TUBUH Rincian lead, latar belakang
METODE PENELITIAN
C. Validitas keabsahan pemberitaan, diukur dari :
4.2. Penyajian Data dan Analisis Data
4.2.1 Obyektivitas Pemberitaan
Obyektivitas dalam penyajian berita merupakan salah satu nilai yang harus dipenuhi oleh jurnalis dalam rangka pemenuhan informasi serta penyampaian informasi yang benar kepada khalayak ataupun masyarakat. Teori ini didasari atas pandangan bahwa sebuah kebenaran di media massa tidaklah bisa diklaim oleh satu pihak saja, namun harus dikonfirmasikan menurut kebenaran dari pihak lain.
Inilah mengapa pemberitaan disurat kabar selalu dituntut untuk mengungkapkan kebenaran secara fairness. Obyektivitas yang juga sering disebut sebagai pemberitaan cover both side, dimana pers menyajikan semua pihak yang terlibat sehingga pers mempermudah pembaca menemukan
kebenaran. Selain fairness, pers juga dituntut melakukan pemberitaan yang akurat, tidak bohong, menyatakan fakta bila itu memang fakta, dan pendapat bila itu memang pendapat.
Hanya belakangan ini, muncul suatu wacana yang memandang obyektivitas sebagai teori yang dikuduskan oleh para praktisi jurnalis dan dikristalkan sehingga aplikasi dalam profesinya sudah sangat jarang ditemui lagi di media massa. Sesuatu yang ditulis oleh wartawan dan terbitkan oleh media yang memiliki prestige akan lebih dipercaya oleh khalayak sebagai fakta sehingga memiliki kekuatan untuk menimbulkan opini public di masyarakat.
Keyakinan untuk menyajikan berita yang obyektive disampaikan juga oleh Denis McQuail seorang pakar komunikasi yang mengembangkan konsep obyektivitas ini dari pola obyektivitas pemberitaan milik Jurgen Wersthelsthal dengan membagi dimensi obyektivitas kedalam Impartial dan factual. Wien Charllote, seorang dosen komunikasi dari Denmark juga memiliki ketertarikan yang sama terhadap teori obyektivitas ini
Dalam disertasinya dinyatakan bahwa jurnalis saat ini hanya memandang obyektivitas sebagai kepercayaan yang ada namun kurang berperan dalam tindakan praktis sebagai jurnalis dalam menulis berita. Tidak hanya pakar komunikasi dari luar saja yang memiliki ketertarikan terhadap obyektivitas pemberitaan, Ashadi Siregar, Henry Subiakto dan Rachma Ida adalah beberapa diantara ahli komunikasi di Indonesia yang mengangkat teori obyektivitas pemberitaan sebagai alat ukur untuk memahami media surat kabar harian nasional yang ada di Indonesia.
Henry Subiakto melakukan analisis isi kuantitatf terhadap 8 surat kabar nasional bertiras 100.000 eksemplar dengan mengukurnya kedalam dimensi obyektivitas pemberitaan yakni aktualitas, fairness dan validitas pemberitaan. Hasil temuan data menyimpulkan surat kabar Suara Pembaharuan, Kompas, Suara Merdeka, Media. Indonesia adalah media massa di Indonesia yang cenderung obyektif dibandingkan media massa yang lain dalam hal keakurasian pemberitaan, validitas nara sumbernya dan ketidak berpihakan pada pihak manapun.
Walaupun tidak ada salah satu media yang benar-benar telah menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme obyektif, tapi paling tidak media tersebut dianggap mampu untuk memisahkan fakta daripada opini dan dinilai cenderung untuk tidak melakukan provokasi massa, dan sebagainya.
Sementara itu surat kabar Republika, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, dan Surya masih mengalami persoalan dengan obyektifitas. Artinya keempat surat kabar ini terlihat sekali berpihak pada pihak-pihak tertentu dan berkecenderungan menggunakan opini wartawan daripada fakta-fakta akan realitas yang se-nyatanya (library of Airlangga university, 2001)
Berangkat dari pertimbangan yang didasari pada pandangan/paradigma klasik dimana para jurnalis dalam menyajikan berita selalu mengacu pada fakta dan selalu bersifat obyektif dalam menyajikan liputan menjadi sebuah berita, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kategorisasi yang dibuat dan digunakan Rachma Ida.
Dosen Komunikasi ini menggunakan prinsip obyektivitas dalam meneliti berita politik di harian surat kabar nasional yang bertiras 100.000
eksemplar. Penelitian ini dilakukan dengan mennggunakan Jawa Pos sebagai subyek penelitian dengan berita Nilai Unas Surabaya Jeblok. Surat kabar Jawa Pos periode 28 Juli 2010.
Berita yang beredar ditengah masyarakat mengenai nilai unas surabaya jeblok, yaitu tentang jebloknya nilai unas di Surabaya 2010. Dimana Hasil ujian nasional (UNAS) tingkat SMA / SMK yang jeblok langsung dievaluasi Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya kemarin (27/4). Berdasar hasil evaluasi bersama seluruh kepala SMA / SMK, Kepala Dispendik Surabaya Suhudi mengungkapkan jebloknya nilai bahasa Indonesia, dan Matematika. Buruknya nilai dua mata pelajaran tersebut terjadi di semua jurusan : IPA, IPS, maupun Bahasa. Hal yang sama juga dialami murid sekolah menengah kejurusan.
Suhudi menyebut, nilai rata – rata bahasa Indonesia untuk jurusan IPA adalah 7,37. Nilai itu terendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain seperti bahasa Inggris, matematika, fisika, kimia, dan biologi. Di jurusan IPS, nilai rata-rata bahasa Indonesia 6,84. Di jurusan bahasa, nilai rata-rata bahasa Indonesia 6,52. “Untuk SMA, nilai rata-rata bahasa Indonesia juga paling rendah di antara mata pelajaran lain, yaitu 6,36” ujarnya. Bukan hanya itu, nilai terendah untuk bahasa Indosia juga terjun bebas. Nilai terendah untuk jurusan IPA adalah 1,6, jurusan IPS 0,20, bahasa 3, dan SMK 0,6. Tahun lalu rata-rata nilai terendah untuk bahasa Indonesia berkisar di angka 3.
Sepuluh besar nilai UNAS tertinggi untuk jurusan bahasa, IPA, dan IPS diraih sekolah-sekolah dari luar Surabaya. Tahun lalu, tingkat kelulusan siswa SMA, dan MA mencapai 96 persen, sedangkan tahun ini 97,4.persen. padahal,
targetnya adalah 98 persen. Sedangkan tingkat ketidaklulusan siswa SMK, tahun lalu mencapai 96,5 persen. Tahun ini jeblok menuju angka 91,18 persen. Kendati demikian, kepala Dispendik Surabaya Suhudi mengklaim, secara keseluruhan, ada kenaikan untuk tingkat kelulusan SMA. Terutama, dalam hal kualitas. Dia menyebutkan ada dua indikator keberhasilan itu. Pertama, persenase kelulusannya naik jika dibandingkan dengan tahun lalu. “Termasuk, nilai rata-rata”, ujarnya. Kedua, bardasar peringkat di Jawa Timur, jurusan IPS di Surabaya masuk sepuluh besar. Surabaya menempati ranking tujuh. “Meski Surabaya belum menembus angka lima besar, tahun ini lebih baik dari tahun lalu.
Wali kota Bambang D.H mengaku belum puas terhadap hasil unas. Apalagi prestasi Surabaya juga disalip kota-kota kecil lain di Jawa Timur. “Memang persentasi tingkat kelulusan SMA naik. Meskipun signifikan, kami apresiasi upaya siswa,” ujarnya. Bambang menyayangkan penurunan tingkat kelulusan siswa SMK. “Tapi nggak apa. Masih ada waktu untuk ujian ulangan. Saya minta waktu yang ada dimanfaatkan oleh guru maupun siswa agar mempersiapkan diri dengn baik,” jelasnya. (Sumber : Jawa Pos)
Tabel 4.1 Berita 1
“Dispendik Akan Beri Perhatian Khusus Untuk SMK”
Akurasi Fairness validitas
Judul Berita Kes euai an isi dan jud ul beri ta Pencant uman waktu peristi wa Data pendukung Pencampur an fakta dan opini Data
sumber Luas kolom
Atribut sumber data Kompetensi sumber no Nilai Unas Surab aya Jeblo k sesu ai Tidak sesuai ada Tidak ada a d a Ti da k ad a ad a T i d a k a d a seimb ang Tid ak sei mba ng seimb ang Ti da k sei mb an g j e l a s T i d a k j e l a s warta wan Pe la ku la ng su ng Bkn Pelak u langs ng v v v v v v v v
Bab 1 “Nilai Unas Surabaya Jeblok” pada tanggal 28 April 2010. Akurasi pemberitaan yang ditampilkan mengenai tingkat kelulusan ujian nasiona (unas). Di harian Jawa Pos sudah memenuhi kategori yang akurat. Ini ditarik dari hasil penelitian yang menunjukkan sudah menggunakan pola harus adanya kesesuaian antara judul berita dengan isi berita dimana relevansi yang tinggi diantara keduanya telah dirasa penting oleh jurnalis dalam menyusun berita di harian pagi Jawa Pos.
Kesesuaian judul yang ada pada berita nilai unas surabaya jeblok. Telah mengacu pada aspek relevansi, yakni kalimat judul yang ada merupakan bagian dari kalimat yang sama pada isi berita atau pada bagian isi terdapat penjelasan dari judul dengan inti yang sama, sebagai contoh dari judul
“ Dispendik Akan Beri Perhatian Khusus Bagi SMK”
Bambang mengaku belum menerima laporan tentang anjloknya prestasi sekolah kejuruan dalam unas kali ini. Pakar pendidikan dari Unesa, Martadi MSN, menyatakan bahwa unas SMK jeblok karena beban yang harus di tanggung siswa SMK jauh lebih berat dari siswa SMA.
Dalam berita ini akurasi ketegori pencantuman waktu atau tanggal peristiwa kejadian tidak dicantumkan dalam berita sehingga tidak sesuai dengan kategori akurasi.
Dalam berita ini terdapat ilustrasi gamba, ada data pendukung, yaitu bila berita dilengkapi salah satu data pendukung, seperti tabel, statistik, foto, ilustrasi, gambar, buku, UU, dan lainnya.
Dalam berita ini tidak ada pencampuran fakta dan opini, karena dalam berita tidak terdapat kata-kata opinionativ seperti : tampaknya, diperkirakan, mengejutkan, kontroversi, manuver, sayangnya, dan kata-kata opinionativ lainnya.
Tidak seimbang, yaitu bila masing-masing pihak yang diberikantidak diberi porsi yang sama sebagai sumber berita, dilihat dari jumlah sumber berita, dilihat dari jumlah sumber beritanya. Dalam berita ini tidak seimbang karena, sumber berita hanya dari Bambang .DH sebagai Wali Kota.
Tidak seimbang yaitu jika luas kolomyang dipakai antara pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan tidak memiliki jumlah kesamaan. Dalam berita ini penggunaan sisi luas kolom tidak seimbang, karena kolom yang dipakai antara pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan tidak memiliki jumlah kesamaan, sumber berita hanya dari Bambang .DH sebagai Wali Kota.
Dalam berita ini sumber berita yang dipakai dalam pemberitaan terdapat kejelasan berita, dicantumkan identitasnya seperti nama, pekerjaan, atau sesuai yang memungkinkan untuk dilakukan konfirmasi seperti nama, pekerjaan, atau sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan konfirmasi, Contoh berita, Misalnya, petugas humas juru bicara, dan lainnyatidak berada di lokasi saat peristiwa terjadi.
Dari analisin berita 1 dapat penulis simpulkan bahwa berita ini sudah objektif masih ada beberapa yang kurang objektif. Seperti kategorisasi akurasi dimana pencantuman waktu dan tanggal peristiwa kejadian tidak dicantumkan dalam berita, selain itu kategorisasi feirnes dalam berita ini juga tidak seimbang karena masing-masing pihak yang diberitakan tidak diberi porsi yang sama sebagai sumber berita dan luas dalam pemberitaannya. Dalam berita ini validitas sumber berita bukan pelaku langsung.
Tabel 4.2 Berita 2
“Sekarang Lebih Baik Fokus Ujian Ulang”
Pencantuman Waktu Terjadinya Peristiwa Jumlah Akurasi Pemberitaan
Dicantumkan Tidak Dicantumkan F %
Akurat - 2 2 100
Tidak Akurat - - 0 0
Jumlah 2 100
Pada tanggal 28 April 2010. Akurasi pemberitaan yang ditampilkan sesuai memenuhi syarat akurat. Ini ditarik dari hasil penelitian yang menunjukkan adanya kesesuaian antara berita dengan isi.
Kesesuaian judul berita “Sekarang Lebih Baik Fokus Ujian ulang” telah mengacu pada relevansi, yakni kalimat judul yang ada merupakan bagian dari kalimat yang sama pada isi berita atau pada bagian isi terdapat penjelasan dari judul dengan inti yang sama, sebagai contoh
“ Sekarang Lebih Baik Fokus Ujian Ulang”
Tahun ini, Surabaya gagal mempertahankan prestasi sekolah kejuruan dalam
ujian nasional (unas). Sekarang sudah telat mencari penyebabnya. Yang penting
mereka fokus menyiapkan ujian ulang pada 10-14 mei mendatang.
Dalam berita 2 ini akurasi kategorisasi pencantuman waktu atau tanggal peristiwa kejadian dicantumkan dalam berita sehingga sesuai dengan kategorisasi akurasi, sebagai contoh
“ Sekarang Lebih Baik Fokus Ujian Ulang”
Tahun ini, Surabaya gagal mempertahankan prestasi sekolah kejuruan dalam
ujian nasional (unas). Sekarang sudah telat mencari penyebabnya. Yang penting
Dalam berita ini terdapat ilustrasi bambar, ada dua pendukung, yaitu bila berita dilengkapi salah satu data pendukung, seperti tabel, statistik, foto, ilustrasi gambar, buku, UU, dan lainnya.
Dalam berita ini tidak seimbang karena, sumber berita hanya dari Mohammad Nuh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas). Tidak seimbang, yaitusama sebagai sumber berita, dilihat dari jumlah sumber berikutnya.
Dalam berita ini menggunakan sisi luas kolom tidak seimbang, karena kolom yang dipakai antara pihak-pihak yang terlibat daam pemberitaan tidak memiliki jumlah kesamaan, sumber berita hanya dari Mohammad Nuh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas). Tidak seimbang yaitu jika luas kolom yang dipakai antara pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan tidak memiliki jumlah kesamaan.
Dalam berita ini sumber berita yang pakai dalam pemberitaan terdapat kejelasan yang memungkinkan untuk dilakukan konfirmasi. Contoh
“ Sekarang Lebih Baik Fokus Ujian Ulang”
Tahun ini, Surabaya gagal mempertahankan prestasi sekolah kejuruan dalam
ujian nasional (unas). Sekarang sudah telat mencari penyebabnya. Yang penting
mereka fokus menyiapkan ujian ulang pada 10-14 mei mendatang
Dalam berita Mohammad Nuh selaku Menteri Pendidikan nasional (Mendiknas) dinilai bukan pelaku langsung. Karena beliau tidak mengalami langsung peristiwa tersebut. Bukan pelaku langsung, bila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil wawancara wartawan dengan sumber berita yang tidak mengalami langsung
peristiwa tersebut. Hanya karena jabatan atau memiliki akses informasi lalu menjadi sumber berita. Misalnya,petugas humas, juru bicara, dan lainnya yang tidak barada di lokasi saat peristiwa terjadi.
Dari hasil analisis berita 2 dapat penulis simpilkan bahwa berita ini sudah objektif, tetapi masih ada beberapa kategorisasi yang kurang objektif. Seperti kategorisasi fairnes dalam berita ini tidak seimbang karena masing-masing pihak yang diberitakan tidak diberi porsi yang sama sebagai sumber berita dan luas kolom dalam pemberitaannya. Dalam beritaan ini jaga validitas kopetensi berita bukan pelaku langsung.
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis tentang objektifitas berita tentang tingkat kelulusan ujian nasional (unas), maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Memang ada realita lahiriah yang disajikan dalam pemberitaan berita tingkat kelulusan ujian nasional 2010 di surat kabar Jawa Pos edisi 28 April 2010 dengan Obyektivitas masih mendominasi isi pemberitaan seputar tingkat kelulusan ujian nasional. Meski dalam dimensi fairness sumber berita prasangka/bias, kemampuan memilih "berita " terbukti tidaklah obyektive
1. Akurasi pemberitaan surat kabar dalam memuat berita tingkat kelulusan ujian nasional 2010 di surat kabar Jawa Pos edisi 28 april 2010 telah memenuhi teori obyektivitas pemberitaan karena telah terdapat kesesuaian antara judul berita dengan isi berita, terdapat data pendukung serta tidak adanya pencampuran antara fakta dan opini dalam jumlah yang dominan.
2. Fairness (ketidakberpihakan) pemberitaan berita berita tingkat kelulusan ujian nasional di surat kabar Jawa Pos edisi 28 april 2010 masih belum tergolong obyektif karena meski dalam jumlah berita yang digunakan sudah sesuai namun luas kolom yang digunakan dalam memberitakan suatu peristiwa masih belum cover both side dari sisi luas masing-masing pihak yang diberitakan masih tidak seimbang.
4. Validitas (keabsahan) berita yang ditulis sebagai berita tingkat kelulusan ujian nasional di surat kabar Jawa Pos edisi 28 april 2010 baik dalam kejelasan data sumber berita yang digunakan maupun dari kompetensi pihak yang menjadi sumber berita sudahlah valid dan merefleksikan prinsip obyektivitas dalam sumber berita.
5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang didapat dari hasil analisis isi terhadap obyektivitas berita berita tingkat kelulusan ujian nasional di surat kabar Jawa Pos periode edisi 28 april 2010, maka dapat diberikan saran sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan konsep obyektifitas pemberitaan pers, bagaimana mengukurnya, dan apa kaitannya dengan konsep-konsep akurasi, validitas dan fairness.
2. Mengingat masih terdapat dimensi fairness yang masih tidak memenuhi syarat obyektivitas, melalui jurnalis maupun editornya, Jawa Pos sebaiknya lebih meningkatkan kualitas pemberitaannya, sekaligus koreksi terhadap berita yang disajikan agar tetap berjalan atas prinsip ketidakberpihakan/fair.
2001
Effendy, Uchjana, Onong, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Remaja Rosdakarya, Bandung 2010
Flournoy, Don Michael, Analisis Isi Surat Kabar Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1986
Ishwara, Luwi, Catatan-catatan Jurnalisme Dasar, Jakarta : PT Kompas Media Nusantara, 2005
Kriyantono, rachmat, Public Relations Writing, Jakarta : penerbit prenada media group, 2008
Kusumaningrat, Hikmat, Jurnalistik Teori dan Praktik, Bandung : Remaja Rosdakara, 2006
McQuail, Denis, Teori Komunikasi Massa, Jakarta : Erlangga, 2001.
Santana, Septian K. Jurnalisme Kontenporer, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2005
Sobur, Drs. Alex Msi, Analisis teks media, Suatu pengantar untuk analisis
wacana, analisis semiotic dan analisis framing, Bandung : PT.Remaja
Rosdakarya, 2006
Sumadiria, Haris, Jurnalistik Indonesia, Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2005
Suyanto, Bagong, Metode Penelitian Sosial, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2005
Winarni, Komunikasi Massa Sebagai Suatu Pengantar, Unmu, Malang, 2003
Non Buku : Surat Kabar Jawa Pos www.Jawa Pos.com