INTERVENSI TINDAKAN
A. Deskripsi Data
4. Deskripsi Data Hasil Pengamatan Efek/Intervensi Tindakan
Subjek penelitian tindakan ini adalah siswa MI Al Islamiyah sebanyak 28 orang. Berdasarkan hasil observasi baik melalui pengamatan langsung maupun hasil wawancara dengan siswa kelas IV (empat), peneliti dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran IPS di kelas IV MI Al Islamiyah 01 Pagi masih menganut model pembelajaran konvensional yaitu proses pembelajaran yang berpusat pada guru sehingga kemampuan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran dan kemandirian dalam belajar tidak nampak. Pembelajaran juga cenderung hanya lebih banyak menempatkan siswa pada aktivitas mengisi LKS (Lembar kerja siswa).Pembelajaran konvensional menganggap guru adalah satu-satunya sumber belajar yang dianggap serba tahu. Hal ini diperkuat oleh hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan penelitian, dan terbukti saat pelajaran dimulai terdapat siswa yang melamun, mengantuk, ngobrol, dan kelihatan sekali mereka merasa bosan dengan metode yang dilakukan oleh guru mata pelajaran IPS. Dan diperkuat lagi oleh keterangan beberapa siswa dari hasil wawancara bahwa mereka merasa kesulitan dalam belajar, jenuh, tidak bergairah dan bosan
mengikuti pelajaran,terlebih lagi guru hanya memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan LKS (Lembar Kerja Siswa), padahal materi tersebut belum sepenuhnya disampaikan. Hal ini di duga akan mempengaruhi aktivitas belajar siswa di dalam kelas sehingga siswa tidak aktif dan hasil belajar juga rendah.
Berdasarkan masalah-masalah tersebut diatas maka peneliti mencoba menerapkan pembelajaran yang belum pernah digunakan oleh guru mata pelajaran
IPS, yakni pembelajaran contextual teaching & learning (CTL) yang merupakan
pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar dimana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam berbagai konteks dalam dan luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat simulatif atau
pun nyata, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama”.86
Adapun implementasi dari CTL disiasati dengan strategi, metode, ataupun teknik pembelajaran yang dipandang lebih efektif dalam membimbing kegiatan belajar siswa agar dapat menemukan apa yang menjadi harapannya.Sehingga dapat mendorong peserta didik untuk aktif dan berani mengemukakan pendapat serta meningkatkan hasil belajar siswa dalam menguasai materi.Dengan pembelajaran seperti ini siswa dapat melaksanakan pembelajaran dengan serius tapi juga menggembirakan sertatidak ada siswa yang merasa jenuh dan tidur serta mengobrol pada saat pembelajaran dimulai karena dalam pembelajaran ini seluruh siswa dituntutuntuk aktif dan berani dalam setiap kegiatan pembelajarannya.
Oleh sebab itu, objek penelitian tindakan ini adalah
implementasiPembelajaran Contextual Teaching &Learning (CTL)contextual
teaching & learning (CTL), hasil belajar IPS, aktivitas siswa dan sikap siswa. Penelitian dilakukan sebanyak dua siklus, masing-masing siklus terdiridari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi atau pengamatan dan refleksi.Pada tahap perencanaan, peneliti dan guru mata pelajaran yangmenjadi kolaborator dan observer, mengembangkan rencana tindakan berdasarkan hasil pengamatan awal terhadap proses pembelajaran IPS dan meningkatkan hasil belajar IPS siswa. Sebelum melakukan tindakan,pada tahap ini peneliti dan guru mata pelajaran IPS membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat kumpulan foto,
86
gambar, film, video terkait dengan materiyang akan diajarkan sebagai media pembelajaran siswa, menyiapkan instrumen (tes hasil belajar IPS, lembar observasi aktifitas siswa,aktifitas guru, kegiatan pembelajaran, catatan lapangan, lembar wawancara dan lembar angket), dan melakukan uji instrumen.Selanjutnya adalah tahap pelaksanaan tindakan, maksudnya adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan proses pembelajaran IPS. Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, dalam satu siklus terdiri dari tiga kali pertemuan.
Pada siklus pertama, proses pembelajaran diawali dengan apersepsi yang
dilanjutkan dengan melaksanakan pretest selama 15 menit, tujuannya adalah
untuk mengukur seberapa jauh siswa telah memiliki kemampuan dan pengetahuan mengenai hal-hal yang akandipelajari. Selanjutnya guru menyampaikanmateri pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk tanya jawab mengenai materi yang telah disampaikan. Kemudian guru membagi siswa dalam 9 kelompok yang terdiri dari 3 orang, proses pembuatankelompok ini juga dilakukan dengan cara yang menarik dan menyenangkan, setelah terbentuk sebuah kelompok-kelompok belajar kemudian setiap kelompok mendiskusikan bersama-sama terhadap soal yang diberikan oleh guru, kemudian setiap kelompok membuat kesimpulan, selanjutnya perwakilan dari masing-masing kelompok mempresentasikan hasil jawabannnya di depan kelas.
Setelah seluruh perwakilan siswa dari setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, guru dan siswa masing-masing mengoreksi dan memperkuat jawaban tiap-tiap kelompok, kemudian guru mengulang kembali materi yang telah didiskusikan, lalu guru melakukan penelahaan pada materi dan tiap kelompok masing-masing mengembangkan secara gamblang dan tepat materi yang sedang berlangsung.Terakhir, guru dan siswa melakukan evaluasi materi yang telah diajarkan apakah siswa sudah mengerti atau belum materi yang diajarkan.Hal seperti ini dilakukan sebanyak dua kali pertemuan hingga pertemuan ketiga
telah menguasai kompetensi tertentu seperti yang dirumuskan dalam indikator hasil belajar.
Terakhir adalah tahap analisis dan refleksi, di mana peneliti bersama guru
IPS yang bertugas sebagai observer menganalisis sekaligus mengevaluasi proses
pembelajaran pada siklus I, tindakan yang diberikan sesuai atau belum dengan konsep penelitian. Kemudian hasil penelitian siklus I dibandingkan dengan indikator keberhasilan.Tahap refleksi tujuannya untuk memperbaiki dan menyempurnakan tindakan yang diberikan di siklus berikutnya. Melalui refleksi, berbagai kendala yang muncul saat proses pembelajaran didiskusikan untuk mencari solusi yang dapat memperbaiki mutu pembelajaran IPS. Kendala yang muncul pada saat proses pembelajaran di antaranya adalah beberapa siswa belum berperan aktif dalam kerja kelompok, sebagian kelompok tidak fokus dalam melakukan tugas sehingga tanggung jawab setiap kelompok kurang. Pada tahap
observasi guru mata pelajaran mengobservasi proses pembelajaran Contextual
Teaching & Learning, sekaligus mengamati aktifitas siswa danaktifitas guru selaku pengajar dengan melakukan dokumentasi berupa foto-fotodan catatan
lapangan serta menilai hasil belajar siswa setelah dilakukan pretest dan postest.
Hal ini dilakukan sesuai dengan fungsi observasi yaitu mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait.
Pada siklus kedua, berdasarkan penjelasan di atas mengenai hasil penelitian di siklusI, peneliti merasa penelitiannya harus dilanjutkan ke siklus II
karena dirasakan belum berhasil menerapkan pembelajaran contextual teaching
and learningpada pelajaran IPS, selain itu hasil belajar siswapun masih perlu ditingkatkan. Meski demikian, sebagian besar siswaterlihat senang dan semangat
ketika belajar IPS dengan menggunakan pembelajaran contextual teaching and
learning.
Pada siklus II, peneliti melaksanakan tindakan berdasarkan perencanaan yang telah dikembangkan setelah melakukan refleksi di siklus II.Pelaksanaan pembelajaran di siklus II juga dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama di siklus II agak sedikit berbeda dengan pembelajaran di siklus I, dengan tujuan agar siswa tidak merasa bosan belajar IPS, pada pertemuan pertama ini
proses pembelajaran dilaksanakan dengan lebih variatif, proses juga diawali
dengan melakukan pretest selama 15 menit, tujuannya seperti tertulis pada siklus I
adalah untuk mengukur seberapa jauh siswa telah memiliki kemampuan mengenai hal-hal yang akan dipelajari. Kemudian guru menjelaskan mengenai materi pokok yang akan dipelajari disertai dengan contoh-contoh terkait dengan pelajaran yangdiajarkan. Kemudian guru dengan siswa membuat kelompok-kelompok diskusi kecil, setelah terbentuk sebuah kelompok diskusi kemudian setiap kelompok mendiskusikan materi atau tugas yang diberikan oleh guru.Proses
pembelajaran ini berlangsung selama 45 menit. Kemudian siswa
mempersentasikan hasil diskusi ke depan kelas. Diakhiri dengan posttest untuk
pemahaman siswa setelah melakukan pembelajaran contextual teaching and
learning.Tahap terakhir adalah analisis dan refleksi, di mana peneliti bersama guru pendamping menganalisis sekaligus mengevaluasi proses pembelajaran pada sisklus II, tindakan yang telah diberikan sudah sesuai atau belum dengan konsep penelitian. Kemudian hasil penelitian siklus II dibandingkan dengan indikator
keberhasilan. Proses pembelajaran contextual teaching and learningsudah
berjalan dengan baik meskipun belum mencapai kesempurnaan, akan tetapi guru dianggap sudah berhasil. Hal tersebut sudah dibuktikan dengan meningkatnya hasil belajar IPS siswa.Peneliti merasa tindakannya sudah mencapai indikator keberhasilan, sehingga penelitian dihentikan disiklus II.