• Tidak ada hasil yang ditemukan

Denpasar Sewerage Development Project IIMain

Dalam dokumen EVALUASI EKONOMI DAN KEUANGAN (Halaman 38-42)

Pipe Pipa Persil

Inspection  Chamber

(2) Perbandingan dengan Biaya Tarif Sewerage di DKI Jakarta (Estimasi)

Tabel E4-2 Perbandingan Biaya Tarif Sewerage di Provinsi Bali dan DKI Jakarta Unit: IDR/bulan Divisi Provinsi Bali DKI Jakarta Kondisi Estimasi Tempat Tinggal 3 kelas berdasarkan

lebar jalan Sistem nilai tetap

10,000 - 25,000 (0.6 - 1.1 kali)

4 kelas berdasarkan konsumsi daya

Berdasarkan luas lantai 9,000 - 41,080

(1 kali)

Luas lantai Tipe A: 100 m2 Tipe B: 260 m2

(Berdasarkan data pelanggan aktual PD PAL)

Hotel Berdasarkan Jumlah

kamar hunian 8,000,000

(4 kali)

Berdasarkan luas lantai 2,025,000

(1 kali)

Ditetapkan berdasarkan asumsi: jumlah kamar tamu: 100; tingkat hunian: 80%; hotel bintang 4; luas lantai 30 m2 per kamar

Restoran 3 kelas berdasarkan jumlah kursi

Sistem nilai tetap 40,000 - 150,000 (1.4 - 5.1 kali)

Berdasarkan luas lantai 29,250 (1 kali)

100 kursi atau lebih Luas lantai Restoran: 130 m2 (Berdasarkan data pelanggan PD PAL aktual)

Bangunan Kantor Sistem nilai tetap 45,000 (1 kali)

Berdasarkan luas lantai 3 lantai atau kurang: 1,350,000 3 lantai atau lebih: 11,250,000

(30 - 250 kali)

Luas Lantai Bangunan Kantor (average)

3 lantai atau kurang: 10,000 m2 3 lantai atau lebih: 25,000 m2 (Berdasarkan data pelanggan PD PAL aktual)

Sumber: Tim Ahli JICA

Hasil estimasi biaya sewerage:

・ Biaya tarif untuk tempat tinggal di DKI Jakarta menutupi daerah lebih besar tetapi tidak menunjukan perbedaan

・ Biaya tarif untuk hotel dan restoran adalah 2 – 5 kali lebih tinggi di Provinsi Bali. ・ Biaya tarif untuk bangunan kantor adalah 30 – 250 kali lebih tinggi di DKI Jakarta Berdasarkan hal di atas, dapat disimpulkan bahwa DKI Jakarta dan Provinsi Bali telah menetapkan biaya tarif sesuai dengan karakteristik daerah mereka sendiri.

E4.2.3 Usulan untuk Biaya Tarif Sewerage dan Pengumpulannya (1) Biaya tarif Sewerage

Seperti yang ditunjukkan oleh hasil analisis keuangan disajikan dalam PART-E, penurunan dalam biaya tarif satuan air limbah terhadap jumlah pelanggan di masa depan tidak dapat dihindari. Hal ini karena jumlah pelanggan rumah tangga biasa, yang membayar biaya tarif air limbah yang rendah, akan meningkat seiring dengan meningkatnya laju penyebaran sistem sewerage.

Hal ini berarti bahwa membangun proyek sewerage yang berkelanjutan akan membutuhkan lebih dari efisiensi manajemen yang tinggi melalui pemanfaatan Sektor Swasta. Ini juga akan membuat kenaikan di masa depan dalam hal biaya tarif air limbah tidak terhindari. Indonesia saat ini menikmati pembangunan yang stabil dengan tingkat pertumbuhan PDB riil sebesar 6% atau lebih per tahun. Dengan demikian, maka akan diperlukan untuk mempelajari peningkatan biaya tarif air limbah untuk mengimbangi peningkatan pendapatan nasional di masa depan.

(2) Sistem Biaya tarif Sewerage

Di bawah sistem biaya tarif air limbah saat ini, biaya tarif satuan ditetapkan berdasarkan luas bangunan terbangun untuk kategori pelanggan individu. Selain itu, rumah tangga biasa dikelompokkan dalam empat kelompok berdasarkan kontrak konsumsi daya listrik mereka bahkan dengan luas bangunan yang sama, biaya tarif unit yang lebih tinggi ditetapkan untuk rumah tangga dengan konsumsi kontrak daya yang lebih tinggi. Dengan kata lain, sistem biaya tarif saat ini terdiri dari tiga unsur: kategori pelanggan, luas bangunan, dan kontrak konsumsi daya listrik.

Bila dilihat dalam hal pengelolaan fasilitas sewerage yang efisien, maka diharapkan untuk mengatur volume total air limbah yang membutuhkan pengolahan berdasarkan pengukuran aktual dari volume air limbah yang dihasilkan, luas lantai, populasi rumah tangga, dll. untuk setiap pelanggan pada saat kontrak. Namun, mengingat situasi saat ini di DKI Jakarta dimana tingkat distribusi penyediaan air kurang dari 60% dan banyak rumah tangga dan fasilitas komersial menggunakan air tanah yang diperoleh dari sumur mereka sendiri, data konsumsi air, yang merupakan data ideal untuk menetapkan biaya tarif sewerage, menjadi sulit untuk dapat diterapkan bagi DKI Jakarta secara efektif.

Dalam pandangan di atas, dapat dikatakan bahwa sistem biaya tarif air limbah saat ini yang berdasarkan luas bangunan adalah tepat mengingat kondisi saat ini di DKI Jakarta.

Saat, di masa depan, kemajuan dibuat ke arah peningkatan laju distribusi penyediaan air bersih, dan mengurangi ketergantungan pada penggunaan sumur pribadi sesuai dengan pembatasan penggunaan air tanah dll., peralihan dari sistem biaya tarif yang saat ini berbasis luas bangunan menjadi sistem biaya tarif berbasis volume penggunaan air harus dipertimbangkan.

Selain itu, dalam pertimbangan dari peralihan ke sistem biaya tarif berbasis volume untuk biaya tarif sewerage, maka akan diperlukan untuk memahami volume penggunaan aktual air tanah dari sumur karena air sumur yang seharusnya tetap digunakan sampai batas tertentu bahkan setelah menyebarnya sistem penyediaan air minum.

Namun, untuk mengukur volume aktual dari air yang terpompa atau listrik aktual yang digunakan untuk pemompaan diasumsikan sulit dilakukan. Untuk mengatasi masalah ini, dianjurkan untuk menyelidiki penggunaan sebenarnya juga termasuk skala fasilitas pemompaan dan jam operasinya untuk pelanggan bisnis yang biasanya dikenakan biaya tarif sewerage yang tinggi, sebagai langkah pertama, dan untuk mewajibkan pelanggan bisnis yang menggunakan cukup banyak air sumur untuk memasang flow meter terintegrasi untuk sumur pribadi mereka dan melaporkan volume penggunaannya, yang harusnya tercermin dalam biaya tarif sewerage.

(3) Metode Pengumpulan Biaya Tarif Sewerage

Metode pengumpulan biaya tarif sewerage yang PD PAL JAYA saat ini aplikasikan untuk rumah tangga biasa dan bisnis dijelaskan sebagai berikut.

1) Rumah Tangga Biasa

(a) Pengumpulan melalui kunjungan perorangan: Dua pegawai PD PAL JAYA mengunjungi setiap rumah tangga sekali dalam sebulan untuk mengumpulkan biaya tarif.

(b) Pembayaran pada kantor pembayaran: Penduduk membayar langsung ke kantor pembayaran PD PAL JAYA.

(c) Pengumpulan dan pembayaran oleh representatif dari masyarakat: Seorang representatif masyarakat lokal mengumpulkan biaya tarif dan membayarnya dalam jumlah borongan ke PD PAL JAYA.

Dalam hal persentase jumlah total dari pengumpulan biaya tarif, tiga metode yang dijelaskan di atas memiliki perkiraan sebagai berikut: (a) 70%; (b): 10%; dan (c): 20%.

2) Bisnis

Secara umum, sektor bisnis membayar biaya tarif menggunakan transfer akun bank.

Tantangan untuk masa depan akan bagaimana mengamankan dan meningkatkan tingkat pengumpulan biaya tarif saat jumlah rumah tangga meningkat.

Jika metode pengumpulan biaya tarif saat ini diteruskan, metode "pengumpulan melalui kunjungan perorangan" akan menjadi tidak realistis kecuali sejumlah orang kolektor baru dipekerjakan. Selain itu, mengingat bahwa "pembayaran di kantor pembayaran PD PAL JAYA" saat ini hanya mencakup sebagian kecil dari pengumpulan (10%), tidak mungkin metode ini menjadi metode pengumpulan utama.

Di sisi lain, "pengumpulan dan pembayaran oleh perwakilan komunitas" saat ini mempertahankan tingkat pengumpulan tinggi yaitu 75%. Dengan demikian, diperkirakan bahwa menggunakan

kampanye publik di tingkat masyarakat akan efektif sebagai sarana untuk meningkatkan tingkat pengumpulan.

Pada saat yang sama, perlu mempertimbangkan metode pengumpulan yang sedang dipelajari di Provinsi Bali, dimana pelanggan secara independen membayar biaya tarif mereka ke Bank Pembangunan Daerah sebulan sekali. Metode ini mirip dengan yang digunakan untuk proyek-proyek listrik (PLN) dan proyek pasokan air (PDAM), dan karena itu, hal ini kemungkinan akan memiliki penerimaan yang relatif tinggi di antara penduduk.

Selanjutnya, kemajuan yang dibuat terhadap peningkatan laju distribusi penyediaan air bersih, mengukur volume penggunaan air untuk setiap pelanggan, dan mengurangi ketergantungan pada penggunaan sumur pribadi, dari hal tersebut akan menjadi mungkin untuk beralih dari sistem biaya tarif berbasis luas bangunan saat ini menjadi sistem biaya tarif berbasis penggunaan air. Bila kondisi ini terpenuhi, pengumpulan terpadu dari biaya tarif air dan biaya tarif sewerage akan menjadi metode yang paling memberikan kontribusi pada tingkat pengumpulan biaya tarif yang lebih tinggi.

PART-F EVALUASI DENGAN PERTIMBANGAN

Dalam dokumen EVALUASI EKONOMI DAN KEUANGAN (Halaman 38-42)