• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

METODE PENELITIAN

4.3. Deskripsi Data dan Hasil Penelitian

Deskripsi data merupakan penjelasan mengenai data yang didapat dari hasil penelitian di lapangan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori dari Doli D. Siregar (2004:518-520). Teori tersebut menjelaskan bahwa ada lima point penting di dalam melakukan manajemen pengelolaan aset, yaitu inventarisasi aset, legal audit, penilaian aset, optimalisasi aset, pengawasan dan pengendalian.

Metode penelitian yang digunakan di dalam melakukan penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif sehingga data yang diperoleh bersifat deskriptif berbentuk kata maupun kalimat dari hasil wawancara, hasil observasi lapangan dan juga dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan proses analisis data yang telah dikembangkan oleh Miles dan Huberman yaitu selama proses pengumpulan data dilakukan dengan empat komponen penting, diantaranya yaitu pengmpulan data (data collecting), reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan (verification). Kegiatan pertama yang dilakukan adalah pengumpulan data yang merupakan proses mengumpulkan informasi atau data yang diperlukan dalam penelitian. Kegiatan kedua yaitu merduksi, yaitu merangkum, memilih hal-hal

yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Untuk mempermudah peneliti dalam mereduksi datanya peneliti memberikan kode pada aspek tertentu, yaitu:

1) Q1,2,3 dan seterusnya menandakan daftar urutan pertanyaan. 2) I1,2,3 dan seterusnya manandakan urutan informan.

Langkah selanjutnya adalah melakukan penyajian data (data display), dalam penelitian kualitatif penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat atau teks naratif, bagan, matriks, hubungan antar kategori, network,

flowchart dan sejenisnya. Namun dalam penelitian ini, Peneliti menyajikan data dalam bentuk teks narasi. Selanjutnya

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data dari hasil proses wawancara, observasi maupun data-data dari dokumen-dokumen yang diperoleh selama melakukan penelitian. Analisis data yang dilakukan secara kualitatif dilakukan secara terus-menerus dari sejak data awal dikumpulkan sampai dengan penelitian berakhir. Untuk memperdalam analisis peneliti dalam penelitian Manajemen Pengelolaan Aset Tetap pada Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang (studi kasus manajemen pengelolaan penggunaan kendaraan dinas) terkait dengan permasalahan yang ada dalam penelitian ini, Peneliti selanjutnya menggunakan dengan melihat kepada proses-proses teori menurut Doli D. Siregar (2004:518-520) manajemen pengelolaan aset, yaitu inventarisasi aset, legal audit, penilaian aset, optimalisasi aset, pengawasan dan pengendalian.

1. Inventarisasi Aset

Pengelolaan barang milik daerahyang dikelola dengan baik tentunya akan memudahkan penatausahaan aset daerah dan merupakan sumber daya penting bagi pemerintah daerah. Dalam hal pengelolaan aset, pemerintah daerah harus menggunakan perimbangan aspek perencanaan kebutuhan, penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan atau penggunaan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan tuntutan ganti rugi agar aset daerah mampu memberikan kontribusi optimal bagi pemerintah daerah yang bersangkutan.

Inventarisasi merupakan jantung bagi sebuah instansi pemerintahan di dalam pengelolaan aset. Inventarisasi merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan antara data administratif barang milik daerah dengan kondisi fisik barang milik daerah yang bersangkutan. Inventarisasi dimaksudkan untuk mengetahui jumlah dan nilai serta kondisi barang yang sebenarnya, yang dikuasai pengguna barang maupun kuasa pengguna barang atas suatu obyek barang. Inventarisasi aset yang memadai merupakan bagian integral manajemen aset yang efektif. Daftar inventarisasi aset merupakan dasar dari sistem informasi manajemen aset daerah dan harus berisi data-data yang relevan yang dibutuhkan untuk pelaporan keuangan.Salah satunya aset tetap penggunaan kendaraan dinas merupakan aset yang perlu dilakukan upaya inventarisasi guna mendapatkan tingkat keyakinan yang memadai atas keberadaan aset tersebut dan juga

kelengkapannya dari sisi legal aspek yang mencakup status penguasaan, masalah legal yang dimiliki, hingga batas akhir penguasaan.

Apabila inventarisasi tidak dilakukan maka pengelola aset tidak dapat mengetahui jumlah dan nilai yang sebenarnya. Inventarisasi aset terdiri dari dua aspek, yaitu inventarisasi fisik dan yuridis/legal. Aspek fisik terdiri atas bentuk, luas, lokasi, volume atau jumlah, jenis alamat dan lain-lain. Sedangkan aspek yuridis adalah status penguasaan, masalah legal yang dimiliki, batas akhir penguasaan dan lain-lain. Proses kerja yang dilakukan adalah pendataan, kodifikasi / labeling, pengelompokkan dan pembukuan atau administrasi sesuai dengan tujuan manajemen aset. (Doli D. Siregar, 2004:518). Namun, sejauh ini Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang belum melakukan inventarisasi ulang hanya melihat data yang ada saja, tanpa mengetahui kualitas dan kuantitas fisik kendaraan yang sebenarnya sehingga banyak aset kendaraan dinas yang tidak diketahui keberadaannya ujar informan.

Dimana awal dari inventarisasi aset adalah sebuah perencanaan yang baik berdasarkan sebuah analisis yang tepat dalam penggunaannya. Perencanaan adalah sebuah proses dasar yang digunakan untuk memilih tujuan dan menemukan cakupan pencapaiannya. Merencanakan berarti mengupayakan sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan. Data inventarisasi aset daerah yang lengkap, tepat dan benar merupakan

data baseyang sangat menunjang perencanaan dan penyusunan anggaran dalam hal pengadaan barang dan jasa serta permintaan biaya pemeliharaan. Selain itu, data tersebut digunakan sebagai bahan atau data dalam meningkatkan penerimaan

daerah baik penerimaan pajak maupun penerimaan daerah bukan pajak sebagai informasi bagi aparatur pengawas dalam rangka pelaksanaan pengawasan terhadap kekayaan daerah (Arifin, Setiadi dan Setiawan, 2003:17-18)

Perencanaan Barang Milik Daerah memang sangat penting dilakukan. Dimana perencanaan ini dibuat agar efektifitas dan efisiensi dapat tercapai agar kebutuhan yang telah direncanakan tepat sasaran penggunaannya. Namun pada praktiknya, sebuah perencanaan yang dibuat memang berdasarkan kebutuhan Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang tetapi di dalam praktik penggunaannya tidak tepat sasaran artinya penggunaan kendaraan dinas banyak digunakan oleh pengguna yang notabennya dekat dengan pimpinan. Seperti pernyataan yang diungkapkan oleh informan (I-17) yang mengungkapkan:

“Adanya kedekatan dengan pimpinan contoh si x saja pelaksana bisa menggunakan kendaraan roda empat karena dekat dengan

pimpinan.”(Hasil wawancara dengan pengguna kendaraan dinas, pada tanggal 02 Pebruari 2015 pada jam 13.30 WIB di Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang).

Ditambahkan oleh informan (I-16) yang mengungkapkan:

“Sebenarnya yang diperbolehkan menggunakan kendaraan dinas roda empat itu hanya kepala dinas saja menurut peraturannya tetapi disini mah engga pernah sesuai semua bisa menggunakan kendaraan dinas jangankan pejabat pelaksana saja mendapatkan jatah menggunakan fasilitas barang milik daerah bahkan masih CPNS bahkan yang magang saja ada yang menggunakan kendaraan dinas padahal tidak memiliki hak karena jika terjadi kehilangan atau kerusakan pertanggungjawabannya

juga meragukan.” (Hasil wawancara dengan Pengelola Aset, pada tanggal 12 Januari 2015 pada jam 10.00 WIB di Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang).

Selain itu, informan juga mengungkapkan bahwa untuk dapat menggunakan kendaraan dinas pengguna harus mampu membayar sebuah uang mahar yang ditetapkan artinya walaupun pengguna sudah menggunakan

kendaraan dinas jika mereka mampu membayar mahar yang ditetapkan itu bisa untuk dapat menggunakan kendaraan dinas lebih dari satu.

Dapat disimpulkan dari pernyataan informan tersebut untuk dapat menggunakan sebuah Barang Inventaris Milik Daerah pada Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang bukan karena kebutuhan pegawai tetapi harus disertai mahar untuk dapat menggunakan kendaraan dinas tersebut. Pada kenyataannya, sarana dan prasarana diadakan berdasarkan keinginan subjektif data yang mengusulkan, bukan berdasarkan analisis kebutuhan organisasi. Apalagi dalam menyediakan sarana dan prasarana “politik mercusuar” munculah

permasalahan baru terutama tidak akan tercapaianya efisiensi dan efektifitas sebagaimana diamanatkan Undang-Undang.

Adapun pengelolaan aset tetap terkait penggunaan kendaraan dinas sudah diatur di dalam Peraturan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 Tentang

Pengelolaan Barang Milik Daerah “Barang Milik Daerah dapat ditetapkan status

penggunaannya untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah, untuk dioperasikan pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah

yang bersangkutan”, yang mana peraturan tersebut menjadi dasar hukum untuk

Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam menetapkan peraturan terkait manajemen pengelolaan aset tetap yaitu pada Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah

“Barang Milik Daerah dapat ditetapkan status penggunaannya untuk

dioperasikan pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas

pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan”.

Selain itu ditemukan data yang diberikan oleh informan pengelola aset Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang berkaitan dengan pendataan kendaraan dinas yang tercatat di buku inventaris namun bukti fisiknya banyak yang tidak ada, atau sebalikanya yang tidak diketahui keberadaannya dikarenakan alasannya belum dilakukan pengecekan secara fisik ke lapangan. Seperti pernyataan yang diungkapkan oleh informan (I-16):

“Belum pernah dilakukan pengecekan fisik, jadi data itu saja yang dilihat sehingga tidak diketahui bentuk fisiknya.”(Hasil wawancara dengan Pengelola Aset, pada tanggal 02 Pebruari 2015 pada jam 14.00 WIB di Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang).

Ditambahkan oleh informan (I-13) mengungkapkan:

“Pengecekan hanya dilakukan pada awal pengadaan saja untuk

selanjutnya belum pernah dilakukan.”(Hasil wawancara dengan Kasubag Umum dan Kepegawaian, pada tanggal 02 Maret 2015 pada jam 10.30 WIB di Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang).

Dapat disimpulkan dari data yang peneliti dapatkan di lapangan data yang disajikan belum dicatat secara lengkap dan belum mampu memberikan informasi yang akurat. Kendaraan dinas yang berada pada pengguna barang dan atau kuasa pengguna barang harus dapat diketahui secara pasti kualitas dan kuantitasnya. inventarisasi yang ditujukan untuk memberikan kepastian hukum atas aset-aset yang diperoleh dari beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau yang berasal dari perolehan lainnya yang sah. Kondisi ini jelas berpengaruh pada keakuratan nilai aset di neraca pemerintah daerah. Dalam menyajikan Laporan

Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD), segala sesuatu yang terkait dengan pencatatan aktiva di neraca harus disertai oleh laporan fisik atas aset tersebut, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah melakukan dilakukannya penelusuran terhadap aset-aset yang telah disajikan di dalam neraca.

Data yang diperoleh peneliti dari Pengelola Aset adanya perbedaan jumlah antara data kendaraan di Kartu Inventaris Gabungan Sistem Informasi Manajemen Aset Daerah (SIMDA) dengan data kendaraan yang dimiliki oleh pengelola aset secara manual yang dilaporkan kepada kuasa pengguna dapat disimpulkan bahwa ada pengadaan kendaraan yang tidak tercatat di dalam Sistem Informasi Manajemen Aset Daerah (SIMDA). Berikut data yang diperoleh langsung dari pengelola aset Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang:

Tabel 4.1

Data Pengguna Kendaraan Dinas

Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang

No Uraian Jumlah

1. Tidak diketahui penggunanya/keberadaannya 53

2. Tidak dibuatkan BA 100

3. Masih dipegang pejabat 5

4. Dipakai oleh tenaga magang 5

5. Pengguna ganda 3

Jumlah 166

Sumber : Pengelola Aset Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang 2015

Sesuai dengan prosedur yang berlaku dimana setiap bentuk pengadaan barang termasuk kendaraan wajib dilaporkan kepada Bagian Umum dan

Kepegawaian, selanjutnya melalui pengelola aset pengadaan tersebut akan dicatat sebagai barang masuk yang diterima. Kemudian, berdasarkan surat bukti serah terima antara pengelola aset dengan kepala bagian yang melakukan pengadaan dibuatlah surat penunjukan penggunaan kendaraan. Dalam surat penunjukan tersebut telah tercantum ketentuan-ketentuan yang mengikat pengguna selama menggunakan kendaraan dinas. Selain surat penunjukan, pengelola aset juga mencatat pendistribusian kendaraan tersebut melalui surat bukti barang keluar. Seperti pernyataan yang diungkapkan oleh informan (I-19), mengungkapkan:

Setiap pengadaan kendaraan itu turun dari pihak ketiga untuk para pejabat langsung membawanya pulang bahkan plat pun belum terpasang karena biasanya takut diambil sama yang lain jatahnya, sehingga terkadang tidak dilakukan penandatanganan berita acara

pengguna.”(Hasil wawancara dengan pengguna kendaraan dinas, pada tanggal 13 April 2015 pada jam 08.00 WIB di Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang).

Kesimpulannya tidak diikuti prosedur tersebut sehingga di dalam melakukan pendistribusikan kendaraan dilakukan tanpa sesuai prosedur yang berlaku. Hal semacam inilah yang kemudian mengakibatkan banyaknya barang yang tidak tercatat dan menyulitkan terciptanya tertib administrasi yang baik. Sehingga, secara riil kendaraan yang dimaksud ada, namun secara administrasi tidak tercatat. Karena tidak tercatat, maka tidak diketahui keberadaan kendaraan tersebut. oleh karena itu sangat dimungkinkan bahwa pengajuan kebutuhan terhadap kendaraan dinas terus dilakukan yang pada akhirnya akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Untuk menandakan kendaraan dinas tersebut milik Pemerintah Kabupaten Tangerang yang dikelola oleh Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten

Tangerang dilakukan penandaan atau biasa disebut labelling atau pemasangan tanda kepemilikan pada kendaraan dinas menurut informan (I-16), mengungkapkan:

Proses labelling sudah dilakukan di awal pembelian dan pada saat itu dilakukan pengecekan dengan pemasangan tanda kepemilikan tetapi pada praktiknya banyak pejabat esselon IV yang mengganti plat nomor kendaraan tersebut dengan menggunakan plat hitam maupun plat kode nomor rahasia.Hal demikian terjadi pada Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang karena sudah menjadi budaya kerja seharusnya hal ini tidak diperbolehkan karena sudah menyalahi peraturan perundang-undangan.”(Hasil wawancara dengan Pengelola Aset, pada tanggal 02 Pebruari 2015 pada jam 14.00 WIB di Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang).

Ketika dikonfirmasi kepada pengelola aset Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tangerang informan (I2-1), mengungkapkan bahwa :

“Memang diperbolehkan untuk menggunakan plat nomor rahasia tetapi

hanya untuk esselon III, selain itu tidak diperbolehkan.”

(Hasil wawancara dengan Pengelola Aset BPKAD, pada tanggal 01 Juni 2015 pada jam 14.00 WIB di BPKAD Kabupaten Tangerang).

Kesimpulannya, pada praktiknya pemasangan plat nomor kendaraan rahasia ditemukan banyak dilakukan oleh pejabat eselon 4 tanpa diketahui alasan pasti dan tidak melaporkan kepada pengelola aset sehingga sulit nantinya untuk dilakukan pendataan. Menurut informan banyak kendaraan yang plat kendaraannya tidak sesuai prosedur dikarenakan ketika pengadaan kendaraan dinas, plat kendaraan belum turun mereka sudah membawa kendaraan tersebut pulang ke rumah dikarenakan takut ada yang mengambil jatah penggunaan kendaraan dinas tersebut.

Tanda pemasangan kepemilikan dipasang untuk memudahkan proses inventarisasi harus dilakukan pemasangan tanda kepemilikan hal ini juga dilakukan agar terhindar dari penyerobotan aset kendaraan dinas karena beberapa pejabat ada yang membawa pulang kendaraan sebelum dilakukan pencatatan serta pemasangan tanda kepemilikan kendaraan tersebut. Ini beberapa gambar kendaraan yang plat kendaraannya dirubah:

Gambar 4.2

Kendaraan dinas yang diganti plat nomornya Sumber : Peneliti 2015

Gambar 4.3

Kendaraan dinas yang diganti plat nomornya Sumber : Peneliti 2015

Untuk melaksanakan yang menjadi kewenangan pengelola aset adalah inventarisasi aset dimana proses kerja inventarisasi aset yang dilakukan adalah perhitungan, pengurusan, penyelenggaraan, pengaturan pencatatan data dan pelaporan barang milik daerah dalam unit pemakaian. Dari kegiatan inventarisasi disusun Buku Inventaris yang menunjukkan semua kekayaan daerah yang bersifat kebendaan, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.

Adanya buku inventaris yang lengkap, teratur dan berkelanjutan mempunyai fungsi dan peran yang sangat penting dalam rangka:

1) Pengendalian, pemanfaatan, pengamanan dan pengawasan setiap barang;

2) usaha untuk menggunakan memanfaatkan setiap barang secara maksimal sesuai dengan tujuan dan fungsinya masing-masing; dan 3) menunjang pelaksanaan tugas Pemerintah.

Agar Buku Inventaris dimaksud dapat digunakan sesuai fungsi dan perannya, maka pelaksanaannya harus tertib, teratur dan berkelanjutan, berdasarkan data yang benar, lengkap dan akurat sehingga dapat memberikan informasi yang tepat. Seperti pernyataan informan (I-13), mengungkapkan:

“Untuk laporan semesteran aset saya menerima laporannya tetapi untuk kendaraan dinas saya jarang melihat laporannya karena kan aset dinas

banyak jadi tidak terpantau untuk hal yang satu ini.” (Hasil wawancara dengan Kasubag Umum dan Kepegawaian, pada tanggal tanggal 02 Maret 2015 pada jam 13.00 WIB di Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang).

Ketika ditanyakan kepada pengelola aset Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang mengenai Buku inventaris yang dimiliki oleh Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang belum berkelanjutan dikarenakan pengelola aset yang berganti-ganti dan masih lemahnya pengetahuan sumber daya manusia mengenai pengelolaan aset menyebabkan buku inventaris yang seharusnya menjadi bahan laporan ini tidak dilakukan ujar informan pengelola aset. Sehingga Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang sering terlambat melakukan pelaporan aset bahkan pernah tidak disampaiakannya laporan semester aset Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang yang seharusnya dilakukan setiap triwulan bahkan satu periode kepada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tangerang.Bahkan, untuk tahun 2014 pengelola aset tidak membuat laporan semseteran karena tidak adanya

laporan pengguna kepada pengelola aset ujar informan pengelola aset Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang.

Peneliti memperoleh data dari salah seorang informan mengenai daftar barang inventaris tanpa dokumen aset Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang. Ketika dikonfirmasikan data tersebut kepada informan (I-21), mengungkapkan:

Bahwa data inventaris tanpa dokumen milik Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang, bahwa ketika pengadaan tidak dalam penyerahan yang baik artinya penyerahan tidak dengan BPKBnya untuk

kendaraan dinas, entah kenapa bisa terjadi seperti itu.” (Hasil wawancara dengan pengelola BPKAD, pada tanggal 01 Juni 2015 pada jam 14.00

WIB di kantor BPKAD Kabupaten Tangerang).”

Disimpulkan oleh peneliti bahwa pengelola aset tidak menginvetarisir aset tetap penggunaan kendaraan dinas dengan secara baik. Karena, ada beberapa barang inventaris yang ditemukan tidak dalam penyerahan secara lengkap beserta dokumen baik dari pihak ketiga kepada pengelola aset maupun dari pengelola aset kepada pengguna barang.Ketika peneliti menanyakan hal mengenai daftar inventaris barang tanpa dokumen informan mengatakan bahwa daftar inventaris dokumen tersebut tidak adanya BPKB artinya tidak ada kejelasan status kepemilikan aset. Berkaitan dengan inventarisasi aset penggunaan kendaran dinas bahwa pencatatan yang rapih dan tertib administrasi dapat memberikan dampak yang baik di dalam melakukan inventarisasi aset. Karena dengan pencatatan yang lengkap dan akurat serta berkelanjutan dapat memberikan informasi yang tepat mengenai penggunaan aset kendaraan dinas tersebut sehingga pengelola tidak kehilangan rekam jejak sampai saat ini menjadi permasalahan bagi Dinas Bina

Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang yang penyelesaiaannya belum dapat diselesaikan. Karena sifatnya manusia adalah khilaf dan dosa sehingga pencatatan mengenai siapa yang menggunakan kendaraan dinas tersebut tidak dapat diketahui. Dikarenakan, penggunaan kendaraan dinas rentan dari penyerobotan dan penyelewengan oleh orang yang menggunakan kendaraan tersebut.

Inventarisasi ini terkait erat dengan masalah identitas aset dan bisa bermuara pada munculnya masalah kedua, yakni legalisasi sebagai lingkup kerja pengelolaan aset di daerah sering menjadi masalah yang sulit dipecahkan. Pelaksanaan inventarisasi status penguasaan aset daerah serta sistem dan prosedur penguasaan atau pengalihan aset selalu terbentur oleh berbagai ketidaksesuaian data yang tersaji dan kenyataan di lapangan. Dapat disimpulkan inventarisasi aset belum dapat berjalan dengan baik dikarenakan masih ada aset kendaraan dinas yang tidak diketahui keberadaannya baik kondisi fisik secara kualitas maupun kuantitas. Pelaksanaan inventarisasi aset Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Adanya ketidaktertiban administrasi di dalam pengendalian inventarisasi aset. Dimana

inventarisasi aset ini merupakan “jantung” di dalam siklus pengelolaan aset. Kondisi ini jelas menyebabkan pengelola aset Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang mengalami kesulitan untuk mengetahui secara pasti pengguna dan jumlah aset yang dimiliki.

2. Legal Audit

Legal audit merupakan satu lingkup kerja manajemen aset yang berupa inventarisasi status penguasaan aset, sistem dan prosedur penguasaan aset, sistem dan prosedur penguasaan atau pengalihan aset, identifikasi dan mencari solusi atas permasalahan legal, strategi untuk memecahkan permasalahan legal yang terkait dengan penguasaan atau pun pengalihan aset. (Doli. D. Siregar, 2004:518).

Terkait masalah legal yang dimiliki sudah pasti berkaitan dengan bukti kepemilikan kendaraan dinas itu milik pemerintah kabupaten tangerang baik itu bukti kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB) maupun surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNK) dimana bukti kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB) dipegang oleh pengelola aset dan diserahkan kepada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tangerang ketentuan ini sudah dilakukan sebagaimana mestinya, namun pengelola aset tidak memiliki foto copy asli bukti kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB) dan surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNK) tidak sesuai dengan jumlah kendaraan yang ada dimana jumlah kendaraan baik mobil maupun motor yang ada berjumlah 129 unit kendaraan sedangkan arsip foto copy surat tanda nomor kendaraan hanya berjumlah 25 tidak sesuai dengan jumlah kedaraan yang berada di dalam KIB B sehingga sulit melakukan pendataan ketika terjadi penyalahgunaan aset dimana untuk surat tanda nomor kendaraan bermotor dipegang oleh pengguna kendaraan Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang. Seperti pernyataan yang diungkapkan oleh informan (I-13), mengungkapkan bahwa:

“kami pernah melakukan pendataan pengecekan surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNK) sebagai syarat pengambilan kupon bahan

bakar minyak untuk pengguna kendaraan dinas, tetapi saat syarat tersebut