• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEPAR'IEMEN TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA

Dalam dokumen 47.03S ct HIMPUNAN. -f AGUNG RI (Halaman 106-110)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

DEPAR'IEMEN TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA

No. B - 523/M/BW/1986.

lampiran : 6 (enam)

Perihal Surat Edaran Mahkamah Agung Republlic Indonesia No. 1 Tahun 1980 dalam pelaksanaan.

Dengan h orma t,

Jakarta, 28 Juni 1986.

Kepada Yth.

Bapak Ketua Mahkamah Agu�g R.I.

u.b. Ketua Muda Mahkamah Agung di

R.I. Urusan Llngkungan Peradil­

an Tata Usaha Negara.

Jakarta.

Sebagai bahan evaluasi terhadap pelaksanaan Surat Edaran Mahkamah Agung R.I. No. 1 Tahun 1980, bersama ini kami sampaikan kepada Saudara ka­

sus pemutusan hubungan kerja yang terjadi pada PT. TAKEDA INDONESIA atas diri pekerjanya yang bernama Rachmat Hidayat, sebagai berikut:

1. P4D DKI. berdasarkan putusannya No. 036/P.528/P4D/1978 (periksa lam­

piran I) telah mengizinkan pihak Pengusaha untuk memutuskan }J.ubungan kerja Sdr. Rachmat Hidayat.

2. Pihak pekerja kemudian menggugat putusan P4D tersebut diatas kemuka Pengadilan, dan berdasarkan putusan No. 406/1979 G, (periksa larnpiran II), Pengadilan menyatakan bahwa putusan P4D DKI. tanggal 31 Januari 1979 tidak syah sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum.

3. Pihak Pengusaha mengajukan banding, dan berdasarkan putusan No. 593/

1981 (periksa lampiran III} Pengadilan Tinggi DKI. Jakarta membatalkan putusan Pengadilan Negeri vide lampiran II.

4. Pekerja kemudian mengajukan kasasi, dan berdasarkan putusan No. 574 K/

Sip/1983, Mahkamah Agung R.I. memerintahkan agar Pengadilan Tinggi memeriksa p okok perkaranya (periksa larnpiran IV}.

5. Pengadilan Tinggi kemudian berdasarkan putusannya No. 593/1981/PT.

Perdata (periksa larnpiran V) ternyata menguatkan putusan Pengadilan Negeri vide lampiran I (yang semula memba talkan).

6. Pihak Pengusaha yang kini merasa dikalahkan, ganti mengajukan kasasi (periksa lampiran YI).

7. P4D/P4P untuk memberikal} izin pemutusan hubungan kerja memiliki per­

timbangan dengan ukuran tersendiri, sehingga dapat dan mungkin saja

P4P/P4 D memberikan izin pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja yang tidak bersalah denl!f).n alasan misalnya saja: sudah tidak terdapat hu­

bungan kerja yang harmonis antara Pengusaha dengan Pekerja, sehingga jika hubunl!f).n kerja diteruskan,justru dapat menyulitkan pihak pekerja.

8. Ka_lau pertimbangan seperti contoh tersebut butir 7, dinilai oleh Penga­

dilan dengan ukuran melanggar hukum atau tidak (seperti yang dilaku­

kan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan putusannya vide lam­

piran I), dapatkah ini diartikan bahwa Surat Edaran Mahkamah Agung R.I. No. I Tahun 1980 belum mencapai sasarannya?

Akhirnya kami mengharapkan kejelasan arti: "larangan bagi Hakim untuk menilai kebenaran materi putusan P4, termasuk pertimbangannya", dalam hal P4 memberikan izin pemu tusan hubungan kerja terhadap seorang pekerja (bu­

ruh), agar kenyataan seperti yang kami gambarkan diatas tidak akan terulang.

Demikian atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

Tembusan kepada Yth.:

1. Bp. Menteri Tenaga Kerja (sebagai laporan).

2. Ketua P4 Pusat Jakarta.

3. Pertinggal.

90

A.N. Menteri Tenaga Kerja R.I.

Direktur Jenderal Bina Hubungan Ketenagakerjaan

clan Pengawasan Norma Kerja Cap/ttd.

H.B. MAN AN NIP. I 60002213

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Nomor 1.ampiran Perihal

KMA/081 /IX/1986.

Dispensasi/izin sidang dengan Hakim Tunggal.

Jakarta, 1 September 1986.

Kepada Yth.

Sdr. Ketua Pengadilan Agama Bajawa Jln. Nipado

di Bajawa.

Sehubung;m dengan surat Saudara tanggal 31 Juli 1986 M/24 Dzulqaidah 1406 H No. PA.X/25/K.a/145/1986 perihal pennohonan persetujuan untuk bersidang dengan Hakim Tunggal, deng;m ini Mahkamah Agung menegaskan bahwa pada azasnya susunan persidangan untuk semua Pengadilan adalah dalam bentuk majelis, yang terdiri dari 3 (tiga) Hakim (pasal 15 ayat 1 Undang-Undang No. 14 tahun 1970, namun semen tara ini didaerah-daerah yang masih kekurang­

an akan tenaga Hakim, unus judex (Hakim Tunggal) diperkenankan dengan idzin/dispensasi Mahkamah Agung.

Didasarkan pada ketegasan terse but pennohonan Saudara untuk melakukan pemeriksaan perkara dengan Hakim Tunggal dapat disetujui/dikabulkan.

Tembusan:

Ketua Mahkamah Agung - RI, Cap/ttd.

ALI SAID, SH.

1. Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi Agama seluiuh Indonesia.

2. A r s i p.

MAHKAMAH AGUNG

Pengajuan sura t jawaban dan sura t menyura t lain­

nya oleh pihak-pihak ber­

perkara dalam pemeriksa­

an perkara perdata.

Jakarta, 6 September 1986.

Kepada Yth.

Sdr. Ketua Pengadilan Negeri di Seluruh Indonesia.

Bahwa dalam pemeriksa:m perkara perdata, sering dijumpai surat jawaban dan sura t menyura t lainnya yang diajukan oleh pihak-pihak yang berperkara dengan mempergunakan "kata-kata yang tidak baik".

Untuk mencegah timbulnya hal-hal yang selain dapat menghambat kelan­

caran proses penyelesaian perkara yang juga mungkin mengandung unsur pidana maupun pelanggaran kode etik profesi Penasehat Hukum, maka penggunaan kata-kata yang tidak baik tersebut harus dihindarkan.

Sehubungan dengan itu, apabila dalam pemeriksaan suatu perkara perdata­

dijumpai sura t-sura t seperti terse but di a tas, Ketua/para Hakim Pengadilan Negeri yang menangani perkara terse but berkewajiban untuk menegur dan mem­

peringatkan kepada pihak-pihak yang berperkara agar dalam menyusun dan me­

rumuskan surat jawaban dan surat menyurat lainnya dengan mempergunakan

"kata-kata yang baik".

Demikian untuk dimaklumi dan dilaksanakan.

Ketua Mahkamah Agung - RI.

u.b.

Ketua Muda Mahkamah Agung - RI.

Tembusan : Kepada Yth. Urusan Lingkungan Peradilan, Tata Usaha Negara.

I. Bapak Ketua Mahkamah Agung - RI

2. Bapak Wakil Ketua Mahkamah Agung - RI Cap/ttd.

(1 dan 2 sebagai laporan). INDROHARTO, SH.

3. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi seluruh Indonesia.

4. Sdr. Prof. Mr. Dr. SUDARGO GAUTAMA JI. Medan Merdeka Timur No. 9 Jakarta sebagai salah satu tanggapan atas suratnya tanggal 8 Juli 1986.

Pertinggal.

92

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

MA/K.UMDIL/8868/IX/86.

Jakarta, 24 September 1986.

Kepada Yth.:

Nomor

I.ampiran : 1. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi,

Perihal Izin/persetujuan sebagai Dosen tidak tetap bagi para Hakim.

2. ,, Ketua Pengadilan Negeri, di

Seluruh Indonesia.

Akhir-akhir ini dijumpai banyaknya permintaan dari Perguruan Tinggi/

Akademi Negeri maupun Swasta akan tenaga Hakim untuk mengajar sebagai Dosen tidak tetap.

Sehubungan dengan hal tersebut, Mahkamah Agung pada prinsipnya dapat menyetujuinya, dengan ketentuan:

1. kegiatan terse but tidak mengurangijam kerja sebagai Hakim�egawai Negeri;

2. tidak pula mengganggu 'konsentrasi pada tugas pokok sebagai Hakim.

Oleh karenanya apabila pada Pengadilan yang berada dibawah pimpinan Saudara, terdapat permintaan sebagaimana tersebut diatas, izin/persetujuan di­

berikan apabila telah memenuhi kedua ketentuan tersebut Untuk Saudara maklumi.

Mahkamah Agung - RI Wakil Ketua,

Cap/ttd.

Dalam dokumen 47.03S ct HIMPUNAN. -f AGUNG RI (Halaman 106-110)