Menembus Realitas Sejati dengan Mempertajam Kemampuan Pengendalian
DELAPAN: KESABARAN DAN KETEKUNAN
Jika anda berlatih dengan usaha gigih, tanpa mengindahkan kemelekatan pada tubuh atau kehidupan, anda dapat mengembangkan energi pembebasan yang akan membawa anda pada tingkatan praktik lebih lanjut. Sikap gigih seperti itu tidak hanya memuat bagian ketujuh, tetapi juga merupakan cara kedelapan dalam mengembangkan kemampuan pengendalian. Kualitas kedelapan adalah kesabaran dan ketekunan menghadapi rasa sakit, khususnya rasa sakit tubuh.
Semua yogi sudah terbiasa dengan sensasi tidak menyenangkan yang timbul selama satu sesi duduk, penderitaan batin yang timbul sebagai reaksi terhadap sensasi ini, dan lebih dari itu pikiran yang menolak untuk dikendalikan seperti yang seharusnya dilakukan dalam praktik.
Satu jam duduk membutuhkan kerja keras. Pertama, anda mencoba menjaga pikiran pada objek utama selama mungkin. Pembatasan dan pengendalian ini bisa sangat mengancam pikiran, yang terbiasa liar. Proses menjaga perhatian menimbulkan ketegangan. Ketegangan pikiran ini, penolakan pengendalian, adalah salah satu bentuk penderitaan.
Ketegangan pun timbul. Dalam waktu singkat, anda dikepung oleh rasa sakit. Lebih dari sekedar penolakan awal dan rasa sakit itu sendiri anda mempunyai tugas cukup berat di tangan. Pikiran anda mengerut, tubuh anda kaku, anda kehilangan kesabaran melihat pada rasa sakit di tubuh secara langsung. Sekarang, pikiran anda menjadi kerdil. Mungkin dipenuhi oleh kebencian dan kemarahan. Penderitaan anda menjadi tiga kali lipat: penolakan awal pikiran, rasa sakit di tubuh yang sesungguhnya, penderitaan mental akibat rasa sakit di tubuh. Inilah saat sangat baik menerapkan penyebab kedelapan untuk menguatkan kemampuan pengendalian, kesabaran dan ketekunan, serta mencoba melihat rasa sakit secara langsung. Jika anda tidak siap bersabar menghadapi rasa sakit, anda hanya membiarkan pintu terbuka bagi kekotoran batin, seperti keserakahan dan kemarahan. “Oh, saya benci rasa sakit ini. Jika saja saya dapat kembali pada kenyamanan yang saya alami lima menit lalu.” Dengan keberadaan kemarahan dan keserakahan, serta tanpa kesabaran, pikiran menjadi bingung dan juga terperdaya. Tak ada objek yang jelas, anda tidak mampu melihat sifat sejati rasa sakit.
Pada saat itu, anda percaya rasa sakit adalah duri, satu rintangan dalam latihan. Lalu anda memutuskan mengubah posisi agar dapat “berkonsentrasi lebih baik.” Jika gerakan itu menjadi kebiasaan, anda akan kehilangan kesempatan memperdalam praktik meditasi anda. Ketenangan dan keheningan batin memiliki landasan dalam tubuh yang tetap tenang.
Bergerak terus-menerus adalah sebenarnya cara terbaik menyembunyikan sifat sejati rasa sakit. Rasa sakit mungkin sudah ada di depan hidung anda, unsur paling dominan pengalaman anda, tetapi anda menggerakkan tubuh sehingga tidak melihatnya. Anda kehilangan kesempatan emas untuk mengerti apa sebenarnya rasa sakit itu.
Sebenarnya kita selalu ditemani rasa sakit sejak kita dilahirkan di planet ini. Ia demikian dekat sepanjang kehidupan kita. Mengapa kita lari darinya? Jika rasa sakit timbul, jadikanlah ia sebagai kesempatan
berharga untuk benar-benar mengerti sesuatu yang lumrah dengan cara baru dan mendalam.
Kadang-kadang ketika anda tidak bermeditasi, anda dapat melatih kesabaran terhadap rasa sakit, khususnya ketika anda sedang berkonsentrasi pada sesuatu yang menarik perhatian. Katakanlah anda adalah seorang penggemar permainan catur. Anda duduk dan sungguh-sungguh memperhatikan papan catur, di mana musuh anda baru saja melakukan langkah luar biasa, menempatkan anda pada keadaan sekakmat. Anda mungkin telah duduk di kursi itu selama dua jam, tetapi anda tidak merasa kram karena anda menyusun strategi untuk terhindar dari posisi menyulitkan tersebut. Pikiran anda secara total tenggelam dalam gagasan. Jika anda memang merasa sakit, anda mungkin dapat mengabaikannya hingga anda mendapatkan langkah terbaik.
Berlatih kesabaran dalam praktik meditasi jauh lebih penting, karena mengembangkan kebijaksanaan lebih tinggi dibandingkan dengan permainan catur, dan mampu mengeluarkan kita dari bahaya lain yang lebih mendasar.
Strategi Menghadapi Rasa Sakit
Tingkat penembusan ke dalam sifat sejati setiap fenomena tergantung pada seberapa jauh tingkat konsentrasi yang telah kita kembangkan. Semakin kuat pikiran terpusat, semakin dalam ia menembus dan memahami kenyataan. Ini sungguh berlaku saat seseorang menyadari rasa sakit. Jika konsentrasi lemah, kita tidak akan benar-benar merasakan ketidak-nyamanan yang selalu ada dalam tubuh kita. Ketika konsentrasi semakin dalam, bahkan sedikit ketidak-nyamanan menjadi begitu jelas sehingga ia tampak diperkuat dan dilebihkan. Sebagian besar manusia rabun terhadap perasaan ini. Tanpa kaca mata konsentrasi, dunia terlihat berkabut, kabur dan tidak jelas. Tetapi ketika kita mengenakannya, semua menjadi terang dan jelas. Hal itu bukanlah objeknya yang telah berubah, melainkan
ketajaman penglihatan kita.
Ketika anda melihat dengan mata telanjang pada setetes air, anda tidak melihat banyak hal. Tetapi jika anda meletakkan sampel di bawah mikroskop, anda mulai melihat banyak hal di sana. Banyak yang bergerak, menari, menakjubkan untuk dilihat. Jika dalam meditasi anda mampu menggunakan kaca mata konsentrasi, anda akan terkejut atas berbagai perubahan yang terjadi di titik sakit yang tampaknya membosankan dan tidak menarik. Semakin dalam konsentrasi, semakin dalam pula pemahaman anda akan rasa sakit. Anda akan semakin terpikat ketika anda dapat melihat dengan lebih jelas bahwa rasa sakit ini sebenarnya merupakan aliran yang selalu berubah, dari satu sensasi ke sensasi lainnya, berubah, berkurang, bertambah kuat, turun naik dan menari. Konsentrasi dan perhatian penuh akan semakin dalam dan tajam. Pada saat pertunjukkan semakin menakjubkan, timbul suatu akhir yang tiba-tiba dan tidak terduga, seperti layar yang turun dan rasa sakit lenyap secara ajaib.
Orang yang tidak mampu meningkatkan keberanian atau usaha yang cukup untuk melihat rasa sakit tidak akan pernah memahami potensi yang ada di dalamnya. Kita harus mengembangkan keberanian, usaha gigih, untuk mengamati rasa sakit. Marilah belajar untuk tidak lari dari rasa sakit, melainkan langsung menghadapinya.
Ketika rasa sakit timbul, strategi pertama adalah segera mengerahkan perhatian, langsung tepat di pusatnya. Anda berusaha menembus intinya. Melihat rasa sakit sebagai rasa sakit, catatlah dengan tanpa henti, coba menuju ke bawah permukaannya sehingga anda tidak bereaksi.
Mungkin anda berusaha keras, tapi anda menjadi lelah. Rasa sakit dapat melelahkan pikiran. Jika anda tidak mampu menjaga tingkat energi yang cukup, perhatian penuh dan konsentrasi, itu saatnya mundur secara anggun. Strategi kedua menghadapi rasa sakit adalah bermain dengannya. Anda masuk ke dalam, lalu beristirahat sebentar. Anda tetap menjaga perhatian pada rasa sakit, tetapi anda mengendurkan
intensitas perhatian penuh dan konsentrasi. Ini mengistirahatkan pikiran anda. Lalu anda masuk lagi sedekat yang anda bisa, dan jika tidak berhasil, anda mundur lagi. Anda masuk dan ke luar, bolak balik, dua atau tiga kali.
Jika rasa sakit masih kuat serta pikiran anda menjadi tegang dan mengerut walaupun telah menerapkan taktik di atas, inilah saat yang tepat untuk mundur dengan anggun. Tidak berarti anda segera mengubah posisi tubuh. Melainkan hanya menggeser posisi perhatian penuh anda. Abaikanlah rasa sakit dan pusatkan pikiran pada kembung dan kempisnya perut atau objek utama apa saja yang anda gunakan. Cobalah untuk berkonsentrasi sedemikian kuat sehingga rasa sakit tertutup dari kesadaran anda.
Menyembuhkan Batin dan Jasmani
Kita harus mencoba mengatasi setiap bentuk ketakutan batin. Hanya jika anda memiliki ketahanan batin bagaikan seorang pahlawan, anda mampu mengatasi rasa sakit dengan memahaminya sebagaimana adanya. Dalam meditasi, banyak sensasi fisik tak tertahankan muncul. Hampir semua yogi melihat ketidak-nyamanan yang selalu ada pada tubuhnya dengan jelas, namun lebih dipertajam dengan konsentrasi. Selama praktik intensif, rasa sakit juga sering kali timbul lagi karena luka lama, cedera pada masa kecil, atau penyakit kronis di masa lampau. Penyakit yang sedang atau baru dialami bisa tiba-tiba bertambah parah. Jika kedua hal itu terjadi, anda dapat mengatakan bahwa Dewi Keberuntungan ada di pihak anda. Anda memiliki kesempatan mengatasi penyakit atau rasa sakit kronis melalui usaha gigih anda sendiri, tanpa menggunakan obat. Banyak yogi yang sepenuhnya mengatasi dan memperbaiki masalah kesehatan mereka hanya melalui praktik meditasi.
Kira-kira lima belas tahun lalu ada seorang pria menderita penyakit lambung selama bertahun-tahun. Ketika ia memeriksakan diri, dokter mengatakan ia mengidap tumor dan harus dioperasi. Orang itu
takut operasinya akan gagal sehingga ia meninggal.
Jadi ia memutuskan main aman seandainya harus meninggal juga. “Saya lebih baik bermeditasi,” katanya. Ia bermeditasi dibawah bimbingan saya. Tak berapa lama ia mulai merasakan berbagai macam rasa sakit. Pada awalnya tidak parah, tetapi ketika latihannya sudah maju dan mencapai tingkat pandangan terang yang berhubungan dengan rasa sakit, ia mengalami siksaan hebat, tak tertahankan. Ia mengungkapkan hal itu pada saya dan saya berkata, “Tentu saja anda boleh pulang untuk menemui dokter anda. Tetapi, mengapa anda tidak tinggal beberapa hari lagi?”
Ia mempertimbangkannya dan memutuskan tidak ada jaminan ia selamat dari meja operasi. Jadi ia memutuskan tetap tinggal dan bermeditasi. Ia minum sesendok obat setiap dua jam. Kadang ia dikuasai oleh rasa sakit, kadang ia dapat menguasai rasa sakit. Ini adalah pertempuran panjang, dengan kekalahan di kedua belah pihak. Tetapi orang ini memiliki keberanian luar biasa.
Dalam satu sesi meditasi duduk, rasa sakit demikian mengerikan sehingga seluruh tubuhnya bergetar dan bajunya basah oleh keringat. Tumor di lambungnya semakin mengeras dan mengerut. Tiba-tiba gagasan tentang lambungnya lenyap ketika diamati. Sekarang hanya ada kesadaran dan objek yang menyakitkan tersebut. Objek itu sangat menyakitkan tetapi sangat menarik. Ia terus mengamati serta hanya ada pikiran yang mengamati dan rasa sakit, yang semakin mengerikan.
Lalu tiba-tiba ada ledakan keras, seperti bom. Yogi itu berkata ia bahkan bisa mendengar suara keras tadi. Kemudian, semuanya berlalu. Ia bangkit dari duduknya, basah kuyup oleh keringat. Ia menyentuh perutnya, tetapi pada tempat di mana tumor itu menonjol, kini tidak ada lagi. Ia sembuh total. Lebih dari itu ia telah menyelesaikan praktik meditasinya, dan mengalami pandangan terang tentang Nibbāna.
Segera setelah itu, orang tadi meninggalkan pusat meditasi dan saya memintanya memberi kabar apa yang dikatakan dokter tentang
penyakit lambungnya. Dokter terkejut melihat tumornya sudah lenyap. Orang ini dapat meninggalkan diet ketat yang sudah ia jalani selama dua puluh tahun, serta hingga saat ini ia masih hidup dan sehat. Bahkan dokternya menjadi yogi vipassanā!
Saya telah bertemu dengan banyak orang yang sembuh dari sakit kepala kronis, masalah jantung, TBC, bahkan kanker dan cedera berat yang diderita semasa muda. Beberapa di antara mereka dinyatakan tidak dapat diobati lagi oleh dokter. Semuanya harus mengalami rasa sakit luar biasa. Tetapi mereka memiliki daya tahan hebat serta usaha sangat berani, mereka sembuh atas usahanya sendiri. Yang lebih penting, banyak juga yang memahami kebenaran secara lebih mendalam dengan mengamati rasa sakit melalui usaha gigih dan selanjutnya berhasil mencapai pandangan terang.
Anda tidak perlu patah semangat oleh rasa sakit. Tetapi milikilah keyakinan dan kesabaran. Gigih hingga anda mengerti jati diri anda.