yang bersifat umum.

3. Periode 1980-2000, untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu pendidikan serta diperolehnya nilai yang memiliki makna yang ''sama" dan dapat dibandingkan antar sekolah ,maka sejak tahun 1980 dilaksanakan ujian akhir nasional yang dikenal dengan sebutan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Dalam EBTANAS dikembangkan sejumlah perangkat soal yang "paralel" untuk setiap mata pelajaran, dan penggandaan soal dilakukan di daerah.

4. Periode 2001-2004, sejak tahun 2001, EBTANAS diganti dengan penilaian hasil belajar secara nasional dan kemudian berubah nama menjadi Ujian Akhir Nasional, sejak tahun 2002. Perbedaan yang menonjol antara UAN dan EBTANAS adalah dalam cara menentukan kelulusan siswa, terutama sejak tahun 2003. Dalam EBTANAS kelulusan siswa ditentukan oleh kombinasi nilai semester 1, nilai semester 2, dan nilai EBTANAS murni, sedangkan kelulusan siswa pada UAN ditentukan oleh nilai mata Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, sistem ujian nasional telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan, perkembangan ujian nasional tersebut dapat kita lihat di bawah ini :

5. pelajaran secara individual. pelajaran secara individual.

6. Periode 2005-sekarang, untuk mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan yang bermutu, pemerintah menyelenggarakan Ujian Nasisonal untuk SMP / MTs / SMPLB dan SMA / SMK / MA / SMALB / SMKLB /.

Periode 2008-sekarang, untuk mendorong tercapainya trget wajib belajar pendidikan yang bermutu, mulai tahun ajaran 2008/2009 pemerintah menyelenggarakan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional untuk SD / MI / SDLB. Source:drs-bakharuddin

3.1.2. Berita tentang Jebloknya Tingkat Ujian Nasional 2010

Hasil ujian nasional (UNAS) tingkat SMA / SMK yang jeblok langsung dievaluasi Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya kemarin (27/4). Berdasar hasil evaluasi bersama seluruh kepala SMA / SMK, Kepala Dispendik Surabaya Suhudi mengungkapkan jebloknya nilai bahasa Indonesia, dan Matematika. Buruknya nilai dua mata pelajaran tersebut terjadi di semua jurusan : IPA, IPS, maupun Bahasa. Hal yang sama juga dialami murid sekolah menengah kejurusan.

Suhudi menyebut, nilai rata – rata bahasa Indonesia untuk jurusan IPA adalah 7,37. Nilai itu terendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain seperti bahasa Inggris, matematika, fisika, kimia, dan biologi. Di jurusan IPS, nilai rata-rata bahasa Indonesia 6,84. Di jurusan bahasa, nilai rata-rata bahasa Indonesia 6,52. “Untuk SMA, nilai rata-rata bahasa Indonesia juga paling rendah di antara mata pelajaran lain, yaitu 6,36” ujarnya. Bukan hanya itu, nilai terendah

untuk bahasa Indosia juga terjun bebas. Nilai terendah untuk jurusan IPA adalah 1,6, jurusan IPS 0,20, bahasa 3, dan SMK 0,6. Tahun lalu rata-rata nilai terendah untuk bahasa Indonesia berkisar di angka 3.

Sepuluh besar nilai UNAS tertinggi untuk jurusan bahasa, IPA, dan IPS diraih sekolah-sekolah dari luar Surabaya. Tahun lalu, tingkat kelulusan siswa SMA, dan MA mencapai 96 persen, sedangkan tahun ini 97,4.persen. padahal, targetnya adalah 98 persen. Sedangkan tingkat ketidaklulusan siswa SMK, tahun lalu mencapai 96,5 persen. Tahun ini jeblok menuju angka 91,18 persen. Kendati demikian, kepala Dispendik Surabaya Suhudi mengklaim, secara keseluruhan, ada kenaikan untuk tingkat kelulusan SMA. Terutama, dalam hal kualitas. Dia menyebutkan ada dua indikator keberhasilan itu. Pertama, persenase kelulusannya naik jika dibandingkan dengan tahun lalu. “Termasuk, nilai rata-rata”, ujarnya. Kedua, bardasar peringkat di Jawa Timur, jurusan IPS di Surabaya masuk sepuluh besar. Surabaya menempati ranking tujuh. “Meski Surabaya belum menembus angka lima besar, tahun ini lebih baik dari tahun lalu.

Wali kota Bambang D.H mengaku belum puas terhadap hasil unas. Apalagi prestasi Surabaya juga disalip kota-kota kecil lain di Jawa Timur. “Memang persentasi tingkat kelulusan SMA naik. Meskipun signifikan, kami apresiasi upaya siswa,” ujarnya. Bambang menyayangkan penurunan tingkat kelulusan siswa SMK. “Tapi nggak apa. Masih ada waktu untuk ujian ulangan. Saya minta waktu yang ada dimanfaatkan oleh guru maupun siswa agar mempersiapkan diri dengn baik,” jelasnya. (Sumber : Jawa Pos)

Dokumen terkait