• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini merupakan bab penutup dalam laporang magang ini. Kesimpulan berdasarkan pembahasan yang telah ditulis dalam bab sebelumnya akan dijelaskan dalam bab ini. Di samping itu, saran baik untuk KAP PwC maupun untuk PT ABC akan dipaparkan pada bab ini pula.

Pada laporan magang ini, penulis memaparkan teori yang perlu dipahami pada bab dua. Teori yang akan dibahas antara lain mencakup pengertian auditing, tahap-tahap proses audit, tujuan pelaksanaan audit, pemahaman akan bukti audit, audit akan akun pendapatan, pengertian dari audit sampling, dan pengaplikasian dari sampling nonstatistikal dalam pengujian substantif rinci atas saldo. Di samping itu, bab ini akan ditutup dengan pembahasan mengenai sewa pembiayaan.

2. 1 Pengertian Auditing

Pengertian auditing menurut Arens et al. (2009):

“Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing should be done by a competent, independent person. ”

Jika diartikan, auditing kemudian adalah sebuah proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti mengenai informasi yang digunakan untuk menetapkan dan melaporkan derajat korespondensi atau derajat keselarasan antara informasi yang diperoleh dengan kriteria yang telah ditetapkan. Singkat kata, auditing atau pengauditan merupakan proses membandingkan antara informasi yang ditemukan dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria yang telah ditetapkan biasanya merupakan standar-standar audit yang telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Pengauditan ini sendiri pun harus dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten dan bersifat independen.

2. 2 Tahap Pelaksanaan Proses Audit

Arens et al. 2009 mengikhtisarkan dalam bukunya bahwa ada 4 fase yang dilalui dalam proses audit. Fase I adalah perencanaan dan desain pendekatan audit (Plan and design an audit approach), fase II adalah melakukan test of controls

(pengujian pengendalian) dan substantive test of transactions (pengujian substantif transaksi), sedangkan fase III adalah tahap di mana prosedur analitis dan test of details of balances (pengujian substantif rinci atas saldo) dilakukan, dan fase terakhir adalah penyempurnaan dan penyelesaian audit sampai akhirnya penerbitan audit report.

2.2.1 Perencanaan dan Desain Pendekatan Audit

Di dalam bukunya, Arens et al. (2009) membagi fase ini menjadi delapan tahap yang perlu dilakukan, yaitu:

1. Accept client and perform initial planning – Pertama, auditor harus mempertimbangkan apakah akan menerima klien baru atau tidak. Jika auditor memutuskan untuk menerima klien, auditor perlu untuk mencari tahu apa alasan klien membutuhkan jasa audit mereka. Mereka kemudian harus mengumpulkan informasi-informasi yang terkait dengan klien agar tidak terjadi kesalah pahaman yang berhubungan dengan engagement. Setelah itu auditor akan membuat strategi secara keseluruhan akan proses audit.

2. Understand the client’s business and industry – Auditor perlu memperoleh informasi yang cukup akan klien beserta lingkungannya termasuk kontrol internal untuk menetapkan risiko salah saji material akan laporan keuangan, apakah berdasarkan eror atau fraud, dan untuk mendesain sifat dasar, pengelolaan waktu, dan kelanjutan dari prosedur audit berikutnya. 3. Assess client business risk – Pemahaman auditor akan bisnis dan industri

dari klien akan membantu mereka dalam menetapkan tingkat risiko bisnis dari klien, yaitu risiko bahwa klien gagal dalam mencapai tujuannya. Penetapan risiko bisnis ini dapat memengaruhi auditor dalam menentukan risiko salah saji material akan laporan keuangan klien. Risiko bisnis klien dapat dippengaruhi oleh faktor-faktor seperti lingkungan teknologi.

4. Perform preliminary analytical procedures – Melakukan prosedur analitis awal akan lebih membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan menetapkan risiko bisnis klien. Pada tahap ini, auditor biasanya akan

membandingkan rasio-rasio yang mereka hitung antarindustri atau pun antarkompetitor untuk dapat menentukan patokan akan kinerja klien. 5. Set Materiality and assess acceptable audit risk and inherent risk –

Konsep materialitas sangat mempengaruhi auditor dalam mengembangkan strategi audit secara keseluruhan. Materialitas didefinisikan oleh Financial Accounting Standards Board (FASB) sebagai sebuah besaran dari salah saji akan informasi akuntansi yang memungkinkan adanya perubahan pertimbangan mengenai informasi tersebut yang dipengaruhi atas kesalahsajian tersebut. Di samping itu, ada pula konsep risiko yang memiliki hubungan dekat dengan konsep materialitas yang menggambarkan bahwa adanya risiko yang tercipta karena ketidakpastian dalam pelaksanaan fungsi audit. Ada empat jenis risiko yang dikenal dalam proses audit, yaitu:

i) Planned detection risk – risiko bukti audit gagal untuk mendeteksi adanya salah saji material yang melebihi batas salah saji (tolerable misstatement.

ii) Control risk – mengukur penilaian auditor akan pengendalian internal klien dalam mencegah atau mendeteksi salah saji yang melebihi tolerable misstatement.

iii) Inherent risk – mengukur penilaian auditor akan kemungkinan adanya salah saji material sebelum memperhitungkan unsur efektivitas pengendalian internal. Faktor-faktor seperti sifat dasar bisnis, hasil audit sebelumnya, transaksi-transaksi nonrutin, dan pihak afiliasi memengaruhi nilai inherent risk.

iv) Acceptable audit risk – pengukuran akan seberapa besar keinginan auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan mungkin mengandung salah saji setelah proses audit telah dilakukan dan pemberian opini wajar tanpa penegecualian telah diberikan. Faktor-faktor yang memengaruhi nilai risiko ini antara lain adalah ketergantungan pihak eksternal, kemungkinan terjadinya kegagalan keuangan, dan integritas manajemen.

6. Understand internal control and assess control risk – Pengendalian internal terdiri dari peraturan dan prosedur yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai kepada manajemen bahwa perusahaan telah mencapai tujuannya. Auditor memiliki tanggung jawab untuk memahami dan menguji kontrol internal yang berjalan di perusahaan klien khususnya kontrol internal yang terkait dengan kegiatan pelaporan keuangan. Pemahaman akan kontrol internal dari sebuah perusahaan akan dijadikan dasar oleh auditor untuk menentukan risiko kontrol yang kemudian akan mempengaruhi besaran salah saji material dari laporan keuangan.

7. Gather information to assess fraud risks – Auditor harus memperoleh keyakinan yang memadai bahwa apakah salah saji material pada laporan keuangan disebabkan oleh eror atau kecurangan (fraud). Maka dari itu, auditor harus menggunakan pertimbangan keraguan profesional (professional skepticism) mereka dalam menentukan risiko akan kecurangan ini.

8. Develop overall audit plan and audit program – Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam fase perencanaan. Tahap ini merupakan tahap kritis yang mana auditor harus sudah menentukan program audit secara keseluruhan yang akan dilakukan, seperti seluruh prosedur audit, besaran sampel, sampel yang akan dipilih, dan alokasi waktu.

Dapat disimpulkan bahwa fase pertama ini merupakan tahapan yang penting untuk dilakukan karena proses audit berikutnya akan didasari dari hasil yang telah ditetapkan oleh auditor pada tahap ini. Penentuan tingkat risiko dan materialitas akan secara berkesinambungan mempengaruhi jumlah bukti yang harus dikumpulkan atau dalam kata lain akan mempengaruhi jumlah sampel yang akan dipilih oleh auditor.

2.2.2 Pelaksanaan Test of Controls dan Substatntive Test of Transactions

Dalam pengembangan perencanaan audit secara keseluruhan, auditor menggunakan lima jenis tes untuk menetapkan apakah sebuah laporan keuangan telah disajikan secara wajar (Arens et el., 2009). Jenis tes yang pertama adalah

prosedur penetapan risiko seperti yang telah dibahas pada fase perencanaan bahwa auditor harus memahami betul bisnis dari klien termasuk lingkungan yang terkait dan kontrol internal untuk menetapkan risiko adanya salah saji material di dalam laporan keuangan klien.

Dalam bagian ini, penulis ingin lebih menjelaskan mengenai jenis tes yang kedua dan ketiga yaitu Test of Controls (pengujian pengendalian) dan Substantive Test of Transactions (pengujian substantif transaksi). Pemahaman auditor akan kontrol internal dari sebuah perusahaan digunakan untuk menetapkan tingkat risiko kontrol untuk setiap transaksi dengan tujuan audit yang berhubungan dengan transaksi. Dengan kata lain, risiko kontrol yang ditetapkan oleh auditor merefleksikan keefektivitasan dari kontrol internal yang diterapkan oleh klien. Auditor melakukan pengujian pengendalian untuk mendapatkan bukti yang cukup sebagai dasar penetapan nilai risiko kontrol tersebut.

Jenis bukti yang biasanya digunakan pada saat melakukan pengujian pengendalian antara lain adalah:

 Membuat pertanyaan yang sesuai kepada klien

 Memeriksa dokumen, catatan, dan laporan

 Mengobservasi aktivitas yang berhubungan dengan kontrol

 Melakukan kembali prosedur klien

Auditor mengenal sistem walkthrough yang merupakan sebuah sistem yang akan membantu mereka untuk memahami apakah kontrol sudah pada tempatnya. Sistem ini biasanya diaplikasikan terhadap beberapa transaksi dengan cara menjalani ulang proses keseluruhan transaksi. Disamping itu, pengujian pengendalian juga berguna untuk menilai efektivitas dari kontrol yang diterapkan tersebut, sehingga auditor biasaya melakukan pemeriksaan terhadap beberapa sampel transaksi.

Penilaian akan risiko kontrol beserta bukti-bukti yang terkumpul selama pelaksanaan pengujian pengendalian mempengaruhi jumlah bukti yang dibutuhkan oleh auditor. Penjelasan mengenai hubungan antara risiko dengan pengumpulan bukti akan dibahas di bagian berikutnya dalam karya tulis ini.

Setelah pengujian pengendalian dilakukan, ada pengujian lain yang dinamakan pengujian substantif. Pengujian ini didefinisikan sebagai sebuah prosedur yang didesain untuk menguji salah saji dollar atau dalam kata lain salah saji moneter yang secara langsung mempengaruhi ketepatan dari saldo laporan keuangan. Auditor mengandalkan tiga jenis pengujian substantif yang antara lain adalah pengujian substantif transaksi, prosedur analitis, dan test of details of balances (pengujian substantif rinci atas saldo).

Pengujian substantif transaksi dilakukan untuk menentukan apakah tujuan audit yang berhubungan dengan transaksi telah tercapai di setiap kelas trasnsaksi. Sama halnya dengan pengujian pengendalian, pengujian substantif transaksi juga dilakukan di dalam siklus transaksi bukan terhadap saldo akun. Maka dari itu, dalam praktiknya, pengujian substantif transaksi dilakukan secara bersamaan dengan pengujian pengendalian. Untuk penjelasan berikutnya, pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi akan penulis gabungkan menjadi pengujian pengendalian untuk lebih menyederhanakan penulisan.

2.2.3 Pelaksanaan Prosedur Analitis dan Test of Details of Balances

Seperti halnya yang telah dilakukan di fase perencanaan bahwa prosedur analitis merupakan sebuah kegiatan membandingkan angka yang tercatat dengan ekspektasi dari auditor. Hanya saja pada tahap pengujian kali ini, saldo yang digunakan adalah saldo akun tahun secara keseluruhan yang mana pada tahap perencanaan biasanya akan menggunakan saldo akun data interim. Dua tujuan penting dalam prosedur analitis adalah untuk mencari adanya indikasi kemungkinan salah saji dan memberikan bukti substantif.

Ketika auditor sudah menyimpulkan melalui prosedur analitis bahwa akun yang bersangkutan telah tersaji secara wajar, pengujian substantif rinci atas saldo dapat dihapuskan atau paling tidak jumlah sampel dapat dikurangi. Standar-standar audit menyatakan bahwa prosedur analitis adalah jenis pengujian substantif yang memberikan bukti mengenai saldo akun.

Pengujian substantif rinci atas saldo memiliki fokus terhadap saldo akhir pada buku besar untuk akun-akun baik di dalam neraca maupun di dalam laporan

laba rugi. Hal-hal yang dilakukan dalam pelaksanaan pengujian ini antara lain adalah pemberian konfirmasi terhadap pihak ketiga terkait saldo piutang, pengecekan fisik persediaan, dan pengecekan terhadap pernyataan vendor atas sebuah hutang. Pengujian terhadap saldo dinyatakan esensial karena bukti yang diperoleh biasanya didapat dari pihak ketiga yang berarti sangat dapat diandalkan. Uji saldo yang dilakukan oleh auditor harus dapat memenuhi tujuan audit yang berhubungan dengan saldo, yang akan dijelaskan pada sub bab berikutnya, terhadap seluruh akun yang signifikan.

2.2.4 Penyelesaian Audit dan Laporan Audit

Pada fase ini ada beberapa tahap yang dilakukan oleh auditor sampai akhirnya mereka menerbitkan laporan audit berbeda halnya dengan tiga fase pertama yang mana auditor fokus pada pengujian dan pengumpulan bukti audit untuk mendukung tujuan-tujuan audit. Di fase terakhir ini auditor melakukan pengujian terhadap bukti audit yang telah terkumpul dan menilai apakah bukti-bukti tersebut sudah memenuhi tujuan audit yang berkaitan dengan presentasi dan pengungkapan.

Setelah itu, auditor perlu melakukan reviu terhadap contingent liabilities dan subsequent events. Contingent liabilities adalah kewajiban di masa akan datang yang bersifat hampir sangat mungkin untuk terjadi kepada pihak luar perusahaan yang saldonya belum dapat diketahui. Contingent liabilities yang bersifat material harus diungkapkan di catatan kaki laporan keuangan sedangkan yang nilainya dapat diestimasi secara memadai akan menyebabkan adanya penyesuaian pada laporan keuangan yang sedang diaudit. Sedangkan subsequent events adalah segala sesuatu kejadian yang terjadi di waktu setelah tanggal neraca sampai tanggal penerbitan laporan audit. Kejadian-kejadian ini perlu direviu karena ada potensi dapat mempengaruhi laporan keuangan baik sampai melakukan penyesuaian atau pun tidak.

Tahap berikutnya adalah melakukan pengumpulan bukti final untuk kelengkapan audit secara keseluruhan seperti melakukan prosedur analitis final, mengevaluasi keberlangsungan hidup perusahaan, meminta representation letter

dari manajemen, dan mempertimbangkan seluruh informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan. Berikutnya, auditor akan melakukan evaluasi terhadap hasil dari audit yang telah dijalankan secara keseluruhan sebelum kemudian menerbitkan laporan audit. Jika auditor sudah merasa yakin dengan hasil evaluasi hasil audit mereka, baru mereka akan menerbitkan laporan audit yang berisikan opini.

2.3 Asersi Manajemen

Asersi manajemen merupakan sebuah representasi dari manajemen akan kelas transaksi dan akun yang terkait dan pengungkapan pada laporan keuangan. Asersi manajemen sangat berkaitan dengan standar akuntansi keuangan yang merupakan bagian dari kriteria yang harus diikuti oleh manajemen dalam melakukan pencatatan dan pengungkapan informasi akuntansi di dalam laporan keuangan. SA 326 (2011) mengklasifikasikan asersi manajemen ke dalam tiga kategori:

2.3.1 Asersi Terkait Kelas Transaksi

Asersi manajemen yang berhubungan dengan transaksi menurut Arens et al. (2009) adalah:

Occurrence – Apakah transaksi-transaksi yang tercatat dalam laporan keuangan memang benar-benar terjadi selama periode akuntansi yang bersangkutan

Completeness – Apakah seluruh transaksi yang seharusnya tercatat di dalam laporan keuangan adalah benar-benar sudah tercatat

Accuracy – Apakah saldo yang tercatat dalam setiap transaksi sudahlah tepat

Classification – Apakah transaksi yang tercatat sudah tercatat sesuai dengan akun yang seharusnya

Cutoff – Apakah transaksi sudah tercatat di dalam periode akuntansi yang tepat.

2.3.2 Asersi Terkait Saldo Akun

Ada empat asersi manajemen terkait dengan saldo akun menurut Arens et al. (2009), yaitu:

Existence – Apakah aset, kewajiban, dan ekuitas yang ada di neraca memang ada di dalam periode akuntansi yang terkait

Completeness – Apakah seluruh akun yang seharusnya disajikan di dalam laporan keungan, sudah benar-benar tersajikan

Valuation and Allocation – Apakah aset, kewajiban, dan ekuitas yang tercatat sudah dalam jumlah yang tepat.

Rights and Obligation – Apakah aset yang tercatat memang benar-benar merupakan hak dari perusahaan dan apakah kewajiban yang tercatat adalah memang tanggung jawab perusahaan

2.3.3 Asersi Terkait Penyajian dan Pengungkapan

Asersi manajemen terkait dengan penyajian dan pengungkapan yang diungkapkan dalam Arens et al. (2009) adalah:

Occurrence and Rights and Obligations – Apakah kejadian-kejadian yang diungkapkan memang benar telah terjadi dan adalah merupakan hak dan kewajiban dari perusahaan

Completeness – Apakah seluruh pengungkapan yang diperlukan sudah tersaji dalam laporan keuangan

Accuracy and Valuation – Apakah informasi akuntansi sudah diungkapkan secara wajar dan dalam jumlah yang tepat

Classification and Understandability – Apakah jumlah yang disajikan sudah terklasifikasikan dengan tepat di dalam laporan keuangan dan catatan kaki dan apakah deskripsi jumlah dalam pengungkapan sudah dapat dipahami

2. 4 Tujuan Audit

Arens et al. (2009) menjelaskan bahwa tujuan audit berhubungan erat dengan asersi manajemen. Sehingga tujuan audit ini pun terbagi menjadi tiga

kategori yang sama dengan asersi manajemen, yaitu tujuan audit berhubungan dengan transaksi, tujuan audit berhubungan dengan saldo, dan tujuan audit berhubungan dengan penyajian dan pengungkapan.

2.4.1 Tujuan Audit Berhubungan dengan Transaksi

Tujuan audit berhubungan dengan transaksi ditujukan untuk menjadi kerangka kerja bagi auditor untuk mengumpulkan bukti-bukti yang cukup dan kompeten sesuai yang diminta oleh standar dalam melaksanakan fieldwork atas suatu transaksi. Tujuan audit ini akan sangat digunakan pada saat auditor melaksanakan proses pengujian pengendalian. Hal ini akan membantu auditor dalam menarik kesimpulan atas siklus transaksi tersebut. Terdapat enam tujuan audit berhubungan dengan transaksi sesuai Arens et al. (2009), yaitu:

Occurrence – Memastikan apakah transaksi yang telah dicatat benar-benar terjadi.

Completeness – Memastikan bahwa seluruh transaksi yang telah terjadi dicatat.

Accuracy – Memastikan bahwa transaksi yang tercatat dinyatakan dalam jumlah yang benar serta selain itu informasi dari transaksi akuntansi yang dilakukan telah tepat tercatat.

Posting and Summarization – Memastikan bahwa informasi seluruh transaksi yang terjadi telah ditransfer secara tepat dari jurnal pencatatan transaksi ke pencatatan buku besar pembantu dan pada akhirnya dicatat ke dalam buku besar secara benar.

Classification – Memastikan bahwa transaksi yang terjadi telah dicatat di akun yang benar dan diklasifikasikan secara benar sesuai dasarnya.

Timing – Memastikan bahwa transaksi dicatat pada tanggal yang benar.

2.4.2 Tujuan Audit Berhubungan dengan Saldo

Tujuan audit berhubungan dengan saldo berguna sebagai kerangka kerja bagi auditor untuk mengumpulkan bukti-bukti audit yang cukup dan berkompeten. Perbedaan antara tujuan audit berhubungan dengan transaksi dan tujuan audit

berhubungan dengan saldo adalah tujuan audit berhubungan dengan saldo diaplikasikan pada saldo suatu akun, sedangkan tujuan audit berhubungan dengan transaksi diaplikasikan pada suatu transaksi. Tujuan audit berhubungan dengan saldo akan selalu diaplikasikan ke setiap saldo akhir pada neraca. Terdapat sembilan tujuan audit berhubungan dengan saldo yang diungkapkan Arens et al. (2009), yaitu:

Existence – Memastikan apakah jumlah yang dimasukkan dalam laporan keuangan memang seharusnya dimasukkan. Selain itu, tujuan audit ini ditujukan untuk mencegah terjadinya overstatement.

Completeness – Memastikan bahwa seluruh jumlah yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraca telah dimasukkan ke neraca. Tujuan audit ini ditujukan untuk mencegah terjadinya understatement.

Accuracy – Memastikan bahwa jumlah yang dimasukkan di neraca sudah dinyatakan dalam jumlah aritmatika yang yang tepat. Tujuan ini berhubungan dengan asersi valuasi dan alokasi.

Classification – Menentukan apakah sebuah butir pada daftar klien (client’s listing) telah dimasukkan pada akun yang benar.

Cut-off – Menentukan apakah suatu transaksi dicatat pada periode yang tepat.

Detail Tie-In – Saldo akun yang terdapat pada laporan keuangan didukung oleh detil pada arsip utama dan jadwal (schedules) yang disiapkan oleh klien. Tujuan dari detail tie-in adalah fokus pada detil dari daftar dimana data tersebut disiapkan secara akurat, dibuat dengan benar, dan sesuai dengan buku besar.

Realizable Value – Fokus pada apakah sebuah saldo akun nilainya sudah direduksi untuk penurunan nilai dari nilai historisnya ke dalam nilai yang tepat (net realizable value). Tujuan ini hanya dapat diaplikasikan pada akun-akun aset.

Rights and Obligations – Sejumlah aset harus benar-benar dimiliki sebelum dapat diterima dan dimasukkan pada laporan keuangan. Hal ini dilakukan dalam rangka sebagai pelengkap dari tujuan existing. Hal yang

serupa juga berlaku bagi kewajiban, dimana kewajiban harus benar-benar ditujukan bagi entitas. Hak selalu diasosiasikan dengan aset dan obligasi diasosiasikan dengan kewajiban.

Presentation and Disclosure – Untuk memenuhi tujuan dari presentation and disclosure, auditor akan melakukan tes untuk memastikan bahwa saldo akun pada neraca dan laporan laba rugi serta informasi yang berhubungan telah disajikan dengan tepat dan dijelaskan dengan benar pada badan atau catatan kaki laporan keuangan.

Berbeda halnya dengan tujuan audit berhubungan dengan transaksi, tujuan audit berhubungan dengan saldo ini akan membantu auditor dalam melaksanakan pengujian substantif rinci atas saldo yang kemudian akan lebih lanjut dibahas dalam proses pemilihan sampel terkait dengan pengujian itu sendiri.

Tujuan audit yang berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan sangat identik dengan asersi manajemen terkait penyajian dan pengungkapan yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya. Sehingga penulis merasa tidak perlu lagi untuk disajikan kembali.

2.5 Bukti Audit

Setelah memahami proses audit secara keseluruhan beserta tujuan-tujuan yang hendak dicapai, perlu adanya pemahaman pula mengenai bukti audit. Bukti audit merupakan segala informasi yang digunakan oleh auditor untuk menetapkan apakah informasi yang sedang diaduit memang sudah disajikan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan (Arens et al., 2009).

Ada dua faktor yang menentukan apakah bukti tertentu bersifat mengarahkan, yaitu, kelayakan dan kecukupan (Arens et al. 2009). Kelayakan dari sebuah bukti audit merupakan ukuran atas kualitas dari bukti tersebut yang dilihat dari unsur relevansi dan realibilitasnya dalam mencapai tujuan-tujuan audit. Kecukupan akan bukti audit biasanya dinilai dari jumlah sampel yang dipilih oleh auditor. Sampel yang lebih banyak dapat mengindikasikan bukti yang lebih cukup.

Dalam proses memilih prosedur audit, auditor dapat mengikutsertakan pertimbangan akan jenis-jenis bukti audit yang dapat diperoleh. Ada delapan jenis bukti audit yang dijelaskan di dalam Arens et al. (2009):

1. Pengecekan fisik – inspeksi atau perhitungan akan tangible asset

2. Konfirmasi – bukti tertulis ataupun oral dari pihak ketiga yang bersifat independen guna memverifikasi keakurasian informasi yang diminta oleh auditor

3. Dokumentasi – inspeksi akan dokumen klien dan catatan untuk memeroleh informasi yang ada atau yang seharusnya ada di dalam laporan keuangan

Dokumen terkait