BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi dan Analisis Data
SDN Pondok Pinang 05 Pagi Jakarta Selatan merupakan salah satu sekolah dasar tertua di wilayah gugus 8 Pondok Pinang, Kebayoran Lama. Sekolah ini merupakan hasil penggabungan sekolah dasar negeri sejenis berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta Nomor 1921 Tahun 2014. Selain mengedepankan aspek kognitif, sekolah ini menerapakan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial serta memiliki rasa tanggung jawab. Hal ini tidak terlepas dari peran seorang kepala sekolah untuk mencapai suatu keberhasilan dalam menjalankan tugas sebagaiamana mestinya. Peneliti akan menjabarkan hasil penelitian mengenai peran kepala sekolah sebagai motivator dengan maksud untuk mengetahui keefektifan motivasi yang diberikan oleh kepala sekolah serta faktor apa saja yang dapat memengaruhi motivasi.
Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh peneliti dari hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Guru Kelas dan Staff Tata Usaha serta melakukan observasi atau pengamatan dan studi dokumentasi mengenai peran kepala sekolah sebagai motivator maka peneliti akan memaparkan hasil penelitian yang ditemukan di lapangan. Dari data yang diperoleh peneliti melakukan reduksi sesuai dengan fokus penelitian.
Berikut ini merupakan paparan data dan informasi yang diperoleh peneliti tentang peran kepala sekolah yang akan disajikan pada bagian ini mencakup hasil penelitian di lapangan terkait kepala sekolah sebagai motivator, faktor yang memengaruhi motivasi serta upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan semangat kerja guru.
1. Peran Kepala Sekolah Sebagai Motivator
Peran merupakan aspek posisi yang dinamis, untuk mencapai tujuan sekolah yang sesuai dengan visi dan misi sekolah maka tidak terlepas dari adanya peran seorang kepala sekolah. Kepala sekolah yang efektif memiliki keterampilan-keterampilan khusus sehingga kepala sekolah dapat menjalankan tugasnya secara efektif, salah satu keterampilan kepala sekolah yakni keterampilan motivasi.Motivasi dapat diartikan sebagai pelaksanaan suatu aktivitas atau kegiatan tertentu yang berfungsi untuk mengarahkan, mengaktifkan dan meningkatkan kegiatan yang dalam hal ini dapat meningkatkan semangat kerja para guru.
Peran kepala sekolah sebagai motivator dilakukan melalui pengaturan-pengaturan yang dilaksanakan oleh Kepala Sekolah, maka dari itu guru maupun tenaga pendidikan diberikan berbagai motivasi, fasilitas dan sarana prasarana khususnya dalam aktivitas bekerja sehari-hari secara akademik maupun non akademik.
a. Pengaturan Lingkungan Fisik
Pada uraian pertama penulis akan menguraikan peran kepala sekolah sebagai motivator yang terkait dengan pengaturan lingkungan fisik di SDN Pondok Pinang 05 Pagi Jakarta Selatan Ibu Hamidah, Kepala Sekolah mengemukakan bahwa :
“Mengatur lingkungan fisik sekolah yang mencakup gedung, ruang kerja, ruang belajar dan lingkungan sekolah.
Lingkungan sekolah harus aman, nyaman, tenang, bersih sehingga dapat meningkatkan semangat dalam bekerja.
Dapat diketahui bahwa gedung sekolah ini cukup luas dan dalam kondisi bagus namun masih terdapat beberapa kendala seperti sarana dan prasarana yang belum memadai, selain itu sekolah ini sudah dapat terbilang aman dan bersih karena memiliki 3 orang petugas kebersihan.”41
41 Hasil Wawancara dengan Ibu Hamidah (Kepala SDN Pondok Pinang 05 Pagi) pada Selasa. 07 Juli 2020
Lingkungan fisik merupakan pengaturan yang dibuat sebagai upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman selama berada di lingkungan sekolah. Pada dasarnya pengaturan lingkungan fisik dilakukan oleh Kepala Sekolah yang disesuaikan dengan berbagai faktor seperti kondisi lingkungan dan ketersediaan sarana prasarana. Hal ini sejalan dengan pendapat Bapak Hafiz Alie, Staff Tenaga Kependidikan yang mengemukakan bahwa :
“Pengaturan lingkungan fisik masih terbilang kurang, karena dari tahun ke tahun untuk masalah sarana dan prasarana yang harus ditekankan adalah sarana kebersihan seperti toilet. Kendala yang terjadi adalah sekolah tidak boleh menambah bangunan baru tetapi hanya boleh merenovasi bangunan yang sudah ada sesuai dengan anggaran belanja sekolah. Sedangkan untuk ruang kelas, ruang guru dan ruang kerja sudah cukup nyaman.Untuk tingkat keamanan sudah jauh lebih baik, karena terdapat 2 gerbang yang lebih mudah diakses oleh semua warga sekolah”42
Berdasarkan pendapat di atas yang menjadi permasalahan utama ialah keterbatasan sarana dan prasana dalam mengatur lingkungan fisik sekolah, oleh karena itu diperlukan adanya kerja sama setiap warga sekolah untuk mewujudkan lingkungan fisik sekolah yang aman, nyaman dan menyenangkan. Bila ditinjau lebih lanjut lingkungan fisik juga mencakup kebutuhan ruang guru yang kondusif, ruang kelas, ruang perpustakaan maupun ruangan lain yang menunjang kegiatan untuk bekerja.
Dalam menciptakan ruangan guru yang kondusif Kepala Sekolah menambah sarana dan prasarana seperti infocus, layar monitor, penyesuaian jarak antar meja, melengkapi ruangan dengan AC dan lemari arsip. Kepala Sekolah juga menjadikan ruang guru sebagai pengaturan utama ketika beliau mulai menjabat di sekolah
42 Hasil Wawancara dengan Bapak Hafiz Alie (Staff Tenaga Kependidikan) pada Kamis, 18 Juni 2020
ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil Studi Dokumentasi yang terlampir.
“Untuk lingkungan sekolah sudah memiliki rasa aman dan kebersihannya selalu terjaga, karena sekolah ini memiliki 3 tenaga kebersihan dan mewajibkan seluruh warga sekolah untuk bekerja sama dalam menjaga kebersihan salah satunya dengan sistem piket. Jadi tidak hanya petugas kebersihan saja yang bekerja namun seluruh warga sekolah wajib ikut serta dalam upaya menjaga kebersihan sekolah.”43
Oleh karena itu, pengaturan lingkungan fisik bukan hanya berfokus pada lingkungan yang kasat mata saja namun kepada seluruh kondisi di dalam lingkungan sekolah termasuk rasa aman dan menyenangkan untuk seluruh warga sekolah, ruangan kerja yang kondusif, ruang kelas yang bersih semua ini tidak terlepas dari kerja sama warga sekolah.
Dengan demikian pengaturan lingkungan fisik yang dilakukan oleh Kepala Sekolah mencakup ruangan kerja seperti ruang guru, ruang tenaga kependidikan, ruang kepala sekolah serta mengatur lingkungan sekolah yang aman dan menyenangkan dengan cara mengajak warga sekolah untuk bekerja sama dalam upaya menjaga kebersihan sekolah, adanya penjaga sekolah yang bertugas untuk menjaga keamanaan sekolah, mengatur tata letak meja dan lorong serta pengoptimalan lahan-lahan kosong yang dapat dijadikan taman hijau. Meskipun masih terdapat kendala dalam sarana dan prasarana namun kepala sekolah memiliki strategi dalam upaya mengatur lingkungan fisik sekolah.
43 Ibu Hamidah, op.cit
b. Pengaturan Suasana Kerja
Pengaturan suasana kerja penting untuk dilakukan sebab jika suasana kerjanya nyaman maka akan berdampak pada hasil kerja. Ketika seseorang sudah nyaman dengan suasana kerjanya maka dapat menumbuhkan motivasi dalam bekerja atau dalam menyelesaikan tugasnya. Kepala Sekolah sebagai pemimpin harus mampu menciptakan suasana kerja yang harmonis kepada pendidik maupun tenaga kependidikan, seperti yang dikemukakan oleh Ibu Hamidah, Kepala SDN Pondok Pinang 05 Pagi Jakarta bahwa :
“Mengatur suasana kerja dapat menciptakan hubungan kerja yang baik dan harmonis kepada seluruh warga sekolah dengan cara berkomunikasi, ketika stakeholder sekolah ada yang mengalami kesulitan maka kehadiran kepala sekolah sangat diperlukan untuk memberikan arahan dan masukan.”44
Berdasarkan pendapat tersebut, komunikasi menjadi kunci dalam menciptakan hubungan kerja yang harmonis. Dengan adanya komunikasi yang baik dapat menciptakan rasa saling memiliki, mendukung dan saling percaya untuk menyamakan suatu persepsi mengenai visi dan misi. Komunikasi juga dapat menghasilkan informasi yang dapat diolah untuk membantu Kepala Sekolah dalam mempertimbangkan keputusan. Seperti yang dipaparkan oleh Bapak Hafiz Alie, Staff Tenaga Kependidikan :
“Karena setiap alur, kebijakan serta adanya pendapat harus bersinergi antara kepala sekolah dengan staff ataupun guru untuk mencapai suatu mufakat. Ketika suatu kebijakan muncul tapi tidak dijalankan secara bersama, akhirnya terjadi miss komunikasi yang tidak menutup kemungkinan membuat suasana kerja menjadi tidak kondusif. Untuk itu penting sekali setiap kebijakan dimusyawarahkan terlebih dahulu untuk mencapai kesatuan secara utuh untuk mencapai tujan bersama.”45
44 Ibid
45 Bapak Hafizh Alie, op.cit
Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa untuk menciptakan suasana kerja yang harmonis diperlukan adanya komunikasi antara kepala sekolah dengan seluruh warga sekolah.
Namun, dalam pelaksanaannya bukan hanya komunikasi saja yang dapat menciptakan suasana kerja yang harmonis tetapi ada faktor eksternal dan internal. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Bapak Suroto, Wakil Kepala SDN Pondok Pinang 05 Pagi:
“Penting sekali, senantiasa harus hati-hati dalam bertutur kata dan sikap, bekerja sesuai dengan tupoksi. Kepala sekolah memberikan pengawasan dan arahan untuk menjaga keharmonisan dengan seluruh stake holder sekolah.”46
Dari pemaparan tersebut, pengaturan suasana kerja yang dilakukan oleh Kepala Sekolah menitikberatkan pada upaya menjaga komunikasi antar tenaga pendidik dan kependidikan serta memberikan arahan dan melakukan pengawasan, hal ini dilakukan agar terciptanya bekerja dengan rasa penuh semangat dan secara optimal. Pendapat lain yakni Ibu Upah, Guru Kelas memaparkan bahwa :
“Salah satu alasannya karena untuk menjaga keharmonisan lingkungan sekolah berdasarkan visi misi dan tujuan sekolah ini sendiri, oleh karena itu untuk menjaga komunikasi agar lebih baik dan mengurangi adanya miss komunikasi.”47
Menambahkan pernyataan dari Ibu Upah tentang pentingnya kepala sekolah dalam menjaga keharmonisan, Ibu Tri Wahyuni selaku guru kelas mengatakan pendapatnya sebagai berikut :
“Sangat penting, kalau tidak harmonis yang iklim kerjanya jadi tidak enak, maka dari itu menjaga keharmonisan antar
46 Hasil Wawancara dengan Bapak Suroto (Wakil Kepala SDN Pondok Pinang 05 Pagi) pada Jum’at, 19 Juni 2020
47 Hasil Wawancara dengan Ibu Maspupah (Guru Kelas) pada Senin, 23 Juni 2020
guru, karyawan, siswa serta kepala sekolah sangat penting untuk diterapkan agar dapat bekerja dengan nyaman.
Sejauh ini komunikasi yang dilakukan oleh kepala sekolah jelas dan terarah.”48
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, peran kepala sekolah dalam mengatur suasana kerja yang harmonis dan kondusif sudah optimal dalam pelaksanaan kegiatannya. Selain fokus pada komunikasi kepala sekolah juga memberikan arahan kepada guru dalam menciptakan hubungan kerja yang harmonis melalui sikap dan tindakan saat menghadapi masalah untuk dicari solusinya bersama-sama sebagai wujud rasa kekeluargaan dalam bekerja.
c. Disiplin
Peran kepala sekolah sebagai motivator dalam menanamkan sikap kedisplinan kepada semua warga sekolah termasuk pada dirinya sendiri, karena dalam pelaksanaanya kepala sekolah membutuhkan banyak dukungan untuk menerapkan tujuan sekolah serta untuk membantu guru mencapai tujuan mengajar kemudian menghasilkan prestasi yang dapat membanggakan sekolah. Seperti yang dikemukakan oleh Ibu Hamidah, Kepala SDN Pondok Pinang 05 Pagi Jakarta bahwa :
“Menerapkan kedisplinan dengan cara melakukan kegiatan briefing sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM), hal ini setiap pagi rutin dilakukan karena memiliki beberapa manfaat seperti meninjau kesiapan bekerja, meningkatkan motivasi kerja, dapat memberikan contoh tauladan kepada peserta didik. Sehingga baik tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan dapat memiliki sikap disiplin dalam bekerja.”49
Berdasarkan pemaparan di atas, kepala sekolah sudah melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik yaitu menerapkan
48 Hasil Wawancara dengan Ibu Tri Wahyuni (Guru Kelas) pada Kamis, 06 Agustus 2020
49 Ibu Hamidah, op.cit
kedisplinan bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk seluruh warga sekolah melalui sikap dan tindakan. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Ibu Amanda selaku guru kelas yang mengatakan sebagai berikut :
“Kepala Sekolah sangat disiplin seperti kehadiran guru harus datang paling lambat 15 menit sebelum Kegiatan Belajar Mengajar dimulai, karena biasanya ada briefing pagi dulu, dalam hal berpakaian juga selalu rapih mencerminkan citranya sebagai Kepala Sekolah jadi ikut termotivasi untuk disiplin juga dalam hal kehadiran, cara berpakaian, tutur kata dan sikap.”50
Berdasarkan pendapat tersebut peran kepala sekolah sebagai motivator sudah optimal dalam menerapkan kedisplinan melalui cerminan sikap dan tindakan yang dapat dijadikan contoh untuk seluruh warga sekolah. Selain itu, kepala sekolah juga menerapkan peraturan-peraturan untuk meningkatkan rasa disiplin Seperti yang dipaparkan oleh Ibu Yuli Mulatinah Guru Kelas sebagai berikut :
“Kepala Sekolah termasuk tipikal yang disiplin bisa dilihat dari tindakannya seperti datang ke sekolah tepat waktu, membuat jadwal piket, menerapkan peraturan seperti membuang sampah pada tempatnya, absen kehadiran menggunakan time stamp jadikan ada keterangan waktunya kapan mulai siap untuk bekerja gabisa direkayasa soalnya ada cap dan keterangannya.”51
Dari hasil pemaparan di atas, peraturan mengenai kedisplinan dilakukan dengan melibatkan seluruh komponen sekolah sebagai upaya dalam menjaga kebersihan sekolah.
Peraturan yang diterapkan oleh kepala sekolah juga bermanfaat untuk menumbuhkan sikap kemandirian dalam hal ini berarti mandiri untuk bekerja sesuai jadwal dan waktu yang ditetapkan
50 Hasil Wawancara dengan Ibu Amanda Permatasari (Guru Kelas) pada Kamis, 18 Juni 2020
51 Hasil Wawancara dengan Ibu Yuli Mulatinah (Guru Kelas) pada Kamis, 18 Juni 2020
melalui sistem kehadiran menggunakan sidik jari maupun time stamp, disiplin semacam ini merupakan bentuk bimbingan agar terbiasa dengan pola kerja secara sistematis.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang Kepala Sekolah bertanggung jawab atas pengawasan dan pengendalian kedisplinan yang diterapkannya guna menanamkan nilai-nilai pendidikan budaya dan karakteristik bangsa. Sesorang yang memiliki sikap disiplin mampu menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Kepala Sekolah bukan hanya sebagai pengawas saja tetapi ikut serta dalam upaya proses pencapaian tujuan pendidikan, karena pada dasarnya sikap disiplin timbul dalam bentuk kebiasaan hidup sehari-hari maupun kehidupan belajar mengajar yang teratur dan sistematis.
Di sisi lain, Kepala Sekolah juga memegang peranan penting dalam meningkatkan kedisplinan guru dalam menyelesaikan kegiatan administrasi yang berkaitan dengan penyelesaian tugas-tugas. Berikut ini pemaparan dari Bapak Hafiz Alie, Staff Tenaga Kependidikan :
“Lalu, untuk kegiatan adminitrasi Kepala Sekolah menetapkan penugasan yang dijadwalkan dengan agenda waktu tertentu seperti pembuatan jadwal piket dalam rangka penginputan kegiatan secara sistematis dan terstruktur serta menerapkan batas waktu untuk mengumpulkan tugas admnistrasi seperti rekapitulasi daftar hadir siswa.”52
Menambahkan pernyataan dari Bapak Hafiz Alie tentang kedisplinan penyelesaian tugas-tugas, Ibu Paula selaku guru mata pelajaran mengatakan pendapatnya sebagai berikut :
“Untuk kegiatan administrasi lancar-lancar saja biasanya sudah dapat jadwal untuk mengumpulkan tugas administrasi dari jauh-jauh hari paling lambat biasanya
52 Bapak Hafiz Alie, op.cit
seminggu tapi tergantung dari situasi dan kondisi juga jadi kalau ada hal yang tidak dimengerti biasanya koordinasi dengan guru, tata usaha, wakil kepala sekolah maupun kepala sekolah.”53
Berdasarkan pemaparan di atas, Kepala Sekolah sudah menjalankan tugas pokok dan fungsinya pada aspek kedisplinan dengan baik mulai dari menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan sekolah, membuat peraturan untuk meningkatkan rasa kedispinan bagi para guru maupun peserta didik, melaksanakan dan merumuskan program seperti jadwal piket, memberikan contoh teladan seperti tindakan disiplin melalui sikap dan perilaku yang bertanggung jawab.
d. Dorongan
Dorongan atau motivasi merupakan hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan semangat dan profesionalisme kerja melalui peran yang dimiliki Kepala Sekolah. Proses motivasi yang telah diterapkan dapat menjadi acuan guru dalam menjalankan tugasnya secara harfiah, karena dalam pelaksaannya guru membutuhkan banyak dukungan untuk meningkatkan efektifitas dalam bekerja sehingga guru tidak merasa bosan pada proses pekerjaan yang berulang seperti mengajar. Sejalan yang dikemukakan oleh Bapak Amar selaku guru kelas yakni sebagai berikut :
“Guru kan tugasnya mendidik meskipun sudah terbiasa dengan pekerjaan ini terkadang masih kesulitan karena guru sebagai wali murid di sekolah maka kesulitan yang dihadapi seputar peserta didik mulai dari bagaimana caranya memahami siswa yang memiliki karakteristik berbeda, kesulitan lain yakni di jaman sekarang guru harus kreatif dan terbiasa dengan teknologi mangkannya
53 Hasil Wawancara dengan Ibu Paula Wilis Purwaning (Guru Mata Pelajaran) pada Kamis, 06 Agustus 2020
dibutuhkan motivasi untuk memicu semangat agar selalu dapat memberikan yang terbaik untuk peserta didik.”54 Berdasarkan pendapat di atas, melakukan pekerjaan yang berulang dapat memicu rasa bosan dan akan berdampak pada kualitas kerja. Jika terjadi hal yang demikian maka diperlukan peran kepala sekolah sebagai motivator untuk membantu kesulitan yang dimiliki guru sebagaimana tercantum pada tugas pokok kepala sekolah yakni menjaga dan meningkatkan motivasi kerja pendidik dan tenaga kependidikan dengan sistem pemberian motivasi secara personal maupun kelompok. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Bapak Suroto guru kelas yang menyatakan bahwa :
“Memberikan motivasi secara individu maupun kelompok kepada guru yang memiiki kendala dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), mengingatkan kebersihan lingkungan sekolah, membuat peraturan bagi peserta didik yang jajan harus menggunakan piring melamin jadi tidak boleh menggunakan plastik.”55
Dari pemaparan tersebut dapat diambil informasi bahwa kepala sekolah juga melakukan motivasi secara individu atau kelompok kepada guru-guru yang memiliki kendala dalam bekerja.
Walaupun dalam pelaksanaannya tidak semua guru sering berkonsultasi dengan kepala sekolah terkait masalah-masalah individu yang dihadapinya tetapi kendala yang terkait peserta didik kepala sekolah selalu terbuka untuk kegiatan konsultasi secara pribadi maupun kelompok, hal ini sejalan dengan pendapat yang diberikan oleh Ibu Ida Junaida selaku guru mata pelajaran yang menyatakan bahwa :
“Ketika menemukan kendala, biasanya berdiskusi dengan rekan sejawat, apabila tidak menemukan solusinya maka berdiskusi dengan Kepala Sekolah. Alhamdulillah beliau
54 Hasil Wawancara dengan Bapak Amar (Guru Kelas) pada Senin, 23 Juni 2020
55 Bapak Suroto, op.cit
selalu terbuka ketika saya menemukan kendala, biasanya saya menceritakan masalahnya lalu kami pun berdiskusi untuk mecapai musyawarah mufakat bersama.”56
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah bertanggung jawab dalam meningkatkan profesionalisme guru melalui kegiatan motivasi dengan memberikan perhatian kepada guru-guru yang memiliki kendala dalam bekerja maupun kepada guru-guru yang mengalami kinerja menurun serta memastikan seluruh guru memiliki semangat dalam bekerja. Melalui perannya sebagai kepala sekolah diharapkan mampu memberi contoh atau bimbingan kepada guru-guru secara individu ataupun kelompok.
Di sisi lain, kepala sekolah juga memberikan motivasi dengan menerapkan budaya 5 S, hal ini dimaksudkan agar guru bekerja dengan suasana hati yang senang, bahkan di lorong sekolah dipasang tulisan-tulisan pembangkit semangat. Berikut ini pemaparan dari Bapak Syariffudin, guru kelas :
“Menciptakan hubungan yang baik dengan selalu mengingatkan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun), kalau ada pelatihan guru kepala sekolah mengikutsertakan, menanamkan kedisplinan, memberikan penghargaan kepada guru yang berprestasi dengan begitu kan jadi termotivasi agar kinerjanya kita lebih baik.”57 Menambahkan pernyataan dari Bapak Syariffudin tentang motivasi yang diberikan kepala sekolah, Ibu Amanda Permatasari menjelaskan bahwa selaku guru kelas mengtakan pendapatnya sebagai berikut :
“Apresiasi atau ucapan, terkadang juga diberikan reward kepada guru-guru yang berprestasi. Jika terdapat kendala dalam mengajar, kepala sekolah dengan sigap memberikan
56 Hasil Wawancara dengan Ida Junaida (Guru Mata Pelajaran) pada Jum’at, 10 Juli 2020
57 Hasil Wawancara dengan Bapak Syariffudin (Guru Kelas) pada Jum’at, 10 Juli 2020
semangat atau kata-kata yang dapat memicu seseorang agar dapat termotivasi dalam bekerja.”58
Berdasarkan pemaparan di atas, peran kepala sekolah sebagai motivator dalam hal memberikan dorongan sudah cukup baik, kepala sekolah bersifat terbuka ketika terdapat guru yang mengalami kendala dan mencari solusinya bersama, kepala sekolah juga membiasakan budaya salam sapa kepada seluruh warga sekolah dan memberikan kata-kata yang dapat meningkatkan etos kerja sehingga menghasilkan rasa kekeluargaan layaknya orang tua yang menasehati anaknya.
e. Penghargaan
Penghargaan merupakan upaya yang diberikan sebagai balas jasa kepada seseorang yang berprestasi karena telah berhasil menyelesaikan tugasnnya dengan baik. Begitu pula pada lembaga pendidikan, kepala sekolah berhak memberikan penghargaan kepada pendidik maupun tenaga kependidikan berdasarkan bentuk dan jenisnya.
Dalam memberikan penghargaan disesuaikan dengan beberapa aspek seperti situasi, kondisi, jenis dan bentuk serta siapa yang perlu diberikan penghargaan. Seperti pemaparan Ibu Hamidah selaku kepala sekolah sebagai berikut :
Berdasarkan pemaparan di atas penghargaan diberikan berdasarkan bentuknya seperti memberikan penghargaan yang dapat dikenang seperti hadiah. Lebih lanjut penghargaan yang diberikan kepala sekolah menurut Ibu Rini guru kelas 5 yakni
“Contohnya ketika peringatan hari guru kemarin kepala sekolah memberikan hadiah kepada guru-guru yang berprestasi.
58 Hasil Wawancara dengan Ibu Amanda Permatasari (Guru Kelas) pada Kamis, 18 Juni 2020
Penghargaan ini diberikan pada saat upacara jadi sifatnya kan transaparan disaksikan guru dan murid.”59
Pernyataan guru tersebut mengandung makna bahwa penghargaan juga diberikan pada saat peringatan hari besar Nasional, salah satunya ketika PGRI dan penghargaan ini bentuknya juga sebagai pengakuan terhadap kontribusi yang telah dilakukan oleh seorang guru. Hal ini selaras dengan pendapat dari Bapak Hafiz Alie sebagai berikut :
“Lebih kepada penghargaan individu dalam bekerja sebagai contoh penghargaan terhadap guru-guru yang berprestasi serta guru yang memiliki dedikasi tinggi kepada sekolah.
Contoh lainnya ketika lomba O2SN kepala sekolah memberikan dukungan kepada guru olahraga yang membawa siswanya menjuarai lomba cabang silat di
Contoh lainnya ketika lomba O2SN kepala sekolah memberikan dukungan kepada guru olahraga yang membawa siswanya menjuarai lomba cabang silat di