• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak

BAB I : PENDAHULUAN

D. Penelitian Relevan

6. Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak

Berbicara tentang pembentukan karakter maka sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali para ahli mengatakan bahwa perubahan tingkah laku adalah tujuan dari pendidikan.

28

Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), Cet. 1, h. 98.

Menurut sebagian ahli akhlak tidak perlu dibentuk karena akhlak adalah insting bawaan sejak lahir. Menurut Ibnu Maskawih, Ibnu Sina, al-Ghazali dan lain-lain akhlak adalah hasil usaha. Menurut Imam al-Ghazali:

Artinya: “Seandainya akhlak itu tidak dapat menerima perubahan, maka

batallah fungsi wasiat, nasihat dan pendidikan dan tidak ada pula

fungsinya hadits nabi yang mengatakan “perbaikilah akhlak kamu

sekalian”.29

Ada 2 faktor yang dapat membentuk karakter seseorang diantaranya adalah:

a. Fator Intern

Terdapat banya hal yang mempengaruhi fator internal ini, diantaranya adalah:

1) Insting atau Naluri

Insting adalah sifat yang dapat menumbuhan perbuatan yang menyampaian pada tujuan dengan berpikir lebih dahulu ke arah tujuan itu dan tidak didahului latihan perbuatan itu (Ahmad Amin, 1995:7). Naluri merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir yang merupakan suatu pembawaan yang asli. Pengaruh iri seseorang sangat tergantung pada penyalurannya. Naluri dapat menjerumuskan manusia kepada kemunduran atau kehinaan (degradasi), tetapi juga dapat mengangkat kepada derajat yang tinggi (mulia), jika naluri disalurkan kepada hal yang baik dengan tuntunan kebenaran.

29

Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015), cet. 15, h. 134.

2) Adab atau Kebiasaan (Habit)

Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga mudah untuk dikerjakan. Faktor kebiasaan ini memegang peranan penting dalam membentuk dan membina karakter, karenanya manusia harus memaksa dirinya untuk selalu mengulang-ulang perbuatan baik sehingga menjadi kebiasaan dan terbentuklah karakter.

3) Kehendak/Kemauan (Iradah)

Kemauan adalah melakukan sesuatu untuk melangsungkan segala ide yang dimaksud, walau disertai dengan berbagai rintangan dan kesukaran. Kemauanlah yang mendorong dan memotivasi seseorang untuk bertindak, kemauan pun merupakan kekuatan seseorang untuk berkehendak oleh karena itu seseorang yang memiliki kemauan yang kuat dalam dirinya untuk berbuat baik maka akan tercipta karakter yang baik.

4) Suara Batin atau Suara Hati

Suara batin merupakan suatu kekuatan yang terdapat dalam masing-masing diri manusia yang sewaktu-waktu memberikan peringatan kepada manusia jika berada diambang bahaya dan keburukan. Suara batin difungsikan untuk melakukan perbuatan baik dan berusaha mencegah perbuatan buruk, bathin harus terus dididik dan dituntun agar menaiki jenjang kekuatan rohani.

5) Keturunan

Keturunan merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi perbuatan manusia. Seperti hadits yang berbunyi:

Artinya: “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan (membawa)

maka kedua orang tuanyalah yang membentuk ana itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhori).

Hadits di atas menggambarkan tentang teori konvergensi yang menunjukan bahwa pelaksanaan utama dalam pendidikan adalah kedua orang tua. Itulah sebabnya orang tua, khususnya ibu mendapat gelar sebagai madrasatul ulā yaitu sekolah pertama bagi anaknya.30

Sifat yang diturunkan pada garis besarnya ada dua macam yaitu:

 Sifat jasmaniyah, yakni kekuatan dan kelemahan otot-otot dan urat sarap orang tua yang dapat diwariskan kepada anaknya.

 Sifat ruhaniyah, yakni lemah dan kuatnya suatu naluri dapat diturunkan pula oleh orang tua yang kelak mempengaruhi prilaku anak cucunya.31

b. Faktor Ekstern 1) Keluarga

Keluarga adalah satu-satunya sistem sosial yang diterima di semua masyarakat baik yang agamis maupun nonagamis. Keluarga memiliki peran, posisi dan kedudukan yang bermacam-macam di tengah masyarakat yang bermacam-macam pula. Sebagai lembaga terkecil dalam masyarakat, keluarga memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial umat manusia. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa keluarga adalah tahap pertama lembaga-lembaga penting sosial, dan dalam tingkat yang sangat tinggi, keluarga berkaitan erat dengan kelahiran peradaban, transformasi warisan, pertumbuhan dan perkembangan umat manusia. Secara keseluruhan semua tradisi, keyakinan, sopan santun, sifat-sifat

30

Ibid., h. 145 31

Heri Gunawan, Pendidikan Karakter (konsep dan implementasi, (Bandung: Alfabeta, 2012), cet. 2, h. 19.

individu dan sosial, ditransfer melalui keluarga kepada generasi-generasi berikutnya.32

Para pakar menyakini bahwa keluarga adalah lingkungan pertama di mana jiwa dan raga anak akan mengalami pertumbuhan dan kesempurnaan. Karena itulah keluarga memiliki peran yang amat mendasar dalam menciptakan kesehatan pribadi anak dan remaja. Untuk itu, dalam kehidupan keluarga harus memiliki hubungan yang sangat dekat satu dengan yang lainnya, sikap saling hormat, kompak, kerja sama, setia dan berlaku baik. Hal itu, sebagai dasar kebahagiaan dan kesejahteraan dalam keluarga.33

Menurut Muhammad Ja’far Anwar yang mengutip dari

Mahmud Saltut (1984:146), keluarga adalah batu dasar dari bangunan suatu umat (bangsa) yang terbentuk dari keluarga yang berhubungan langsung dengan yang lainnya. Dan pasti kuat atau lemahnya bangunan umat itu tergantung kepada kuat atau lemahnya keluarga yang menjadi batu besar itu.34

Nilai moral secara turun temurun diajarkan kepada generasi muda melalui penanaman kebiasaan (cultivation) yang menekankan kebenaran dan kesalahan secara absolut. Dalam membentuk moral yang baik banyak pakar merekomendasikan pendidikan tersebut dimulai dari keluarga. Karena, unsur keluarga merupakan unit terkecil dari sebuah masyarakat. Unsur-unsur yang ada dalam keluarga baik budaya, mazhab, ekonomi bahkan jumlah anggota keluarga sangat mempengaruhi perlakuan dan pemikiran anak khususnya ayah dan ibu. Pengaruh keluarga dalam pendidikan anak sangat besar dalam berbagai macam sisi. Keluargalah yang menyiapkan potensi pertumbuhan dan pembentukan karakter anak.

32

Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2009, cet. 2, h. 90.

33 Ibid., h. 91.

34 Muhammad Ja’far Anwar, Membumikan Pendidikan Karakter, (Jakarta: CV Suri Tatu’uw, 2015), cet. 1, h. 49.

2) Sekolah

Lembaga pendidikan sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan karakter dikarenakan lembaga pendidikan meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan serta ajaran-ajarannya. Dikarenakan konsep moral sangat menentukan sistem kepercayaan maka tidaklah mengherankan bahwa lembaga pendidikan dan konsepnya ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap suatu hal.35

3) Lingkungan

Lingkungan (Milie) adalah suatu yang melingkupi suatu tubuh yang hidup seperti tumbuhan, keadaan tanah, udara dan pergaulan manusia yang selalu berhubungan dengan manusia lainnya.

Dalam pergaulan manusia saling mempengaruhi pikiran, sifat dan tingah laku. Adapun lingkungan terbagi menjadi dua bagian: a) Lingkungan yang bersifat kebendaan

Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku manusia. Lingkungan alam ini dapat mematahkan atau mematangkan pertumbuhan kuat yang dibawa seseorang.

b) Lingkungan pergaulan yang bersifat kerohanian

Seseorang yang hidup di lingkungan baik secara langsung dapat membentuk kepribadiannya menjadi baik, begitu pula sebaliknya seorang yang hidup dalam lingkungan kurang baik

35

Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2009, cet. 2, h. 102.

dapat mendukung pembentukan karakter yang kurang baik pula.36

Dari penjelasan di atas dapat ditarik pemahaman, bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya karakter peserta didik, mulai dari faktor individu maupun faktor lingkungan. Tetapi, pada kenyataannya faktor yang paling utama adalah faktor keluarga, karena keluarga adalah pendidikan moral dasar yang diterima anak sejak kecil baik dari segi prilaku ataupun perkataan yang ditirunya dari orang tua yang berperan sebagai suri tauladan, sedangkan lembaga pendidikan dan lingkungan merupakan faktor pendukung.

Dokumen terkait