BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.5. Definisi Operasional
1. Tataniaga merupakan kegiatan menyampaikan barang dari petani produsen hingga sampai ke tangan konsumen akhir.
2. Fungsi tataniaga adalah aktivitas, usaha ataupun jasa-jasa yang dilakukan dalam proes penyampaian barang barang hingga ke konsumen.
3. Lembaga tataniaga adalah orang atau badan usaha yang terlibat dalam proses tataniaga bawang merah.
4. Harga ditingkat petani adalah harga jual bawang merah yang diterima petani.
5. Harga ditingkat konsumen adalah harga beli bawang merah yang dibayar oleh konsumen.
6. Marjin tataniaga adalah perbedaan harga yang diterima oleh petani dengan harga yang dibayar oleh konsumen.
7. Efisiensi tataniaga adalah suatu keadaan dimana diperoleh pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar oleh konsumen akhir.
8. Pedagang pengumpul adalah pedagang yang membeli bawang merah dari petani dalam jumlah besar untuk kemudian dijual kembali ke pedagang pengecer.
9. Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual produk bawang merah dari ke konsumen akhir.
10. Konsumen adalah masyarakat atau individu yang membeli bawang merah.
11. Biaya pemasaran adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga tataniaga bawang merah.
12. Keuntungan pemasaran adalah seluruh keuntungan yang diperoleh masing-masing lembaga tataniaga bawang merah.
3.6. Batasan Operasional
1. Waktu Penelitian mulai Februari 2017 hingga Maret 2017.
2. Lembaga Pemasaran yang menjadi sampel dalam penelitian adalah pedagang perantara yang memasarkan bawang merah tidak jauh dari lokasi peneliti.
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIKSAMPEL
4.1 Deskripsi Daerah Penelitian
4.1.1. Luas Wilayah dan Letak Geografis
Kelurahan Haranggaol merupakan salah satu areal Danau Toba yang dikelilingi oleh gunung dan bukit-bukit. Kelurahan Haranggaol memiliki luas wilayah 975 Ha dan merupakan ibukota dari Kecamatan Haranggaol Horisan. Jarak Kelurahan Haranggaol dengan ibukota Kabupaten Simalungun berjarak50 Km. Kelurahan Haranggaol memiliki suhu maksimum 39oC dan suhu minimum 28oC, dengan keadaan iklim dingin. Berada pada ketinggian 940 - 950 m dpl. Kelurahan Haranggaol terletak di antara 2o 49’46’’ – 2o 54’16’’ LU dan 98o 35’51’’ – 98o45’11’’ BT. Adapun batas – batas kelurahan Haranggaol adalah:
Sebelah Timur berbatasan dengan Nagori Purba Horisan
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Purba
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Purba
Sebelah Selatan berbatasan dengan Danau Toba
4.1.2. Keadaan Penduduk
Penduduk yang ada di daerah penelitian tergolong heterogen, karena keragaman suku penduduk yang terdiri atas Batak Simalungun, Batak Toba, Karo, Suku Minang, dan Suku Jawa. Keadaan Penduduk di Kelurahan Haranggaol menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 5 berikut
Tabel 5. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Kelurahan Haranggaol Tahun 2016
No Jenis Kelamin Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1. Laki-laki 1559 51,19
2. Perempuan 1487 48,81
Jumlah 3046 100
Sumber: Data Monografi Kelurahan Haranggaol Tahun 2016
Tabel 5 menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan jenis kelamin perempuan sebanyak 1.559 jiwa dengan persentase 51,19 % sedangkan jenis kelamin perempuan sebanyak 1.487 dengan persentase 48,81 %.
Jumlah penduduk Kelurahan Haranggaol Tahun 2016 sebanyak 3.046 jiwa.
Tabel 6. Distribusi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Kelurahan Haranggaol Tahun 2016
No Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. 10 – 19 548 18,00
2. 20 –59 2432 79,84
3. > 60 66 2,16
Jumlah 3046 100
Sumber: Data Monografi Kelurahan Haranggaol Tahun 2016
Tabel 6 menunjukkan bahwa kelompok usia produktif 20 – 59 tahun sebanyak 2.432 jiwa (79,84%), sementara usia non produktif 614 jiwa (20,16%). Hal ini memberikan indikasi bahwa ketersediaan tenaga kerja cukup besar.Tingkat pendidikan di Kelurahan Haranggaol bermacam – macam. Lebih jelasnya pada Tabel 7 dapat dilihat komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan.
Pada umumnya masyarakat Kelurahan Haranggaol saling mengenal satu sama lainnya. Kekeluargaan terlihat jelas dalam lingkungan kehidupan masyarakat.
Bahasa sehari-hari yang digunakan sebagai alat komunikasi adalah bahasa Batak Simalungun, namun pada umumnya masyarakat mengerti Bahasa Indonesia.
Tabel 7. Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir di Kelurahan Haranggaol Tahun 2016
No Tingkat pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. Belum atau tidak sekolah 251 8,24
2. SD 699 22,94
3. SLTP 1078 35,39
4. SLTA 993 32,60
5. Akademi/ D1,D3 12 0,40
6. S1 13 0,43
Jumlah 3046 100
Sumber: Data Monografi Kelurahan Haranggaol Tahun 2016
Tabel 7 menunjukkan bahwa pendidikan secara formal bervariasi. Namun distribusi penduduk paling banyak yaitu penduduk pada tingkat pendidikan SLTP yaitu berjumlah 1.078 jiwa (35,39%). Sebagian besar penduduk lainnya berada pada tingkat pendidikan SLTA maupun SD. Penduduk yang melanjutkan ke perguruan tinggi sebanyak 25 jiwa (0,83%).
Tabel 8. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Mata PencaharianPenduduk di Kelurahan Haranggaol Tahun 2016 No. Mata Pencaharian Jumlah (KK) Persentase (%)
1. Petani 730 89,24
2. PNS/TNI/POLRI 29 3,55
3. Swasta 17 2,08
4. Lain-lain 42 5,13
Jumlah 818 100
Sumber: Data Monografi Kelurahan Haranggaol Tahun 2016
Tabel 8 menunjukkan bahwa mayoritas mata pencaharian penduduk di Kelurahan Haranggaol adalah petani yaitu 730 KK (89,24%). Kelurahan Haranggaol terletak di salah satu areal kawasan Danau Toba sehingga sebagian besar penduduknya juga bekerja sebagai petani ikan di dalam Keramba Jaring Apung.
4.1.3. Sarana dan Prasarana
Untuk menunjang perkembangan dan pembangunan masyarakat diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. Kelurahan Haranggaol sudah memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai., seperti: transportasi, tempat ibadah, pendidikan, kesehatan, olahraga, wisata, ekonomi, penerangan dan air. Sarana dan prasarana di kelurahan Haranggaol dapat dilihat pada Tabel 9 berikut.
Tabel 9. Sarana dan Prasarana di Kelurahan Haranggaol Tahun 2016
No. Sarana dan Prasarana Jumlah (unit)
1. Transportasi
- Jalan Aspal (Km) 30
9. Penerangan dan Air Bersih
- PLN 1
- PAM 1
Sumber: Data Monografi Kelurahan Haranggaol Tahun 2016
Tabel 9 menunjukkan bahwa sarana/prasarana di Kelurahan Haranggaol sudah cukup memadai untuk menunjang kegiatan penduduk setempat.Hal ini dapat dilihat dari sudah adanya fasilitas – fasilitas yang membantu kegiatan penduduk seperti kesehatan, rumah ibadat, balai desa, dan fasilitas pendidikan meskipun yang ada hanya fasiltas pendidikan TK, SD, dan SLTP.Namun, jalan aspal yang dilalui di daerah penelitian banyak yang rusak sehingga memakan waktu yang lama hingga sampai ke daerah penelitian.
4.2. Karakteristik Petani Sampel
Adapun karakteristik petani yang menjadi sampel dalam penelitian ini meliputi, luas lahan, umur, tingkat pendidikan, lama berusahatani dan jumlah tanggungan.
Karakteristik petani dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Karakteristik Petani Sampel di Kelurahan Haranggaol
No. Karakteristik Satuan Range Rataan
1. Lahan Ha 0,02 - 1 0,12
2. Umur Tahun 24 - 74 48,00
3. Tingkat pendidikan Tahun 6 - 16 10,00
3. Lama berusaha tani Tahun 1 - 40 18,00
4. Jumlah tanggungan Jiwa 2 - 7 4,00
Sumber: Lampiran 2
4.3. Karakteristik Pedagang Pengumpul
Adapun karakteristik pedagang pengumpul yang menjadi sampel dalam penelitian ini meliputi umur, lama pendidikan, dan lama berdagang. Karakteristik pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Karakteristik Pedagang Pengumpul di Kelurahan Haranggaol No. Umur
(Tahun)
Tingkat Pendidikan
(Tahun)
Lama Berdagang (Tahun)
1. 47 SD 5
2. 37 SMA 10
Sumber: Lampiran 3
Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa terdapat dua pedagang pengumpul di daerah penelitiandengan usia yang masih produktif yaitu 37 dan 47 tahun dengan tingkat pendidikan SD dan SMP serta memiliki pengalaman bedagang selama 5-10 tahun.
4.4. Karakteristik Pedagang Besar
Adapun karakteristik petani yang menjadi sampel dalam penelitian ini meliputi umur, lama pendidikan, dan lama berdagang. Karakteristik pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Karakteristik Pedagang Besar
No. Karakteristik Satuan Range Rataan
1. Umur Tahun 31 - 57 42
2. Lama Pendidikan Tahun 9 - 16 12
3. Lama Berdagang Tahun 10 - 25 19
Sumber: Lampiran 4
Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa rata – rata umur pedagang besar adalah 42 tahun dengan interval 31 – 57 tahun yang tergolong dalam usia produktif. Tingkat pendidikan rata – rata pedagang besar adalah 12 tahun. Rata – rata pengalaman sebagai pedagang besar sudah mencapai 19 tahun. Umumnya pedagang besar ini berdomisili di Medan.
4.5. Karakteristik Pedagang Pengecer
Adapun karakteristik pedagang pengecer yang menjadi sampel dalam penelitian ini meliputi umur, lama pendidikan, dan lama berdagang. Karakteristik pedagang pengecer dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Karakteristik Pedagang Pengecer
No. Karakteristik Satuan Range Rataan
1. Umur Tahun 23 - 76 56
2. Lama Pendidikan Tahun 6 - 12 12
3. Lama Berdagang Tahun 4 - 40 22
Sumber: Lampiran 5
Dari Tabel 13 dapat dilihat bahwa rata – rata umur pedagang pengecer adalah 56tahun dengan interval 23 – 76 tahun. Tingkat pendidikan rata–rata pedagang pengecer adalah 12 tahun. Rata – rata pengalaman sebagai pedagang besar sudah mencapai 22 tahun. Umumnya pedagang besar ini berdomisili di Medan
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Pola Saluran Tataniaga Bawang Merah
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horison, Kabupaten Simalungun terdapat banyak saluran tataniaga bawang merah. Beberapa saluran tataniaga bawang merah yang dapat ditelusuri ialah 4 saluran tataniaga pada Gambar 3 dibawah ini:
Keterangan :
: Arah Penjualan Bawang Merah
Gambar 3. Pola Saluran Tataniaga Bawang Merah Di Kelurahan Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horison, Kabupaten Simalungun
Pola Saluran Tataniaga I
Petani Pedagang Pengumpul Pedagang Besar Pedagang Pengecer Konsumen Akhir
P. Pengumpul
P. Besar P. Pengecer Konsumen
P. Besar Konsumen
P. Besar P. Pengecer Konsumen
P. Pengecer Lokal Konsumen Lokal Petani
Petani
Petani
Pola saluran tataniaga bawang merah yang pertama memperlihatkan bahwa sebanyak 8 orang petani bawang merah di daerah penelitian menjual hasil bawang merahnya kepada pedagang pengumpul yang berada di daerah penelitian juga.Pedagang pengumpul yang mengambil hasil panen dari petani berbeda-beda.Setelah itu pedagang pengumpul menjualnya ke pedagang besar yang berada di Medan untuk kemudian dijual ke pedagang pengecer yang berjualan di pasar-pasar yang ada di Medan hingga sampai ke tangan konsumen.
Pola Saluran Tataniaga II
Petani Pedagang Pengumpul Pedagang Besar Konsumen Akhir
Pola saluran tataniaga bawang merah yang kedua memperlihatkan bahwa sebanyak 7 orang petani menjual hasil panennya kepada pengumpul yang berada di kelurahan tersebut.Pedagang pengumpul kemudian membawa dan menjual bawang merah yang telah dikumpulkan kepada pedagang besar yang berada di Medan untuk kemudian dijual ke pedagang pengecer yang berada disanahingga sampai ke konsumen akhir.
Pola Saluran Tataniaga III
Petani Pedagang Besar Pedagang Pengecer Konsumen Akhir
Pola saluran tataniaga bawang merah yang ketiga memperlihatkan bahwa sebanyak 12 orang petani di kelurahan tersebut menjual langsung hasil panennya kepada pedagang besar, dimana parapedagang besar ini yang langsung datang ke ladang ataupun rumah para petani kemudian menjual bawang merah tersebut ke pedagang pengecer yang berada di pasar-pasar kota Medan hingga ke tangan konsumen akhir.
Pola Saluran Tataniaga IV
Petani Pedagang Pengecer Lokal Konsumen Lokal
Pola saluran tataniaga bawang merah yang keempat memperlihatkan bahwa sebanyak 3 orang petani di kelurahan tersebut menjual hasil panen bawang merahnya langsung ke pedagang pengecer yang berada di kelurahan itu juga kemudian dijual di pasar yang berada di daerah penelitian hingga sampai ke konsumen akhir.
Untuk lebih jelasnya, distribusi petani yang menjual bawang merahnya pada setiap saluran dapat dilihat pada Tabel 14 dibawah ini:
Tabel 14. Distribusi Petani Bawang Merah pada Setiap Saluran Saluran Jumlah Petani
(Orang) %
I 8 26,67
II 7 23,33
III 12 40,00
IV 3 10,00
Total 30 100,00
Sumber: Analisis Data Primer
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan terhadap 30 petani bawang merah di daerah penelitian, diketahui bahwa volume penjualan bawang merah disana ialah sebesar 15,62 ton dan saluran penjualan yang paling banyak ditempuh petani ialah saluran ketiga yaitu dengan volume penjualan sebanyak 7 ton. Alasan petani lebih banyak menempuh saluran ketiga ialah karena mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya pengangkutan untuk hasil panennya dan harga yang ditawarkan oleh pedagang besar tersebut juga lebih besar daripada harga yang ditawarkan oleh pedagang pengumpul. Volume penjualan untuk saluran pertama yaitu sebanyak 4 ton dan 4 ton untuk volume penjualan pada saluran kedua serta
620 kg untuk saluran penjualan keempat. Tidak semua bawang merah milik petani di daerah penelitian dijual ke kota Medan. Adajuga yang dijual ke Tebing Tinggi, Binjai, Siantar dan Sidikalang. Namun, dalam penelitian ini, dibatasi hanya sampai ke kota Medan saja.
Adanya perbedaan pola dan panjang pendeknya saluran tataniaga bawang merah diatas akan mempengaruhi tingkat harga, bagian keuntungan dan biaya serta margin tataniaga yang diterima oleh masing-masing lembaga tataniaga bawang merah. Volume penjualan bawang merah yang dijual oleh petani di Kelurahan Haranggaol dapat dilihat pada Tabel 15 berikut ini:
Tabel 15. Volume Penjualan Bawang Merah di Kelurahan Haranggaol Saluran Volume penjualan
(ton) %
I 4 25,61
II 4 25,61
III 7 44,81
IV 0,62 3,97
Total 15,62 100
Sumber: Analisis Data Primer
5.2. Lembaga dan Fungsi Tataniaga Bawang Merah
Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga yang mana barang-barang bergerak dari pihak produsen sampai pihak konsumen. Kedalam istilah lembaga tataniaga ini termasuk golongan produsen, pedagang perantara, dan lembaga pemberi jasa.
Lembaga tataniaga yang berperan dalam kegiatan tataniaga bawaang merah di daerah penelitian yaitu petani bawang merah, pedagang pengumpul, pedagang grosir luar daerah dan pedagang pengecer.
Tataniaga merupakan suatu proses dari pertukaran yang mencakup serangkaian kegiatan yang tertuju untuk memindahkan barang-barang atau jasa-jasa dari sektor produksi ke sektor konsumsi. Kegiatan-kegiatan ini disebut fungsi tataniaga.
Pada umumnya, fungsi tataniaga dikelompokkan sebagai berikut : 4. Fungsi pertukaran (penjualan dan pembelian).
5. Fungsi pengadaan secara fisik (pengangkutan dan penyimpanan).
6. Fungsi pelancar (permodalan, penanggungan resiko, standardisasi dan grading serta informasi pasar).
Fungsi-fungsi tataniaga yang dilakukan oleh masing-masing lembaga tataniaga bawang merah di daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Fungsi-Fungsi Tataniaga Yang Dilakukan Oleh Masing-Masing Lembaga Tataniaga Bawang Merah Di Daerah Penelitian
No. Fungsi-Fungsi Tataniaga 1. Fungsi Pertukaran
- Pembelian 3. Fungsi Fasilitas
- Standardisasi dan Grading
- Penanggungan Resiko
- Pembiayaan - Informasi Pasar
- Sumber : Diolah dari Analisis Data Primer
Keterangan :
√ : melakukan fungsi tataniaga – : tidak melakukan fungsi tataniaga
Berdasarkan Tabel 15, pada saluran tataniaga yang pertama dan kedua, diketahui bahwa petani sebagai produsen bawang merah melakukan fungsi pengangkutan terhadap hasil panen bawang merah dikarenakan ladang para petani disana jauh dari rumah mereka. Sedangkan pada saluran ketiga dan keempat, petani tidak melakukan fungsi pngangkutan dikarenakan pedagang besar dan pedagang pengecer yang langsung menjemput hasil panen petani ke ladangnya.Pada saluran I hingga IV tidak ada petani yang melakukan kegiatan standardisasi maupun grading dikarenakan para pedagang lah yang akan melakukannya.
5.3. Analisis Biaya, Margin dan Keuntungan Tataniaga Bawang Merah Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pemasaran.
Biaya pemasaran meliputi biaya angkut, biaya pengeringan, penyusutan, retribusi dan lainnya. Besarnya biaya ini berbeda satu sama lain disebabkan karena macam komoditi, lokasi pemasaran dan macam lembaga pemasaran dan efektivitas pemasaran yang dilakukan. Seringkali komoditi pertanian yang nilainya tinggi diikuti dengan biaya pemasaran yang tinggi pula. Peraturan pemasaran di suatu daerah juga kadang-kadang berbeda satu sama lain.Begitu pula macam lembaga pemasaran dan efektivitas pemasaran yang dilakukan. Makin efektif pemasaran yang dilakukan, maka akan semakin kecil biaya pemasaran yang dikeluarkan.
Marketing margin (marjin tataniaga) terdiri dari berbagai macam ongkos dalam menyalurkan barang dari produsen ke konsumen. Jadi, marketing margin itu terdiri dari berbagai marjin seperti retail margin, yaitu selisih harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang dibayarkan oleh si pengecer, profit margin yaitu besarnya keuntunganbalas jasa yang diterima oleh setiap middlemen atau lembaga tataniaga dan lain-lain. Analisis margin tataniaga dapat digunakan
untuk mengetahui distribusi margin pemasaran yang terdiri dari biaya dan keuntungan dari setiap aktivitas lembaga tataniaga yang berperan aktif serta untuk mengetahui bagian harga (farmer share) yang diterima petani.Analisis marjin tataniaga bawang merah di daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17.Analisis Biaya,Margin dan Keuntungan Tataniaga Pada Saluran I
No. Uraian Harga
Harga Jual Petani Biaya Produksi Keuntungan
Harga Beli Pedagang Pengumpul Harga Jual Pedagang Pengumpul Biaya:
Harga Beli Pedagang Besar Harga Jual Pedagang Besar Biaya:
Harga Beli Pedagang Pengecer Harga Jual Pedagang Pengecer Biaya: Harga Beli Konsumen
17.500,00 Sumber : Data Diolah dari Lampiran 14, 15, 16 dan 17
Volume hasil produksi bawang merah yang melalui saluran tataniaga I ialah sebesar 4 ton bawang merah atau 25,61% dari total hasil produksi bawang merah yang dipasarkan. Dari Tabel 17 dapat dilihatbahwa harga jual yang diterima petani adalah sebesar Rp 17.500/kg (68,63% dariharga yang diterima konsumen akhir). Biaya produksi yang dikeluarkan petani sebesar Rp. 7.014,08/kg dan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 10.485,92/kg.
Harga jual yang diterima pedagang pengumpul adalah Rp 19.333,33/kg.
Marginpemasaran yang terbentuk antara petani dan pedagang pengumpul adalah sebesarRp 1.833,33/kg. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul sebesar Rp. 743,67/kg (2,92% dari harga yang diterima konsumen). Keuntungan yangdiperoleh pedagang pengumpul sebesar Rp 1.089,66/kg (4,27% dariharga yang diterima konsumen).
Harga jual yang diterima pedagang besar sebesar Rp 21.750/kg. Marginpemasaran yang terbentuk antara pedagang besar dan pedagang pengumpul ialah sebesar Rp 2.416,67/kg. Biaya yang dikeluarkan pedagang besar ialah sebesar Rp 1.636,33/kg (6,42% dari harga yang diterima konsumen).Keuntungan yang diperoleh pedagang besar yaitu Rp 780,34/kg (3,06% dari harga yang diterima konsumen).
Harga jual yang diterima pedagang pengecer sebesar Rp 25.500/kg.
Marginpemasaran yang terbentuk antara pedagang besar dan pedagang pengecer ialah sebesar Rp 3.750/kg. Biaya yang dikeluarkan pedagang pengecer sebesar Rp 890,44/kg (3,49% dari harga yang diterima konsumen).Keuntungan yang diperoleh pedagang pengumpul sebesar Rp 2.859,56/kg (11,21% dari harga yang diterima konsumen).
Biaya penyusutan merupakan biaya terbesar yang terdapat pada saluran tataniaga I yaitu sebesar Rp. 780,50/Kg (3,06% dari harga yang diterima oleh konsumen) dan biaya retribusi merupakan biaya terendah yaitu senilai Rp. 32,68/kg (0,13% dari harga yang diterima oleh konsumen). Total biaya yang dikeluarkan oleh seluruh lembaga tataniaga pada saluran I yaitu sebesar Rp. 3.270,44/Kg dengan total keuntungan sebesar Rp. 4.729,56/Kg.
Tabel 18. Analisis Biaya,Margin dan Keuntungan Tataniaga Pada Saluran II
Harga Jual Petani Biaya Produksi Keuntungan
Harga Beli Pedagang Pengumpul Harga Jual Pedagang Pengumpul Biaya:
Harga Beli Pedagang Besar Harga Jual Pedagang Besar Biaya: Harga Beli Konsumen
18.000,00 Sumber: Lampiran 14, 18 dan 19
Volume hasil produksi bawang merah yang melalui saluran tataniaga II ialah sebesar 4 ton atau 25,61% dari total hasil produksi bawang merah yang dipasarkan. Dari Tabel 18 dapat dilihatbahwa harga jual yang diterima petani
adalah sebesar Rp 18.000/kg (75% dariharga yang diterima konsumen akhir).
Biaya produksi yang dikeluarkan petanisebesar Rp.7.014,08/kg dan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 10.985,92/kg.
Harga jual yang diterima pedagang pengumpul adalah Rp 19.500/kg.
Marginpemasaran yang terbentuk antara petani dan pedagang pengumpul adalah sebesar
Rp 1.500/kg. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul sebesar Rp.1.013,01/kg (4,22% dari harga yang diterima konsumen). Keuntungan yangdiperoleh pedagang pengumpul sebesar sebesar Rp 486,99/kg (2,03%
dariharga yang diterima konsumen).
Harga jual yang diterima pedagang besar sebesar Rp 24.000/kg. Marginpemasaran yang terbentuk antara pedagang pengumpul dan pedagang besar ialah sebesar Rp 4.500/kg. Biaya yang dikeluarkan pedagangbesar yaitu Rp 1.056,70/kg (4,40%
dari harga yang diterima konsumen).Keuntungan yang diperoleh pedagang pengumpul sebesar Rp 3.433,30/kg(14,35% dari harga yang diterima konsumen).
Biaya penyusutan merupakan biaya terbesar yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga pada saluran II yaitu sebesar Rp. 663,30 (2,76% dari harga yang diterima oleh konsumen akhir) dan biaya transportasi merupakan biaya terendah yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga pada saluran II yaitu sebesar 15,52 (0,06%dari harga yang diterima oleh konsumen akhir). Total biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga di saluran II ialah sebesar Rp. 2.069,71/Kg dan total keuntungan yang diterima ialah sebesar Rp. 3.930,29/Kg.
Tabel 19. Analisis Biaya,Margin dan Keuntungan Tataniaga Pada Saluran
Harga Jual Petani Biaya Produksi Keuntungan
Harga Beli Pedagang Besar Harga Jual Pedagang Besar Biaya:
Harga Beli Pedagang Pengecer Harga Jual Pedagang Pengecer Biaya: H Harga Beli Konsumen
18.750,00 Sumber : Data Diolah dari Lampiran 11, 13, 19, 20, dan 21
Volume hasil produksi bawang merah yang melalui saluran tataniaga IIIialah sebesar 7 ton atau 44,81% dari total hasil produksi bawang merah yang dipasarkan. Dari Tabel 19 dapat dilihatbahwa harga jual yang diterima petani adalah sebesar Rp 18.750/kg (68,93% dariharga yang diterima konsumen akhir).
Biaya produksi yang dikeluarkan petanisebesar Rp.7.014,08/kg dan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 11.735,92/kg.
Harga jual yang diterima pedagang besar adalah Rp 21.125/kg. Marginpemasaran yang terbentuk antara petani dan pedagang besar adalah sebesarRp. 2.375/kg.
Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang besar sebesar Rp. 1.567,90/kg (5,76% dari
harga yang diterima konsumen). Keuntungan yangdiperoleh pedagang besaryaitu Rp 807,10/kg (2,97% dariharga yang diterima konsumen).
Harga jual yang diterima pedagang pengecer sebesar Rp 27.200/kg.
Marginpemasaran yang terbentuk antara pedagang besar dengan pedagang pengecer ialah sebesar Rp 6.075/kg. Biaya yang dikeluarkan pedagang pengecer sebesar Rp. 934,96/kg (3,35% dari harga yang diterima konsumen).Keuntungan yang diperoleh pedagang pengecer sebesar Rp 5.140,04/kg (18,90% dari harga yang diterima konsumen).
Biaya penyusutan merupakan biaya terbesar yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga pada saluran III yaitu sebesar Rp. 781,16/Kg (2,87% dari harga yang diterima oleh konsumen akhir) dan biayatransportasi merupakan biaya terendah yaitu senilai Rp. 38,11/Kg (0,14% dari harga yang diterima oleh konsumen akhir).
Total biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga pada saluran III ialah sebesar Rp. 2.502,86/Kg dan keuntungan yang diperoleh ialah sebesar Rp. 5.947,14/Kg
Tabel 20. Analisis Biaya,Margin dan Keuntungan Tataniaga Pada Saluran
Harga Jual Petani Biaya Produksi Keuntungan
Harga Beli Pedagang Pengecer Harga Jual Pedagang Pengecer Biaya: Harga Beli Konsumen
22.500,00 Sumber : Data Diolah dari Lampiran 14 dan 22
Volume hasil produksi bawang merah yang melalui saluran tataniaga IV ialah sebesar 0,62 ton atau 3,97% dari total hasil produksibawang merah yang dipasarkan. Dari Tabel 20 dapat dilihatbahwa harga jual yang diterima petani adalah sebesar Rp 22.500/kg (84,91% dariharga yang diterima konsumen akhir).
Biaya produksi yang dikeluarkan petani sebesar Rp. 7.014,08/kg dan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp.15.485,92/kg.
Harga jual yang diterima pedagang pengecer adalah Rp 26.500/kg.
Marginpemasaran yang terbentuk antara petani dan pedagang pengecer adalah sebesar Rp 4.000/kg. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecersebesar Rp1.219,76/kg (4,60% dari harga yang diterima konsumen). Keuntungan yangdiperoleh pedagang pengecer sebesar Rp. 2.780,24/kg (10,49% dariharga yang diterima konsumen).
Biaya pengemasan merupakan biaya terendah yang dikeluarkan oleh lembaga
Biaya pengemasan merupakan biaya terendah yang dikeluarkan oleh lembaga