BAB II LANDASAN TEORI
C. Desain Alat Ukur
Setelah meninjau alat ukur Assessing Academic Self-Regulated Learning,
peneliti memutuskan untuk membuat alat ukur pengaturan diri dalam belajar
dengan berpedoman pada Assessing Academic Self-Regulated Learning. Hal ini
didasarkan pada 2 hal yakni: 1) alat ukur Assessing Academic Self-Regulated
Learning merupakan alat ukur paling baru dan merupakan pengembangan dari
alat ukur MSLQ yang telah banyak digunakan untuk mengukur pengaturan diri
dalam belajar; 2) alat ukur Assessing Academic Self-Regulated Learning
mengukur pengaturan diri dalam belajar secara umum, tidak spesifik pada suatu
subjek atau level pelajaran tertentu.
Meskipun demikian, alat ukur Assessing Academic Self-Regulated
Learning memiliki kekurangan yakni kecenderungan bias budaya karena Wolters
dkk (2003) menyebutkan bahwa ada bagian khususnya perilaku mencari bantuan
dari orang lain yang digunakan untuk mengukur pada budaya Barat. Di samping
Hal tersebut membuat peneliti mempertimbangkan untuk membuat alat ukur yang
lebih sederhana untuk digunakan pada siswa SMA.
Setelah meninjau adanya hal-hal tersebut, peneliti membuat desain alat
ukur pengaturan diri dalam belajar yang berpedoman pada Assessing Academic
Self-Regulated Learning, yakni:
1. Pengaturan kognisi akademis, terdiri dari 2 subkomponen yakni pengaturan
kognitif secara umum dan pengaturan diri metakognitif. Hal ini disebutkan
oleh Wolters dkk (2003) bahwa pelajar yang lebih muda dari mahasiswa
mengukur pengaturan kognitif secara umum yang terdiri dari pengulangan
(rehearsal), elaborasi, organisasi. Ketiga hal tersebut diukur dalam
subkomponen pengaturan kognitif secara umum. Ini didasarkan pada pelajar
yang lebih muda tidak dapat membuat perbedaan-perbedaan yang baik di
antara ketiga hal tersebut sebaik yang dilakukan oleh mahasiswa.
a. Pengaturan kognitif secara umum
Pengaturan dilakukan dengan pengulangan (rehearsal), elaborasi, dan
pengorganisasian materi yang dipelajarinya. Pengulangan (rehearsal)
dilakukan dengan cara mengulangi materi yang dipelajarinya sehingga
siswa dapat mengingatnya. Elaborasi dilakukan siswa dengan
merangkum materi dan mampu menjelaskannya dengan bahasa sendiri.
Organisasi dilakukan dengan membuat catatan sendiri (note-taking),
menggambar diagram, dan membuat peta konsep.
Pengaturan diri metakognitif dilakukan dengan membuat perencanaan,
pemantauan, dan pengaturan terhadap kognisi yang dimiliki siswa
(Wolters dkk, 2003). Perencanaan dilakukan pada adanya penentuan
tujuan dan analisis dari tugas yang dipelajari. Ini dilakukan agar siswa
lebih mudah ketika mengatur dan menggabungkan antara materi yang
satu dengan yang lainnya. Pemantauan dilakukan dengan cara mengetes
diri sendiri dan membuat pertanyaan-pertanyaan untuk membantu siswa
memahami materi. Pengaturan metakognitif juga dilakukan dengan
mengecek dan mengoreksi perilaku yang dilakukan siswa dalam suatu
tugas yang dikerjakannya (Pintrich dkk, 1991).
2. Pengaturan motivasi akademis, terdiri dari 4 subkomponen. Pengaturan
motivasi terdiri dari konsekuensi diri, berbicara pada diri sendiri,
peningkatan minat, dan penyusunan lingkungan.
a. Konsekuensi diri
Siswa memberikan motivasi terhadap dirinya dengan menerapkan
konsekuensi diri. Konsekuensi ini berupa konsekuensi ekstrinsik sebagai
akibat yang harus diterimanya sehingga ia dapat terus bertahan dalam
mempelajari pelajaran dan menyelesaikan tugas. Konsekuensi yang
dibuat oleh siswa dapat berupa hadiah atau hukuman yang membuatnya
terus untuk belajar dan menyelesaikan tugas.
b. Berbicara pada diri sendiri
Siswa memberikan motivasi terhadap dirinya dengan berbicara pada diri
belajar akademis yang dilakukannya. Hal tersebut meliputi siswa yakin
bahwa dirinya mampu untuk dapat menguasai materi yang dipelajarinya,
siswa meyakinkan diri mampu untuk melakukan performansi yang baik
dalam belajar, siswa meyakinkan diri mampu untuk mempelajari
pelajaran dan menyelesaikan tugas, siswa meyakinkan diri memiliki
kemampuan yang lebih baik daripada orang lain, serta siswa
meyakinkan diri dapat melakukan hal-hal baik dalam mempelajari suatu
pelajaran serta mampu untuk meraih nilai yang tinggi.
c. Peningkatan minat
Siswa memotivasi diri dengan melakukan peningkatan minat terhadap
hal-hal yang dipelajarinya. Ini dapat dilakukan dengan membuat hal-hal
yang kurang atau tidak menarik menjadi menarik dan menyenangkan
untuk dipelajari. Di samping itu, siswa dapat mengaitkan hal yang
dipelajari dengan minat personal atau hal lain dalam kehidupannya.
d. Penyusunan lingkungan
Siswa memotivasi diri dengan menyusun lingkungannya. Ini dilakukan
agar siswa dapat berkonsentrasi dengan baik untuk belajar. Siswa
melakukan penyusunan lingkungan dengan cara mengurangi hal-hal
yang dapat mengganggu konsentrasi belajar. Di samping itu, siswa
menyusun lingkungan belajarnya agar dapat menyelesaikan tugas
3. Pengaturan perilaku akademis, terdiri dari 3 subkomponen yakni pengaturan
waktu dan lingkungan, pengaturan usaha, dan mencari bantuan secara
umum.
a. Pengaturan waktu dan lingkungan
Pengaturan waktu dan lingkungan dilakukan dengan membuat rencana
dan mengelola waktu untuk belajar atau menyelesaikan tugas dengan
efektif. Ini juga dilakukan dengan membuat hal-hal yang dikerjakan
menjadi terjadwal. Sedangkan untuk pengaturan lingkungan belajar
dilakukan dengan membuat lingkungan belajar menjadi teratur, tenang,
dan terbebas dari gangguan yang dapat mengganggu visual dan auditori
(Pintrich dkk, 1991).
b. Pengaturan usaha
Pengaturan usaha dilakukan siswa dengan mengatur usaha yang
dilakukannya ketika mempelajari pelajaran dan menyelesaikan tugas.
Siswa membuat komitmen untuk belajar akademis dengan baik. Di
samping itu, siswa juga berkomitmen untuk menyelesaikan tugas-tugas
meskipun sulit serta ada hal-hal yang mengganggunya (Pintrich dkk,
1991).
c. Mencari bantuan secara umum
Pengaturan perilaku untuk mengumpulkan informasi dan saran yang
berguna bagi belajar siswa yang dilakukan dengan mencari bantuan dari
irang lain agar dapat memberikan bantuan terhadapnya. Ini dapat
dilakukan dengan mencari bantuan dari teman maupun guru.