BAB 2 PENGERTIAN DAN KONSEP
2.8 Definisi
Sebelum membahas pengaplikasian penerapan nonstatistikal sampling audit pada pengujian substantif rinci atas saldo, penulis merasa ada beberapa konsep yang perlu untuk dipaparkan definisinya sesuai ISA 530 yang efektif pada 15 Desember 2009 dan Arens et al. (2009) terkait dengan audit sampling itu sendiri. Penyajiannya kemudian akan diikhtisarkan kedalam tabel 2.3 pada halaman selanjutnya.
Tabel 2.3 Definisi Konsep Audit Sampling
Konsep Pengertian
Populasi Set data keseluruhan yang merupakan tempat di mana sampel dipilih dan merupakan set data yang ingin diambil kesimpulan mengenainya.
Risiko Sampling Risiko yang terjadi bahwa kesimpulan auditor
berdasarkan sampel mungkin berbeda dengan kesimpulan dari keseluruhan populasi meskipun telah melalui
prosedur audit yang sama
Risiko Nonsampling Risiko akan kesalahan auditor dalam membuat kesimpulan yang tidak ada hubungannya dengan sampling risk
Unit Sampling Butir individu yang membentuk sebuah populasi Audit Sampling
Statistikal
Pendekatan sampling yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
i) Pemilihan sampel secara random/acak
ii) Penggunaan teori probabilitas untuk mengevaluasi hasil sampel termasuk penetapan sampling risk Audit Sampling
Nonstatistikal
Pendekatan sampling yang tidak memiliki karakteristik seperti yang ada di statistical audit sampling
Tolerable Misstatement
Tingkat materialitas yang dialokasikan untuk setiap saldo akun untuk tetap menyatakan saldo akun bebas dari salah saji material
Probabilistic Sample Selection
Metode pemilihan sampel secara acak yang mana tiap butir populasi memiliki probabilitas yang diketahui untuk terpilih
Nonprobabilistic Sample Selection
Metode pemilihan sampel menggunakan pertimbangan profesional auditor.
2.9 Pengaplikasian Audit Sampling Nonstatistikal dalam Pengujian Substantif Rinci atas Saldo
Arens et al. (2009) menyatakan bahwa ada tiga fase yang terpecah menjadi empat belas langkah merinci dalam pengaplikasian audit sampling nonstatistikal untuk melakukan pengujian substantif rinci atas saldo, mereka adalah:
2.9.1 Fase 1 Perencanaan
Fase perencanaan perlu dilakukan untuk meyakini bahwa pengujian audit yang dilakukan memberikan nilai risiko sampling yang diharapkan dan memperkecil kemungkinan eror nonsampling. Pada fase ini, auditor akan menentukan jumlah sampel yang harus dipilih. Ada sembilan tahap yang dilakukan dalam fase ini, yaitu:
1. Menetapkan objektif/tujuan dari tes audit
Tujuan dari setiap tes haruslah dinyatakan pada setiap awal pengujian. Pada pengujian substantif atas saldo biasanya auditor melakukan pemilihan sampel untuk mengetahui apakah saldo akun yang diuji telah disajikan secara wajar. Tujuan-tujuan audit yang berkaitan dengan saldo seperti yang telah dijelaskan sebelumnya akan dijadikan dasar pengujian auditor.
2. Menentukan apakah audit sampling dapat diaplikasikan kepada pengujian audit yang terkait
Audit sampling hanya diaplikasikan ketika auditor ingin mengambil sebuah kesimpulan mengenai sebuah populasi berdasarkan sampel. Maka dari itu, auditor harus mengkaji audit program terlebih dahulu lalu memilih audit prosedur yang dapat mengaplikasikan audit sampling.
3. Mendefinisikan misstatement
Audit sampling pada pengujian substantif atas saldo bertujuan untuk mengukur salah saji moneter. Sehingga ketika ada salah saji yang ditemukan di dalam sampel, sampel dinyatakan telah mengandung salah saji.
4. Mendefinisikan populasi
Mendefinisikan populasi merupakan tahapan yang krusial dalam audit sampling karena populasi inilah yang ingin digeneralisasi oleh auditor. Auditor harus yakin bahwa sampel yang diambil adalah sampel yang memang akan merepresentasikan populasi yang tepat. Dalam pengujian substantif rinci atas saldo, populasi didefinisikan sebagai segala butir yang membentuk populasi moneter yang tercatat.
5. Mendefinisikan sampling unit
Unit sampel bisa dinyatakan sebagai titik awal permulaan pengujian audit dimulai. Unit sampel ditentukan oleh auditor berdasarkan pengartian mereka akan populasi dan tujuan dari pengujian audit. Untuk pengujian substantif atas saldo yang lebih berkaitan dengan saldo, unit sampelnya biasanya adalah segala sesuatu yang membentuk saldo akun.
6. Menspesifikasikan tolerable misstatement
Auditor menggunakan tolerable misstatement untuk menentukan besaran sampel dan mengevaluasi hasil dari sampling nonstatistikal. Berdasarkan preliminary judgement mengenai materialitas yang telah dilakukan pada fase perencanaan audit, auditor akan menggunakan nilai tersebut untuk menentukan tolerable misstatement yang masih boleh dimiliki oleh satu akun. Jumlah sampel akan berkurang apabila tolerable misstatement yang ditetapkan auditor meningkat per saldo akun atau kelas transaksi.
Selalu adanya risiko yang terekspos pada kesimpulan yang ditarik oleh auditor mengenai sebuah populasi melalui sampel. Pada pengujian saldo, auditor fokus pada saldo akun sehingga auditor menghitung ARIA yang merupakan nilai risiko yang masih mau diterima oleh auditor pada saat menyatakan bahwa sebuah saldo telah benar disajikan meskipun nyatanya terdapat salah saji pada saldo yang melebihi tingkat tolerable misstatement. Tingkat assurance auditor berhubungan terbalik dengan ARIA begitu pula halnya dengan besaran sampel.
8. Mengestimasikan salah saji pada populasi
Auditor harus mengestimasikan jumlah salah saji pada populasi yang biasanya dilakukan dengan mengacu pada pengalaman sebelumnya dengan klien dan dengan pertimbangan dari risiko bawaan dan hasil dari pengujian lain yang telah dilakukan sebelumnya. Jumlah sampel yang direncanakan akan bertambah seiring dengan penambahan nilai salah saji yang diestimasikan pada populasi mendekati nilai tolerable misstatement.
9. Mendeterminasikan initial sample size
Pertimbangan profesional auditor dalam menentukan jumlah sampel inisial dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti risiko pengendalian, hasil dari pengujian substantif lainnya, acceptable audit risk, tolerable misstatement, risiko bawaan, estimasi salah saji, jumlah moneter populasi, dan jumlah butir di dalam populasi. Faktor-faktor ini diringkas dalam tabel dibawah ini.
Tabel 2.4 Faktor yang Memengaruhi Jumlah Sampel dalam Pengujian Substantif Rinci atas Saldo
Faktor Kondisi untuk
Sampel lebih Sedikit
Kondisi untuk Sampel lebih Banyak
Risiko Pengendalian (ARACR) Risiko pengendalian rendah Risiko pengendalian tinggi
Hasil dari prosedur substantif lainnya
Hasil memuaskan Hasil tidak memuaskan Acceptable Audit Risk Acceptable Audit Risk
yang tinggi
Acceptable Audit Risk yang rendah
Tolerable Misstatement Tolerable misstatement yang besar Tolerable misstatement yang kecil
Risiko bawaan Risiko bawaan rendah Risiko bawaan tinggi Ekspektasi salah saji Salah saji kecil Salah saji besar Jumlah moneter
populasi
Saldo akun kecil Saldo akun besar Jumlah butir dalam
populasi
Hampir tidak ada efek kecuali populasi sangat kecil
Hampir tidak ada efek kecuali populasi sangat kecil
Sumber: Arens et al. (2009) telah diolah kembali
2.9.2 Fase 2 Pemilihan Sampel dan Pelaksanaan Prosedur Audit
Fase pemilihan sampel merupakan fase yang dilewati auditor dalam menentukan metode pemilihan sampel. Setelah memilih sampel, auditor baru akan bisa melakukan pengujian. Tahap yang ke-10 dan ke-11 ada di dalam fase ini, yaitu:
10. Memilih sampel
Setelah menentukan jumlah sampel, auditor harus memilih sampel dari populasi baik dengan metode pengambilan sampel probabilistik maupun nonprobablistik. Sebisa mungkin auditor memperkecil adanya campur tangan klien dalam pemilihan sampel sehingga auditor harus dapat mengontrol proses pemilihan sampel dengan baik.
Metode pemilihan sampel nonprobabilistik menurut Arens et al. (2009) adalah:
i) Metode directed sample selection – metode pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan kriteria yang ditentukan auditor
ii) Metode block sample selection – auditor memilih sampel awal di dalam block lalu sisanya dipilih dengan urut
iii) Metode haphazard - merupakan metode alternatif dari metode acak dengan syarat auditor mencoba mengambil sampel yang mewakili dari keseluruhan populasi tanpa ada maksud untuk memasukkan atau tidak memasukkan unit tertentu ke dalam sampel yang dipilih.
Metode pemilihan sampel probabilistik menurut Arens et al. (2009) antara lain adalah:
i) Metode pemilihan acak – metode yang memungkinkan semua butir di dalam populasi untuk memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih. Metode ini memerlukan adanya alat seperti tabel angka acak atau software komputer.
ii) Metode sistematik – auditor membuat sebuah interval dan memilih butir sampel berdasarkan interval tersebut
11. Pelaksanaan prosedur audit
Auditor akan mengaplikasikan prosedur audit yang sesuai kepada tiap sampel untuk mencari tahu apakah adanya salah saji pada saldo. Ketika prosedur audit yang utama gagal memenuhi tujuannya, auditor harus mempersiapkan prosedur alternatif lainnya.
2.9.3 Fase 3 Pengevaluasian Hasil
Pada fase yang terakhir ini, auditor akan sampai pada sebuah kesimpulan yang akan diambilnya setelah melakukan pangujian. Tahap-tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut:
12. Menggeneralisasikan sampel kepada populasi
Dalam pengujian substantif atas saldo, auditor harus memroyeksikan salah saji populasi dari hasil salah saji sampel dan mempertimbangkan unsur sampling error dan sampling risk untuk dapat menggeneralisasikan sebuah populasi melalui sampel. Langkah pertama yang harus diambil adalah untuk menghitung titik estimasi dengan asumsi bahwa salah saji yang terdapat pada populasi yang tidak teraudit proporsional dengan salah saji yang terdapat pada sampel. Titik estimasi ini kemudian dibandingkan dengan nilai tolerable misstatement yang telah diformulasikan sebelumnya untuk menghitung nilai sampling error. Ketika titik estimasi lebih kecil
dari tolerable misstatement, auditor dapat menyimpulkan bahwa kecil kemungkinan populasi akan mengandung salah saji material.
Jika ditemui bahwa titik estimasi nilainya lebih rendah dibandingkan tolerable misstatement, auditor harus mempertimbangkan adanya kemungkinan bahwa salah saji populasi yang sebenarnya lebih besar dari salah saji yang dapat ditolerir. Untuk itu, auditor perlu mempertimbangkan (1) selisih dari titik estimasi dan tolerable misstatement (yang disebut sebagai sampling error terhitung), (2) apa yang akan terjadi apabila seluruh butir di dalam populasi diaudit 100 persen, (3) apakah salah saji- salah saji yang ditemukan bersifat saling mengimbangi (offsetting) atau berada di satu arah, (4) jumlah dari tiap-tiap salah saji, dan (5) jumlah sampel.
13. Menganalisis salah saji
Penting bagi auditor untuk mengevaluasi sifat dasar dari salah saji yang ditemukan untuk menetapkan apa penyebab dasarnya, implikasi apa yang bisa terjadi di bagian audit lainnya, dampak potensial kepada laporan keuangan dan dampak salah saji terhadap kegiatan operasional klien.
14. Menentukan nilai acceptability dari populasi
Ketika auditor pada akhir pengujiannya menyimpulkan bahwa salah saji yang terdapat di populasi lebih besar daripada salah saji yang dapat ditolerir, populasi dinyatakan tidak dapat diterima. Sehingga auditor harus mengambil langkah-langkah antara lain sebagai berikut (1) tidak mengambil tindakan apa-apa untuk populasi terkait sampai akhirnya seluruh proses audit selesai, (2) melakukan tes audit yang lebih ekstensif di area-area spesifik, (3) menambah jumlah sampel, (4) melakukan adjustment atau pembenaran terhadap saldo akun terkait, (5) meminta klien untuk membetulkan populasinya, dan (6) mengeluarkan opini yang bukan wajar tanpa pengecualian.
2.10 Audit Sampling Statistikal dalam Pengujian Substantif Rinci atas