BAB III. METODE DAN CARA PENELITIAN
H. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran
F. Cara Penelitian
Subyek yang kontrol di Poliklinik Penyakit Dalam sub bagian Endokrinologi RSDM Surakarta yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi datang dalam keadaan puasa minimal 10 jam. Pada hari yang ditentukan, data identitas subyek dicatat dalam formulir penelitian, dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan tanda vital. Pemilihan subyek secara konsekutif (berurutan). Pengambilan darah vena di Instalasi Laboratorium PK RSDM sebanyak 10 cc, meliputi 3 cc darah EDTA untuk pemeriksaan hematologi rutin dan HbA1c, 1 cc darah heparin untuk pemeriksaan GPx, sedangkan 6 cc darah tanpa anti koagulan untuk pemeriksaan kadar SGOT, SGPT, glukosa darah puasa, trigliserida, kolesterol HDL, GGT, dan hs-CRP.
G. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah kadar GGT, komponen SM, kadar hs-CRP, dan GPx. Variabel lain yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian meliputi umur penderita, jenis kelamin, indeks massa tubuh, status merokok, genetik, aktivitas fisik, riwayat penyakit hepar/ginjal, infeksi/inflamasi kronik, konsumsi alkohol, riwayat penyakit kardiovaskuler/PJK, riwayat stroke, pengobatan (anti oksidan, anti inflamasi, anti konvulsi, statin), lama DM dan DM terkendali baik/sedang/buruk.
H. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran
1. Gamma-glutamyltransferase adalah enzim glikoprotein heterodimerik yang mengkatalisasi secara reversibel transfer kelompok glutamyl dari
glutamyl-commit to user
peptide dan asam amino menjadi peptide dan asam amino glutamyl.
Pengukuran metode Szasz (Anonim, 2006a), satuan IU/L. Skala rasio.
2. High sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP) adalah protein fase akut yang diproduksi oleh hati pada kondisi injury/infeksi, merupakan bagian keluarga protein pentamer (petaxin), total massa molekul 118000 kDA. Pemeriksaan hs-CRP dengan metode sangat sensitif (mendeteksi kadar hs-CRP sampai 0,1-0,4 mg/L). Pengukuran metode latex agglutination immunoassay (Anonim, 2006c), satuan mg/L. Skala rasio.
3. Glutathione peroxidase (GPx) adalah enzim anti oksidan yang berperan untuk detoksifikasi lipid hidrogen peroksida (H2O2) dan eliminasi ROS. Pengukuran metode enzimatik menurut Paglia dan Valentine, reagen kit Randox (Anonim, 2006e), satuan U/L. Skala rasio.
4. Sindroma metabolik adalah sekumpulan faktor risiko akibat gangguan metabolik. Kriteria diagnosis menggunakan kriteria NCEP ATP III 2005 modifikasi Asia yaitu bila didapatkan tiga atau lebih faktor risiko. Komponen SM meliputi obesitas abdominal, trigliserida, kolesterol HDL, tekanan darah, dan glukosa plasma puasa. Skala nominal dan rasional. Hasil pemeriksaan meliputi 2 kelompok, ya atau tidak (memenuhi atau tidak memenuhi kriteria). 5. Obesitas abdominal adalah kelebihan lemak tubuh yang ditimbun di daerah
abdomen. Pengukuran posisi berdiri tegak, dengan mengukur lingkar pinggang yaitu pertengahan titik batas bawah arcus costae dan tepi atas crista iliaca
pada garis mid aksilaris, pita meteran non elastis/meterline dengan ketelitian 0,1 cm dilingkarkan horizontal melewati perut, diukur saat akhir ekspirasi
normal (Cefalu & Cannon, 2007). Satuan sentimeter (cm). Skala nominal. Hasil pengukuran dikelompokkan menjadi 2, normal (pria <90 cm dan wanita <80 cm) dan obesitas abdominal (pria ≥90 cm dan wanita ≥80 cm).
6. Trigliserida adalah kelompok lemak ester yang terbentuk dari 1 molekul gliserol dan 3 molekul satu atau lebih asam lemak, bersirkulasi di darah dalam bentuk lipoprotein. Pengukuran metode glicerol blanked (Anonim, 2008b),
satuan mg/dl. Skala rasio.
7. Kolesterol HDL adalah liporotein plasma darah yang terdiri sejumlah besar protein dengan sedikit trigliserida dan kolesterol, berhubungan dengan penurunan risiko terjadinya aterosklerosis, disebut juga alpha-lipoprotein, good cholesterol. Pengukuran metode enzimatik (Anonim, 2008c), satuan mg/dl. Skala rasio.
8. Tekanan darah sistolik dan diastolik diukur 3 kali dengan selang 5 menit menggunakan spygmomanometer aneroid yang terkalibrasi, posisi subyek duduk setelah istirahat 5 menit. Hasil yang dicatat adalah rata-rata 3 kali pengukuran tersebut, satuan milimeter air raksa (mmHg). Skala rasio. Hasil pemeriksaan meliputi sistolik dan diastolik.
9. Diabetes Melitus (DM) tipe 2 adalah suatu penyakit gangguan metabolisme yang ditandai peningkatan kadar glukosa dalam darah dengan sebab multifaktorial, terutama resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai defek sekresi insulin disertai resistensi insulin. Kriteria diagnosis DM ditegakkan oleh dokter di Poliklinik Penyakit Dalam sub bagian Endokrinologi RSDM Surakarta, berdasarkan Perkeni (2006) yaitu gejala klasik DM
commit to user
(poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya) ditambah pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu ≥200 mg/dl atau kadar GDP ≥126 mg/dl. Pengukuran metode GOD-PAP (Anonim, 2007a), satuan mg/dl. Skala rasio.
10. HbA1c adalah produk glikosilasi hemoglobin A (adult) yang stabil selama ± 2 bulan yang proporsional dengan rata-rata glukosa 6-12 minggu sebelumnya. Pengukuran metode Turbidimetric Inhibition Immunoassay (TINIA) terstandarisasi sesuai IFCC yang ditransfer ke DCCT/NGSP (Anonim, 2007b), satuan %. Skala rasio.
11. Umur adalah umur subyek (dalam tahun) saat penelitian. Pengukuran anamnesis. Skala nominal.
12. Jenis kelamin adalah perbedaan jender subyek penelitian. Pengukuran anamnesis. Skala nominal. Dibedakan pria dan wanita.
13. Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah hasil penimbangan berat badan (BB) dan pengukuran tinggi badan (TB) kemudian dimasukkan rumus Quatelet’s index= BB (kg)/TB (m2). Cara pengukuran BB menggunakan timbangan injak, TB menggunakan pengukur TB. Skala interval. IMT dikelompokkan 4 yaitu underweight (≤18 kg/m2), normal (18,1-22,9 kg/m2), overweight (23,0-24,9 kg/m2), dan obesitas (≥25,0 kg/m2).
14. Status merokok adalah kondisi atau riwayat merokok serta berat ringannya merokok. Skala pengukuran ordinal. Status merokok dinyatakan dalam 4 kelompok meliputi tidak pernah merokok, riwayat perokok > 10 tahun yang lalu, ≤ 10 tahun yang lalu, dan sekarang masih merokok. Berat ringannya
merokok dinyatakan dengan jumlah batang rokok perhari, ringan apabila 1-14 batang rokok perhari, dan berat > 15 batang rokok perhari. Pengukuran kuisioner/anamnesis. Skala interval.
15. Aktivitas fisik subyek penelitian dinyatakan dalam 3 kelompok meliputi inaktivitas, ringan (misalnya berjalan, bersepeda < 1x/minggu), dan berat (berlari, tenis > 1x/minggu). Pengukuran kuisioner/anamnesis. Skala interval. 16. Riwayat penyakit jantung koroner (PJK) misalnya infarc myocard, angina
apabila telah dinyatakan dokter atau mendapat terapi penyakit jantung. Skala nominal, 2 kelompok ya dan tidak. Pengukuran kuisioner/ anamnesis.
17. Riwayat stroke apabila dinyatakan dokter atau mendapat terapi, 2 kelompok ya dan tidak. Skala nominal. Pengukuran kuisioner/anamnesis.
I. Kontrol Kualitas Internal
Pemeriksaan laboratorium didahului uji ketelitian (presisi) dan ketepatan (akurasi) analitik sehingga mutu hasil pemeriksaan dapat dipertanggungjawabkan. Uji presisi melihat konsistensi hasil pemeriksaan yaitu kedekatan hasil beberapa pengukuran pada bahan uji yang sama. Uji presisi meliputi uji presisi sehari (within day) yaitu dengan cara pemeriksaan 1 contoh bahan yang dilakukan 10 kali secara berurutan pada hari yang sama, dan uji presisi hari ke hari (day to day) yaitu dengan pemeriksaan 1 contoh bahan diulang 10 kali pada hari yang berbeda atau saat dilakukan kontrol harian. Presisi diukur dengan rerata, simpangan baku (SB) dan koefisien variasi (KV). Rumus SB= √∑d2/2n, sedangkan rumus KV= [(SB/rerata)x100%], d=selisih, dan n=jumlah sampel. Semakin kecil nilai KV (%), semakin teliti metode tersebut (Wijono et al., 2004; Linnet & Boyd, 2006).
commit to user
Batas KV maksimum masing-masing parameter dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Batas KV maksimum parameter pemeriksaan
Parameter Pemeriksaan KV (%) GGT 7 hs-CRP 5 GPx 4,2 HbA1c 3,2 GDP 5 Kolesterol HDL 5 Trigliserida 7
(Wijono et al., 2004; Anonim, 2006c; Anonim, 2006e; Anonim, 2007b; Anonim, 2008c)
Akurasi adalah kedekatan hasil pemeriksaan dengan nilai yang sesungguhnya yaitu nilai kontrol/rujukan/rentang yang ditentukan Akurasi dinilai dari hasil pemeriksaan bahan kontrol dan dihitung sebagai nilai biasnya (d%). Rumus d%= [(rerata – NA)/NA], NA=nilai aktual atau sebenarnya dari bahan kontrol (Wijono et al., 2004; Linnet & Boyd, 2006).