DAFTAR LAMPIRAN
III. METODE PENELITIAN
5.2. Kondisi Agro-ekolog
5.2.2. Desa Wonotirto: pada saat musim kemarau, hanya tembakau yang bisa hidup
Lahan tegal di Kabupaten Temanggung tersebar di seluruh lereng gunung Sindoro-Sumbing. Sebanyak 50 % lahan di Kecamatan Bulu berupa tegal. Wonotirto adalah salah satu desa paling ujung di lereng Gunung Sindoro. Pada Musim Tanam (MT) April-September hampir 100 % mengusahakan tanaman tembakau. Dalam satu tahun, petani mengusahakan dua musim tanam. Hal ini sebabkan karena kondisi pengairan yang bersifat tadah hujan dan intensitas sinar matahari yang relative lebih sedikit sehingga masa tanam hingga panen lebih lama dibandingkan lahan sawah yang mendapat intensitas sinar matahari yang lebih
panjang. Pola tanam pada lahan tegal adalah jagung-jagung-tembakau dengan pengolahan tanah secara intensif 3 kali setahun.
Tanaman jagung dipergunakan untuk makanan pokok. Namun lama kelamaan, jagung dijual kemudian ditukar dengan beras. Pada sela-sela tanaman jagung mereka juga mengusahakan tanaman seperti: kacang merah, bawang merah, terkadang kedelai, dan tanaman sayuran. Hasil dari tanaman tumpangsari tersebut dipergunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Seringkali mereka saling bertukar bahan makanan dengan tetangga sekitar.
Sebagian besar rumahtangga petani dalam memasak menggunakan bahan bakar kayu yang diambil dari pohon jagung dan tembakau. Sehingga untuk kebutuhan pangan, rumahtangga petani lebih banyak menggunakan sumberdaya alami yang diambil dari ladang, kecuali beras yang dibeli dari hasil penjualan tanaman jagung.
Dalam perkembangannya, petani mulai meninggalkan tanaman jagung untuk kemudian beralih kepada tanaman cabai. Pengaruh desa di sekitarnya melalui interaksi mengenai menanam cabai lebih memberikan keuntungan dibandingkan tanaman jagung merubah pola tanam petani. Tahun 2004-2005 secara perlahan petani mulai menggeser tanaman jagungnya dengan cabai dengan tetap menggunakan tanaman sela seperti: kacang merah, kubis, dan lainnya.
Petani mengusahakan tanaman di lereng-lereng gunung dengan sistem terasiring. Lahan yang curam dan jauh dengan akses jalan raya membuat semakin tingginya biaya angkut pupuk kandang disamping harga pupuknya juga sudah tinggi. Beberapa petani memasang tali yang menghubungkan antara bukit yang satu dengan yang lainnya, untuk kemudian pupuk dalam karung dipasang pada tali tersebut dan didorong sehingga bisa meluncur lebih mendekat dengan lahan masing-masing.
Pada setiap lahan terlihat bangunan sederhana yang mereka sebut sebagai gubug. Bangunan tersebut berukuran kira-kira 2x3 m dengan dinding terbuat dari anyaman bambu dan dilapisi dengan mulsa yang tidak terpakai. Gubug berfungsi sebagai tempat untuk berlindung ketika hujan turun, untuk menikmati makanan
kiriman13, dan adakalanya untuk melakukan kegiatan jaga malam ketiga musim cabai tiba mengingat ada beberapa orang yang melakukan tindakan pencurian terhadap hasil panen.
Tanaman tembakau diusahakan pada bulan April-September. Sebelumnya mereka menyemai benih tembakau pada lahan masing-masing. Bagi rumahtangga petani dengan lahan sempit biasanya mereka mengakses lahan milik tetangga yang tidak terpakai untuk tempat pembibitan. Beberapa petani secara kolektif menggunakan lahan tersebut tanpa dipungut biaya. Apabila harga tembakau bagus, mereka memberi pemilik lahan tanpa adanya jumlah nominal baku.
Benih tembakau diperoleh dari tanaman tembakau milik sendiri yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setelah bunga dirasakan cukup tua, petani segera memetiknya (Jawa: munggel) untuk kemudian dijemur. Setelah kering, disimpan untuk kemudian dibibitkan pada lahan yang telah disiapkan. Tempat pembibitan dibuat dari alas anyaman bamboo dengan posisi diatas tanah, disangga dengan empat tiang yang juga berasal dari bambu. Di atas alas bambu tersebut diletakkan tanah dan pupuk kemudian ditutup dengan rumput atau daun untuk mengurangi penguapan. Setelah tumbuh, dedaunan tersebut diambil. Para petani terkadang gagal dalam melakukan pembibitan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, petani membeli kepada petani lain apabila kebutuhannya banyak tetapi apabila hanya sedikit seringkali petani meminta tetangga yang berlebihan.
Berdasarkan letak penanaman14, mutu tembakau di Desa Wonotirto masuk pada kelompok lamsi. Tembakau dengan mutu atau kualitas lamsi ini tersebar di lereng utara dan timur laut Gunung Sumbing (Bulu dan Parakan) pada lahan
13
Ketika petani melakukan aktifitas pertanian lebih dari jam 12.00 petani mendapatkan makanan yang dikirim oleh anggota keluarga (biasanya perempuan) dan dimakan bersama-sama di dalam gubug.
14Ada 7 (tujuh) golongan daerah penanaman tembakau yang membedakan mutu hasil tembakau, yaitu: (1) LAMUK, tersebar di lereng timur gunung Sumbing (Tegalmulyo pada lahan > 1.100 m dpl, menghasilkan mutu Srintil Istimewa; (2) LAMSI tersebar di lereng utara dan timur laut Gunung Sumbing (Bulu dan Parakan) pada lahan Regosol>1.100 m dpl, kelerengan 15-40 %, mutu Srintil Istimewa; (3) PAKSI tersebar di lereng timur gunung Sundoro (Ngadirejo dan Bansari) pada lahan Regosol > 1.100 m dpl, mutu Srintil cukup istimewa; (4) TOALO tersebar di lereng selatan gunung Sundoro dan barat Gunung Sumbing (Kledung) pada lahan Regosol > 1,100 m, mutu sedang; (5) TIONGGANG tersebar pada lahan persawahan 500-700 m dpl, mutu sedang; (6) SWANBING tersebar di sekitar gunung Prahu (Tretep dan Wonoboyo), lahan Ondosol 900-1.400 m dpl, mutu sedang; dan (7) KIDUL tersebar di tenggara Gunung Sumbing pada daerah baru, mutu sedang
Regosol>1.100 m dpl, kelerengan 15-40 %, mutu Srintil Istimewa. Mutu ini satu tingkat di bawah Lamuk.
Pada petani di lereng gunung yang berbasis tegal termasuk di desa Wonotirto, ada semacam kondisi yang memaksa mereka untuk tetap setia menanam tembakau karena pada musim kemarau tanaman semusim yang cocok hanyalah tembakau. Tidak ada tanaman musiman lainnya yang bisa hidup ditanam pada musim kemarau.
“ojo meneh tanduran sing ora kuat panas, suket wae mati”
“Jangankan tanaman yang tidak kuat pada musim kemarau, rumput saja (biasanya rumput lebih tahan terhadap kondisi apapun) kalau ditanam di sini mati”
Berkaitan dengan kondisi rumah yang tidak selalu memiliki lahan pekarangan yang luas, maka seringkali tempat pembibitan meminjam kepada tetangga. Bahkan ada satu tempat yang agak luas dimana pekarangan tersebut dipergunakan oleh beberapa petani secara bersama untuk melakukan pembibitan. Lahan tersebut dipergunakan tanpa adanya biaya sewa. Apabila harga tembakau bagus, mereka memberi pemilik lahan tanpa adanya jumlah nominal baku.
Tembakau membutuhkan air pada saat proses tanam, dan terik matahari pada saat masa penjemuran. Perubahan cuaca yang tidak menentu seringkali membuat petani mengalami gagal panen, dimana pada saat proses tanam kebutuhan air kurang, sementara pada saat proses penjemuran curah hujan tinggi. Penjemuran yang tidak sempurna membuat kualitas tembakau menurun akibatnya harga tembakau turun drastis. Biasanya petani melakukan perajangan dan nganjang15 tembakau pada malam hari dengan harapan pada saat pagi hari hasil rajangan bisa langsung terkena sinar matahari. Tembakau semakin berkualitas apabila menerima sinar matahari secara sempurna yaitu terkena sinar matahari secara utuh (penuh) selama 2-3 hari.
15
Nganjang adalah proses meletakkan tembakau yang telah di rajang di atas rigen dan biasanya dilakukan oleh beberapa perempuan pada malam hari. Rajangan tembakau ditata secara rapi dengan ukuran ketebalan yang hampir sama dengan harapan bisa kering secara merata dan sempurna.
Intensitas sinar matahari di Kabupaten Temanggung relative lebih banyak jika dibandingkan daerah lain di sekitarnya, misalnya di Kabupaten Wonosobo. Untuk menyiasati hal tersebut, mereka menjemur tembakau ke daerah lain yang memiliki intensitas matahari yang relative lebih panjang. Pada saat musim jemur, mulai jam 04.00 pagi terlihat mobil pick-up dengan beberapa orang (laki-laki dan perempuan) duduk di sekitar tumpukan rigen16 berlalu lalang di sepanjang jalan di sekitar Parakan. Setelah itu, di pinggir-pinggir jalan yang masih ada lahan yang tidak terpakai terhampar “lautan kuning”. Lahan yang dipakai untuk menjemur rajangan tembakau tersebut ada yang dengan sistem sewa (terutama yang merupakan hak milik pribadi) dan ada yang tidak menyewa (terutama lahan milik umum).
Proses penjemuran tersebut berlangsung dari pagi hingga pukul 14.00 apabila cuaca cerah, dan apabila cuaca tidak cerah, sangat tergantung datangnya air hujan. Selama menunggu proses penjemuran, beberapa orang yang memang ditugaskan untuk menjemur rajangan tembakau melakukan proses pembalikan sehingga bisa kering secara merata. Setelah kurang lebih pukul 14.00 WIB mereka mengangkut kembali tembakau ke atas mobil pick-up untuk kemudian dibawa pulang kembali. Aktifitas “mengejar matahari17” ini berlangsung secara terus- menerus hingga tembakau benar-benar kering dan siap dijual.
Sedangkan bagi petani tembakau di Temanggung sendiri, mereka menjemur tembakau di sekitar rumah, dipinggir jalan, atau di tanah lapang. Mereka biasanya mendirikan tiang-tiang dari bamboo setinggi kurang lebih 1 meter untuk meletakkan rigen. Saat musim jemur terlihat sepanjang jalan dan disekitar rumah banyak berjajar tiang-tiang bambu dengan deretan tembakau rajang yang tertata rapi. Bagi petani dengan lahan pekarangan sempit, alternative
16Rigen merupakan tempat untuk menjemur tembakau yang sudah dirajang. Pada saat bukan musim tembakau
terkadang juga difungsikan untuk menjemur hasil panen seperti: kedelai, bawang, kacang tanah, kacang merah (kacang tunggak), dan lainnya. Rigen dibuat dari bamboo yang dianyam berbentuk persegi panjang dengan harga sekitar Rp. 12.000/buah. Salah satu daerah yang memproduksi rigen adalah di Kecamatan Kedu, dan juga bisa di beli di pasar Parakan.
17Istilah mengejar matahari merupakan ungkapan yang menggambarkan bagaimana petani terutama di luar
Kabupaten Temanggung yang berusaha mencari sinar matahari untuk menjemur tembakau. Hal ini disebabkan karena intensitas sinar matahari di daerah mereka sangat pendek (sedikit) sehingga sangat riskan terhadap degradasi kualitas tembakau karena tidak kering secara sempurna.
tempat penjemuran selain di jalan adalah ikut pekarangan tetangga. Hal ini menjadi kebiasaan petani sebagai bagian dari kehidupan social masyarakat.
5.3. Tanaman Sela dan pemanfaatan limbah tanaman