Desentralisasi pendidikan mempunyai makna pemberian pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen pendidikan hingga tingkatan institusional dan instruksional. Sebagaimana dimaklumi, operasional pendidikan pada tingkatan mikro atau lapis dasar adalah pada tingkat institusional dan instruksional yaitu tingkatan satuan pendidikan atau lembaga dan pada
proses belajar mengajar. Pada tingkatan ini pendidikan berlangsung pada garda depan tempat dan saat terjadinya interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik dalam situasi pendidikan, serta berada pada posisi yang paling dekat dengan pengguna jasa pendidikan. Desentralisasi pendidikan pada hakikatnya merupakan pelaksanaan pendidikan pada tingkatan institusional dan instruksional. Sebagai konsekuensinya lembaga pendidikan harus memperoleh kewenangan penuh dalam melaksanakan manajemen pendidikan pada tingkat institusional. Sedangkan guru adalah sebagai pihak yang berada pada tingkat instruksional berhadapan langsung dengan peserta didik dalam proses pendidikan dan pengajaran. Berkaitan dengan itu maka guru harus memiliki otonomi pedagogis dan profesional untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai pendidik. Model Desentralisasi: dalam pendidikan: Sebagai gambaran perlu dikemukakan tiga model desentralisasi pendidikan, yaitu 1) manajemen berbasis lokasi (site based management), 2) pengurangan administrasi pusat, dan 3) inovasi kurikulum (Abdul Munir Mulkhan, 2002: 89, Nalar Spiritual Pendidikan, Jogjakarta: Tiara Wacana, Cetakan Ke-1).). Pertama, Manajemen berbasis lokasi/sekolah (site based management) merupakan arah baru kebijakan pendidikan, walaupun orang masih ragu kapan model ini dapat dimulai. Keraguan itu menjadi penanda bahwa sentralisasi kebijakan pendidikan nasional menciptakan kesadaran atas nilai modernitas tentang keseragaman dan tidakberharganya keunikan manusia dalam pendidikan bernilai plus-minus. Dunia pendidikan menjadi tergantung pada pusat kekuasaan yang secara sadar menempatkan diri dan dijadikan alat politik dan kebudayaan, bukan praktek politik dan kebudayaan itu sendiri. Kalau sekolah menganut manajemen berbasis lokasi, konsekuensi logisnya tidak ada lagi intervensi birokrasi pusat dan secara otomatis kurikulumnya menjadi wewenang sekolah untuk mempermudah pelaksanaan evaluasi dan inovasi. Salah satu ciri community based education adalah keterlibatan orang tua murid dan masyarakat terhadap kebijakan dan
pengelolaan sekolah. Ini berarti ada hubungan antara pengguna jasa sekolah (orang tua dan masyarakat, juga pemerintah) dengan penyedia jasa (guru, pimpinan sekolah, pengambil kebijakan pendidikan, termasuk pemerintah). Dengan pola seperti ini sangat mungkin adanya perbedaan antara sekolah di suatu daerah dengan sekolah di daerah lain, ketika kondisi orang tua dan masyarakat di sekitar sekolah berbeda. Sekolah pada dasarnya untuk mendidik dan mempersiapkan murid untuk mengarungi masa depannya agar sukses dan bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat serta bangsanya. Kalau hal ini disepakati, maka banyak hal yang harus menjadi keputusan dalam menjalankan sekolah didasarkan pada kebutuhan yang ada, yaitu kebutuhan murid dan masyarakat setempat, termasuk pemerintah lokal. Kalau saja pemahaman atas manajemen berbasis lokasi/sekolah dapat dilaksanakan secara konsisten secara sederhana dapat diyakini pola administrasi yang sentralistik akan berkurang secara signifikan. Accountability jelas dipersembahkan kepada masyarakat sebagai pemilik inti pendidikan yang melokal. Kedua,Pengurangan dari Pusat, desentralisasi pendidikan pada hakikatnya merupakan pengakuan bahwa proses pendidikan tidak akan bisa berjalan dengan baik kalau semuanya diatur dari pusat (Zamroni, 2001: 21, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Jogjakarta: Biograf Publishing, cetakan kedua). Sebenarnya permasalahan sentralisasi pendidikan ke desentralisasi pendidikan bukan sekedar pada pengurangan urusan administrasi dari daerah ke pusat, tetapi lebih dari itu adalah pola kekuasaan yang mendasarkan pada otonomi proses pendidikan. Dengan otonomi proses pendidikan akan meluas menjadi otonomi output pendidikan. Penetapan proses yang berakar pada potensi daerah akan menjadi dasar hukum penerimaan output pendidikan oleh masyarakat. Ketiga,
Inovasi kurikulum, perubahan dalam masyarakat terutama akhir-akhir ini sangat cepat, sehingga sekolah seakan tidak sanggup mengikuti jejak kemajuan masyarakat (S. Nasution, 2003: 153, Didaktik Asas-Asas Mengajar: Jakarta: Bumi Akasara) dalam kondisi yang
demikian maka inovasi kurikulum menjadi jawaban untuk keberlangsuungan pendidikan untuk masa depan. Meskipun demikian, dalam malaksanakan inovasi kurikulum harus mengikuti beberapa kepakeman yang harus dipatuhi. Kurikulum yang mencakup fokus program, media instruksi, organisasi materi, strategi pembelajaran, manajemen kelas, dan peranan pengajar (Ngadirin: 2005: 2, Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue dan Krisis Pendidikan, http://artikel.us/art05-75.html) diupayakan dapat memenuhi tujuan pendidikan itu sendiri, antara lain inovasi kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik (Anonimus, 2003a: 25, Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Diversifikasi artinya kurikulum dikembangkan dengan menggunakan prinsip perbedaan kondisi dan potensi daerah, termasuk perbedaan individu peserta didik (Ngadirin: 2005: 2, Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue dan Krisis Pendidikan, http://artikel.us/art05-75.html) Berdasarkan pada kepentingan tersebut perlu dilakukan restrukturisasi dan deregulasi pendidikan dalam tubuh kurikulum untuk mengimbangi pelaksanaan model desentralisasi pendidikan. Restrukturisasi dan deregulasi pendidikan yang diperlukan adalah mencakup empat (4) aspek antara lain orientasi pembelajaran siswa, profesionalisme guru, accountability sekolah, dan partisipasi orang tua peserta didik dan masyarakat sekitar dalam penyelenggaraan pendidikan (Zamroni, 2001: 25
Paradigma Pendidikan Masa Depan, Jogjakarta: Biograf Publishing, cetakan kedua).. Pertama, Aspek orientasi pembelajaran pendidikan siswa diupayakan sesuai dengan kebutuhan dan bakat, minat, intelegensi, kematangan dan kebutuhan akan dunia kerja di masa yang akan datang. Kedua, Upaya peningkatan mutu pendidikan akan tercapai manakala ditangani tenaga pendidik yang profesional. Alasan dasar, karena pendidik merupakan ujung tombak yang berada pada garda terdepan dalam proses pendidikan. Guru profesional adalah
guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang kuat yang meliputi kompetensi intelektual, sosial, spiritual, pribadi, moral, dan profesional (Mohamad Surya, 2003: 29, Percikan Perjuangan Guru, Semarang: Aneka Ilmu, Cetakan Ke-1). Peningkatan profesionalisme tenaga pendidik mencakup komponen- komponen penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan tugasnya, komitmen dan pengabdian yang tinggi pada bidang pendidikan (Suyanto dalam Fatkhurrahman, 2002: 98 Dinamika Pendidikan Nasional dalam Percaturan Dunia Global, Jakarta: PSAP). Peningkatan profesionalisme dilakukan secara terpadu dengan pendekatan 1) pelaksanaan tugas melalui kerja dan diskusi kelompok, 2) responsif untuk membangun interaksi secara formal maupun non formal melalui pendidikan dan latihan, serta kegiatan- kegiatan ilmiah, 3) penelusuran dan perkembangan diri atas keunikan diri yang dimiliki dalam bentuk kecakapan-kecakapan yang terkandung baik aspek fisik, emosional, maupun intelektual, 3), dukungan sistem dalam organisasi (Mohamad Surya, 2003: 34-36, Percikan Perjuangan Guru, Semarang: Aneka Ilmu, Cetakan Ke-1).). Desentralisasi hanya akan meningkatkan kualitas pendidikan dalam arti meningkatkan penguasaan pelajaran, tetapi bukan meningkatkan kemampuan bekerja Peningkatan kualitaas tidak cukup hanya dengan kebijaksanaan desentralisasi di bidang pendidikan, tetapi harus juga diiringi dengan penjebolan tembok pemisah antara dunia pendidikan dan dunia kerja (Zamroni, 2001: 23-24,
Paradigma Pendidikan Masa Depan, Jogjakarta: Biograf Publishing, cetakan kedua). Akibat dari pemisahan tersebut hubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja menjadi tidak harmonis. Ketiga, accountability sekolah dipersembahkan kepada masyarakat sebagai pemilik lembaga tersebut. Sekolah yang didukung oleh stakeholder society sebagai elemen terpenting dari sistem pendidikan yang bercirikan desentralisasi dapat menyampaikan indikator-indikator keberhasilan pendidikan yang dilangsungkan. Lembaga pendidikan
dipandang memiliki kualitas yang tinggi apabila mempunyai akuntabilitas tinggi terhadap masyarakat. Hal ini berarti semua program yang ada pada lembaga pendidikan accountable
terhadap pemiliknya. Menajemen pendidikan yang dapat direferensikan antara lain manajemen pendidikan berbasis sekolah dan pendidikan berbasis masyarakat (community based education). (Semua) stakeholders dalam masyarakat (harus) ikut serta dalam penyelenggaraan aspek-aspek manajemennya untuk mendukung mutu pendidikan yang diupayakan. Termasuk dukungan pelaksanaan pendidikan Islam bagi stakeholders adalah partisipasi orang tua, peserta didik, dan masyarakat sekitar dalam penyelenggaraan pendidikan. Dalam kaitan ini yang lebih kental adalah pendidikan ala pesantren. Dalam proses pendidikan jelas kiranya peran stakeholders sangat menentukan warna sistem pendidikan yang dilangsungkan. Satu paradigma yang dianggap bergeser dari titik lemah sentralisasi pendidikan yang selama ini dijalankan pemerintah antara lain timbulnya penilaian yang berbias. Dinilai pada satu sisi terdapat pengakuan atas daya kreatifitas masyarakat untuk membangun kemanusiaan yang lebih sejahtera dan adil, namun di sisi lain dinyatakan bahwa otonomi daerah dapat menimbulkan konflik multidimensi. Abdul Munir Mulkhan (2002: 38, 2002: 65, Nalar Spiritual Pendidikan, Jogjakarta: Tiara Wacana, Cetakan Ke-1).
Kemandirian dan daya kreatif warga di suatu daerah merupakan basis kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan yang lebih sejahtera dan adil. Otonomi daerah didasari oleh gagasan bahwa mutu kehidupan nasional ditentukan oleh kemandirian dan daya kreatif warganya. Walaupun demikian ketiadaan sistem yang jelas dan visi kemanusiaan universal. Otonomi daerah dapat menimbulkan konflik multidimensi yang tidak mudah dipecahkan justru ketika peran negara semakin melemah. Pernyataan ini masih memiliki daya debat yang kuat (debateable) atau bahkan saling menunggu atas kebenaran pernyataan tersebut. Desentralisasi Pendidikan Tinggi Islam: Pendidikan Islam merupakan sebuah proses dalam membentuk manusia
muslim yang mampu mengembankan potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsinya sebagai kholifah Allah (Armai Arief, 2002: 40, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, Cetakan Ke-1).
Dalam tataran ideal teoritis, otonomi pendidikan Islam khususnya di tingkat pendidikan tinggi merupakan tuntutan demokratisasi dan perkembangan peradaban serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat diberi tempat pada posisi otonom untuk merancang dan mengelola pendidikan, sehingga diharapkan akan tumbuh suatu format kehidupan masyarakat yang semakin mandiri, kritis dan kreatif. Hal itu menjadi semakin strategis dalam hubungan warga dengan negara dalam segala bentuk ekspresi. Dalam hubungan itu lembaga 'pendidikan Islam' seperti IAIN, UIN, STAIN dan perguruan tinggi Islam swasta lainnya harus menegaskan jati dirinya sebagai lembaga ilmu. Hal ini berkaitan dengan 'akar ontologis' bagi pendidikan Islam serta basis keilmuan. Di masa depan, lembaga pendidikan Islam tidak hanya dapat mengandalkan keberadaannya pada basis normatif keharusan umat Islam memperoleh apa yang selama ini dikenal dengan pendidikan agama atau pendidikan Islam (Abdul Munir Mulkhan, 2002: 65, Nalar Spiritual Pendidikan, Jogjakarta: Tiara Wacana, Cetakan Ke-1).
DIMENSI
Dimensi manusia dalam kaitannya dengan proses pendidikan Islam untuk membentuk moralitas terdiri atas tujuh (7) macam yaitu fisik, akal, keyakinan, moral, kejiwaan, keindahan, dan sosial kemasyarakatan. Pembagian dimensi manusia menjadi tujuh (7) macam tersebut berangkat dari asumsi bahwa manusia memiliki berbagai dimensi yang tidak hanya terdiri dari jasmani dan ruhani, akan tetapi lebih dari itu. Jasmani/fisik; Perangkat jasmani manusia dibina dengan tujuan: (1) Membangun dan membina manusia yang kuat, sehat, dan mampu melaksanakan tugasnya, (2) Membina fisik yang sehat, sehingga tercipta
kepribadian yang seimbang dan selaras sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial, dan sebagai pengabdian kepada Tuhan, (3) Membina dan mengolah fisik yang kukuh, sehingga terbina sikap-sikap terpuji seperti toleransi, sportif, mau dan mampu bekerjasama.