BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
A. Diabetes Melitus (DM)
1. Definisi
Clinical Diabetes Association [CDA] (2013), Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2008), International Diabetes Federation (2014), dan World Health Organization (2005) mendefinisikan diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan adanya hiperglikemia (kadar gula darah melebihi normal), yang terjadi akibat salah satu kondisi berikut yaitu tidak diproduksinya insulin atau tidak cukupnya produksi insulin atau bahkan ketidakeefektifan penggunaan insulin oleh tubuh. Adanya kondisi tersebut, menyebabkan glukosa gagal memasuki sel sehingga tidak dapat diubah menjadi energi. Jika terkena DM, strategi pengurangan risiko multifaktor dan perawatan medis yang kontinu sangat diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa (ADA, 2014).
2. Klasifikasi Diabetes a. Diabetes tipe 1
Diabetes tipe 1 sebelumnya dikenal sebagai insulin dependent, biasanya terjadi pada remaja atau anak, dan terjadi karena kerusakan sel β (beta) yang diduga karena proses autoimun (CDA, 2013 dan WHO, 2014). DM tipe 1 ini ditandai dengan kekurangan produksi insulin absolut sehingga membutuhkan pemberian insulin harian (ADA, 2014; CDA, 2013; dan WHO, 2014).
a. Diabetes tipe 2
Diabetes tipe 2 yang sebelumnya disebut non insulin dependent dan biasanya terjadi pada usia dewasa (WHO, 2015), dapat disebabkan oleh resistensi insulin atau defisiensi insulin (ADA, 2014 dan CDA, 2013). Seringkali diabetes tipe 2 didiagnosis beberapa tahun setelah onset, yaitu setelah komplikasi muncul. Oleh karena itu, insidensinya tinggi yaitu sekitar 90% dari penderita diabetes di seluruh dunia dan sebagian besarnya merupakan akibat dari memburuknya faktor risiko seperti kelebihan berat badan dan kurangnya aktivitas fisik (WHO, 2015).
b. Diabetes gestational
Gestational diabetes mellitus (GDM) adalah diabetes yang didiagnosis selama kehamilan (ADA, 2014) dan ditandai dengan hiperglikemia (kadar glukosa darah di atas normal) (CDA, 2013 dan WHO, 2015). Wanita dengan diabetes gestational memiliki peningkatan risiko komplikasi selama kehamilan dan saat melahirkan, serta memiliki risiko diabetes tipe 2 yang lebih tinggi di masa depan (IDF, 2014).
c. Tipe diabetes lainnya
Diabetes tipe lainnya disebabkan karena kondisi seperti beberapa hal berikut:
1) Maturity onset diabetes of the young (MODY)
Tipe diabetes ini terjadi karena adanya kerusakan 6 monogenetik pada fungsi sel islet glukokinase atau pada beberapa faktor transkripsi seperti HNF-1 alpha, HNF-4alpha, IPF-1 yang kemudian membentuk pola dominan autosomal dan menyebabkan gangguan pelepasan insulin dan juga umumnya terjadi hiperglikemia sebelum usia 25 tahun (ADA, 2014; CDA, 2013; dan Pittas dan Greenberg, 2003).
2) Kerusakan genetik dalam aksi insulin
Gen insulin mutan yaitu insulin yang memperlihatkan adanya gangguan ikatan (jarang terjadi) dan mutasi reseptor insulin sehingga terjadi gangguan pada kinerja insulin (ADA, 2014; CDA, 2013; dan Pittas & Greenberg, 2003).
3) Penyakit pankreas eksokrin
Pankreas dapat mengalami kerusakan luas karena adanya kondisi trauma, infeksi, chronic necrotizing pancreatitisdan karsinoma pankreas, cystic fibrosis dan hemochromatosis sehingga menyebabkan penyakit DM (ADA, 2014 dan Pittas & Greenberg, 2003).
4) Endokrinopati
Adanya kondisi seperti akromegali, sindrom cushing, glucagonoma dan pheochromocytoma, dapat menyebabkan diabetes karena terjadi kelebihan sekresi hormon yang merupakan
antagonis insulin yaitu hormon pertumbuhan, kortisol, glukagon dan epinefrin (Pittas & Greenfberg, 2003).
5) Obat-obatan yang menginduksi penyakit diabetes
Banyak golongan obat yang dapat merusak resistensi insulin atau sekresi insulin sehingga menyebabkan diabetes pada individu yaitu mengandung substansi seperti glukokortikoid sintetik, yaitu siklosporin A, asam nikotinat, interferon, pentamidin, diuretik thiazide (ADA, 2014; CDA, 2013; dan Pittas & Greenberg, 2003).
6) Infeksi
Rubella kongenital adalah virus yang paling umum terlibat dalam perkembangan diabetes. Selain itu terdapat coxsackievirus B, adenovirus, gondok dan sitomegalovirus semuanya telah terlibat dalam menginduksi kejadian DM (Pittas & Greenberg, 2003).
3. Manifestasi Klinis
a. Pada permulaan gejala akan timbul keluhan “TRIAS”
1) Polidipsia (banyak minum)
Polidipsia atau rasa haus berlebihan terjadi karena tingginya glukosa darah yang menyebabkan perubahan proses pada ginjal yaitu difusi (pertukaran zat dari tekanan rendah ke tinggi) menjadi osmosis (pertukaran zat dari tinggi ke rendah) sehingga pada akhirnya meningkatkan osmolaritas darah dan
membuatnya lebih terkonsentrasi (Diabetes Research Wellness Foundation [DRWF], 2015). Kondisi tersebut menyebabkan air yang ada di pembuluh darah terambil oleh ginjal sehingga pembuluh darah menjadi kekurangan air yang menyebabkan penderita menjadi cepat haus (Polidipsia).
2) Poliuria (banyak buang air kecil)
Poliuria atau peningkatan frekuensi buang air kecil yaitu karena hiperfiltrasi pada ginjal sehingga kecepatan filtrasi ginjal juga meningkat. Akibatnya, glukosa dan natrium yang diserap ginjal menjadi berlebihan sehingga urin yang dihasilkan banyak dan membuat penderita menjadi cepat pipis (Poliuri).
3) Polifagia (rasa lapar yang semakin besar) namun berat badan menurun
Polifagia (rasa lapar yang semakin besar) (ADA, 2014; dan Pittas & Greenberg, 2003) terjadi akibat glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel target dan berubah menjadi glikogen untuk disimpan di dalam hati sebagai cadangan energi karena insulin tidak bekerja maksimal. Oleh karena itu, sumber tenaga terpaksa diambil dari cadangan lain yaitu sel lemak dan otot. Akibatnya penderita kehilangan jaringan lemak dan otot serta penurunan nafsu makan sehingga menjadi kurus, mengeluh lapar, lelah, kurang konsentrasi, dan mengantuk (ADA, 2014 dan Price& Wilson, 2005).
b. Kadar glukosa darah 2 jam sesudah makan ≥ 200 mg/dl (normal: 100-140 mg/dl) (Tjokroprawiro, 2006).
c. Kadar glukosa darah pada waktu puasa ≥ 126 mg/dl (normal: 70-120
mg/dl) (Tjokroprawiro, 2006). 4. Faktor Risiko
Menurut American Diabetes Association (2014), faktor risiko diabetes antara lain:
a. Faktor risiko yang tidak dapat diubah
1) Riwayat keluarga terkena DM
Diabetes melitus cenderung diturunkan, bukan ditularkan. Mengetahui adanya risiko DM terutama jika memiliki riwayat keluarga terkena DM seperti orang tua dan saudara kandung, maka dapat membantu seseorang memahami dan mengambil langkah-langkah untuk menurunkan risiko DM (ADA, 2014).
2) Usia
Semakin bertambahnya usia maka semakin tinggi risiko terkena diabetes DM. Meningkatnya risiko DM ini dikaitkan dengan tejadinya penurunan fungsi fisiologis tubuh. DM tipe 2 terjadi pada orang dewasa setengah baya, yang paling sering setelah usia 45 (American Heart Association [AHA], 2012). Di Indonesia, tingkat diabetes didiagnosis di kalangan orang berusia 65-74 (DEPKES RI, 2009).
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009), kategori umur manusia yaitu balita 0-5 tahun, kanak-kanak 5-11 tahun, remaja awal 12-16 tahun, remaja akhir 17-25 tahun, dewasa awal 26-35 tahun, dewasa akhir 36-45 tahun, lansia awal 46-55 tahun, lansia akhir 56-65 tahun, dan manula 65 tahun ke atas.
3) Ras dan Etnis
Berdasarkan penelitian terakhir di 10 negara menunjukkan bahwa bangsa Asia lebih berisiko terserang diabetes melitus dibandingkan bangsa Barat (IDF, 2009) karena secara keseluruhan bangsa Asia kurang berolahraga dibandingkan bangsa-bangsa di benua Barat. Selain itu, kelompok etnik tertentu juga berpengaruh terutama Cina, India, dan Melayu lebih berisiko terkena diabetes mellitus (Rahayu, 2012).
b. Faktor risiko yang dapat diubah 1) Obesitas
Obesitas dapat didefinisikan sebagai kelebihan lemak tubuh dengan kriteria indeks massa tubuh (IMT)>25 (WHO, 2015). Obesitas merupakan faktor predisposisi terjadinya resistensi insulin karena penumpukan lemak tubuh akan memblokir kerja insulin dan glukosa darah yang tidak dapat diangkut ke dalam sel sehingga kadar gula darah akan meningkat (AHA, 2012; IDF, 2009; dan Rahayu, 2012).
2) Hipertensi
Hipertensi merupakan suatu keadaan tingginya tekanan darah melebihi 140/90 mmHg melalui pengukuran tekanan darah minimal sebanyak dua kali untuk lebih memastikan keadaan tersebut (WHO, 2015). Hipertensi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan resistensi insulin dan kondisi hipertensi juga seringkali terjadi ketika seseorang telah terkena diabetes dengan insidensi yang meningkat dua kali lipat (AHA, 2012 dan IDF, 2009).
3) Stres
Kondisi stres kronik dikaitkan dengan kecendrungan pola konsumsi makanan berlemak sehingga lemak tubuh menumpuk dan dapat memblokir kerja insulin (Rahayu, 2012).
4) Riwayat diabetes gestasional
Diabetes gestasional dapat terjadi sekitar 2-5 % pada ibu hamil. Biasanya diabetes akan hilang setelah anak lahir. Namun, dapat pula terjadi DM lanjutan. Ibu hamil yang menderita DM akan melahirkan bayi besar dengan berat badan lebih dari 4000 gram (IDF, 2009). Apabila hal ini terjadi, maka ibu kemungkinan besar akan terkena DM tipe 2 (AHA, 2012).
5) Diet yang tidak sehat
Kondisi kurang gizi (malnutrisi) maupun kelebihan berat badan dapat dapat mengakibatkan gangguan kerja insulin (Rahayu, 2012).
6) Kurang aktifitas fisik
Aktifitas fisik secara teratur dapat menambah sensitifitas insulin, melancarkan peredaran darah, dan menurunkan faktor risiko terjadinya diabetes melitus (AHA, 2012). Glukosa dalam darah akan dibakar menjadi energi, sehingga sel-sel tubuh menjadi lebih sensitif terhadap insulin (IDF, 2009). Prevalensi DM mencapai 2-4 kali lipat terjadi pada individu yang kurang aktif dibandingkan dengan individu yang aktif (Rahayu, 2012).
7) Alkohol
Alkohol dapat menyebabkan terjadinya inflamasi kronis pada pankreas yang dikenal dengan istilah pankreatitis sehingga dapat menimbulkan gangguan produksi insulin dan akhirnya dapat menyebabkan DM (Rahayu, 2012).
8) Kerusakan toleransi glukosa atau impaired glucose tolerance (IGT)
Adanya kerusakan toleransi glukosa yaitu kondisi glukosa yang tinggi namun belum cukup dikatakan DM, menjadi risiko yang hampir akan menandakan terjadinya DM (IDF, 2009).
Kriteria diagnosis IGT yaitu 140 mg/dL - 199 mg/dL (ADA, 2014) atau 7.8 mmol/L-11.0 mmol/L (CDA, 2013).
9) Buruknya nutrisi selama kehamilan
Nutrisi sangat penting untuk janin saat hamil. Apabila nutrisi buruk, maka akan meningkatkan risiko terkena DM (IDF, 2009).