Selama masa retret, merupakan hal lazim melakukan meditasi jalan dan duduk secara bergantian dalam waktu yang seimbang sepanjang hari. Satu jam merupakan waktu standar, tetapi empat puluh lima menit juga boleh. Untuk meditasi jalan formal, para peserta dapat memilih jalur kira-kira sepanjang dua puluh langkah dan berjalan perlahan bolak balik di jalur tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, meditasi jalan juga sangat membantu. Meditasi jalan singkat, misalnya sepuluh menit, sebelum meditasi duduk akan membantu memusatkan pikiran. Selain manfaat itu, kesadaran yang dikembangkan dalam meditasi jalan berguna bagi kita semua ketika kita menggerakkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain di sepanjang hari biasa.
Meditasi jalan mengembangkan keseimbangan dan kecermatan kesadaran serta daya tahan konsentrasi. Seseorang dapat mengamati aspek mendalam Dhamma ketika berjalan, bahkan mencapai pencerahan! Kenyataannya, seorang yogi yang tidak melakukan meditasi jalan sebelum meditasi duduk ibarat mobil dengan aki lemah. Ia
akan mengalami kesulitan menyalakan mesin perhatian penuhnya ketika duduk.
Meditasi jalan mencakup pemberian perhatian pada proses berjalan. Jika anda bergerak agak cepat, buat pencatatan mental pada pergerakan kaki, “kiri, kanan, kiri, kanan” dan gunakan kesadaran anda mengikuti sensasi yang ada di seluruh telapak kaki. Jika anda berjalan lebih lambat, catat angkat, maju, dan letak pada setiap gerakan kaki. Dalam setiap gerakan, anda harus mencoba menjaga pikiran hanya pada sensasi berjalan. Perhatikan proses yang timbul ketika anda berhenti pada akhir jalur, ketika anda berdiri diam, ketika anda berputar, dan mulai berjalan lagi. Jangan melihat kaki anda kecuali memang diperlukan karena ada penghalang di tanah; membayangkan kaki dalam pikiran anda tidaklah membantu saat anda berusaha menyadari sensasi-sensasinya. Anda ingin memusatkan perhatian pada sensasi itu sendiri dan sensasi bukan visual. Bagi banyak orang, hal ini merupakan pengetahuan yang menakjubkan, saat mereka mampu memiliki persepsi yang jernih, murni pada objek fisik seperti rasa ringan, perasaan geli, dingin, dan hangat.
Biasanya kita membagi proses berjalan dalam tiga gerakan berbeda: mengangkat, maju dan meletakkan kaki. Untuk membantu ketepatan kesadaran, kita membedakan gerakan secara jelas membuat pencatatan mental pada awal setiap gerakan, dan memastikan bahwa kesadaran kita mengikuti secara tepat dan kuat hingga akhir. Hal kecil tapi penting adalah mulai mencatat gerakan meletakkan tepat pada saat kaki mulai bergerak turun.
Dunia Baru Sensasi
Mari kita bahas mengangkat kaki. Kita tahu penyebutan itu, tapi dalam meditasi penting menembus di balik konsep sebutan dan memahami sifat sebenarnya seluruh proses mengangkat, diawali keinginan mengangkat dan berlanjut dengan proses sebenarnya, yang melibatkan banyak sensasi.
Usaha kita menyadari proses mengangkat kaki tidak boleh melampaui sensasi atau pun tertinggal dari targetnya. Pengarahan pikiran yang tepat dan cermat akan menyeimbangkan usaha kita. Ketika usaha kita seimbang dan sasaran kita tepat, perhatian penuh akan kuat terbentuk pada objek kesadaran. Hanya dengan ketiga faktor ini— usaha, ketepatan, dan perhatian penuh—konsentrasi dapat berkembang. Konsentrasi adalah penyatuan, keterpusatan pikiran. Karakteristiknya adalah menjaga kesadaran tidak menyebar atau berpencar.
Ketika kita semakin dekat dengan proses mengangkat ini, kita akan melihat seperti sebaris semut merayap menyeberangi jalan. Dari jauh barisan ini mungkin tampak diam, tetapi dari dekat ia tampak bergoyang dan bergetar. Makin dekat lagi, ternyata barisan itu terdiri dari semut-semut, dan kita melihat bahwa anggapan terhadap barisan itu hanyalah ilusi. Kini kita jelas mengetahui barisan semut sebagai satu semut, diikuti semut yang lain. Tepat seperti itu, ketika kita melihat secara jelas proses mengangkat dari awal hingga akhir, faktor mental atau kualitas kesadaran yang disebut “pandangan terang” semakin mendekati objek yang diamati. Semakin dekat pandangan terang, semakin jelas sifat alami proses mengangkat dapat dilihat. Inilah fakta menakjubkan batin manusia bahwa ketika pandangan terang timbul dan semakin mendalam melalui latihan meditasi vipassanā atau pandangan terang, aspek khusus kebenaran tentang keberadaan akan terungkap dalam urutan yang pasti. Urutan ini disebut perkembangan pandangan terang.
Pandangan terang pertama yang secara umum dialami oleh para meditator adalah mulai memahami bukan secara intelektual atau penalaran, tapi secara intuisi bahwa proses mengangkat terdiri dari fenomena mental dan materi yang berbeda yang muncul bersamaan, berpasangan. Gerakan fisik, yang merupakan materi, terhubung tapi berbeda dengan kesadaran, yang merupakan mental. Kita mulai melihat seluruh proses kejadian mental dan sensasi fisik, serta memahami sebab akibat yang menghubungkan batin dan materi. Kita sangat jelas dan langsung melihat bahwa batin menyebabkan materi—seperti ketika
keinginan kita untuk mengangkat kaki mengawali sensasi gerakan fisik, dan kita melihat ternyata materi mempengaruhi batin—seperti saat kita mengalami sensasi fisik panas yang kuat menimbulkan keinginan memindahkan meditasi jalan kita ke tempat teduh. Pandangan terang tentang sebab dan akibat terjadi dalam berbagai bentuk; tapi ketika ia timbul, kehidupan kita tampak lebih sederhana daripada sebelumnya. Kehidupan kita tidak lebih dari rangkaian sebab dan akibat dari mental dan fisik. Ini adalah pandangan terang kedua dalam proses kemajuan pandangan terang secara klasik.
Ketika kita mengembangkan konsentrasi, kita semakin dalam melihat bahwa fenomena proses mengangkat ini tidak kekal, tidak ada diri, muncul dan lenyap satu demi satu dengan kecepatan yang sangat menakjubkan. Inilah tahapan pandangan terang berikutnya, aspek keberadaan selanjutnya yaitu kesadaran yang terpusat mampu melihat secara langsung. Tidak ada siapa pun dibalik apa yang terjadi; fenomena ini muncul dan lenyap sebagai proses tanpa inti, sesuai dengan hukum sebab dan akibat. Ilusi pergerakan dan kepadatan ini seperti film. Bagi persepsi awam, ia terlihat seperti penuh dengan karakter dan objek, semuanya serupa dengan sebuah dunia. Tapi ketika kita memperlambat film tersebut kita melihat bahwa sebenarnya ia terdiri dari rangkaian gambar statis yang terpisah.
Menemukan ‘Jalan’ dengan Bermeditasi Jalan
Ketika seseorang benar-benar berperhatian penuh selama proses tunggal mengangkat—katakanlah demikian, ketika kesadaran menyatu dengan gerakan, dengan penuh perhatian menembus sifat alami atas apa yang sedang terjadi—pada saat itu, jalan menuju pembebasan yang diajarkan oleh Buddha terbuka. Jalan Mulia Berunsur Delapan dari Buddha, dikenal juga sebagai Jalan Tengah, terdiri dari delapan faktor yaitu pandangan benar atau pengertian benar, pikiran benar atau bidikan benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian penuh benar, dan konsentrasi benar. Di saat mana pun
ketika perhatian penuh kuat, lima dari delapan faktor muncul dalam kesadaran, yaitu: usaha benar, perhatian penuh, keterpusatan pikiran atau konsentrasi, bidikan benar, dan ketika kita mulai mendapatkan pandangan terang mengenai sifat alami fenomena, pandangan benar juga muncul. Ketika kelima faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan ini ada, kesadaran sepenuhnya bebas dari segala kekotoran batin.
Ketika kita menggunakan kesadaran murni itu untuk menembus sifat alami dari apa yang terjadi, kita terbebas dari kebodohan atau ilusi tentang adanya aku, inti diri; kita hanya melihat fenomena muncul dan lenyap saja. Saat pandangan terang memberikan pemahaman intuitif tentang mekanisme sebab dan akibat, bagaimana batin dan materi terkait satu sama lain, kita terbebas dari kesalah-pahaman tentang sifat alami fenomena. Melihat bahwa setiap objek hanya bertahan sesaat, kita terbebas dari khayalan tentang kekekalan, ilusi tentang kesinambungan. Ketika kita mengerti kekalan dan ketidak-memuaskan yang mendasarinya, kita terbebas dari ilusi bahwa batin dan jasmani kita tidak menderita.
Penglihatan langsung akan tanpa aku ini membebaskan kita dari kesombongan dan kecongkakan, juga membebaskan kita dari pandangan salah bahwa kita memiliki aku yang kekal. Saat kita secara cermat mengamati proses mengangkat, kita melihat batin dan jasmani sebagai sesuatu yang tidak memuaskan sehingga kita terbebas dari nafsu keserakahan. Tiga keadaan batin ini—kesombongan, pandangan salah dan nafsu keserakahan—disebut “dhamma yang mengabadikan.” Ketiganya membantu mengabadikan keberadaan kita dalam saṁsāra, lingkaran nafsu keserakahan dan penderitaan yang disebabkan oleh ketidak-tahuan pada kebenaran sejati. Perhatian cermat saat meditasi jalan akan menghancurkan dhamma yang mengabadikan ini, membawa kita makin dekat pada kebebasan.
Anda dapat melihat bahwa mencatat naiknya kaki akan memiliki kemungkinan-kemungkinan yang menakjubkan! Demikian pula saat menggerakkan kaki ke depan dan meletakkan kaki di tanah.
Sewajarnya, kedalaman dan kedetailan kesadaran yang diuraikan dalam instruksi meditasi jalan ini juga harus diterapkan pada pencatatan pergerakan perut saat duduk, dan semua bentuk gerakan fisik lain. Lima Manfaat Meditasi Jalan
Buddha menjelaskan lima manfaat khusus meditasi jalan. Pertama seseorang yang melakukan meditasi jalan akan memiliki stamina untuk menempuh perjalanan jauh. Ini penting di zaman Buddha, ketika para
bhikkhu dan bhikkhunī, wiharawan dan wiharawati Buddhis, tidak
memiliki sarana transportasi kecuali kedua kaki mereka. Anda yang bermeditasi hari ini dapat mengibaratkan diri sebagai seorang bhikkhu, dan anda dapat merenungkan manfaat itu secara sederhana untuk memperkuat fisik.
Manfaat kedua, meditasi jalan menimbulkan stamina latihan meditasi itu sendiri. Selama meditasi jalan, diperlukan usaha ganda. Sebagai tambahan, usaha mekanis yang dibutuhkan untuk mengangkat kaki, demikian pula usaha mental untuk menyadari gerakan tersebut—dan inilah faktor usaha benar Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jika usaha ganda ini berkesinambungan selama gerakan mengangkat, mendorong, dan meletakkan; ia memperkuat kapasitas usaha mental yang gigih dan konsisten, yang diketahui semua yogi sebagai faktor penting dalam latihan vipassanā.
Manfaat ketiga, menurut Buddha, keseimbangan antara duduk dan jalan mendukung kesehatan yang baik, yang pada gilirannya mempercepat kemajuan latihan. Tentunya sangat sulit bermeditasi ketika kita sakit. Terlalu lama duduk dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan. Tapi dengan perpindahan posisi dan berjalan akan menyegarkan otot serta melancarkan sirkulasi, membantu mencegah gangguan kesehatan.
Manfaat keempat adalah meditasi jalan membantu pencernaan. Pencernaan yang kurang baik menimbulkan berbagai ketidak-nyamanan dan merupakan penghalang latihan. Berjalan
menjaga sistem pencernaan tetap bersih, mengurangi kemalasan dan kelembaman. Setelah makan, dan sebelum duduk, seseorang harus melakukan meditasi jalan yang baik untuk mencegah rasa kantuk. Segera berjalan setelah bangun pagi juga merupakan cara tepat meningkatkan perhatian penuh dan menghindari rasa kantuk ketika melakukan meditasi duduk pertama kali.
Akhirnya, namun bukan yang terakhir, manfaat meditasi jalan adalah membangun daya tahan konsentrasi. Ketika pikiran bekerja dipusatkan pada setiap tahap gerakan meditasi jalan, konsentrasi menjadi berkesinambungan. Setiap langkah membangun dasar bagi meditasi duduk yang mengikutinya, membantu pikiran mengarah pada objek dari saat ke saat—yang akhirnya akan membuka tabir sifat alami dari kenyataan yang paling dalam. Itulah sebabnya mengapa saya menggunakan perumpamaan aki mobil. Jika mobil tidak pernah dikendarai, aki akan melemah. Seorang yogi yang tidak pernah bermeditasi jalan akan mengalami kesulitan mencapai apa pun, ketika ia duduk di bantal meditasi. Tetapi seseorang yang rajin berjalan dengan sendirinya akan membawa perhatian penuh yang kuat dan konsentrasi kokoh ke dalam meditasi duduk.
Saya berharap anda semua berhasil menjalankan latihan ini dengan lengkap. Semoga anda murni dalam sila, mengembangkannya dalam ucapan dan perbuatan, sehingga menciptakan kondisi untuk mengembangkan samādhi dan kebijaksanaan.
Semoga anda mengikuti instruksi meditasi ini dengan cermat, mencatat setiap momen pengalaman dengan perhatian penuh mendalam, akurat dan tepat, sehingga anda dapat menembus sifat alami kenyataan. Semoga anda melihat bagaimana batin dan materi membentuk semua pengalaman, bagaimana keduanya saling berkait melalui hubungan sebab dan akibat, bagaimana semua pengalaman bersifat tidak kekal, tidak memuaskan, dan tidak memiliki inti diri sehingga anda pada akhirnya memahami Nibbāna—keadaan tanpa kondisi yang melenyapkan semua kekotoran batin—di sini dan saat ini juga.
WAWANCARA
Meditasi Vipassanā bagaikan berkebun. Kita memiliki benih visi yang jelas dan lengkap, yaitu perhatian penuh yang dengannya kita mengamati segala fenomena. Untuk menumbuhkan benih tersebut, merawat tanaman, dan memetik buah kebijaksanaan mendalam, ada lima prosedur yang harus kita ikuti. Ini disebut Lima Perlindungan atau Lima
Anuggahita.
Lima Perlindungan
Seperti seorang tukang kebun, kita harus membuat pagar di sekeliling pot kecil untuk melindunginya dari binatang besar, rusa atau kelinci, yang mungkin akan melahap tanaman muda kita saat ia mulai bertunas. Perlindungan pertama adalah sīlā∙nuggahita, perlindungan moralitas terhadap tingkah laku kasar dan liar yang mengganggu pikiran, yang menghalangi timbulnya konsentrasi dan kebijaksanaan.
Kedua, kita harus menyirami benih tersebut. Artinya mendengarkan uraian Dhamma dan membaca buku, kemudian secara berhati-hati menerapkan pengertian yang sudah kita peroleh. Seperti halnya menyiram secara berlebihan akan membuat benih membusuk, tujuan kita di sini hanya untuk memperoleh kejelasan. Tidak untuk membingungkan kita, tersesat dalam belantara konsep. Perlindungan kedua ini disebut sutā∙nuggahita.
Perlindungan ketiga adalah apa yang akan saya lakukan di sini. Disebut sākacchā∙nuggahita, berdiskusi dengan seorang guru, ini seperti banyak proses yang terjadi dalam merawat tanaman. Tanaman membutuhkan hal yang berbeda pada waktu yang berbeda. Tanah di sekitar akar mungkin perlu digemburkan, namun tidak berlebihan, atau akar tidak akan dapat mencengkeram tanah. Daun harus dipotong, dengan hati-hati. Tanaman yang menghalangi sinar matahari harus dipotong. Dengan cara ini, ketika mendiskusikan latihan kita dengan seorang guru, ia akan memberikan instruksi yang berbeda sesuai dengan apa yang dibutuhkan agar kita tetap berada di jalan yang benar.
Perlindungan keempat adalah samathā∙nuggahita, perlindungan konsentrasi, yang menjauhkan ulat bulu dan rumput liar dari kondisi batin yang buruk. Ketika berlatih, kita berjuang menyadari apa pun yang sebenarnya muncul pada enam pintu indra—mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan batin—tepat pada saat ini. Ketika pikiran tajam terpusat dan penuh semangat seperti itu, keserakahan, kemarahan, dan kebodohan batin tidak memiliki kesempatan menyelinap masuk. Sehingga konsentrasi dapat diibaratkan sebagai pembersihan daerah sekitar tanaman, atau dengan penggunaan pestisida yang sangat baik dan alami.
Jika keempat perlindungan itu ada, pandangan terang mempunyai kesempatan untuk berkembang. Tetapi, para yogi cenderung melekat pada pandangan terang yang timbul di awal dan pengalaman luar biasa yang berhubungan dengan konsentrasi kuat. Sayang sekali, hal ini menghalangi kematangan latihan mereka masuk menuju ke tingkatan vipassanā yang lebih dalam. Di sini, perlindungan kelima, vipassanā∙nuggahita, memainkan peranannya. Inilah meditasi yang secara kuat mengarah menuju pada tahapan lebih tinggi, tidak berhenti membuang waktu dalam kenikmatan kedamaian batin atau pun kesenangan konsentrasi lainnya. Nafsu keserakahan pada kesenangan ini disebut nikanti taṇhā. Sangat halus, seperti jaring laba-laba, kumbang kecil, jamur, laba-laba kecil—benda kecil yang lengket yang akhirnya dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
Bahkan jika seorang yogi masuk dalam perangkap terselubung itu, bagaimana pun juga seorang guru yang baik dapat menemukan hal ini dalam wawancara dan mendorongnya kembali ke jalan yang benar. Inilah mengapa berdiskusi atas pengalaman pribadi dengan seorang guru merupakan perlindungan penting dalam latihan meditasi. Proses Wawancara
Selama retret vipassanā intensif, wawancara perorangan dilakukan sesering mungkin, idealnya setiap hari. Wawancara disusun secara formal.
Setelah yogi menjelaskan pengalamannya seperti diuraikan di bawah, seorang guru mungkin mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan detail pengalaman tertentu itu sebelum memberikan komentar atau instruksi ringkas.
Proses wawancara cukup sederhana. Anda harus mampu menyampaikan intisari latihan anda dalam waktu sepuluh menit. Anggaplah anda melaporkan penyelidikan tentang diri anda sendiri, yang merupakan vipassanā sebenarnya. Cobalah untuk mengikuti standar yang digunakan dalam dunia ilmu pengetahuan: singkat, akurat dan tepat.
Pertama, laporkan berapa jam anda melakukan meditasi duduk dan berapa jam melakukan meditasi jalan dalam dua puluh empat jam terakhir. Jika anda cukup tulus dan jujur, hal itu menunjukkan ketulusan anda dalam berlatih. Berikutnya, jelaskan latihan meditasi duduk anda. Tidak perlu menggambarkan setiap duduk secara detail. Jika tiap meditasi duduk hampir sama, anda dapat menggabungkan kesamaan tersebut menjadi satu laporan umum. Cobalah gunakan detail dari satu kali duduk atau beberapa kali duduk yang paling jelas. Mulailah uraian anda dengan objek utama meditasi, kembung kempisnya perut. Setelah itu anda boleh menambahkan beberapa objek yang muncul melalui salah satu dari enam pintu indra.
Setelah menggambarkan meditasi duduk, lanjutkan dengan latihan meditasi jalan. Di sini anda hanya perlu menjelaskan pengalaman yang langsung berhubungan dengan pergerakan jalan anda—jangan masukkan objek-objek lain seperti yang mungkin anda laporkan dalam meditasi duduk. Jika anda mengunakan metode tiga bagian mengangkat, menggerakkan, dan meletakkan dalam latihan meditasi jalan, cobalah memasukkan setiap bagian dan pengalaman yang anda alami.
Apa yang Terjadi, Bagaimana Anda Mencatatnya, Apa yang Terjadi Setelah Itu
diharapkan anda melaporkan pengalaman anda dalam tiga tahap. Pertama anda mengidentifikasi apa yang muncul. Kedua, laporkan bagaimana anda mencatatnya. Dan ketiga, jelaskan bagaimana anda melihat, merasakan, atau memahami; yaitu apa yang terjadi ketika anda mencatatnya.
Mari kita ambil contoh objek utama, pergerakan kembung kempis perut. Hal pertama yang dikerjakan adalah mengidentifikasi kemunculan proses kembungnya perut.
“Kembung muncul.”
Tahap kedua mencatatnya, dengan memberi label tanpa suara. “Saya mencatat itu sebagai ‘kembung’.”
Tahap ketiga menjelaskan apa yang terjadi saat perut kembung. “Ketika saya mencatat ‘kembung,’ inilah yang saya alami, saya merasakan sensasi yang berbeda. Beginilah perilaku sensasi tersebut pada saat itu.”
Lalu anda meneruskan wawancara dengan menggunakan penggambaran tiga tahap yang sama pada proses kempis dan objek lain yang timbul selama meditasi duduk. Anda menyebutkan kemunculan objek itu, menggambarkan bagaimana anda mencatatnya, dan menghubungkan pengalaman anda selanjutnya hingga objek tadi lenyap atau perhatian anda beralih ke tempat lain.
Mungkin sebuah analogi dapat membantu menjelaskannya. Bayangkan saya duduk di depan anda, serta tiba-tiba saya mengangkat tangan ke udara dan membukanya sehingga anda dapat melihat saya menggenggam sebuah apel. Anda mengarahkan perhatian pada apel ini, anda mengenalinya dan (karena ini hanyalah analogi) anda mengatakan “apel” pada diri sendiri. Sekarang anda teruskan mengamati bahwa apel itu berwarna merah, bulat, dan mengkilat. Akhirnya saya menutup tangan secara perlahan sehingga apel itu lenyap.
Bagaimana anda melaporkan pengalaman anda tentang apel, jika apel itu adalah objek utama meditasi anda? Anda akan mengatakan, “Apel muncul. Saya mencatatnya sebagai ‘apel’ dan saya perhatikan
bahwa ia berwarna merah, bulat, serta mengkilat. Lalu apel itu secara perlahan lenyap.”
Demikianlah, anda mungkin melaporkan secara terinci dalam tiga tahap atas apa yang anda alami dengan apel itu. Pertama, saat apel muncul dan anda mampu memperhatikan hal itu. Kedua, anda mengarahkan perhatian pada apel dan mengenali apakah itu; karena anda “mempraktikkan meditasi” dengan apel, anda mengusahakan menamainya dalam hati. Ketiga, anda terus mengamati apel tadi dan mengetahui kualitasnya, demikian juga saat berlalu dari kesadaran anda. Proses tiga tahap ini adalah apa yang harus anda ikuti dalam meditasi
vipassanā sejati, tentunya anda melaporkan pengalaman tentang
kembung kempisnya perut. Satu peringatan: tugas anda mengamati apel fiktif itu, tidak meluas hingga membayangkan segarnya apel atau membayangkan anda memakannya! Sama halnya, dalam wawancara meditasi, anda harus membatasi penjelasan anda pada apa yang anda alami secara langsung, bukan apa yang anda bayangkan, visualisasikan, serta pendapat anda tentang objek itu.
Seperti anda lihat, gaya pelaporan ini merupakan tuntunan bagaimana kesadaran seharusnya berfungsi dalam meditasi
vipassanā sesungguhnya. Karena alasan itu, wawancara meditasi sangat
membantu, sebagai alasan tambahan dibalik kesempatan untuk menerima bimbingan seorang guru. Yogi sering menemukan diminta membuat laporan seperti itu memiliki efek sebagai pemacu latihan meditasinya, karena ia meminta mereka fokus pada pengalamanya sejelas yang mereka bisa dapatkan.
Kesadaran, Ketepatan, Ketekunan
Tidaklah cukup melihat objek dengan acuh tak acuh, sembarangan, atau tanpa perhatian penuh, dengan cara otomatis. Ini bukanlah latihan di mana anda secara ceroboh membaca suatu formula mental. Anda harus melihat objek dengan komitmen penuh, dengan sepenuh hati. Mengarahkan seluruh perhatian pada objek, setepat mungkin,
anda menjaga perhatian anda pada objek itu sehingga dapat menembus sifat sejati objek tersebut.
Meskipun kita sudah berusaha sebaik mungkin, pikiran tidaklah selalu