A. Pembuktian Dalam Hukum Acara Perdata
1. Definisi Pembuktian
Hukum Acara Perdata sebenamya merupakan keseluruhan peraturan hukum yang mengatur tentang cara-cara bagaimana mempertahankan, melaksanakan menegakkan Hukum Perdata Materiil melalui proses peradilan. Di sini tugas seorang Hakim adalah menyelediki apakah hubungan yang menjadi dasar perkara benar-benar ada atau tidak. Hubungan inilah yang hams terbukti di muka Hakim. Tugas kedua belah pihak yang berperkara (baik Penggugat maupun Tegugat) hams memberi bahan-bahan bukti yang diperlukan oleh Hakim. Dengan bahan-bahan bukti ini, masing-masing pihak berusaha membuktikan dalilnya atau pendiriannya yang dikemukakan kepada Hakim dan Hakim diwajibkan memutusi perkara mereka itu.
Dapat dikatakan bahwa Hukum Pembuktian memegang peranan atau menduduki tempat yang amat penting dalam Hukum Acara Perdata, karena dikabulkan atau ditolaknya suatu gugatan bergantung pada terbukti atau tidaknya gugatan tersebut di depan pengadilan.26 Jadi secara formal, Hukum Pembuktian itu mengatur cara bagaimana mengadakan pembuktian seperti terdapat di dalam HIR dan Rbg. Sedangkan secara materiel, Hukum Pembuktian itu mengatur dapat tidaknya
26 Darwan Prinst, Strategi Menyususn dan Menangani Gugatan Perdata, PT Citra Aditya Bakti,
Bandung, 1996, ha!. 177 /
i-16
diterima pembuktian dengan alat-alat bukti tertentu di persidangan serta kekuatan pembuktian dari alat-alat bukti itu.27
Maksud kata "membuktikan" baik dari pihak Penggugat maupun pihak Tergugat itu, berarti memberi fakta-fakta sebanyak-banyaknya dari para pihak tersebut guna meyakinkan Hakim atas kebenaran dalil-dalil (posita) tuntutannya sebagaimana dalam gugatan Penggugat dan sebaliknya kebenaran dalil-dalil sangkalan / bantahannya dari Tergugat. Sehingga dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan membuktikan adalah: memberikan dasar-dasar yang cukup kepada Hakim dalam pemeriksaan suatu perkara, agar dapat memberikan kepastian tentang kebenaran peristiwa yang diajukan.
"Membuktikan" dalam arti yang luas adalah memperkuat kesimpulan Hakim dengan syarat-syarat bukti yang sah. Sedangkan dalam arti yang terbatas, pembuktian hanya diperlukan apabila apa yang dikemukakan oleh penggugat itu dibantah oleh tergugat. Apa yang tidak dibantah tidak perlu dibuktikan.28 Hal-hal yang diajukan oleh satu pihak dan diakui oleh pihak lawan tidak perlu dibuktikan, karena tentang hal itu tidak ada perselisihan. Dalam Hukum Acara Perdata, sikap tidak menyangkal dipersamakan dengan mengakui.
Oleh karena membuktikan itu adalah meyakinkan Hakim tentang kebenaran dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu perkara, maka dengan sendirinya segala sesuatu yang dilihat sendiri oleh Hakim di muka sidang tidak usah dibuktikan,
27 Krisna Harahap, Hukum Acara Perdata, Class Action serta Arbitrase dan Alternatif, Grafitri, Bandung, 2003, hal. 67
28 Soepomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, Pradnya Paramita, Jakarta, 2004, hal. 63
l
18
misalnya Hakim melihat sendiri di muka pengadilan, bahwa barang yang dibeli oleh penggugat mengandung cacat yang tersembunyi atau bagian tubuh penggugat cacat akibat ditabrak mobil tergugat, dan sebagainya. Apabila Hakim dalam putusannya menyatakan, bahwa sesuatu hal telah dilihatnya sendiri di muka sidang, maka pemyataan tersebut tidak dapat diganggu gugat.
Di samping hal-hal tersebut di atas, masih terdapat hal-hal yang tidak memerlukan pembuktian akan kebenarannya, yaitu apa yang dalam Hukum Acara Perdata disebut Notoire feiten I fakta - fakta notoir. Yang dimaksud dengan Fakta-fakta notoir I notoire feiten adalah hal-hal yang sudah lazimnya diketahui oleh umum,29 misalnya: Hari Minggu adalah hari libur, dalam satu hari ada 24 jam, tanggal 17 Agustus 1945 adalah Proklamasi Kemerdekaan Negara RI, setiap karyawan wajib menerima upah, lalu lintas di Medan selalu macet, harga ernas lebih mahal daripada tembaga, dan lain sebagainya. 30
Jadi, ada 3 (tiga) hal dalam Hukum Acara Perdata yang tidak memerlukan pembuktian, yaitu:31
29 Subekti, Hukum Pembuktian, Pradnya Paramita, Jakarta, 1985, hal. 17
30 Menurut Pitlo dalam bukunya, "Bewijs En Verjaring Naar Het Nederlands Burgerlijk Wetboek" sebagaimana dikutip oleh Retnowulan Sutantio dan lskandar Oeripkartawinata dalam karyanya "Hukum Acara Perdata da/am Teori dan Praktelc', Alumni, Bandung, 1985, hal. 41-42, mengatakan bahwa tidaklah tennasuk dalam notoire feiten itu peristiwa-peristiwa yang secara kebetulan diketahui oleh Hakim yang bersangkutan, atau ia menyaksikannya ketika terjadi atau Hakim yang bersangkutan mempunyai keahlian perihal suatu kejadian/keadaan. Pendapat itu dapat dibenarkan, karena hal-hal semacam itu sukar untuk dimasukkan dalam golongan "diketahui umum".
Dalam ha! timbul perselisihan-perselisihan hal-hal semacam itu masih harus dibuktikan.
31 Krisna Harahap, Op cit, hal. 71
a. Pengakuan.
Yang dimaksud dengan Pengakuan adalah tergugat mengakui apa yang digugat oleh Penggugat.
b. Procesueele feiten.
Yang dimaksud dengan Procesueele feiten adalah fakta-fakta yang ditemukan Hakim di muka sidang.
c. Notoire feiten.
Yang dimaksud dengan Notoire feiten adalah fakta / keadaan yang diperkirakan sudah diketahui oleh umum.
2. Behan Pembuktian32
32 Lihat I. Rubini, Pengantar Hukum Acara Perdata, Penerbit Alumni, Bandung, 1974, hal. 40-42. yang menguraikan bahwa ada 3 (tiga) teori tentang beban pembuktian (Theorie Bewijstlasverdeling) yaitu (I) Teori Subjectiefrechtelijk: di sini penggugat hams membuktikan kenyataan specifiek yang merupakan dasar daripada haknya, sedangkat tergugat harus membuktikan hal-hal yang menghapuskan hak. (2) Teori Objectiejrechtelijk: dasamya-adalah Hukum. Menurut teori ini beban pembuktian·•itu ditentukan oleh peraturan-peraturan hukum yang dikehendaki oleh kedua belah pihak. Teori ini mengembalikannya kepada soal interpretasi hukum. Menurut Theorie Objectiefrechtelijk, peraturan hukum itu dibagi menjadi: Peraturan Umum (Regel voorschriften) dan Peraturan Pengecualian (uitzonderings voorschriften). (3) Teori Kelayakan (Billijkheid): Teori inilah yang dipergunakan di Indonesia. Menurut teori ini yang dibebani pembuktian itu dalam hal-hal konkrit, yaitu orang yang paling sedikit diberati dengan pembuktian. Bdg. Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 2002, hal. 136 - 137, ada lima teori pembebanan pembuktian yang dapat dijadikan pedoman bagi hakim dalam meJakukan hukum pembuktian di pengadilan, yaitu: (1) Teori pembuktian yang hanya bersifat menguatkan: disini siapa yang mengemukakan sesuatu harus membuktikannya, dan bukan yang mengingkari atau yang menyangkalnya. Dasar pertimbangan teori ini adalah bahwa sesuatu hal yang negatif tidak mungkin untuk dibuktikan (negativa non sunt probanda). Peristiwa negatif tidak dapat menjadi dasar untuk suatu hak meskipun pembuktiannya dimungkinkan, sehingga tidak dapat dibebankan kepada seseorang. (2) Teori hukum subyektif: menurut teori ini, suatu proses perdata selalu merupakan pelaksanaan hukum subjektif atau bertujuan mempertahankan hukum subjektif. Untuk mengetahui peristiwa mana yang harus dibuktikan, maka peristiwa tersebut perlu dibedakan atas peristiwa umum dan peristiwa khusus, yang dapat dibagi lagi atas: peristiwa khusus yang bersifat menimbu]kan hak, peristiwa khusus yang menghalangi timbulnya hak dan peristiwa khusus yang bersifat membatalkan hak. (3) Teori hukum objektif: disini, seorang penggugat yang mengajukan suatu gugatan berarti ia
20
Masalah beban pembuktian merupakan masalah yang dapat menentuk:an jalannya pemeriksaan perkara dan menentuk:an hasil perkara, yang pembuktiannya itu harus dilakukan oleh para pihak dengan jalan mengajukan alat-alat bukti. Sehingga dapat dikatakan, bahwa beban pembuktian merupakan salah satu bagian penting dalam sistem hukum pembuktian perkara perdata, karena di sini akan ditanyakan:
kepada pihak manakah akan dipikulkan beban pembuktian jika terjadi suatu perkara?
Masalah apa saja yang dibebankan pembuktiannya kepada Penggugat dan bagian mana yang menjadi beban tergugat? Apabila keliru memikulkan beban pembuktian tersebut, maka dapat menimbulkan ketidakadilan atau kerugian terhadap pihak yang dibebani dan memberikan keuntungan kepada pihak yang lain.
Pembagian beban pembuktian merupakan tugas Pengadilan atau Hakim semata-mata, artinya bahwa Hakimlah yang akan menentuk:an apa yang hams dibuktikan dan pihak mana yang akan memikul resiko beban pembuktian. Tugas ini bukanlah tugas yang mudah. Tugas ini harus sungguh-sungguh dijalankan, dalam arti tidak dilakukan dengan begitu saja, yaitu dengan memberikan kepada salah satu pihak suatu kewajiban pembuktian. Maka dari itu hakim dalam memikulkan
telah meminta kepada hakim agar menerapkan ketentuan-ketentuan hukum objektif terhadap peristiwa yang diajukan tersebut. Oleh karena itu, penggugat harus membuktikan kebenaran peristiwa yang diajukan tersebut. Selanjutnya hakim akan mencari hukum objektif untuk diterapkan pada peristiwa tersebut. Hakimlah yang bertugas menerapkan hukum objektif pada peristiwa yang diajukan oleh para pihak. (4) Teori hukum publik: menurut teori ini, upaya mencari keadilan dan kebenaran suatu peristiwa di pengadilan merupakan kepentingan publik. Oleh karena itu, hakim harus diberi wewenang yang lebih besar untuk mencari kebenaran tersebut. Disamping itu para pihak ada kewajiban yang bersifat hukum publik, yaitu untuk membuktikan dengan segala macam alat bukti. Kewajiban ini tentunya haru~. disertai dengan sanksi pidana. (5) Teori hukum acara: menurut teori ini, hakim harus membagikan beban pembuktian berdasarkan kesamaan kedudukan para pihak. Asas audi et alteram partem yang merupakan asas kedudukan prosesuil yang sama dari para pihak akan membawa akibat menang atau kalah yang sama. Oleh karena itu, hakim harus membagi beban pembuktian para pihak secara seimbang dan patut.
pembebanan pembuktian harus bersikap adil dan menjaga adanya keseimbangan dalam memberi beban pembuktian. Hal tersebut berarti, bahwa Hakim dalam memberi beban pembuktian tidak boleh berat sebelah.33 Hakim tidak boleh merugikan kepentingan salah satu pihak, tetapi secara bijaksana membaginya sesuai dengan sistem hukum pembuktian dengan cara memberi perhitungan yang sama kepada pihak yang berperkara.
Pedoman umum bagi Hakim dalam membagi beban pembuktian termuat dalam Pasal 1865 KUH Perdata34 dan Pasal 163 HIR.35 Inti dari kedua pasal tersebut pada hakekatnya adalah sama, yang menyatakan, bahwa orang yang mendalilkan adanya sesuatu hak atau kejadian untuk meneguhkan haknya itu, harus membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut. 36 Hal ini dikenal dengan asas siapa mendalilkan sesuatu, maka ia harus membuktikan. Secara sepintas lalu, asas tersebut kelihatannya sangat mudah. Sesungguhnya dalam praktek merupakan hal yang sangat sukar untuk menentukan secara tepat, siapa yang harus dibebani kewajiban untuk membuktikan sesuatu.
Berkaitan dengan pasal tersebut di atas Wirjono berpendapat, bahwa kedua pasal ini sama sekali tidak cukup terang untuk dapat dijadikan dasar penyelesaian
33 M. Yahya Harahap., Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan., Persidangan., Penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan, Sinar Grafika, Jakarta, 2004, ha!. 519
34 Bunyi pasal 1865 KUH Perdata: "Setiap orang yang mengaku mempunyai suatu hak, atau menunjuk suatu peristiwa untuk meneguhkan haknya itu atau untuk membantah suatu hak orang lain, wajib membuktikan adanya hak itu atau kejadian yang dikemukakan itu."
35 Bunyi Pasal 163 HlR: "Barangsiapa yang mengatakan mempunyai barang sesuatu hak, atau menyebutkan sesuatu kejadian untuk meneguhkan haknya itu, atau untuk membantah hak orang lain, maka orang itu harus membuktikan adanya hak itu atau adanya kejadian itu".
36 Teguh Samudera, Hukum Pembuktian da/am Acara Perdata, Alumni, Bandung, 2004, hal. 22
22
soal pembagian beban pembuk:tian, oleh karena baik penggugat maupun tergugat dapat masuk penyebutan orang yang oleh Pasal itu dibebankan membuktikan sesuatu hal. Kedua-duanya masing-masing dapat mengatakan mempunyai suatu hak untuk meneguhkan haknya atau untuk membantah adanya hak orang lain.37
Walaupun kedua pasal tersebut menyatakan seperti itu, apabila hakim secara mutlak mengikuti aturan tersebut, maka menurut Teguh Samudera hal itu akan menimbulkan beban pembuktian yang berat sebelah bagi pihak yang mendalilkan adanya hak atau peristiwa. Sehingga pada akhimya tidak akan mencapai tujuan atau hasil yang baik, karena pada salah satu pihak disuruh membuktikan sesuatu keadaan yang negatif. 38 Padahal mengenai segala sesuatu yang konkret tidak hanya salah satu pihak saja yang harus membuktikan, melainkan kedua belah pihak harus pula mempunyai alasan-alasannya.
Dari pemyataan tersebut di atas dapat dikatakan, bahwa masalah beban pembuktian itu sebenamya bergantung kepada situasi dan kondisi masing-masing perkara yang dihadapi atau ditangani oleh Hakim di depan sidang pengadilan. Jadi di sini, Hakim harus benar-benar rnemperhatikan pada pertimbangan keadilan, walaupun di dalarn hukum material telah ditetapkan tentang pembagian beban pembuktian terse but. 39
37 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata Di Indonesia, Penerbit Sumur Bandung, Bandung, 1975, hal. I 05
38 Ibid, hal. 23
39 Ibid, hal. 24
Malikul Adil dalam bukunya "Pembaharuan Hukum Perdata Kita"
sebagaimana dikutip Subekti dalam karyanya Hukum Pembuktian menyatakan, bahwa Hakim yang insaf akan kedudukannya tidak akan lupa bahwa dalam membagi-bagi beban pembuktian, ia harus bertindak jujur dan sportif, tidak akan membebankan kepada suatu pihak untuk membuktikan hal yang tidak dapat dibuktikan. 40
Pasal 1865 KUH Perdata dan Pasal 163 HIR merupakan asas umum beban pembuktian. Di samping kedua Pasal tersebut, hukum materiil sendiri mengatur atau menetapkan suatu beban pembuktian, di antaranya:
a. Adanya keadaan yang memaksa / force mcif eure harus dibuktikan oleh pihak debitor (Pasal 1244 KUH Perdata);
b. Pihak yang menuntut penggantian kerugian akibat perbuatan melanggar hukum, hams membuktikan adanya kesalahan (Pasal 1365 KUH Perdata);
c. Adanya kwitansi yang berturut-turut tanggal pembayarannya sebanyak tiga kwitansi, membebaskan debitor untuk membuktikan pembayaran-pembayaran yang lebih dulu (Pasal 1394 KUH Perdata). Pasal ini membebankan pembuktian kepada penyewa tentang kebenaran pembayaran sewa.
d. Adanya bukti pembayaran pokok uang pinjaman dianggap terbukti telah membayar bunga dari pinjaman tersebut (Pasal 1769 KUH Perdata). Pasal ini secara tegas membebaskan debitor membuktikan kebenaran pembayaran bunga apabila dia mampu membuktikan pembayaran utang pokok.
40 Subekti, Op. cit, hal. 20
.24
e. Seseorang yang menguasai barang bergerak, dianggap sebagai pemiliknya (Pasal 1977 ayat 1 KUH Perdata). Pasal ini mengatur asas, bezit merupakan titel yang sempurna.
f. Pihak pengangkut barang harus mengganti kerugian yang diderita pemilik barang, apabila barangnya yang diangkut tidak/hanya sebagian diserahkan kepada Pemilik itu, kecuali jika si pengangkut dapat membuktikan, bahwa tidak diserahkannya barang itu adalah akibat dari suatu peristiwa di luar kemampuan manusia (Pasal 468 ayat 2 KUH Dagang).
Demikian beberapa pasal tertentu yang secara khusus menentukan secara tegas pembagian beban pembuktian, sehingga tidak berpedoman kepada aturan umum yang digariskan Pasal 1865 KUH Perdata dan Pasal 163 HIR
3. Macam-macam Alat Bukti Dalam Perkara Perdata
Yang dimaksud dengan alat bukti adalah bahan-bahan yang dipakai untuk pembuktian dalam suatu perkara perdata di muka sidang Pengadilan. Dalam perkara perdata ada lima (5) macam alat bukti seperti yang tertulis dalam Pasal 164 HIR / 284 RBg I 1866 BW, yaitu: bukti tulisan / surat, bukti saksi, persangkaan, pengakuan dan bukti sumpah.
Dari ketentuan atau urutan alat bukti di atas dapat dilihat, bahwa alat bukti tulisan merupakan alat bukti yang paling utama dalam perkara Perdata, karena ditempatkan pada urutan pertama. Selain daripada ketentuan di atas mengenai macam-macam alat bukti, HIR masih mengenal alat bukti lain, yaitu: hasil
perneriksaan setempat (Pasal 153 ayat 1 HIR) dan hasil penyelidikan orang ahli (Pasal 154 HIR).41
a) Bukti Tulisan
Alat bukti tulisan atau yang disebut juga sebagai bukti surat adalah segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan yang bisa dimengerti clan menganclung suatu pikiran tertentu.42 Dalam perkara perdata, bukti tulisan atau surat merupakan alat bukti yang utama. Hal ini ticlaklah mengherarikan, karena dalam lalu lintas keperdataan clan perdagangan seringkali orang dengan sengaja menyediakan suatu bukti yang dapat clipakai apabila timbul suatu persengketaan di kemudian hari. Bukti yang clisediakan pada lazimnya berupa tulisan.
Alat bukti tulisan / surat diatur dalam: Pasal 137 - 138 HIR / 163 - 164 RBg tentang pemeriksaan surat, Pasal 165 - 167 HIR / 285 - 305 RBg, Pasal 224 HIR / 258 RBg, Pasal 1867 - 1894 KUH Perclata dan Stb. 1867 No. 29 tentang macam-macam surat dan kekuatan hukumnya. 43
Pasal 137 HIR memungkinkan kepada kedua belah pihak untuk minta dari pihak lawannya agar diserahkan kepacla Hakim surat-surat yang berhubungan clengan perkara yang sedang diperiksa agar ia clapat meyakinkan isi surat-surat tersebut, serta memeriksa apakah ada alasan untuk menyangkal keabsahan surat-surat tersebut. Pasal
41 Pasal 153 HIR ini adalah suatu pelaksanaan dari azas yang sifatnya umum, sepertijuga dengan apa yang tercantum dalam Pasal 154 HIR, yaitu bahwa Hakim harus mendapat keterangan yang jelas di dalam perkaranya, dengan mengadakan pemeriksaan sendiri, agar terdapat kebenaran.
42 Sudikno Mertokusumo, Op.cit., hal. 141-142
43 Bachtiar Effendie, Masdari Tasmin, A. Chodari, Surat Gugat dan Hukum Pembuktian Dalam Perkara Perdata, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991, hal. 59
26
138 ayat (1) HIR mengatur bagaimana cara bertindak, apabila salah satu pihak menyangkal keabsahan dari surat-surat bukti yang diajukan oleh pihak lawannya.
Sedangkan ayat 2 (dua) sampai 5 (lima) nya mengatur, apa yang hams dilakukan oleh Hakim dan oleh penyimpan surat tersebut, apabila dalam penyelidikan ini diperlukan pula surat-surat resmi yang berada ditangan pegawai yang khusus ditunjuk oleh undang-undang untuk menyimpan surat tersebut.
Alat bukti tulisan terbagi atas 2 (dua) macam, yaitu akta dan tulisan-tulisan lain yang bukan akta. Akta dapat dibedakan atas 2 ( dua) macam, yaitu akta otentik dan akta dibawah tangan.
Yang dimaksud dengan akta adalah surat yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar suatu hak dan ditandatangani dengan tujuan untuk dijadikan sebagai alat bukti. Jadi akta hams ditandatangani.44 Akta mempunyai 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi formal / formalitatie causa dan fungsi alat bukti / probationis causa.
Fungsi formal artinya adanya akta merupakan syarat formal untuk menyatakan adanya suatu perbuatan hukum dan fungsi alat bukti artinya sejak semula dibuatnya akta itu untuk dipakai sebagai alat bukti satu-satunya menurut undang-undang.45
Yang dimaksud dengan akta autentik adalah surat yang dibuat oleh atau dihadapan seorang pejabat umum yang mempunyai wewenang untuk membuat surat
44 Pasal 1869 KUH Perdata
45 Bachtiar Effendie, Masdari Tasmin, A. Chodari, Op. cit, ha!. 60-61
itu, dengan maksud untuk menjadikan surat itu sebagai alat bukti.46 Dengan demikian akta otentik itu ada 2 (dua) macam, yaitu:
a. akta yang dibuat oleh pejabat yang disebut dengan akta pejabat (acte ambtelijk), misalnya Notaris membuat Notulen dari suatu rapat, Polisi / Pemeriksa rnencatat semua pengakuan tertuduh atau saksi, Juru Sita membuat suatu relas.
b. akta yang dibuat di hadapan pejabat yang disebut dengan akta partai (acte partij).
Pejabat urnum yang berwenang membuat akta autentik itu adalah Notaris, Panitera, Camat, Pegawai Catatan Sipil, dan sebagainya.
Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 165 HIR / 285 RBg / 1870 KUH Perdata, akta autentik merupakan bukti yang sempuma atau disebut juga bukti yang cukup bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya serta sekalian orang yang mendapatkan hak daripadanya. Dengan demikian ini berarti isi akta tersebut oleh Hakim dianggap benar, selama ketidakbenarannya tidak dapat dibuktikan. Terhadap pihak ketiga, akta tersebut tidak mempunyai kekuatan bukti yang sempuma, melainkan hanya bersifat bukti bebas saja.
Akta autentik mempunyai 3 (tiga) macam kekuatan pembuktian, yaitu:
a. kekuatan pembuktian formil, artinya membuktikan antara para pihak, bahwa mereka sudah menerangkan apa yang ditulis dalam akta tersebut.
b. kekuatan pembuktian materiil, artinya membuktikan antara para pihak, bahwa peristiwa yang tertulis dalam akta tersebut benar-benar telah terjadi. Kekuatan bukti materiil inilah yang penting dalam perkara perdata.
46 Pasal 1868 KUH Perdata
28
c. kekuatan pembuktian lahir, artinya bahwa suatu akta yang lahimya tampak sebagai akta otentik serta memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, maka akta itu berlaku atau dapat dianggap sebagai akta otentik, sampai terbukti sebaliknya.47
Akta di bawah tangan adalah suatu surat yang ditandatangani dan dibuat dengan maksud untuk dijadikan alat bukti dari suatu perbuatan hukum, tetapi tidak dibuat oleh atau di hadapan pejabat yang ditentukan undang-undang.48 Akta di bawah tangan mempunyai kekuatan bukti yang sempuma seperti akta autentik, apabila isi dan tanda tangan dari akta terse but diakui oleh orang yang bersangkutan. T erhadap pihak ketiga, seperti juga akta autentik, suatu akta dibawah tangan merupakan suatu bukti be bas. 49 Akan tetapi, dari segi hukum pembuktian, agar suatu tulisan bemilai sebagai akta di bawah tangan, diperlukan beberapa syarat pokok, yaitu:
47 Krisna Harahap, Op. cit, hal. 76
48 Diatur dalam Pasal 1874 KUH Perdata, Pasal 304 RBg, S. 1867 / 46 jo. Pasal 286 RBg yang pada dasamya menentukan bahwa:
I. Dianggap sebagai akta di bawah tangan adalah akta-akta yang ditandatangani di bawah tangan, surat-surat (brieven), daftar-daftar, surat lain yang tidak diperbuat dengan perantaraan pejabat umum.
2. Disamakan dengan suatu penandatanganan di bawah tangan adalah suatu cap jari tangan di bawah surat itu yang disahkan kebenarannya, bertanggal dari seorang notaris atau seorang pejabat umum lainnya yang ditunjuk dengan ordonansi. Di dalam keterangan itu dinyatakan, bahwa ia mengenal yang telah membuat cap jarinya itu, atau bahwa orang itu diperkenalkan kepadanya, bahwasannya akta itu dibuatnya dihadapan pejabat tersebut.
3. Pejabat tersebut mendaftarkan akta tersebut.
4. Keterangan dan pendaftaran tersebut dilakukan sesuai dengan peraturan, di mana hal tersebut telah / atau akan ditentukan dalam undang-undang.
49 Lebih lanjut lihat Retnowulan Sutantio, lskandar Oeripkartawinata, Op.cit., hal. 49 yang menyatakan bahwa, perihal kekuatan pembuktian akta di bawah tangan harus diperhatikan dengan seksama peraturan yang terdapat dalam Ordonansi tahun 1967 No. 29 yang memuat "Ketentuan-ketentuan tentang kekuatan pembuktian dari pada tulisan-tulisan di bawah tangan dari orang-orang Indonesia atau yang dipersamakan dengan mereka". Yang dimaksud dengan tulisan dalam Ordonansi ini adalah Akta. Pasal 2 Ordonansi tersebut menentukan: "Barangsiapa yang terhadapnya diajukan suatu tulisan di bawah tangan, diwajibkan secara tegas mengakui atau menyangkal tanda tangannya;
tetapi bagi para ahliwarisnya atau orang-orang yang mendapat hak dari padanya, cukuplah jika mereka menerangkan tidak mengakui tulisan atau tanda tangan itu sebagai tulisan atau tanda tangan orang yang mereka wakili".
I
MILIK PERPUSTAKA.AN
UNIVERSITAS SUMA TERA UT ARA
1. Surat atau tulisan itu ditanda tangani.
2. Isi yang diterangkan di dalamnya menyangkut perbuatan hukum (rechtshandeling) atau hubungan hukum (rechtsbetrekking);
3. Sengaja dibuat untuk dijadikan bukti dari perbuatan hukum yang disebut di dalamnya.50
Sedangkan yang dimaksud dengan tulisan lain bukan akta atau surat biasa adalah setiap tulisan yang tidak sengaja dijadikan bukti tentang suatu peristiwa dan / atau tidak ditanda tangani oleh pembuatnya. Apabila surat / tulisan itu kelak menjadi alat bukti di pengadilan hanyalah merupakan kebetulan saja. Surat biasa itu misalnya surat-surat pribadi antara seorang sahabat, saudara, keluarga, dan sebagainya. Pada umumnya isi surat / tulisan biasa itu bisa saja mengabarkan sesuatu, tetapi kemudian terjadi sengketa dan surat itu dijadikan sebagai alat bukti. Baik HIR, RBg maupun KUH Perdata tidak ada mengatur tentang kekuatan pembuktian daripada tulisan-tulisan yang bukan akta ini. Tulisan lain bukan akta, dalam hukum pembuktian mempunyai nilai pembuktian sebagai bukti bebas.51
b. Bukti Saksi
Pada dasamya pembuktian dengan saksi barn diperlukan, apabila bukti dengan surat / tulisan tidak ada untuk mendukung dan menguatkan kebenaran dalil-dalil yang menjadi dasar pendiriannya para pihak berperkara masing-masing.
Saksi-50 M. Yahya Harahap, Op.cit., ha!. 590
51 Ibid, hal. 50
30
saksi itu ada yang secara kebetulan melihat atau mengalami sendiri peristiwa yang hams dibuktikan kebenarannya dimuka Hakim (misalnya: para tetangga, orang yang secara kebetulan melihat ataupun mendengar peristiwa itu) dan ada juga saksi-saksi yang sengaja diminta untuk datang menyaksikan suatu perbuatan hukum yang sedang berlangsung (misalnya: Kepala Desa, Camat, Notaris, dan lain-lain).52
Seorang saksi hams menerangkan tentang apa yang dilihat atau dialaminya sendiri dan setiap kesaksian itu hams disertai dengan alasan-alasan yang mendukung bagaimana diketahuinya hal-hal yang diterangkan itu. Pasal 171 HIR / Pasal 308 RBg menentukan, bahwa:
1. Setiap kesaksian haruslah menyebut segala penyebab, berdasarkan apa pengetahuan saksi itu sendiri.
2. Perasaan atau persangkaan yang terjadi karena kata akal, bukanlah merupakan suatu kesaksian.
Seorang saksi tidak boleh memberikan keterangan-keterangan yang berupa kesimpulan-kesimpulan; karena hal itu adalah tugas Hakim. Pendapat atau dugaan yang diperoleh karena berpikir bukanlah merupakan kesaksian. 53 Demikian juga kesaksian yang didengar dari orang lain yang disebut testimonium de auditu bukan merupakan alat-alat bukti dan tidak perlu dipertimbangkan.54 Akan tetapi menurut I.
Rubini dalam bukunya Pengantar Hukum Acara Perdata menyatakan, bahwa:
52 Darwan Prinst, Op. cit, hal 181 - 182. bdgkan Pasal 139 HIR
53 Pasal 171 ayat (2) HIR / 308 ayat (2) RBg / 1907 KUH Perdata
54 Jadi yang dimaksud dengan Testimonium de auditu, adalah keterangan yang saksi peroleh dari orang lain. la tidak mendengamya atau mengalaminya sendiri, hanya ia dengar dari orang Iain tentang