BAB II KAJIAN TEORI
A. Pendidikan Multikultural
1. Definisi Pendidikan Multikultural
Oleh beberapa ilmuwan, pendidikan multikultural masih diartikan sangat beragam. Belum ada kesepakatan, apakah pendidikan multikultural tersebut berkonotasi pendidikan tentang keragaman budaya, atau pendidikan untuk mengambil sikap agar menghargai keragaman budaya.
Pendidikan dan multikultural memiliki keterkaitan sebagai subjek
dan objek atau „yang diterangkan‟ dan „menerangkan‟, juga esensi dan
konsekuensi. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan dan mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasa, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan pendidikan multikultural, secara terminologi merupakan proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku dan aliran (agama) (Maslikhah, 2007:48).
Kamanto Sunarto sebagaimana dikutip Dede Rosyada (2014:3) menjelaskan bahwa pendidikan multikultural biasa diartikan sebagai pendidikan keragaman budaya dalam masyarakat, dan terkadang juga diartikan sebagai pendidikan yang menawarkan ragam model untuk keragaman budaya dalam masyarakat, dan terkadang juga diartikan sebagai pendidikan untuk membina sikap siswa agar menghargai keragaman budaya masyarakat.
Adapun definisi yang diberikan para pakar pendidikan adalah fakta bahwa bangsa Indonesia terdiri dari banyak etnik, dengan keragaman budaya, agama, ras dan bahasa. Indonesia memiliki falsafah berbeda suku, etnik, bahasa, agama dan budaya, tapi memiliki satu tujuan, yakni mewujudkan bangsa Indonesia yang kuat, kokoh, memiliki identitas yang kuat, dihargai oleh bangsa lain, sehingga tercapai cita-cita ideal dari pendiri bangsa sebagai bangsa yang maju, adil, makmur dan sejahtera. Untuk itu seluruh komponen bangsa tanpa membedakan etnik, ras, agama dan budaya, seluruhnya harus bersatu padu, membangun kekuatan di seluruh sektor, sehingga tercapai kemakmuran bersama, memiliki harga diri bangsa yang tinggi dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain di dunia (Rosyada, 2014:3).
Choirul Mahfud (2006:167) meminjam pendapat Andersen dan Cusher yang menyatakan bahwa pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Kemudian, mengutip pendapat James Banks, mendefinisikan bahwa pendidikan
multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugrah Tuhan/sunnatullah). Kemudian bagaimana kita mampu mensikapi perbedaan tersebut dengan penuh toleran dan semangat egaliter.
Pada prinsipnya pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menghargai perbedaan. Pendidikan multikultural senantiasa menciptakan suatu proses dimana setiap kebudayaan bisa melakukan ekspresi. Akan tetapi tidak mudah untuk mendesain pendidikan multikultural secara praksis.
Menurut Said Agil Al Munawar (2005:207) secara sederhana
pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai “pendidikan
untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan dengan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan”. Dengan demikian pendidikan multikultural selalu terkait dengan kebudayaan dan kultur lingkungan. Ini berarti pembahasan tentang pendidikan multikultural tak dapat dipisahkan dari budaya dan lingkungan sekitar masyarakat.
Istilah ”pendidikan multikultural” dapat digunakan baik pada
tingkat deskriptif dan normatif, yang menggambarkan isu-isu dan masalah-masalah pendidikan berkaitan dengan masyarakat multikultural. Lebih jauh ia juga mencakup pengertian tentang pertimbangan terhadap kebijakan-kebijakan dan strategi-strategi pendidikan dalam masyarakat
multikultural. Dalam konteks deskriptif ini, maka kurikulum pendidikan multikultural mestilah mencakup subjek-subjek seperti; toleransi; tema- tema tentang perbedaan ethno-kultural, dan agama; bahaya diskriminasi; penyelesaian konflik dan mediasi; HAM; demokratis dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan (Al Munawar, 2005: 210).
Baidhawy (2005:6-7) menyimpulkan mengenai pendidikan multikultural. Menurutnya, ada dua istilah penting yang berdekatan secara makna dan merupakan suatu perkembangan yang sinambung,
yakni pendidikan multietnik dan pendidikan multikultural. “Pendidikan multietnik” sering dipergunakan di dunia pendidikan sebagai suatu usaha
sistematik dan berjenjang dalam rangka menjembatani kelompok- kelompok rasial dan kelompok-kelompok etnik yang berbeda dan memiliki potensi untuk melahirkan ketegangan dan konflik. Sementara
itu istilah “pendidikan multikultural” memperluas payung pendidikan
multietnik sehingga memasukkan isu-isu lain seperti relasi gender, hubungan antar agama, kelompok kepentingan, kebudayaan dan subkultur, serta bentuk-bentuk lain dari keragaman. Kata “kebudayaan”
lebih diadopsi dalam hal ini daripada “rasisme” sehingga audiens dari
pendidikan multikultural semacam ini akan lebih mudah menerima dan mendengarkan.
Oleh karena itu, banyak pendidik yang akhirnya lebih memilih memisahkan pendidikan multikultural dari sekedar perjuangan sosial dan
upaya meredefinisi maknanya menjadi perayaan makanan dan festival etnik; bidang ini seringkali mendapatkan kritik karena terpisah dari kritik utama terhadap rasisme dalam dunia pendidikan. Adalah penting menempatkan pendidikan multikultural dalam perjuangan hak-hak sipil demi kebebasan, kekuasaan politik, dan integrasi ekonomi (Baidhawy, 2005:7).
Sebagai sebuah pembaruan, pendidikan agama berwawasan multikultural memiliki karakteristik khusus, meliputi: menanamkan pilar keempat kesadaran pentingnya hidup bersama dalam keragaman dan perbedaan agama-agama (how to live and work together with others); menyemangati relasi antar manusia dengan spirit kesetaraan dan kesederajatan (modest ang equal), saling percaya (mutual trust),saling memahami (mutual understanding), dan menghargai persamaan, perbedaan dan keunikan agama-agama (respect to similarities, differences, and uniqueness);menyuguhkan suatu jejalin kelindan relasi dan interdependensi dalam situasi saling mendengar dan menerima perbedaan perspektif agama- agama dalam satu dan lain masalah dengan pkiran terbuka (open mind); suatu kreasi untuk menemukan alan terbaik mengatasi konflik (conflict resolution) antaragama dan menciptakan perdamaian (reconsiliation)melalui sarana pengampunan (forgiveness) dan tindakan nirkekerasan (non violence) (Baidhawy, 2005:14).
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa orientasi dari pendidikan multikultural adalah pada proses penyadaran yang berwawasan pluralis
dan multikultural. Pendidikan semacam ini harus dilihat sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanggulangan konflik etnis agama, radikalisme agama, separatisme, dan disintegrasi bangsa, sedangkan nilai dasar dari konsep pendidikan ini adalah toleransi.