BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bagan 3.2 Desain Penelitian Pengembangan
Analisis Kebutuhan Wawancara
Langkah 2 Pengumpulan data Konsultasi dosen Langkah 3 Desain Produk RPP Desain media papan
rantai makanan
Pengumpulan bahan
Pembuatan media papan rantai makanan
LANGKAH 4
Validasi media pembelajaran
Instrumen siap digunakan Guru kelas V SD Konsultasi dosen Pembuatan kuisioner validasi Kisi-kisi Validasi media Pakar media Revisi Analisis LANGKAH 5 Revisi produk Hasil validasi
oleh pakar Revisi produk Prototipe media papan rantai makanan Penentuan
masalah Hasil
wawancara
Tahap pertama yang dilakukan pada penenelitian dan pengembangan ini adalah tahap penelitian dan pengumpulan data. Pada tahap ini, peneliti melakukan wawancara terhadap wali kelas V SDN Kalasan 1 dengan tujuan untuk menganalisis kebutuhan berkaitan potensi dan masalah yang terjadi di lapangan. Informasi yang diperoleh terkait dengan wawancara yang dilakukan mengacu pada penggunaan media dalam proses pembelajaran, di mana guru lebih cenderung untuk menggunakan media pembelajaran konvensional. Peneliti menggunakan data hasil wawancara sebagai acuan dalam pengembangan media pembelajaran konvensional yang terdapat pada tema ekosistem subtema memelihara ekosistem.
Tahap kedua, berdasarkan hasil wawancara tersebut, peneliti dapat mengetahui dan menentukan masalah yang terjadi di lapangan yaitu siswa masih bingung dalam mengurutkan rantai makanan makhluk hidup pada suatu ekosistem tertentu. Mengacu pada permasalahan tersebut, peneliti dapat menentukan pemecahan yang efektif dan tepat melalui konsultasi dosen yaitu dengan menggunakan media pembelajaran papan rantai makanan. Media pembelajaran papan rantai makanan yang dikembangkan diperhatikan kesesuaianya dengan karakteristik siswa kelas V serta pemilihan warna dan gambar yang menarik.
Tahap ketiga, peneliti merancang RPPTH yang berkaitan dengan media yang akan dikembangkan. Dalam hal ini, penyusunan RPPTH digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan media pembelajaran papan rantai makanan. Mengacu pada perumusan RPPTH tersebut, peneliti selanjutnya
mendesain media pembelajaran papan rantai makanan serta memilah bahan- bahan yang dibutuhkan dalam membuat media tersebut. Setelah mempersiapkan semua bahan-bahan, peneliti membuat media pembelajaran papan rantai makanan yang tentunya tidak terlepas dari kriteria-kriteria pemilihan media yang baik dalam proses pembelajaran yang merujuk pada pendapat Arsyad (2010: 74-76) yang telah diuraikan pada bab II.
Tahap empat, produk yang dikembangkan berupa media pembelajaran papan rantai makanan dilakukan validasi oleh pakar media dan guru SD. Validasi dilakukan dengan berpedoman pada instrumen validasi yang telah direvisi oleh dosen. Perumusan kuisioner validasi tidak terlepas dari kisi-kisi yang kemudian dikembangkan oleh peneliti sehingga berjumlah 20 butir pernyataan.
Tahap lima, peneliti melakukan revisi terhadap media papan rantai makanan yang telah dilakukan validasi. Tahap revisi produk dilakukan dengan acuan komentar dan saran perbaikan dari validator, yaitu pakar media pembelajaran dan juga guru SD. Tahap revisi ini bertujuan untuk menyempurnakan media pembelajaran papan rantai makanan yang dikembangkan sehingga dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan.
D. Teknik Pengumpulan Data
Berkaitan dengan penelitian yang dilakukan, peneliti menggunakan teknik wawancara dan kuesioner (angket) dalam mengumpulkan data. Wawancara dilakukan pada guru kelas V SDN Kalasan 1 yaitu Ibu U.K.
Tujuan dilaksanakannya teknik wawancara yaitu berkaitan dengan analisis kebutuhan guru yang berhubungan dengan penggunaan media pembelajaran yang menunjang materi tentang rantai makanan dalam suatu ekosistem. Penggunaan teknik pengumpulan data berupa kuesioner dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan dan kualitas dari media yang dikembangkan. Kuesioner atau angket digunakan sebagai panduan dalam melakukan validasi produk oleh pakar media yaitu Ibu A.A dan Bapak U.U, serta guru kelas V SD yaitu Ibu U.K dan Ibu P.N.
E. Instrumen Penelitian 1. Pedoman Wawancara
Moleong (dalam Herdiansyah, 2013: 29) menjelaskan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Sedangkan, Arifin ( 2011: 233) menyatakan bahwa wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung dengan responden untuk mencapai tujuan tertentu.
Dari kedua pengertian yang telah dijelaskan, wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab antara dua pihak yaitu pewawancara yaitu pihak yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yaitu pihak yang memberikan jawaban atas
pertanyaan yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung untuk mencapai tujuan tertentu.
Pada penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan tujuan untuk mengetahui penggunaan media dalam proses pembelajaran. Wawancara dilakukan dengan berpedoman pada instrumen wawancara berupa daftar pertanyaan untuk menganalisis kebutuhan. Berdasarkan data hasil wawancara tersebut, peneliti dapat mengembangkan media pembelajaran konvensional berupa papan rantai makanan yang mengacu pada subtema memelihara ekosistem. Adapun pedoman wawancara tersebut akan dilampirkan sebagai berikut.
Tabel 3.2 Pedoman Wawancara
No Indikator Butir-butir
Pertanyaan 1. Materi pembelajaran 3,4,5,6,7 2. Penggunaan media dalam proses pembelajaran 1,2 3. Saran dalam pengembangan media
pembelajaran
8
Berdasarkan pada tabel tersebut di atas, perumusan indikator pedoman wawancara disusun sendiri oleh peneliti.
2. Pedoman Kuesioner (Angket)
Narbuko dan Achmadi (2007: 76) menjelaskan bahwa kuesioner merupakan suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai sesuatu masalah atau bidang yang akan diteliti. Penggunaan teknik kuesioner bertujuan untuk mengetahui jawaban dari responden terkait dengan produk yang dihasilkan yaitu berupa media pembelajaran papan rantai makanan. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian bertujuan
untuk mengetahui kualitas dari media yang dikembangkan melalui tahap validasi produk. Tahap validasi terebut dilakukan oleh pakar media dan guru kelas V SD. Pedoman kuesioner tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini!
Tabel 3.3 Pedoman Kuesioner (Angket)
No Indikator Butir-butir
Pernyataan 1. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai 1
2. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip atau generalisasi
2, 3, 4 3. Praktis, luwes, dan bertahan 5, 6, 7, 8, 9 4. Guru terampil menggunakannya 10
5. Pengelompokkan sasaran 11, 12, 13, 14
6. Mutu teknis 15, 16, 17, 18
7. Tingkat kesenangan dan keefektifannya 19, 20
Mengacu pada tabel di atas, pedoman kuesioner yang digunakan merujuk pada pendapat Arsyad (2010: 74-76) dan Kustandi & Sutjipto (2011: 85).
F. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif yang akan dijabarkan sebagai berikut:
1. Data Kualitatif
Sugiyono (2015: 15) mengemukakan bahwa teknik analisis data terkait dengan data kualitatif bersifat induktif/kualitatif dan lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Dalam penelitian ini data kualitatif berupa kualitas dari media yang dikembangkan baik dari pakar
media pembelajaran dan guru SD. Data dianalisis sebagai dasar untuk memperbaiki dan mengetahui kelayakan produk yang dihasilkan.
2. Data Kuantitatif
Sugiyono (2012: 6) menjelaskan bahwa data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan (scoring). Data kuantitatif dibedakan menjadi dua, yaitu data diskrit dan data kontinum. Data diskrit sering juga disebut data nominal, adalah data kuantitatif yang satu sama lain terpisah, tidak dalam satu garis kontinum. Sedangkan data kontinum adalah data kuantitatif yang satu sama lain berkesinambungan dalam satu garis. Data dari hasil validasi oleh para validator dikelompokkan menurut interval tertentu. Langkah pertama yang ditempuh adalah menghitung rata-rata hasil validasi oleh para validator dengan rumus di bawah ini.
Penilaian dalam data kuantitatif harus memperhatikan skala pada setiap interval. Skala yang digunakan oleh peneliti adalah: sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2), dan sangat kurang baik (1). Skor yang diperoleh dikonversikan menjadi data kualitatif skala lima yang dikutip dari Sukardjo (2008: 101).
Tabel 3.4 Konversi Nilai Skala Lima Interval Skor Kategori X > i + 1,80 Sbi Sangat Baik
i+ 0,60 Sbi< X ≤ i + 1,80Sbi Baik
i–0,60 Sbi < X ≤ i + 0,60Sbi Cukup Baik
i–1,80 Sbi < X ≤ i– 0,60Sbi Kurang Baik
X ≤ i– 1,80Sbi Sangat Kurang Baik
Keterangan:
Rerata ideal ( i) : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal) Simpangan baku ideal (Sbi) : (skor maksimal ideal - skor minimal ideal) X : Skor aktual
Berdasarkan rumus konversi tersebut, dapat dilakukan perhitungan data-data kuantitatif untuk memeroleh data kualitatif dengan menerapkan rumus konversi di bawah ini.
Diketahui:
Skor maksimal ideal : 5 Skor minimal ideal : 1
Rerata ideal ( i) : (5+1) = 3 Simpangan baku ideal (Sbi) : (5-1) = 0,67 Ditanya:
Interval skor kategori sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan sangat kurang baik.
Jawaban:
Kategori sangat baik = X > i + 1,80 SBi = X > 3 + (1,80 . 0,67) = X > 3 + (1,21) = X > 4,21 Kategori baik = i + 0,60SBi < X ≤ i + 1,80SBi = 3 + (0,60 . 0, 67) < X ≤ 3 + (1,80 . 0,67) = 3 + (0,40) < X ≤ 3 + (1,21) = 3,40 < X ≤ 4,21
Kategori cukup baik = i - 0,60SBi < X≤ i + 0,60SBi
= 3 - (0,60 . 0,67) < X ≤ 3 + (0,60 . 0,67)
= 3 –(0,40) < X≤ 3 + (0,40)
= 2,60 < X≤ 3,40
Kategori kurang baik = i - 1,80SBi < X≤ i - 0,60SBi
= 3 - (1,80 . 0,67) < X ≤ 3 - (0,60 . 0,67) = 3 - (1,21) < X ≤ 3 - (0,40)
= 1,79 < X ≤ 2,60
Kategori sangat kurang baik = ≤ i– 1,80SBi
= X ≤ 3 - (1,80 . 0,67)
= X ≤ 3 - (1,21)
= X ≤ 1,79
Perhitungan di atas menghasilkan kriteria skor skala lima yang dikonversikan dari data kuantitatif menjadi data kualitatif sebagai berikut.
Tabel 3.5 Kriteria Skor Skala Lima Interval Skor Kriteria
4,22 – 5 Sangat Baik
3,41 - 4,21 Baik
2,61 - 3,40 Cukup
1,80 - 2,60 Kurang
1 - 1,79 Sangat Kurang
Perhitungan skor pada hasil validasi akan dihitung skor rata-ratanya. Kemudian, rata-rata skor hasil validasi tersebut dikonversikan dari data kuantitatif ke data kualitatif sesuai dengan kategori-kategori seperti pada tabel di atas.
63 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Kebutuhan
Mengacu pada pengembangan produk berupa media pembelajaran berbasis konvensional yaitu media papan rantai makanan, peneliti terlebih dahulu melakukan tahap analisis kebutuhan pada salah satu sekolah yang akan dijadikan sebagai lokasi penelitian. Tujuan dengan diadakannya analisis kebutuhan adalah untuk mengidentifikasi potensi dan masalah yang ada di lapangan. Pelaksanaan tahap analisis kebutuhan ini didasarkan pada langkah- langkah penelitian dan pengembangan yang telah dipaparkan pada bab III. Pada tahap analisis kebutuhan, peneliti melakukan wawancara dengan guru wali kelas V SDN Kalasan I yang bernama Ibu U.K. Wawancara dilakukan pada tanggal 14 September 2016 yang berlokasi di SDN Kalasan I pada pukul 11.30 WIB di ruangan kelas V.
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan pada guru wali kelas V tersebut, peneliti memperoleh banyak informasi berkaitan dengan potensi dan masalah di sekolah. Dari hasil wawancara tersebut, peneliti dapat mengetahui kecenderungan guru dalam menggunakan media pembelajaran pada proses belajar mengajar khususnya media pembelajaran berbasis konvensional. Peneliti menggunakan informasi yang telah diperoleh dari hasil wawancara dengan guru wali kelas V sebagai acuan dalam mengembangkan produk berupa media berbasis konvensional tersebut.
1. Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan
Pelaksanaan wawancara dilakukan berdasarkan panduan instrumen wawancara yang berjumlah 8 butir pertanyaan. Informasi hasil wawancara tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
Pertanyaan pertama, yaitu berkaitan dengan materi yang sulit dikuasai siswa pada mata pelajaran inti. Berdasarkan pada pertanyaan tersebut, guru menjelaskan bahwa pada umumnya dari beberapa mata pelajaran inti yang dipelajari ada materi yang dirasa sulit bagi siswa. Salah satunya adalah materi pada bidang studi IPA tentang rantai makanan dalam suatu ekosistem. Dalam hal ini, siswa masih bingung dalam menentukan rantai makanan dari makhluk hidup berdasarkan jenis ekosistemnya.
Pertanyaan kedua, yaitu tentang upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan terhadap materi tersebut. Jawaban atas pertanyaan tersebut yaitu guru biasanya menggunakan media pembelajaran untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa. Media yang sering digunakan guru dalam mengatasi kesulitan tersebut adalah media konvensional berupa gambar serta video. Akan tetapi, pemanfaatan media gambar dan video tersebut belum mendapatkan hasil yang maksimal. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa siswa yang belum memahami materi tersebut, terutama ketika guru menggunakan video. Dalam hal ini, perhatian siswa hanya terpaku pada hal-hal yang menurut mereka menarik tanpa mengetahui isi dari pelajaran yang mau disampaikan.
Pertanyaan ketiga, yaitu tentang kecenderungan guru dalam menggunakan media pembelajaran pada setiap proses pembelajaran. Mengacu pada pertanyaan tersebut, guru menjelaskan bahwa pada dasarnya tidak semua materi pelajaran dapat dibuatkan media pembelajarannya. Akan tetapi, guru selalu berusaha untuk menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran walaupun tidak untuk semua materi ajar. Media pembelajaran yang digunakan guru berupa media sederhana yang dibuat sendiri maupun media pembelajaran yang telah disediakan di sekolah. Selain itu, guru cenderung menggunakan media video dan PowerPoint. Hal ini dikarenakan ada materi-materi tertentu yang dirasa sulit bagi guru untuk membuat sendiri media pembelajarannya serta faktor lain yaitu faktor kesibukan.
Pertanyaan keempat, yaitu tentang jenis media yang paling sering digunakan. Jawaban guru atas pertanyaan tersebut adalah pada umumnya guru cenderung untuk menggunakan media konvensional berupa media gambar dan media yang dibuat sendiri oleh guru maupun media yang disediakan oleh sekolah. Kecenderungan dalam penggunaan media berbasis konvensional tersebut dikarenakan guru sudah terbiasa membuatnya dan mudah untuk mengimplementasikannya. Adapun juga guru terkadang menggunakan media video dan powerPoint.
Pertanyaan kelima, yaitu berkaitan dengan intensitas penggunaan media dalam pembelajaran. Berdasarkan pertanyaan tersebut, guru menjelaskan bahwa intensitas penggunaan media pembelajaran masih
kurang. Hal tersebut disebakan karena kurangnya perhatian sekolah terhadap media pembelajaran yang semestinya disediakan dan kurangnya kreativitas guru dalam membuat media pembelajaran.
Pertanyaan keenam, yaitu tentang hasil penggunaan media tersebut. Jawaban guru atas pertanyaan tersebut adalah sebetulnya hasil dari pengaplikasian media gambar, video, dan PowerPoint tersebut masih belum memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar siswa seluruhnya. Terutama ketika guru menggunakan media pembelajaran video dan
PowerPoint. Seperti yang dijelaskan pada pertanyaan sebelumnya, penggunaan kedua media dalam proses pembelajaran cenderung tidak melibatkan siswa karena hanya guru yang menggunakannya. Artinya, proses pembelajaran lebih berpusat pada guru.
Pertanyaan ketujuh, yaitu tentang alasan pentingnya penggunaan media dalam proses pembelajaran. Berdasarkan pada pertanyaan tersebut, guru menjelaskan bahwa penggunaan media dalam proses pembelajaran memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak yaitu guru dan siswa. Jika dilihat dari sisi guru, penggunaan media dalam proses pembelajaran mempermudah guru dalam menyampaikan isi pelajaran kepada siswa karena disertai dengan benda-benda konkrit. Sedangkan, jika dilihat dari sisi siswa, media pembelajaran dapat dijadikan sebagai perantara bagi siswa untuk memahami materi yang dipelajari. Berdasarkan dampak positif tersebut, guru menjelaskan bahwa kehadiran media sangat penting dalam proses pembelajaran.
Pertanyaan kedelapan, yaitu media seperti apa yang diinginkan jika dibuatkan. Guru menjelaskan bahwa media yang diinginkan untuk dibuatkan adalah media pembelajaran yang berbasis konvensional yang menarik dan dapat memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran serta memberikan pengaruh bagi prestasi belajar siswa. Dalam hal ini, siswa dapat terbantu untuk memahami materi yang dipelajari.
2. Pembahasan Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan
Berdasarkan pada informasi hasil wawancara dengan guru wali kelas V SDN Kalasan I, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pada umumnya setiap mata pelajaran inti memiliki materi-materi tertentu yang dirasa sulit bagi siswa. Kesulitan pada materi tersebut tentunya dapat pula diketahui oleh guru berdasarkan pada hasil belajar siswa. Untuk mengatasi setiap kesulitan yang dialami siswa, setiap guru memiliki upaya atau jalan keluar dari setiap persoalan tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan guru adalah melalui penggunaan media pembelajaran dalam setiap aktivitas belajar mengajar. Tujuannya adalah agar dapat menunjang proses pembelajaran dan membantu siswa dalam memahami materi yang dipelajari. Penggunaan media pembelajaran ini tentunya didasarkan pada kesadaran dari guru akan pentingnya kehadiran media pembelajaran tersebut dalam aktivitas belajar.
Guru menggunakan media pembelajaran dalam menunjang aktivitas belajar mengajar. Akan tetapi, tidak semua materi pelajaran dapat difasilitasi dengan media pembelajaran. Hal ini dipengaruhi oleh faktor
kesulitan guru dalam membuat atau merancanag media tersebut. Oleh karena itu, intensitas penggunaan media pembelajaran dalam aktivitas belajar masih minim. Guru cenderung menggunakan media yang telah disediakan oleh sekolah serta berbagai media sederhana lainnya berupa media gambar dan media yang dibuat oleh guru. Selain itu, guru menggunakan media pembelajaran PowerPoint dan video.
Penggunaan media pembelajaran dalam aktivitas belajar mengajar tentunya memiliki kendalanya masing-masing baik dari segi siswa maupun dari segi guru. Jika dilihat dari segi siswa, kendala ini dapat diketahui ketika guru menggunakan media pembelajaran video maupun PowerPoint. Dalam hal ini, perhatian siswa terhadap materi yang dipelajari masih sangat minim dibandingkan dengan gambar-gambar atau hal-hal yang menurut mereka menarik. Berdasarkan pada kendala tersebut, media pembelajaran video maupun PowerPoint jarang digunakan guru karena dalam pengaplikasiannya belum berhasil membuat prestasi belajar siswa meningkat seluruhnya. Sementara, jika dilihat dari segi guru terkait dengan penggunaan media pembelajaran, guru masih kesulitan dalam membuat atau merancang media pembelajaran yang menarik perhatian siswa serta bisa mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran.
Mengacu pada kendala pada siswa tersebut, guru lebih cenderung untuk menggunakan media pembelajaran konvensional dalam proses pembelajaran. Penggunaan media konvensional tersebut disebabkan karena proses pembuatan dan penerapannya lebih sederhana dan mudah
serta faktor kebiasaan guru dalam merancang atau membuat media konvensional. Di sisi lain, penggunaan media konvensional juga dapat menunjang prestasi belajar siswa karena siswa bisa belajar melalui benda konkrit.
B. Deskripsi Produk Awal
Mengacu pada produk berupa media pembelajaran konvensional yang akan dikembangkan ini, ada beberapa langkah pengembangan yang dilakukan peneliti. Langkah pertama adalah menentukan tema, subtema, kompetensi inti, dan kompetensi dasar berdasarkan subtema yang telah ditentukan. Perumusan indikator dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dilakukan setelah menentukan kompetensi dasar. Setelah perumusan indikator dan tujuan pembelajaran. Pada tahap selanjutnya, peneliti menyusun Rencana Pelakasanaan Pembelajaran Tematik Harian (RPPTH) mengacu pada hasil perumusan indikator dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Peneliti merancang RPPTH dengan memuat materi pelajaran, pendekatan dan model pembelajaran, metode, media pembelajaran, sumber belajar, sampai pada penyusunan langkah-langkah kegiatan pembelajaran. Rancangan RPPTH juga memuat Lembar Kerja Siswa (LKS), postest, refleksi dan instrumen penilaian. Perumusan RPPTH tersebut dijadikan sebagai panduan bagi peneliti dalam membuat atau merancang media pembelajaran berupa media konvensional. Peneliti mengembangkan media konvensional berupa media papan rantai makanan yang dilengkapi dengan papan piramida
makanan. Tujuannya adalah untuk menunjang siswa dalam memahami materi tentang rantai makanan dalam suatu ekosistem.
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Harian (RPPTH)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Harian (RPPTH) merupakan suatu perencanaan yang berisi rancangan kegiatan yang akan dilakukan pada proses pembelajaran yang disusun secara terperinci dan sistematis. RPPTH dirancang sedemikian rupa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai serta membantu guru agar kegiatan pembelajaran dapat terarah dan berlangsung dengan baik. RPPTH dirancang dengan berpedoman pada pendekatan tematik integratif serta terdiri atas komponen penyusunnya yang meliputi; (a) Satuan pendidikan/identitas sekolah, (b) Kelas/semester, (c) Tema/subtema, (d) Pembelajaran, (e) Alokasi waktu, (f) Kompetensi inti, (g) Kompetensi dasar, (h) Indikator, (i) Tujuan pembelajaran, (j) Materi pembelajaran, (k) Pendekatan dan metode pembelajaran, (l) Media, alat, dan sumber belajar, (m) Langkah-langkah pembelajaran, (n) Penilaian, (o) Lampiran-lampiran.
Pada penelitian ini, RPPTH yang dirancang terdiri dari 2 RPPTH dengan memuat 2 pembelajaran dalam satu subtema yang telah ditentukan. Dari ke-2 RPPTH tersebut, memuat materi yang telah ditentukan pada salah satu muatan pelajarannya. Alokasi waktu yang disediakan untuk satu pembelajaran yaitu 6 x 35 menit. Muatan pelajaran pada setiap pembelajaran terdiri dari 3 untuk pembelajaran 1 dan 4 untuk pembelajaran 2. Selain itu, RPPTH yang telah disusun memuat langkah-
langkah kegiatan pembelajaran yang runtut sehingga dapat mempermudah guru dalam mengimplementasikannya. RPPTH yang telah disusun pula memuat instrumen penilaian yang rancang sedemikian rupa serta mencakup 4 aspek penilaian yaitu keterampilan, pengetahuan, sikap sosial, dan sikap spiritual. Hal ini dapat mempermudah guru dalam mengukur sejauh mana kemampuan siswa dalam belajar.
2. Media Pembelajaran Papan Rantai Makanan
Pada penelitian ini, media pembelajaran yang akan dikembangkan adalah media pembelajaran konvensional berupa media pembelajaran papan rantai makanan. Materi pelajaran tentang rantai makanan tersebut terdapat pada subtema memelihara ekosistem untuk siswa kelas V sekolah dasar. Media konvensional yang dikembangkan berjumlah 1 buah yaitu media papan rantai makanan yang dilengkapi dengan piramida makanan. Pengembangan media ini, tentunya tidak terlepas dari tujuan pencapaian kompetensi dasar dan indikator yang telah ditentukan. Oleh karena itu, media papan rantai makanan akan dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian siswa dalam belajar serta terlibat dalam aktivitas belajar mengajar. Media pembelajaran ini akan dipoles dengan warna-warna yang menarik dan disertai gambar-gambar yang menarik pula. Pada intinya dalam pengembangan media pembelajaran ini, kerapian dan keindahan akan diperhatikan agar siswa merasa terdorong untuk mengikuti pembelajaran dengan semangat.
3. Buku Petunjuk Penggunaan Media pembelajaran Papan Rantai Makanan Produk akhir yang dikembangkan berupa media pembelajaran papan rantai makanan dilengkapi pula dengan buku petunjuk penggunaannya. Adapun langkah-langkah dalam menggunakan media tersebut dalam proses pembelajaran, sebagai berikut: a) menyiapkan kartu berisi gambar dan kata serta papan rantai makanan, b) siswa dibagi dalam 4 kelompok yang terdiri dari 4-5 orang, c) guru memberikan petunjuk kegiatan kelompok. Kemudian, membagikan kartu berisi gambar kepada kelompok 1 dan 3, d) kelompok 1 diminta untuk mendemonstrasikan kartu yang berisi gambar dan kata yang dibagikan guru. Kemudian, ditempelkan pada papan rantai makanan, e) kelompok lain diminta untuk menyimak penjelasan dari kelompok 1 dan memperbaiki kesalahan dari letak kartu yang ditempel, f) kelompok 2 diminta untuk mendemontrasikan dengan cara memindahkan kartu yang telah ditempelkan pada papan rantai makanan oleh kelompok 1 pada papan piramida makanan, g) cara yang sama pula dilakukan oleh kelompok 2 dan 4.
C. Data Hasil Validasi Pakar Media Konvensional Papan Rantai Makanan Mengacu pada tahapan penelitian dan pengembangan menurut para