• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Surah

Dalam dokumen Oleh : MHD. NAUVAL KURNIAWAN NIM: (Halaman 33-41)

BAB II KAJIAN TEORITIS PENAMAAN SURAH

B. Definisi Surah

Pengertian surah menurut bahasa, surah atau sering disebut surah artinya mulia atau derajat atau tingkat dari sebuah bangunan. Surah disebutnya dari bagian al-Qur‟ān ini menunjukkan karna

5

M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian

kemuliaannya. Maka jika diibaratkan al-Qur‟ān ini adalah sebuah bangunan, maka surah itu adalah tingkat-tingkatnya.6 Surah juga diartikan sesuatu yang sempurna atau lengkap.7 Dalam KBBI surah juga diartiakan sebagai bagian atau bab dalam al-Qur‟ān.

Sedangkan secara istilah para ahli ilmu al-Qur‟ān berbeda dalam mendefinisikan surah diantaranya:

ْ ُلْاا ِتَ َا ْنِ ٌ َ ِلَتْلُ ٌ َ ِء َ

آ

ِ َلْلَ َو ٍ َ َ ُتاَذ ِف

Artinya: sekelompok atau sekumpulan ayat-ayat al-Qur‟ān yang berdiri sendiri yang mempunyai permulaan dan penghabisan.

Manna Khalil mendefinisikan surah sebagai berikut

ِةَرْ طُّلاَا

:

ْ ُلْاا ِتَ َا ْنِ ُ َ ْ ُْاا َ ِه

آ

ِ َلْلَ ْااَو ِ ْلَ ْاا ُتاَذ ُف

Artinya: Surah adalah kumpulan atau jumlah ayat-ayat al-Qur‟ān yang berdiri sendiri yang memiliki permulaan dan akhiran. Al-Utabi berkata kata al-Surah kadang dengan hamzah tetapi kadang tidak dengan hamzah. Jika membacanya dengan hamzah maka ia menjadi kata as‟arat artinya dia menyisakan. Ini berasal dari kata as-su‟ru yang berarti apa yang tersisa dari minuman di gelas seakan-akan itu sebagian dari al-Qur‟ān.8

Apabila tidak dibaca dengan hamzah maka makna nya berubah menjadi yang akan datang. Atau disebut dengan kata (suurah). Sebagian ulama ada yang menyerupakan kata al-suurah dengan suuri al-bina yang artinya bagian dari bangunan atau satu bagian dari bagian yang lainnya. Ada juga yang mengatakan

6

Liliek Channa dan Syaiful Hidayat, Ulumul Qur‟an dan Pembelajarannya, (Surabaya: Kopertais IV Press, 2010), h. 234.

7

Ahmad Izzan, Ulumul Qur‟an: Telaah Tekstualitas al-Qur‟ān, (Bandung: Tafakkur, 2009), h. 33.

8

bahwa ia berasal dari kata suur al-madidah yang artinya pagar yang mengelilingi kota, karena surah di dalam al-Qur‟ān itu meliput dan menghimpun ayat-ayatnya, seperti dihimpunnya rumah-rumah di dalam pagar. Diantara yang mirip dengan hal tersebut adalah al-siwar yang artinya gelang, karena ia mengelilingi tangan seseorang. Ada juga pendapat yang mengatakan ia dinamakan suurat karena kedudukannya yang mulia, dan karena ia adalah kalam Allah. Dengan demikian, maka, al-suurah berarti al-manzilah al-rafi‟ah.9

Terdapat sembilan kali kata surah yang disebutkan di dalam al-Qur‟ān, baik itu pada bentuk tunggal mau pun pada bentuk jamak (suwar), namun pada bentuk jamak, hanya disebutkan 1 kali. Di dalam al-Qur‟ān, penggunaannya merujuk terhadap suatu unit wahyu yang “diturunkan” oleh Allah Swt. (QS. 9:64, 86, 124, 127; QS. 24:1; QS. 47:20), bukan dalam pengertian “surah” sebagaimana yang dipahami dewasa ini. Penggunaan kata surah, secara konteks merupakan suatu unit wahyu yang mempunyai kemiripan dengan beberapa penggunaan kata ayah, qur‟an dan kitab di dalam al-Qur‟ān. Dahulu, musuh-musuh Nabi ditantang untuk menciptakan “suatu surah yang semisalnya” (QS. 2:23; 10:38) atau “sepuluh suwar yang semisalnya” (QS. 11:13, QS. 28:49), adapun tantangannya yaitu mendatangkan suatu kitab dari Tuhan). Maka, dapat disimpulkan bahwa makna umum dari kata surah yaitu unit wahyu terpisah yang diturunkan kepada Nabi dari

9

waktu ke waktu. Namun, tidak terdapat indikasi apapun dalam al-Qur‟ān mengenai panjang dan pendeknya unit wahyu tersebut.10

Istilah selanjutnya adalah

ٌ َ آ

(ayah) terdapat empat ratus kali dalam al-Qur‟ān, ada yang berbentuk tunggal, ada pula yang jamak. Di dalam al-Qur‟ān, penggunaan kata tersebut bisa dikelompokkan dalam empat konteks (siyaq). Konteks pertama, kata ayah merujuk kepada fenomena kealaman, termasuk manusia, yang disebut sebagai “tanda-tanda” (ayat) kemahakuasaan dan karunia Tuhan. (QS. 45:3-4; QS. 41:37, 39; QS. 42:29, 32; QS. 2:28; QS. 10:4; QS. 22:66; QS. 30:40, 46; QS. 16:14; QS. 36:73; dll.).11

Pada konteks kedua, kata ayah diterapkan kepada peristiwa-peristiwa atau obyek-obyek luar biasa yang dihubungkan dengan tugas seorang utusan Tuhan dan cenderung mengkonfirmasi pesan ketuhanan yang dibawanya. (QS. 43:46-48; QS. 40:78; QS. 17:59; QS. 20:17-24; QS. 27:12-14; QS. 7:130-136; QS. 7:73; QS. 3:49; QS. 15:73-75; QS. 29:24; QS. 54:15; dll.). Senada dengan hal ini,

oposan-oposan Nabi Muhammad turut menuntutnya

mempertunjukkan suatu “tanda” (QS. 2:118; QS. 6:37; QS. 10:20; QS. 13:7; QS. 20:133; QS. 21:5; QS. 29:50), yang tentu saja tidak merujuk kepada “ayat-ayat” al-Qur‟ān, namun kepada mukjizat. Sebagaimana disebutkan dalam QS. 40:78, penciptaan “tanda-tanda” merupakan hak istimewa eksklusif Tuhan. Bahkan Rasul sendiri pun tidak diberi kekuasaan untuk menciptakannya atas kemauan sendiri. Sekiranya suatu “tanda” dari jenis mukjizat

10

Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur‟an, h. 57. 11

tersebut dibawa oleh Nabi Muhammad kepada mereka, maka mereka tetap tidak akan beriman, sebagaimana telah ditegaskan dalam QS. 30:58. Jadi, sehubungan dengan Nabi Muhammad, pada faktanya, al-Qur‟ān menolak bahwa ia mempunyai mukjizat dalam pengertian supranatural (ma fawqa al-fithrah). Namun, beberapa keberhasilan eksternal Nabi dirujuk sebagai “tanda,” seperti janji perolehan pampasan perang yang berlimpah (QS. 48:20) dan kemenangan dalam Perang Badr (QS. 3:13) sebagaimana terjadi dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya. Bahkan, mayoritas sarjana Muslim memandang bahwa al-Qur‟ān itu sendiri adalah mukjizat terbesar pada Nabi (QS. 11:12-13; QS. 6:33-35; dll.).12

Kata ayah dalam konteks ketiga, merujuk kepada “tanda-tanda” yang dibacakan oleh Rasul-Rasul yang diutus oleh Tuhan (QS. 39: 71; QS. 6:130; QS. 67:8; QS. 40:50), atau pada banyaknya kasus yang dibacakan oleh Nabi Muhammad sendiri (QS. 31:7; QS. 45:25; QS. 46:7; QS. 62:2; QS. 65:11; dll.). Pembacaan “tanda-tanda” tersebut mampu menambah keyakinan orang-orang yang beriman, namun para penentang Nabi mengkritiknya sebagai “dongeng-dongeng masa silam” (asathir al-awwalin, QS. 6:25; QS. 8:31; QS. 16:24; QS. 23:83; QS. 25:5; QS. 27:68; QS. 46:17; QS. 68:15; QS. 83:13) terma asathir al-awwalin pada al-Qur‟ān merujuk kepada kisah pengazaban umat-umat terdahulu (seperti dalam QS. 8:31 dan QS. 68:15) dan

12

kebangkitan kembali pada Hari Pengadilan (seperti dalam QS. 23:83; QS. 27:68; QS. 46:17).13

Kata ayah pada konteks keempat disebut sebagai bagian al-Qur‟ān atau kitab atau surah (QS. 10:1; QS. 11:1; QS. 13:1; QS. 15:1; QS. 24:1; QS. 26:2; QS. 27:1; QS. 28:2; QS. 31:2; dll), yang diturunkan oleh Tuhan (QS. 2:99, 202; QS. 3:108; QS. 22:16; QS. 24:34; dll). Maka, dalam konteks ini, kata ayah mempunyai makna unit dasar wahyu terkecil, selaras dengan pemahaman kita saat ini mengenai hal tersebut. Namun, al-Qur‟ān, seperti halnya dengan surah, tidak juga memberikan indikasi mengenai panjang dan pendeknya unit-unit wahyu tersebut.

Apabila hadis dimasukkan ke dalam pertimbangan untuk melihat panjang dan pendeknya unit-unit wahyu yang diterima oleh Nabi, maka jawaban yang diterima sangat lah bermacam ragam. Ada sebuah berita yang mengabarkan bahwa Nabi Muhammad menerima wahyu al-Qur‟ān secara ayat per ayat atau huruf per huruf, terkecuali surah 19 dan 12 yang turunnya sekaligus.14

Nabi, sebagaimana perspektif lain, menerima satu atau dua ayat,15 satu hingga lima ayat atau lebih, lima hingga sepuluh ayat, dan lain-lain.16 Walaupun tidak terdapat kejelasan dari al-Qur‟ān dan hadits tentang panjang dan pendeknya unit wahyu yang diterima oleh Nabi, gagasan mengenai unit wahyu mungkin dapat dibangun dengan mencermati konteks literatur al-Qur‟ān sendiri

13

Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur‟an, h. 58. 14

Shahih Bukhari, Kitab al-Tafsir, (Maktabah Dahlan: tt.), surah 9. 15

Shahih Bukhari, Kitab al-Tafsir, surah 2:18. 16

baik itu pada bentuk peralihan akhiran rima serta peralihan gagasan dalam suatu surah dan mengeksploitasi perbendaharaan klasik Islam, seperti riwayat-riwayat asbabun nuzul dan sebagainya. Langkah seperti hal ini tentu akan sangat membantu dalam upaya menyusun aransemen kronologis unit-unit wahyu yang diterima oleh Nabi.

Seorang penyair bernama al-Nabighah mengatakan:

ىَ َػت َْلََا

َا

َرْ ُ َؾ َلْ َا َالله رَّف

ًة

ُبَذْبَذَتَػ ََ ْ َ ٍ ْ َ رَّ ُ ىَ َػت

Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah telah memberimu surah (kedudukan yang mulia), sehingga kamu mengetahui bahwa setiap malaikat di sekelilingnya mondar-mandir.17

Pendapat lain juga mengatakan, ia disebut dengan surah, karena terangkainya bagian surah itu dengan bagian yang lain, diambil dari kata tasawwur yang berarti tashaa‟ud wa at-tarakub, ini diambil dari makna firman Allah SWT. “Idz tasawwaruul-mihraab” (QS. Shaad: 2). Definisi surah adalah Qur‟an yang memuat beberapa ayat yang dibuka dan diakhiri dan jumlah paling sedikit 3 ayat. Demikian merupakan pendapat Imam al-Jabari. Pendapat lain juga mengatakan bahwa surah adalah kumpulan ayat yang tersusun secara tauqifi, yaitu yang diberi nama dengan nama secara khusus dengan ketetapan dari Nabi SAW.18

Ada sebagian ulama yang tidak senang apabila dikatakan, “Ini surah ini dan ini surah itu”, karena ada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Imam Baihaqi dari Anas

17

Al-Suyuti, al-Itqān Fī „Ulūm al-Qur‟ān, h. 222. 18

(hadis marfu‟), “Janganlah kamu mengatakan ini surah al-Baqarah, ini surah Āli „Imrān, dan ini surah al-Nisa. Demikian juga al-Qur‟ān secara keseluruhan. Tetapi katakanlah, “Inilah surah yang disebutkan di dalamnya al-Baqarah, dan surah yang disebutkan di dalamnya Āli „Imrān, demikian juga al-Qur‟ān secara keseluruhan.” Tetapi hadis ini sanadnya dho‟if, bahkan Ibnu al-Zaujiy menganggap hadis ini maudhu‟.19

Jadi, jika diperhatikan dan ditelaah secara mendalam, nama-nama surah dalam al-Qur‟ān dengan berbagai pengertian seperti yang disebutkan di atas memiliki beberapa kepentingan diantaranya:20

1. Siapa yang membacanya dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan segala isi muatannya, niscaya ia akan memperoleh berbagai tingkat dalam ilmu pengetahuan.

2. Surah-surah dalam al-Qur‟ān itu menjadi tanda permulaan dan penghabisan untuk setiap bagian tertentu dari al-Qur‟ān. 3. Surah-surah dalam al-Qur‟ān laksana gedung-gedung yang

sangat indah yang di dalamnya memuat berbagai ilmu pengetahuan dan hikmah.

4. Setiap surah mengandung beberapa hal yang lengkap dan sempurna.

Setiap surah al-Qur‟ān satu sama lain berhubungan erat, tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya seakan-akan merupakan tangga yang bertingkat-tingkat.

19

Al-Suyuti, al-Itqān Fī „Ulūm al-Qur‟ān, h. 223. 20

Dalam dokumen Oleh : MHD. NAUVAL KURNIAWAN NIM: (Halaman 33-41)

Dokumen terkait