• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Data

1. Metode yang Digunakan Sekolah dalam Membentuk Karakter

Peserta Didik di SMP Negeri 2 Cibinong

Setelah melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi penulis menemukan beberapa proses pembentukan akhlak melalui budaya yang diterapkan di sekolah. Metode yang terapkan adalah guna membentuk akhlak peserta didik dari segi keagamaan, akademik dan menjaga lingkungan. Dari beberapa informan yang telah diwawancari berikut adalah budaya yang diterapkan dalam pembentukan karakter:

Sekolah merupakan tempat untuk melaksanakan pembelajaran yang sudah semestinya dijaga dan dilestarikan dengan baik, pelestarian ini dilakukan agar peserta didik mendapatkan rasa nyaman ketika melaksankan kegiatan belajar. Untuk menciptakan suasana yang nyaman seluruh warga sekolah harus memiliki jiwa untuk peduli terhadap lingkungan. Untuk itu sekolah menciptakan beberapa budaya terkait dengan indikator lingkungan diantaranya adalah:

a. Green Squad

Gambar 4.1

Green Squad atau pasukan hijau adalah organisasi yang dibuat untuk menjaga kelestarian dan mereboisasi lingkungan sekolah maupun lingkungan kelas. Pasukan ini terdiri dari beberapa peserta didik dari setiap kelas yang dibuat menjadi satu organisasi yang dibimbing oleh seorang pendidik. Adanya pasukan green squad memberikan pengaruh yang besar bagi lingkungan sekolah, adanya tumbuhan-tumbuhan di taman dan pot-pot yang tumbuh hijau subur. Kemudian, pasukan hijau ini membuat taman vertikal yaitu menanam tumbuhan di tempat botol-botol bekas yang sudah tidak terpakai.

Seperti yang dikatakan oleh Bapak Eris Riswandar, S. Ag selaku wakil Kepala Sekolah.

“Gerakan adiwiyata ini didukung oleh green squad (pasukan hijau) dan poker (polisi kebersihan). green squad itu memelihara tanaman yang ada di luar, anggotanya banyak direkrut dari setiap kelas. 7

Gambar 4.2

Sumber Penelitian Tanaman Green Squad

7

Hasil wawancara dengan Bapak Eris Riswandar, selaku Wakil Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala dan Wakil Kepala Sekolah), selasa, 08 November 2016, pukul 10.00–11.00.

Pasukan green squad juga mempunyai tugas untuk mengecek lingkungan yang belum ada tumbuhan hijaunya di lingkungan sekolah dan kelas. Senada dengan pernyataan di atas, menurut hasil wawancara dengan Bapak Ujang, S.Ag, selaku Kepala Bidang Kesiswaan.

”Pasukan green squad (pasukan hijau) yaitu mengkoordinir tanaman hijau atau pun di tempat yang belum ada tanaman hijaunya di lingukungan sekolah maupun di lingkungan kelas.”8

b. Poker (Polisi Kebersihan)

Poker adalah suatu organisasi yang bekerja sama dengan green

squad. Pasukan poker dibentuk dari beberapa peserta didik yang diambil

dari masing-masing kelas yang dibimbing oleh seorang pendidik sebagai pembimbing. Tugasnya adalah menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan kelas dari sampah atau peserta didik yang membuang sampah sembarangan. Pasukan poker beroperasi saat jam istirahat dengan berkeliling ke setiap kelas untuk memeriksa kebersihan lingkungan kelas. Jika didapati sampah, maka akan diberikan sanksi pada kelas yang didapati sampah. Sanksi yang diberikan adalah denda sebesar sepuluh ribu rupiah persatu sampah. Akan tetapi jika sampah terlalu banyak dan memberatkan tanggung jawab kelas dalam pembayaran maka pasukan tersebut mengadakan pengadilan poker untuk meminta keringanan dalam persidangan yang dipimpin oleh peserta didik yang tergabung dalam organisasi tersebut, jika masalah tersebut tidak selesai maka akan berlanjut ke mahkamah poker yang dipimpin oleh guru.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak Eris Riswandar, S.Ag selaku Wakil Kepala Sekolah.

8

Hasil wawancara dengan Bapak Ujang, selaku Kepala Bidang Kesiswaan dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Guru), kamis, 13 Oktober 2016, pukul 09.00-09.30.

“Poker polisi kebersihan jadi mereka yang beroperasi ke setiap kelas setiap istirahat nanti ada sampah atau tidak? Jika didapati sampah oleh tim poker maka diambil sampahnya dan kelas itu didenda. Pokernya umum tapi direkrut dari kelas-kelas juga..”.9

Senada dengan yang dikatakan oleh Pak Eris, Ibu Siti Hulasoh selaku pembantu Kepala Bidang Kurikulum mengatakan:

“Poker (polisi kebersihan), ini kerjaannya setiap istirahat ngontrol kelas nanti jika ada sampah dicatat satu sampah 10 ribu..”10

Diperkuat oleh perkataan Kepala Bidang Kesiswaan Bapak Ujang. “Pasukan poker (polisi kebersihan) siswa berlatih seolah polisi yang

menilang ketika melihat ada pelangaran, seperti adanya satu sampah di ruangan kelas saja maka ada poker yang selalu berpatroli di ruangan kelas di setiap kelas waktu istirahat pertama dan kedua apabila melihat siswa membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda..”11

Dari beberapa wawancara di atas poker adalah oraganisasi yang berperan penting dalam masalah kebersihan lingkungan sekolah maupun kelas. Dengan adanya poker ini peserta didik dituntut untuk menjaga kebersihan baik kebersihan diri maupun lingkungan.

Untuk memotivasi peserta didik untuk selalu menjaga kebersihan, maka diadakan lomba kebersihan antar kelas, lomba kebersihan ini berlangsung secara terus menerus, dan akan diumumkan pada saat upacara senin minggu pertama tiap bulannya. Dalam upacara ini akan diumumkan kelas terbersih dan terkotor pada setiap jenjang kelas VII, VIII dan IX,

9

Hasil wawancara dengan Bapak Eris Riswandar, selaku Wakil Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala dan Wakil Kepala Sekolah), selasa, 08 November 2016, pukul 10.00–11.00.

10

Hasil wawancara dengan Ibu Siti Hulasoh, selaku Kepala Bidang Kurikulum dan Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala Bidang Kurikulum), selasa, 08 November 2016, pukul 09.00–10.00.

11

Hasil wawancara dengan Bapak Ujang, selaku Kepala Bidang Kesiswaan dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Guru), kamis, 13 Oktober 2016, pukul 09.00-09.30.

kelas terbersih akan diberikan bendera berwarna hijau dan kelas terkotor akan diberikan bendera berwarna merah, dan yang menerima bendera tersebut adalah pendidik yang menjabat sebagai wali kelas itu sendiri. “Setiap bulan diumumkan kelas terbersih, yang bersih dikasih bendera

hijau dari yang paling bersih di setiap tingkatan kelas, jadi tidak dari keseluruhan siswa karena tidak adil, kan anak kelas VII beda cara pekerjaannya. Kelas yang kotor warna merah jadi hijau ada tiga merah ada tiga. Ini memotivasi siswa dan wali kelasnya juga karena yang menerima bendera adalah wali kelas saat upacara awal bulan

dilaksanakan sama ketua kelas yang memberikan kepala sekolah”.12

Begitulah yang dikatakan oleh Pak Eris dalam wawancara yang penulis lakukan.

c. KTR (Kawasan Tanpa Rokok)

Gambar 4.3

Sumber Penelitian: Kawasan Tanpa Rokok

KTR diresmikan pada bulan November 2016, budaya ini dilakukan untuk menghindari asap rokok dari lingkungan sekolah. Semua warga sekolah dilarang untuk menghidupkan rokok di area sekolah baik pendidik

12

Hasil wawancara dengan Bapak Eris Riswandar, selaku Wakil Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala dan Wakil Kepala Sekolah), selasa, 08 November 2016, pukul 10.00–11.00.

maupun karyawan. Begitu pula dengan tamu yang datang, diwajibkan untuk mematikan rokok terlebih dahulu sebelum masuk kawasan sekolah.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibu Siti Hulasoh dalam wawancara:

“Nah kemaren juga baru diluncurkan sekolah ini sebagai sekolah kawasan tanpa rokok. Jadi siapa pun yang masuk setelah ini tidak boleh merokok tidak boleh ada asap rokok, semua warga sekolah tidak terkecuali, dan yang masuk ke sekolah termasuk tamu. Tamu yang ingin masuk ke sekolah matikan rokok baru boleh masuk. Kemaren sudah diluncurkan dihadiri oleh yayasan pengampu gerakan tanpa rokok”.13

Dari keseluruhan organisasi yang ada di sekolah dikoordinir oleh peserta didik dan didampingi oleh pendidik sebagai pembimbing.

“Semua yang koordinir adalah peserta didik yang berbentuk organisasi

seperti osis yang dibentuk dibentuk dengan perwakilan setiap setiap

kelas dan didampingi oleh guru pembimbing”.14

Ujar Pak Ujang.

d. Senyum, Sapa, Salam, Santun (4S)

4S adalah budaya sekolah yang dilakukan sekolah setiap hari senin sampai jumat yaitu ketika menyambut anak-anak datang ke sekolah, hari sabtu sebenarnya peserta didik masuk sekolah tetapi hanya untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Budaya ini adalah yang dilakukan para pendidik kepada peserta didik. pendidik yang menyabut peserta didik diwajibkan datang lebih awal, dan penyambutan sudah terjadwalkan.

13

Hasil wawancara dengan Ibu Siti Hulasoh, selaku Kepala Bidang Kurikulum dan Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala Bidang Kurikulum), selasa, 08 November 2016, pukul 09.00–10.00.

14

Hasil wawancara dengan Bapak Ujang, selaku Kepala Bidang Kesiswaan dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Guru), kamis, 13 Oktober 2016, pukul 09.00-09.30.

Seperti yang dikatakan oleh Pak Ujang:

“Iya ada, yaitu guru membiasakan menyambut kedatangan anak-anak dari sekolah, dan terjadwal dan standby menyapa anak 4s ketika

datang ke sekolah”.15

Gambar 4.4

Sumber penelitian: Budaya 4S

Senada dengan Pak Ujang, Pak Eris pun mengatakan:

“4S dilakukan setiap hari, disambut sama guru-guru dari Senin sampe Jumat kecuali hari Sabtu karena tidak ada pembelajaran.”.16

Kegiatan ini dilakukan untuk membentuk moral pendidik kepada peserta didik dan sebaliknya peserta didik kepada pendidik. 4S ini mengajarkan bagaimana seharusnya seorang pendidik menyayangi peserta didiknya. Karena tugas seorang pendidik tidak hanya untuk mengajar atau mentransfer ilmu, tetapi ada tugas yang lebih penting dari mengajar yaitu

15

Hasil wawancara dengan Bapak Ujang, selaku Kepala Bidang Kesiswaan dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Guru), kamis, 13 Oktober 2016, pukul 09.00-09.30.

16

Hasil wawancara dengan Bapak Eris Riswandar, selaku Wakil Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala dan Wakil Kepala Sekolah), selasa, 08 November 2016, pukul 10.00–11.00.

mendidik peserta didik. Oleh karena itu pembiasaan kecil seperti ini harus dilakukan agar karakter peserta didik terbentuk. Seperti yang dikatakan oleh Pak Eris:

“Tapi yang lebih penting lagi penegakkan moral yaitu bagaimana

seorang guru bisa sayang kepada sisiwanya artinya kita guru bukan hanya mengajar tapi mendidik yang terpenting itu makanya itu

pembiasaan”.17

e. Shalat Dhuha

Gambar 4.5

Sumber Penelitian: Kegiatan Sholat Dhuha

Kegiatan yang diterapkan di sekolah dalam rangka membentuk karakter peserta didik adalah dengan membiasakan serangkaian sholat dhuha yang sebelumnya dilakukan tadarus al-Qur’an, dzikir asmaul husna dan membiasakan shalat zuhur berjama’ah.

Seperti yang dikatakan oleh Ibu Siti Hulasoh:

17

Hasil wawancara dengan Bapak Eris Riswandar, selaku Wakil Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala dan Wakil Kepala Sekolah), selasa, 08 November 2016, pukul 10.00–11.00.

“Kalo kegiatan ini biasanya pagi-pagi menyambut anak-anak datang, disambut sama guru-guru dan terjadwal.”.18

Peserta didik datang ke sekolah sebelum bel dibunyikan, setibanya di sekolah sebelum pukul tujuh peserta didik yang muslim dan sedang dalam keadaan menstruasi berwudhu untuk bersiap-siap melaksanakan sholat dhuha, namun sebagian siswa dianjurkan untuk berwudhu di rumah yang yang tempat tinggalnya dekat dengan sekolah.

Pelaksanaan sholat dhuha dilakukan selama tiga hari dalam setiap minggunya secara rutin yaitu selasa, rabu dan kamis dari pukul 07.00-07.30. Karena hari senin digunakan untuk pelaksanaan upacara dan jum’at diisi dengan pembacaan yāsin dan olahraga secara bergantian tiap minggunya. Seperti yang di katakan oleh Pak Ujang:

“kemudian nilai religi dengan membiasakan sholat berjamaah seperti

zuhur dan ashar dan sholat dhuha setiap pagi sebelum memulai jam

pelajaran sekitar pukul 07.00 sampai 07.30”.19

Senada dengan yang dikatakan oleh Pak Ujang, Ibu Siti Hulasoh mengatakan:

“Pelaksanaannya 3 hari untuk tadarus, dzikir asmaul husna dan sholat

dhuha itu 3 hari, selasa, rabu, dan kamis.”.20

Dan disela-sela wawancara Ibu Hulasoh menekankan lagi, bahwasannya sholat dhuha memang dihimbau untuk dilaksanakan setiap hari dengan peserta didik datang lebih awal jika di hari lain diselingi kegiatan. Ibu Hulasoh mengatakan:

18

Hasil wawancara dengan Ibu Siti Hulasoh, selaku Kepala Bidang Kurikulum dan Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala Bidang Kurikulum), selasa, 08 November 2016, pukul 09.00–10.00.

19

Hasil wawancara dengan Bapak Ujang, selaku Kepala Bidang Kesiswaan dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Guru), kamis, 13 Oktober 2016, pukul 09.00-09.30.

20

Hasil wawancara dengan Ibu Siti Hulasoh, selaku Kepala Bidang Kurikulum dan Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala Bidang Kurikulum), selasa, 08 November 2016, pukul 09.00–10.00.

Gambar 4.6

Sumber penelitian: Kegiatan Sholat Dhuha

Dalam melaksanakan sholat dhuha pertama peserta didik menggelar karpet yang dibawa dari masjid yang sebelumnya sudah digelari terpal oleh penjaga sekolah, lalu berkumpul di lapangan utama dan membaca

al-Qur’an secara bersama-sama, dilanjutkan dengan dzikir asmaul husna

yang dipimpin oleh peserta didik, kemudian setelah itu melaksanakan sholat dhuha sebanyak empat rakaat dan membaca doa setelah sholat dhuha dan diisi dengan kultum oleh guru.

“Dhuha diawali dengan tadarus al-Qur’an kemudian membaca asmaul

husna lalu melaksanakan sholat dhuha dan setelahnya ada ceramah

dhuha biasanya klo tadi engga karena speakernya jelek (haha). Ada ceramah dhuha adda sekitar 5 sampai 7 menit kadang kultum kadang lebih dari kultum bisa lebih kadang 30 menit kalo lagi sempat

(haha)”.21

Ujar Bapak Wakil Kepala Sekolah.

21

Hasil wawancara dengan Bapak Eris Riswandar, selaku Wakil Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala dan Wakil Kepala Sekolah), selasa, 08 November 2016, pukul 10.00–11.00.

f. Sholat Berjama’ah

Melaksanakan sholat lima waktu merupakan kewajiban bagi umat Islam, sholat wajib jika dilakukan sendiri maka hanya akan mendapatkan 1 derajat pahala, sedangkan sholat lima waktu yang dilakukan dengan berjamaah maka pahala yang didapat adalah 27 derajat. SMP Negeri 2 Cibinong mewajibkan para peserta didik untuk melaksanakan sholat zuhur berjamaah di sekolah. hal ini dilakukan untuk meningkatkan jiwa keagamaan pada diri peserta didik.

Sholat zuhur berjamaah dilakukan secara bergantian karena musholah yang tidak memadai untuk seluruh peserta didik jika dilakukan secara serentak bersama-sama.

“Zuhur dilakukan berjamaah ada yang adzan juga di sini, yang pertama adzan pendidik. Pelaksanaan anak-anak berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah, setelah selesai berjaamaah lanjut gelombang berikutnya bergantian karena tempatnya terbatas “.22

Begitu yang dikatakan oleh Kepala Bidang Kurikulum di atas. Jadi sholat berjamaah dilakukan secara bergelombang, kemudian selain karena tempat yang terbatas waktu zuhur berkumandang juga masih ada peserta didik yang sedang melaksanakan pembelajaran dan baru selesai pukul 12.20. Maka, peserta didik yang sudah keluar kelas segera melaksanakan sholat.

g. Sodaqoh

Budaya sodaqoh merupakan pembiasaan yang dilakukan oleh SMP Negeri 2 Cibinong, yaitu dengan menyisihkan sisa uang jajan peserta didik. Sodaqoh dilaksanakan setiap hari jumat yang dikoordinir oleh

22

Hasil wawancara dengan Ibu Siti Hulasoh, selaku Kepala Bidang Kurikulum dan Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala Bidang Kurikulum), selasa, 08 November 2016, pukul 09.00–10.00.

peserta didik dan dilaporkan kepada pendidik penanggung jawab, sodaqoh juga dibiasakan oleh peerta didik untuk temannya yang sedang berduka.

“Budaya sodaqoh atau infaq dilakukan setiap Jum’at, anak belajar

berinfak anak menyumbangkan berapapun sisa uang jajan mereka, peserta didik yang mengkoordinir dan di setor ke koordinator

umumnya yaitu pak ujang”.23

Ujar Bapak Wakil Kepala Sekolah

Pak Eris pula mengatakan:

“Budaya sodaqoh atau infaq dilakukan setiap jumat, anak belajar

berinfak anak menyumbangkan berapapun sisa uang jajan mereka, siswa yang mengkoordinir dan disetokarkan ke koordinator umumnya yaitu Pak Ujang”24

Hasil sodaqoh yang telah terkumpul disetorkan kepada pendidik sebagai pembimbing, uang tersebut biasanya digunakan untuk menyatuni anak yatim pada tanggal 10 muharrom dan untuk merayakan Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) untuk memanggil mubaligh ke sekolah.

h. GLS (Gerakan Literasi Sekolah)

GLS yaitu gerakan membaca. Gerakan ini dilaksanakan pada hari selasa, rabu dan kamis, dan dilaksanakan setelah sholat dhuha dilapangan selama 15 menit tetapi setiap satu bulan sekali GLS dilaksanakan selama 40 menit. Gerakan ini mewajibkan anak membawa buku bacaan masing-masing selain buku mata pelajaran yang ada di sekolah.

23

Hasil wawancara dengan Bapak Eris Riswandar, selaku Wakil Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala dan Wakil Kepala Sekolah), selasa, 08 November 2016, pukul 10.00–11.00.

24

Hasil wawancara dengan Bapak Eris Riswandar, selaku Wakil Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala dan Wakil Kepala Sekolah), selasa, 08 November 2016, pukul 10.00–11.00.

Gambar 4.7

Sumber Penelitian: Kegiatan Gerakan Liter

“Pembiasaan membaca dengan sebutan nama gerakan literasi setiap

pagi selama 15 menit dan setiap sebulan sekali selama 40 menit dan

sudah dibiasakan”.25

Ujar Pak Ujang.

“Kemudian ada lagi GLS (Gerakan Literasi Sekolah) jadi itu gerakan

membaca literasi di luar buku-buku pelajaran jadi anak yang novel,

motivasi, inspirasi, hiburan pokoknya selain buku pelajaran”.26

Ujar Ibu Hulasoh.

“yang saya lakukan saat ini adalah gerakan literasi, jadi anak wajib

setelah sholat dhuha wajib baca buku 15 menit dan anak diwajibkan bawa buku sendiri diluar buku mata pelajaran tapi tidak boleh buku yang engga-engga”.27

Ujar Pak Eris.

Untuk mendukung jalannya GLS sekolah menyediakan perpustakaan, saung baca dan pojok-pojok literasi yang ada disetiap pojok kelas, bahkan

25

Hasil wawancara dengan Bapak Ujang, selaku Kepala Bidang Kesiswaan dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Guru), kamis, 13 Oktober 2016, pukul 09.00-09.30.

26

Hasil wawancara dengan Ibu Siti Hulasoh, selaku Kepala Bidang Kurikulum dan Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala Bidang Kurikulum), selasa, 08 November 2016, pukul 09.00–10.00.

27

Hasil wawancara dengan Bapak Eris Riswandar, selaku Wakil Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala dan Wakil Kepala Sekolah), selasa, 08 November 2016, pukul 10.00–11.00.

di pos penjaga pun ada buku sehingga kapanpun dan di mana pun anak ingin membaca bisa dilakukan. Hal ini dilakukan karena pendidik menyadari bahwasanya tanpa membaca peserta didik tidak akan bisa.

Selain dari fasilitas yang disediakan oleh sekolah, buku-buku bacaan juga di dapatkan dari alumni, karena setiap peserta didik yang sudah menjadi alumni wajib memberikan satu buah buku untuk sekolah.

Selain itu untuk memotivasi anak membaca sekolah membuat pohon geulis (gerakan literasi sekolah) yang ada di setiap kelas, gunanya yaitu bagi peserta didik yang telah menghatamkan buku maka di catat judul buku, pengarang dan nama peserta didik yang membaca dan ditempelkan di pohon tersebut baik berbentuk bunga, daun ataupun buah. Jika kelas tersebut banyak peserta didik yang menghatamkan banyak buku, maka semakin rindang pohon tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Eris:

“Dan di tiap-tiap kelas saya bikin gambar pohon di tembok ada di kelas-kelas di ruang guru juga ada. Jadi ada pohon setiap anak diwajibkan menempel buka yang telah dia baca setiap taat buku, dia tulis buku judulnya apa dan karangan siapa dan nama yang membaca, semakin banyak yang membaca maka pohon semakin lebat, setelah pohon sudah lebat maka akan diganti dengan pohon yang baru di foto

di dokumentasikan dan pohon yang lama di simpan”.28

“Guru-guru yang meminjam buku terbanyak pun akan mendapat

penghargaan seperti siswa, bahkan ada yang namanya pohon geulis (gerakan literasi sekolah) jadi disetiap kelas terdapat pohon literasi dan di cari pohon yang paling rindang, disitu ada nama siswa yang membawa, judul buku dan nama pengarangnya. Ditempelkan boleh berupa daun, buah, bunga. Semakin banyak anak kelas membaca

28

Hasil wawancara dengan Bapak Eris Riswandar, selaku Wakil Kepala Sekolah dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Cibinong, (Kab. Bogor: Ruang Kepala dan Wakil Kepala Sekolah), selasa, 08 November 2016, pukul 10.00–11.00.

semakin rindang juga pohonnya. Ini memang percontohan sekolah dari sekolah-sekolah lain”.29

Ujar Ibu Hulasoh.

Gerakan Literasi Sekeloah atau GLS juga memberikan motivasi lain kepada peserta didik yang rajin membaca buku dengan memberikan penghargaan berupa pin yang diberikan dari pihak perpustakaan sekolah.

“Mau tidak mau anak membaca itu kebudayaan membaca agar anak

mau membaca, dan sudah ada penunjang motivasi yaitu penghargaan bagi mereka yang meminjam buku untuk membaca itu diberi pin, adalah lambang penghargaan perpustakaan bagi siswa yang rajin

membaca buku”30

Ujar Ibu Hulasoh.

GLS juga memberi projek kepada peserta didik untuk membuat jurnal dari buku yang sudah dibacanya, agar spserta didik memahami apa yang telah dibaca. Projek jurnal yang diberikan tidak banyak hanya maksimal 2 lembar. Dan tugas itu akan diperiksa oleh pendidik koordinator Gerakan Literasi Sekolah. Seperti dalam wawancara yang dikatakan oleh Ibu Hulasoh:

“Mereka juga buat jurnal dan ditanda tangani oleh koordinator

termasuk ibu salah satunya jadi setiap hari jumat hari terakhir ibu periksa meskipun 2 halaman tetapi harus buat jurnal jadi tau apa yang

dibaca, anak membaca dan bisa menulis”.31

2. Akhlak Pesert Didik di SMP Negeri 2 Cibinong

Dari beberapa budaya yang sekolah yang diterapkan, tentunya sekolah mengharapkan adanya perubahan sikap pada peserta didik. Setelah melakukan wawancara dengan Ibu Siti Hulasoh, beliau mengatakan:

29

Hasil wawancara dengan Ibu Siti Hulasoh, selaku Kepala Bidang Kurikulum dan Guru

Dokumen terkait