• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Pembukaan Surah al-Nisa dan al-Thalaq

Dalam dokumen Oleh : MHD. NAUVAL KURNIAWAN NIM: (Halaman 70-77)

BAB IV ANALISIS KONTEN TERHADAP SURAH

B. Perbandingan Pembukaan Surah al-Nisa dan al-Thalaq

1. Surah al-Nisa ayat 1

س لۡ رَّػ نِّ ُ َلَ َخ يِذرَّا ُ ُ رَّبَر ْا ُلرَّػت ُس رَّيا َ طُّػ َٓ َيَ

ٖ

ةَ ِ َو

ٖ

َ َ لۡوَز َ لۡػيِ َقَ َخَو

ؿ َ ِر َ ُ لۡػيِ رَّثَبَو

ٗ

يرِثَ ا

ٗ

ءٓ َلِ َو ا

ٗ

ََۚـ َ لۡرَلۡا َو ۦِ ِب َف ُاَءٓ َلَت يِذرَّا َرَّللَّ ْا ُلرَّػت َو َۚ

ب ِقَر لۡ ُ لۡ َ َ َف َ َرَّللَّ رَّفِإ

ٗا

١

4

M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian

al-Qur‟an, Vol. 14, h. 127.

5

Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, t.t), jilid 18, h. 621.

6

A. Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al-Qur‟an Surah

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

Quraisy Shihab dalam tafsir al-Mishbah menjelaskan ayat pertama surah al-Nisa ini merupakan pengantar untuk lahirnya persatuan dan kesatuan sesama manusia, serta tolong menolong dan saling mengasihi. Hal ini disebabkan tiap manusia asalnya adalah sama yaitu dari satu keturunan, antara perempuan dan laki-laki tidak memiliki perbedaan, besar atau kecil, mempunyai agama atau tidak. Semuanya diminta untuk berdamai dan saling menghormati dalam bermasyarakat, memberikan rasa aman untuk menghormati hak-hak asasi manusia. Selanjutnya, menurut beliau, walaupun surah al-Nisa ini menjelaskan kesatuan dan kesamaan orang per orang dari segi hakikat kemanusiaan, konteksnya untuk memaparkan banyak dan berkembang biaknya mereka dari seorang ayah, yakni Adam, dan seorang ibu, yakni Hawa.7

Pembahasan utama pada kalimat wa khalaqa minha zaujaha yaitu mengenai proses penciptaan pasangan dari nafs wahidah. Para mufassir, secara umum mengartikannya sebagai Hawa yang proses penciptaannya adalah tercipta dari tulang

7

M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian

rusuk sebelah kiri Adam yang keras dan bengkok.8 Akan tetapi, sebagian mufassir membantah dengan memiliki pendapatnya sendiri yakni Hawa diciptakan dari jenis yang sama tanpa mempunyai perbedaan dengan adam, cukup banyak ulama kontemporer yang memahaminya secara metaforis. Tak hanya itu saja, namun terdapat juga ulama yang menolak keshahihan hadis yang mereka argumentasikan.9

Melihat perbandingan pendapat tersebut, bisa dipahami dengan mempertentangkan keduanya, yakni memahami bahwa dengan perkawinan Adam dan Hawa yang diciptakan Allah swt, maka, bisa tercipta dan lahir lah manusia-manusia lain dengan banyak, baik itu perempuan maupun laki-laki, begitu juga para manusia selanjutnya dapat berkembang sampai akhir kehidupannya. Adapun makna perempuan yang dijelaskan sebagai pasangan suaminya, hal ini diwujudkan hanya dengan melaksanakan perkawinan yang sah.10 Manusia mampu berkembang dari kedua suami dan istri, hanya melalui perkawinan tersebut, sehingga manusia dapat berkembang dengan jumlah yang banyak, baik itu pada suatu suku dan bangsa, atau pada kelompok-kelompok tertentu, baik itu perempuan (Nisa‟) atau laki-laki (Rijal) yang mereka semua tidak memiliki hak dan tanggung jawab yang berbeda dalam

8

Imam Ibn Katsir al-Qursyi al-Damasyqiy, Tafsir al-Qur‟an al-„Azim, (Beirut al-Fikr, 1992), juz. I, h. 553-554.

9

M. Quraisy Shihab, Wawasan al-Qur‟an; Tafsir Maudhu‟i atas

Pelbagai Persoalan Umat, (Jakarta: Mizan, 1996), cet. III, h. 300.

10Marwati, “Pemberdayaan Perempuan; Kajian Tafsir al-Qur‟an Surah

melaksanakan pesan dan amanat dari Allah Swt., mereka hanya berbeda pada masing-masing kualitas ketakwaannya.11

Kata “al-Nisa‟”, adalah bentuk jamak dari “mar‟ah” atau “imra‟ah”, hal ini disebabkan bentuk jamaknya bukan berasal dari lafal aslinya. Begitu juga kata “al-Kaum” adalah jamak dari “al-Mar‟u” sedangkan “al-Mar‟ah” adalah untuk jamak “al-Nisa‟ al-Niswan dan al-Niswah”.12

Secara filologi bahasa Arab, ia serumpun dengan kata “al-Nisa” yang artinya lembut dan menentramkan.13 Definisi tersebut identik dengan bentukan kata dari al-Nisa ya‟nisu, anusa-ya‟nisu, anasa–ya‟nisu, yang berarti “rumah, suka”. Kata anusa–ya‟nisu menjadi jinak, merasa sesuatu, melihat, mendengar, dan mengetahui”, akan tetapi, kata terakhir ini digunakan dalam al-Qur‟ān dengan arti melihat.14

Maka, terdapat hubungan dengan bentukan kata yang berakar dari hamzah, nun dan sin yang identik dengan sifat-sifat umumnya seorang manusia. Jika hak, tugas, dan peranan wanita sebagaimana disebutkan di atas (keluarga) dilaksanakan penuh tanggung jawab, maka akan memberikan peranan yang lebih besar pada kehidupannya, terkhusus dalam kebahagiaan

11Marwati, “Pemberdayaan Perempuan; Kajian Tafsir al-Qur‟an Surah

al-Nisa Ayat 1”, Jurnal Adabiyah, h. 106.

12Marwati, “Pemberdayaan Perempuan; Kajian Tafsir al-Qur‟an Surah

al-Nisa Ayat 1”, Jurnal Adabiyah, h. 106.

13Marwati, “Pemberdayaan Perempuan; Kajian Tafsir al-Qur‟an Surah

al-Nisa Ayat 1”, Jurnal Adabiyah, h. 106.

14

Abdul Muin Salim, Fiqh Siyasah: Konsepsi Kekuasaan Politik dalam

dan kesejahteraan yang dihiasi cinta dan kasih sayang,15 anak-anak, serta keluarga yang lain. Dengan demikian maka akan terhindar dan turut selamat dari jilatan api neraka.16

2. Surah al-Thalaq ayat 1

َرَّللَّ ْا ُلرَّػت َو َةرَّ ِعلۡا ْا ُصلۡ َأَو رَّنِِتِرَّ ِعِا رَّنُه ُلِّ َلَ َءٓ َلِّيا ُ ُتلۡلرَّ َ اَذِإ طُِّبِرَّيا َ طُّػ َٓ َيَ

َلِ َ ِب َيِتلَۡيَ فَأ ٓرَّلاِإ َنلۡ ُ لَۡيَ َلاَو رَّنِِتِ ُ ُػب ۢنِ رَّنُه ُ ِ لُۡتَ َلا لۡ ُ رَّبَر

ٖ

َيِّ َػ طُّ

ٖ

َ لۡ ِتَو َۚ

ُثِ لُۡيَ َرَّللَّ رَّ َعَا يِرلۡ َت َلا َۚۥُ َللۡ َػ َ َ َظ لۡ َلَػ ِرَّللَّ َدوُ ُ رَّ َعَػتَػ نَ َو َِۚرَّللَّ ُدوُ ُ

لۡ َأ َ ِا َذ َ لۡعَػب

ٗا

١

“Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu iddah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) ke luar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.”

Quraisy Shihab dalam tafsir al-Mishbah menjelaskan ayat pertama surah al-Thalaq ini yakni kata

ُ ُتلۡلرَّ َ

berasal dari akar kata yang artinya adalah melepas. Allah mengukuhkan hubungan suami dan istri yang terbentuk melalui akad nikah sebagai mitsaqan galizhan/ikatan yang sangat kukuh. Dengan demikian, maka ketika seorang suami menceraikan istrinya,

15Marwati, “Pemberdayaan Perempuan; Kajian Tafsir al-Qur‟an Surah

al-Nisa Ayat 1”, Jurnal Adabiyah, h. 107.

16Marwati, “Pemberdayaan Perempuan; Kajian Tafsir al-Qur‟an Surah

ini berarti bahwa ia melepaskan ikatan tersebut. Dari sini lah, perceraian diberi nama dengan thalaq atau pelepasan ikatan.17

„Iddah yaitu masa tunggu yang wajib bagi istri yang berpisah dengan suaminya, baik itu karena kematian suami atau perceraian semasa hidup. Adapun tujuan menceraikan istri saat ia suci alias bukan pada waktu haidnya yakni untuk memberi batasan waktu perceraian supaya tidak sembarangan dalam menjatuhkannya kapan saja.18 Sedangkan tujuan dari „iddah adalah untuk memelihara kehormatan wanita tersebut dan kehormatan suaminya juga jika tiba-tiba tergerak hati mereka untuk rujuk kembali.19

Menurut al-Qurthubi dalam tafsirnya ia menjelaskan tentang ayat pertama surah al-Thalaq ini terdapat beberapa pembahasan yaitu pertama,

َءٓ َلِّيا ُ ُتلۡلرَّ َ اَذِإ طُِّبِرَّيا َ طُّػ َٓ َيَ

“Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu, pesan ini ditujukan untuk Nabi Saw. beliau diarahkan dengan lafadz jamak, hal ini disebabkan untuk mengagungkan dan memuliakan beliau.20

Qatadah meriwayatkan dari Anas, ia berkata bahwa Rasulullah Saw. menceraikan Hafsah, lalu Hafsah datang pada keluarganya. Allah kemudian menurunkan kepada beliau

17

M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian

al-Qur‟an, Vol. 14, h. 133.

18

M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian

al-Qur‟an, Vol. 14, h. 133.

19

M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian

al-Qur‟an, Vol. 14, h. 135.

20

رَّنِِتِرَّ ِعِا رَّنُه ُلِّ َلَ َءٓ َلِّيا ُ ُتلۡلرَّ َ اَذِإ طُِّبِرَّيا َ طُّػ َٓ َيَ

, dikatakan kepada beliau “rujuklah ia, sebab ia adalah wanita yang banyak beribadah lagi banyak berpuasa dan ia termasuk dari istri-istrimu di surga.”21

Menurut al-Kalbi, asbabun nuzul ayat ini yaitu marahnya Nabi Saw. kepada Hafsah, saat beliau bercerita mengenai sebuah rahasia kepadanya, kemudian dia menceritakan rahasia tersebut kepada Aisyah. Setelah itu, beliau menceraikan Hafsah dengan talak satu kemudian turunlah ayat ini.22

Berdasarkan ayat pertama ini dapat disimpulkan bahwa al-Qur‟ān menghalalkan talak, namun memiliki syarat-syarat dan ketentuan tertentu. Meskipun suami yang memiliki hak untuk menalak, namun tetap tidak boleh sembarangan dalam menggunakannya. Apabila seorang suami memiliki inisiatif untuk menalak istrinya, maka suami harus melihat pada keadaan istrinya, supaya masa iddahnya tidak semakin lama dan panjang. Selain itu, ayat ini juga menjelaskan bahwa saat terjadi perceraian harus ada saksinya. Dengan demikian, hak suami maupun istri akan tetap terlindungi sebaik mungkin.23

Selanjutnya, ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah memberikan penghargaan yang sangat besar kepada para perempuan dalam penjatuhan talak. Allah tidak membenarkan

21

Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, jilid 18, h. 619. 22

Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, jilid 18, h. 620. 23

Hemnel Fitriawati dan Zainuddin, “Talak dalam Perspektif Fikih, Gender, dan Perlindungan Perempuan”, Yinyang: Jurnal Studi Islam, Gender

para suami untuk sembarangan menjatuhkan talak kepada istri. Tujuannya adalah membatasi hak para suami. Dengan demikian, derajat perempuan akan terangkat dan terlindungi dengan sangat baik24.

Hal ini memberikan indikasi bahwa antara perempuan dan laki-laki mempunyai kesamaan kedudukan dan kesetaraan. Dengan demikian, salah satu pihak tidak dibenarkan untuk menzalimi pihak yang lain. Maka, al-Qur‟ān telah mengusahakan untuk mengangkat derajat para perempuan setinggi-tingginya. Tak hanya sampai situ, bahkan disetarakan dengan laki-laki kecuali dalam hal-hal tertentu. Oleh sebab itu, kesimpulannya adalah hak perempuan dan laki-laki relatif seimbang dengan pengecualian tertentu.25

Dalam dokumen Oleh : MHD. NAUVAL KURNIAWAN NIM: (Halaman 70-77)

Dokumen terkait