• Tidak ada hasil yang ditemukan

47.03S ct HIMPUNAN. -f AGUNG RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "47.03S ct HIMPUNAN. -f AGUNG RI"

Copied!
239
0
0

Teks penuh

(1)

HIMPUNAN

SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG (SEMA) PERATURAN/INSTRUKSIJKEPUTUSAN/ DAN

SURAT KEPUTUSAN BERSAMA TUA

-f AGUNG RI

47.03S ct

AMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1986- 1988

Dihtmpun oleh

...-�---�REKTORAT HUKUM DAN PERAOIU�- MAHKAMAH AGtJNG REPUBLIK INDONl!SIA

(2)

HIMPUNAN

SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG (SEMA) PERATURAN/INSTRUKSI/KEPUTUSAN/ DAN

SURAT KEPUTUSAN BERSAMA

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1986 - 1988

Milik Perpustakaan :Mahkamah Agung R.I.

Dihimpun oleh

DIREKTORAT HUKUM DAN PERADIIAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

(3)

·'

Tanggal

No. lnduk , :i)f/��--�···ito

I

No Klas . --� 3'-f7.o3S: Ind t,,

Bp.1!H,1d1ah;

./DfDiJ::::::::::

(4)

DAFTAR ISi

L SEMA 1986-1988

No. Norn« Surat

1. SEMA No. 1 Tahun 1986

2. SEMA No. 2 Tahun 1986

3. SEMA No. 3 Tahun 1986

4. SEMA No. 4 Tahun 1986 5. PERMA No. 2 Tahun 1986

6. SKB J aksa Agung dan Ketua Mahkamah Agung SE.003/J.A/12/1986 05 Tahun 1986.

7. SEMA No. 1 Tahun 1987

8. SEMA No. 2 Tahun 1987 9. SEMA No. 3 Tahun 1987

T en tang

Pennohonan grasi karena jabatan oleh Ketua Pengadilan Negeri bagi terpidana yang dipidana mati yang tidak mengajukan grasi.

Perkara yang diperiksa menurut acara pemeriksaan tindak pidana ri­

ngan dalam hal ancaman dendanya lebih dari Rp. 7.500,-

Penundaan eksekusi terhadap pu•

tusan yang telah mempunyai keku­

atan hukum tetap, dalam rangka menghadapi Pemilu.

Operasi pengamanan hutan terpadu.

Pencabutan Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1977, tentang jalannya pengadilan dalam pemerik­

saan kasasi dalam perkara perda ta dan pidana oleh Pengadilan Agama dan Pengadilan Militer.

Prosedur pengajuan pennohonan premi dan pola pengaturan pemba­

giannya.

Pengiriman berkas perkara kasasi pidana yang terdakwanya berada dalam tahanan.

Pemidanaan terhadap para pelang­

gar hak cipta.

Pennohonan penetapan penahanan oleh Mahkamah Agung R1 bagi ter­

dakwa yang berada dalam tahanan.

Hal.

2

4 6

9 12

14 15

18

(5)

No. Nomor Surat Tentang Hal.

10. SEMA No. 4 Tahun 1987 Penyesuaian kembali tanggal pena- hanan dalam hal terdakwa telah ter- lanjur dikeluarkan demi hukum dari tahanan sebagai akibat keterlambat- an penerimaan penetapan Mahka- mah Agung oleh Ketua Pengadilan

Negeri. 20

11. SEMA No. 5 Tahun 1987 Tembusan permohonan penetapan penahanan agar disampaikan kepa- da kepala rumah tahanan negara. 22 12. SEMA No. 6 Tahun 1987 Tata Tertib Sidang Anak. 25 13. SEMA No. 7 Tahun 1987 Pelelan�n kayu sitaan. 27 14. SEMA No. 8 Tahun 1987 Penjelasan dan petunjuk-petunjuk

pelaksanaan keputusan bersama Ke- tua Mahkamah Agung dan Menteri Kehakiman

N KMA/005/SKB/VII/87 o. : M.03.PR08.05. Tun. 1987.

tentang tata cara pen�wasan, pe- nindakan dan pembelaan diri pena-

sihat hukum. 30 1

15. SEMA No. 1 Tahun 1988 Kegiatan sidang. 56 16. SEMA No. 2 Tahun 1988 Pedoman pembagian tu�s antara

Ketua Pen�dilan Tinggi/Negeri dan Wakil Ketua Pen�dilan Tinggi/Ne-

geri. 61

17. SEMA No. 3 Tahun 1988 Penafsiran secara luas terhadap isti- lah "menggunakan" dalam Kepres No. 39 tahun 1980 tentang peng-

hapusan jaring trawl. 64

@)

SEMA No. 4 Tahun 1988 Eksekusi terhadap hukuman pem- bayaran uang pen�nti. (Pasal 34 sub C UU. No. 3 Tahun 1971 ). 65 19. SEMA No. 5 Tahun 1988 Pengiriman Salinan Surat Putusan

Pen�dilan kepada PPNS bidang

keimigrasian. 67

20. SEMA No. 6 Tahun 1988 Penasihat Hukum atau Pen�cara yang menerima kuasa dari Terdak- wa/Terpidana "in absentia". 68 iv

(6)

Il. SURAT-SURAT PETIJNJUK MAHKAMAH AGUNG- Rl

No. NomOI' Surat Tentang Hal.

1. MA/PEMB/2140/86. Pengawasan Notaris. 69 28 Pebruari 1986.

2. MA/PEMB/3429 /86. Petunjuk tentang izin penyitaan 12 April 1986. minuta akta yang disimpan oleh

Notaris/Panitera. 72

3. MA/PEMB/3430/86. Petunjuk sehubung�m dengan surat 12 April 1986. Notaris Veronica Lily Dharma, SH. 76 4. MA/K.UMDIL/4301 /V /86. Pengangkatan Penasihat Hukum un-

14 Mei 1986. tuk wilayah hukum PT. Jakarta. 79 5. MA/K.UMDIL/4669 /V /86. Pemberitahuan perubahan nama Bi-

ro Pembinaan menjadi Direktorat

Hukum dan Peradilan. 82

6. 33/TUN/VII/1986. Penjelasan Pelaksanaan SEMA No.

29 Juli 1986. 1 Tahun 1980, khususnya mengenai larangan bagi Hakim untuk menilai kebenaran materi putusan P4 ter-

masuk pertimbangannya. 83 7. KMA/081/IX/1986. Dispensasi/Izin Sidang dengan ha-

1 September 1986. kim tunggal. 91

8. MA/K.UMDIL/8214/IX/86. Pengajuan surat jawaban dan surat 6 September 1986. menyurat lainnya oleh pihak-pihak berperkara dalam pemeriksaan per-

kara perdata. 92

9. MA/K.UMDIL/8868/IX/86. Izin/Perse1ujuan sebagai Dosen ti-

24 September 1986. dak tetap bagi para Hakim. 93 10. MA/KUMDIL/0144/I/87. Barang bukti kayu hasil tebangan

12 Januari 1987. liar. 94

11. MA/K.UMDIL/2050/11/87. Permohonan un1uk membuka kan- 21 Pebruari 1987. tor Advokat dan Pengacara di Jam-

bi A.n. E.S. Siregar, SH. 96

12. MA/K.UMDIL/2051 /11/87. Sertifikat P4 bagi Penasihat Hukum 98 21 Pebruari 1987.

(7)

No. NomorSurat Tentang Hal.

/13. MA/KUMDIL/6066/VI/87. Penjelasan tentang Izin Praktek. 101 23 Juni 1987.

14. MA/KUMDIL/6983/VII/87. Bukti Daftar Diri bagi para Advokat 106 10Julil 987.

15. MA/K UMDIL/6398/VII/87. Permintaan I..aporan tentang pelak-

11 Juli 1987. sanaan patokan pemidanaan. 111 16. MA/KUMDIL/8033 /IX/87. Pendataan kembali dan Penataran

3 September 1987. P4 para penasihat hukum. 112 /17.

,MA/KUMDIL/8810/IX/87. Izin sebagpi Pembela/Penasihat Hu-

21 September 1987. kum. 114

@)

37 /TU /88/66/Pid. Fatwa mengenai Eksekusi terhadap 12 Januari 1988. Hukuman Pembayaran Uang Peng-

gpnti (Pasal 34 sub C UU. No. 3

Tahun 1971). 117

19. MA/K UMDIL/0252/1/1988. Pengiriman copy rumusan hasil ra- 16 Januari 1988. pat koordinasi di Ujung Pandang

tanggpl 7 Desember 1987. 119 20. MA/P AN/058/1/1988. Penyampaian foto copy surat ten-

26 Januari 1988. tang micro film sebagpi alat bukti. 127 fll. . MA/KUMDIL/0595/1/1988 Mohon petunjuk prosedur beracara

30 Januari 1988. bagi Pengpcara Praktek di luar dae-

rah hukum Pengpdilan Tinggi: 129 22. KMA/057 /11/1988 Pelaksanaan Eksekusi selama her-

17 Pebruari 1988. langsungnya Sidang Umum MPR. 131 23. 414/TU/1988/1908/PID. Ketentuan Pidana dalam UU wajib

27 April 1988. daftar perusahaan. 132

24. MA/KUMDIL/3429 /VII/ Mohon penjelasan tentang izin pe-

1988. ngpcara praktek di wilayah hukum

7 Juli 1988. Pengpdilan Tinggi Medan. 133 25. MA/KUMDIL/3431/VII/ Mohon fatwa ten tang apakah penyi-

1988. dik perwira AL dalam perkara ZEE 7 Juli 1988. Indonesia perlu diambil sumpah ja-

batan selaku penyidik. 135 vi

(8)

No. Nomor Surat Tentang Hal.

26. MA/KUMDIL/3889 /VIII/ Mohon petunjuk tentang Pegawai 88. Negeri yang praktek sebagai Penga-

25 Juli 1988. cara. 136

27. MA/KUMDIL/4252/VIII/ Pennohonan penjelasan mengenai

88. pendaftaran surat kuasa. 137

13 Agustus 1988.

28. MA/KUMDIL/5649/IX/88. Pennohonan clan Petunjuk penjelas- 8 September 1988. an tentang kuasa subtitusi sebaha-

gian dari Pengacara Praktek. 139 29. MA/KUMDIL/6261 /X/88. Asisten Advokat 140

12 Clctober 1988.

30. MA/KUMDIL/6263/X/88. Mohon petunjuk Iafaz sumpah pro-

12 Clctober 1988. fesi Notaris. 142

31. MA/KUMDIL/6728/XI/88. Mohon petunjuk mengenai keabsah- 1 November 1988. an berlakunya SK Residen Jakarta

No. 8/Agr/54 Tanggal 22 Maret

1954. 143

@

MA/KUMDIL/6877 /XI/88. Mohon petunjuk Pengacara Praktek 144 14 November 1988.

33. MA/KUMDIL{7089/XI/88. Petunjuk tugas Biro Bantuan Hu- 18 November 1988. kum �n Dosen Pegawai Negeri

yang menjalankan profesi Advokat

Pengacara. 146

6).

MA/KUMDIL{7292/XI/88. Mohon penjelasan tentang syarat- 30 November 1988. syarat mengikuti ujian tehnis Calon

Pengacara Praktek. 147

35. MA/KUMDIL{7293/XII/88 Ujian tehnis Calon Pengacara Prak-

3 Desember 1988. tek. 149

(9)

IR INSTR.UKSI / SK-KMA No. Nomor Surat

I. KMA/004/1/1986 25 Januari 1986

2. KMA/005/1/1986 ' 31 Januari 1986

3. 08/KMA/1986 29 Mei 1986 4. 09/KMA/1986

29 Mei 1986

5. 02/KMA/SK/IV/1987 25 April 1987.

6. SKBNo.:

KMA/005/SKB/VIl/87 M.03-PR.08.05.Th.87 7. SKBNo.:

KMA/006/SKB/VIII/87 M.04-PR.08.05.Th. 87.

8. KMA/009/SK/IX/1987 5 September 1987

9. KMA/009/SK/11/88 10 Pebruari 1988.

viii

Tentang

Menginstruksikan kepada para Ke­

tua Pengadilan Negeri ten tang Pem­

beritahuan tenggang waktu kasasi kepada para pihak.

Menginstruksikan kepada para Ke­

tua Pengadilan Agama ten tang pem­

beritahuan tenggang waktu kasasi kepada para pihak.

Pembentukan Dewan Tanda-tanda Kehormatan Mahkamah Agung - RI.

Bea Leges perkara kasasi dan penin­

jauan kembali perdata pada Mahka­

mah Agung RI.

Pembentukan Team K husus Majelis Hakim Agung untuk memeriksa dan mengadili perkara pidana.

Tata cara pengawasan penindakan dan pembelaan diri penasehat hu­

kum.

Tata cara pengawasan, penindakan dan pembelaan diri Notaris.

Penunjukan pejabat yang melaksa­

nakan tugas Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Umum Bi­

dang Hukum Pidana Umum.

Tata cara evaluasi atas hasil penga­

wasan oleh Pengadilan tingkat Ban­

ding dan Pengadilan tingkat Perta­

ma.

Hal.

151

153

155

158

160

162 171

181

183

(10)

No. NomorSurat

10. · SKB No. :

· KMA/01 0/SKB/11/88 M.01-PR.08.02.Th.88 30/1988.

11. KMA/012/SK/III/88 18 Maret 1988.

12. KMA/013/SK/IIl/88 18 Maret 1988.

13. KMA/015/SK/V/1988 6 Mei 1988.

14. KMA/016/SK/VI/88 27 Juni 1988.

15. KMA/017 /SK/VI/88 27 Juni 1988.

Te nta n g

Tata cara bantuan tenaga Hakim untuk lingk.ungan Peradilan Agama clan Latihan Jabatan bagi. Hakim serta Panitera Pengadilan Agama.

Pola pembinaan clan pengenclalian administrasi kepaniteraan pengadil­

an lingk.ungan peradilan umum.

Pola pembinaan dan pengendalian administrasi perkara Peradilan Aga­

ma.

Penunjukan Hakim Agung un tuk menangani masalah-masalah yang bersangk.u tan dengan Peradilan Anak di Mahkamah Agung.

Penyelenggaraan Penataran singk.at tentang penemuan hukum dan pe­

mecahan masalah hukum clalam rangk.a pengembangan pengetahuan di bidang tehnis yustisial.

Penyelenggaraan penataran singk.at dalam rangk.a pengembangan penge­

tahuan di bidang tehnis yustisial.

Hal.

206

210 212

214

216

218

(11)

'

(12)

KATA PENGANTAR

Penerbitan Buku Himpunan ini merupakan upaya turut menga­

mankan clan mensukseskan segala kebijaksanaan Pimpinan Mahka­

mah Agung - RI. dalam rangka peningkatan kegiatan di bidang Hu­

kum clan Peradilan. Di dalam buku himpunan ini disusun clan me­

muat semua produk-produk kebijaksanaan Mahkamah Agung clari tahun 1 986 - 1988, yang terdiri dari :

- SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG-RI. (SEMA);

- PERA TURAN MAHKAMAH AGUNG-RI. (PERMA);

- SURAT PETUNJUK MAHKAMAH AGUNG-RI.;

- INSTRUKSI KETUA MAHKAMAH AGUNG-RI.;

- SURAT KEPUTUSAN BERSAMA (SKB.);

- KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG-RI.;

Sejalan dengan derap pembangunan yang sedang kita laksanakan serta perkembangan hukum yang ada maka pejabat peradilan khusus­

nya dan penega

k

hukum pada umumnya, senantiasa dituntut untuk lebih tanggap dalam menghadapi dan mengatasi berbagai permasa­

lahan dimaksud. Oleh karena itu buku himpunan ini kiranya dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan dalam praktek peradilan.

Semoga buku himpunan ini dapat bermanfaat untuk ketepatan dan kelancaran jalannya peradilan di Negara kita.

Jakarta, Desember 1988,

AMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA, NITERA/SEKRETARIS JENDERAL

.... .-L.. .... _

TUR HUKUM DAN PERADILAN,

(13)

.;

··�

.,

,, ,,

.

(14)

-.

I. SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG

(SEMA) 1986 - 1988

(15)

.-

.

.. "-'�,;t':

:-.="I

c_'

;'

..

,,,-,.(/'•.-

,. ·---:t·

�-,r'" . .J·

,.,

'

I_ ,_...,

• �� ij

�-· �.. j

;jl

,_

1

,r��

.,.,.

(16)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Nomor MA/Pemb/2057 /86.

Jakarta, 26 Pebruari 1986.

Kepada:

Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri di

Seluruh Indonesia.

SURAT EDARAN No. 1 Tahun 1986

Tentang

PERMOHONAN GRASI KARENA JABATAN OLEH KETUA PENGADILAN NEGERI BAGI TERPIDANA YANG DIPIDANA MATI YANG TIDAK MENG­

AJUKAN GRASI.

Berdasarkan pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 tahun 1950 tentang Permohonan Grasi, jika orang yang dihukum (maksudnya dengan pidana mati) tidak mengajukan permohonan grasi, maka Hakim atau Ketua Pengadilan Negeri harus mengajukan permohonan grasi karena jabatan sebagaimana yang diatur dalam pasal I 2 Undang-Undang terse but.

Sehubungan dengan itu apabila di pengadilan negeri di bawah pimpinan Saudara ada terpidana yang dijatuhi pidana mati yang tidak mengajukan perm�

honan grasi setelah putusan tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap, agar permohonan grasi tersebut diajukan oleh Hakim yang mengadili perkaranya atau oleh Saudara sendiri karena jabatan.

Demikian agar dilaksanakan sebagaimana mestinya dan atas perhatian Saudara diucapkan terima kasih.

Tembusan:

Yth. Sdr Ketua Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia.

MAHKAMAH AGUNG - RI K e t u a ,

Cap/ttd.

ALI SAID, SH.

(17)

MAHKAMAHAGUNG REPUBLIK INDONESIA

Nomor MA/Kumdil/867 5 /IX/86.

Jakarta, 17 September 1986.

Kepada Yth.:

1. Sdr. Ketua Pengadilan Tmggi 2. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri diSeluruh Indonesia

SURAT EDARAN Nomor: 2 Tahun 1986

Tentang

PERKARA YANG DIPERIK.SA MENlJ,RUT ACARA PEMERIKSAAN TINDAK PIDANA RINGAN DALAM HAL ANCAMAN DENDANY A

LEBIH DARI RP. 7 .500,-

Berhubung adanya beberapa pertanyaan tentang Surat Edaran Mahkamah Agung No. 18 Tahun 1983, khususnya mengenai masalah batasan maksimal ancaman pidana denda yang dapat digunakan sebagai patokan bagi suatu perkara untuk diperiksa menurut acara pemeriksaan tindak pidana ringan, bersama ini dijelaskan bahwa :

2

I. yang menjadi patokan bagi suatu perkara untuk diperiksa menurut acara pemeriksaan tindak pidana ringan adalah yang berbatas maksimal ancaman pidana badan selama tiga bulan penjara atau kurungan, ref ketentuan pasal 205 ayat (1) KUHAP dan hendaklah jangan menyim­

pang dari ketentuan ini;

2. yang dapat disimpangi adalah ketentuan tentang batas maksimal ancam­

an pidana denda (ref pasal 205 ayat (1) KUHAP) sebesar Rp. 7.500,-, karena jumlah tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan kenyataan yang ada dan banyaknya peraturan-peraturan sekarang ini yang mengancam para pelanggar dengan pidana denda sampai puluhan ribu rupiah;

3. berdasarkan uraian tersebut di atas maka jumlah ancaman pidana denda sebanyak Rp. 15.000,- dalam Surat Edaran Mahkamah Agung No. 18 Tahun 1983 adalah sekedar contoh yang menjelaskan bahwa ancaman pidana denda sebanyak Rp. 7.500,- dalam pasal 205 ayat (1) KUHAP dapat disimpangi.

(18)

Sarnpai berapa besar jumlah penyimpangan teraebut diserahkan pada kebutuhan praktek yang harus dilandasi oleh jiwa dari acara pernerik­

saan "cepat" itu sendiri.

Untuk Saudara maklumi.

MAHKAMAH AGUNG. RI K e t u a,

Cap/ttd.

ALI SAID, SH.

Tembusan:

1. Yth. Sdr. Menteri Kehakiman • RI.

2. Yth. Sdr. Jaksa Agung- RI.

3. Yth. Sdr. KepaJa Kepolisian • RI.

4. Yth. Sdr. Wakil Ketua Mahkamah Agung- RI.

5. Yth. Sdr. Para Ketua Muda Mahkamah Agung- RI.

6. A r s i p .

(19)

KE1UA MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 4 Nopember 1986.

Nomor : MA/Kumdil/10600/XI/86. Kepada Yth.

1. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi, 2. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri, di

Seluruh Indonesia.

SURAT EDARAN Nomor : 3 Tahun 1986

Tentang

PENUNDAAN EKSEKUSI TERHADAP PUTUSAN YANG TELAH MEMPUNY Al KEKUA TAN HUKUM TE TAP, DA LAM RANGKA

MENGHADAPI PEMILU 1987.

Sehubungan surat Saudara Ketua Pengadilan Tinggi Padang tanggal 2 Sep­

tember 1986 No. W3.DA.HT.RHS.04.02.01, perihal permohonan petunjuk mengenai permintaan penudaan eksekusi terhadap putusan yang telah mempu­

nyai kekuatan hukum tetap oleh penguasa daerah dalam rangka menghadapi Pemilu 1987, maka dengan ini Mahkamah Agung memberikan penggarisan sebagai berikut:

l . Pada asasnya setiap pu tusan Pengadilan yang sudah berkekuatan hukum te­

tap hams dilaksanakan;

2. Hanya dalam hal-hal tertentu, dimana menurut pendapat Penguasa di da­

erah, eksekusi sesuatu perkara akan menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat menjelang Pemilu yang akan datang, maka apa­

bila hal-hal itu Saudara anggap cukup beralasan, eksekusi putusan tersebut dapat Saudara tangguhkan untuk sementara waktu;

3. Dalam hal penangguhan eksekusi diminta oleh Penguasa daerah, maka agar permintaan tersebut ditembuskan kepada atasan menurut hirarki masing­

masing.

4

(20)

Demikian agar memperoleh perhatian seperlunya.

Tembusan

I. Yth. Sdr. Menteri Kehakiman -RI.

2. Yth. Sdr. Wakil Ketua Mahkamah Agung -RI.

3. Yth. Sdr. Ketua Muda Mahkamah Agung - RI.

4. A r s i p .

MAHKAMAH AGUNG - RI K e t u a,

Cap/ttd.

ALI SAID, SH.

(21)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 10 Nopember 1986.

Nomor MA/K.umdil/10701/XI/86. Kepada:

Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri di

Seluruh Indonesia.

SURAT EDARAN Nomor : 4 Talmn 1986

Tentang

OPERASIPENGAMANAN HUTAN TERPADU.

Bahwa sudah sejak beberapa tahun yang lalu dirasakan bahwa pengamanan hutan telah menjadi beban yang tidak dapat ditanggulangi sendiri oleh Departe­

men Kehutanan.

Dari pembahasan bersama antara unsur-unsur Polkam telah disimpulkan perlunya tindakan bersama yang terkoordinir oleh segenap unsur Polkam, yang akan diikuti dengan tindak lanjut justisial dan penertiban-penertiban lainnya yang dilakukan secara fungsional oleh masing-masing instansi yang terkait.

Sehubungan dengan yang tersebut di atas, bersama ini Mahkamah Agung menginstruksikan

1. Agar segenap jajaran pengadilan di seluruh Indonesia membantu sepe­

nuhnya operasi pengamanan hutan terpadu.

2. Segera menunjuk Hakim-hakim yang setiap saat siap untuk mengadakan pemeriksaan perkara hasil operasi pengamanan hutan terpadu dengan kalau perlu mengadakan sidang-sidang di tempat kejadian perkara.

3. Mengadakan kerja sama yang sebaik-baiknya dengan masing-masing instansi yang terkait, khususnya instansi Pemerintah Daerah, Kehutanan, Kejaksaan dan Kepolisian.

4. Agar bertindak cepat dan tanggap dalam mempertimbangkan setiap permc, honan izin yang diajukan oleh masing-masing instansi yang terkait menge­

nai penyitaan atas benda-benda yang akan dijadikan barang bukti mau­

pun penjualan atas benda-benda sitaan tersebut.

6

(22)

Demikian agar instruksi ini mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari Saudara untuk mana diucapkan terima kasih.

KETUA MAHKAMAH AGUNG - RI U.b.

KE TUA MUDA BIDANG HUKUM PIDANA UMUM, Cap/ttd.

(H. ADI ANDOJO SOETJIPTO, SH).

Tembusan:

I. Yth. Bapak Ketua Mahkamah Agung - RI.

(sebagai laporan).

2. Yth. Bapak Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.

3. Yth. Bapak Menteri Kehakiman.

4. Yth. Bapak Menteri Kehutanan.

5. Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia.

(23)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Nomor Lampiran Perihal

. MA/Pemb/3629/86.

1 (satu) lembar.

Pera turanMahkamah Agung Nomor 2 Ta­

hun 1986.

Jakarta, 17 April 1986.

Kepada Yth.:

1. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi, 2. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi

Agama,

3. Sdr. Ka. Mahkamah Militer Ting- 4. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri,gi, 5. Sdr. Ketua Pengadilan Agama, 6. Sdr. Ka. Mahkamah Militer, diSeluruh Indonesia.

Bersama ini kami sampaikan dengan hormat Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 1986 ten tang Pencabutan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1977, yang telah ditetapkan pada tanggal 15 April 1986.

Demikianlah untuk dimaklumi hendaknya, dan atas perhatian Saudara­

saudara, kami ucapkan terima kasih.

Tembusan:

1. Yth. Sdr. Laksa Mahmilgung.

2. Yth. Sdr. Ka. Babinkum ABRI.

MAHKAMAH AGUNG -RI Kepala Biro Pembinaan,

Cap/ttd.

NY. LIES SUGONDO, SH.

NIP. 040009173.

3. Yth. Sdr. Direktur Pembinaan Badan Peradilan Agama Departemen Agama - RI.

4. Arsip.

8

(24)

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

P ERA TURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Nomor : 2 Tahun 1 986 Tentang

PENCABUTAN PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1 TAHUN 1977

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Mengingat

Menetapkan

bahwa dengan telah diundangkannya Undang-Undang Mahka­

mah Agung nomor : 14 tahun 1985 yang berlaku sejak tanggal 30 Desember 1985 yang antara Jain telah diatur tentang acara pemeriksaan kasasi untuk perkara-perkara yang diputus oleh Pengadilan-Pengadilan di Lingkungan Peradilan Agama dan Lingkungan Peradilan Militer, maka dianggap perlu untuk mencabut Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1977 tentang "Jalan Pengadilan dalam Pemeriksaan kasasi dalam perkara perdata dan pidana oleh Pengadilan Agama dan Peng­

adilan Militer".

l. Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ke­

tentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman;

2. Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahka­

mah Agung;

3. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1977 tentang Jalan Pengadilan dalam pemeriksaan kasasi dalam perkara perdata dan perkara pidana oleh Pengadilan Agama dan Pengadilan Militer.

M EMU T U SK A N:

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONE­

SIA TENTANG PENCABUTAN PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ·1 TAHUN 1977, DENGAN KETENTUAN SEBAGAI BERIKUT.:

(25)

Pasal 1

Peraturan Mahkamah Agung Nomor I tahun 1977 tanggal 26 Nopember 1977 dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pasal 2

Peraturan Mahkamah Agung ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : J a k a r t a . Pada tanggal : 15 April 1986.

KETUA MAHKAMAH AGUNG - RI Cap/ttd.

ALI SAID, S.H.

10

(26)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONE�IA

Nomor Lampiran Perihal

MA/Kumdil/0080/1/1987 1 (satu) eksemplar.

Surat Edaran Bersama J aksa Agung - RI dan K e t u a M a h k a m a h Agung- RI.

Jakarta, 7 Januari 1987.

Kepada:

1. Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi,

2. Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri,

di

Seluruh Indonesia.

Bersama ini disampaikan Surat Edaran Bersama Jaksa Agung RI dan Ketua Mahkamah Agung - RI Nomor : SE.003/J.A./12/1986, 05 Tahun 1986 ter­

tanggal 16 Desember 1986 tentang PROSEDUR PENGAJUAN PERM OH ONAN PREMI DAN POLA PEN GA TURANNY A, dengan harapan agar memperoleh perhatian seperlunya.

P ANITIA/SEKRETARIS JENDERAL, Cap/ttd.

R. MOCHAMAD IMAN, S.H.

Tembusan:

1. Yth. Bapak Ketua Mahkamah Aguog - RI,

NIP : 040007813.

2. Yth. Bapak Wakil Ketua Mahkamah Agung - RI,

3. Yth. Bapak Ketua Muda Mahkamah Agung - RI Urusan Lingkungan Peradilan Umum Bidang Hukum Pidana Umum,

(1 s/d 3 sebagai laporan), 4. Arsip.

(27)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

SURAT EDARAN BERSAMA

JAKSA AGUNG R.I. dan KETUA MAHKAMAH AGUNG R.I.

Nomor : SE.003/J .A/12/1986.

Nomor : 5 Tahun 1986 Tentang

PROSEDUR PENGAJUAN PERMOHONAN PREMI DAN POLA PENGATURAN PEMBAGIANNY A

1. Sebagaimana telah dimaklumi, pemberian premi/uang ganjaran dalam rang­

ka penyelesaian kasus-kasus penyelundupan pada hakekatnya dimaksud­

kan untuk lebih menggairahkan pelaksanaan tugas-tugas di bidang penyi­

dikan, penuntutan dan peradilan atau sebagai imbalan baik untuk instansi­

instansi yang bersangkutan maupun aparat-aparatnya. Karena itu pula maka premi/uang ganjaran tidak dapat dianggap sebagai perangsang hanya bagi seorang/sekelompok penangkap, penyidik, penuntut dan pemutus perkara saja tanpa memperhatikan kebutuhan operasional dari instansi-instansi yang terkait.

2. Mengamati prosedur pengajuan permohonan pembayaran premi dan pola pembagiannya selama ini yang belum memperhatikan hal-hal yang dimak­

sud pada butir 1 maka demi keseragaman penanganan masalah premi dirasa perlu untuk mengatur prosedur pengajuan permohonan premi dan pola pengaturan pembagiannya sebagai berikut :

12

a Setiap permohonan premi dari KAJATI/KAJARI hendaknya diaju­

kan melalui Jaksa agung R.I. cq. Jaksa Agung Muda Bidang Pembina­

an yang seterusnya akan diproses/diteruskan kepada Menteri Ke­

uangan R.1.;

b. Premi yang dibayarkan oleh Menteri Keuangan sebelum dibagikan ke­

pada masing-masing pihak yang berhak terlebih dahulu akan disisih­

kan:

untuk keperluan operasi Kejaksaan Agung R.I. sebesar 3% , dan untuk keperluan dan operasi Mahkamah Agung R.I. sebesar 2%.

Premi selebihnya oleh Kejaksaan Agung akan dikirimkan/diteruskan kepada masing-masing pihak yang berhak melalui :

KAJATI pemohon, yaitu sejumlah hak-hak premi dari pihak penangkap, penyidik dan/atau eksekutor sesuai ketentuan yang berlaku.

(28)

Mahkamah Agung R.I., yaitu jumlah hak-hak premi dari pihak­

pihak yang nyata-nyata menyidangkan dan memutus perkara yang berkaitan dengan pemberian premi tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.

c. Dengan berpedoman pada huruf b.2 dari Keputusan Menteri Keuangan R.I. Nomor 268/KMK.01/1982, pembagiannya diatur sebagai berikut:

40% diberikan kepada mereka yang nyata-nyata menyidik perkara hingga menjadi berkas yang memenuhi syarat untuk dilimpah­

kan ke Pengadilan;

25% diberikan kepada mereka yang nyata-nyata bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum di dalam persidangan;

25% diberikan kepada mereka yang nyata-nyata menyidangkan dan memutus perkara yang bersangkutan;

10% diberikan kepada mereka yang nyata-nyata terlibatfberpartisipasi dalam pelaksanaan eksekusi barang rampasan yang berkaitan de­

ngan premi yang dibayarkan.

Pola pembagian tersebut hendaknya dapat diatur dan dilaksanakan demikian rupa sehingga pejabat atau petugas yang berhak dapat me­

nikmati sepantasnya, dan kebutuhan operasional kantor di mana ma­

sing-masing pejabat/petugas yang bersangkutan tetap diperhatikan.

Demikian untuk dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.

KETUA MAHKAMAH AGUNG R.I.

Cap/ttd.

ALI SAID, SH.

Jakarta, 16 Desember 1986.

JAKSA AGUNG R.I., Cap/ttd.

HARl SUHARTO, SH.

(29)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 21 Pebruari 1987.

Nomor : MA/Kumdil/1733/Il/87. Kepada:

Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri di Seluruh Indonesia.

SURATEDARAN Nomor : 1 Tahun 1987

Tentang

PENGIRIMAN BERKAS PERKARA KASASI PIDANA Y ANG TERDAKWANYA BERADA DALAM TAHANAN.

Sehubungan sering terlambatnya pengiriman berkas perkara kasasi pidana oleh Pengadilan Negeri yang terdakwanya berada dalam tahanan, sehingga ham­

pir habis atau bahkan melampaui batas waktu masa tahanan yang menjadi wewenang Mahkamah Agung, hal mana sangat menyulitkan kami dan menimbul­

kan masalah yang tidak boleh dikatakan ringan, bersama ini diminta perhatian yang sungguh-sungguh dari Saudara-saudara untuk mengusahakan agar pengi­

riman berkas perkara kasasi pidana yang terdakwanya berada dalam tahanan dilakukan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Panitera Pengadilan Negeri, dan setelah terlebih dahulu diteliti kelengkapan berkas perkaranya.

Pengiriman itu hendaknya dilakukan dengan sarana pengiriman "tercepat"

yang dapat dilakukan dari daerah Saudara.

Atas perhatian Saudara diucapkan terima kasih.

Tembusan:

KETUA MUDA MAHKAMAH AGUNG - RI BIDANG HUKUM PIDANA UMUM,

Cap/ttd.

I-'. ADI ANDOJO SOETJIPTO, SH.

1. Yth. Bapak Ketua Mahkamah Agung - RI (sebagai laporan).

2. Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi seluruh Indonesia.

3. Arsip.

14

(30)

MAHKAMAH AGUNG

REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 7 April 1987.

Nomor Lampiran

MA/Kumdil/3465/IV /87.

1 (satu) lembar.

Kepada Yth.

1. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi, 2. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri, di

Seluruh Indonesia.

SURAT ED ARAN Nomor : 2 Tahun 1987

Tentang

PEMIDANAAN TERHADAP PARA PELANGGAR HAK CIPTA.

Dengan mengingatkan kembali pada Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 05 Tahun 1973 (yang untuk memudahkan Saudara mempelajarinya lagi kami sertakan bersama ini salinannya) dan pada hasil RAKERNAS Mahkamah Agung dengan Ketua-Ketua Pengadilan Tinggi se Indonesia tahun 1985 tentang Prak­

tek Pemidanaan, bersama ini Mahkamah Agung ingin meminta perhatian Saudara akan satu hal yang akhir-akhir ini banyak mendapat ulasan di Media-media massa serta menjadi perhatian Pemerintah, yakni tentang pembajakan ciptaan atau pelanggaran hak cipta oleh orang-orang tertentu yang ssecara tak bertanggung jawab merugikan orang lain dengan melawan hukum sebagairnana diatur dalam pasal 44 Undang-undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta.

Terhadap tindak pidana itu apabila sampai diajukan ke pengadilan, hendak­

nya Saudara dalam menjatuhkan pidana dapat berpegang pada isi serta maksud Surat Edaran Mahkamah Agung No. 05 tahun 1973 dan hasil RAKERNAS tahun 1985 tersebut di atas.

Demikian untuk mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari Sau­

dara.

MAHKAMAH AGUNG - RI Ketua,

Cap/ttd.

ALI SAID, S.H.

(31)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

No.

I.ampiran Perihal

M.A./Pemb./1181/73.

Pemidanaan agar sesuai dengan berat dan sifat kejahatannya.

Jakarta, 3 September 1973.

Kepada Yth.:

I. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi 2. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri diIndonesia.

SURAT ED ARAN No. 05 tahun 1973.

Meskipun dalam suatu perkara pidana penetapan tentang berat-ringannya pidana adalah wewenang penuh dari Judex facti, yang tidak dapat dirobah/di­

perbaiki dalam tingkat kasasi, namun dengan ini Mahkamah Agung menyatakan pendapatnya dan min ta perhatian Saudara bahwa banyak sekali terjadi Pengadil-.

an Negeri/Pengadilan Tinggi memberikan pidana yang sangat ringan jika di­

bandingkan dengan beratnya dan sifatnya kejahatan yang dilakukan oleh si tertuduh.

Terutama mengenai kejahatan-kejahatan terhadap keamanan jiwa dan harta­

benda, tindak-pidana ekonomi, korupsi dan subversi, perkara-perkara narkotika dan perkosaan, Mahkamah Agung mengharapkan supaya Pengadilan menjatuh­

kan pidana yang sungguh-sungguh setimpal dengan beratnya dan sifatnya ke­

jahatan-kejahatan tersebut dan jangan sampai di dalam menjatuhkan pidana itu menyinggung perasaan maupun pendapat umum.

Dinaikannya maximum ancaman pidana dalam pasal 360 K.U.H.P. misal­

nya mengandung maksud bahwa untuk kejahatan termaksud dari Hakim diharap­

kan pemberian pidana yang lebih berat dari pada yang lazim diberikan sebelum­

nya.

Dikeluarkannya Undang-undang Anti Korupsi mengandung maksud bahwa untuk kejahatan korupsi dari Hakim diharapkan pemberian pidana yang lebih berat dari pada yang lazim dijatuhkan dalam halnya si. tertuduh dipersalahkan tentang kejahatan yang termaktub dalam pasal 3I2 atau pasal-pasal 415, 418 dan 419 K.U.H.P.

16

(32)

Demikianlah untuk menjadi perhatian para Hakim.

ATAS PERINTAH MAJELIS MAHKAMAH AGUNG.

Ketua, Cap/ttd.

Panitera, Cap/ttd.

(PITOJO S.H.). (PROF. R. SUB EK TI S.H. ).

Disalin sesuai dengan aslinya DIREKTUR HUKUM DAN PERADILAN,

Cap/ttd.

LIES SUGONDO, SH NIP. 040009173.

(33)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Nomor: MA/Kumdi/5517/VI/87.

Jakarta, 13 Juni 1987.

Kepada:

Yth. Sclr. Ketua Pengadilan Negeri di

Seluruh Indonesia.

SURAT ED ARAN Nomor : 3 Tahun 1987

Tentang

PERMOHONAN PENETAP AN PENAHANAN OLEH MAHKAMAH AGUNG R.I. BAGI TERDAKWA

YANG BERADA DALAM TAHANAN.

Berhubung hingga sekarang masih banyak permohonan penetapan penahan­

an dalam perkara kasasi pidana bagi terdakwa yang berada dalam tahanan, yang tidak disertai dengm data-data yang lengkap, hal mana dapat memperlambat pengeluaran penetapan penahanan oleh Mahkamah Agung, bersama ini diminta perhatian Saudara-saudara untuk melengkapi permohonan penahanan dengan 1. ldentitas terdakwa secara lengkap.

2. Data penahanan sejak dari penyidik sampai permohonan kasasi diajukan.

3. Pasal-pasal peraturan perundang-undangan yang didakwakan.

4. Tanggal dan nomor putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan ·Tinggi be­

serta arnar putusannya.

5. Tanggal permohonan kasasi diajukan.

6. Pihak yang mengajukan permohonan kasasi.

Selanjutnya diminta perhatian agar permohonan ini segera dikirimkan ke Mahkamah Agung setelah terdakwa atau penuntut umum mengajukan per­

mohonan kasasi dengan tidak usah menunggu berkas perkara siap dikirim.

Apabila permohonan kasasi dilakukan melalui telegram data-data tersebut di atas dapat dibuat secara lebih ringkas, kecuali yang mengenai butir 1 (identi­

tas terdakwa) yang tetap harus dibuat secara lengkap.

(34)

Atas perhatian Saudara-saudara diucapkan terima kasih.

KETUA MUDA MAHKAMAH AGUNG R.I.

Tembusan:

BIDANG HUKUM PIDANA UMUM, Cap/ttd.

H. ADI ANDOJO SOETJIPTO, SH

1. Yth. Bapak Ketua Mahkamah Agung - R.I. (sebagai laporan).

2. Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia.

3. Arsip.

(35)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 9 Juli 1987.

Nomor : MA/Kumdil/6327 /VII/87. Kepada:

Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri di

Seluruh Indonesia.

SURAT ED ARAN Nomor : 4 Tahun 1987

Tentang

PENYESUAIAN KEMBALI T ANGGAL PENAHANAN DALAM HAL TERDAKWA TELAH TERLANJUR DIKELUARKAN DEMI HU­

KUM DARI TAHANAN SEBAGAI AKIBAT KETERLAMBATAN PENERIMAAN PENET AP AN MAHKAMAH AGUNG OLEH

KETUA PENGADILAN NEGERI

Sebenamya sudah sering sekali terjadi bahwa apabila ada terdakwa yang ditahan telah habis masa penahanannya sedang salinan Penetapan penahanannya dari Mahkamah Agung belum diterima oleh Pengadilan Negeri terdakwa tersebut oleh Kepala Ru tan lalu dikeluarkan demi hukum dari tahanan, setelah itu selang beberapa hari kemudian salinan Penetapannya baru sampai lalu terdakwa ditahan kembali, kemudian Mahkamah Agung "setelah menerima laporan dari Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan" mengenai adanya kejadian tersebut lalu meralat Penetapan yang telah dikeluarkan dan menyesuaikan tanggal mulainya penahanan dengan tanggal dimasukkannya kembali terdakwa di dalam Rutan.

Namun rupanya masih ada sebagian Ketua-ketua Pengadilan Negeri yang belum mengetahui adanya prosedur tetap tersebut sehingga tidak melaporkan kejadiannya pada Mahkamah Agung yang dapat berakibat timbulnya masalah ketidaksesuaian tanggal antara yang tersebut dalam Penetapan dan yang se­

sungguhnya terjadi mengenai dimasukkannya terdakwa kembali dalam tahanan.

Berhubung dengan itu bersama ini Mahkamah Agung meminta perhatian Sudara agar untuk selanjutnya apabila terjadi hal seperti tersebut di atas segera l]lemberitahukan pada Mahkamah Agung agar segera/dapat menyesuaikan kembali tanggal yang semula tersebut dalam Penetapan dengan tanggal sejak kapan terdakwa sesungguhnya ditahan.

20

(36)

Demikian untuk mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari Sau­

dara.

KETUA MUDA MAHKAMAH AGUNG - RI BIDANG HUKUM PIDANA UMUM,

Cap/ttd.

H. ADI ANDOJO SOETJIPTO, SH.

Temb usan:

1. Yth. Bapak Ketua Mahkamah Agung - RI (sebagai laporan).

2. Yth. Bapak Menteri Kehakiman - RI.

3. Yth. Bapak Jaksa Agung - RI.

4. Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi se Indonesia.

(37)

MAHKAMAH AGUNG

REPUBLII( INDONESIA Jakarta, 19 Oktober 1987.

Kepada Yth. :

1. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi, Nomor

Lampiran

MA/Kumdil/9457 /X/87.

1 (satu) eksemplar.

2. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri, di

Seluruh Indonesia.

SURAT EDARAN Nomor : 5 Tahun 1987

Tentang

TEMBUSAN PERMOHONAN PENET AP AN PENAHANAN AGAR DISAMP AIKAN KEP ADA KEP ALA RUMAH T AHANAN

NEGARA.

Sehubungan dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan Depa:r­

temen Kehakiman tanggal 31 Agustus 1987 No. E.203-PK.02.03 Tahun 1987 yang ditujukan pada 1. Kepala Rumah Tahanan Negara dan 2. Kepala Lembaga Pemasyarakatan di seluruh Indonesia, yang untuk memudahkan Saudara menge­

tahui akan isinya bersama ini kami lampirkan salinannya, dengan ini kami minta perhatian yang sungguh-sungguh dari Saudara agar apabila Saudara mengajukan permohonan kepada Pengadilan Tinggi/Mahkamah Agung mengenai penetapan penahanan, hendaknya tembusan dari surat permohonan Saudara terse but selalu diberikan juga kepada Kepala RUTAN tempat di mana terdakwa ditahan.

Demikian itu sehubungan dengan apa yang dinyatakan dalam butir 2 sub a dari Surat Edaran tersebut yang menggariskan agar Kepala RUTAN tetap menahan terdakwa meskipun masa penahanannya sudah habis, apabila per­

mohonan perpanjangan penahanan telah dikirimkan kepada pihak yang ber­

wenang menahan.

Demikian agar dilaksanakan sebagaimana mestinya dan atas perhatian Sau­

dara diucapkan terirna kasih.

Tembusan:

KETUA MUDA MAHKAMAH AGUNG - RI BIDANG HUKUM PIDANA UMUM,

Cap/ttd.

H. ADI ANDJOJO SOETJIPTO, SH

1. Yth. Bapak Ketua Mahkamah Agung - RI.

2. Yth. Bapak Menteri Kehakiman -· RI.

22

(38)

DEP ARTEMEN KEHAKIMAN

DIREKTORA T JENDERAL PEMASYARAKA TAN Jin. Veteran No. 11

Nomor l.ampiran Perihal

J aka r t a Jakarta, 31 Agustus 1987.

E.203-PK.02.03 Tahun 1987.

1 (satu) helai.

Perpanjangan Penahanan dan Pembebasan "Demi Hukum".

Kepada:

Yth.

1. Kepala Rumah Tahanan Ne­

gara

2. Kepala Lembaga Pemasyara­

katan di

Seluruh Indonesia.

SURATEDARAN

Penahanan terhadap tersangka a tau terdakwa merupakan masalah mendasar sebagai upaya penegakan Hukum dan Keadilan. Hal ini sesuai dengan tujuan KUHAP yang harus memperhatikan keseimbangan antara perlindungan hak azasi seseorang dan kepentingan umum/masyarakat (termasuk sikorban). Oleh karena itu dalam penanganan masalah penahanan agar tetap berpedoman kepada Surat Edaran Bersama Ketua Muda Mahkamah Agung dan Direktur Jenderal Pemasya­

rakatan Nomor : .MA/PAN/368/XJ./1983 dan Nomor : E.l-UM.04.11.227 ten tang Kesa tu an Pelaksanaan UU No. 8 Tahun 1981 yo PP 27 Tahun 1983.

Mengingat akhir-akhir ini masih terdapat keraguan dalam melaksanakan SEB tersebut, maka dipandang perlu untuk menegaskan kembali hal-hal se­

bagai berikut:

1. Karu tan/Kala pas wajib memberitahukan kepada pihak yang bertanggung jawab secara Yuridis atas tahanan, akan habisnya masa penahanan a tau per­

panjangan penahanan dengan ketentuan sebagai berikut

a. 10 hari menjelang habisnya masa penahanan atau perpanjangan pena­

hanan Karutan/Kalapas memberitahukan kepada pihak yang bertang­

gung jawab secara Yuridis atas tahanan sesuai dengan tingkat peme­

riksaannya.

b. Karutan/Kalapas memberitahukan kepada pihak yang menahan bah­

wa 3 hari lagi masa penahanannya telah berakhir.

c. Karutan/Kalapas mengadakan konsultasi dengan pihak yang menahan untuk mengingatkan bahwa tahanan/terdakwa yang bersangkutan su­

dah hampir habis masa penahanannya.

(39)

2. Sebagai pegangan Karutan/Kalapas dalam menangani masalah penahanan, selain menempuh prosedur di atas, hendaknya harus memperhatikan ke­

tentuan-ketehtuan sebagai berikut

a. Karutan/Kalapas agar tetap menahan terdakwa meskipun masa pe­

nahanannya sudah habis, apabila permohonan perpanjangan pena­

hanan telah dikirimkan kepada pihak yang berwenang menahan (PN/

PT/MA).

b. Para pelaku tindak pidana Perkosaan, Narkotika, Penyelundupan, Pembunuhan dan tindak pidana yang mendapat sorotan dari masya­

rakat/mass media, agar tetap ditahan walaupun masa penahanannya sudah habis dan berkonsultasi terus dengan pihak yang berwenang menahan sesuai tingkat pemeriksaan.

e. Sementara Surat Penetapan Penahanan dari Pengadilan Banding (PT) atau Pengadilan Kasasi (MA) belum diterima, hendaknya agar amar putusan yang menyatakan bahwa terdakwa tetap ditahan atau berada dalam tahanan dijadikan pegangan sambil menunggu Surat Penetapan dari yang berwenang tersebut (sesuai dengan surat Ketua Muda Mah­

kamah Agung tertanggal 23 Januari 1987 - Nomor : 256/TU/1987/

323/Pid tentang: Mohon petunjuk).

Demikian untuk dilaksanakan dan diperhatikan seperlunya.

DIREKTURJENDERALPEMASYARAKATAN Cap/ttd.

DRS. HUDIORO.

Tembusan kepada :

1. Yth. Bapak Menteri Kehakiman RI di Jakarta.

2. Yth. Ketua Mahkamah Agung RI c/q Ketua Muda Mahkamah Agung Bidang Pidana Umum di Jakarta.

3. Yth. Kepala Kantor Wilayah Dep. Kehakirnan di Seluruh Indonesia.

24

(40)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 1 7 Nopember 1987.

Nomor : MA/Kumdil/10348/XI/87. Kepada Yth.

Sdr. Ketua Pengadilan Negeri di

Seluruh Indonesia.

SURAT ED ARAN Nomor : 6 Tahun 1987

Ten tang

TATA TERTIB SIDANG ANAK.

Dengan menunjuk pada Bab II pasal 9 s/d 12 Peraturan Menteri Kehakiman Nomor : M.06-UM.0 1.06 Tahun 1983 yang mengatur tentang Tata Tertib Sidang Anak, bersama ini Mahkamah Agung menganggap perlu untuk meminta perhati­

an Saudara tentang hal-hal sebagai berikut :

1. Dalam pemeriksaan perkara pidana di muka sidang pengadilan yang terdak­

wanya adalah anak-anak, diperlukan pendalaman oleh Hakim yang memerik­

sa perkara tersebut baik yang menyangkut unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan maupun yang menyangkut lingkungan pengaruh serta keadaan jiwa anak itu yang melatar belakangi perbuatan tindak pidana.

2. Bahwa tidak setiap hakim mempunyai perhatian (interesse) terhadap rnasa­

lah anak-anak yang melakukan tindak pidana, apalagi berkeinginan untuk memperdalam pengetahuannya melalui literatur, diskusi dan sebagainya.

3. Berdasarkan hal-hal tersebut diminta agar Saudara segera menunjuk se­

dikitnya 2 (dua) orang hakim yang ada di bawah pimpinan Saudara, baik pria maupun wanita, yang menurut pendapat Saudara mempunyai per­

hatian terhadap masalah "tindak pidana anak-anak", untuk di samping tugasnya sehari-hari sebagai hakim biasa, juga dibebani tugas khusus me­

meriksa perkara-perkara tindak pidana yang terdakwanya adalah anak­

anak.

4. Hal ini dimaksudkan agar pada tingkat dini dan dalam rnenyongsong Un­

dang-Undang tentang Peradilan untuk Anak di Indonesia yang menda­

tang, kita sudah mengawali mendidik sejumlah hakim untuk ma:mpu di­

bebani tugas yang diberikan oleh Undang-Undang terse but.

(41)

Atas perhatian Saudara diucapkan terima kasih.

Tembusan:

1. Yth. Sdr. Menteri Kehakiman - RI.

MAHKAMAH AGUNG - RI K e t u a,

Cap/ttd.

ALI SAID,SH

2. Yth. Sdr. Ketua Pengadiian Tinggi di seluruh Indonesia.

26

(42)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 21 Nopember 1987.

Nomor

Lampiran MA/Kumdil/10349 /XI/87.

1 (satu) helai. Kepada Yth.

Sdr. Ketua Pengadilan Negeri di Seluruh Indonesia.

SURAT ED ARAN Nomor : 7 Tahun 1987

Tentang

PELELANGAN KAYU SITAAN.

Bersama ini kami sampaikan copy surat Menteri Kehutanan tanggal 2 No­

mor : 403/Menhut-III/87 yang untuk jelasnya kami persilahkan Saudara mene­

laahnya.

Sehubungan dengan itu kami minta perhatian Saudara untuk tidak mem­

perlambat pemberian izin itu, apabila menurut pertirnbangan Saudara ha! ter­

sebut telah memenuhi ketentuan seperti diatur dalam pasal 45 ayat (1) sub b KUHAP.

Atas perhatian Saudara diucapkan terirna kasih.

KETUA MAHKAMAH AGUNG - RI KETUA MUDA MAHKAMAH AGUNG - RI U.b.

BIDANG HUKUM PIDANA UMUM, Cap/ttd.

H. ADI ANDOJO SOETJIPTO, SH Tembusan:

l . Yth. Bapak Ketua Mahkamah Agung - RI (sebagai laporan).

2. Yth. Bapak Menko Polk.am.

3. Yth. Bapak Pangab/Pangkopkamtib.

4. Yth. Bapak Menteri Dalam Negeri.

5. Yth. Bapak Menteri Kehakiman.

6. Yth. Bapak Jaksa Agung.

7. Yth. Bapak Menteri Kehutanan.

8. Yth. Sdr. Ketua Umum Team Khusus Kehutanan Pusat.

9. Yth. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia.

(43)

MENTER! KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor

Lampiran Perihal

403/Menhu t-IIl/87.

Permohonan fatwa un­

tuk pelelangan kayu sitaan.

Jakarta, 2 Nopember I 987.

Kepada Yth.

Bapak Ketua Mahkamah Agung RI di

Jakarta.

Bersama ini kami sampaikan dengan hormat hal-hal sebagai berikut

1. Berdasarkan Surat Edaran Jaksa Agung No. SE 00I/JA/2/1987 tanggal 23 Pebruari 1987 tentang Petunjuk Penanganan Operasi Yustisia Pengamanan Hu tan Terpadu butir 6, disebutkan sebagai berikut:

"Untuk menyelamatkan nilai jual kayu (baik barang bukti sitaan maupun temuan) karena sifatnya cepat rusak a tau busuk dan biaya penyimpanannya tinggi, menyimpang dari butir II.2 dan butir VI.2.5 Surat Edaran Jaksa Jaksa Agung RI No. SE 0I0/JA/11/1981, dapat segera dilelang melalui Kantor Jaksa Agung RI, namun harus tetap memenuhi ketentuan pasal 45 KUHAP untuk kayu sitaan, atau tanpa menunggu berakhirnya waktu 6 ( enam) bulan pengumuman untuk kayu temuan.

2. Namun demikian be.rdasarkan pasal 45 ayat (1) butir b KUHAP agar kayu­

kayu sitaan yang perkaranya sudah ada di tangan Pengadilan dapat dilelang masih diperlukan adanya persetujuan dari Hakim yang menangani perkara terse but.

3. Berhubung dengan hal tersebut di atas, maka untuk mempercepat pele­

langan kayu tersebut, dengan hormat kami mohon kesediaan Bapak Ketua Mahkamah Agung berkenan kiranya memberikan fatwa kepada para Ketua Pengadilan Negeri, untuk menyetujui pelelangan itu sesuai ketentuan yang berlaku.

(44)

Demikian atas perhatian dan bantuan Bapak K:etua Mahkamah Agung di­

ucapkan terima kasih.

Tembusan kepada Yth.

1. Bapak Menko Polkam.

2. Sdr. Pangab/Pangkopkamtib.

3. Sdr. Menteri Dalam Negeri.

4. Sdr. Menteri Kehakiman.

5. Sdr. Jaksa Agung.

MENTERIKEHUTANAN, Cap/ttd.

SOEDJ A RWO

6. Sdr. Ketua Umum Team Khusus Kehutanan Pusat.

(45)

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 25 Nopember 1987.

Nomor MA/Kumdil/10483/Xl/87. Kepada:

Yth. Sdr.:

1. Ketua Pengadilan Tinggi 2. Ketua Pengadilan Negeri di

Seluruh Indonesia.

SURAT EDARAN Nomor: 8 Tahun 1987.

Tentang :

PENJELASAN DAN PETUNJUK-PETUNJUK KEPUTUSAN BERSAMA KETUA MAHKAMAH AGUNG DAN MENTERI KEHAKIMAN

TANGGAL 6 JULI 1987 NOMOR: KMA/005/SKB/VU/1987 DAN NOMOR: M.03-PR.08.05 TAHUN 1987.

A. PENJELASAN UMUM :

Agar penerapan Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Kehakiman tanggal 6 Juli 1987. Nomor : KMA/005/SKB/VIl/1987. dan No­

mor : M.03-PR.08.05 Tahun 1987. tentang : TATA CARA PENGAWASAN, PENINDAKAN DAN PEMBELAAN DIRI PENASEHA T HUKUM oleh Saudara-Saudara Ketua Pengadilan dapat dilakukan dengan baik, saksama, fair serta sesuai dengan pengertian dan tujuannya, maka dipandang perlu untuk me­

nyampaikan kepada Saudara-saudara penjelasan-penjelasan serta petunjuk-pe­

tunjuk pelaksanaan mengenai Keputusan Bersama tersebut sebagai berikut 1. Dasar hukum dari Keputusan Bersama ini adalah ketentuan dalam pasal 54 ayat ( 4) Undang-Undang No. 2 Tahun 1986 yang memberik.an wewenang yang terbatas dan sekaligus memberi tugas kepada Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Kehakiman untuk mengatur lebih lanjut tentang tata cara peng­

awasan dan penindakan serta pembelaan diri Penasehat Hukum.

Pendelegasian wewenang ini tidak akan terjadi kalau Pembuat Undang­

Undang mau mengatur sendiri ketentuan tentang tata cara pengawasan, penin­

dakan serta pembelaan diri Penasihat Hukum terse but.

Dengan ketentuan dalam pasal itu, kedua Pejabat Tata Usaha Negara ter­

sebut berwenang dan mempunyai dasar hukum untuk menentukan dalam ben-

(46)

tuk suatu peraturan materi tentang tata cara pengawasan, penindakan dan pem­

belaan diri Penasehat Hukum.

Pendelegasian wewenang untuk mengatur yang dilakukan oleh Pembuat Undang-Undang tersebut dimungkinkan, karena baik oleh TAP-TAP MPR yang ada maupun oleh Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970 hal itu tidak dilarang.

Apakah dari segi politik hukum hal itu dapat dibenarkan hanyalah MPR sendiri nanti yang dapat menilainya, karena pendelegasian wewenang tersebut merupakan suatu ketentuan Undang-Undang.

Karena wewenang yang didelegasikan secara terbatas itu merupakan we­

wenang untuk mengatur (legislative power) seperti yang dimiliki oleh Pem­

buat Undang-Undang sendiri, maka oleh para delegataris tersebut dilaksanakan perbuatan hukum dengan mengeluarkan suatu Keputusan Bersama suatu pro­

duk legislatif yang berkedudukan sebagai suatu peraturan umum yang ber­

sifat mengikat seperti peraturan umum yang bersifat mengikat lainnya yang sudah kita kenal dalam TAP MPRS Nomor XX Tahun 1966.

2. Kedudukan Hokum Keputusan Bersama. Walaupun formal Keputusan Ber­

sama tidak disebutkan dalam TAP MPRS Nomor XX Tahun 1966 namun tidak berarti bahwa Keputusan Bersama demikian itu batal demi hukum atau tidak berdasar hukum.

Memang bentuk pendelegasian wewenang untuk mengatur seperti ini me­

rupakan hal yang baru dan dapat dikatakan merupakan suatu innovasi Pembuat Undang-Undang sekarang yang belum pernah dilakukannya. Lebih-lebih kalau dilihat delegasi wewenang untuk mengatur itu diberikan kepada alat-alat per­

lengkapan Negara yang berada dalam dua Iingkungan kekuasaan Negara yang berbeda. Suatu hal yang belum terbayangkan semasa memutuskan TAP MPRS Nomor XX Tahun 1966.

Hal mana tidaklah mengherankan, karena segala sesuatu dalam ke­

hidupan masyarakat itu apabila sudah dirumuskan dalam bentuk rumusan­

rumusan peraturan tertulis seperti TAP MPRS Nomor XX Tahun 1966 tersebut tentu akan bersifat tetap.

Sebaliknya keadaan serta roda kehidupan dalam masyarakat sendiri ter­

masuk roda kehidupan dalam dunia Pembuatan Undang-Undang maupun pe­

merintahan, selalu bergerak dan berkembang maju terus karena harus me­

nyesuaikan dengan keadaan-keadaan dan hubungan kemasyarakatan yang baru yang menuju ke arah pergeseran nilai-nilai.

Karena itu baik dunia Pembuat Undang-Undang maupun pemerintahan dalam menghadapi keadaan dan kenyataan hidup dalam masyarakat yang kongkrit sering rnengharuskan diadakannya pengaturan-pengaturan maupun

(47)

tindakan-tindakan pemerintahan dalam bentuk-bentuk yang baru pula yang se­

mula tidak pernah digambarkan sebelumnya.

Sepanjang kehidupan masyarakat ini masih berjalan, maka pada suatu saat akan terjadi perubahan yang melahirkan instrumentaria pemerintahan maupun per-Undang-Undangan yang sebelumnya belum ada. Orang mengatakan "de wet hingt altijdachter de feit en aan".

Karena itu dapat dirnengerti produk legislatif seperti Keputusan Bersama ini formalnya belum/tidak memperoleh tempat dalam tata urutan sebagairnana yang dirnaksud dalam TAP MPRS tersebut.

Hal mana tidak berarti, bahwa hanya karena tidak adanya tempat dalam tata urutan tersebut lalu harus diartikan Keputusan Bersama itu tidak mem­

punyai dasar hukum atau dasar hidup dalam dunia perundang-undangan kita.

Sebab dasar existensinya bukan terletak di dalam TAP MPRS itu, melainkan di dalam pasal 54 ayat (4) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986.

Kalau dilihat bahwa karena produk legislatif yang berbentuk Keputusan Bersama ini dikeluarkan oleh alat perlengkapan Negara yang berada dalam dua lingkungan kekuasaan Negara yang berbeda dan mengikat salah satu unsur penciptanya adalah Ketua Mahkamah Agung, maka sudah jelas keduduk­

an produk legislatif ini adalah berada di atas suatu Peraturan Menteri seperti yang disebutkan dalam tata urutan per-Undang-Undangan menurut TAP MPRS Nomor XX Tahun 1966 terse but.

3. Pengawasan Administratif: Materi yang diatur dalam Keputusan Bersama yang berupa tata cara pengawasan dan penindakan serta pembelaan diri Pe­

nasehat Hukum ini merupakan sebagian dari pada tugas dan wewenang umum yang merupakan sebagian dari pada tugas dan wewenang umum yang oleh pasal 36 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 dibebankan kepada Mahkamah Agung dan Pemerintah untuk melakukan pengawasan atas Penasehat Hukum dan Notaris.

Tugas dan wewenang pengawasan yang bersifat umum tersebut merupakan tugas dan wewenang di bidang tata usaha negara/administrasi/pemerintahan dan bukan tugas dan wewenang di bidang peradilan, karena tugas justisial pada dasarnya tidak mungkin dilaksanakan oleh Mahkamah Agung bersama Peme­

rintah.

l.agi pula pembebanan suatu tugas justisial tentu tidak cukup dirumuskan dengan satu kalirnat pendek seperti itu, karena untuk dapat melakukan tugas justisial yang harus berkedudukan bebas, masih banyak persyaratan-persyaratan

yang perlu dirumuskan ketentuan-ketentuannya.

Karenanya Keputusan Bersama yang mengatur tentang tata cara pengawas­

an dan penindakan serta pembelaan diri Penasehat Hukum ini juga merupakan peraturan tentang pengawasan yang bersifat administratif yang pada dasarnya

(48)

berbeda dengan pengawasan yang bersifat justisial yang dilakukan oleh Badan­

badan Pengadilan seperti yang pernah dikenal pada waktu pasal 192 R.O. masih berlaku.

Sekalipun para Pejabat Tata Usaha Negara yang diberi tugas untuk melak­

sanakan pengawasan itu, tugas pokoknya sehari-hari adalah sebagai Hakim atau Pejabat yang melaksanakan tugas peradilan, namun ha! itu tidak mengurangi sifat dari tugas pengawasan yang harus dilaksanakannya yang pada dasarnya berbeda dengan pelaksanaan tugas Hakim dalam mengadili dan memutus suatu perkara.

Selanjutnya perlu diingat bahwa pengertian pengawasan administratif yang harus dilakukan oleh para Ketua Pengadilan itu seperti halnya pengertian peng­

awasan pada umurnnya ten tu pada dirinya sudah mengandung wewenang untuk mengenakan suatu penindakan apabila diperlukan. Sebab wewenang melakukan pengawasan tanpa kemungkinan untuk mengenakan sesuatu penindakan adalah sama dengan orang menonton sandiwara.

Keputusan yang diambilnya dalam rangka pengawasan administratif ini juga merupakan keputusan tata usaha negara/administrasi, dan bukan suatu putusan Pengadilan.

Sanksi yang dijatuhkannya pun bukan merupakan pidana melainkan suatu penindakan yang bersifat administratif.

Pengawasan ini juga bukan merupakan pengawasan politis karena pengawas­

an demikian itu hanya dilakukan oleh lembaga perwakilan rakyat.

Pengawasan yang bersifat administratif ini oleh Undang-Undang ditentukan harus dilakukan secara bertingkat dan pelaksanaannya ditugaskan kepada para Pejabat Tata Usaha Negara dalam Llngkungan Peradilan Umum, yaitu para Ketua Pengadilan Negeri, Ketua Pengadilan Tinggi, Ketua Mahkamah Agung serta ber­

akhir pada Menteri Kehakiman. Sedang para Ketua Pengadilan di luar Llngkungan Peradilan Umum diwajibkan membantu jalannya pengawasan ter­

sebut.

Pengawasan administratif ini hanya berlaku terhadap para individu Penase­

hatHukum yang memberikan bantuan atau nasehat hukum dalam bentuk apa­

pun baik sebagai mata pencaharian atau tidak; artinya kegiatan memberikan bantuan atau nasehat hukum tersebut merupakan pekerjaannya sehari-hari se­

bagai profesi.

Kegiatan profesi sehari-hari tersebut dapat dilakukan baik di luar maupun di muka sidang peradilan.

Kegiatan profesi di luar peradilan tersebut ada yang berkaitan maupun yang tidak berkaitan dengan suatu perkara, baik yang potensial maupun yang tidak potensial untuk menimbulkan suatu perkara; baik yang akan atau sedang diproses di muka peradilan.

(49)

4. Agar pengawasan administratif terhadap para Penasehat Hukum ini dapat dilakukan secara saksama, seefektif, fair dan seadil mungkin, tanpa mengabai­

kan segi perlindungan hukum bagi mereka yang mungkin akan dikenakan suatu tindakan administratif, maka dalam Keputusan Bersama ini juga diusahakan sejauh mungkin diatur berlakunya prinsip-prinsip prosedur pengawasan yang ob­

yektif yang dijiwai oleh asas-asas yang dijunjung tinggi dalam negara hukum, yaitu prinsip-prinsip: "that a man may not be a judge in his own cause" serta

"that a man many not be condemned unheard".

Dengan berpegang pada penjabaran dalam rumusan prinsip-prinsip itu dalam Keputusan Bersama ini diharapkan dapat dihindarkan terjadinya tindak­

an sewenang-wenang oleh para Pejabat pelaksananya.

Oleh karena itu dalam Keputusan Bersama ini ditentukan antara lain : a. bahwa pengawasan itu harus dilakukan secara bertingkat dalam bentuk kemungkinan diajukannya banding administratif kepada Ketua Pengadilan Tinggi terhadap keputusan administratif di tingkat pertama yang dikeluarkan oleh Ketua Pengadilan N egeri yang bersangku tan;

b. bahwa pada setiap tingkat pengawasan sebelum dilakukan sesuatu penin­

dakan kepada Penasehat Hukum yang bersangkutan diberi kesempatan se­

penuhnya untuk mengemukakan pendapat serta pembelaan dirinya terhadap hal-hal yang membera tkan dirinya.

c. bahwa wewenang untuk melakukan penindakan harus dilakukan berurut­

an dari yang paling ringan lebih dahulu ke arah yang lebih berat sifatnya dan penindakan pada masing-masing tingkat ditentukan batas-batasnya; Hal mana tidak pula mengurangi kemungkinan pengusulan penindakan yang lebih berat kepada Menteri Kehakirnan melalui Ketua Mahkamah Agung apabila dipandang perlu oleh Pejabat pelaksananya.

d. bahwa dalam rangka perlindungan hukum serta pengawasan terhadap pe­

nerapan hukum serta kebijaksanaan yang dilakukan oleh instansi-instansi bawahannya, Ketua Mahkamah Agung tanpa dirninta oleh siapapun dapat membatalkan secara spontan, ataupun memperbaiki keputusan-kepu tusan yang berisi penindakan administratif yang telah dikeluarkan oleh Ketua Peng­

adilan Tinggi dalam tingkat banding administratif.

e. bahwa kemudian bentuk penindakan yang paling beratpun hanya dapat dilakukan oleh Menteri Kehakirnan setelah ada usul/pendapat dari Ketua Mahkamah Agung dan mendengar organisasi profesi yang bersangkutan.

5. Pengawasan administratif menurut Keputusan Bersama ini tidak meng­

hapuskan atau menangkal berlakunya sistirn pengawasan lain berdasarkan per­

aturan perundang-undangan yang berlaku terhadap tingkah laku ataupun per-

(50)

buatan yang dilakukan oleh seseorang Penasihat Hukum.

Oleh karena itu apabila suatu perbuatan seorang Penasihat Hukum itu selain meru pakan pelanggaran terhadap larangan-larangan a tau keharusan­

keharu san seperti yang dirumuskan dalam pasal 3 Keputusan Bersama ini juga memenuhi suatu delik pidana atau dianggap telah merugikan hak-hak subyek­

tif seseorang, maka tidak tertu tup kemungkinan dilakukannya/terjadinya tuntut­

an pidana a tau gugatan perdata terhadap dirinya.

Dalam kaitan pengawasan yang harus dilakukan terhadap kegiatan profesi Penasihat Hukum tersebut perlu difahami dan ditegaskan maksud dari penjelas­

an pasal 36 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 yang menentukan:

"Pada umumnya pembinaan dan pengawasan atas Penasihat Hukum dan Notaris berada di bawah pengawasan Mahkamah Agung;

Dalam melakukan pengawasan itu Mahkamah Agung dan Pemerintah meng­

hormati dan menjaga kemandirian Penasihat Hukum dan Notaris dalam melaku­

kan tugas jabatannya;

Dalam hal diperlukan penindakan terhadap diri seorang Penasihat Hukum atau seorang Notaris yang berupa pemecatan dan pemberhentian termasuk pem­

berhen tian sementara organisasi profesi masing-masing terlebih dahulu didengar pendapatnya".

Alinea pertama dari penjelasan pasal itu lebih mempertegas, bahwa peng­

awasan terhadap kegiatan profesi Penasihat Hukum itu benar bersifat adminis­

tratif, bukan pengawasan yang bersifat justisial karena merupakan suatu tugas bidang pemerintahan. Karena itu jalannya jalur pengawasan terse but sudah tepat seperti yang diatur dalam Keputusan Bersama ini.

Alinea kedua dari penjelasan pasal itu juga lebih menegaskan, bahwa jalur pengawasan menurut hukum acara peradilan yang berlaku tetap berjalan utuh, sehingga wewenang pengawasan Mahkamah Agung dalam ruang lingkup sebagai Hakim Kasasi berjalan pula secara bail<.

Hal ini berarti, bahwa pelaksanaan dan perwujudan kegiatan-kegiatan para Penasihat Hukum yang ada kaitannya dengan penyelesaian suatu perkara sampai tuntas tetap tunduk kepada hukum acara yang bersangkutan dan pengawasnnya pada tingkat pertama juga berjalan menurut prosedur hukum acara yang sedang diterapkan yang akhirnya segala sesuatunya berada dalam pengawasan tertinggi dan terakhir pada Mahkamah Agung.

Dalam pada itu dapat terjadi, bahwa selama pelaksanaan kegiatan yang ada kaitannya dengan penyelesaian suatu perkara yang tunduk pada pengawasan me­

nurut hukum acara yang bersangkutan itu, ada perbuatan atau tingkah Iaku se­

orang Penasihat Hukum yang selain melanggar tata tertib beracara juga dapat dalam bentuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang seharusnya tidak terjadi karena melanggar dari apa yang diatur dalam ketentuan pasal 3 Keputusan Ber­

sama ini.

Referensi

Dokumen terkait

Pelayanan kesehatan di desa terpencil menjadi objek penelitian saya untuk mengamati dan memperoleh data yang diperlukan, tempat yang biasa di singgahi oleh petugas medis

Data dikumpulkan berdasarkan teknik pengumpulan data yang telah dipaparkaan di atas yang meliputi wawancara, observasi, serta dokumentasi. Data dikumpulkan

Imam Ghazali, Metode Kuantitatif dan Kualitatif (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 125.. ISTITHMAR: Journal of Islamic Economic Development, Volume 4, No. Maka dari itu, bank

〔商法二〇二〕約束手形の支払期日の変造と手形法二〇条一項但書 の適用東京地裁昭和五〇年六月二五日判決 米津, 昭子Yonetsu, Teruko

Polietilen glikol secara kimiawi stabil di udara dan dalam larutan, meskipun nilai dengan berat molekul kurang dari 2000 adalah higroskopis.. Polietilen glikol

Dari hasil inilah maka timbul tantangan untuk memperbaiki promosi ini di promosi ulang ini dan juga diharapkan dengan berhasilnya promosi ini maka jumlah pemakai produk ini

Pada turbin radial, ekspansi fluida dari tekanan awal ke tekanan akhir terjadi di dalam laluan semua baris sudu–sudu yang berputarT. Turbin radial umumnya digunakan untuk aliran

Ketelitian titik sekutu 0,1 mm pada peta hanya dapat digunakan untuk peta dasar pendaftaran tanah skala 1:10000.. Sedangkan ketelitian planimetrik 0,3 mm pada peta dan